Meninggalkan dan Menemukan

image

Surabaya! Kenapa kota yang dipimpin oleh Bu Risma ini begitu menarik untuk selalu dikunjungi? Padahal boleh dibilang Surabaya “nyaris tidak ada tempat yang wisatanya” at least tempat wisata di Surabaya tidak sebanyak di Malang. Selain itu di Surabaya juga panas. So?. Tidak, saya tidak ingin berbicara atau bahkan membandingkan wisata Surabaya dan Malang atau kota lainnya. Tapi saya sangat salut dengan pemimpin Surabaya yang mampu membawa Surabaya menjadi lebih baik.

Ehm.. jadi sebenarnya arah tulisan ini kemana? Saya menulis ini didalam kereta menuju Surabaya. Hari ini untuk pertama kalinya saya akan menginjakkan kaki saya lagi dikota yang “selalu saya perjuangkan” beberapa tahun belakangan ini. Ada rasa gimana gitu (sulit dijelaskan) sebelum akhirnya saya memutuskan untuk berangkat dimenit-menit akhir. Semua barang saya sudah siap sejak pagi tadi, tapi hati belum sepenuhnya siap. Oalah , kamu galau to Des?. Ehmm.. entahlah apa namanya ini. 

Masih jelas sekali dalam ingatan saya, bagaimana saya dulu mulai melabeli Surabaya dengan nama “Kota Impian”, berjuang untuk bisa melanjutkan sekolah, membangun impian, berkarir , membina rumah tangga hingga saya harus belajar melepaskan Surabaya saat ini.

Terus berjalan meninggalkan dan menemukan – Mas Dilla-

Masih terngiang apa yang dikatakan Mas Dilla tadi, ” kamu harus berani melepaskan Des. Lalu menemukan”. Bukan mau memuji Mas Dilla tapi memang orang ini kalau bicara pasti banyak benernya. Ajaib. Siapa mas Dilla dan kenapa saya bisa berurusan dengan dia akan saya tulis dalam tulisaan saya berikutnya (mungkin ini bisa jadi penetrasi sebelum namanya diabadikan dalam buku biografi tokoh muda yang inspiratif hahaha 😀 ).

Setengah jam sebelum jadwal kereta berangkat saya masih galau antara berangkat atau tidak berangkat. Lagi-lagi Mas Dilla bilang yang intinya teruslah berjalan dan yakin pertolongan akan Allah. Oke, jam 2pm kurang dikit Mas Dilla dan Mas Angga baru pulang dari rumah sementara jam 2.25pm kereta harus udah berangkat. Sempat nangis dulu dan malah diketawain , tapi bodo amatlah ya. Tanpa mandi tanpa pakai bedak tapi masih sempat lisptikan tipis-tipis akhirnya berangkat juga ke Surabaya. Sampai stasiun kereta udah mau berangkat, baru masuk kereta langsung jalan.

Baiklah apapun yang akan terjadi di Surabaya nanti akan saya hadapi. Insyallah, tujuan saya kesurabaya hari ini baik. Skripsi. Demi tugas akhir yang sering membuat mahasiswa migren saya harus sering kesurabaya lagi.

Hello, bukankah Surabaya itu kota impianmu? Bukankah Surabaya itu kota yang akan selalu kamu rindukan? Ayo jangan menyerah untuk kembali menyusun impian yang sempat tertunda!”

Jadikan pengalaman buruk sebagai guru terbaik. Surabaya telah banyak memberikan pelajaran yang amat berharga. Satu tahun yang lalu saya harus rela bolak balik Surabaya, di php , harus nangis-nangis dulu, mengeluarkan semua upaya yang bisa dilakukan dan doanya dikencengin hanya demi 2bulan magang di JTV Surabaya. Memang kesuksesan setiap orang tidaklah sama, begitu juga jalan menuju kesuksesan. Begitu juga dengan saya, sukses magang di JTV Surabaya harus saya tempuh dengan usaha yang bisa dibilang “habis-habisan” sedangkan ada teman saya yang hanya cukup sekali datang ke Surabaya langsung diterima magang. Iri? Bukan iri akan kesuksesan teman tapi disanalah saya mendapatkan banyak pelajaran berharga.

Seringkali apa yang sangat kita inginkan justru itulah yang akan paling sulit kita dapatkan. Disanalah Allah menitipkan pelajaran hidup yang gak mungkin kita dapatkan dibangku sekolah. Allah lebih tau mana yang terbaik untuk kita. Hari ini, saya belajar untuk ikhlas dan pasrah. Meskipun Surabaya telah menorehkan luka yang cukup membuat saya sesak napas tapi saya yakin disanalah nafas kehidupan saya selanjutnya ditentukan. Masih tetap ingin melanjutkan mimpi di Surabaya? Tentu. Tapi mungkin harus dirubah cara meraih mimpinya. Saya tidak tahu dimana takdir saya. Tugas saya hanya mencoba untuk mewujudknnya, bukan dengan jalan memaksa tapi dengan jalan memasrahkan.

Bismillah, semoga hari ini meskipun masih sama-sama di Surabaya saya bisa menemukan sesuatu yang baru. Tinggalkan yang membuatmu menangis di Surabaya, lalu temukan alasan baru untuk tersenyum di Surabaya :). Seperti gambar diawal tulisan ini, begitulah keadaan saya saat ini. Kesalahan membuat saya menjadi lebih pintar, dan rasa sakit membuat saya menjadi lebih kuat :).

Ditulis di Kereta Penataran Dhoho.
Kediri-Surabaya 🙂
10 Agustus 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.