Dari Mall menuju Pondok Pesantren #1

Untuk sampai dipondok pesantren yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah membutuhkan waktu yang lama. Setidaknya perlu 5 tahun untuk bisa sampai ke pondok pesantren yang jaraknya kurang dari 500m dari rumah”

Hallo, selamat malam. Eh, iya ini malam minggu lho. Apa kabar para jomblo-jomblo didunia, masih sehat dan kuat kan? Hehe. Wah, judul tulisannya agak gimana gitu ya dari mall menuju pondok pesantren , maksudnya apa coba?. Baiklah, saya akan bercerita bagaimana perjuangan saya bisa sampai pondok pesantren yang letaknya tidak lebih 500m dari rumah saya :D. Sejak lulus SMP tepatnya tahun 2007 yang lalu, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah saya di Kediri. Selama di Kediri saya tinggal bersama Budhe Pakdhe yang biasa saya panggil Mama Papa. Ya, sejak tahun 2007 itu saya resmi menjadi “Cah Kediri”. Seneng banget dong ya, yang biasanya tinggal di pelosok desa sekarang jadi anak kota.

Ketika SMA saya bertemu dengan banyak teman baru, bisa menekuni hobi menulis saya dengan bergabung di Komunitas Muda Radar Kediri, pokoknya jadi anak hitsss dimasanya. Kalau ditanya hobinya apa saat itu? Maka saya jawab –NGEMALL- . Iya dong, ngemall biar hitsss, apalagi didukung dengan fasilitas yang memadai. Kemana-mana ga perlu repot karena ada motor yang bisa dipakai, kalau terpaksa gak ada motor ya masih ada temen-temen yang mau antar jemput. Oiya dulu saya punya temen yang walaupun masih SMA udah bawa mobil, jadilah makin seneng kalau diajakin jalan-jalan. Hampir setiap hari kerjaannya thawaf di mall. Jangan dipikir banyak duit, karena masih ABG labil yang penting bisa aktualisasi diri udah lebih cukup biarpun cuma beli teh poci asal belinya dimall. Ngapain aja dimall? Jalan-jalan , lihat-lihat, nongkrong, gosip , dan tidak lupa foto-foto. FIX ALAY sekali!.

Kehidupan semasa SMA bisa dibilang FULL HAVE FUN. Bawaannya seneng terus, happy terus dan tetap bahagia meskipun nggak punya uang sama sekali. Tetap bisa tersenyum bahagia meskipun nilai rapor berada diurutan nomor satu dari bawah. Nilai rapor yang jeblok diganti dengan ikutan lomba yang masih ada hubungannya sama tulis menulis. Lagi-lagi yang penting bisa jalan-jalan. Belajar pelajaran sekolah aja jarang-jarang apalagi belajar ilmu agama. Sholat apalagi baca al-quran, maaf sepertinya dulu sering gak ada waktu. Astaghfirullah. Untung aja Allah masih sayang, jadi masih diberi kesempatan untuk hidup sampai saat ini, masih diberi kesempatan untuk berbenah diri. Diuji dengan kenikmatan membuat saya lupa, siapa diri saya yang sebenarnya.

Hingga pada tahun 2010 tepatnya saat lulusan SMA, hidup yang tadi cuma happy-happy berubah drastis. Lupakan mall, lupakan main sana-sini, dan mulai belajar hidup serba terbatas. Dijakarta, di Ibu kota negeri ini saya mulai mengenal Tuhan lagi. Emang bener ya, manusia itu sering tidak tahu diri, giliran dapat kesusahan aja baru ingat sama yang memberi nikmat. Allah masih sayang sama saya, hingga suatu hari saya merasakan hidup yang begitu hambar, hidup yang terasa menyesakkan. Ditahun itu pula untuk pertama kalinya saya merayakan idul fitri jauh dari rumah dan jauh dari keluarga besar. Saat itu saya tidak punya ongkos untuk pulang ke Kediri, mau minta tapi malu. Sedangkan saya di jakarta masih terkatung-katung ga jelas nasibnya. Nglamar kerja kesana kemari ditolak udah gitu masih ditipu orang lagi.

Ditengah keadaan yang sepeti itu, saya ingat bahwa saya punya Tuhan. Lalu, saya wudhu dan kemudian sholat. Ditengah-tengah sholat saya menangis sejadi-jadinya. Hidup ini tidak adil sekali, gerutu saya kala itu. Saya pasrahkan semuanya pada Allah. Ajaib setelah itu rasa merasa lebih tenang, sejak saat itu saya putuskan untuk menjaga sholat saya. Tidak hanya satu dua waktu tapi lima waktu. Entah ada bisikan darimana, tiba-tiba saya pengen banget memakai jilbab. Sisa uang kiriman dari Kediri, langsung saya belikan jilbab. Ya, tahun 2010 itu saya mulai belajar memakai jilbab. Tidak ada rasa risih atau gerah ketika memakainya, yang ada justru perasaan nyaman. Banyak yang heran ketika saya keluar rumah pakai jilbab, padahal bukan acara pengajian. Jangankan orang lain, saya sendiri juga heran. Banyak juga yang bilang saya lebih cantik ketika tidak berjilbab. Bahkan mas-mas yang saya suka jadi menjauh karena jilbab yang saya pakai haha.

“ life is like rooller coaster. It has up and down”

            Iya hidup memang tak selamanya dibawah. Saya bisa kembali hidup “normal” satu tahun kemudian. Kejadian di Ibu Kota membuat saya sadar bahwa Tuhan itu dekat. IA selalu menolong hambanya yang sedang kesusahan. Saya bersyukur karena pernah mengalami itu semua, karena itulah yang membawa saya pada titik ini. Lalu bagaimana ceritanya bisa sampai ke pondok pesantren yang jaraknya kurang dari 500m?

to be continue…..

Iklan

2 respons untuk ‘Dari Mall menuju Pondok Pesantren #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.