Cerita dari Lirboyo #1

“Aku hanya bisa duduk tertunduk dilantai, seluruh badanku gemetar. Dan mataku basah oleh air mata. Aku bahkan tidak mampu berkata sepatah katapun, hanya lantunan sholawat dalam hati”

Rangkaian pesantren kilat yang diadakan oleh Pondok Pesantren Tahfidzil Quran Lirboyo, ditutup dengan acara “Mondok singkat” yaitu para peserta pesantren kilat diberi kesempatan untuk merasakan tidur dipondok. Tiga hari tidur dipondok? Tentu kesempatan ini tidak saya lewatkan begitu saja. Hari senin yang lalu, setelah shalat isya saya berangkat ke pondok seperti biasa. Meskipun sebenarnya pada hari itu saya capek luar biasa, karena saya baru pulang dari Malang. Perjalanan pulang pergi Kediri-Malang dalam sehari lumayan menguras tenaga apalagi sebelumnya saya memang sedang kurang istirahat. Begitu sampai pondok saya “disambut” oleh Ustadzah Deva, yang kebetulan sedang udzur dan tidak sholat.

“Udzur nopo suci?” tanya Ustadzah Deva.

“Suci Ust. Tapi niki nembe mantuk dadose mboten tumut taraweh”

“ Nggeh pun. Niki mangke bade ziarah ten makam sekalian sowan ndalem Bu Nyai” .

Ziarah? Sowan Ndalem? Mendadak capek saya hilang. Mendadak ngantuknya juga hilang. I’m really excited. Sumpah. Tiba-tiba aja ada rasa bahagia yang luar biasa. Setelah taraweh selesai , saya dan para “santri dadakan” berjalan menuju makam pendiri Lirboyo. Dari pondok P3TQ barat kami jalan menuju pondok induk. Meskipun jalan yang dilewati adalah jalan yang setiap hari saya lewati, tapi perjalanan malam itu benar-benar membuat jantung saya berdetak lebih kencang dari biasanya.

pesantrenstory-20160624-0001
Makam para Kyai Lirboyo. Gambar saking IG ning @shofiakafa yang direpost oleh @pesantrenku .

 

Dimana letak makamnya? Ini kan jalan menuju pondok induk, kalau jalan agak ke timur sedikit sudah sampai ditoko Mama. Lah dimana sih makamnya?. Ternyata oh ternyata makamnya berada didalam pondok induk. Masuk area pondok induk banyak kang-kang santri haha . Ya iyalah itu kan memang pondoknya kang-kang santri -__- . Begitu masuk hawa dingin langsung terasa, eh bukan dingin deng tapi lebih ke hawa sejuk. Kami lalu duduk sekitar 5-7 meter dari makam. Didalam makam saya lihat banyak kang-kang santri yang membaca Al-Quran, membaca kitab atau hanya yasin dan tahlil. Sama sekali jauh kata menakutkan. Maklum ya saya ini penakut jadi kalau dengar kata makam bawaannya udah takut aja. Takut ada setan takut ada apalah.

lir1
Masjid Lawang Songo ( pict dari detik.com )

Malam itu tidak banyak aktivitas, hanya ada beberapa santri dan rombongan kami saja. Tapi anehnya, begitu masuk dan melintasi masjid lawang songo rasanya kayak ramai. Seperti sedang ada banyak aktivitas mengaji disitu. Setelah rombongan kami dipastikan tenang dan semua kebagian duduk, Pak Ustadz mulai memimpin doa yasin dan tahlil. Beruntung saat itu saya mendapatkan tempat duduk didepan , didekat tirai. Jadi bisa melihat makam para mbah kyai lirboyo. Ketika bacaan al-fatihah dimulai, tiba-tiba dada ini terasa sesak.

Ya Allah. Saya hidup dikediri, dilirboyo ini sudah bertahun-tahun. Tapi tidak pernah ziarah makam ke Kyai Lirboyo, jangankan ziarah. Saya saja baru tahu kalau ternyata makamnya para kyai lirboyo ada didalam pondok induk yang setiap hari saya lewat didepannya. Rasanya malu sekali pada Mbah Kyai. Pak ustadz terus melantukan tahlil diiringi para “santri dadakan” , tapi saya hanya bisa tertunduk. Dimataku sudah menggenang air mata yang terus saya tahan agar tidak sampai keluar. Dadaku terasa sesak dengan rasa haru.

“Ya Allah. Malam ini engkau lah yang memperjalankan hamba-Mu ini kesini. Ridho’i lah dan tuntunlah hamba. Allahumma sholi ‘ala muhammad”.

Saya seperti mimpi, duduk didepan makam Mbah Kyai. Lagi-lagi saya hanya mampu tertunduk dilantai. Tidak terasa bacaan tahlil telah usai, dan kami harus segera kembali kepondok. Niat awalnya mau sekalian sowan ndalem yang ada dibarat yang letaknya disebelah pondok induk. Tapi malam itu ternyata Bu Nyai ada di ndalem barat, jadilah kami segera kembali ke pondok barat untuk sowan ke ndalem. Untuk pertama kalinya (pokoknya semua serba pertama kali hehe), saya bisa melihat wajah Bu Nyai secara dekat. Masyallah wajahnya begitu teduh.

Kami duduk dilantai menunggu giliran untuk sungkem dengan Bu Nyai. Baru saja duduk dan mendengar suara Bu Nyai lagi-lagi badan saya gemetar. Saya tanya pada diri saya sendiri, emang tadi belum makan ya?. Tapi seingat saya, buka puasa tadi saya makan sepiring nasi lauknya capjay dan sepotong ayam kecap. Masak baru sejam sudah lapar lagi? Ah tidak, saya yakin betul, kalau saya gemetar saya bukan gemetar karena lapar seperti biasanya. Tapi kenapa badan saya begitu gemetar, dan dada rasanya juga sesak?.

“Kabeh iki tak aku santriku. Mugi-mugi ……”

Begitu Bu Nyai matur begitu, pecah sudah air mata yang sejak dari makam tadi dibendung biar nggak keluar. Saya bahkan tak sanggup mendengar kata-kata Bu Nyai lagi, hanya suara “AAMIIN” dari teman-teman santri dadakan itu. Saya sibuk dengan diri saya sendiri, sibuk menenangkan diri sendiri. Lagi-lagi saya hanya bisa tertunduk dalam. Lalu tibalah saat sungkeman itu. Saya kembali gemetar, tapi kali ini saya tahu penyebabnya :D. Saya gemetar karena akan sungkem dengan Bu Nyai. Saya takut kalau nanti sungkemnya salah gimana. Kan malu hehe. Saya ingat waktu pertama kali datang ke pondok ini, pertama kali ngaji. Sama ustadzah Nafis ditegur karena salim aja nggak bisa :D. Salim itu mencium tangannya Ustadzah/ Guru , bukan menempelkan tangan ustdzah dikening atau dipipi kita haha. Kalau ingat itu rasanya pengen ketawa.

Tibalah giliran saya maju untuk sungkem. Dengan menundukkan kepala, nggak berani melihat wajah Bu Nyai. Lagian nggak sopan juga kan , kalau meloloti Bu Nyai meskipun wajahnya begitu teduh. Dilihat dari jauh saja sudah terasa ayem dihati. Saya cium tangan Bu Nyai dan berharap berkah darinya. Sungguh rasanya begitu sejuk, begitu adem berada dekat beliau. Semoga Bu Nyai tansah pinaringan sehat wal’afiyat. Aamiin.

Malam itu, adalah malam pertamaku tidur dipondok. Pondok pesantren yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah. Pondok pesantren yang setiap hari saya lewati, pondok pesantren yang memiliki puluhan ribu santri dari berbagai macam daerah. Sedangkan saya? Saya yang sudah hidup bertahun-tahun didekatnya, ternyata butuh waktu 24 tahun untuk bisa mengetuk pintunya.

Ramadhan kareem ..

Berkah ramadhan. Semoga Allah Ridho.

 

Ditulis sambil jagain toko yang letaknya hanya beberapa meter dari pondok induk, dan didepan ndalem ning Ida (Putri Mbah Kyai Anwar) :D.

Iklan

2 respons untuk ‘Cerita dari Lirboyo #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.