#Day2 : Satu Tahun Menjadi “Santri”.

photogrid_1462441839675
bersama ustadzah 🙂

Tidak terasa sudah tahun saya belajar di Ponpes Lirboyo. Hingga saat ini, rasanya masih belum percaya kalau saya bisa masuk lingkunga pondok pesantren. Satu tahun lalu, saya selalu dihantui oleh pertanyaan-pernyataan yang membuat saya takut setiap malam. Kalau ditanya Tuhan masa mudamu kamu gunakan untuk apa? Aku bisa jawab apa. Satu tahun lalu dengan bantuan seorang teman saya memperoleh info tentang ngaji dipesantren. Info yang cukup mengobati rasa “gak tenang” saya setiap malam.

Awal tahun 2015 yang lalu, karena kondisi “kejiwaan” saya yang goyah saya putuskan untuk lebih dekat dengan Tuhan. Karena itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan saya dari kegilaan haha. Saya mulai langkah saya dengan memfollow banyak akun dakwah di instragram, me-like fanpage islami (tapi sumpah ga follow jonru kok haha), ikut kajian-kajian yang akhirnya membuat saya menjadi ukhti-ukhti berjilbab lebar nan panjang. Tapi saya merasa tidak damai, justru muncul banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang malah membuat semakin bingung.

“ ngajine wes sampai mana, kitab e sudah sampai bab apa?”

Saya selalu ditanyai dengan pertanyaan yang sama ketika pulang kerumah mbah. Pertanyaan itu membuat saya semakin galau, karena selama mengikuti kajian-kajian itu ilmu yang saya dapatkan tidak utuh, dan bisa dikatakan saya nggak benar-benar ngaji (tulisan saya tentang itu bisa dilihat disini )  

Satu tahun lalu, dipagi hari itu saya beranikan diri saya untuk masuk pondok pesantren putri P3TQ Lirboyo seperti yang Anam sarankan. Baru sampai gerbang, langkah saya terhenti lalu saya putar balik motor saya. Tapi putar balik motor itu justru malah membuat saya masuk pondok :D. Ya iyalah, saya puternya dari gerbang selatan, sebelah selatannya masjid Al-Hasan lalu putar balik mau pulang di Wilis. Sampai didepan Indomaret bukannya belok kiri, masuk perumahan tapi malah belok kanan, gerbang depan Lirboyo :D. Yasudah, udah terlanjur masuk. Sampai dipondok, saya disambut oleh mbak-mbak santri (beliau adalah ustadzah Anis, yang sekarang sudah boyong L ). Dari hasil pertemuan itu , saya diijinkan untuk masuk kelas malam harinya. Semacam trial class gitulah.

2015-12-17 21.13.52
sumpah makan begini itu enak banget meskipun cuma pakai telor ceplok

Pertama ngaji, udah sok-sokan bawa Al-Quran. Giliran setoran ngaji, di tes sama ustadzah makrojnya hancur berantakan (terimakasih sekali pada ustadzah Nafisah yang begitu sabar ngajari manusia 24 tahun mengucapkan ش, ص, ض, ط, ظ  dan lainnya dengan baik dan benar). Ada banyak hal lucu yang terjadi pas awal-awal ngaji. Belajar makhroj itu ngga gampang ternyata, dan karena pengen banget bisa everything I do lah, bahkan sampai bawa kaca. What , kaca? Buat apa? jadi ya, saya bawa kaca kecil buat ngeliat mulut saya melafalkan huruf-huruf hijaiyah sesuai makhroj yang benar. Biar sesuai sama yang diajari ustadzahnya hahaha, tapi pas itu ketahuan sama Ustadzah Nafis dan beliau ketawa ngeliat tingkah polah saya hahhaaa.

photogrid_1462284205052
me with my gengsss haha

Satu tahun ngaji dipondok. Satu tahun menjadi santri, ya meskipun santrinya ga full. Genap satu tahun ini saya menyelesaikan ngaji tingkat jilid. Lama? Benar ini itungannya lama banget dari jilid satu-enam, karena kesalahan saya juga sih yang sering banget bolos sekolah. Sekolah sekaligus skripsi bukan hal mudah ternyata. Tapi tidak apa-apa setidaknya saya bisa melafalkan ش, ص, ض, ط, ظ  dengan benar hahaa.

Setelah skripsi selesai, semoga bisa rutin sekolahnya setidaknya untuk satu kedepan. Karena saya tidak tahu dimana takdir akan membawa saya setelah ini, tapi semoga masih dikasih kesempatan untuk belajar dipondok setidaknya satu tahun lagi :).

PS : Tulisan saya selengkapnya tentang pengalaman mondok saya di lirboyo bisa dilihat disini , disinidisinidisinidisini . Semoga bermanfaat yaa 🙂

#Day1 : Starting a new challenge.

picture-1
gambar diambil dari sini

Well, setelah posting tulisan curhat yang malah jatuhnya drama banget, hari ini saya akan menulis lagi hihi. Pagi ini saat bangun tidur saya langsung membaca bismillah dan senyum-senyum sendiri. Menurut yang saya baca, entah benar atau tidak tersenyum bisa membuat otak kita yakin kalau kita sedang bahagia. Jadi mungkin udah ada semacam program gitu ya diotak kita, yang kalau bibir kita tersenyum akan direspon oleh otak lalu diolah menjadi kebahagiaan. Ah embuh, ini analisa yang ngawur *maapkan saya bukan peneliti*. Mungkin ini juga alasannya, kenapa kalau pas nangis tapi tersenyum semacam ada kekuatan yang nambah gitu, atau sedikit berkurang sedihnya *Oh my, drama lagi*.

Mumpung masih suasana tahun baru, jadi dimanfaatkan betul untuk menuju perubahan. Padahal setiap tahun baru selalu bikin resolusi-resolusi tapi semuanya hanya berakhir dibuku catatan. Setelah saya analisis *tsah bahasanya masih ambu-ambu skripsi* , saya salah strategi. Saya itu kadang suka ngotot dan sok multitasking, padahal otaknya cuma sekelas intel atom. Udah jadi kebiasaan saya menuliskan target-target yang ingin dicapai dalam setiap tahunnya, selain itu juga nulis daftar-daftar impian baik yang ditempel didinding kamar atau ditulis dibuku. Kalau saya ngga salah hitung, seperti sudah ada 4 buku yang isinya “list mimpi dan target” tapi tidak banyak dari list itu yang dicoret.

“ focus will driving everything in your life, so keep on focus”

Gitu sih kalau kata mentor online saya, Brendon Burchard. Kebetulan nih saya dapat free buku motivasinya plus dapat free online training selama 12 minggu. Ehmm, ga free juga sih sebenarnya tapi bayar $7 , tapi sumpah worth banget kok. Lumayan  kan bisa sekalian belajar reading dan listening hahaha. Pantes , kalau semua target saya nggak ada yang tembus, lha wong saya nggak bisa fokus. Emang sih ya, gara-gara ngga bisa fokus banyak sekali tugas-tugas yang terbengkalai. Contoh yang masih anget banget ya skripsi, coba kalau dari dulu saya fokus pasti skripsinya ngga sampai “anniversary”. Lalu, kursus-kursus yang saya ikuti juga nggak menghasilkan apa-apa. Dalam 3 bulan ini saya, saya bisa ikut lebih dari 3 kursus yang jalan bersamaan. Duh, sumpah keteter banget. Dan mulai minggu ini saya “mengeliminasi” beberapa kursus yang saya ikuti. Saya memilih mundur dan memulai menetapkan fokus dan prioritas.

Pertama, saya mulai dari hal-hal yang kecil dan simpel. Karena saat ini saya sedang fokus meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya, jadi mulai hari ini saya mulai belajar saya dengan belajar menghafal 5 vocab, menonton satu film pendek berbahasa inggris, membaca satu artikel bahasa inggris (saya baca thejakartapost) lalu menyalin artikel itu dibuku. Efektif kah? Dilihat saja nanti. Kalau kata Prof Renald Kasali, sih untuk menjadi sukses myelin kita juga harus digerakkan, supaya otot-otot dalam tubuh kita terbiasa dipakai bekerja.

Kedua, saya mulai membatasi penggunaan gadget. Saya mulai mengurangi kepo-kepo atau stalking baik instagram atau facebook. Saya juga telah meng-uninstal beberapa aplikasi socmed dihape. Saya tahu, nggak mungkin banget buat saya untuk meninggalkan gadget atau nggak online , harap maklum kerjaan saya disocmed semua. Saya mendapat uang dari sana hahaa. Tapi kalau terlalu over kan nggak baik juga, toh kerjanya juga nggak 24 jam cuma 4-5 jam aja sehari. Saya mulai mengganti bacaan , dari yang awalnya cuma baca timeline IG atau facebook saya ganti dengan baca buku (perlu banget dipaksa dan dibiasakan hihi).

“Mungkin ada yang bilang, ih kok baru mulai sih. Telat banget, teman-temanmu udah jauh didepan, kamunya baru mau mulai”.

Ya juga sih, usia udah berapa ini haha. Meskipun tidak bisa dibenarkan, tapi terlambat masih sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Nah, semoga langkah-langkah kecil ini bisa mengantarkan pada sesuatu yang besar didepan sana. Oiya, saya juga mengurangi “menggebu-gebu” diawal tapi “layu” ditengah-tengah. Jadi slow banget ini mah, kan katanya usaha ngga bakal mengkhianati. Jadi terus berusaha dan dalam berusaha itu butuh proses, karena ngga ada yang instan didunia ini. Mie instan aja masih butuh direbus kok, ya kan?

 

#SuperRandomPost : Curhat!

happy-child-girl-and-butterfly-wallpaper-768x480
gambar diambil dari sini ya (disini)

Sebelumnya saya kasih tau dulu ya, kalau tulisan ini adalah tulisan random yang mengandung sedikit curhat. Maafkan kalau ternyata tulisannya jadi sedikit menye-menye. Oke, baiklah berhubung ini tahun baru, mari kita flashback sedikit semoga yang kurang dan yang salah ditahun kemarin bisa diperbaiki tahun ini. Akhir tahun yang ditandai dengan datangnya bulan muharam, menjadi pertanda pula habisnya masa “mbecek” yang bertubi-tubi selama bulan dzulhijjah/ september kemarin. Undangan datang dari berbagai penjuru, mulai dari teman TK, teman SD, teman SMP, teman SMA hingga teman main.

Jujur, terselip rasa iri dalam hati melihat teman-teman sebaya telah menemukan pasangan hidupnya. Mereka kini telah memiliki dua sayap untuk terbang menuju surga-Nya. Sedangkan saya, masih saja sibuk dengan hal-hal yang jauh dari pelaminan. Sejak hubungan saya berakhir, hingga kini saya memang tak menjalin hubungan dengan siapapun lagi. Bukan. Bukannya saya belum move-on tapi saya telah berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan hidup saya yang singkat ini untuk sebuah hubungan yang belum pasti akan berakhir dipelaminan.

“People change for two reason, either their minds have been opened or their heart have been broken” – Steven Aitchison

Benar kalau ada pepatah yang mengatakan demikian. I’ve learned a lot from my broken heart. Dua tahun lalu ketika saya diputuskan olehnya, dunia saya terasa begitu gelap. Dua setengah tahun bersamanya lalu berpisah tanpa alasan yang jelas, itu sakit pemirsa haha. Celakanya saya adalah tipe orang yang nggak gampang jatuh hati pada seseorang, tapi giliran udah jatuh maka saya akan menjatuhkannya sejatuh-jatuhnya. Jangan ditanya lagi deh ya, gimana kacaunya saya setelah ditinggalkannya. Tapi beruntung sekali hati dan badan saya ini buatannya Allah, coba kalau buatan Ch*na pasti sudah pretel dan jadi butiran debu haha.

Waktu itu saya terus menyalahkan diri saya sendiri kenapa sampai hubungannya saya berakhir gitu aja. Ada rasa nggak terima gitu, ditinggal gitu aja. Berbagai upaya saya lakukan untuk bisa kembali, tiap hari berdoa pada Tuhan. Bahkan saya bisa lupa berdoa untuk diri saya sendiri, tapi namanya tidak pernah absen dalam setiap doa saya pada Tuhan. Lalu satu tahun berikutnya Tuhan menjawab doa saya, dan mempertemukan saya kembali dengannya. Amazing, doa saya dikabulkan oleh Tuhan dan malam itu, di Surabaya menjadi akhir dari semuanya. Secara rasional emang ngga masuk akal, saya yang tiap hari berdoa untuknya, saya yang tiap hari meminta pada Tuhan untuk mengembalikan dia, tapi malam itu saya benar-benar malas melihat wajahnya. Tuhan membuka semuanya, dan berpisah dengannya adalah jalan terbaik dari Tuhan.

Waiiiittt, ini kenapa tulisannya curhatt habiisss. Ini kenapa jadi menye-menye bangettt haha. Yaudah , nggak apa-apa mungkin ini saatnya untuk mulai jujur pada diri sendiri, mulai mencintai diri sendiri, dan mari menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Patah hati telah membuat pikiran saya terbuka dengan hal-hal baru. Sudah satu tahun ini, masalah cinta-cintaan bukan menjadi prioritas saya. Tapi pernah sih dulu abis putus ngebeet banget pengen nikaah. Ya kali, nikah dijadiin pelarian dari patah hati dikira nikah itu gampang haha.

“ Sebelum ada dia , kamu bisa hidup bahagia kan? Seharusnya sekarang tanpa dia kamu juga bisa hidup bahagia” – Heni Ariasih –

Kata-kata yang diucapkan oleh teman saya itu membuat saya berpikir, iya yaa ngapain juga menghabiskan waktu dan tenaga untuknya, ngapain juga hidup dalam bayang-bayang masa lalu. I’ve changed. Sesuatu yang dulu saya tangisi kini menjadi sesuatu yang amat saya syukuri. Saya belajar bagaimana memaafkan orang lain, saya belajar banyak hal baru. Beruntung, dalam masa patah hati itu saya dipertemukan dengan banyak orang yang membuka perspektif baru, orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, iman yang berbeda, budaya yang berbeda, status ekonomi sosial yang berbeda. Dan semua itu menjadikan saya manusia yang “kaya”.

Baiklah , tulisan ini sudah begitu panjang dan full curhat haha. Tapi lega banget rasanya. Jujur baru kali ini saya berani nulis diblog dengan segamblang, sejelas, sefrontal ini tentang cerita patah hati yang menye-menye ini. You should appreciate it, butuh waktu dua tahun lho buat bisa nulis beginian hahaha.  Nah, tahun baru ini pas banget momennya, moment untuk suatu perubahan. Salah satu resolusi saya ditahun baru ini adalah menjadi manusia yang bahagia. Nah itu menjadi bahagia, penyakit-penyakit dalam jiwa raga ini harus dihilangkan. NOL. Saya ingin memulai semuanya dari NOL, saya ingin menata hidup saya yang berantakan ini hihi. Mengurangi pemakaian gadget, perbanyak baca buku, live in a real life . Anw, selamat tahun baru yaa, terimakasih telah membaca curhatan saya yang panjang dan menye-menye ini. Semoga kesuksesan yang berkah dan barokah menyertai kita tahun ini.

 

PS : Dear mantan, thank you for giving me a chance to find someone better than you 🙂