Hijab Syar’i? Ini Pengalaman Pertama Saya Memakai Hijab Syar’i :)

Tik tok tik tok.. rasanya hari ini lamaaaaa dan membosankan sekali. Iya dihari minggu ini saya hanya dikost-an aja nggak ngapa-ngapain. Nah, ini tadi niatnya mau ngerjain Bab 3, eh nggak taunya hujan deres banget. Eh, emang ada pengaruhnya hujan sama ngerjain bab 3? Jelas dong ada, hujan gini enaknya buat nulis, bergalau ria, atau tidur nyenyak. Nah, saya milih buat nulis aja. Lho bisa nulis blog tapi kenapa ngga bisa nulis bab 3? Hahaha..bukan ngga bisa, tapi ini lagi pengen nulis bangeet mumpung pas hujan juga :D. Duduk dipojokan dekat jendela, lihat air hujan dan dengerin suara hujan. Perfect!

Oiyaaa.. kali ini ditulisan saya yang “ala-ala” ini saya ingin bercerita sedikit tentang hijab syar’i. Iya, hijab syar’i yang panjang lebar itu lho. Hijab panjang lebar? So what?. Ehm.. saya akan bercerita sedikit pengalaman saya memakai hijab syar’i diluar acara pengajian. Jadi ceritanya, kemarin saya dan temen-temen satu kost berencana mengisi hari sabtu kami dengan datang ke acara kampus. Acaranya seru gitu deh, acara kuliner dan hiburan yang hitss banget. Pokoknya jauh dari yang namanya acara ngaji-ngajian. Tapi kenapa pakai baju plus hijab syari?

Ini pas diacara kampus kemarin :D
Ini pas diacara kampus kemarin 😀

Saya tidak tahu kenapa saat itu saya pengen banget pakai hijab syari padahal lagi ngga ada acara pengajian. Belakangan saya memang sering memakai hijab dan baju syari karena kebetulan sekarang lagi aktif di komunitas pengajian. Meskipun aktif di komunitas ngaji tapi bukan berarti mendadak alim. Ditempat ngaji bersama teman-teman se-per-ngaji-an memang pakaian dan perilaku saya syari hehe. Buktinya saya ngga pernah tuh bersentuhan sama lawan jenis, jangankan bersentuhan, pandanganpun harus dijaga. Tapi setelah ngaji usai, perilaku syari juga selesai, baju syari juga dicopot dan ganti baju sehari-hari lagi (baca : skinny jeans dan kaos).

Lho kok gitu sih? Ga konsisten dong? Iya , iya memang gitu keadaannya. Lingkungan ngaji rupaya tidak serta merta membuat saya berubah alim sholehah. Saya hanya menyesuaikan saja biar sama dengan temen-temen lainnya. Bukankah itu sifat manusia , selalu ingin diterima oleh lingkungannya? Nah itulah yang saya lakukan. Sebagai manusia “sebatang kara” yang tiba-tiba nongol dipengajian dan tidak kenal siapapun sebelumnya, sudah tentu saya akan melakukan sesuatu agar saya dapat diterima dilingkungan baru. Seminggu, dua minggu, sebulan, begitu dan lama-lama saya merasa bosan. Bosan karena tidak menjadi diri saya sendiri.

Saya galau, saya bimbang, saya tidak bisa terus-terusan seperti itu. Saya tidak bisa menjadi “orang lain” dalam waktu yang nyaris bersamaan. Selain kebosanan, saya juga melihat adanya inconsistency baik dalam diri saya sendiri maupun dengan lingkungan disekitar saya. Bisa dikatakan saya mengalami disonansi kognitif akut. Sempat ingin keluar aja deh dari acara ngaji-ngajian itu dan memilih untuk hidup lebih baik versi saya sendiri. Tapi, bila saya keluar itu artinya saya mencederai niat saya untuk berhijrah. Diam dan merenung untuk beberapa saat. Oke, saya harus mengakhiri ini semua. Saya harus menjadi diri saya sendiri dengan konsekuensi diterima atau dikucilkan. Teman-teman saya mungkin juga mengalami hal yang sama dengan saya, tapi bedanya mereka lebih dulu berhijrah daripada saya. Sepertinya saya harus belajar banyak dari mereka.

Oke, pada satu kesempatan bersama teman-teman se-per-ngaji-an , saya datang dengan menggunakan baju sehari-hari saya. Skiny jeans, kaos, dan jilbab paris andalan. Ternyata oh ternyata tidak ada yang berubah. Mereka juga tetap seperti biasanya, begitu juga dengan saya yang tetap gitu-gitu aja. Mereka tidak salah, karena rupanya saya sendiri yang salah persepsi. Salah menempatkan diri digaris start. Ngaji yang baru hitungan bulan memberikan buanyaaak sekali ilmu pengetahuan bagi saya. Ya ilmu per-ngajian, ilmu per-temanan dan ilmu-ilmu lainnya yang sulit saya jelaskan. Meskipun untuk istiqomah bukan hal yang mudah, tapi saya yakin niat baik tidak akan berakhir buruk.

Kembali pada cerita hijab syari yang saya pakai kemarin. Sebelum berangkat saya bertanya dulu ke temen-temen saya. “Kalian malu nggak jalan sama aku? Aku pakai syari lo”. Alhamdulillah mereka mau jalan bareng saya hehe. Jujur, saya akui rasanya aneh berpakaian seperti ini, padahal mau hangout sama teman-teman. Rasanya mirip banget sama kayak pas pertamakali memakai jilbab tahun 2010 yang lalu. Setiap ada kaca, saya ngaca. Hahaha. Berkali-kali saya juga bertanya pada teman saya,apakah saya terlihat aneh atau tidak. Mereka nggak merespon, mungkin mereka capek jawabnya karena sepanjang perjalanan saya terus menanyakan tentang penampilan saya waktu itu :D.

Selain pergi ke acara pameran kuliner, kami juga berencana foto-foto dikampus. Wkwkw. Maklum ya, jaman maba dulu nggak sempat foto-foto :D. Nah, salah satu foto saya yang pakai hijab syari itu saya pakai DP di-BBM dan Whatsapp. Baru pasang DP udah ada yang komentari. Dia adalah sahabat saya yang paling terr terrrr sepanjang masa :D. Berawal dari komen DP saya dan berlanjut cerita sana-sini.

“ Hae sist. Sepertinya terlihat bahagia sekali. Dengan jilbab sepanjang itu masih adakah laki-laki yang mungkin akan berimajinasi membayangkan lekuk tubuhmu dipikiranmu? “

Jlepppppp. Saya Cuma bisa melongo membaca komen temen saya yang frontal abis itu. Iya , dia memang selalu bisa membuat saya diam, saya tidak pernah bisa menang ketika berdebat dengannya. Saya Cuma jawab “ ya gpp to, sesekali pakai hijab syari”. Lalu dia membalas “ Bagus, seharusnya memangnya seperti itu wanita. Soo closed. Seharusnya mereka memang menjadi rahasia kecuali hanya namanya :D” . Seperti biasa, ketika galau selain becerita pada Allah saya kadang juga menceritakan kegalauan saya kepadanya. Kali ini kegalauan saya seputar jilbab yang saya pakai. Selain pandai berdebat, dia juga mengerti hukum agama. Maklum dia adalah putra pak Kyai didaerah saya dan saat ini lagi nylesain kuliah plus nylesain hafalan Al-Quran. Salah satu nasehat dia kemarin adalah, ketika saya bertanya pantes ngga saya pakai hijab syari

“Pembawaan itu lahir dari dari dua hal sist, dari keinginan dan keadaan. Pakai hijab syari selain pengajian itu namanya keinginan, nah orang yang di Makkah sana pakai hijab syari karena keadaan. Nah, Hidup kita disini memang lebih banyak dipengaruhi keadaan. I’ts just a choice. Pakai saja kalau nyaman, kalau ngga nyaman jangan dipakai. Nah kalau masalah perilaku dan tangan yang masih keciprak keciprik kanan kiri, hijab syari justru akan mendidik kamu untuk berpilaku lebih santun”

Jleeeppppp, saya kembali terdiam. Perkataan teman saya benar adanya. Jangan pakai kalau tidak nyaman. Meskipun bukan berarti saya menolak hukum Allah, karena bagaimapun juga menutup aurat dengan sempurna adalah aturan Allah, saya hanya belum siap. Bagi saya hijab/jilbab bukan hanya sekedar penutup kepala saja, tapi lebih pada simbol agama yang harus hati-hati dalam penggunaannya. Jangan sampai bajunya udah syari, tapi perilakunya masih belum syari. Saya tahu, tidak ada korelasi antara hijab dan perilaku . Bila ada orang yang berjilbab tapi kelakuan masih buruk jangan salahkan jilbabnya. Tapi sekali lagi, bagi saya jilbab apalagi yang syari itu merupakan simbol agama dan harus hati-hati. Jangan sampai malah memperburuk citra islam yang uda dicitrakan buruk oleh media mainstream. Saya hanya bisa berdoa semoga Allah berkenan memberikan hidayah-Nya untuk saya : ). Doakan saya ya, supaya tetap istiqomah : ). Tapi sungguh, berhijab syari seperti kemarin membuat saya merasa tenang, aman, dan nyaman. Tugas saya selanjutnya hanyalah memberanikan diri untuk terus memakainya dan mengimbangi dengan belajar ilmu agama 🙂 .

Doakan dapat hidayah mau pakai baju ginian lagi dan  istiqomah yaa :)
Doakan dapat hidayah mau pakai baju ginian lagi dan istiqomah yaa 🙂

           Malang, 07 Juni 2015 

4 respons untuk ‘Hijab Syar’i? Ini Pengalaman Pertama Saya Memakai Hijab Syar’i :)

  1. hai mba assalammualaikum. Saya juga lagi kepikiran untuk berhijrah ke syar’i tapi emang setan godaannya luar biasa ya hahah. Semoga saya berani mencoba

    1. Coba aja dulu mbak,,hohoho mulai dari acara yang agak formil, bisa pakai gamis..sebenernya enggak ada bedanya sih. Cuman pandangan orang lain aja yang kadang ngebuat kita risih..hohohoho…

      Moga2… karena keinginan buat menyayangi Allah lebih..lebih…dan lebih besar lagi.. bisa memudahkan kita pake jilbab Syar’i XD

      1. iya mba aku masih membiasakan itu nih, dari hijab yang semakin panjang dan menutup dada juga celana yang biasa jeans ketat jadi celana lebih gombrong dan lebih sering memakai rok. aamiin aamiiin semangat untuk kita ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.