“Rumah Burung Dara”

Mungkin untuk beberapa bulan kedepan kamar atas akan jadi tempat terbaik untuk “mengasingkan diri”. Untuk saat ini kamar atas ini adalahtempat yang paling kondusif untuk belajar. Jauh dari kulkas dan meja makan haha. Kamar yang ga pernah ditempati, dan sejak Mas tidak ada dipake buat menyimpan semua barang-barangnya. Ya bajunya, ya tempat tidurnya,ya lemarinya. Dulu saya sering tertidur dikamarnya, dan ketika bangun sudah pindah ke kamar saya sendiri. Kira-kira kalau sekarang saya tertidur disini pas bangun bisa langsung dikamar saya ga ya? :D.

Teras kamar atas ini dulunya jadi tempat favorit Mas buat merenung (katanya sih gitu), ditemani secangkir kopi dan rokok. Kadang saya juga nongkrong dan ngobrol bersamanya. Kalau bosen diteras kita pindah diatas genteng (ini serius!). Bahkan kami pernah nyalain kembang api diatas genteng. Rumah kami memang 2 lantai sejak dulu tapi dilantai 2 hanya ada satu kamar. Kalau saya bilang sih kamar atas ini mirip sama rumah burung dara. Cuma ada satu kamar gitu. Dan disebelahnya sudah genteng , jadi kalau mau naik genteng mudah , tinggal lompat aja.

IMG_20150430_171414
Itu tuh, kamar rumah burung dara. Nah disebelah kamar itu genteng yang biasa saya pakai selonjoran dulu :D. Tempat itu kini tidak ada lagi, karena sudah direnovasi. Sekarang kamar rumah burung dara itu punya tetangga kamar 😀

Diatas genteng rumah. Tempat yang sering dipakai Mas buat ngilangin suntuk (katanya sih gitu), itu kemudian juga menjadi tempat favorit saya kalau lagi suntuk. Jangan salahkan saya kalau kakean polah, karena itu ajarannya Mas saya hehehe. Ketika lagi suntuk banget, saya biasanya langsung naik keatas, lalu lompat ke genteng. Selonjoran gitu, sambil dengerin lagu dari hape nokia saya (yang jaman dulu  masih hitss banget). Kalau pas kebetulan langitnya cerah dan banyak bintang saya nggak cuma selonjoran tapi malah tidur terlentang ngadep kelangit. Sambil senyum-senyum karena berasa kayak difilm-film itu.

Apa engga dimarahin papa mama? Tenang. Mereka sudah kebal dengan kelakuan aneh anak-anaknya dan sudah bosen ngomelin kami. Trus nggak malu apa sama tetangga? Tenang. Diatas genteng itu cahayanya ga banyak, jadi gelap (tapi nggak gelap-gelap banget) jadi nggak keliatan dari bawah. Diteras kamar atas (baik teras belakang atau teras depan) , dan diatas genteng saya banyak menghabiskan waktu bersama Mas. Kami ngobrol tentang apapun mulai dari musik, agama, sekolah, yang pada akhirnya selalu berakhir dengan debat. Engga tau kenapa kalau ngomong saya dia itu bawaannya pengen ndebat aja, soalnya dia itu kalau ngeluarin opini selalu opini yang debat-able. Meskipun sering debat dan kadang bertengkar tapi kami saling sayang hihi.

Betewe, pas nulis ini windows media player yang ada dilaptop muter lagunya westlife yang season in the sun. Itu lagu kesukaan Mas, dan kami sering nyanyiin ini bareng. Ketika sudah kuliah pun hobi selonjoran diatas genteng masih sering saya lakukan. Sampai pada akhirnya malam yang memalukan itu datang. Pas lagi asyik-asyik tiduran diatas genteng, sambil ngeliat bintang-bintang malam dari bawah tetangga saya teriak. “Mbaaakkk iing, sampean nyapo nang kono?”. Sumpah sejak saat itu, saya nggak naik-naik genteng lagi. Eh, masih naik genteng deng, kalau mau jemur bantal atau boneka-boneka “warisan” dari Mbak. Seumur hidup saya meskipun saya anak perempuan saya hanya satu boneka!. Itupun hadiah dari Mbak Sepupu dan pacarnya pas ulang tahun saya pas saya masih SMP. Jadi kalau ada banyak boneka dikamar saya bahkan bonekanya sampe punya rumah, aseli itu bukan punya saya haha.

Siang ini, dikamar atas ini dan rintik hujan diluar saya benar-benar merindukan Mas. Merindukan masa kecil kami. Masa kecil yang saya lalui bersama Mbak dan Mas. Meskipun kami tidak lahir dari rahim ibu yang sama tapi ikatan diantara kami begitu kuat. Mbak dan Mas , dua kakak-beradik itu begitu menyayangi saya, begitu mencintai saya seperti adiknya sendiri. Mereka ikhlas membagi kasih sayang Ibu Bapaknya kepada saya. Mereka selalu menuntut hak yang sama, apapun yang diberikan oleh orang tuanya kepada mereka juga harus diberikan pada saya. Meskipun sehari-hari kami nyaris tidak ada kegaduhan yang tidak kami buat. Digelitikin sampe nangis, kejar-kejaran didalam rumah meskipun saat itu saya sudah SMA, rebutan makanan, rebutan remote TV, dan pas menjelang hari raya pasti banyak parcel yang datang kerumah. Kami selalu rebutan parcel, yang mana yang paling banyak isinya dan yang paling enak jajannya. Nah kalau ini, biasanya yang sering dapat Zonk itu Mas. Hahaha dia terlalu terburu-buru kalau milih.

Kenapa jadi MELLLOOOWWW? Ahhh… sudahlah hujan semakin deras. Dikamar atas ini , meskipun tak lagi sama seperti dulu. Sekarang kamar atas ini tak lagi seperti rumah dara, dan kamar atas kini punya tetangga kamar tapi kenangannya tidak akan pernah hilang. Meskipun saya tak lagi bisa “tinggal lompat” buat biasa keatas genteng , ya kali sekarang mau naik genteng yang mana? Rumahnya sudah berubah total dan gentengnya juga semakin tinggi. Untuk beberapa bulan kedepan saya akan banyak menghabiskan waktu saya disini, dikamar atas dengan segala perabotan milik Mas lengkap beserta kenangan bersamanya. Semoga dia ridho ya hihii, dan ngga ngusir-ngusir saya dari kamarnya , karena hobi saya nonton TV dikamarnya sampe ketiduran dikamarnya :D.