4 Pertanyaan Hidup yang Bikin Migren.

s

Beberapa hari ini saya sedang galau. Galau akan seperti apa dan bagaimana saya melanjutkan hidup saya. Apa yang akan saya tuju, bagaimana cara menujunya, dan segala pertanyaan “apa dan mengapa” yang lainnya yang pada akhirnya membuat saya migren karena overthinking.

Saya lalu kembali flashback, apa saja yang sudah saya lakukan hingga akhirnya saya ada pada titik ini. Titik dimana, saya merasa segalanya cukup. Saya telah mendapatkan apapun yang saya inginkan sejak dulu. Meski pada perjalanannya, harus ada pilihan yang harus dipilih.

“You can’t have your cake and eat it too..”

Hidup adalah pilihan, ketika saya memutuskan untuk “sudah jadi penulis saja”, then saya harus rela membuang mimpi saya untuk bekerja di “gedung-gedung tinggi”, atau menjadi seorang jurnalis. Kemudian, tentang mimpi S2 di Belanda, yang kemudian bisa digeser oleh keinginan untuk mondok di Tarim, Yaman.

Hidup kadang memang sebercanda ini :).

“Kadang kita bisa memilih, kadang kita sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memilih”

Manusia memang tidak pernah puas. Ketika mimpi menjadi penulis sudah tercapai, ketika saya sudah “memiliki” apapun yang saya inginkan, sampailah saya pada pertanyaan “LALU SETELAH INI MAU NGAPAIN, APAKAH HIDUP AKAN BERHENTI SAMPAI DISINI?” 

Dan sungguh pertanyaan ini mengganggu sekali sejak beberapa hari ini. Hingga pagi ini, saya belum menemukan jawabannya, malah yang ada saya teringat masa lalu :)). Bagaimanapun juga masa lalu bukanlah sesuatu yang harus dilupakan, dan saya sangat berterimakasih pada masa lalu, untuk semua pelajaran yang berharga.

Belum juga pertanyaan ini terjawab, sekarang “Hidup” memberikan saya pertanyaan yang lain :

  1. Apa tujuanmu dalam hidup ini?
  2. Apa yang penting dalam hidupmu, dan bagaimana ia merubahmu?
  3. Apa kamu sudah bermanfaat untuk orang lain?
  4. Dengan segala pencapaianmu, siapa yang paling berbahagia. Dirimu sendiri atau orang lain juga ikut bahagia?

Empat pertanyaan yang berhari-hari ini  terus berputar-putar di otak dan saya belum menemukan jawaban yang membuat saya berhenti bertanya pada diri sendiri.

Kalau kamu gimana, jika dihadapkan dengan empat pertanyaan ini?.

Btw, selamat hari senin ya. Khairunnas anfauhum linnas :)) .

Iklan

Emotional sponge?

1
gambar dari sini ya sini

Duduk dipojokon sendiri dan membiarkan pikiran ini terbang mengelilingi dunia. Ya, sudah beberapa hari ini saya merasa jiwa dan ragaku tidak bisa bersatu. Seperti ada yang hilang dalam diri ini, tapi saya tidak tahu apa yang hilang dan bahkan apa yang mungkin datang.

Anw, sudah lama sekali saya tidak melakukan ini. Duduk dipojokan sebuah cafe , mendengarkan lagu, membaca buku, melihat orang lalu lalang di mall, atau hanya sekedar membeli satu cup coklat float dan duduk berlama-lama menyendiri.

Jadi selama ini saya hidup di gua?

Iseng membuka laman facebook dan menjumpai postingan-postingan bahagia orang-orang yang dapat tiket promo harga murah banget untuk tujuan asia bahkan eropa. Entah kenapa saya ikut bahagia walau hanya menjadi pembaca di grup travelling itu. Saya terbawa perasaan bahagia mereka.

Dari facebook beralih di laman instagram. Dan sedih wkatu melihat postingan tentang artis yang ditinggal nikah, ditikung temannya pulak. Saya bisa berhari-hari larut dalam kesedihan hanya karena melihat postingan-postingan di instagram.

Sudah saatnya untuk berhenti.

Setelah merenung berhari-hari, membaca ini itu, dan akhirnya saya tahu bahwa saya adalah seorang emotional sponge. Saya sangat mudah “kasian” dan berempati pada orang lain, kepada siapapun. Dan celakanya, saya adalah orang yang mudah bergaul jadi saya sering bertemu dengan orang baru yang tentunya tidak semua orang itu membawa energi positif buat saya.

Saya adalah tipe orang yang sangat mudah terbawa suasana, mudah baperan, tapi keras kepala. Aduh , kacau banget kan. Begini, ketika ada orang yang datang pada saya dengan membawa berbagai macam cerita saya selalu ingin membantu mereka, ingin ikut meringankan beban mereka dan cara yang paling mudah adalah dengan ikut merasakan apa yang mereka rasakan.

Saya senang, ketika menjadi tempat curhat teman-teman saya. Tapi kadang, saya tidak punya kemampuan mengontrol diri jadilah apa yang menjadi masalah temen-temen akhirnya menjadi beban bagi saya sendiri, dan tidak jarang saya ikut stress.

Dan keras kepala saya seringkali justru mengurung saya sendiri dalam stress, dalam masalah yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawab saya. Sebagai teman seharusnya saya cukup menjadi pendengar yang baik, memberikan solusi pada mereka yang memang membutuhkan, lalu biarkan Tuhan menyelesaikan tugasnya.

Tapi kenyataannya tidak begitu, saya selalu ingin tahu perkembangan masalah mereka. Apakah mereka baik-baik saja, apakah mereka bisa melaluinya dengan baik?

Pernah satu hari, semalaman saya tidak bisa tidur karena memikirkan teman saya sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya. Sore harinya dia cerita bahwa esok akan bertemu dengan keluarga pasangannya, dan pertemuan itu akan menentukan apakah rumah tangganya diteruskan atau disudahi.

Bukankah sebagai teman, saya cukup mendokan yang terbaik?

Tidak. Rupanya tidak seperti itu. Saya bahkan semalaman tidak bisa tidur, padahal esok harinya saya harus pergi keluar kota sebelum subuh. Celakanya lagi, saya adalah orang yang mudah sekali drop. Gampang banget masuk angin. Kurang tidur, masuk angin. Telat makan, masuk angin. Dan yah, sepanjang jalan saya mual dan waktu sampai tempat tujuan pun saya seperti orang linglung karena otak saya masih terus mmikirkan teman saya.

INI BUKAN KONDISI MENTAL YANG SEHAT.

Menyendiri dipojokan seperti siang ini menjadi obat bagi saya untuk menghilangkan energi-energi negatif dalam diri saya sendiri. Pelan-pelan, saya mulai belajar untuk mengontrol emosi dan hati. Tidak mungkin saya mencegah orang lain untuk datang dan mengadukan masalahnya pada saya. Pun, saya juga merasa bahagia ketika bisa menjadi “sandaran” atau sekedar “tong sampah” bagi teman-teman saya yang sedang sakit hati.

Selain menyendiri , berdoa menjadi satu-satunya obat yang selalu pas untuk kembali meneruskan hidup. Kapanpun ketika saya merasa jiwa dan raga mulai tidak nyambung saya berdoa, minta pertolongan pada Tuhan. Seperti senin lalu. Saya bangun dengan perasaan yang tidak enak, sedih, rasanya ingin menangis, tapi tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Ini tidak bisa dilanjutkan, karena akan mengganggu aktivitas saya seharian. Dan mungkin juga mengganggu teman-teman saya dikantor, saya bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan emosi. Kalau bahagia ya keliatan bahagia, kalau sedih sedikit saja teman-teman saya sudah pasti bisa mengetahuinya hanya dengan melihat wajah saya.

Sebelum berangkat ke kantor , saya duduk seperti duduknya orang tahiyat akhir pas sholat, lalu memejamkan mata.

“Everything is gonna be okay , babe. Semuanya baik-baik saja, semuanya aman tidak perlu ada yang kamu takutkan. Allah, tuhanku yang maha pengasih lagi maha penyayang aku berserah padaMu”.

Ini saya lakukan ketika, saya tidak bisa lagi mengontrol diri dan otak mulai tidak sambung dengan badan, dan cara ini selalu berhasil membuat saya lebih tenang. Sadar diri, sepertinya ini sesuatu yang harus terus dipelajari. Dan satu lagi, memilih lingkungan yang postif tentu akan sangat membantu untuk menjaga kestabilan emosi.

Mungkin masih banyak hal yang perlu saya coba untuk mengurangi emotial sponge yang ada pada diri saya. Semoga cerita saya ini bisa bermanfaat, terimakasih sudah mau membaca. Now is the moment to be happy 🙂 .

#Day2 : Satu Tahun Menjadi “Santri”.

photogrid_1462441839675
bersama ustadzah 🙂

Tidak terasa sudah tahun saya belajar di Ponpes Lirboyo. Hingga saat ini, rasanya masih belum percaya kalau saya bisa masuk lingkunga pondok pesantren. Satu tahun lalu, saya selalu dihantui oleh pertanyaan-pernyataan yang membuat saya takut setiap malam. Kalau ditanya Tuhan masa mudamu kamu gunakan untuk apa? Aku bisa jawab apa. Satu tahun lalu dengan bantuan seorang teman saya memperoleh info tentang ngaji dipesantren. Info yang cukup mengobati rasa “gak tenang” saya setiap malam.

Awal tahun 2015 yang lalu, karena kondisi “kejiwaan” saya yang goyah saya putuskan untuk lebih dekat dengan Tuhan. Karena itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan saya dari kegilaan haha. Saya mulai langkah saya dengan memfollow banyak akun dakwah di instragram, me-like fanpage islami (tapi sumpah ga follow jonru kok haha), ikut kajian-kajian yang akhirnya membuat saya menjadi ukhti-ukhti berjilbab lebar nan panjang. Tapi saya merasa tidak damai, justru muncul banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang malah membuat semakin bingung.

“ ngajine wes sampai mana, kitab e sudah sampai bab apa?”

Saya selalu ditanyai dengan pertanyaan yang sama ketika pulang kerumah mbah. Pertanyaan itu membuat saya semakin galau, karena selama mengikuti kajian-kajian itu ilmu yang saya dapatkan tidak utuh, dan bisa dikatakan saya nggak benar-benar ngaji (tulisan saya tentang itu bisa dilihat disini )  

Satu tahun lalu, dipagi hari itu saya beranikan diri saya untuk masuk pondok pesantren putri P3TQ Lirboyo seperti yang Anam sarankan. Baru sampai gerbang, langkah saya terhenti lalu saya putar balik motor saya. Tapi putar balik motor itu justru malah membuat saya masuk pondok :D. Ya iyalah, saya puternya dari gerbang selatan, sebelah selatannya masjid Al-Hasan lalu putar balik mau pulang di Wilis. Sampai didepan Indomaret bukannya belok kiri, masuk perumahan tapi malah belok kanan, gerbang depan Lirboyo :D. Yasudah, udah terlanjur masuk. Sampai dipondok, saya disambut oleh mbak-mbak santri (beliau adalah ustadzah Anis, yang sekarang sudah boyong L ). Dari hasil pertemuan itu , saya diijinkan untuk masuk kelas malam harinya. Semacam trial class gitulah.

2015-12-17 21.13.52
sumpah makan begini itu enak banget meskipun cuma pakai telor ceplok

Pertama ngaji, udah sok-sokan bawa Al-Quran. Giliran setoran ngaji, di tes sama ustadzah makrojnya hancur berantakan (terimakasih sekali pada ustadzah Nafisah yang begitu sabar ngajari manusia 24 tahun mengucapkan ش, ص, ض, ط, ظ  dan lainnya dengan baik dan benar). Ada banyak hal lucu yang terjadi pas awal-awal ngaji. Belajar makhroj itu ngga gampang ternyata, dan karena pengen banget bisa everything I do lah, bahkan sampai bawa kaca. What , kaca? Buat apa? jadi ya, saya bawa kaca kecil buat ngeliat mulut saya melafalkan huruf-huruf hijaiyah sesuai makhroj yang benar. Biar sesuai sama yang diajari ustadzahnya hahaha, tapi pas itu ketahuan sama Ustadzah Nafis dan beliau ketawa ngeliat tingkah polah saya hahhaaa.

photogrid_1462284205052
me with my gengsss haha

Satu tahun ngaji dipondok. Satu tahun menjadi santri, ya meskipun santrinya ga full. Genap satu tahun ini saya menyelesaikan ngaji tingkat jilid. Lama? Benar ini itungannya lama banget dari jilid satu-enam, karena kesalahan saya juga sih yang sering banget bolos sekolah. Sekolah sekaligus skripsi bukan hal mudah ternyata. Tapi tidak apa-apa setidaknya saya bisa melafalkan ش, ص, ض, ط, ظ  dengan benar hahaa.

Setelah skripsi selesai, semoga bisa rutin sekolahnya setidaknya untuk satu kedepan. Karena saya tidak tahu dimana takdir akan membawa saya setelah ini, tapi semoga masih dikasih kesempatan untuk belajar dipondok setidaknya satu tahun lagi :).

PS : Tulisan saya selengkapnya tentang pengalaman mondok saya di lirboyo bisa dilihat disini , disinidisinidisinidisini . Semoga bermanfaat yaa 🙂

#Day1 : Starting a new challenge.

picture-1
gambar diambil dari sini

Well, setelah posting tulisan curhat yang malah jatuhnya drama banget, hari ini saya akan menulis lagi hihi. Pagi ini saat bangun tidur saya langsung membaca bismillah dan senyum-senyum sendiri. Menurut yang saya baca, entah benar atau tidak tersenyum bisa membuat otak kita yakin kalau kita sedang bahagia. Jadi mungkin udah ada semacam program gitu ya diotak kita, yang kalau bibir kita tersenyum akan direspon oleh otak lalu diolah menjadi kebahagiaan. Ah embuh, ini analisa yang ngawur *maapkan saya bukan peneliti*. Mungkin ini juga alasannya, kenapa kalau pas nangis tapi tersenyum semacam ada kekuatan yang nambah gitu, atau sedikit berkurang sedihnya *Oh my, drama lagi*.

Mumpung masih suasana tahun baru, jadi dimanfaatkan betul untuk menuju perubahan. Padahal setiap tahun baru selalu bikin resolusi-resolusi tapi semuanya hanya berakhir dibuku catatan. Setelah saya analisis *tsah bahasanya masih ambu-ambu skripsi* , saya salah strategi. Saya itu kadang suka ngotot dan sok multitasking, padahal otaknya cuma sekelas intel atom. Udah jadi kebiasaan saya menuliskan target-target yang ingin dicapai dalam setiap tahunnya, selain itu juga nulis daftar-daftar impian baik yang ditempel didinding kamar atau ditulis dibuku. Kalau saya ngga salah hitung, seperti sudah ada 4 buku yang isinya “list mimpi dan target” tapi tidak banyak dari list itu yang dicoret.

“ focus will driving everything in your life, so keep on focus”

Gitu sih kalau kata mentor online saya, Brendon Burchard. Kebetulan nih saya dapat free buku motivasinya plus dapat free online training selama 12 minggu. Ehmm, ga free juga sih sebenarnya tapi bayar $7 , tapi sumpah worth banget kok. Lumayan  kan bisa sekalian belajar reading dan listening hahaha. Pantes , kalau semua target saya nggak ada yang tembus, lha wong saya nggak bisa fokus. Emang sih ya, gara-gara ngga bisa fokus banyak sekali tugas-tugas yang terbengkalai. Contoh yang masih anget banget ya skripsi, coba kalau dari dulu saya fokus pasti skripsinya ngga sampai “anniversary”. Lalu, kursus-kursus yang saya ikuti juga nggak menghasilkan apa-apa. Dalam 3 bulan ini saya, saya bisa ikut lebih dari 3 kursus yang jalan bersamaan. Duh, sumpah keteter banget. Dan mulai minggu ini saya “mengeliminasi” beberapa kursus yang saya ikuti. Saya memilih mundur dan memulai menetapkan fokus dan prioritas.

Pertama, saya mulai dari hal-hal yang kecil dan simpel. Karena saat ini saya sedang fokus meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya, jadi mulai hari ini saya mulai belajar saya dengan belajar menghafal 5 vocab, menonton satu film pendek berbahasa inggris, membaca satu artikel bahasa inggris (saya baca thejakartapost) lalu menyalin artikel itu dibuku. Efektif kah? Dilihat saja nanti. Kalau kata Prof Renald Kasali, sih untuk menjadi sukses myelin kita juga harus digerakkan, supaya otot-otot dalam tubuh kita terbiasa dipakai bekerja.

Kedua, saya mulai membatasi penggunaan gadget. Saya mulai mengurangi kepo-kepo atau stalking baik instagram atau facebook. Saya juga telah meng-uninstal beberapa aplikasi socmed dihape. Saya tahu, nggak mungkin banget buat saya untuk meninggalkan gadget atau nggak online , harap maklum kerjaan saya disocmed semua. Saya mendapat uang dari sana hahaa. Tapi kalau terlalu over kan nggak baik juga, toh kerjanya juga nggak 24 jam cuma 4-5 jam aja sehari. Saya mulai mengganti bacaan , dari yang awalnya cuma baca timeline IG atau facebook saya ganti dengan baca buku (perlu banget dipaksa dan dibiasakan hihi).

“Mungkin ada yang bilang, ih kok baru mulai sih. Telat banget, teman-temanmu udah jauh didepan, kamunya baru mau mulai”.

Ya juga sih, usia udah berapa ini haha. Meskipun tidak bisa dibenarkan, tapi terlambat masih sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Nah, semoga langkah-langkah kecil ini bisa mengantarkan pada sesuatu yang besar didepan sana. Oiya, saya juga mengurangi “menggebu-gebu” diawal tapi “layu” ditengah-tengah. Jadi slow banget ini mah, kan katanya usaha ngga bakal mengkhianati. Jadi terus berusaha dan dalam berusaha itu butuh proses, karena ngga ada yang instan didunia ini. Mie instan aja masih butuh direbus kok, ya kan?

 

#SuperRandomPost : Curhat!

happy-child-girl-and-butterfly-wallpaper-768x480
gambar diambil dari sini ya (disini)

Sebelumnya saya kasih tau dulu ya, kalau tulisan ini adalah tulisan random yang mengandung sedikit curhat. Maafkan kalau ternyata tulisannya jadi sedikit menye-menye. Oke, baiklah berhubung ini tahun baru, mari kita flashback sedikit semoga yang kurang dan yang salah ditahun kemarin bisa diperbaiki tahun ini. Akhir tahun yang ditandai dengan datangnya bulan muharam, menjadi pertanda pula habisnya masa “mbecek” yang bertubi-tubi selama bulan dzulhijjah/ september kemarin. Undangan datang dari berbagai penjuru, mulai dari teman TK, teman SD, teman SMP, teman SMA hingga teman main.

Jujur, terselip rasa iri dalam hati melihat teman-teman sebaya telah menemukan pasangan hidupnya. Mereka kini telah memiliki dua sayap untuk terbang menuju surga-Nya. Sedangkan saya, masih saja sibuk dengan hal-hal yang jauh dari pelaminan. Sejak hubungan saya berakhir, hingga kini saya memang tak menjalin hubungan dengan siapapun lagi. Bukan. Bukannya saya belum move-on tapi saya telah berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan hidup saya yang singkat ini untuk sebuah hubungan yang belum pasti akan berakhir dipelaminan.

“People change for two reason, either their minds have been opened or their heart have been broken” – Steven Aitchison

Benar kalau ada pepatah yang mengatakan demikian. I’ve learned a lot from my broken heart. Dua tahun lalu ketika saya diputuskan olehnya, dunia saya terasa begitu gelap. Dua setengah tahun bersamanya lalu berpisah tanpa alasan yang jelas, itu sakit pemirsa haha. Celakanya saya adalah tipe orang yang nggak gampang jatuh hati pada seseorang, tapi giliran udah jatuh maka saya akan menjatuhkannya sejatuh-jatuhnya. Jangan ditanya lagi deh ya, gimana kacaunya saya setelah ditinggalkannya. Tapi beruntung sekali hati dan badan saya ini buatannya Allah, coba kalau buatan Ch*na pasti sudah pretel dan jadi butiran debu haha.

Waktu itu saya terus menyalahkan diri saya sendiri kenapa sampai hubungannya saya berakhir gitu aja. Ada rasa nggak terima gitu, ditinggal gitu aja. Berbagai upaya saya lakukan untuk bisa kembali, tiap hari berdoa pada Tuhan. Bahkan saya bisa lupa berdoa untuk diri saya sendiri, tapi namanya tidak pernah absen dalam setiap doa saya pada Tuhan. Lalu satu tahun berikutnya Tuhan menjawab doa saya, dan mempertemukan saya kembali dengannya. Amazing, doa saya dikabulkan oleh Tuhan dan malam itu, di Surabaya menjadi akhir dari semuanya. Secara rasional emang ngga masuk akal, saya yang tiap hari berdoa untuknya, saya yang tiap hari meminta pada Tuhan untuk mengembalikan dia, tapi malam itu saya benar-benar malas melihat wajahnya. Tuhan membuka semuanya, dan berpisah dengannya adalah jalan terbaik dari Tuhan.

Waiiiittt, ini kenapa tulisannya curhatt habiisss. Ini kenapa jadi menye-menye bangettt haha. Yaudah , nggak apa-apa mungkin ini saatnya untuk mulai jujur pada diri sendiri, mulai mencintai diri sendiri, dan mari menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Patah hati telah membuat pikiran saya terbuka dengan hal-hal baru. Sudah satu tahun ini, masalah cinta-cintaan bukan menjadi prioritas saya. Tapi pernah sih dulu abis putus ngebeet banget pengen nikaah. Ya kali, nikah dijadiin pelarian dari patah hati dikira nikah itu gampang haha.

“ Sebelum ada dia , kamu bisa hidup bahagia kan? Seharusnya sekarang tanpa dia kamu juga bisa hidup bahagia” – Heni Ariasih –

Kata-kata yang diucapkan oleh teman saya itu membuat saya berpikir, iya yaa ngapain juga menghabiskan waktu dan tenaga untuknya, ngapain juga hidup dalam bayang-bayang masa lalu. I’ve changed. Sesuatu yang dulu saya tangisi kini menjadi sesuatu yang amat saya syukuri. Saya belajar bagaimana memaafkan orang lain, saya belajar banyak hal baru. Beruntung, dalam masa patah hati itu saya dipertemukan dengan banyak orang yang membuka perspektif baru, orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, iman yang berbeda, budaya yang berbeda, status ekonomi sosial yang berbeda. Dan semua itu menjadikan saya manusia yang “kaya”.

Baiklah , tulisan ini sudah begitu panjang dan full curhat haha. Tapi lega banget rasanya. Jujur baru kali ini saya berani nulis diblog dengan segamblang, sejelas, sefrontal ini tentang cerita patah hati yang menye-menye ini. You should appreciate it, butuh waktu dua tahun lho buat bisa nulis beginian hahaha.  Nah, tahun baru ini pas banget momennya, moment untuk suatu perubahan. Salah satu resolusi saya ditahun baru ini adalah menjadi manusia yang bahagia. Nah itu menjadi bahagia, penyakit-penyakit dalam jiwa raga ini harus dihilangkan. NOL. Saya ingin memulai semuanya dari NOL, saya ingin menata hidup saya yang berantakan ini hihi. Mengurangi pemakaian gadget, perbanyak baca buku, live in a real life . Anw, selamat tahun baru yaa, terimakasih telah membaca curhatan saya yang panjang dan menye-menye ini. Semoga kesuksesan yang berkah dan barokah menyertai kita tahun ini.

 

PS : Dear mantan, thank you for giving me a chance to find someone better than you 🙂

 

Menjadi Sarjana.

P60822-125653
Me with my gengss 😛

Lima tahun lalu, setelah menjadi pengangguran selama satu tahun status saya resmi berganti menjadi mahasiswa. Sebuah status yang sangat prestisius, apalagi saya menjadi bagian dari salah satu universitas terbaik yang ada di Indonesia. Masih jelas sekali diingatan saya, siang jelang sore didepan rektorat saya resmi menjadi mahasiswa Universitas Brawijaya.

“Selamat datang di UB. Selamat karena telah menjadi bagian keluarga besar UB”

Itulah kata-kata yang diucapkan oleh teman saya yang sedari pagi membantu saya mengurus penundaan pembayaran. Speachless. Sumpah saya tidak bisa berkata apa-apa, mata saya sudah basah oleh air mata sedangkan teman saya hanya ketawa cekicikan sambil menepuk-nepuk bahu saya. Thank you so damn much buat Andik dan Anila :* .

Lima tahun. Ya, saya menjadi mahasiswa UB selama lima tahun. Waktu yang cukup lama untuk sekedar menambah gelar S.I.Kom  dibelakang nama saya. Padahal target saya dulu bisa lulus 3,5tahun, apalagi tidak pernah ada masalah dalam masa kuliah saya, hanya saja ketika masuk fase skripsi ceritanya jadi berbeda :D. Skripsi saya malah sampai ulang tahun lho, emejingg kan ya ? ceritanya puanjang, cinta fitri mah lewwaaaat. sudahlah, skripsi telah berlalu. Tapi kalau mau tahu gimana ceritanya skripsi saya sampai bisa ulang tahun dan merayakan anniversary nya baca post-post saya sebelumnya hihii.

Seminggu lalu, oleh dewan penguji saya dinyatakan lulus. Tapi kenapa pas dinyatakan lulus saya malah biasa-biasa saja? Rasanya lebih excited pas dikasih kado trus foto-foto haha. Saat ujian pun saya ngga merasa nerveous sama sekali, dan itu AJAIB. Menjadi sarjana. Mungkin itulah yang sejak satu tahun lalu ditunggu-tunggu oleh keluarga saya.  Ketika dinyatakan lulus, saat itulah doa-doa Mama telah dikabulkan oleh Allah. Saya yakin malam hari sebelum saya ujian Mama pasti bangun untuk sholat tahajud dan berdoa untuk kelancaran ujian saya, sama seperti yang dilakukan Mama ketika Mas akan ujian-ujian masuk AKPOL dulu.  Jadi bisa dikatakan kalau kelulusan saya ini bukan karena kepintaran saya , tapi saya lulus berkat doa orang tua :D.

P60822-124413
Terimakasih yang sudah ngasih hadiah. Padahal saya ngga ulang tahun 😀

And then what’s the next? Setelah menjadi sarjana mau apa?. Setiap ditanya mau ngapain setelah lulus saya selalu menjawab mau meneruskan studi saya kejenjang yang lebih tinggi yaitu S2. Saya ingin melanjutkan studi saya jauh ke negeri kincir angin, BELANDA. Untuk meraih mimpi saya itu, saya memutuskan untuk tidak melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan yang mengharuskan saya duduk berlama-lama dikantor dengan segunung pekerjaan. Saya tetap ingin punya banyak waktu untuk belajar. Dan tentu saja keputusan saya itu membuat vertigo Mama mau kambuh, disekolahkan setinggi ini eh giliran sudah lulus nggak mau kerja. Lha karepe jane piye? 😀

Saya adalah tipe orang yang punya kemauan kuat kalau sudah punya keinginan. Everything I do lah pokoknya. Menjadi mahasiswa ilmu komunikasi UB merupakan hasil “NGEYEL” saya selama satu tahun. Setelah lulus SMA saya memilih tidak kuliah dan pergi ke ibu kota untuk mencari kerja daripada harus kuliah untuk menjadi guru SD.

“Itu bukan aku bangeeet. Masak aku harus jadi guru SD. Mimpiku itu menjadi reporter berita ditelevisi atau menjadi wartawan di koran , bukan menjadi guru. Apalagi guru SD. Nggak. Aku nggak mau”

Dari hasil kerja itulah yang rencananya akan saya gunakan untuk membiayai kuliah saya. Kuliah jurusan ilmu komunikasi, dimanapun tempatnya tidak masalah asal tetap ilmu komunikasi. Tiba dijakarta, saya tidak hanya mencari kerja tapi juga mencari universitas yang ada jurusan ilmu komunikasinya  khusus untuk kelas karyawan. Tapi takdir berkata lain, dijakarta saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan apapun yang ada justru saya ditipu orang. Mungkin itu karma dari Tuhan karena tidak nurut pada orang tua, saat itu memang Mama seperti tidak ridho saya pergi kejakarta. Dengan deraian air mata dan dengan berat hati Mama mengantar saya sampai kestasiun. I was too young to know her feeling at that time. Tangisan mama tidak mempan dan tidak pula membuat saya mengurungkan niat. Yang ada saya justru bersumpah saya harus menjadi mahasiswa ilmu komunikasi dan menjadi jurnalis.

FYI, mungkin karena Mama tidak ridho selama dijakarta saya sering mendapatkan kesusahan. Enam bulan lebih dijakarta saya belum juga mendapatkan pekerjaan , padahal saat itu saya nggak pilih-pilih kerjaan. Jadi pembantu atau penjaga tokopun oke asalkan bisa mendapatkan uang untuk kuliah.  Kejadian dimasa lalu merupakan pelajaran yang sangat luar biasa untuk langkah saya selajutnya. Dalam setiap langkah saya, selalu ada Tuhan dan restu orang tua yang selalu saya ikutkan. Saya tidak ingin mengulang masa lalu , mendapatkan banyak kesulitan karena melangkah tanpa ridho orang tua. Saya juga tidak mau berandai-andai atau menyesali kejadian yang telah berlalu.

Rupanya menjadi sarjana itu bukanlah perkara yang mudah, apalagi sarjana yang belum bekerja. Meskipun saya tidak ingin melamar pekerjaan di perusahaan yang mengahrusnya saya duduk dikantor seharian penuh, tapi bukan berarti saya tidak ingin bekerja. Realistis saja , untuk mewujudkan mimpi S2 di Belanda butuh banyak modal haha. LUCKY ME! Karena sebelum lulus sudah ditawari untuk bekerja oleh teman saya. Saya diajak untuk merintis sebuah perusahaan, dengan gaji yang lumayan untuk ukuran fresh graduate seperti saya. Alhamdulillah, itu nikmat yang luar biasa sekali dan yang terpenting adalah ridho orang tua ada didalamnya : ).

Selamat datang dikehidupan yang sebenarnya , kehidupan nyata yang kadang pahitnya melebihi oseng-oseng pare :D. Apapun yang menjadi cita-cita kita, apapun pilihan kita selalu sertakan Allah dan ridho orang tua dalam setiap langkah kita supaya hidup kita berkah :). Dan yang tidak kalah penting adalah ilmu yang didapatkan selama kuliah (ingat lho ya , kuliahnya 5 tahun ) bisa menjadi ilmu yang bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain.

Cerita dari Lirboyo #2

P60620-212507-001
setelah sowan ndalem , foto dulu dong sama ustadzah nya 😀

Tiga hari menjadi santri dadakan benar-benar saya nikmati. Saya banyak belajar tentang banyak hal. Biasanya setiap malam setelah taraweh, kami ngaji kitab Arbain annawiyah yang dibacakan oleh Pak Ustadz. Dan 16 ramadhan yang lalu, adalah hari terakhir kitab itu dibacakan dan dimaknai. Rasanya kurang dan pengen ngaji lebih banyak lagi. Tapi namanya juga pesantren kilat jadi terbatas waktu. Pondok masih saja ramai walaupun sudah menujukkan pukul 12 malam. Mbak-mbak pondok induk masih sibuk Ro’an setelah acara peringatan nuzunul Quran. Saya masih belum bisa percaya kalau malam itu saya berada ditengah-tengah mereka. Saya dan teman-teman bahkan nyaris tidak tidur karena malam itu mata kami masih bening-bening. Nggak ngantuk hehe.

Hari terakhir pesantren kilat ditutup dengan acara pentas seni yang dimainkan oleh adik-adik santri kecil. Saya baru tahu ternyata mbak-mbak santri yang 24 jam hidupnya hanya dipondok punya kreativitas yang tinggi. Saya? Kalah jauh lah. Mereka bisa mendesain baju layaknya desainer hanya dengan menggunakan bahan seadanya. Bahkan baju dari plastik pun jadi. Pesantren kilat yang dimulai dari tanggal 3 ramadhan berakhir sudah pada tanggal 17 ramadhan kemarin. Rasanya engga rela banget, dan masih pengen ngaji hehe. Pentas seni sekaligus acara penutupan berakhir sekitar jam setengah 12 malam. Bagi yang kecil-kecil langsung disuruh tidur (meskipun kenyataannya mereka juga nggak tidur dan malah rame), sedangkan yang mbak-mbak diajak sowan ke ndalem. Sowan ndalem lagi? Bahagianya aku.

P60622-222401
After show! Meskipun dipondok kreativitas nggak boleh mati dong ya 😀

Begitu keluar , saya kaget ternyata diluar sudah ada banyak mbak-mbak santri asli. Dan gerbang P3TQ yang biasanya tidak pernah terbuka lebar malam itu terbuka lebar. Ada apa ini? Bukankah keluar pondok itu nggak boleh, apalagi ini sudah malam?. Tapi ini mbak-mbaknya malah kayak nyantai gitu duduk didepan. Ini ada acara apa? Setelah saya tanyakan ke Ustadzah ternyata mbak-mbak santri ini juga mau sowan ndalem. Malam itu Bu Nyai mau tindak umroh. Jadi semua santri pengen hormat ke Bu Nyai. Semua santri keluar dari “sarangnya” malam itu. Saya yang Cuma santri kilat ini, sedikit canggung berada ditengah-tengah mbak-mbak santri asliiii ini hehe :D.

Kami berdiri berjejer didekat ndalem, menunggu Bu Nyai keluar. Diluar ndalem mobil yang akan mengantar Bu Nyai sudah siap dan tampak kesibukan didalam rumah. Terlihat ning Ima dan mbak-mbak santri ndalem yang turut sibuk riwa-riwi. Begitu Bu Nyai keluar kami dipersilahkan untuk maju dan duduk didekat Bu Nyai. Tentu saya sedikit rebutan, karena malam itu banyak santri yang juga ingin mendapatkan posisi duduk sedekat mungkin dengan Bu Nyai. Saya? Yang hanya santri kilatan ini, entah bagiamana cerita bisa mendapatkan tempat duduk yang dekat dengan Bu Nyai. Sepertinya saya punya ilmu slidat-slidut yang bisa menyelinap menembus kerumunan mbak-mbak santri. Atau mungkin ini adalah berkah manusia berbadan kecil jadi bisa mbrobos sana sini hehe :D.

Lagi-lagi ketika baru saja duduk badan saya gemetar. Kami semua duduk dengan tenang diteras ndalem. Tidak banyak suara dan kami hanya duduk menunduk mendengarkan Bu Nyai. Lagi-lagi mata saya basah dan dada saya sesak dengan rasa aneh yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

“Ya allah engkau lah yang menuntunku kesini. Sungguh ini luar biasa”.

Sepertinya malam itu tidak hanya saya yang menangis, karena saya lihat matanya mbak-mabak yang lain juga berlimang air mata yang coba mereka tahan. Karena sudah malam Bu Nyai menyuruh kami untuk kembali kepondok.

“Pun dalu. Mbak-mbak balik pondok mawon. Acara pondok kan katah, monggo balik pondok mawon. Tadarus nopo ngaji liyane. Sholat malam e pun lali”.

Rasanya saya nggak rela beranjak dari tempat duduk saya sebelum Bu Nyai masuk mobil dan berangkat ke Surabaya. Tapi bagaimana lagi, sudah dawuh e Bu Nyai ngoten. Jadi kami pelan-pelan mundur dan mau balik pondok. Tapi baru saja mau mundur, tiba-tiba ada mobil hitam datang dan disusul suara dari gus “Oh, lha niki sampun dugi”. Ternyata itu adalah orang yang sedari dulu ditunggu oleh rombongan Bu Nyai. Kami tidak jadi balik pondok dan Bu Nyai pun tersenyum. Bu Nyai lalu masuk mobil, dan semua santri kompak balik badan menghormati melihat ke arah mobil Bu Nyai.

Ketika kang santri mengumandangkan adzan, saya tidak mampu membendung air mata begitu juga mbak-mbak santri yang lain. Acara malam itu begitu khidmat dan ditutup oleh doa. Perlahan mobil Bu Nyai bergerak meninggalkan pondok, sedangkan kami masih tetap berdiri terpaku melihatnya. Masyaallah. Kami lalu kembali kepondok dengan sisa-sisa air mata yang ada dimata kami.

“ nyapo nangis?” tanya ustadzah.

“engga tau ust. Tiba-tiba nangis aja”

Ustadzah hanya tertawa melihat kami yang santri dadakan ini menangis.

“ baguslah. Kalian menangis tandanya kalian masih punya hati. Hati kalian masih hidup”.

Ah..tiga hari tidur dipondok ini benar-benar membuka mata dan hati saya. Ini sekaligus menjawab pertanyaan saya kenapa santri kalau bertemu Kyai nya selalu menunduk. Ini adalah bentuk takdzim nya satri pada Kyai nya. Atau mungkin mereka tidak sanggup menahan air mata ketika menatap wajah teduh Kyai. Ketika lewat depan pondok induk , saya sering tiba-tiba kaget karena dipinggir jalan banyak santri yang berdiri sambil menunduk. Ditangan mereka ada sajadah dan kitab. Ini santri pada ngapain sih?

Lirboyo POJOK
Jalan ini yang setiap hari saya lewati. Dijalan ini pula saya sering bertemu dengan Mbah Yai ataupun Gus dan Ning 🙂 

Ternyata tidak lama setelah itu ada seseorang yang lewat dengan dibonceng motor oleh kang santri. Orang itu tidak lain adalah Mbah Yai. Entah baru akan berangkat ngajar ngaji atau sepulang dari ngaji. Oh, jadi ini alasannya kenapa daritadi santri berdiri menunduk dan membuat saya yang lewat merasa awkward banget. Mau bagaimana lagi? Itu jalan umum. Anggap saja itu berkah bisa sering bertemu Mbah Kyai dijalan hehe. Berkah juga karena bisa sering bertemu ning dan gus dijalan. Lha mau gimana lagi rumahnya mepet pondok hehe.

Tapi agak miris juga sih, rumahnya deket sama pondok pesantren yang punya santri puluhan ribu tapi nggak pernah merasakan mondok. Semoga saja, suatu saat ada kesempatan untuk menjadi santri. Santri asli bukan santri dadakan atau santri kilatan hehe :D.

Ramadhan Kareem. Sampai jumpa di pesantren kilat tahun depan. Insyallah 🙂