Luka yang Mendewasakan.

Buku Berdamai dengan Patah Hati, 90% saya tulis berdasarkan kisah nyata. Kisah cinta saya sendiri. Saya mengalami sendiri jatuh bangunnya patah hati lalu berusaha bangkit untuk menata hidup kembali.

Benarlah kata pepatah : “Orang yang paling bisa menyakiti kita adalah orang yang paling kita cintai”.

Begitu juga yang saya alami. Mantan (yang ada dibuku Berdamai dengan Patah Hati), adalah orang yang sangat saya cintai kala itu. Dia adalah manifestasi doa-doa saya selama ini. Dia sosok yang selama ini ada dalam imajinasi saya. tapi apa yang terjadi pada akhirnya?. Dia meninggalkan saya dan menikah dengan wanita lain. Wanita yang saat kita bersama dulu, pernah menjadi “pemicu” pertengkaran kami.

Sakit? Tentu saja. Tidak terhitung berapa kali saya menangisinya. Dia janji setelah lulus S2 akan kembali, untuk itu aku terus menunggunya kembali. Dia memang kembali, tapi untuk memberi kabar bahwa dia telah bersama yang lainnya.

“Mbakk Desii , sebentar lagi dia akan menikah. Bagaimana mba, aku harus gimana? Aku gak sanggup mbak. Aku Sedih”.

Seorang teman online mengirim pesan , kebetulan saya pernah berjumpa dengannya di Surabaya. I was there. Saya sangat paham bagaimana rasanya ditinggal menikah oleh orang yangs sangat kita cintai. Jujur, kadang saya bingung harus memberikan saran apa untuk mereka yang curhat tentang sakit hatinya. Sebanyak apapun nasehat atau bahkan dalil sekalipun tidak akan berdampak apapun bagi orang yang patah hati.

Saat patah hati seseorang memang menginginkan untuk “ditemani”, dikasih nasehat atau yang lainnya. Padahal sebenarnya yang mereka butuhkan hanyalah DIAM. Saya sendiripun ketika sedang terluka, selalu ingin diperhatikan tapi ketika diperhatikan diberi nasehat kadang saya tidak menerimanya, bahkan pernah marah hahaha.

“Suatu hari kamu akan paham bahwa diam adalah adalah pilihan terbaik”

Nikmatilah rasa sakitmu. Merasakan sakit adalah tanda bahwa kamu masih manusia.

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika patah hati?

Dulu, ketika ada sesuatu yang sangat menyakitkan terjadi saya memilih untuk pergi. Saya adalah tipe orang yang sebisa mungkin menghindari konflik, termasuk konflik dengan diri sendiri. Saya pasti langsung pergi ketempat-tempat yang saya sukai.

Apakah pergi bisa menyelesaikan masalah?

Memang hati menjadi sedikit tenang, tapi masalah tetap masalah. Bukankah ketika kaki kita terluka, terkena pisau misalnya kita ga boleh banyak gerak? Karena kalau banyak gerak, bisa jadi luka yang semula udah mau tertutup jadi terbuka lagi. Robek. Begitu juga dengan luka batin. Tidak ada cara lain kecuali diobati.

Dan percayalah waktu adalah obat terbaik. 

Things to do, saat kamu patah hati atau sedang mengalami kondisi yang “menakutkan” untuk hati dan jiwamu.

1.Menangislah

Kakimu masih menampak di lantai kan? Kamu manusia bukan dewa bukan pula malaikat. Menangislah. Tidak usah sok kuat, jangan melawan gravitasi. Kalau memang terasa begitu pedih menangislah. Sepuasmu, sebisamu, sampai kamu capek.

2. Me Time

Ada satu hari, saya membiarkan diri saya menangis, saya memberi kebebasan untuk diri saya. Mau nonton youtube atau mau makan sepuasnya monggo. Tidak berdosa.

3. Refleksi Diri

Salah satu berkah patah hati yang saya rasakan adalah hidup saya semakin dewasa. Kita seringkali tumbuh dewasa karena sayatan luka. Dan itu yang terjadi sama saya, saya tumbuh menjadi seperti sekarang karena banyaknya luka yang pernah saya rasakan. Luka yang dulu saya tangisi hampir setiap hari, sekarang menjadi sesuatu yang amat saya syukuri.

Turning poin dalam hidup saya seringkali diawali dengan patah hati.

Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja. Kamu bisa melewati semuanya dengan baik. Mungkin dalam prosesnya kamu menangis, kamu merasa sangat tidak berguna. Tidak apa-apa, luka itu akan mendewasakanmu.

Selamat pagi, hati yang sedang terluka. Semoga Allah merahmati setiap hati yang tulus mencintai namun dikecewakan :))

 

Iklan

Self-talk : Reaksi atau Respon?

Ketika saya menulis ini, air mata saya baru saja kering. Sejak kemarin-kemarin hati ini terasa sesak, jenuh, pengap, mau ngapain aja nggak enak. Rasanya pengen marah, tapi nggak tau apa yang harus dimarahi, apa yang harus dikecewain? Nggak ada.

Baru saja saya mengahapus air mata yang menggenang sejak abis isya tadi, padahal tidak ada apa-apa yang terjadi. Tapi rasanya hati ini kayak sesak aja, rasanya jenuh wes pokoke nggak eunaaak. Sampe naudzubillah, sempat kepikiran “Allah kok gini banget ya..” , Ya Allah Ya Tuhanku, maafkan hambaMu yang amatiran ini.

“Janganlah kamu bersusah hati, sesungguhnya apa yang telah tertakdir pasti akan terjadi. Menetaplah pada pintu Allah, dan tinggalkan selain Allah (dari hatimu) ” – Diwan Imam Al- Hadad –

Sungguh , tidak ada yang bisa menolak kehendak Tuhan.

Anw, saya mau flashback. Dulu, ketika ada masalah seperti ini , saya pasti langsung nenteng tas backpack lalu pergi. Entah kemana, pokoknya pergi dari rumah aja. Saya harus mencari ketenangan, kesenangan, nggak peduli yang lainnya.

Apakah masalah selesai setelah saya pergi?

Tidak. Masalah tetap masalah. Hanya saja mungkin, saya “agak bisa tenang” dalam menghadapinya, tapi bukan berarti masalah selesai. Malah kadang-kadang justru muncul masalah baru.

“Masalah tetaplah masalah, sampai kapanpun juga akan tetap seperti itu. Respon kita yang akan menentukan akhir masalah itu”.

Teringat pidato CEO google, Sundar Pichai. Beliau menceritakan saat beliau ada di satu restoran, disana terjadi chaos karena ada kecoa yang terbang dan hinggap dibahu seorang wanita yang kebetulan sedang makan disana. Dia panik , menjerit-jerit karena kecoa itu hinggap di bahunya. Dengan panik dia akhirnya bisa mengusir kecoa itu, tapi sayangnya kecoa itu hinggap di bahu wanita lain yang kebetulan juga ada di restoran itu.

Restoran jadi chaos gara-gara kedua wanita itu bereaksi dengan sangat heboh. Namanya kecoa kan ya, jadinya dia suka terbang kesana kemari. Setelah hinggap di kedua wanita itu tadi, kecoa itu mendarat di baju seorang wanita yang kebetulan pelayan restoran itu. Tidak seperti kedua wanita tadi, wanita pekerja ini dengan tenang mengamati kecoa itu , lalu perlahan mengambil kecoa itu dari bajunya kemudian membuangnya keluar dari restoran.

Sundar Pichai yang menonton kejadian itu tadi, bertanya pada dirinya sendiri.

“Apakah kecoa itu tadi bertanggung jawab pada kejadian chaos direstoran itu tadi? Jika iya, kenapa wanita pelayan restoran itu tadi tidak bereaksi sama dengan kedua wanita sebelumnya?”

Bukan karena kecoanya, tapi karena respon yang diberikan itulah yang menentukan. Ketidakmampuan kedua wanita tadi dalam menghadapi kecoa itulah yang membuat suasana cafe jadi kacau.

So do I, dimasa lalu saya sama dengan kedua wanita itu tadi. Setiap ada masalah saya selalu bereaksi dan celakanya reaksi saya selalu “heboh” yang justru menciptakan chaos baru dalam hidup saya. Beberapa hari lalu, saya sudah berencana tenteng tas backpack lagi, saya mau pergi ke Surabaya atau ke Kudus sekalian. Pokoknya saya harus pergi. Eh, nggak ding, baru saja tadi habis isya saya udah kepikiran mau pergi ke Surabaya besok selasa.

Mau ngapain? Engga tau, yang penting pergi dulu. Sumpaah ya sumpeek banget.

Sambil menangis, saya lalu pergi ke kamar mandi. NANGISSS sebentar dikamar mandi dengan kran mengucur wkkww sinetronnn sekali hidup sayaah. Setelah itu, saya mengambil wudhu dan shalat dua rakaat. Saya menangis sejadi-jadinya, lalu istighfar sebanyak-banyaknya sampai hati saya tenang.

“Tidak ada yang salah. Tidak ada yang perlu ditangisi. Semua udah diatur sama Allah. Absyiruu.. Absyiruu.. Absyiruu. Berikan kabar gembira pada orang-orang yang menyerahkan dirinya pada Allah”.

Saya terluka, saya sakit, saya sedih. Tapi mau diapain lagi, selain yaudah dirasain. Di nikmati. Dan saya takjub sekali, karena hati saya bisa mendadak melunak, engga jadi mau pergi, hati yang tadinya sempit dan pengen muaaarah , menjadi begitu lapang, menjadi begitu bersyukur. Sampai akhirnya saya bisa menulis ini.

Tidak seperti dulu, malam ini saya TIDAK BEREAKSI dengan heboh terhadap apa yang sedang saya hadapi. Malam ini saya MERESPON masalah yang terjadi dengan sangat baik. Sebuah kemajuan untuk diri saya. Dan ini patut disyukuri.

Kecoa tetaplah kecoa dan menjijikkan. Mau diapain lagi? Selamanya dia akan tetap begini, karena nash nya dia ya begitu. Tidak akan menjadi lucu dan menggemaskan, yang bisa kita sayang-sayang seperti kucing atau yang lainnya. Begitu juga dengan masalah yang kita hadapi, ia akan tetap menjadi masalah tergantung bagaimana kita menghadapinya, dengan bereaksi heboh atau merespon dengan baik?

Mas Rio pernah bilang sebenarnya kalau kita mau “segera duduk sebagai hamba” / ridho atau pasrah sama ketentuan Allah , masalah akan cepat settle down. Tanpa dipikirkan sampai migren, ia akan cepat selesai. Allah , Tuhan yang maha pengasih maha penyayang yang akan menyelesaikannya.

Diwan Imam Al-Hadad menemani saya menulis malam ini. Syairnya begitu indah. Selamat malam. Semoga rahmat Allah selalu menyertaimu.

 

4 Pertanyaan Hidup yang Bikin Migren.

s

Beberapa hari ini saya sedang galau. Galau akan seperti apa dan bagaimana saya melanjutkan hidup saya. Apa yang akan saya tuju, bagaimana cara menujunya, dan segala pertanyaan “apa dan mengapa” yang lainnya yang pada akhirnya membuat saya migren karena overthinking.

Saya lalu kembali flashback, apa saja yang sudah saya lakukan hingga akhirnya saya ada pada titik ini. Titik dimana, saya merasa segalanya cukup. Saya telah mendapatkan apapun yang saya inginkan sejak dulu. Meski pada perjalanannya, harus ada pilihan yang harus dipilih.

“You can’t have your cake and eat it too..”

Hidup adalah pilihan, ketika saya memutuskan untuk “sudah jadi penulis saja”, then saya harus rela membuang mimpi saya untuk bekerja di “gedung-gedung tinggi”, atau menjadi seorang jurnalis. Kemudian, tentang mimpi S2 di Belanda, yang kemudian bisa digeser oleh keinginan untuk mondok di Tarim, Yaman.

Hidup kadang memang sebercanda ini :).

“Kadang kita bisa memilih, kadang kita sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memilih”

Manusia memang tidak pernah puas. Ketika mimpi menjadi penulis sudah tercapai, ketika saya sudah “memiliki” apapun yang saya inginkan, sampailah saya pada pertanyaan “LALU SETELAH INI MAU NGAPAIN, APAKAH HIDUP AKAN BERHENTI SAMPAI DISINI?” 

Dan sungguh pertanyaan ini mengganggu sekali sejak beberapa hari ini. Hingga pagi ini, saya belum menemukan jawabannya, malah yang ada saya teringat masa lalu :)). Bagaimanapun juga masa lalu bukanlah sesuatu yang harus dilupakan, dan saya sangat berterimakasih pada masa lalu, untuk semua pelajaran yang berharga.

Belum juga pertanyaan ini terjawab, sekarang “Hidup” memberikan saya pertanyaan yang lain :

  1. Apa tujuanmu dalam hidup ini?
  2. Apa yang penting dalam hidupmu, dan bagaimana ia merubahmu?
  3. Apa kamu sudah bermanfaat untuk orang lain?
  4. Dengan segala pencapaianmu, siapa yang paling berbahagia. Dirimu sendiri atau orang lain juga ikut bahagia?

Empat pertanyaan yang berhari-hari ini  terus berputar-putar di otak dan saya belum menemukan jawaban yang membuat saya berhenti bertanya pada diri sendiri.

Kalau kamu gimana, jika dihadapkan dengan empat pertanyaan ini?.

Btw, selamat hari senin ya. Khairunnas anfauhum linnas :)) .

Emotional sponge?

1
gambar dari sini ya sini

Duduk dipojokon sendiri dan membiarkan pikiran ini terbang mengelilingi dunia. Ya, sudah beberapa hari ini saya merasa jiwa dan ragaku tidak bisa bersatu. Seperti ada yang hilang dalam diri ini, tapi saya tidak tahu apa yang hilang dan bahkan apa yang mungkin datang.

Anw, sudah lama sekali saya tidak melakukan ini. Duduk dipojokan sebuah cafe , mendengarkan lagu, membaca buku, melihat orang lalu lalang di mall, atau hanya sekedar membeli satu cup coklat float dan duduk berlama-lama menyendiri.

Jadi selama ini saya hidup di gua?

Iseng membuka laman facebook dan menjumpai postingan-postingan bahagia orang-orang yang dapat tiket promo harga murah banget untuk tujuan asia bahkan eropa. Entah kenapa saya ikut bahagia walau hanya menjadi pembaca di grup travelling itu. Saya terbawa perasaan bahagia mereka.

Dari facebook beralih di laman instagram. Dan sedih wkatu melihat postingan tentang artis yang ditinggal nikah, ditikung temannya pulak. Saya bisa berhari-hari larut dalam kesedihan hanya karena melihat postingan-postingan di instagram.

Sudah saatnya untuk berhenti.

Setelah merenung berhari-hari, membaca ini itu, dan akhirnya saya tahu bahwa saya adalah seorang emotional sponge. Saya sangat mudah “kasian” dan berempati pada orang lain, kepada siapapun. Dan celakanya, saya adalah orang yang mudah bergaul jadi saya sering bertemu dengan orang baru yang tentunya tidak semua orang itu membawa energi positif buat saya.

Saya adalah tipe orang yang sangat mudah terbawa suasana, mudah baperan, tapi keras kepala. Aduh , kacau banget kan. Begini, ketika ada orang yang datang pada saya dengan membawa berbagai macam cerita saya selalu ingin membantu mereka, ingin ikut meringankan beban mereka dan cara yang paling mudah adalah dengan ikut merasakan apa yang mereka rasakan.

Saya senang, ketika menjadi tempat curhat teman-teman saya. Tapi kadang, saya tidak punya kemampuan mengontrol diri jadilah apa yang menjadi masalah temen-temen akhirnya menjadi beban bagi saya sendiri, dan tidak jarang saya ikut stress.

Dan keras kepala saya seringkali justru mengurung saya sendiri dalam stress, dalam masalah yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawab saya. Sebagai teman seharusnya saya cukup menjadi pendengar yang baik, memberikan solusi pada mereka yang memang membutuhkan, lalu biarkan Tuhan menyelesaikan tugasnya.

Tapi kenyataannya tidak begitu, saya selalu ingin tahu perkembangan masalah mereka. Apakah mereka baik-baik saja, apakah mereka bisa melaluinya dengan baik?

Pernah satu hari, semalaman saya tidak bisa tidur karena memikirkan teman saya sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya. Sore harinya dia cerita bahwa esok akan bertemu dengan keluarga pasangannya, dan pertemuan itu akan menentukan apakah rumah tangganya diteruskan atau disudahi.

Bukankah sebagai teman, saya cukup mendokan yang terbaik?

Tidak. Rupanya tidak seperti itu. Saya bahkan semalaman tidak bisa tidur, padahal esok harinya saya harus pergi keluar kota sebelum subuh. Celakanya lagi, saya adalah orang yang mudah sekali drop. Gampang banget masuk angin. Kurang tidur, masuk angin. Telat makan, masuk angin. Dan yah, sepanjang jalan saya mual dan waktu sampai tempat tujuan pun saya seperti orang linglung karena otak saya masih terus mmikirkan teman saya.

INI BUKAN KONDISI MENTAL YANG SEHAT.

Menyendiri dipojokan seperti siang ini menjadi obat bagi saya untuk menghilangkan energi-energi negatif dalam diri saya sendiri. Pelan-pelan, saya mulai belajar untuk mengontrol emosi dan hati. Tidak mungkin saya mencegah orang lain untuk datang dan mengadukan masalahnya pada saya. Pun, saya juga merasa bahagia ketika bisa menjadi “sandaran” atau sekedar “tong sampah” bagi teman-teman saya yang sedang sakit hati.

Selain menyendiri , berdoa menjadi satu-satunya obat yang selalu pas untuk kembali meneruskan hidup. Kapanpun ketika saya merasa jiwa dan raga mulai tidak nyambung saya berdoa, minta pertolongan pada Tuhan. Seperti senin lalu. Saya bangun dengan perasaan yang tidak enak, sedih, rasanya ingin menangis, tapi tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Ini tidak bisa dilanjutkan, karena akan mengganggu aktivitas saya seharian. Dan mungkin juga mengganggu teman-teman saya dikantor, saya bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan emosi. Kalau bahagia ya keliatan bahagia, kalau sedih sedikit saja teman-teman saya sudah pasti bisa mengetahuinya hanya dengan melihat wajah saya.

Sebelum berangkat ke kantor , saya duduk seperti duduknya orang tahiyat akhir pas sholat, lalu memejamkan mata.

“Everything is gonna be okay , babe. Semuanya baik-baik saja, semuanya aman tidak perlu ada yang kamu takutkan. Allah, tuhanku yang maha pengasih lagi maha penyayang aku berserah padaMu”.

Ini saya lakukan ketika, saya tidak bisa lagi mengontrol diri dan otak mulai tidak sambung dengan badan, dan cara ini selalu berhasil membuat saya lebih tenang. Sadar diri, sepertinya ini sesuatu yang harus terus dipelajari. Dan satu lagi, memilih lingkungan yang postif tentu akan sangat membantu untuk menjaga kestabilan emosi.

Mungkin masih banyak hal yang perlu saya coba untuk mengurangi emotial sponge yang ada pada diri saya. Semoga cerita saya ini bisa bermanfaat, terimakasih sudah mau membaca. Now is the moment to be happy 🙂 .

#Day2 : Satu Tahun Menjadi “Santri”.

photogrid_1462441839675
bersama ustadzah 🙂

Tidak terasa sudah tahun saya belajar di Ponpes Lirboyo. Hingga saat ini, rasanya masih belum percaya kalau saya bisa masuk lingkunga pondok pesantren. Satu tahun lalu, saya selalu dihantui oleh pertanyaan-pernyataan yang membuat saya takut setiap malam. Kalau ditanya Tuhan masa mudamu kamu gunakan untuk apa? Aku bisa jawab apa. Satu tahun lalu dengan bantuan seorang teman saya memperoleh info tentang ngaji dipesantren. Info yang cukup mengobati rasa “gak tenang” saya setiap malam.

Awal tahun 2015 yang lalu, karena kondisi “kejiwaan” saya yang goyah saya putuskan untuk lebih dekat dengan Tuhan. Karena itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan saya dari kegilaan haha. Saya mulai langkah saya dengan memfollow banyak akun dakwah di instragram, me-like fanpage islami (tapi sumpah ga follow jonru kok haha), ikut kajian-kajian yang akhirnya membuat saya menjadi ukhti-ukhti berjilbab lebar nan panjang. Tapi saya merasa tidak damai, justru muncul banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang malah membuat semakin bingung.

“ ngajine wes sampai mana, kitab e sudah sampai bab apa?”

Saya selalu ditanyai dengan pertanyaan yang sama ketika pulang kerumah mbah. Pertanyaan itu membuat saya semakin galau, karena selama mengikuti kajian-kajian itu ilmu yang saya dapatkan tidak utuh, dan bisa dikatakan saya nggak benar-benar ngaji (tulisan saya tentang itu bisa dilihat disini )  

Satu tahun lalu, dipagi hari itu saya beranikan diri saya untuk masuk pondok pesantren putri P3TQ Lirboyo seperti yang Anam sarankan. Baru sampai gerbang, langkah saya terhenti lalu saya putar balik motor saya. Tapi putar balik motor itu justru malah membuat saya masuk pondok :D. Ya iyalah, saya puternya dari gerbang selatan, sebelah selatannya masjid Al-Hasan lalu putar balik mau pulang di Wilis. Sampai didepan Indomaret bukannya belok kiri, masuk perumahan tapi malah belok kanan, gerbang depan Lirboyo :D. Yasudah, udah terlanjur masuk. Sampai dipondok, saya disambut oleh mbak-mbak santri (beliau adalah ustadzah Anis, yang sekarang sudah boyong L ). Dari hasil pertemuan itu , saya diijinkan untuk masuk kelas malam harinya. Semacam trial class gitulah.

2015-12-17 21.13.52
sumpah makan begini itu enak banget meskipun cuma pakai telor ceplok

Pertama ngaji, udah sok-sokan bawa Al-Quran. Giliran setoran ngaji, di tes sama ustadzah makrojnya hancur berantakan (terimakasih sekali pada ustadzah Nafisah yang begitu sabar ngajari manusia 24 tahun mengucapkan ش, ص, ض, ط, ظ  dan lainnya dengan baik dan benar). Ada banyak hal lucu yang terjadi pas awal-awal ngaji. Belajar makhroj itu ngga gampang ternyata, dan karena pengen banget bisa everything I do lah, bahkan sampai bawa kaca. What , kaca? Buat apa? jadi ya, saya bawa kaca kecil buat ngeliat mulut saya melafalkan huruf-huruf hijaiyah sesuai makhroj yang benar. Biar sesuai sama yang diajari ustadzahnya hahaha, tapi pas itu ketahuan sama Ustadzah Nafis dan beliau ketawa ngeliat tingkah polah saya hahhaaa.

photogrid_1462284205052
me with my gengsss haha

Satu tahun ngaji dipondok. Satu tahun menjadi santri, ya meskipun santrinya ga full. Genap satu tahun ini saya menyelesaikan ngaji tingkat jilid. Lama? Benar ini itungannya lama banget dari jilid satu-enam, karena kesalahan saya juga sih yang sering banget bolos sekolah. Sekolah sekaligus skripsi bukan hal mudah ternyata. Tapi tidak apa-apa setidaknya saya bisa melafalkan ش, ص, ض, ط, ظ  dengan benar hahaa.

Setelah skripsi selesai, semoga bisa rutin sekolahnya setidaknya untuk satu kedepan. Karena saya tidak tahu dimana takdir akan membawa saya setelah ini, tapi semoga masih dikasih kesempatan untuk belajar dipondok setidaknya satu tahun lagi :).

PS : Tulisan saya selengkapnya tentang pengalaman mondok saya di lirboyo bisa dilihat disini , disinidisinidisinidisini . Semoga bermanfaat yaa 🙂

#Day1 : Starting a new challenge.

picture-1
gambar diambil dari sini

Well, setelah posting tulisan curhat yang malah jatuhnya drama banget, hari ini saya akan menulis lagi hihi. Pagi ini saat bangun tidur saya langsung membaca bismillah dan senyum-senyum sendiri. Menurut yang saya baca, entah benar atau tidak tersenyum bisa membuat otak kita yakin kalau kita sedang bahagia. Jadi mungkin udah ada semacam program gitu ya diotak kita, yang kalau bibir kita tersenyum akan direspon oleh otak lalu diolah menjadi kebahagiaan. Ah embuh, ini analisa yang ngawur *maapkan saya bukan peneliti*. Mungkin ini juga alasannya, kenapa kalau pas nangis tapi tersenyum semacam ada kekuatan yang nambah gitu, atau sedikit berkurang sedihnya *Oh my, drama lagi*.

Mumpung masih suasana tahun baru, jadi dimanfaatkan betul untuk menuju perubahan. Padahal setiap tahun baru selalu bikin resolusi-resolusi tapi semuanya hanya berakhir dibuku catatan. Setelah saya analisis *tsah bahasanya masih ambu-ambu skripsi* , saya salah strategi. Saya itu kadang suka ngotot dan sok multitasking, padahal otaknya cuma sekelas intel atom. Udah jadi kebiasaan saya menuliskan target-target yang ingin dicapai dalam setiap tahunnya, selain itu juga nulis daftar-daftar impian baik yang ditempel didinding kamar atau ditulis dibuku. Kalau saya ngga salah hitung, seperti sudah ada 4 buku yang isinya “list mimpi dan target” tapi tidak banyak dari list itu yang dicoret.

“ focus will driving everything in your life, so keep on focus”

Gitu sih kalau kata mentor online saya, Brendon Burchard. Kebetulan nih saya dapat free buku motivasinya plus dapat free online training selama 12 minggu. Ehmm, ga free juga sih sebenarnya tapi bayar $7 , tapi sumpah worth banget kok. Lumayan  kan bisa sekalian belajar reading dan listening hahaha. Pantes , kalau semua target saya nggak ada yang tembus, lha wong saya nggak bisa fokus. Emang sih ya, gara-gara ngga bisa fokus banyak sekali tugas-tugas yang terbengkalai. Contoh yang masih anget banget ya skripsi, coba kalau dari dulu saya fokus pasti skripsinya ngga sampai “anniversary”. Lalu, kursus-kursus yang saya ikuti juga nggak menghasilkan apa-apa. Dalam 3 bulan ini saya, saya bisa ikut lebih dari 3 kursus yang jalan bersamaan. Duh, sumpah keteter banget. Dan mulai minggu ini saya “mengeliminasi” beberapa kursus yang saya ikuti. Saya memilih mundur dan memulai menetapkan fokus dan prioritas.

Pertama, saya mulai dari hal-hal yang kecil dan simpel. Karena saat ini saya sedang fokus meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya, jadi mulai hari ini saya mulai belajar saya dengan belajar menghafal 5 vocab, menonton satu film pendek berbahasa inggris, membaca satu artikel bahasa inggris (saya baca thejakartapost) lalu menyalin artikel itu dibuku. Efektif kah? Dilihat saja nanti. Kalau kata Prof Renald Kasali, sih untuk menjadi sukses myelin kita juga harus digerakkan, supaya otot-otot dalam tubuh kita terbiasa dipakai bekerja.

Kedua, saya mulai membatasi penggunaan gadget. Saya mulai mengurangi kepo-kepo atau stalking baik instagram atau facebook. Saya juga telah meng-uninstal beberapa aplikasi socmed dihape. Saya tahu, nggak mungkin banget buat saya untuk meninggalkan gadget atau nggak online , harap maklum kerjaan saya disocmed semua. Saya mendapat uang dari sana hahaa. Tapi kalau terlalu over kan nggak baik juga, toh kerjanya juga nggak 24 jam cuma 4-5 jam aja sehari. Saya mulai mengganti bacaan , dari yang awalnya cuma baca timeline IG atau facebook saya ganti dengan baca buku (perlu banget dipaksa dan dibiasakan hihi).

“Mungkin ada yang bilang, ih kok baru mulai sih. Telat banget, teman-temanmu udah jauh didepan, kamunya baru mau mulai”.

Ya juga sih, usia udah berapa ini haha. Meskipun tidak bisa dibenarkan, tapi terlambat masih sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Nah, semoga langkah-langkah kecil ini bisa mengantarkan pada sesuatu yang besar didepan sana. Oiya, saya juga mengurangi “menggebu-gebu” diawal tapi “layu” ditengah-tengah. Jadi slow banget ini mah, kan katanya usaha ngga bakal mengkhianati. Jadi terus berusaha dan dalam berusaha itu butuh proses, karena ngga ada yang instan didunia ini. Mie instan aja masih butuh direbus kok, ya kan?

 

#SuperRandomPost : Curhat!

happy-child-girl-and-butterfly-wallpaper-768x480
gambar diambil dari sini ya (disini)

Sebelumnya saya kasih tau dulu ya, kalau tulisan ini adalah tulisan random yang mengandung sedikit curhat. Maafkan kalau ternyata tulisannya jadi sedikit menye-menye. Oke, baiklah berhubung ini tahun baru, mari kita flashback sedikit semoga yang kurang dan yang salah ditahun kemarin bisa diperbaiki tahun ini. Akhir tahun yang ditandai dengan datangnya bulan muharam, menjadi pertanda pula habisnya masa “mbecek” yang bertubi-tubi selama bulan dzulhijjah/ september kemarin. Undangan datang dari berbagai penjuru, mulai dari teman TK, teman SD, teman SMP, teman SMA hingga teman main.

Jujur, terselip rasa iri dalam hati melihat teman-teman sebaya telah menemukan pasangan hidupnya. Mereka kini telah memiliki dua sayap untuk terbang menuju surga-Nya. Sedangkan saya, masih saja sibuk dengan hal-hal yang jauh dari pelaminan. Sejak hubungan saya berakhir, hingga kini saya memang tak menjalin hubungan dengan siapapun lagi. Bukan. Bukannya saya belum move-on tapi saya telah berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan hidup saya yang singkat ini untuk sebuah hubungan yang belum pasti akan berakhir dipelaminan.

“People change for two reason, either their minds have been opened or their heart have been broken” – Steven Aitchison

Benar kalau ada pepatah yang mengatakan demikian. I’ve learned a lot from my broken heart. Dua tahun lalu ketika saya diputuskan olehnya, dunia saya terasa begitu gelap. Dua setengah tahun bersamanya lalu berpisah tanpa alasan yang jelas, itu sakit pemirsa haha. Celakanya saya adalah tipe orang yang nggak gampang jatuh hati pada seseorang, tapi giliran udah jatuh maka saya akan menjatuhkannya sejatuh-jatuhnya. Jangan ditanya lagi deh ya, gimana kacaunya saya setelah ditinggalkannya. Tapi beruntung sekali hati dan badan saya ini buatannya Allah, coba kalau buatan Ch*na pasti sudah pretel dan jadi butiran debu haha.

Waktu itu saya terus menyalahkan diri saya sendiri kenapa sampai hubungannya saya berakhir gitu aja. Ada rasa nggak terima gitu, ditinggal gitu aja. Berbagai upaya saya lakukan untuk bisa kembali, tiap hari berdoa pada Tuhan. Bahkan saya bisa lupa berdoa untuk diri saya sendiri, tapi namanya tidak pernah absen dalam setiap doa saya pada Tuhan. Lalu satu tahun berikutnya Tuhan menjawab doa saya, dan mempertemukan saya kembali dengannya. Amazing, doa saya dikabulkan oleh Tuhan dan malam itu, di Surabaya menjadi akhir dari semuanya. Secara rasional emang ngga masuk akal, saya yang tiap hari berdoa untuknya, saya yang tiap hari meminta pada Tuhan untuk mengembalikan dia, tapi malam itu saya benar-benar malas melihat wajahnya. Tuhan membuka semuanya, dan berpisah dengannya adalah jalan terbaik dari Tuhan.

Waiiiittt, ini kenapa tulisannya curhatt habiisss. Ini kenapa jadi menye-menye bangettt haha. Yaudah , nggak apa-apa mungkin ini saatnya untuk mulai jujur pada diri sendiri, mulai mencintai diri sendiri, dan mari menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Patah hati telah membuat pikiran saya terbuka dengan hal-hal baru. Sudah satu tahun ini, masalah cinta-cintaan bukan menjadi prioritas saya. Tapi pernah sih dulu abis putus ngebeet banget pengen nikaah. Ya kali, nikah dijadiin pelarian dari patah hati dikira nikah itu gampang haha.

“ Sebelum ada dia , kamu bisa hidup bahagia kan? Seharusnya sekarang tanpa dia kamu juga bisa hidup bahagia” – Heni Ariasih –

Kata-kata yang diucapkan oleh teman saya itu membuat saya berpikir, iya yaa ngapain juga menghabiskan waktu dan tenaga untuknya, ngapain juga hidup dalam bayang-bayang masa lalu. I’ve changed. Sesuatu yang dulu saya tangisi kini menjadi sesuatu yang amat saya syukuri. Saya belajar bagaimana memaafkan orang lain, saya belajar banyak hal baru. Beruntung, dalam masa patah hati itu saya dipertemukan dengan banyak orang yang membuka perspektif baru, orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, iman yang berbeda, budaya yang berbeda, status ekonomi sosial yang berbeda. Dan semua itu menjadikan saya manusia yang “kaya”.

Baiklah , tulisan ini sudah begitu panjang dan full curhat haha. Tapi lega banget rasanya. Jujur baru kali ini saya berani nulis diblog dengan segamblang, sejelas, sefrontal ini tentang cerita patah hati yang menye-menye ini. You should appreciate it, butuh waktu dua tahun lho buat bisa nulis beginian hahaha.  Nah, tahun baru ini pas banget momennya, moment untuk suatu perubahan. Salah satu resolusi saya ditahun baru ini adalah menjadi manusia yang bahagia. Nah itu menjadi bahagia, penyakit-penyakit dalam jiwa raga ini harus dihilangkan. NOL. Saya ingin memulai semuanya dari NOL, saya ingin menata hidup saya yang berantakan ini hihi. Mengurangi pemakaian gadget, perbanyak baca buku, live in a real life . Anw, selamat tahun baru yaa, terimakasih telah membaca curhatan saya yang panjang dan menye-menye ini. Semoga kesuksesan yang berkah dan barokah menyertai kita tahun ini.

 

PS : Dear mantan, thank you for giving me a chance to find someone better than you 🙂