Sawitri Kepaten

Sawitri adalah seorang putri raja, namun di usianya yang sudah matang ia belum juga menemukan jodohnya. Sang raja sampai “hopeless” karena putrinya belum juga mendapatkan jodoh. Hingga beliau, sampai pada keputusan akan menerima siapapun pemuda yang mau menikah dengan putrinya. 

Atas restu Ayah Sawitri akhirnya pergi mencari sendiri jodohnya. Dalam pencariannya ia bertemu dengan Setiawan. Pemuda biasa, kalangan rakyat biasa, tapi berbudi luhur. Singkat cerita Sawitri akhirnya menikah dengan Setiawan, meskipun dengan konsekuensi besar yang harus diambil Sawitri. Sebelum menikah ada seorang “orang pintar” yang mengingatkan dia , agar tak menikah karena Setiawan akan segera menemuai ajalnya. Setiawan tidak berumur panjang. 

Tapi Sawitri tetap teguh dengan pendiriannya, dan menemani suaminya hingga akhir hayat. Setiawan mati dipangkuan Sawitri. Sawitri Kepaten.

Setiap kita adalah Sawitri. Yang pasti akan “kepaten”. Kita akan kehilangan , kita akan merasakan “kematian”. Kisah Sawitri, hanyalah cerita dalam pewayangan Jawa. Tapi ada pelajaran yang bisa kita ambil darinya. 

Setiap kita akan menemui kematian bahkan mungkin sebelum ajal yang sesungguhnya itu datang. Mati tidak hanya berupa hilangnya nyawa dari diri kita, tapi kematian bisa berupa hilangnya kepercayaan diri. Matinya semangat dalam diri kita. Mati sandang pangan (kesulitan ekonomi), termasuk mati pikiran kita. 

Begitu pula yang aku alami dalam satu tahun ini. Aku telah mati, bahkan sebelum aku menemui ajalku yang sesungguhnya. Aku telah mati lebih dulu, atau malah aku justru bunuh diri?

Satu tahun belakangan ini, aku bagai mayat hidup. Urip nanging ora urup. Hidup tapi tidak hidup. Ada yang lebih yang menyakitkan dari patah hati, cintai tak direstui, cinta ditolak, atau mungkin diduakan yaitu hilangnya harapan dalam hidup kita. 

HARAPAN ITU SELALU ADA.

Yang kering telah basah. 

Yang hilang telah kembali.

Yang layu kembali bersemi.

Yang mati telah reinkarnasi.

Luka itu ada.

Luka itu nyata.

Tampak di pelupuk mata.

Dan dirasa oleh dada.

 

Tapi aku memilih menutup cerita.

Menyembuhkan luka.

Dan kembali berjalan, meski terbata.

Luka yang Mendewasakan.

Buku Berdamai dengan Patah Hati, 90% saya tulis berdasarkan kisah nyata. Kisah cinta saya sendiri. Saya mengalami sendiri jatuh bangunnya patah hati lalu berusaha bangkit untuk menata hidup kembali.

Benarlah kata pepatah : “Orang yang paling bisa menyakiti kita adalah orang yang paling kita cintai”.

Begitu juga yang saya alami. Mantan (yang ada dibuku Berdamai dengan Patah Hati), adalah orang yang sangat saya cintai kala itu. Dia adalah manifestasi doa-doa saya selama ini. Dia sosok yang selama ini ada dalam imajinasi saya. tapi apa yang terjadi pada akhirnya?. Dia meninggalkan saya dan menikah dengan wanita lain. Wanita yang saat kita bersama dulu, pernah menjadi “pemicu” pertengkaran kami.

Sakit? Tentu saja. Tidak terhitung berapa kali saya menangisinya. Dia janji setelah lulus S2 akan kembali, untuk itu aku terus menunggunya kembali. Dia memang kembali, tapi untuk memberi kabar bahwa dia telah bersama yang lainnya.

“Mbakk Desii , sebentar lagi dia akan menikah. Bagaimana mba, aku harus gimana? Aku gak sanggup mbak. Aku Sedih”.

Seorang teman online mengirim pesan , kebetulan saya pernah berjumpa dengannya di Surabaya. I was there. Saya sangat paham bagaimana rasanya ditinggal menikah oleh orang yangs sangat kita cintai. Jujur, kadang saya bingung harus memberikan saran apa untuk mereka yang curhat tentang sakit hatinya. Sebanyak apapun nasehat atau bahkan dalil sekalipun tidak akan berdampak apapun bagi orang yang patah hati.

Saat patah hati seseorang memang menginginkan untuk “ditemani”, dikasih nasehat atau yang lainnya. Padahal sebenarnya yang mereka butuhkan hanyalah DIAM. Saya sendiripun ketika sedang terluka, selalu ingin diperhatikan tapi ketika diperhatikan diberi nasehat kadang saya tidak menerimanya, bahkan pernah marah hahaha.

“Suatu hari kamu akan paham bahwa diam adalah adalah pilihan terbaik”

Nikmatilah rasa sakitmu. Merasakan sakit adalah tanda bahwa kamu masih manusia.

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika patah hati?

Dulu, ketika ada sesuatu yang sangat menyakitkan terjadi saya memilih untuk pergi. Saya adalah tipe orang yang sebisa mungkin menghindari konflik, termasuk konflik dengan diri sendiri. Saya pasti langsung pergi ketempat-tempat yang saya sukai.

Apakah pergi bisa menyelesaikan masalah?

Memang hati menjadi sedikit tenang, tapi masalah tetap masalah. Bukankah ketika kaki kita terluka, terkena pisau misalnya kita ga boleh banyak gerak? Karena kalau banyak gerak, bisa jadi luka yang semula udah mau tertutup jadi terbuka lagi. Robek. Begitu juga dengan luka batin. Tidak ada cara lain kecuali diobati.

Dan percayalah waktu adalah obat terbaik. 

Things to do, saat kamu patah hati atau sedang mengalami kondisi yang “menakutkan” untuk hati dan jiwamu.

1.Menangislah

Kakimu masih menampak di lantai kan? Kamu manusia bukan dewa bukan pula malaikat. Menangislah. Tidak usah sok kuat, jangan melawan gravitasi. Kalau memang terasa begitu pedih menangislah. Sepuasmu, sebisamu, sampai kamu capek.

2. Me Time

Ada satu hari, saya membiarkan diri saya menangis, saya memberi kebebasan untuk diri saya. Mau nonton youtube atau mau makan sepuasnya monggo. Tidak berdosa.

3. Refleksi Diri

Salah satu berkah patah hati yang saya rasakan adalah hidup saya semakin dewasa. Kita seringkali tumbuh dewasa karena sayatan luka. Dan itu yang terjadi sama saya, saya tumbuh menjadi seperti sekarang karena banyaknya luka yang pernah saya rasakan. Luka yang dulu saya tangisi hampir setiap hari, sekarang menjadi sesuatu yang amat saya syukuri.

Turning poin dalam hidup saya seringkali diawali dengan patah hati.

Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja. Kamu bisa melewati semuanya dengan baik. Mungkin dalam prosesnya kamu menangis, kamu merasa sangat tidak berguna. Tidak apa-apa, luka itu akan mendewasakanmu.

Selamat pagi, hati yang sedang terluka. Semoga Allah merahmati setiap hati yang tulus mencintai namun dikecewakan :))

 

Self-talk : Reaksi atau Respon?

Ketika saya menulis ini, air mata saya baru saja kering. Sejak kemarin-kemarin hati ini terasa sesak, jenuh, pengap, mau ngapain aja nggak enak. Rasanya pengen marah, tapi nggak tau apa yang harus dimarahi, apa yang harus dikecewain? Nggak ada.

Baru saja saya mengahapus air mata yang menggenang sejak abis isya tadi, padahal tidak ada apa-apa yang terjadi. Tapi rasanya hati ini kayak sesak aja, rasanya jenuh wes pokoke nggak eunaaak. Sampe naudzubillah, sempat kepikiran “Allah kok gini banget ya..” , Ya Allah Ya Tuhanku, maafkan hambaMu yang amatiran ini.

“Janganlah kamu bersusah hati, sesungguhnya apa yang telah tertakdir pasti akan terjadi. Menetaplah pada pintu Allah, dan tinggalkan selain Allah (dari hatimu) ” – Diwan Imam Al- Hadad –

Sungguh , tidak ada yang bisa menolak kehendak Tuhan.

Anw, saya mau flashback. Dulu, ketika ada masalah seperti ini , saya pasti langsung nenteng tas backpack lalu pergi. Entah kemana, pokoknya pergi dari rumah aja. Saya harus mencari ketenangan, kesenangan, nggak peduli yang lainnya.

Apakah masalah selesai setelah saya pergi?

Tidak. Masalah tetap masalah. Hanya saja mungkin, saya “agak bisa tenang” dalam menghadapinya, tapi bukan berarti masalah selesai. Malah kadang-kadang justru muncul masalah baru.

“Masalah tetaplah masalah, sampai kapanpun juga akan tetap seperti itu. Respon kita yang akan menentukan akhir masalah itu”.

Teringat pidato CEO google, Sundar Pichai. Beliau menceritakan saat beliau ada di satu restoran, disana terjadi chaos karena ada kecoa yang terbang dan hinggap dibahu seorang wanita yang kebetulan sedang makan disana. Dia panik , menjerit-jerit karena kecoa itu hinggap di bahunya. Dengan panik dia akhirnya bisa mengusir kecoa itu, tapi sayangnya kecoa itu hinggap di bahu wanita lain yang kebetulan juga ada di restoran itu.

Restoran jadi chaos gara-gara kedua wanita itu bereaksi dengan sangat heboh. Namanya kecoa kan ya, jadinya dia suka terbang kesana kemari. Setelah hinggap di kedua wanita itu tadi, kecoa itu mendarat di baju seorang wanita yang kebetulan pelayan restoran itu. Tidak seperti kedua wanita tadi, wanita pekerja ini dengan tenang mengamati kecoa itu , lalu perlahan mengambil kecoa itu dari bajunya kemudian membuangnya keluar dari restoran.

Sundar Pichai yang menonton kejadian itu tadi, bertanya pada dirinya sendiri.

“Apakah kecoa itu tadi bertanggung jawab pada kejadian chaos direstoran itu tadi? Jika iya, kenapa wanita pelayan restoran itu tadi tidak bereaksi sama dengan kedua wanita sebelumnya?”

Bukan karena kecoanya, tapi karena respon yang diberikan itulah yang menentukan. Ketidakmampuan kedua wanita tadi dalam menghadapi kecoa itulah yang membuat suasana cafe jadi kacau.

So do I, dimasa lalu saya sama dengan kedua wanita itu tadi. Setiap ada masalah saya selalu bereaksi dan celakanya reaksi saya selalu “heboh” yang justru menciptakan chaos baru dalam hidup saya. Beberapa hari lalu, saya sudah berencana tenteng tas backpack lagi, saya mau pergi ke Surabaya atau ke Kudus sekalian. Pokoknya saya harus pergi. Eh, nggak ding, baru saja tadi habis isya saya udah kepikiran mau pergi ke Surabaya besok selasa.

Mau ngapain? Engga tau, yang penting pergi dulu. Sumpaah ya sumpeek banget.

Sambil menangis, saya lalu pergi ke kamar mandi. NANGISSS sebentar dikamar mandi dengan kran mengucur wkkww sinetronnn sekali hidup sayaah. Setelah itu, saya mengambil wudhu dan shalat dua rakaat. Saya menangis sejadi-jadinya, lalu istighfar sebanyak-banyaknya sampai hati saya tenang.

“Tidak ada yang salah. Tidak ada yang perlu ditangisi. Semua udah diatur sama Allah. Absyiruu.. Absyiruu.. Absyiruu. Berikan kabar gembira pada orang-orang yang menyerahkan dirinya pada Allah”.

Saya terluka, saya sakit, saya sedih. Tapi mau diapain lagi, selain yaudah dirasain. Di nikmati. Dan saya takjub sekali, karena hati saya bisa mendadak melunak, engga jadi mau pergi, hati yang tadinya sempit dan pengen muaaarah , menjadi begitu lapang, menjadi begitu bersyukur. Sampai akhirnya saya bisa menulis ini.

Tidak seperti dulu, malam ini saya TIDAK BEREAKSI dengan heboh terhadap apa yang sedang saya hadapi. Malam ini saya MERESPON masalah yang terjadi dengan sangat baik. Sebuah kemajuan untuk diri saya. Dan ini patut disyukuri.

Kecoa tetaplah kecoa dan menjijikkan. Mau diapain lagi? Selamanya dia akan tetap begini, karena nash nya dia ya begitu. Tidak akan menjadi lucu dan menggemaskan, yang bisa kita sayang-sayang seperti kucing atau yang lainnya. Begitu juga dengan masalah yang kita hadapi, ia akan tetap menjadi masalah tergantung bagaimana kita menghadapinya, dengan bereaksi heboh atau merespon dengan baik?

Mas Rio pernah bilang sebenarnya kalau kita mau “segera duduk sebagai hamba” / ridho atau pasrah sama ketentuan Allah , masalah akan cepat settle down. Tanpa dipikirkan sampai migren, ia akan cepat selesai. Allah , Tuhan yang maha pengasih maha penyayang yang akan menyelesaikannya.

Diwan Imam Al-Hadad menemani saya menulis malam ini. Syairnya begitu indah. Selamat malam. Semoga rahmat Allah selalu menyertaimu.

 

4 Pertanyaan Hidup yang Bikin Migren.

s

Beberapa hari ini saya sedang galau. Galau akan seperti apa dan bagaimana saya melanjutkan hidup saya. Apa yang akan saya tuju, bagaimana cara menujunya, dan segala pertanyaan “apa dan mengapa” yang lainnya yang pada akhirnya membuat saya migren karena overthinking.

Saya lalu kembali flashback, apa saja yang sudah saya lakukan hingga akhirnya saya ada pada titik ini. Titik dimana, saya merasa segalanya cukup. Saya telah mendapatkan apapun yang saya inginkan sejak dulu. Meski pada perjalanannya, harus ada pilihan yang harus dipilih.

“You can’t have your cake and eat it too..”

Hidup adalah pilihan, ketika saya memutuskan untuk “sudah jadi penulis saja”, then saya harus rela membuang mimpi saya untuk bekerja di “gedung-gedung tinggi”, atau menjadi seorang jurnalis. Kemudian, tentang mimpi S2 di Belanda, yang kemudian bisa digeser oleh keinginan untuk mondok di Tarim, Yaman.

Hidup kadang memang sebercanda ini :).

“Kadang kita bisa memilih, kadang kita sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memilih”

Manusia memang tidak pernah puas. Ketika mimpi menjadi penulis sudah tercapai, ketika saya sudah “memiliki” apapun yang saya inginkan, sampailah saya pada pertanyaan “LALU SETELAH INI MAU NGAPAIN, APAKAH HIDUP AKAN BERHENTI SAMPAI DISINI?” 

Dan sungguh pertanyaan ini mengganggu sekali sejak beberapa hari ini. Hingga pagi ini, saya belum menemukan jawabannya, malah yang ada saya teringat masa lalu :)). Bagaimanapun juga masa lalu bukanlah sesuatu yang harus dilupakan, dan saya sangat berterimakasih pada masa lalu, untuk semua pelajaran yang berharga.

Belum juga pertanyaan ini terjawab, sekarang “Hidup” memberikan saya pertanyaan yang lain :

  1. Apa tujuanmu dalam hidup ini?
  2. Apa yang penting dalam hidupmu, dan bagaimana ia merubahmu?
  3. Apa kamu sudah bermanfaat untuk orang lain?
  4. Dengan segala pencapaianmu, siapa yang paling berbahagia. Dirimu sendiri atau orang lain juga ikut bahagia?

Empat pertanyaan yang berhari-hari ini  terus berputar-putar di otak dan saya belum menemukan jawaban yang membuat saya berhenti bertanya pada diri sendiri.

Kalau kamu gimana, jika dihadapkan dengan empat pertanyaan ini?.

Btw, selamat hari senin ya. Khairunnas anfauhum linnas :)) .