Kertas Mimpi

P60409-021308-001
penampakan 😀

Hallo selamat malam menjelang pagi. Iya, tulisan ini saya buat tepat pukul 00.05 dini hari. Tumben ya jam segini belum merem, dan mata masih seger nih belum ada tanda-tanda ngantuk. Tumben banget. Mungkin karena hati lagi “kemrungsung” jadi matapun enggak mau merem. saya lihat disekeliling saya, ada banyak tempelan kertas warna-warni. Ditembok kamar, dilemari, dimeja belajar. Kayak anak TK ya? Hehe. Tidak apa-apa, karena kertas-kertas itu adalah penjaga mimpiku. Kadang juga bisa jadi motivatorku.

Saya terbiasa nulis sejak kecil, termasuk menuliskan segala keinginan dalam secarik kertas. Senang rasanya ketika bangu tidur yang dilihat deretan-deretan tulisan mimpi. Senang rasanya ketika satu persatu kertas itu dilepas karena sudah berhasil dicapai. Senang rasanya ketika menuliskan kembali mimpi-mimpi baru dikertas lalu menempelkannya dimana saja, dilemari, didinding, dimeja belajar, bahkan disamping tempat tidur. Jadi tiap gerak kekanan-kekiri mata langsung tertuju pada tulisan-tulisan itu.

Kadang dalam menuliskan mimpi dikertas-kertas itu saya harus menggunakan istilah-istilah atau sandi supaya tidak ada orang yang tahu. Itu berlaku untuk “misi-misi” rahasia hehe. Tidak jarang saya ditertawakan oleh teman-teman saya yang kebetulan membacanya. Tidak hanya dirumah, tapi tembok kamar kost pun kadang juga tertempel tulisan disana-sini. It’s oke, I’m happy with that. Tapi menyedihkan, akhir-akhir ini kertas-kertas layaknya kertas kosong tanpa tulisan. Hanya tertempel begitu saja. Bahkan ketika kertas yang paling besar jatuh, penulisnya enggan menempelkannya lagi. Malah digulung dan dilempar diatas lemari. Padahal kertas besar warna itu , penuh dengan tulisan target-target yang akan dicapai, hingga “peta hidup” yang akan dijalani.

Ya, dalam satu-dua tahunan ini saya kehilangan “keliaran” saya dalam mengejar mimpi-mimpi saya. Dalam satu-dua tahunan ini, ketika saya ditanya apa mimpi? Saya akan jawab menikah. Kalau saya ditanya apa keinginanmu? Maka saya akan jawab ketemu jodoh. Kalau ditanya apa yang kamu lakukan untuk mimpi-mimpimu? Jawabannya tidak ada. Satu-dua tahunan ini, saya kehilangan banyak hal. Mulai dari kehilangan pacar, kehilangan semangat, sampai yang paling menyedihkan adalah kehilangan mimpi-mimpi saya.

Dulu ketika ditanya mau jadi apa nanti? Maka dengan mantap saya akan menjadi jurnalis seperti Najwa Shihab atau Meutia Hafid atau menjadi reporter acara jalan-jalan dan makan ditelevisi. Atau bisa juga jadi wartawan surat kabar yang bertugas meliput pertandingan sepak bola nasional hingga dunia. Kenapa? supaya bisa bertemu dan mewawancarai pemain sepak bola Indonesia, Bambang Pamungkas. Lalu, ketika ditanya mau kerja setelah lulus kuliah? Lagi-lagi dengan mantap dan lupa percaya diri saya jawab “ Saya akan melanjutkan sekolah saya diluar negeri. Saya jatuh cinta dengan Belanda”. Lalu, ketika ditanya mau kerja dimana? Saya akan langsung menjawab  “Saya mau kerjanya digedung yang tingi-tinggi”. Saya telah bersumpah untuk meninggalkan kota ini. Pergi jauh dan memulai hidup baru dilingkungan yang baru pula. Saya punya mimpi yang begitu besar.

Tapi waktu merubah segalanya, kejadian demi kejadian yang menimpa membuat mimpi-mimpi besar itu mengecil. Bahkan tenggelam dalam keraguan. Mimpi-mimpi besar itu berubah menjadi begitu sederhana. Menjadi reporter? Lupakan. Mimpi itu sudah dicoret dari daftar mimpi. Kalau jadi reporter nanti kasian anaknya siapa yang ngurusin. Kerja digedung-gedung yang tinggi? Nggak usah. Kerja dirumah aja udah cukup, kan bisa jualan online.   Melanjutkan sekolah keluar negeri? Dalam negeri juga bagus kok, Unair aja udah bagus. Dekat lagi dengan rumah.

Dalam satu-dua tahun ini saya jalani hari-hari dengan biasa saja. Tidak ada target, tidak ada lagi pemberontakan yang bikin orang nangis, tidak ada lagi ada mimpi besar. Semuanya dijalani apa adanya. Baguslah , sekarang Desi jadi anak yang manis. Yang kalau mau ngomong perlu dipikir dulu kalau perlu dibuatin naskah dulu biar engga salah ngomong, baguslah sekarang Desi sudah lebih peduli dengan omongan orang lain, dan kabar baik Desi sudah mau menerima nasehat. Bagus kan seperti itu? Hai, Desi si anak manis, selamat hidup berbahagia : ).

“Des, kamu kapan hijrah dari Kediri? Kamu kapan keluar dari Kediri? Kamu harus keluar dari Kediri, karena kamu kalau disini nggak akan jadi apa-apa. Kamu harus keluar mengejar mimpi-mimpimu”

Sore itu, saya rasanya seperti dibangunkan dari tidur panjang. Orang yang berkata itu masih cengengesan didepanku, tapi pikiranku sudah melayang jauh kemana-kemana. Teringat sumpahku untuk meninggalkan kota ini segera, bukan karena tidak menyayangi kota ini tapi karena impian besarku berada diluar kota ini bahkan diluar negeri ini. Dulu, dalam satu tahun entah berapa kali saya mengikuti seleksi untuk bisa ikut conference / summit baik itu nasional maupun internasional, dari yang berbayar puluhan juta hingga yang gratis. Meskipun tidak satupun bisa tembus, tapi tidak pernah ada rasa lelah.

Saya rela melakukan apa saja untuk mendapatkan mimpi-mimpi saya. Harus riwa-riwi kesana kemari, menghabiskan banyak tenaga untuk mengisi aplikasi pendaftaran conference/ summit, bahkan rela mengurung diri dikamar berhari-hari sebagai bentuk kemarahan pada Mama karena tidak mengizinkan saya ikut Workcamp di Pekalongan. Keluarga dan teman, mereka adalah orang-orang yang saya cintai. Bahkan mereka yang saya cintaipun tidak mampu menghentikan saya ketika saya sudah bertekad untuk mewujudkan mimpi saya, dan kadang saya sendiri tidak mampu menghentikan diri saya sendiri. Kalau sampai ada yang mencoba menghalangi mimpi-mimpi saya “WANI SATRU AE”.

Insiden workcamp di Pekalongan itu, membuat saya “nyatru” banyak orang. Mama, Papa, Ayah , Ibu, Mbak , Mas semuanya disatru. Karena mereka ini kompak melarang saya pergi ke pekalongan dengan alasan yang nggak bisa saya terima. Takut diculik lah, takut dieksploitasi lah, takut jadi korban traficking lah. Hello, saya cuma mau ke Pekalongan 3 hari. Karena kejadian itu saya bersumpah, untuk pergi yang lebih jauh dari Pekalongan. Dan saya berhasil mewujudkan sumpah itu dengan pergi ke Singapura-Malaysia seorang diri. Meskipun harus melihat Mbak menangis dan memohon-mohon supaya saya nggak pergi.

“Kamu minta opo to jane?. Tak belikan. Tapi ojo budal. Adikku tinggal kamu satu-satunya. Nanti kalau kamu ilang piye?”

Ah, itu dulu. Ketika saya menjalani semuanya dengan “semau gue”. Ketika memberontak adalah makanan sehari-hai, ketika impian-impian itu menjadi sumber kekuatan. Ketika itu namaku bukan Desi si anak manis, tapi Desi anak keras kepala. Malam ini, saya ingin merubah nama lagi. Kali ini namanya Desi Si Anak Manis tapi Enggak Keras Kepala 😀 Hhehe.

Malam menjelang pagi ini, sebelum saya tidur saya akan menempelkan mimpi-mimpi saya ditembok, dilemari, dimeja belajar, dan dimana saya. Saya akan menjaganya agar tetap hidup hingga saya dapat mencapainya. Saya akan jadikan mimpi itu menjadi lebih realistis dengan keadaan sekarang. Jangan ada lagi airmata dari orang lain demi mimpi-mimpi saya, cukuplah air mataku. Akhir kata, tulisan “kemrungsung” ini saya tutup dengan kata-kata dari Mas Vicky. Ah, siapa lagi Mas Vicky ini?. Saya juga tidak tahu, yang saya tahu saat ini saya sedang ‘mencuri’ ilmu darinya. Silahkan diterjemahkan sendiri kata-kata Mas Vicky yang dia ucapkan waktu ngisi seminar minggu lalu.

“Ada yang pernah lihat pocong? Takut enggak sama pocong?. Lha, kalau engga pernah melihat pocong kenapa harus takut? Apa benar pocong itu menakutkan? Kan belum pernah melihat, kenapa harus takut duluan?”.

Kediri, 9 April 2016

 

 

Mantan Preman Sekolah yang Kini Menjadi Ustadz

Tulisan ini saya buat satu tahun lalu (tapi lupa diposting -__- ), setelah pertemuan saya dengan teman SMA yang dulu “berandalan” stapi sekarang jadi pengasuh pondok pesantren didesa Banyakan , Kediri .

=========================================================

“TIDAK PEDULI SEBURUK APAPUN MASA LALUMU,

MASA DEPANMU MASIH SUCI”

Pagi ini saya mendapatkan sebuah pelajaran bahwa dalam hidup orang itu berproses. Berproses menjadi baik dan semakin baik. Tidak munafik, bahwa saya sendiri masih sangat jauh untuk disebut baik. Masih jauh sekali dari kata baik. Bila ada yang kebetulan mengatakan saya baik, itu merupakan kebaikan dari ALLAH yang menutup aib saya. Pagi ini Allah mempertemukan saya dengan seorang teman yang darinya saya banyak belajar.

Diperjalanan menuju toko tadi pagi, ada yang manggil saya. Karena merasa ngga kenal jadi saya cuekin aja. Itu pasti anak pondok yang nyapa temannya, pikir saya sih gitu. Saya Cuma punya satu orang teman yang mondok di Lirboyo, dan itupun jarang banget ketemu. Nah, pas dijalan tuh orang kok ngikutin saya terus. Aduhh gimana dong, saya liat dari spion tuh orang ngikuti saya apalagi sambil senyum-senyum gitu. Saya semakin takut , aduh gimana dong kalo ada yang niat jahat *udah kepikiran jelek*

Orang tadi semakin dekat, dan tiba-tiba dia bilang “ Desi, SMA Lima?”  . Hah, orangnya tahu nama saya dan tahu saya dulu SMA 5. “Iya, siapa ya?” . “Eh, sek sek ya, nang kono ae” . Dia lalu ngegas motornya mendahului saya, pas di area pondok. Aduh siapa ya? Pas nyampek ditoko saya berhenti. Eh dianya ikut berhenti. Orang yang ngikutin saya dari tadi ternyata teman saya waktu SMA. Rupanya waktu telah merubah dirinya , menjadi seorang anak pondokan hihii. Tanpa bersalaman, dia lantas menanyakan kabar saya. Saya begitu kaget melihat dia sekarang, jauh berbeda dengan dia yang dulu.

Bukan bermaksud membuka aibnya, tapi sungguh teman saya ini dulunya berandalan nomer satu disekolah bersama geng-genges nya. Semasa SMA dia bersama teman-temannya sering bolos dikantin belakang kelas saya. Dari situ juga saya kenal dia dan teman-temannya. Tidak hanya kenal, tapi dia sering malak saya. Minta duit seribu dua ribu buat beli rokok.. Masalah pergaulan, sudah jangan ditanyakan lagi gimana. Tapi sekarang dia berubah, dan dia bilang dia senang bisa bertemu teman SMA nya. Sejak lulus sekolah dia masuk pondok, dan hilang contact dengan teman-temannya yang lainnya.

Saya yang masih kaget , nggak percaya banget dia bisa jadi begitu. Dasar saya iseng, saya guyoni dia “nggeh gus” Haha. Dia lalu bercerita tentang kehidupannya yang sekarang. You know gaess? Sekarang dia jadi pengasuh di pondok pesantren milik keluarganya. Sejak abahnya meninggal, dia yang menjadi “pewaris tunggal” yayasan milik keluarganya karena hanya dia satu-satunya anak laki-laki. Dia yang dulu suka jelalatan apalagi sama cewek, sekarang mendadak diam. Setiap kali saya guyoni dia hanya bilang “Aduhh ojo ngono to”, “astaghfirullah” , sangat jauh dengan dia yang dulu hehe.

Dia juga bercerita tentang anak didiknya, yang kalau dia bilang cerminan dirinya dulu. Kalau dulu dia nakal, sekarang dia harus mendidik anak-anak didik dipondoknya yang juga nakal-nakal seperti dia dulu. Dari cara berpikirnya, dari cara ngomongnya semuanya berubah. Menjadi agamis, menjadi religius. Dalam pikiran sekarang hanya ada santri-santrinya , mikirin gimana mendidik santri-santrinya. Dia juga sempat mengomentari saya , yang sekarang pakai jilbab. Selain itu dia juga “menceramahi” saya tentang hal-hal yang intinya supaya sesuai dengan aturan agama. Saya Cuma jawab nggeh gus, sambil cekikikan. Hahaha.

“Keajaiban itu bernama Hidayah”

Saya dan mungkin teman-teman yang lain (yang kenal dia dulu) nggak akan percaya kalau teman saya yang tadi bisa mejadi seorang pengasuh pondok pesantren. Bahkan tadi, pas salah seorang teman saya yang sejak SMA mondok di Lirboyo nggak sengaja lewat dan melihat kami dia langung puter balik haha. Mungkin dia ingin memastikan , yang sedang bersama saya itu benar teman satu kelasnya dulu atau bukan.  Mendadak saya canggung dan merasa aneh berada diantara dua lelaki pondokan ini *melipir-melipir* .

Setelah pertemuan saya dengan dua orang teman SMA tadi saya jadi merasa malu. Malu pada diri sendiri. Teman saya yang mantan berandalan sekarang jadi pengasuh pondok pesantren. Bukankah ini sesuatu yang luar biasa? Sungguh Allah itu maha baik ya , semoga saya bisa mengikuti jejak hijrah teman saya itu. Dan semoga dia bisa kuat memegang amanah menjadi pembina bagi anak-anak dipondok pesantren nya . PROUD OF YOU, Suzin : ).

Ps : waktu ngobrol sama saya dia lebih sering nunduk, dan dia juga enggak berani salaman sama saya. Dia juga berpesan pada saya untuk menjaga diri dan kehormatan saya sebagai perempuan. Kisah hidupnya dulu, kenakalannya dia adalah sesuatu yang amat dia sesali. Terimakasih , Allah telah engkau pertemukan aku dengannya : ) .

Ketika Mimpi Menemukan Jalannya

cats

Bismillahirahmannirahim. Sepertinya sebelum hutang menulis saya terbayar saya akan tetap galau dan nggak konsen buat ngerjain skripsi haha. Setelah lama tertunda akhirnya pagi ini saya putuskan untuk menulis. Ya..ya.ya saya memang suka sekali menulis, dan mungkin jadi lebay ya apa-apa ditulis. Hehe. Menulis adalah satu-satu cara untuk mengabadikan “untold story” dalam hidup saya. Berbicara tentang menulis, saya telah menulis sejak saya masih kecil. Ya, masa kanak-kanak nulisnya dibuku diary yang dikasih gembok haha. Dan ketika dewasa saya bercita-cita untuk menjadi seorang penulis -mohon doanya- . Saya masih ingat betul ketika, menulis dibuku diary itu sungguh tidak aman karena dibaca sama kakak saya hehe dan ketika mengenal internet saya mulai belajar membuat blog. Kenapa buat blog? Karena saat itu kakak saya masih sangat gaptek, jadi aman! 😀

Berawal hobi blog-walking jaman dulu, saya jadi tertarik untuk menjadi seorang blogger dan bisa menghasilkan uang hehe. Ah.. tapi itu Cuma mimpi. Kenyataannya blog yang saya buat sepi pengunjung. Sempat sedih dan mulai nyari-nyari cara gimana caranya biar bisa mneghasilkan uang dari hasil ngeblog. Satu, dua, tiga cara sudah dicoba tapi tetap saja begitu. Sampai pada tahun 2011 saya memutuskan untuk membuat blog baru dan menulis bukan lagi untuk mengejar uang tapi untuk menuliskan kejadian-kejadian dalam hidup saya. Kelak ketika mulut ini sudah tidak mampu bercerita, kisah hidup saya masih tetap abadi dalam tulisan. Intinya saya menulis sekarang supaya kelak anak cucu saya bisa membaca kisah hidup ibu dan neneknya. Ketika saya tidak lagi mampu untuk becerita, biarlah tulisan-tulisan ini yang bercerita pada mereka.

Lalu tentang mimpi. Saya adalah seorang pemimpi ulung yang punya banyak sekali impian besar dalam hidup ini. Perlahan tapi pasti satu-persatu impian itu mulai mendekat. Contoh kecil adalah dulu saya pengen banget punya motor honda beat. Impian dari jaman SMA , dan ternyata Allah pengen saya sabar dulu. Tau-tau dikasih aja gitu motornya disaat yang tepat dan dimoment yang memang saya sangat membutuhkan motor untuk pp kediri-malang. Terus, contoh lagi ketika saya pengen banget bisa bergabung di organisasi yang keren yang kece. Lalu Allah menjawabnya tahun 2013-2014 saya berada diantara pemuda-pemuda hebat nusantara young leaders. Lalu, di tahun 2015 ini banyak sekali keajaiban mimpi yang saya temui.

Pada akhir tahun 2014 saya pengen banget berhijrah dari jaman jahiliyah saya menuju jalan yang terang benderang hehe. Dan keinginan saya itu dijawab oleh Allah melalui #BeraniBerhijrah di awal tahun 2015 ini. Allah pertemukan saya dengan orang-orang yang hebat dan keren di #BeraniBerhijrah. Menurut saya apa yang saya alami sekarang ini, adalah suatu kejaiban. Sesuatu yang diluar dugaan, yang membuat saya terus melongo “lho kok iso?” . Saya semakin melongo lagi ketika ada ribuan orang yang setiap harinya membaca tulisan saya. “Subhanallah. Lho kok bisa ngono?” . Dulu jangankan ribuan orang yang membaca atau komen tulisan saya, ada satu orang yang khilaf nyasar di blog saya itu udah syukur. Sedangkan sekarang, ketika saya membuat tulisan (meskipun itu hanya tulisan simpel dan singkat) ada banyak orang yang meng-komen dan mengshare tulisan saya. Sungguh ini adalah semacam dreams come true banget.

Sampai sekarangpun saya belum bisa percaya pada hal yang saya alami sekarang. Ketika satu persatu impian saya telah menemukannya jalannya .Ketika doa-doa saya dijawab oleh Allah. Dan sekali lagi saya hanya bisa melongo seakan nggak percaya atas apa yang saya alami. Rasanya semuanya itu udah diatur dengan sangat rapi. Subhanallah wabihamdihi. Bahkan saya sempat dibuat galau berhari-hari karena terus memikirkan kok bisa gitu ya? Kok bisa ya semuanya menjadi nyata. Sampai akhirnya saya cerita ke Mbak Gigi, berharap beliau bisa bantu saya menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sukses membuat saya meninggalkan skripsi.

“Karena kamu nggak pernah tahu siapa aja yang udah nge-doa’in kamu. Kamu sampai bisa seperti saat ini. Percaya atau nggak percaya doa punya kekuatan yang luar biasa, dan doa itu yang menjaga kamu” – Mbak Gigi-  

                Jleeep. Saya langsung terdiam. Saya yang tadinya berwajah galau maksimal jadi cerah ceria mendengar ucapan mbak Gigi. “Kamu gak pernah tahu siapa saja yang udah berdoa buat kamu”. Kata-katanya nacep banget gitu. Oiya, saya lupa bahwa disekeliling saya masih banyak sekali orang-orang yang mencintai saya, orang-orang yang senantiasa menyebut nama saya dalam doanya. Doa orang tua, doa keluarga, doa teman-teman. Masyallah sungguh dahsyat kekuatan sebuah doa ini. Allah, permudahkan segala urusan orang-orang yang aku cintai. Alhamdulillah, sekarang saya sedang diberi amanah untuk menulis disebuah komunitas. Tulisan tersebut disebar melalui media online dan masyallah followernya mencapai puluhan ribu. Rasanya mau nangis. Sungguh berat amanah ini. Sedangkan saya masih gini-gini aja.

Suatu hari, saya coba untuk flashback kembali mengingat-ingat impian saya. Bukankah dulu saya ingin tulisan saya dibaca banyak orang? Bukankah dulu saya harus rela cari info sana-sani supaya blog saya banyak pengunjungnya dan tulisan saya dibaca banyak orang? Sekarang, ketika semuanya tidak perlu lagi saya cari, semuanya sudah siap apa yang harus saya lakukan? TETAP MENULIS! Iya saya akan tetap menulis sampai saya tidak mampu lagi menulis. Menulis apa? Menulis apa saja yang mampu saya tulis dan berharap tulisan saya dapat memberikan manfaat untuk orang lain. Mungkin ketika saya menulis blog seperti saat ini, tidak ada beban berat yang harus saya tanggung. Karena ini adalah blog pribadi saya, yang isinya “semau gue” dan saya tidak berharap apapun. Tujuan saya menulis adalah untuk mengabadikan kisah hidup saya, untuk nantinya saya wariskan pada anak cucu saya.

Sedangkan menulis dikomunitas, dan dibaca banyak orang rasanya itu AMAZING bin AJAIB sekali. Meskipun dibalik ke-amazing-annya ada amanah dan tanggung jawab yang luar biasa berat. Bukan main-main karena saya sebuah tulisan sekecil apapun akan mampu merubah orang. Entah itu merubah cara berpikirnya, merubah sikapnya, atau merubah hidupnya. Kelak saya akan dimintai pertanggung jawaban atas apa-apa yang saya tulis. Ya Allah berikanlah kekuatan pada hamba untuk tetap istiqomah dijalanMu. Akhir kata, karena saya mau kuliah , pagi ini saya panjatkan puji syukur pada Allah dan terimakasih doa-doa dari siapapun itu untuk saya. Doa yang baik tidak akan kembali kecuali kepada orang yang berdoa baik 😉 .

“Teruslah menulis meskipun tidak ada satu orangpun yang membaca”

“Teruslah mengejar mimpimu, jangan pernah mundur. Karena kamu tidak akan pernah tahu kapan Allah akan menjawab doa-doa dan menjadikan impianmu nyata”

“Bersiaplah, karena mimpimu akan segera menemukan jalannya”

“Let dream and fate takes us where we belong”

Persiapan Pernikahan Part I

Bismillah
Bismillah

Suatu siang , disiang yang sangat panas kota Kediri. Tiba-tiba saya melontarkan kata-kata yang tidak saya sengaja dan membuat keadaan hening sejenak.

“Chan, Aku capek memperjuangkan hidupku. Aku pengen ada orang yang memperjuangkan hidupku. Rasanya aku pengen nikah aja deh biar ada yang memperjuangkan hidupku”

—HENING—

Keadaan langsung hening, dari yang tadinya saya dan teman saya ketawa-ketiwi abis keluar dari Bank untuk keperluan tugas, kami terdiam. Teman saya hanya diam mendengar kata-kata saya, lalu dia ketawa ngakak. “Kowe gak popo? Cah Gendeng! ”. Ya, wajar kalau saya dikatain gila karena nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ngomong begitu. Selama beberapa hari rasanya kata-kata saya itu jadi trending topic teman-teman dekat saya. Saya kebelet menikah, begitu kata mereka.

Entah kenapa saya bisa berkata seperti itu, kalau kata teman-teman saya mungkin saya rapuh hahaha. “Mungkin kamu rapuh” kata-kata itu sempat menjadi sangat populer nggak peduli apapun yang terjadi tapi kat-kata itu sering terdengar kapan aja dikelas, nggak peduli apapun yang terjadi. Lebay dan alay. Hehe :D. Saya akui memang saat itu saya sedang sangat jenuh. Jenuh dengan segala rutinitas saya, stress karena tugas dan segala macamnya. Saya merasa sangat bosan dan rasanya saat itu saya sedang berada dititik terendah.

Gimana bisa kepikiran nikah? Entahlah saya sendiri juga nggak tau. Mungkin benar kata teman saya saat itu saya sedang rapuh hehe :D. Saya kadang orangnya suka kepo, suka sok tau dan kadang suka seenaknya sendiri. Dari ke-kepo-an saya itu, saya melihat salah seorang teman yang sangat bahagia. Bahagia dengan hidupnya, dan kelihatannya hidupnya enak. Dia masih muda, sepantaran dengan saya. Dia menikah diusia muda, dan kelihatanya bahagia. Benarkah menikah itu Enak? Benarkah menikah itu membuat bahagia? Benarkah kalau sudah menikah ada yang memperjuangkan hidup kita?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab saat saya sudah benar-benar menikah nanti. Saat ini saya sedang dilanda galau persiapan pernikahan saya. Mulai dari bisa nggak ya jadi istri yang baik,  pakai adat apa nanti, pestanya seperti apa, mau menikah diKediri atau dirumah masa kecil saya, dimana saya akan tinggal nanti setelah menikah, sampai honeymoon dimana nanti :D. Banyak sekali yang harus saya persiapkan untuk pernikahan yang Insyallah hanya akan terjadi satu kali dalam hidup saya. Saya ingin semuanya berjalan lancar, barokah, serta bermanfaat bagi semuanya. Saya ingin ketika menikah, tidak hanya membuat saya semakin kuat menjalani hidup, tapi juga semakin bermanfaat untuk orang lain. Menjadi seorang wanita yang menggenapkan setengah agamanya sang lelaki pujaan, dan menjadi makmum yang selalu mengaminkan setiap doa sang imam.

Bersambung …….