Emotional sponge?

1
gambar dari sini ya sini

Duduk dipojokon sendiri dan membiarkan pikiran ini terbang mengelilingi dunia. Ya, sudah beberapa hari ini saya merasa jiwa dan ragaku tidak bisa bersatu. Seperti ada yang hilang dalam diri ini, tapi saya tidak tahu apa yang hilang dan bahkan apa yang mungkin datang.

Anw, sudah lama sekali saya tidak melakukan ini. Duduk dipojokan sebuah cafe , mendengarkan lagu, membaca buku, melihat orang lalu lalang di mall, atau hanya sekedar membeli satu cup coklat float dan duduk berlama-lama menyendiri.

Jadi selama ini saya hidup di gua?

Iseng membuka laman facebook dan menjumpai postingan-postingan bahagia orang-orang yang dapat tiket promo harga murah banget untuk tujuan asia bahkan eropa. Entah kenapa saya ikut bahagia walau hanya menjadi pembaca di grup travelling itu. Saya terbawa perasaan bahagia mereka.

Dari facebook beralih di laman instagram. Dan sedih wkatu melihat postingan tentang artis yang ditinggal nikah, ditikung temannya pulak. Saya bisa berhari-hari larut dalam kesedihan hanya karena melihat postingan-postingan di instagram.

Sudah saatnya untuk berhenti.

Setelah merenung berhari-hari, membaca ini itu, dan akhirnya saya tahu bahwa saya adalah seorang emotional sponge. Saya sangat mudah “kasian” dan berempati pada orang lain, kepada siapapun. Dan celakanya, saya adalah orang yang mudah bergaul jadi saya sering bertemu dengan orang baru yang tentunya tidak semua orang itu membawa energi positif buat saya.

Saya adalah tipe orang yang sangat mudah terbawa suasana, mudah baperan, tapi keras kepala. Aduh , kacau banget kan. Begini, ketika ada orang yang datang pada saya dengan membawa berbagai macam cerita saya selalu ingin membantu mereka, ingin ikut meringankan beban mereka dan cara yang paling mudah adalah dengan ikut merasakan apa yang mereka rasakan.

Saya senang, ketika menjadi tempat curhat teman-teman saya. Tapi kadang, saya tidak punya kemampuan mengontrol diri jadilah apa yang menjadi masalah temen-temen akhirnya menjadi beban bagi saya sendiri, dan tidak jarang saya ikut stress.

Dan keras kepala saya seringkali justru mengurung saya sendiri dalam stress, dalam masalah yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawab saya. Sebagai teman seharusnya saya cukup menjadi pendengar yang baik, memberikan solusi pada mereka yang memang membutuhkan, lalu biarkan Tuhan menyelesaikan tugasnya.

Tapi kenyataannya tidak begitu, saya selalu ingin tahu perkembangan masalah mereka. Apakah mereka baik-baik saja, apakah mereka bisa melaluinya dengan baik?

Pernah satu hari, semalaman saya tidak bisa tidur karena memikirkan teman saya sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya. Sore harinya dia cerita bahwa esok akan bertemu dengan keluarga pasangannya, dan pertemuan itu akan menentukan apakah rumah tangganya diteruskan atau disudahi.

Bukankah sebagai teman, saya cukup mendokan yang terbaik?

Tidak. Rupanya tidak seperti itu. Saya bahkan semalaman tidak bisa tidur, padahal esok harinya saya harus pergi keluar kota sebelum subuh. Celakanya lagi, saya adalah orang yang mudah sekali drop. Gampang banget masuk angin. Kurang tidur, masuk angin. Telat makan, masuk angin. Dan yah, sepanjang jalan saya mual dan waktu sampai tempat tujuan pun saya seperti orang linglung karena otak saya masih terus mmikirkan teman saya.

INI BUKAN KONDISI MENTAL YANG SEHAT.

Menyendiri dipojokan seperti siang ini menjadi obat bagi saya untuk menghilangkan energi-energi negatif dalam diri saya sendiri. Pelan-pelan, saya mulai belajar untuk mengontrol emosi dan hati. Tidak mungkin saya mencegah orang lain untuk datang dan mengadukan masalahnya pada saya. Pun, saya juga merasa bahagia ketika bisa menjadi “sandaran” atau sekedar “tong sampah” bagi teman-teman saya yang sedang sakit hati.

Selain menyendiri , berdoa menjadi satu-satunya obat yang selalu pas untuk kembali meneruskan hidup. Kapanpun ketika saya merasa jiwa dan raga mulai tidak nyambung saya berdoa, minta pertolongan pada Tuhan. Seperti senin lalu. Saya bangun dengan perasaan yang tidak enak, sedih, rasanya ingin menangis, tapi tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Ini tidak bisa dilanjutkan, karena akan mengganggu aktivitas saya seharian. Dan mungkin juga mengganggu teman-teman saya dikantor, saya bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan emosi. Kalau bahagia ya keliatan bahagia, kalau sedih sedikit saja teman-teman saya sudah pasti bisa mengetahuinya hanya dengan melihat wajah saya.

Sebelum berangkat ke kantor , saya duduk seperti duduknya orang tahiyat akhir pas sholat, lalu memejamkan mata.

“Everything is gonna be okay , babe. Semuanya baik-baik saja, semuanya aman tidak perlu ada yang kamu takutkan. Allah, tuhanku yang maha pengasih lagi maha penyayang aku berserah padaMu”.

Ini saya lakukan ketika, saya tidak bisa lagi mengontrol diri dan otak mulai tidak sambung dengan badan, dan cara ini selalu berhasil membuat saya lebih tenang. Sadar diri, sepertinya ini sesuatu yang harus terus dipelajari. Dan satu lagi, memilih lingkungan yang postif tentu akan sangat membantu untuk menjaga kestabilan emosi.

Mungkin masih banyak hal yang perlu saya coba untuk mengurangi emotial sponge yang ada pada diri saya. Semoga cerita saya ini bisa bermanfaat, terimakasih sudah mau membaca. Now is the moment to be happy 🙂 .

Jatuh Bangun Belajar Berjilbab

Hello..

Berhubung saya lagi lagi nggak ada kerjaan *lari dari tugas 😛 *, plus gak ada kuliah dan saat ini posisi saya sedang ada di toko (sepi pembeli) daripada mati gaya saya akhirnya nulis :D. Ehmm.. tapi mau nulis apa ya? Hehe. Berhubung sebentar lagi mau masuk bulan Ramadhan , saya pengen nulis tentang jilbab. Nah apa hubungannya jilbab sama puasa? Entahlah hehe…

Oke..saya akan cerita saja ya kalau begitu tentang pengalaman ‘jatuh bangun’ saya saat memutuskan memakai jilbab seterusnya saat pulang dari Singapura bulan Februari lalu. Dan semoga bisa memberikan manfaat bagi saya maupun yang baca tulisan ini. Bagi seorang yang alim dan sholehah tentu untuk memakai jilbab bukanlah hal sulit.  Bagi mereka yang sejak kecil “kenal”  agama maka akan sangat mudah bagi mereka untuk menjalakan perintah Allah.  Tapi bagi saya, memakai jilbab terus-menerus bukanlah hal mudah, jangankan jilbab syar’i lha wong pakai jilbab aja masih “buka tutup”. Alhamdulilah dari bulan februari kemarin saya kemana-kemana sudah belajar memakai jilbab, tidak hanya kuliah tapi dimanapun (kecuali dirumah). Cukup menantang juga ternyata :D.

“hello.. jilbab bukan patokan orang itu baik atau enggak”

“hello.. jangan sok alim deh. Sholat aja masih semrawut gitu”

Iya juga sih, saya memang baru belajar memakai jilbab tidak hanya sebagai penutup kepala tapi juga sebagai penutup hati.  Sebenarnya keinginan berjilbab sudah ada sejak saya masih SMA, tapi ternyata niat saya masih kalah sama kesukaan saya terhadap bando/bandana hihii. Saya hobi sekali mengoleksi bando (dulu banyak banget dengan berbagai macam model) , dan rasanya dandanan saya gak lengkap kalau belum ada bando dikepala saya hehe.

Orang hidup itu pasti ada saatnya diatas dan ada saatnya dibawah (sampek nyungsep :D) , Nah pas lulus SMA itulah titik balik hidup saya. Saat itulah pikiran saya sudah semakin dewasa , dan keadaan juga yang membuat saya sadar. Sadar kalau ternyata hidup itu nggak cuma makan, tidur, kentut dan main seenaknya. Disaat terpuruk itulah saya merasa bahwa ada suatu kekuatan besar yang menolong saya dan menguatkan saya. Hidup di lingkungan asing, jauh dari rumah, dan benar saja kalau ibu kota lebih jahat dari ibu tiri. That’s True!! Saya rasakan benar itu selama kurang lebih 7 bulan saya mencoba bertahan hidup di Ibu Kota.

Singkat cerita, sekitar empat tahun lalu (2010) saya mulai untuk pertama kalinya memakai jilbab saat keluar rumah dan itu tidak sedang ada acara pengajian lho ya. Itu murni saya pakai jilbab meskipun lagi nggak ada acara. Pertama pakai kesannya aneh, dan nggak nyaman. Ada perasaan malu juga. Dijakarta jugalah saya mulai belajar sholat full 5 waktu. Hehe biasanya masih bolong-bolong kadang sholat kadang enggak. Awal tahun 2011, saya memutuskan kembali ke Kediri, sudah cukup uji nyali nya, udah cukup melarikan dirinya, udah cukup puas jadi pengangguran, dan udah cukup “kuliah kehidupannya”. Tahun 2011 saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah walaupun hanya univ. Swasta di Kediri. Tapi sungguh ALLAH maha adil, saya bisa masuk universitas Negeri dijurusan yang saya impikan yaitu Ilmu Komunikasi UB.

Oke.. balik lagi ke jilbab. Awal-awal balik ke Kediri dan pakai jilbab rasanya aneh. Apalagi keluarga dan lingkungan nggak ngedukung. Saya ingat dulu, kalau mau pakai jilbab harus diam-diam. Saya selalu memasukkan jilbab instan didalam tas saya, dari rumah nggak pakai jilbab trus ntar pas dijalan (nyari jalan sepi) trus pakai jilbab. Bukan apa-apa sih, hanya saja saya malas untuk berdebat. Selain itu saya belum merasa pantas mengenakannya.

“Kamu cantik dengan rambut panjangmu yang lurus, trus pakai bando. Gaul gitu”

“Mau nglurusin rambut lagi ta? Ini tak kasih uang”

Hihii… lucu ya. Dulu tiap kali mau nglurusin rambut ke salon harus merengek-rengek dulu baru dikasih duit. Nahh.. pas memutuskan pakai jilbab , malah dikasih duit Cuma-Cuma buat nglurusin rambut. Ckkck.. rambutku lurus karena hasil rebonding, terihat cantik karena selalu memaki baju yang lagi happening, pokoknya keliatan cantik deh dimata manusia. Kelihatannya aja lho yaa, aslinya enggak sama sekali hehe. Pas masuk kuliah tahun 2011 saya mulai lebh sering pakai jilbab, ingat lho ya sering bukan seterusnya. “Buka-tutup” Jilbab gitu deh, kalau kuliah, kalau jalan bareng temen-temen pakai jilbab, tapi kalau dirumah , kalau pergi nggak sama temen-temen balik lagi deh ke jaman jahiliyah.

Nah.. baru tahun 2013 kemarin saya mulai belajar pakai jilbab full. Gak peduli lagi omongan orang, omongan saudara, dkk. Tahun itu juga saya kehilangan kakak saya, dan itu membuat saya sadar. Gimana ya kalau tiba-tiba maut datang kepada saya, tapi saya belum sempat berbuat baik, saya belum mematuhi perintah ALLAH. Ahhh tidaaakkk!!! Memakai jilbab juga bukan berarti merubah saya layaknya bidadari yang cantik. Banyak sekali kekurangan yang masih tercecer dimana-mana. Banyak sekali yang harus saya pelajari lagi. Sampai dengan saat ini saya masih bertahan dengan jilbab ala kadarnya saya, celana jins dan kaos.

Saya tidak ingin muluk-muluk atau sok alim, tapi jujur jilbab ala kadarnya saya ini membuat saya semakin mengenal agama saya. Malu kan ya, kalau udah berjilbab tapi nggak sholat hehe. Malu kan ya berjilbab tapi nggak tau ilmu agama sama sekali. Dalam hidup saya yang minim agama, minim nasehat juga minim pengetahuan saya mencoba utuk belajar sendiri. Belajar dari buku, dari internet, dari TV dan dari mana saja. Sungguh beruntung sekali mereka yang lahir di keluarga alim, taat dan utuh. Tapi bukan hidup namanya kalau nggak ada ujiannya.

“Belajar agama bagi mereka yang dekat dengan lingkungan agama sangat mudah, sangat mudah bagi mereka untuk menjalankan ajaran agama. Tapi bagi orang awam yang tidak tahu apa-apa maka belajar agama itu luar biasa” –Status teman di facebook-

Ehmm… apa benar begitu? Entahlah saya sendiri tidak paham. Satu hal yang pasti , dan saya yakini sampai saat ini bahwa hidup itu tidak hanya makan, tidur dan kentut. Hidup harus punya nilai-nilai yang membawa manfaat. Dengan mengenal lebih jauh agama dan Tuhan hidup ini nggak kering, hidup ini nggak hampa dan hati rasanya adem ayem hehe :D. Entah dari mana saya dapat pemikiran sok nggaya ini , yang pasti hidup saya lebih bermakna saat saya mendekat pada ALLAH.

Iseng-iseng saya pernah mencoba menguji kebenaran tentang apa yang ada di ajaran agama saya. TUHAN itu ada nggak sih, mana pengen lihat keajaibanNYA? Saat memutuskan untuk solo backpacking di Singapura dan Malaysia (oiya belum sempat ngelanjutin tulisan tentang backpacker, hehe nyusul ya! *ga penting banget sih 😀 ) beberapa waktu yang lalu, saya benar-benar  takjub sama kekuasaan ALLAH, pokoknya ALLAH IS THE BEST lah. Sungguh ALLAH itu maha dekat ternyata, sayangnya saya aja yang kadang malah menjauh dariNYA. Jauh banget ya nyari hidayahnya sampai ke Singapura? Hehe..

Pokoknya sekarang saya pengen belajar jadi manusia yang lebih baik. Lebih baik dari segala hal. Baik hubungan vertikal (dengan Tuhan) maupun horizontal (sesama makhluk Tuhan). Tulisan ini murni  untuk saya sendiri , sebagai pengingat saya. Tapi kalau ada yang baca trus memberi manfaat ya alhamdulilah. Oiya.. sapa tahu juga ada yang baca, trus bersedia jadi mentor , jadi guru buat saya supaya menjadi orang yang lebih baik lagi saya akan sangat senang hehe 😀 . Udah ah.. jadi berasa mamah dedeh yang lagi ngasih tausiyah, kalau ngomongin tentang ini. Biarlah saya belajar , belajar dan belajar untuk menjadi lebih baik. Sekarang saya memang masih pakai jilbab ala kadarnya , tapi siapa tahu tiba-tiba saya dapat hidayah dari ALLAH trus berpakaian syar’i kayak OKI SETIANA DEWI (artis favorit saya ini :D). Who knows … !!

“Jangan Tuduh Saya Telah Baik Karena Memakai Jilbab, Tapi Jangan Pula Anggap Saya Tidak Lebih Baik Karena Belum Berjilbab. Tapi Pandanglah Saya Sebagai Seorang Yang Sedang Belajar Dan Masih Perlu Bimbingan”

 -SEMOGA ISTIQOMAH- 

 

 

Cermin, Air mata dan Desi !

gambar diambil disini ya :)
gambar diambil disini ya 🙂

Hari ini saya kembali dibuat menangis oleh keadaan. Menangis? Ya saya sering sekali menangis untuk hal-hal yang membuat dada saya sesak. Saya cengeng? Terserah apa kata anda. Menangis , kadang bisa menjadi suatu kekuatan yang luar biasa bagi saya. Saya biasa ketika menangis menghadap cermin. Narsis? Aneh? Ya, memang sedikit aneh. Dengan bercermin disaat menangis, membuat saya tahu betapa jeleknya muka saya saat menangis sehingga dengan segera saya bisa berhenti menangis.

Saya amati diri saya sendiri saat menangis,melihat diri saya sendiri mengiba dan tidak berdaya. Melihat butiran bening air mata jatuh dari kedua mata saya. Disaat seperti itulah, muncul kekuatan dalam diri saya bahwa saya pasti bisa melewati semuanya. Disela-sela tangisan saya selalu saya sempatkan untuk tersenyum. Tersenyum, dan saya melihat wajah saya tidak sejelek saat menangis. Menangis lalu tersenyum. Sudah gilaaa? Mungkin orang yang melihat saya , akan menganggap saya gila.

Hari ini lebih tepatnya setengah hari ini, karena ini masih jam 12 siang saya sudah menangis dua kali. Benar-benar penat sekali rasanya, ingin rasanya berteriak dan pergi sejauh mungkin. Tapi apa dengan pergi masalah akan selesai? TIDAKK! Saya hanya akan menjadi PENCUNDANG kalau saya lari dari masalah. Rupanya ALLAH, masih sangat sayang sama saya sehingga saya diberi nikmat yang rasanya masih pahit, perlu saya beri sedikit keikhlasan dan kesabaran supaya nikmatnya berubah menjadi manis.

Saat seperti ini saya tersadar bahwa manusia itu tidak ada apa-apanya. Sekuat apapun berusaha tapi tetap ALLAH jua yang menentukan segalanya. Hari ini, entah keberapa kalinya saya dipermainkan oleh keadaan. Mungkin tempat itu tidak baik untukku sehingga ALLAH , tidak memberi jalan kepada saya untuk masuk disitu. Semua upaya sudah saya tempuh. Hahaha… kini saya tidak lagi menangisi semuanya, tapi saya justru tersenyum dan menertawakan diri saya sendiri.

“kamu iki kok cengeng to, saitik-saitik nangis. Sing rodok pinter saitik ngono lho”.

Begitu kata seseorang pada saya beberapa waktu yang lalu. Seseorang yang selalu menertawakan saya kalau saya menangis, seseorang yang paling benci melihat saya menangis. Saya memang cengeng dan suka menangis tapi saya tidak lemah dan tidak mudah menyerah. Justru sebaliknya ketika saya menangis disitulah bukti kekuatan saya. Menangis sambil bercermin wkwkwkw. Mungkin kalian semua perlu mencoba ketika menangis sambil bercermin entah saat sedih atau saat bahagia.

Bagi saya ketika dalam keadaan sedih dan sudah terasa sesak sekali, sudah pasti saya menangis. Begitu juga ketika saya dalam keadaan sangat bahagia sekalipun saya juga pasti menangis. Iki jane piye to? Entahlah , padahal usia saya sudah 22 tahun tapi kenapa masih nangisan, dan nangis sambil bercermin pula? Hihii. Percaya atau tidak cermin itu bisa ngomong lhoo, bisa jadi sahabat bagi saya.

Ketika saya sedang bersedih dan menangis didepan cermin, tidak perlu waktu yang lama bagi saya  untuk menangis. Segera saya usap air mata saya karena dibalik cermin itu ada suara yang selalu mengatakan “STOP, Hentikan tangisanmu! Kamu jelek kalau menagis! Kamu pasti bisa karena kamu adalah wanita yang kuat!  Jangan menyerah! Ayo bangkit!”. Entah dari mana datangnya kata-kata penyemangat itu, tapi itulah yang terjadi saat saya sedih sampai menangis. Sudah pasti saya segera bercermin agar saya segera bisa menghentikan tangisan saya.

Begitu juga ketika saya sedang dalam keadaan bahagia , entah kenapa saya juga gampang sekali menangis. Kembali saya ambil cermin , dan disitu saya melihat ada kebagiaan dimata saya sendri. Kembali sang cermin berbicara “Itulah nikmat dari ALLAH, Subhanallah, Percayalah ALLAH itu adil” dan berbagai kata-kata yang mengingatkan saya pada sang maha Kuasa. Sungguh ajaib sekali hidup ini. Saat menulis ini , saya sedang berada disebuh tempat yang tenang sambil mendengarkan sebuah lagu. Lagu soundtrack hidup saya, yaitu Skyscraper-nya Demi Lovato.

Haha… betapa bodohnya saya seharian ini jengkel dengan keadaan yang tidak berpihak kepada saya. Saya marah dengan keadaan yang seakan mempermainkan saya. Saya marah karena kebodohan saya sendiri. Kenapa harus marah dan merasa dipermainkan, bukankah semua itu sudah ada yang mengatur? Lalu kenapa saya harus marah ketika yang maha mengatur tidak berhendak? Ahhh bodohnya saya, terbawa hawa nafsu emosi. Astaghfirullah , ampuni hamba yang sombong Ya ALLAH.

Daaadaaa Cermin, daddda airmata. Saatnya untuk berjuang lagi dan saatnya untuk bangkit. Kalau kata Demi Lovato sih begini :

You can take everything I have You can break everything I am Like I’m made of glass ,Like I’m made of paper Go on and try to tear me down, I will be rising from the ground Like a skyscraper, like a Skyscraper –Demi Lovato-

Nah, kalau kata Genta dan kawan-kawannya di 5cm sih gini :

“Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu.Dan.. sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tanganyang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,leher yang akan lebih sering melihat keatas, lapisan tekad yang seribu lebih keras dari baja. dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa”

Seberat apapun masalah kita, percayalah bahwa akan selalu ada ALLAH yang meringankan beban kita :). Percayalah Desi, percayalah bahwa selalu akan pelangi saat hujan. Tapi kadang kamu gak bisa melihatnya , karena hujannya malam-malam. 😛 . Saatnya untuk meneruskan mimpi yang sempat tertunda 🙂 ! #ACTBIGGER !

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman : “Aku menurut dugaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. (Hadits ditakhrij oleh Turmidzi).

 

CERMIN, AIR MATA DAN DESI = TANGGUH ! hehehehehe

images
Semangat ^___^

Saya dan “Malaikat”

Sebenarnya apa sih yang kita cari dalam hidup yang singkat ini? Bukankah setiap dari kita yang hidup akan merasakan mati? Bukankah mati itu mutlak? BENAR! MATI adalah MUTLAK bagi setiap makhluk yang hidup. Saya percaya, bahwa kematian sangat dekat dengan dengan saya. Dimanapun dan kapanpun kematian bisa dengan sangat tiba-tiba datang menyapa kita, hingga untuk sekedar pamitan saja tidak bisa. Hingga saat ini saya masih tidak percaya kalau seseorang yang selalu menjadi kebanggaan dikeluarga besar saya telah pergi meninggalkan saya dan keluarga dengan sangat cepat. Tulisan ini adalah tulisan saya tentang kakak sepupu saya yang amat saya sayangi.

Kakak Sepupu saya sebelumnya tidak punya riwayat penyakit yang parah, bahkan sebelum meninggal ia hanya mengeluh sakit pusing saja. Allah maha baik, dengan hanya memberinya sakit selama satu minggu lalu Allah memanggilnya supaya tidak merasakan sakit lagi. Kepergiannya sungguh membuat seluruh keluarga terpukul. Dia yang begitu dibanggakan, justru pergi terlebih dulu tanpa sempat berpamitan. Tidak terkecuali saya, sehari sebelum meninggal dia masih sempat menggenggam tangan saya dan meneteskan airmata sewaktu saya membisikkan shalawat dan istighfar ditelinganya. Walaupun dalam keadaan koma , dia masih mampu mendengarkan suara saya buktinya dia merespon saya dengan menggenggam tangan saya.

Meskipun hanya seorang kakak sepupu tapi dia lebih dari itu. Saya sudah seperti adik kandungnya, bahkan kedua orang tuanya juga tidak membedakan saya dengan dia dan kakaknya. Kami bertiga dibesarkan bersama dan diasuh oleh orang yang sama, sehingga nyaris tidak ada yang tahu bahwa saya adalah “orang lain” dalam keluarganya. Tetangga, teman-teman saya, teman-teman pakde saya semuanya taunya saya ini adalah anak mereka. Memang aneh struktur keluarga saya, sangat kacau. Dan saya sendiri kadang bingung dengan identitas saya sendiri, apalagi kalau sudah berurusan dengan pencatatan sipil. Kedua orang saya masih lengkap tapi sudah bahagia dengan hidupnya masing-masing.

Kalau sudah berbicara keluarga, saya pasti teringat kakak sepupu saya. Dia selalu bilang bahwa status saya adalah sama dengan dia dan kakaknya dikeluarga itu. Dia juga yang selalu menguatkan saya disaat saya merasa down, dan merasa tidak adil dalam hidup. Dia selalu berkata kalau dia akan melindungi saya, akan selalu menjaga saya, menyekolahkan saya hingga pendidikan tertinggi, hidup saya menjadi tanggung jawabnya. Saya masih ingat betul, saat saya hendak pergi ke Jakarta merantau. Mencoba nasib saya di Jakarta. Dia dan keluarganya tidak merelakan saya pergi. Tapi saya merasa, tidak enak terus merepotkan keluarganya. Saya sudah sangat senang karena disekolahkan oleh orang tuanya bahkan dengan fasilitas yang  tidak berbeda dengannya hingga lulus SMA.

“Kamu apa bisa bertahan disana? Kamu kan gak pernah hidup susah. Sudahlah kamu disini aja tunggu sampe aku dapat kerja. Hidupmu jadi tanggung jawabku, kamu mau apa aku turuti. Kamu mau kuliah? Mau motor baru? Tunggu , aku akan belikan kalau aku uah ketrima kerja”

Begitu yang selalu ia katakan. Tidak hanya dia yang meminta saya untuk tidak pergi, ibu dan kakaknya bahkan sampai menangis meminta saya supaya tidak pergi ke Jakarta. Tekad saya sudah bulat untuk menyusul ibu saya dan mengadu nasib di Jakarta. Keluarga ini memang sangat luar biasa baiknya kepada saya. Meskipun satatus saya hanya keponakan bagi mereka, dan sepupu bagi anak-anaknya tapi perlakuannya melebihi kedua orang tua saya. Entahlah.. mungkin ini takdir dari Allah untuk saya, kedua orang tua saya berpisah namun Allah ganti dengan keluarga yang lengkap untuk saya.

Bagaimana saya bisa membayar semua ini? Hutang budi yang tiada akan pernah habis saya bayar lunas. Sedari kecil mereka rawat saya, sebagaimana mereka anak mereka. Mereka berikan juga kepada saya apa yang mereka berikan untuk anak-anak mereka. Banyak yang bilang bahwa saya beruntung karena punya pakde-budhe yang seperti mereka. Ya.. saya memang sangat beruntung. Allah memang maha adil, saya percaya itu. Setelah kepergian kakak sepupu saya, hanya tinggal saya dan kedua orang tuanya yang tinggal dirumah. Dirumah yang seharusnya menjadi istana bagi kakak saya.

Saat masih dirumah sakit, ketika dokter menyampaikan berita duka itu kakaknya meminta saya untuk menjaga ibunya. Menjaga kedua orang tuanya. Saya tidak mampu berkata apa-apa, saya hanya terdiam dan menangis. Saya tidak percaya saya kehilangan orang  yang saya sayang. Saya dan kakaknya hanya bisa terduduk lemas didepan pintu ICU, lalu dengan tegar bapaknya memeluk saya dan kakaknya. “ayolah nduk, kalian harus kuat. Jangan menangis semua sudah takdir  Yang Kuasa. Lihatlah papa, apa kalian tidak kasihan pada papa”  begitulah kata papanya. Kami langsung mengusap air mata dan dengan berat hati kami berdua bangkit dari duduk kami dan bergegas mengemasi barang-barang untuk dibawa pulang. Kakak membantu mengurus jenasah, sedangkan saya dan suami kakak beres-beres barang dan segera menyusul ambulans pulang kerumah.

Saya benar-benar tidak percaya, kalau dia akan pergi secepat itu. Ibunya tak sadarkan diri, begitu juga dengan nenek saya yang juga ikut tidak sadarkan diri karena ditinggal cucu kesayangannya. Suasana begitu menyedihkan, saya sibuk dengan urusan pemakaman dia. Karena tuan rumahnya tidak bisa apa-apa karena masih belum sadarkan diri. Kakak dan suaminya sibuk menenangkan ibunya dan nenek saya. Sementara saya mondar-mandiru mengurusi permintaan ibu-ibu untuk persiapan pemakaman sekaligus menjadi wakil keluarga untuk menemui para pelayat kalangan ibu-ibu. Ditengah ramainya pelayat, saya mendengar ada yang sedang membicarakan saya. Siapa saya, kenapa bisa ada disini, dan banyak seliweran tentang saya. Saya hanya diam dan tidak peduli.

Saya menyaksikan seluruh rangkaian acara pemakaman kakak sepupu saya yang amat saya cintai. Bahkan saya masih sempat mencium jenasahnya. Dia masih tetap sama, tetap ganteng. Bahkan ketika penutup jenasahnya dibuka, tetangga dekat yang melihat terutama ibu-ibu histeris karena tidak percaya kakak saya sudah tidak ada. Disaat itulah , untuk pertama kali selama hidup bersama dikeluarga ini, saya melihat papa menangis tersedu-sedu meskipun hanya sebentar. Pasti begitu sakit dan sedih melihat anak kesayangannya sudah terbujur kaku dihadapannya. Saya dekati beliau, dan saya bilang “sudah jangan bersedih pa, bukankah tadi papa bilang kalau kita semua harus kuat. Ini takdir Allah”.

Sementara itu mama terus tidak sadarkan diri, sebentar-sebentar pingsan. Lihatlah, betapa posisi saya sangat dianggap dalam keluarga ini. Ditengah “ketidaksadarannya” ibunya memanggil-manggil saya untuk mendekat dengannya. Saya dan kakak lalu memeluk ibunya, saya peluk sambil menenangkannya. Dari mulut ibunya terucap nama saya, disebutlah saya sebagai anaknya. Saya dan kakak adalah anak-anaknya yang tersisa. Dan beliau tidak ingin kehilangan anaknya lagi. Betapa terharu sekali saya, saya yang bukan siapa-siapa punya arti bagi mereka.

Ketika selesai acara pemakaman dan dirumah mulai sepi pelayat, hanya tinggal saudara-saudara saja saya seperti mengalami dejavu. Dirumah terpasang tenda dan ramai saudara-saudara, sama seperti dua tahun sebelumnya diacara pesta pernikahan kakak. Saya dan almarhum kakak ikutan sibuk mempersiapkan acara manten. Tapi kali ini, tidak ada suka cita, tidak ada tawa canda yang ada hanya tangisan , karena kami semua sedang berduka. Hampir setiap orang yang saya temui, orang yang mengenal saya selalu bilang “jaga mamamu ya, jaga mamamu ya!”

“Ibumu memang ibu yang hebat Mas! Keluargamu memang keluarga yang hebat”

Mas apakah disana kamu bahagia? Aku yakin kamu bahagia. Semoga allah mengampuni segala kesalahan-kesalahanmu, dan semoga Allah menempatkanmu ditempat yang paling Indah disana. Terimakasih telah menjagaku selama hidupmu. Terimakasih telah menjadi kakak yang terbaik sepanjang masa. Kakak yang rela capek hanya demi antar jemput “adiknya” dimanapun dan kapanpun, saya butuh diantar jemput. Kakak yang selalu nyebelin sekaligus ngangenin. Saat kecil bahkan sampai aku dewasa kamu selalu menghapus air mataku dan menganntinya dengan senyum. Percayalah , aku disini selalu merindukanmu. Begitu juga dengan kedua orang tuamu yang masih sering menangis bila ingat kamu.  Tenanglah disana..

Apakah disana tidak ada Skype? Aku kangen , videochat sebentar seperti biasa kalau lagi berjauhan tapi kangen apa nggak bisa? Aku amat merindukanmu, bahkan bersama ibumu tadi kami berdua menangisimu karena merindukanmu. T___T . Kamu dan keluargamu seperti “malaikat” yang dikirimkan Allah untuk melindungiku disegala macam keadaan. Terimakasih telah memberikan “hidup” di hidupku yang seperti ini. Orangtua dan kakakmu adalah orang yang paling berarti dalam hidupku. Aaahhhhhhh…….Sumpaahhhhh aku kangeen kamu!!!

Yang selalu merindukanmu

22 Maret 2014 23.40 WIB