Dari Mall Menuju Pondok Pesantren #2

PP-Putri-Tahfizhil-Qur’an

“Kita tidak akan pernah tahu kapan hidayah Allah itu datang”

            Saya bersyukur pernah mengalami hal sulit dalam hidup karena darinya saya banyak belajar tentang kehidupan. Tahun 2010, menjadi awal perjalanan hijrah saya untuk mendekat kepada Tuhan. Awal 2011, saya kembali ke Kediri dengan membawa “oleh-oleh” jilbab. Iya, semenjak itu saya mulai tertarik belajar agama, dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Meskipun jilbab yang saya pakai masih buka tutup kayak portal perumahan, tapi karena jilbab inilah saya jadi termotivasi untuk tidak meninggalkan sholat. Dan memang benar, kadang manusia itu tidak tahu diri. Hanya ingat Tuhan kalau sedang susah, kalau dikasih kenikmatan sering lupa bersyukur begitu juga dengan saya.

Tahun 2013 saya kehilangan orang yang saya cintai, Kakak saya dipanggil kembali olehNya. Sejak sakit dirumah hingga koma di ICU saya berada didekatnya, bahkan detik-detik dia tidak ada saya berada disampingnya. Saya terus berada didekatnya, membisikkan Yasin dan Sholawat sewaktu dia koma. Waktu itu pas sore hari dia koma lagi, sekeluarga sudah panik apalagi Mama yang sudah tidak sadarkan diri waktu ada panggilan dari ICU bahwa Mas kritis. Saya beranikan diri masuk ruang ICU, sambil menangis saya bisikkan sholawat dan saya pegang tangannya. Tangannya bisa gerak-gerak dan dia meneteskan air mata meskipun dia tidak sadar. Malam harinya dia koma lagi, hingga sekitar jam 3 pagi tubuhnya sudah tidak bisa apa-apa lagi. Tangan dan kakinya sudah dingin. Pagi harinya dokter menyatakan dia telah tiada.

Dua minggu saya bersama Mas, merawat dia sejak masih sakit dirumah, dia mulai kehilangan keseimbangan dan kesadaran, koma di ICU hingga dia meninggal memberikan banyak sekali pelajaran bagi saya. Ternyata jarak hidup dan mati itu sungguh dekat.  Saya hanya meninggalkan dia sebentar karena ketiduran, tapi dia telah malah lebih dulu ninggalin saya.

Yang paling dekat adalah kematian. Yang paling jauh adalah masa lalu. Yang paling besar adalah hawa nafsu. Yang paling berat adalah memegang amanah. Yang paling ringan adalah meninggalkan sholat. Dan yang paling tajam adalah lisan manusia. -Imam Al Ghazali-”

Beberapa bulan setelah kepergian Mas, saya melakukan perjalanan solo ke Singapura-Malaysia. Diperjalanan pulang dari Kuala Lumpur ke Surabaya, saya nyaris menyusul Mas. Waktu itu cuaca sedang buruk, pesawat delay sedang saya seorang diri dinegeri orang. Belum lagi pas dipesawat cuaca buruk yang menyebabkan pesawat sedikit tergoncang. Kebetulan waktu itu saya duduknya didekat jendela, jadi bisa lihat keluar. Subhanallah, pas saya lihat keluar sedang hujan deras disertai petir. Duh kilatan petir itu begitu dekat, jarak saya dan langit terasa begitu dekat. Saya sempat berpikir kalau malam itu saya akan berjumpa dengan malaikat Izrail.

Kedua kejadian itu dan ditambah lagi saya harus kehilangan satu orang lagi yang saya cintai di tahun 2014 membawa saya untuk lebih serius belajar agama. Saya belajar untuk tidak buka tutup jilbab, dan belajar memakainya kemanapun saya pergi. Setelah proses yang lumayan panjang, awal 2015 saya memutuskan untuk benar-benar berhijrah. Untuk lebih serius belajar agama. Dimulai dari ikut komunitas ngaji, hingga Allah memberikan saya kesempatan untuk belajar di pesantren. Saya tidak tahu harus mulai berhijrah darimana. Bahkan dalam proses berhijrah saya sempat bimbang. . Belum lagi banyak sekali pertanyaan “Ngaji nya sudah sampai mana?” yang selalu membuat saya bingung menjawabnya.

Tiba-tiba muncul keinginan untuk belajar agama lebih dalam lagi. Kali ini tidak hanya wacana, tapi saya benar-benar ingin belajar agama terutama tentang Fiqih. Saya ingin belajar agama dipondok!. Keinginan belajar dipondok begitu kuat, sampai mengganggu tidur saya. Sempat galau karena saya masih harus menyelesaikan skripsi tapi juga pengen banget belajar agama. Setelah tanya sana-sini akhirnya saya beranikan diri untuk datang kepondok pesantren Lirboyo. Pondok yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah saya. Berdasarkan info yang saya dapatkan dari seorang teman saya akhirnya datang kepondok yang bisa “nduduk” ga harus nginep disana. Disana saya diterima oleh Ustadzah Anis dan Ustadzah Alfina. Sore harinya saya lansung masuk dan test kemampuan ngaji. Test ini gunanya untuk menempatkan saya dikelas yang sesuai dengan kemampuan saya.

“Orang berubah karena dua hal. Pertama karena mereka tersakiti dan yang kedua karena mereka banyak belajar dari pengalaman”.

Iya, perubahan dalam hidup yang saya alami disebabkan oleh “pelajaran” yang saya dapatkan begitu banyak. Hingga membawa saya pada satu titik yang mengharuskan saya untuk kembali pada Tuhan saya. Lalu, bagaimana kehidupan dipondok ? Tunggu cerita saya sebagai santriwati baru ya 😀

Iklan

2 respons untuk ‘Dari Mall Menuju Pondok Pesantren #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.