Ada Apa di 24?

single-mom-bahagia-580x400

Life begin at 24!

            Usia 24 tahun. Ya inilah usia yang oleh orang-orang disebut usia dewasa. Usia yang pas untuk memulai berkarir secara profesional atau membangun kehidupan rumah tangga. Tapi bagaimana bila diawal usia 24 yang ada justru kembali ke “masa kecil” ?. Inilah yang saat ini sedang saya alami. Beberapa hari yang lalu, usia saya genap 24 tahun. Tidak terasa bahwa saya sudah hidup didunia yang penuh haha-hihi ini selama hampir seperempat abad. Memasuki usia 24 bukannya merasa lebih dewasa tapi saya malah merasa semakin kecil. Merasa sangat bodoh, karena ternyata banyak sekali yang belum saya ketahui, banyak sekali yang belum saya pelajari.

Bila Usia 23 tahun lalu, saya merasa banyak sekali perubahan yang terjadi dalam diri saya. Akan ada apa di 24 ini?. Jangan tanya lagi “Kapan Lulus kuliah?”, atau “Kapan kamu nikah?” saya sudah sangat bosan dengan dua pertanyaan ini. Oke, baiklah. Lalu apa yang kamu inginkan diusia 24 tahun ini? BELAJAR!. Iya, saya ingin mengisi usia 24 tahun ini dengan belajar tentang banyak hal. Entah itu belajar memasak, belajar agama, atau bahkan melanjutkan jenjang pendidikan saya. Hello, lulus juga belum tapi sudah mikirin mau sekolah dimana lagi – ___- . MAUNYA APA SIH? *ga bisa biasa*

Entahlah. Saya sendiri juga semakin bingung dengan diri sendiri. Maunya apa sih? Padahal juga udah bikin life mapping yang tinggal ngejalani aja. Tapi entah kenapa otak ini tidak kuasa memberikan perintah pada tubuh untuk segera action. Otak ini penuh dengan pertanyaan-pertanyaan absurd yang entah harus nyari jawabannya dimana. Pikiran orang yang normal saat ini seharusnya saya segera menyelesaikan skripsi saya agar bisa segera sidang bulan depan. Lulus dan segera memulai berkarir atau menikah mengingat sekarang usia sudah 24 tahun. Tapi kenyataanya saya justru tidak menyentuh skripsi sama sekali hampir dua bulan ini. Tidak segera mencari data penelitian, atau sekedar baca buku untuk memperkuat data penelitian. Tapi apa yang justru saya kerjakan?

Pertama, sudah sebulanan ini saya asik dengan buku-buku yang sama sekali enggak ada hubungannya sama skripsi. Saya sedang asik dengan buku-buku pengembangan diri, seperti buku self driving –nya Rhenald Kasali dan semacamnya. Tidak hanya itu , selama sebulanan ini saya sibuk research kecil-kecilan dan mencari data untuk essay saya yang rencananya akan saya ikutkan dalam lomba essay nasional. Gila, tidak pandai mengatur waktu, tidak tahu prioritas dan bla bla. Harusnya waktu yang ada digunakan untuk menyelesaikan skripsi supaya segera menjadi sarjana. Entahlah. Nyatanya saya jauh lebih semangat untuk menyelesaikan essay saya ketimbang melanjutkan skripsi Bab 5. Life is a choice!

Kedua saat ini saya sedang sibuk dengan sekolah madrasah diniyah di pondok pesantren Lirboyo. Sekolah seperti ini harusnya sudah saya selesaikan 10 tahun yang lalu. Pelajaran di sekolah madrasah adalah pelajaran yang dulu pernah saya pelajari sewaktu kecil. Baca tulis huruf hijaiyah, baca tulis huruf pegon, mengulang ngaji dari abata, mengkaji kitab semacam Alala, hidayatus sibyan dll. Ini bukan waktunya mengulang gituan, terlalu jauh , terlalu lama dan kembali menjadi kecil diusia yang sudah dewasa. Kalau mau sekolah lagi seharusnya bukan sekolah yang seperti ini, harus sekelas dengan anak-anak umur 6-10 tahun?. Ini saatnya menata masa depan, bukan kembali mengulang masa lalu. Sekolah berarti juga harus taat peraturan. Menulis pelajaran, ikut tamrin setiap minggu, setoran ngaji, dan ikut ujian semester. Bukankah ini menyita banyak waktu?.

Saat tes masuk madrasah diniyah, Ustadzah nya menawari mau mulai darimana karena memang basic nya udah bisa ngaji cuma butuh benerin makhroj. Tapi saya justru dengan sangat percaya diri minta ditempatkan dikelas yang paling dasar, dan mulai ngaji dari jilid satu yang hanya abata. Ustadzahnya berkali-kali meyakinkan bahwa saya tidak harus mengulang dari awal, saya bisa masuk ditingkat yang setidaknya sudah ditengah-tengah. Tapi lagi-lagi saya dengan percaya diri minta mengulang dari awal. Keras kepala!. Dan belakangan baru saya ketahui bahwa untuk menyelesaikan sekolah Madrasah diniyah ini setidaknya butuh 6 tahun. AAAAK! Enam tahun lagi usia saya sudah 30 tahun! Once, life is a choice!.

“ Jadi mau sampai kapan kamu belajar? Mau sampai kapan calon jodohmu kamu suruh nunggu? Sekolah madin itu setidaknya butuh waktu 6 tahun”. – Nidhom –

Iya saya tahu. Saya juga sadar umur. Entah sudah berapa ratus kali pertanyaan “kapan lulus” dan “kapan nikah” ini mampir ditelinga saya. Awal usia 24 ini muncul banyak pertanyaan lain, hanya saja pertanyaan kali ini hanya mampu didengar oleh telinga saya sendiri.

“Kenapa saya dilahirkan didunia ini? ,  kenapa dalam keadaan seperti ini? , kenapa lahir dari keluarga ini? , kenapa saya bisa disini? , kemana takdir akan membawa saya?, mau jadi apa nanti? , dan segala macam pertanyaan lain yang semakin dicara jawabannya semakin enggak ngerti dan makin bingung”.

Apakah pikiran semacam ini juga dipikirkan oleh orang lain diluar sana yang seusia dengan saya?. Ah , saya rasa tidak. Setidaknya teman-teman disekitar saya tidak sepaham dan terus mempertanyakan mau saya ini apa?. Dan banyak diantara teman-teman saya yang berpikiran maju, misalnya mulai bekerja secara profesional, mengejar sidang bulan depan, melanjutkan S2, hingga mulai banyak yang menikah (fyi, satu bulan ini ada empat teman saya yang menikah pfffttt *dalam hati sih “aku kapan?” ). Tapi kenapa pikiran semacam itu justru tidak ada pada saya, apakah saya tidak normal atau tumbuh kembang saya yang terhambat? Entahlah.

Setiap malam sebelum tidur, saya selalu bertanya pada diri saya sendiri. Sebenarnya maunya apa sih, kenapa bisa begini begitu dan bla bla. Pertanyaan yang tidak saya temukan jawabannya hingga saya terbangun dipagi hari bahkan hingga akan tidur lagi malam harinya. Entahlah. Lagi lagi entahlah. Saya hanya tahu bahwa saya harus menyelamatkan diri saya sendiri dan saya hanya tahu satu jalan untuk bisa selamat yaitu dengan BELAJAR. Belajar apapun meskipun harus kembali mengulangi dari NOL , belajar hal baru dan menemukan hal baru. Mungkin pilihan saya ini sedikit aneh, terkesan ga dipikir dulu, keras kepala tapi  sampai dengan hari ini pun saya sendiri juga masih bertanya-tanya kenapa saya memilih kembali sekolah madrasah dipondok, meninggalkan skripsi, dan melakukan hal-hal yang bagi sebagian orang tidak penting atau tidak lagi pantas dilakukan oleh seorang manusia 24 tahun.

Saya sadar dan juga memikirkan masa depan saya. Saya juga ingin segera mewujudkan keinginan Mama yang ingin segera melihat saya duduk dipelaminan, atau keinginan Mbah yang segera ingin melihat saya wisuda. Tapi saya juga tidak kuasa menghentikan diri saya sendiri. Saya tidak tahu caranya untuk berhenti. Berhenti melakukan hal-hal yang “tidak wajar” dan cukup fokus saja sama skripsi. Biar. Biarlah. Apa yang saya jalani saat ini murni pilihan saya sendiri, atau saya dipilih Tuhan untuk menjalani ini semua?.  Entahlah. Biarkan waktu menjalankan tugasnya untuk menjawab semuanya .

“Let dream and fate takes me where I belong”