Saya Tidak Mau Menjadi ‘Sholehah’!

Hello. It’s been a while since I write in this blog. But to be honest I never stop writing inside my head. Ideas, concept, thought or whatever you call it (ah sudah ah sok keminggrisnya :D). Mungkin sudah saatnya untuk kembali kedunia saya , kembali menjadi diri saya sendiri dan kembali pada peta konsep hidup yang saya buat sendiri.  Semua dimulai dari awal tahun ini, saat saya memutuskan untuk “BERHIJRAH”. Tunggu, awalnya saya tidak berniat untuk sekedar mengikuti trend. Sepertinya saat ini sedang booming Berhijrah.

Dalam perjalanan hijrah saya bertemu dengan banyak orang. Bertemu dengan banyak orang yang isi kepalanya berbeda-beda. Jangan tanya lagi pernah ada konflik apa tidak , banyak sekali. Saya tidak mengira bahwa saya bisa menjadi seseorang yang seperti ini. Saya berubah dari orang yang tadinya tidak peduli akan penampilan menjadi manusia yang ingin selalu tampil cantik. Tidak hanya ingin terlihat cantik, tapi juga ingin terlihat “Sholehah”. Rasanya ada suatu kebanggan dihati ketika orang melihat sesuatu yang “beda” dari saya. Itu sebabnya saya getol hijrah , tapi sayangnya hanya diluarnya.

Jangan tanya lagi sekarang gamis saya ada berapa, jilbab syari saya sudah ada berapa biji. Satu dua hari saya merasa senang ketika memakainya, apalagi kini tengah ramai fashion yang dibelakangnya ada embel-embel syari. Semua terasa menyenangkan, ketika saya tampilkan potret diri di media sosial lengkap dengan atribut ke-syari-an saya.  Jangan tanya lagi berapa komentar dan pujian “Sholehah” yang saya dapatkan. Iya, semoga komentar dan pujian mereka merupakan doa bagi saya. Tapi, dalam hati saya berontak. Ada rasa bersalah , ada rasa malu, ketika manusia melihat diri saya baik tapi kenyataannya masih doyan maksiat pada Tuhan. Buat apa itu semua? Buat apa menjadi sholehah hanya dimata manusia. Saya belum siap untuk itu semua. Butuh proses panjang untuk menjadi sholehah yang sesungguhnya.

“ Menutup aurat dengan sempurna itu wajib karena itu perintah Allah”

“ Ah, sepertinya kamu iri karena kamu belum mampu berhijab syari”

 Ah, iya saya lupa bahwa setiap perubahan itu pasti ada sisi negatifnya. Saya tidak mengira bahwa saya bisa berubah menjadi sepeduli ini dengan omongan orang. Saya tidak mengira bahwa bisa setakut ini ketika saya berbeda dengan kebanyakan mereka.  Saya begitu mendengarkan omongan orang, dan mengabaikan jeritan didalam hati. Saya begitu sangat panik ketika ada orang yang nyinyir soal penampilan. Dihujat ketika tidak memakai kaos kaki, dinyinyiri ketika jilbabnya tidak sepanjang yang mereka pakai. Saya kehilangan diri saya sendiri, saya kehilangan identitas saya hanya untuk terlihat bahwa saya sudah berhijrah.

Padahal dulu, saya tidak peduli itu semua. Saya bisa memakai apapun yang saya suka meskipun itu bikin yang ngeliat sakit mata. Saya bebas menulis apapun tanpa peduli komentar orang. Saya yang selalu berusaha berkata jujur meskipun kadang kejujuran saya tidak semua orang bisa langsung menerimanya. Tidak, bukan perubahan seperti ini yang saya inginkan. Saya tidak ingin kehilangan diri saya sendiri, dan hidup atas dasar pendapat orang lain. Saya tidak bisa seperti ini. Berkumpul dengan banyak orang, membuat saya bias. Saya mempertanyakan sebenarnya apa yang saya cari disini, apa yang saya inginkan?

Ah, kenapa dunia sosial ini begitu jahat? Disaat pergaulan saya semakin luas, disaat kemampuan bersosial saya semakin luas saya lupa banyak masalah yang juga dihadapi. Memang memiliki jaringan sosial yang luas akan memudahkan kita untuk bertahan ditengah arus sosial yang semakin menggila saat ini. Tapi kembali lagi pada tujuan awal, untuk apa menjadi baik dimata orang lain tapi kehilangan jati diri?. Saya sangat bersyukur ditengah-tengah lingkungan sosial saya yang semakin luas, saya masih bisa bersosialisasi dengan mereka yang tetap bertahan bersama saya. Menerima saya apa adanya, tertawa ketika saya bercanda tapi gak lucu, menerima saya yang kata mereka cerewetnya juara, menerima saya yang kalau mau tidur harus nyapu dulu, menerima saya yang katanya lebay sedunia. Ya, Allah saya sangat menyayangi mereka : ).

Tetapi kembali lagi, kalau harus berubah tapi berhenti menjadi diri sendiri karena dunia sosial yang amat jahat, is it really worth it? Sebaiknya, tanya dulu pada hati apa tujuanmu baru berhijrahlah dengan sungguh-sungguh 🙂 .

note : sebuah renungan untuk diri yang mulai terbelokkan niatnya 😦 .

3 respons untuk ‘Saya Tidak Mau Menjadi ‘Sholehah’!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.