Emotional sponge?

1
gambar dari sini ya sini

Duduk dipojokon sendiri dan membiarkan pikiran ini terbang mengelilingi dunia. Ya, sudah beberapa hari ini saya merasa jiwa dan ragaku tidak bisa bersatu. Seperti ada yang hilang dalam diri ini, tapi saya tidak tahu apa yang hilang dan bahkan apa yang mungkin datang.

Anw, sudah lama sekali saya tidak melakukan ini. Duduk dipojokan sebuah cafe , mendengarkan lagu, membaca buku, melihat orang lalu lalang di mall, atau hanya sekedar membeli satu cup coklat float dan duduk berlama-lama menyendiri.

Jadi selama ini saya hidup di gua?

Iseng membuka laman facebook dan menjumpai postingan-postingan bahagia orang-orang yang dapat tiket promo harga murah banget untuk tujuan asia bahkan eropa. Entah kenapa saya ikut bahagia walau hanya menjadi pembaca di grup travelling itu. Saya terbawa perasaan bahagia mereka.

Dari facebook beralih di laman instagram. Dan sedih wkatu melihat postingan tentang artis yang ditinggal nikah, ditikung temannya pulak. Saya bisa berhari-hari larut dalam kesedihan hanya karena melihat postingan-postingan di instagram.

Sudah saatnya untuk berhenti.

Setelah merenung berhari-hari, membaca ini itu, dan akhirnya saya tahu bahwa saya adalah seorang emotional sponge. Saya sangat mudah “kasian” dan berempati pada orang lain, kepada siapapun. Dan celakanya, saya adalah orang yang mudah bergaul jadi saya sering bertemu dengan orang baru yang tentunya tidak semua orang itu membawa energi positif buat saya.

Saya adalah tipe orang yang sangat mudah terbawa suasana, mudah baperan, tapi keras kepala. Aduh , kacau banget kan. Begini, ketika ada orang yang datang pada saya dengan membawa berbagai macam cerita saya selalu ingin membantu mereka, ingin ikut meringankan beban mereka dan cara yang paling mudah adalah dengan ikut merasakan apa yang mereka rasakan.

Saya senang, ketika menjadi tempat curhat teman-teman saya. Tapi kadang, saya tidak punya kemampuan mengontrol diri jadilah apa yang menjadi masalah temen-temen akhirnya menjadi beban bagi saya sendiri, dan tidak jarang saya ikut stress.

Dan keras kepala saya seringkali justru mengurung saya sendiri dalam stress, dalam masalah yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawab saya. Sebagai teman seharusnya saya cukup menjadi pendengar yang baik, memberikan solusi pada mereka yang memang membutuhkan, lalu biarkan Tuhan menyelesaikan tugasnya.

Tapi kenyataannya tidak begitu, saya selalu ingin tahu perkembangan masalah mereka. Apakah mereka baik-baik saja, apakah mereka bisa melaluinya dengan baik?

Pernah satu hari, semalaman saya tidak bisa tidur karena memikirkan teman saya sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya. Sore harinya dia cerita bahwa esok akan bertemu dengan keluarga pasangannya, dan pertemuan itu akan menentukan apakah rumah tangganya diteruskan atau disudahi.

Bukankah sebagai teman, saya cukup mendokan yang terbaik?

Tidak. Rupanya tidak seperti itu. Saya bahkan semalaman tidak bisa tidur, padahal esok harinya saya harus pergi keluar kota sebelum subuh. Celakanya lagi, saya adalah orang yang mudah sekali drop. Gampang banget masuk angin. Kurang tidur, masuk angin. Telat makan, masuk angin. Dan yah, sepanjang jalan saya mual dan waktu sampai tempat tujuan pun saya seperti orang linglung karena otak saya masih terus mmikirkan teman saya.

INI BUKAN KONDISI MENTAL YANG SEHAT.

Menyendiri dipojokan seperti siang ini menjadi obat bagi saya untuk menghilangkan energi-energi negatif dalam diri saya sendiri. Pelan-pelan, saya mulai belajar untuk mengontrol emosi dan hati. Tidak mungkin saya mencegah orang lain untuk datang dan mengadukan masalahnya pada saya. Pun, saya juga merasa bahagia ketika bisa menjadi “sandaran” atau sekedar “tong sampah” bagi teman-teman saya yang sedang sakit hati.

Selain menyendiri , berdoa menjadi satu-satunya obat yang selalu pas untuk kembali meneruskan hidup. Kapanpun ketika saya merasa jiwa dan raga mulai tidak nyambung saya berdoa, minta pertolongan pada Tuhan. Seperti senin lalu. Saya bangun dengan perasaan yang tidak enak, sedih, rasanya ingin menangis, tapi tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Ini tidak bisa dilanjutkan, karena akan mengganggu aktivitas saya seharian. Dan mungkin juga mengganggu teman-teman saya dikantor, saya bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan emosi. Kalau bahagia ya keliatan bahagia, kalau sedih sedikit saja teman-teman saya sudah pasti bisa mengetahuinya hanya dengan melihat wajah saya.

Sebelum berangkat ke kantor , saya duduk seperti duduknya orang tahiyat akhir pas sholat, lalu memejamkan mata.

“Everything is gonna be okay , babe. Semuanya baik-baik saja, semuanya aman tidak perlu ada yang kamu takutkan. Allah, tuhanku yang maha pengasih lagi maha penyayang aku berserah padaMu”.

Ini saya lakukan ketika, saya tidak bisa lagi mengontrol diri dan otak mulai tidak sambung dengan badan, dan cara ini selalu berhasil membuat saya lebih tenang. Sadar diri, sepertinya ini sesuatu yang harus terus dipelajari. Dan satu lagi, memilih lingkungan yang postif tentu akan sangat membantu untuk menjaga kestabilan emosi.

Mungkin masih banyak hal yang perlu saya coba untuk mengurangi emotial sponge yang ada pada diri saya. Semoga cerita saya ini bisa bermanfaat, terimakasih sudah mau membaca. Now is the moment to be happy 🙂 .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.