Ada Apa di 24?

single-mom-bahagia-580x400

Life begin at 24!

            Usia 24 tahun. Ya inilah usia yang oleh orang-orang disebut usia dewasa. Usia yang pas untuk memulai berkarir secara profesional atau membangun kehidupan rumah tangga. Tapi bagaimana bila diawal usia 24 yang ada justru kembali ke “masa kecil” ?. Inilah yang saat ini sedang saya alami. Beberapa hari yang lalu, usia saya genap 24 tahun. Tidak terasa bahwa saya sudah hidup didunia yang penuh haha-hihi ini selama hampir seperempat abad. Memasuki usia 24 bukannya merasa lebih dewasa tapi saya malah merasa semakin kecil. Merasa sangat bodoh, karena ternyata banyak sekali yang belum saya ketahui, banyak sekali yang belum saya pelajari.

Bila Usia 23 tahun lalu, saya merasa banyak sekali perubahan yang terjadi dalam diri saya. Akan ada apa di 24 ini?. Jangan tanya lagi “Kapan Lulus kuliah?”, atau “Kapan kamu nikah?” saya sudah sangat bosan dengan dua pertanyaan ini. Oke, baiklah. Lalu apa yang kamu inginkan diusia 24 tahun ini? BELAJAR!. Iya, saya ingin mengisi usia 24 tahun ini dengan belajar tentang banyak hal. Entah itu belajar memasak, belajar agama, atau bahkan melanjutkan jenjang pendidikan saya. Hello, lulus juga belum tapi sudah mikirin mau sekolah dimana lagi – ___- . MAUNYA APA SIH? *ga bisa biasa*

Entahlah. Saya sendiri juga semakin bingung dengan diri sendiri. Maunya apa sih? Padahal juga udah bikin life mapping yang tinggal ngejalani aja. Tapi entah kenapa otak ini tidak kuasa memberikan perintah pada tubuh untuk segera action. Otak ini penuh dengan pertanyaan-pertanyaan absurd yang entah harus nyari jawabannya dimana. Pikiran orang yang normal saat ini seharusnya saya segera menyelesaikan skripsi saya agar bisa segera sidang bulan depan. Lulus dan segera memulai berkarir atau menikah mengingat sekarang usia sudah 24 tahun. Tapi kenyataanya saya justru tidak menyentuh skripsi sama sekali hampir dua bulan ini. Tidak segera mencari data penelitian, atau sekedar baca buku untuk memperkuat data penelitian. Tapi apa yang justru saya kerjakan?

Pertama, sudah sebulanan ini saya asik dengan buku-buku yang sama sekali enggak ada hubungannya sama skripsi. Saya sedang asik dengan buku-buku pengembangan diri, seperti buku self driving –nya Rhenald Kasali dan semacamnya. Tidak hanya itu , selama sebulanan ini saya sibuk research kecil-kecilan dan mencari data untuk essay saya yang rencananya akan saya ikutkan dalam lomba essay nasional. Gila, tidak pandai mengatur waktu, tidak tahu prioritas dan bla bla. Harusnya waktu yang ada digunakan untuk menyelesaikan skripsi supaya segera menjadi sarjana. Entahlah. Nyatanya saya jauh lebih semangat untuk menyelesaikan essay saya ketimbang melanjutkan skripsi Bab 5. Life is a choice!

Kedua saat ini saya sedang sibuk dengan sekolah madrasah diniyah di pondok pesantren Lirboyo. Sekolah seperti ini harusnya sudah saya selesaikan 10 tahun yang lalu. Pelajaran di sekolah madrasah adalah pelajaran yang dulu pernah saya pelajari sewaktu kecil. Baca tulis huruf hijaiyah, baca tulis huruf pegon, mengulang ngaji dari abata, mengkaji kitab semacam Alala, hidayatus sibyan dll. Ini bukan waktunya mengulang gituan, terlalu jauh , terlalu lama dan kembali menjadi kecil diusia yang sudah dewasa. Kalau mau sekolah lagi seharusnya bukan sekolah yang seperti ini, harus sekelas dengan anak-anak umur 6-10 tahun?. Ini saatnya menata masa depan, bukan kembali mengulang masa lalu. Sekolah berarti juga harus taat peraturan. Menulis pelajaran, ikut tamrin setiap minggu, setoran ngaji, dan ikut ujian semester. Bukankah ini menyita banyak waktu?.

Saat tes masuk madrasah diniyah, Ustadzah nya menawari mau mulai darimana karena memang basic nya udah bisa ngaji cuma butuh benerin makhroj. Tapi saya justru dengan sangat percaya diri minta ditempatkan dikelas yang paling dasar, dan mulai ngaji dari jilid satu yang hanya abata. Ustadzahnya berkali-kali meyakinkan bahwa saya tidak harus mengulang dari awal, saya bisa masuk ditingkat yang setidaknya sudah ditengah-tengah. Tapi lagi-lagi saya dengan percaya diri minta mengulang dari awal. Keras kepala!. Dan belakangan baru saya ketahui bahwa untuk menyelesaikan sekolah Madrasah diniyah ini setidaknya butuh 6 tahun. AAAAK! Enam tahun lagi usia saya sudah 30 tahun! Once, life is a choice!.

“ Jadi mau sampai kapan kamu belajar? Mau sampai kapan calon jodohmu kamu suruh nunggu? Sekolah madin itu setidaknya butuh waktu 6 tahun”. – Nidhom –

Iya saya tahu. Saya juga sadar umur. Entah sudah berapa ratus kali pertanyaan “kapan lulus” dan “kapan nikah” ini mampir ditelinga saya. Awal usia 24 ini muncul banyak pertanyaan lain, hanya saja pertanyaan kali ini hanya mampu didengar oleh telinga saya sendiri.

“Kenapa saya dilahirkan didunia ini? ,  kenapa dalam keadaan seperti ini? , kenapa lahir dari keluarga ini? , kenapa saya bisa disini? , kemana takdir akan membawa saya?, mau jadi apa nanti? , dan segala macam pertanyaan lain yang semakin dicara jawabannya semakin enggak ngerti dan makin bingung”.

Apakah pikiran semacam ini juga dipikirkan oleh orang lain diluar sana yang seusia dengan saya?. Ah , saya rasa tidak. Setidaknya teman-teman disekitar saya tidak sepaham dan terus mempertanyakan mau saya ini apa?. Dan banyak diantara teman-teman saya yang berpikiran maju, misalnya mulai bekerja secara profesional, mengejar sidang bulan depan, melanjutkan S2, hingga mulai banyak yang menikah (fyi, satu bulan ini ada empat teman saya yang menikah pfffttt *dalam hati sih “aku kapan?” ). Tapi kenapa pikiran semacam itu justru tidak ada pada saya, apakah saya tidak normal atau tumbuh kembang saya yang terhambat? Entahlah.

Setiap malam sebelum tidur, saya selalu bertanya pada diri saya sendiri. Sebenarnya maunya apa sih, kenapa bisa begini begitu dan bla bla. Pertanyaan yang tidak saya temukan jawabannya hingga saya terbangun dipagi hari bahkan hingga akan tidur lagi malam harinya. Entahlah. Lagi lagi entahlah. Saya hanya tahu bahwa saya harus menyelamatkan diri saya sendiri dan saya hanya tahu satu jalan untuk bisa selamat yaitu dengan BELAJAR. Belajar apapun meskipun harus kembali mengulangi dari NOL , belajar hal baru dan menemukan hal baru. Mungkin pilihan saya ini sedikit aneh, terkesan ga dipikir dulu, keras kepala tapi  sampai dengan hari ini pun saya sendiri juga masih bertanya-tanya kenapa saya memilih kembali sekolah madrasah dipondok, meninggalkan skripsi, dan melakukan hal-hal yang bagi sebagian orang tidak penting atau tidak lagi pantas dilakukan oleh seorang manusia 24 tahun.

Saya sadar dan juga memikirkan masa depan saya. Saya juga ingin segera mewujudkan keinginan Mama yang ingin segera melihat saya duduk dipelaminan, atau keinginan Mbah yang segera ingin melihat saya wisuda. Tapi saya juga tidak kuasa menghentikan diri saya sendiri. Saya tidak tahu caranya untuk berhenti. Berhenti melakukan hal-hal yang “tidak wajar” dan cukup fokus saja sama skripsi. Biar. Biarlah. Apa yang saya jalani saat ini murni pilihan saya sendiri, atau saya dipilih Tuhan untuk menjalani ini semua?.  Entahlah. Biarkan waktu menjalankan tugasnya untuk menjawab semuanya .

“Let dream and fate takes me where I belong”

 

 

Being too social?

iok

Bismillah, sudah hampir satu tahun ini hidup saya benar-benar mengalami banyak perubahan. Dari mulai hal yang kecil hingga hal-hal yang sedikit banyak menyentuh prinsip hidup. Saya tidak menyangka bahwa hidup saya berbalik 180 derajat. Bahkan hingga saat ini (saat saya menulis ini) saya masih tidak menyangka bahwa saya berada dititik ini. Sejak ulang tahun saya yang ke-23 tahun, banyak sekali perubahan yang saya alami. Entahlah. mungkin ini adalah keadaan alami yang pasti dialami seseorang ketika hendak menuju usia dewasa. Iya, sebentar lagi usia saya 24 tahun dan itu artinya saya sudah bisa disebut perempuan dewasa haha :D.

Satu tahun lalu, saya memutuskan untuk berhijrah. Memutuskan untuk meninggalkan kebiasaan buruk saya dan sedikit demi sedikit merubahnya dengan kebiasaan baik. Tentu saja itu bukan sesuatu yang mudah, bahkan hingga saat inipun saya masih terus belajar.

“Ya, Allah aku ingin berubah. Aku ingin lebih mengenalMu”

“Ya, Allah aku ingin ngaji”

Sungguh ALLAH maha pendengar doa. Tidak lama setelah itu, Allah pertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa , yang juga sama-sama ingin lebih mengenal-NYA. Ingatan saya kembali pada suatu malam diawal tahun 2015 , malam itu untuk pertama kalinya saya pergi ngaji. Malam itu untuk pertamakalinya saya kembali ngaji setelah bertahun-tahun tidak ngaji. Malam itu saya bertemu dengan orang-orang baru yang tidak saya kenal sebelumnya, ngaji bersama mereka. Kami Ngaji UMMI yang kalau saya bilang mirip IQRO pas jaman saya kecil.

Ya, semenjak malam itu hingga saat ini saya terus dipertemukan dengan orang-orang baru, orang-orang yang berbeda karakter, beda status sosial, beda pandangan, beda budaya dan beda “aliran keorganisasian” .  Sejak saat itu, saya ingin terus bergerak, terus berubah menjadi manusia yang tidak hanya punya nama dan bisa jalan-jalan. Sejak malam itu pula, mimpi-mimpi saya mulai menemukan jalannya. Dan, semenjak malam itu hidupku BERUBAH. Saya senang karena bisa bertemu dengan banyak orang dan belajar banyak dari mereka , tapi kadang saya juga rindu pada “hidup” saya. Berada ditengah-tengah orang banyak membuat saya bias. Kadang saya bingung, sebenarnya saya ini siapa dan bagaimana? Saya rasa saya mulai kehilangan diri saya sendiri.

IMG-20150815-WA0004
Rapat bersama teman-teman BB

Sebelumnya saya tidak pernah peduli dengan pakaian yang saya kenakan, saya tidak mempedulikan merk baju apalagi merk lipstik. Biasanya saya bisa pakai baju apapun, orang jawa bilang “pokok nemplek”. Saya tidak pernah berpikir baju ini cocok atau tidak, baju ini pantes enggak, atau saya nanti mau dandan gimana ya. Sebelumnya pun saya bisa bicara seenak saya, tanpa berpikir gimana respon orang lain. Ah, tapi tidak untuk akhir-akhir ini. Dalam kerumunan orang-orang baru itu saya lebih banyak diam, saya tidak banyak bersuara tapi lebih banyak mendengarkan. Ah, kenapa saya menjadi begitu peduli pada omongan orang lain?.

Dari mereka saya belajar tentang banyak hal. Saya belajar tentang arti keikhlasan membantu orang lain, kerja keras, sabar dan persatuan dari salah satu organisasi yang saya ikuti. Dari organisasi lain saya belajar bagaimana menghadapi begitu banyak perbedaan karakter manusia. Ditempat lain saya belajar bagaimana hidup biasa, sederhana, tidak neko-neko. Ya, saya mendapat beragam ilmu dari mereka. Mulai dari ilmu agama, komunikasi, bisnis, hingga ilmu gimana memilih warna baju sampai warna lipstick yang sesuai.  Ah, rasanya saya seperti bunglon yang berwarna-warni. Perubahan memang selalu datang dengan dua sisi, positif dan negatif. Disisi positif saya mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman, jaringan sosial saya semakin luas, saya mulai memiliki banyak teman dari berbagai macam latar belakang, bersama mereka pikiran dan wawasan saya semakin bertambah luas, Tapi, disatu sisi berkumpul bersama mereka membuat saya bias dan mulai mempertanyakan apa yang saya inginkan, bagaimana diri saya yang sesungguhnya. Kadang bersama mereka saya tidak sebebas ketika bersama sahabat-sahabat saya. Saya lebih memilih banyak diam daripada harus dinilai negatif oleh mereka.

Memiliki banyak teman memang akan memperluas jaringan sosial. Dijaman sekarang ini jaringan sosial amat penting untuk bertahan hidup. Dengan mengenal banyak orang kita akan mudah untuk keluar masuk dan ditolong orang dalam kondisi yang apapun. Dan itu sudah saya buktikan sendiri beberapa kali. Saat saya sedang membutuhkan sesuatu atau perlu bantuan , selalu ada yang bisa dimintai tolong. Intinya dari jaringan sosial itu pula banyak kemudahan yang saya dapatkan. Tapi kembali lagi, bahwa perubahan tidak selalu positif.

Jadi bagaimana, masih ingin berubah? Yay or Nay?? 😀

 

Menikah : Terbebas dari Masalah?

Keisengan saya post buku yang saya baca, jadi rame hihii
Keisengan saya post buku yang saya baca, jadi rame hihii

Karena ini barusan hujan, dan sepertinya enak nih buat nulis tentang cinta-cintaan dan jodoh haha 😀 Jangan ada yang baper ya!. Jadi sudah ada berapa yang galau karena ingin segera menikah? Apalagi kalau nerima undangan pernikahan dari teman-temannya? Belum lagi kalau lihat postingan-postingan teman-teman bersama kekasih mereka? Kalau kalian mendadak ada yang terasa sesak didada, berarti kalian baper :D. Dan ini entah tulisan saya yang keberapa yang membahas tentang pernikahan.

Saya adalah perempuan 23 tahun yang sebentar lagi akan 24 tahun. Belum bekerja dan masih terjebak sama skripsi. Usia 23-24 adalah usia dimana masa galau itu mulai menghantui setiap malam. Bagi perempuan usia 23-24 dan belum menikah pasti galau akan jodohnya, apalagi saya yang belum juga lulus meski sudah hampir 24 tahun. BOHONG, kalau dalam hati tidak iri melihat undangan-undangan pernikahan yang mulai disebar oleh teman-teman seangkatan. Tidak hanya undangan pernikahan, tapi juga undangan aqiqah anaknya. Buset dah.

Keinginan untuk segera menikah pernah memenuhi hati dan pikiran saya. Sampai-sampai melakukan hal-hal menggelikan demi mendekatkan saya dengan jodoh. Keinginan segera menikah memuncak setelah ikut kajian-kajian dan mendengarkan ceramah motivator-motivator nikah muda itu. Saya begitu polos dan berpikiran bahwa kalau saya menikah maka semua masalah akan teratasi. Saking pengennya buat nikah cepet, saya sampai sudah memikirkan konsep pernikahan dan mahar apa yang akan saya minta dari calon suami saya nanti. Menikah.. menikah dan menikah itu saja yang dibicarakan dan itu membuat teman-teman saya bosan mendengarkan cerita “pernikahan” saya.

Saya kehilangan rasionalitas saya, dan yang ada dalam pikiran saya menikah itu dipenuhi hal-hal yang indah-indah saja, yang romantis-romantis saja. Tidak hanya kehilangan rasionalitas tapi sepertinya saya juga mulai kehilangan diri saya sendri. Seiring bertambahnya waktu, bertambahnya pengetahuan, bertambahnya mimpi-mimpi , saya berpikir ulang tentang sebuah pernikahan. Sebagai perempuan dengan cita-cita dan mimpi yang besar , ditambah lagi sifat keras kepala yang saya miliki rasanya tidak mudah untuk menemukan pasangan yang klop dan sejalan dengan visi-misi saya dengan waktu yang singkat. Jangankan untuk memilih suami, memilih pacarpun dulu saya menetapkan standar tersendiri :D. Standar itulah yang akhirnya menjebak saya sendiri, terjebak dalam kejombloan yang lama haha.

Sebagai perempuan normal dan apalagi hidup didunia yang ber-haha-hihi ini saya pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Laki-laki yang memenuhi standar saya tentunya. Kok sombong banget saya saya, menye-menye banget. Cantik juga enggak, pinter juga cuma setengah-setengah, kaya apalagi, pokoknya gadis biassaaa tapi gayanya luar biasa belagu – __- . Bersamanya saya begitu yakin, karena hampir 85% standar yang saya tetapkan ada padanya. Bagi saya laki-laki yang pintar dan cerdas mampu selalu menarik dan terlihat ganteng :P. Saya terjebak dengan standar-standar yang saya buat sendiri, hingga saya abaikan jeritan yang ada dihati. Asal apa yang diotak ini terpenuhi , I’ll be OK. Saat perpisahan itu tak bisa lagi dihindari, dan saya sudah berusaha mati-matian untuk mempertahankannya , saya menjadi orang yang paling terlukai.

PhotoGrid_1433843839181

Perpisahan itu membuat saya hilang kendali atas diri saya sendiri. Perlahan saya mulai bangkit dan melepaskan semuanya. Perpisahan yang mengubah hidup saya, dan kini saya sangat bersyukur dengan perpisahan itu. Saya tidak pernah menyesal mengenalnya, dan pernah menempatkan dia dihati saya yang dalam. Saya hanya menyesal karena pernah memutar life mapping yang saya buat sendiri, membongkarnya menjadi lebih sederhana, sengaja mengubur mimpi besar dan tenggelam bersama rasa ingin terus bersamanya. Dan yang lebih parahnya lagi, saya tidak segera memperbaiki kesalahan itu tapi justru berpikiran untuk segera menikah.

“Kalau saya menikah maka saya akan terbebas dari semua rasa ini. I’ll be free!”

I knew it, very stupid right?. Diotak saya isinya cuma segera menikah, menikah dan menikah. Ya, percayalah rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau. Begitu juga dengan saya yang melihat teman-teman jauh lebih bahagia dibanding saya karena mereka telah memiliki suami atau minimal telah memiliki pacar. Tapi disatu sisi saya bersyukur dengan kesendirian saya ini, karena saya bisa lebih mengenali diri saya sendiri lebih dalam. Saya menjadi tahu kalau ternyata saya ini keras kepala, kalau sudah punya kemauan engga bisa dihalang-halangi bahkan oleh diri saya sendiri. Saya sendiri juga heran.

“Kamu tuh keras banget orangnya. Bahkan orang yang sayangi dan cintaipun engga bisa menghentikan kamu kalau kamu udah punya kemauan” – Teman saya bilang gitu –

Kemarin saking pengen banget nyelesain skripsi saya forsir badan dan otak saya, bahkan hari ini pun saya tidak pulang demi nylesain BAB IV skripsi saya. Disela-sela ngerjain itu , saya menjadi sadar “Oh, ternyata aku tuh kayak gini ya. Pantes banyak yang bilang aku ini keras kepala” . Dan kata-kata itu spontan gitu terucap dalam. Semenjak itu, tepatnya kemarin siang jadi jadi ingin lebih mengenal diri saya sendiri. Mengenal lebih dalam lagi siapa saya sebenarnya sebelum lebih jauh mengenali orang lain. Saya kembali semangat untuk menata ulang life mapping saya yang sempat dengan sengaja saya putar balik dan  saya kembali bermimpi besar. Saya tidak akan lagi “memaksa” untuk segera menikah cepat, tidak juga berusaha untuk memperbaiki keadaan yang sudah terjadi, saya hanya ingin memperbaiki diri saya. Fokus pada perbaikan diri , dan saya yakin jodoh tidak akan pernah tertukar, tidak akan pernah datang terlambat atau terlalu cepat. Biarlah jodoh itu tetap menjadi rahasia Allah, tugas kita hanya perlu memperbaiki diri : ).

“ Banyak perempuan yang mendadak menjadi tolol hanya karena terlalu cinta pada pasangannya. Rasanya tidak ada perempuan yang pintar ketika mereka dihadapkan pada CINTA. Jadilah perempuan-perempuan cerdas agar mampu mencetak anak-anak yang jenius kelak ketika telah menjadi Ibu. Nikmati dulu masa mudamu sekarang, jangan terjebak pada pemikiran bahwa MENIKAH menyelesaikan masalah : ) ” – Desiani Yudha-

Selamat bermalam minggu para jomblo-jomblo tangguh. Percayalah dunia akan tetap berputar meskipun kamu tidak memiliki pasangan saat ini 🙂  — tapi kasiyan banget ya – 😛

Jangan Tanya Kapan Lulus!

PhotoGrid_1445508513687

            Kapan! Adalah  sebuah  pertanyaan  yang  akhir-akhir ini sering sekali saya dapatkan baik dari keluarga, teman bahkan tukang yang  renovasi  rumahpun  ikutan  ngasih pertanyaan  “KAPAN”?. Pertanyaan “Kapan” ini semakin hari saya rasakan semakin mengganggu sekali. Kata KAPAN selalu saja diikuti dengan kalimat yang membuat saya terdiam sejenak sebelum memutuskan menjawabnya atau tidak.

“KAPAN LULUS?”

“KAPAN WISUDA?”

“KAPAN MENIKAH?”

            Ketiga pertanyaan inilah yang akhir-akhir ini sering sekali dialamatkan kepada saya. Awal-awal sih biasa aja tapi lama-lama bosen juga ditanyain begituan. Ketiga pertanyaan ini tidak bisa saya jawab dengan pasti karena saya sendiri juga sedang mempertanyakan “KAPAN” ?. Oke, baiklah karena sudah bosen dengan pertanyaan ini, saya sering kali tidak menjawab ketika ada yang bertanya demikian. Apalagi mereka yang bertanya lantas membandingkan saya dengan orang lain.

“Kapan mbak Iing lulus, Kapan wisuda? Si itu sudah lulus lho.”

“Sekolah terus , kapan nikahnya?”

            Baiklah , saya akan menjawabnya. Masalah kapan lulus dan kapan wisuda. Saya dan teman-teman satu kelas saya saat ini sedang berjuang untuk segera lulus. Perjuangan kami tidak main-main karena mulai dari awal tahun 2015 kami mulai menyusun Skripsi. Sampai dengan saat ini baru ada dua teman saya yang sudah lulus. Ya, kami-kami yang belum lulus ini bukan berarti malas karena ternyata skripsi ini sangat dipengaruhi oleh faktor lucky. Setiap mahasiswa memiliki ceritanya masing-masing. Ada yang dapat dosen pembimbing fast respon jadi proses bimbingannya cepet, ada yang dosennya terlalu sibuk sehingga susah ditemui, ada yang mahasiswanya sibuk sampai dosennya yang harus nyariin mahasiswa, ada yang penelitiannya ditolak-tolak terus. Yah, macem-macemlah. Dan setiap mahasiswa tidak sama. Saya sendiri beruntung karena dapat mengerjakan skripsi yang luar biasa panjangnya dan mbulet :D.

“Jangan hanya mengukur kesuksesan orang hanya berdasarkan angka. Berdasarkan waktu cepat atau lamanya proses skripsi. Karena setiap orang membawa luckiness yang berbeda-beda”.

Lalu, pertanyaan selajutnya “Kapan Nikah?”. Kalau ada orang yang bertanya begitu sama saja dengan bertanya “Kapan Mati?”. Kapan mati adalah pertanyaan yang tidak mungkin bisa saya jawab karena kematian saya adalah rahasia yang saya pun juga tidak tahu. Begitu juga dengan menikah. Menikah bukanlah perkara yang gampang dan saya sendiri tidak tahu kapan jodoh saya datang. Bahkan siapa jodoh saya, saya sendiri juga tidak tahu. Jodoh dan maut adalah dua rahasia Tuhan yang datangnya tiba-tiba. Siapa tahu abis nulis ini saya ditakdirkan untuk berjumpa dengan malaikat Izrail. Begitu juga dengan jodoh, siapa tahu setelah menulis ini lalu saya posting diblog saya , kemudian dibaca oleh pembaca laki-laki. Si pembaca laki-laki terkesan dengan tulisan saya, lalu berniat mencari saya untuk dijadikan istri. Who knows?. Ya meskipun prosentase untuk menjadi nyata hanya 0.00… sekian persen, tapi kita sebagai manusia bisa apa kalau Tuhan sudah berkehendak :D.

SUDAH!. STOP! Biarkanlah kami berjuang untuk lulus dan berjuang untuk segera menikah dengan cara kami masing-masing. Izinkan kami  menyelesaikan skripsi kami dengan tanpa tekanan pertanyaan KAPAN LULUS dan KAPAN WISUDA. Lalu jangan ditambahi lagi dengan pertanyaan KAPAN MENIKAH karena kami sudah cukup tertekan denga pertanyaan KAPAN LULUS!. Kami , para mahasiswa tingkat akhir apalagi sudah sepuluh bulan mengerjakan skripsi tapi gak lulus-lulus hanya butuh doa dari kalian-kalian. Doakan kami agar kuat menghadapi lelahnya skripsi 🙂 . Dan doakan pula semoga ilmu yang kami dapatkan bisa bermanfaat dan berkah . Aamiin. Akhir kata, selamat berjuang sahabat-sahabatku yang sama-sama sedang mengerjakan skripsi. Skripsi hanya butuh ketelatenan, ketelitian dan kerajian. SEMANGAT!

 

           

Pengalaman Gagal Seleksi : Sebuah Langkah Menjemput Impian!

CBtK4P7UEAE1HJ9

            Kemarin setelah membaca tulisan Kak Keumala tentang pengalamannya mengikuti seleksi program JENESYS saya jadi tertarik menulis serupa. Sama seperti Kak Keumala, saya juga pernah mengikuti seleksi JENESYS tahun 2013 yang lalu. Meskipun saya gagal tapi dalam hati senang karena sudah pernah mencobanya. JENESYS adalah satu diantara sekian banyak program serupa yang pernah saya ikuti. Saya baru sadar ternyata sudah banyak sekali gagal yang saya temui. Dari sekian banyak acara baik nasional maupun international yang pernah saya coba untuk ikuti belum satupun berhasil. Kalau tidak lolos ya cuma berhasil duduk dibangku cadangan hehe. Kalaupun lolos seleksi pasti ada saja yang menghalangi untuk berangkat.

Tahun ini saya gagal lagi untuk mengikuti acara konferensi pemuda –pemudi se-Indonesia padahal dalam hati sudah yakin sekali bisa lolos. Tahun sebelumnya saya berhasil masuk di waiting list , tapi tahun ini nama saya sama sekali tidak ada :D. Untuk satu acara  yang berskala nasional ini saja saya gagal hingga tiga kali. Apalagi yang tingkat internasional, saya saja sampai lupa pernah ikut program apa saja hehe. Program-program yang saya ikuti rata-rata adalah program yang memungkinkan untuk bepergian baik antar kota di Indonesia hingga diluar negeri. Iya, saya memang punya mimpi untuk bisa keliling dunia. Mimpi terbesar saya saat ini adalah saya bisa melajutkan pendidikan saya di Belanda.

Baiklah, saya akan cerita pengalaman saya mengikuti seleksi program-program pertukaran pelajar dan konferensi baik nasional maupun internasional. Saya lupa nama progam-program yang pernah saya ikuti karena sepertinya tidak hanya satu dua tiga saja program yang pernah saya coba. Diantara itu semua ada yang gagal hanya diseleksi berkas, ada yang lolos sampai tahap wawancara, ada yang diterima tapi keadaan tidak memungkinkan untuk berangkat. Salah satu program yang saya lolos sampai tahap wawancara adalah program pertukaran pelajar Indonesia- Thailand. Rasanya seneng banget campur deg-degan. Saya mendapatkan kesempatan wawancara dihari kedua, wawancara dilakukan via skype. Tidak seperti wawancara diprogram lain yang ikuti yang hanya memakai walaupun sama via skype tapi cuma suara. Jadi tidak begitu nerves jawabnya, masih bisa menyembunyikan ekspresi muka yang  bingung mau jawab apa.

Nah , untuk program ini si interviewer meminta saya untuk menyalakan video call. Begitu video call nyala muncul tuh wajah si interviewer , saya mendadak panas dingin dan narik napas dalam-dalam. Saya cuma bisa diam aja dan nunggu mau ditanyain apa orang ini, tapi dalam hati bilang buset ini orang ganteng amat yaak wajahnya kok serius banget nih orang . Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, mas-mas ganteng itu tadi mulai memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi dan full english. Dia bertanya mulai hal-hal yang umum tentang saya lalu berlanjut pada pertanyaan yang sesuai dengan essai yang ada diberkas saya. Ditangannya ada berkas saya dan itu dia gunakan untuk “negubek-ngubek” saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya sendiri bingung mau jawab gimana. Bukan karena saya tidak tahu apa yang ada diberkas itu, tapi rasanya lidah saya kaku pas mau ngomong.

BONDO NEKAT! Meskipun bahasa inggris saya acak-acakan sekali tapi saya berhasil menjawab semua pertanyaan mas-mas itu tadi. Saya sendiri tidak yakin dengan jawaban saya, yang penting jawab aja. Mas-masnya cuma ngangguk-ngangguk aja entah itu tanda beliau mengerti atau itu ekspresi beliau yang mulai lelah dengan jawaban saya yang mbulet. Akhirnya wawancara selesai, dan saya disuruh menunggu pengumuman lolos atau tidaknya. Hari pengumuman pun tiba, dan saya lihat tidak ada nama saya didaftar peserta yang lolos. Yasud, coba lagi coba lagi dan hingga sekarang saya masih mencoba-coba lagi :D. Saya mencoba untuk ikut program lain dan kali ini saya berhasil lolos. Dua konferensi di Philipina dan Malaysia, dan satu program student exchange di Korea Selatan. Tapi, program-program ini tidak gratis dan mengharuskan peserta membayar sendiri akomodasi mereka.

Memang-memang sekarang banyak sekali program pertukaran pelajar, konferensi, atau semacamnya dan peluang diterimapun banyak. Bahasa inggrispun tidak menjadi syarat utama, tapi syarat utamanya peserta yang lolos harus membayar sejumlah uang akomodasi selama acara berlangsung. Nah , bagi mahasiswa kere seperti saya uang selalu menjadi masalah utama. Untuk program yang di Malaysia dan Korea saya sempat mencari sponsorship tapi entah belum rejeki atau gimana tidak satupun sponsor yang saya dapatkan. Hingga terpaksa saya membuat surat pernyataan pengunduran diri dari acara tersebut. Sedih? Udah jangan tanya lagi sedih apa tidak. Sudah tentu sedih sekali, meskipun program berbayar dan peluang diterima banyak tapi tetap saja mendaftarnya saja butuh perjuangan. Perjuangan nulis essai yang full english itu saja sudah bikin saya migren, belum lagi kalau pihak penyelenggara minta essai plus video cv yang mengharuskan kita membuat video tentang diri kita semenarik mungkin dan lagi-lagi harus in english.

Dari kegagalan-kegagalan saya saya dapatkan saya belajar banyak hal. Setelah saya analisis (maklum anak skripsian jadi bawaannya pengen analisis data terus :D) kegagalan-kegagalan saya rupaya ada yang kurang dalam diri saya. Sepertinya Tuhan ingin mengajari saya untuk menjadi manusia yang sabar dan manusia yang terus ingin belajar. Saya jadi semangat belajar bahasa inggris lagi, supaya kalau nanti daftar lagi gak malu-maluin pas wawancara haha. Dan mungkin Tuhan belum memberikan saya kesempatan bahkan untuk level nasional saja karena Tuhan ingin saya segera menyelesaikan apa yang menjadi tugas saya disini. Keep khusnudzon pada Allah, karena saya yakin Allah telah menggenggam semua doa-doa saya lalu dilepaskan satu persatu pada saat yang tepat : ). Improve your self, jangan takut gagal , terus mencoba dan terus berpikiran postif , yakin bahwa suatu saat kesempatan itu akan datang. Akhir kata, Selamat pagi dan tetap semangat meraih mimpi ya 🙂

Dari Mall Menuju Pondok Pesantren #2

PP-Putri-Tahfizhil-Qur’an

“Kita tidak akan pernah tahu kapan hidayah Allah itu datang”

            Saya bersyukur pernah mengalami hal sulit dalam hidup karena darinya saya banyak belajar tentang kehidupan. Tahun 2010, menjadi awal perjalanan hijrah saya untuk mendekat kepada Tuhan. Awal 2011, saya kembali ke Kediri dengan membawa “oleh-oleh” jilbab. Iya, semenjak itu saya mulai tertarik belajar agama, dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Meskipun jilbab yang saya pakai masih buka tutup kayak portal perumahan, tapi karena jilbab inilah saya jadi termotivasi untuk tidak meninggalkan sholat. Dan memang benar, kadang manusia itu tidak tahu diri. Hanya ingat Tuhan kalau sedang susah, kalau dikasih kenikmatan sering lupa bersyukur begitu juga dengan saya.

Tahun 2013 saya kehilangan orang yang saya cintai, Kakak saya dipanggil kembali olehNya. Sejak sakit dirumah hingga koma di ICU saya berada didekatnya, bahkan detik-detik dia tidak ada saya berada disampingnya. Saya terus berada didekatnya, membisikkan Yasin dan Sholawat sewaktu dia koma. Waktu itu pas sore hari dia koma lagi, sekeluarga sudah panik apalagi Mama yang sudah tidak sadarkan diri waktu ada panggilan dari ICU bahwa Mas kritis. Saya beranikan diri masuk ruang ICU, sambil menangis saya bisikkan sholawat dan saya pegang tangannya. Tangannya bisa gerak-gerak dan dia meneteskan air mata meskipun dia tidak sadar. Malam harinya dia koma lagi, hingga sekitar jam 3 pagi tubuhnya sudah tidak bisa apa-apa lagi. Tangan dan kakinya sudah dingin. Pagi harinya dokter menyatakan dia telah tiada.

Dua minggu saya bersama Mas, merawat dia sejak masih sakit dirumah, dia mulai kehilangan keseimbangan dan kesadaran, koma di ICU hingga dia meninggal memberikan banyak sekali pelajaran bagi saya. Ternyata jarak hidup dan mati itu sungguh dekat.  Saya hanya meninggalkan dia sebentar karena ketiduran, tapi dia telah malah lebih dulu ninggalin saya.

Yang paling dekat adalah kematian. Yang paling jauh adalah masa lalu. Yang paling besar adalah hawa nafsu. Yang paling berat adalah memegang amanah. Yang paling ringan adalah meninggalkan sholat. Dan yang paling tajam adalah lisan manusia. -Imam Al Ghazali-”

Beberapa bulan setelah kepergian Mas, saya melakukan perjalanan solo ke Singapura-Malaysia. Diperjalanan pulang dari Kuala Lumpur ke Surabaya, saya nyaris menyusul Mas. Waktu itu cuaca sedang buruk, pesawat delay sedang saya seorang diri dinegeri orang. Belum lagi pas dipesawat cuaca buruk yang menyebabkan pesawat sedikit tergoncang. Kebetulan waktu itu saya duduknya didekat jendela, jadi bisa lihat keluar. Subhanallah, pas saya lihat keluar sedang hujan deras disertai petir. Duh kilatan petir itu begitu dekat, jarak saya dan langit terasa begitu dekat. Saya sempat berpikir kalau malam itu saya akan berjumpa dengan malaikat Izrail.

Kedua kejadian itu dan ditambah lagi saya harus kehilangan satu orang lagi yang saya cintai di tahun 2014 membawa saya untuk lebih serius belajar agama. Saya belajar untuk tidak buka tutup jilbab, dan belajar memakainya kemanapun saya pergi. Setelah proses yang lumayan panjang, awal 2015 saya memutuskan untuk benar-benar berhijrah. Untuk lebih serius belajar agama. Dimulai dari ikut komunitas ngaji, hingga Allah memberikan saya kesempatan untuk belajar di pesantren. Saya tidak tahu harus mulai berhijrah darimana. Bahkan dalam proses berhijrah saya sempat bimbang. . Belum lagi banyak sekali pertanyaan “Ngaji nya sudah sampai mana?” yang selalu membuat saya bingung menjawabnya.

Tiba-tiba muncul keinginan untuk belajar agama lebih dalam lagi. Kali ini tidak hanya wacana, tapi saya benar-benar ingin belajar agama terutama tentang Fiqih. Saya ingin belajar agama dipondok!. Keinginan belajar dipondok begitu kuat, sampai mengganggu tidur saya. Sempat galau karena saya masih harus menyelesaikan skripsi tapi juga pengen banget belajar agama. Setelah tanya sana-sini akhirnya saya beranikan diri untuk datang kepondok pesantren Lirboyo. Pondok yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah saya. Berdasarkan info yang saya dapatkan dari seorang teman saya akhirnya datang kepondok yang bisa “nduduk” ga harus nginep disana. Disana saya diterima oleh Ustadzah Anis dan Ustadzah Alfina. Sore harinya saya lansung masuk dan test kemampuan ngaji. Test ini gunanya untuk menempatkan saya dikelas yang sesuai dengan kemampuan saya.

“Orang berubah karena dua hal. Pertama karena mereka tersakiti dan yang kedua karena mereka banyak belajar dari pengalaman”.

Iya, perubahan dalam hidup yang saya alami disebabkan oleh “pelajaran” yang saya dapatkan begitu banyak. Hingga membawa saya pada satu titik yang mengharuskan saya untuk kembali pada Tuhan saya. Lalu, bagaimana kehidupan dipondok ? Tunggu cerita saya sebagai santriwati baru ya 😀

Dari Mall menuju Pondok Pesantren #1

Untuk sampai dipondok pesantren yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah membutuhkan waktu yang lama. Setidaknya perlu 5 tahun untuk bisa sampai ke pondok pesantren yang jaraknya kurang dari 500m dari rumah”

Hallo, selamat malam. Eh, iya ini malam minggu lho. Apa kabar para jomblo-jomblo didunia, masih sehat dan kuat kan? Hehe. Wah, judul tulisannya agak gimana gitu ya dari mall menuju pondok pesantren , maksudnya apa coba?. Baiklah, saya akan bercerita bagaimana perjuangan saya bisa sampai pondok pesantren yang letaknya tidak lebih 500m dari rumah saya :D. Sejak lulus SMP tepatnya tahun 2007 yang lalu, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah saya di Kediri. Selama di Kediri saya tinggal bersama Budhe Pakdhe yang biasa saya panggil Mama Papa. Ya, sejak tahun 2007 itu saya resmi menjadi “Cah Kediri”. Seneng banget dong ya, yang biasanya tinggal di pelosok desa sekarang jadi anak kota.

Ketika SMA saya bertemu dengan banyak teman baru, bisa menekuni hobi menulis saya dengan bergabung di Komunitas Muda Radar Kediri, pokoknya jadi anak hitsss dimasanya. Kalau ditanya hobinya apa saat itu? Maka saya jawab –NGEMALL- . Iya dong, ngemall biar hitsss, apalagi didukung dengan fasilitas yang memadai. Kemana-mana ga perlu repot karena ada motor yang bisa dipakai, kalau terpaksa gak ada motor ya masih ada temen-temen yang mau antar jemput. Oiya dulu saya punya temen yang walaupun masih SMA udah bawa mobil, jadilah makin seneng kalau diajakin jalan-jalan. Hampir setiap hari kerjaannya thawaf di mall. Jangan dipikir banyak duit, karena masih ABG labil yang penting bisa aktualisasi diri udah lebih cukup biarpun cuma beli teh poci asal belinya dimall. Ngapain aja dimall? Jalan-jalan , lihat-lihat, nongkrong, gosip , dan tidak lupa foto-foto. FIX ALAY sekali!. Lanjutkan membaca “Dari Mall menuju Pondok Pesantren #1”