Menjadi Sarjana.

P60822-125653
Me with my gengss 😛

Lima tahun lalu, setelah menjadi pengangguran selama satu tahun status saya resmi berganti menjadi mahasiswa. Sebuah status yang sangat prestisius, apalagi saya menjadi bagian dari salah satu universitas terbaik yang ada di Indonesia. Masih jelas sekali diingatan saya, siang jelang sore didepan rektorat saya resmi menjadi mahasiswa Universitas Brawijaya.

“Selamat datang di UB. Selamat karena telah menjadi bagian keluarga besar UB”

Itulah kata-kata yang diucapkan oleh teman saya yang sedari pagi membantu saya mengurus penundaan pembayaran. Speachless. Sumpah saya tidak bisa berkata apa-apa, mata saya sudah basah oleh air mata sedangkan teman saya hanya ketawa cekicikan sambil menepuk-nepuk bahu saya. Thank you so damn much buat Andik dan Anila :* .

Lima tahun. Ya, saya menjadi mahasiswa UB selama lima tahun. Waktu yang cukup lama untuk sekedar menambah gelar S.I.Kom  dibelakang nama saya. Padahal target saya dulu bisa lulus 3,5tahun, apalagi tidak pernah ada masalah dalam masa kuliah saya, hanya saja ketika masuk fase skripsi ceritanya jadi berbeda :D. Skripsi saya malah sampai ulang tahun lho, emejingg kan ya ? ceritanya puanjang, cinta fitri mah lewwaaaat. sudahlah, skripsi telah berlalu. Tapi kalau mau tahu gimana ceritanya skripsi saya sampai bisa ulang tahun dan merayakan anniversary nya baca post-post saya sebelumnya hihii.

Seminggu lalu, oleh dewan penguji saya dinyatakan lulus. Tapi kenapa pas dinyatakan lulus saya malah biasa-biasa saja? Rasanya lebih excited pas dikasih kado trus foto-foto haha. Saat ujian pun saya ngga merasa nerveous sama sekali, dan itu AJAIB. Menjadi sarjana. Mungkin itulah yang sejak satu tahun lalu ditunggu-tunggu oleh keluarga saya.  Ketika dinyatakan lulus, saat itulah doa-doa Mama telah dikabulkan oleh Allah. Saya yakin malam hari sebelum saya ujian Mama pasti bangun untuk sholat tahajud dan berdoa untuk kelancaran ujian saya, sama seperti yang dilakukan Mama ketika Mas akan ujian-ujian masuk AKPOL dulu.  Jadi bisa dikatakan kalau kelulusan saya ini bukan karena kepintaran saya , tapi saya lulus berkat doa orang tua :D.

P60822-124413
Terimakasih yang sudah ngasih hadiah. Padahal saya ngga ulang tahun 😀

And then what’s the next? Setelah menjadi sarjana mau apa?. Setiap ditanya mau ngapain setelah lulus saya selalu menjawab mau meneruskan studi saya kejenjang yang lebih tinggi yaitu S2. Saya ingin melanjutkan studi saya jauh ke negeri kincir angin, BELANDA. Untuk meraih mimpi saya itu, saya memutuskan untuk tidak melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan yang mengharuskan saya duduk berlama-lama dikantor dengan segunung pekerjaan. Saya tetap ingin punya banyak waktu untuk belajar. Dan tentu saja keputusan saya itu membuat vertigo Mama mau kambuh, disekolahkan setinggi ini eh giliran sudah lulus nggak mau kerja. Lha karepe jane piye? 😀

Saya adalah tipe orang yang punya kemauan kuat kalau sudah punya keinginan. Everything I do lah pokoknya. Menjadi mahasiswa ilmu komunikasi UB merupakan hasil “NGEYEL” saya selama satu tahun. Setelah lulus SMA saya memilih tidak kuliah dan pergi ke ibu kota untuk mencari kerja daripada harus kuliah untuk menjadi guru SD.

“Itu bukan aku bangeeet. Masak aku harus jadi guru SD. Mimpiku itu menjadi reporter berita ditelevisi atau menjadi wartawan di koran , bukan menjadi guru. Apalagi guru SD. Nggak. Aku nggak mau”

Dari hasil kerja itulah yang rencananya akan saya gunakan untuk membiayai kuliah saya. Kuliah jurusan ilmu komunikasi, dimanapun tempatnya tidak masalah asal tetap ilmu komunikasi. Tiba dijakarta, saya tidak hanya mencari kerja tapi juga mencari universitas yang ada jurusan ilmu komunikasinya  khusus untuk kelas karyawan. Tapi takdir berkata lain, dijakarta saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan apapun yang ada justru saya ditipu orang. Mungkin itu karma dari Tuhan karena tidak nurut pada orang tua, saat itu memang Mama seperti tidak ridho saya pergi kejakarta. Dengan deraian air mata dan dengan berat hati Mama mengantar saya sampai kestasiun. I was too young to know her feeling at that time. Tangisan mama tidak mempan dan tidak pula membuat saya mengurungkan niat. Yang ada saya justru bersumpah saya harus menjadi mahasiswa ilmu komunikasi dan menjadi jurnalis.

FYI, mungkin karena Mama tidak ridho selama dijakarta saya sering mendapatkan kesusahan. Enam bulan lebih dijakarta saya belum juga mendapatkan pekerjaan , padahal saat itu saya nggak pilih-pilih kerjaan. Jadi pembantu atau penjaga tokopun oke asalkan bisa mendapatkan uang untuk kuliah.  Kejadian dimasa lalu merupakan pelajaran yang sangat luar biasa untuk langkah saya selajutnya. Dalam setiap langkah saya, selalu ada Tuhan dan restu orang tua yang selalu saya ikutkan. Saya tidak ingin mengulang masa lalu , mendapatkan banyak kesulitan karena melangkah tanpa ridho orang tua. Saya juga tidak mau berandai-andai atau menyesali kejadian yang telah berlalu.

Rupanya menjadi sarjana itu bukanlah perkara yang mudah, apalagi sarjana yang belum bekerja. Meskipun saya tidak ingin melamar pekerjaan di perusahaan yang mengahrusnya saya duduk dikantor seharian penuh, tapi bukan berarti saya tidak ingin bekerja. Realistis saja , untuk mewujudkan mimpi S2 di Belanda butuh banyak modal haha. LUCKY ME! Karena sebelum lulus sudah ditawari untuk bekerja oleh teman saya. Saya diajak untuk merintis sebuah perusahaan, dengan gaji yang lumayan untuk ukuran fresh graduate seperti saya. Alhamdulillah, itu nikmat yang luar biasa sekali dan yang terpenting adalah ridho orang tua ada didalamnya : ).

Selamat datang dikehidupan yang sebenarnya , kehidupan nyata yang kadang pahitnya melebihi oseng-oseng pare :D. Apapun yang menjadi cita-cita kita, apapun pilihan kita selalu sertakan Allah dan ridho orang tua dalam setiap langkah kita supaya hidup kita berkah :). Dan yang tidak kalah penting adalah ilmu yang didapatkan selama kuliah (ingat lho ya , kuliahnya 5 tahun ) bisa menjadi ilmu yang bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain.

Iklan

Akhir Cerita Magang di JTV Surabaya

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah 🙂

IMG-20141113-WA0011
Pas Ujian 😀 . *sensasinya hot banget* 😀 Bawaannya muless melulu 😛

Aawwwwwww…. rasanya senang sekali akhirnya satu tugas berat di semester 7 sudah selesai. MAGANG!!! LAPORAN MAGANG!!!.  Bagi saya mata kuliah Praktek Kerja Nyata (PKN) ini sangat berkesan sekali. Bahkan kalau menurut saya PKN ini mampu memberikan banyak sekali pelajaran yang tidak akan pernah saya dapatkan di kelas manapun!. *lebay*. Saya banyak belajar tidak hanya berkaitan dengan penulisan laporan yang baik dan benar, tapi juga belajar bagaimana hidup yang baik dan benar *dalemmm* . Seringnya mengeluh daripada bersyukur, seringnya menangis daripada tersenyum  hehehu.

Cerita per-magang-an saya begitu panjang dan melelahkan. Dimulai dari mencari tempat magang yang supeeeerrrrrrrr sekali, rasanya tidak terhitung saya berusaha, kemudian mengeluh, menangis, dan akhirnya saya hanya bisa berdoa pada ALLAH. Habis magang terbitlah laporan magang. Dibanding teman-teman saya yang lain, sayalah yang lebih dulu mulai masuk magang, konsultasi ke dosen pembimbing tapi ehh tapi ternyata selesai belakangan. Heheuu. Memang saya akui, ada banyaaakkk sekaliii kesombongan yang saya lakukan. Misalnya aja nih, saya lebih suka mendengarkan pendapat saya sendiri daripada pendapat dosen pembimbing, saya sudah merasa percaya diri mengerjakan laporan magang sendiri berdasarkan contoh laporan magang yang ada. Hehheu..

Saya sangat terobsesi selesai dengan cepat, apapun saya lakukan supaya saya bisa cepat selesai dan diacc oleh dosen untuk ujian. Tapi kenyataan selalu berbeda dengan rencana. Rencananya sih lancar-lancar aja, tapi prosesnya bikin nangissss cyyiin :P. Entah salah saya apa, entah kurangnya apa, kenapa untuk bisa acc saja susahnya minta ampun. Apa yang dibilang dosen pembimbing sudah saya ikuti, disuruh revisi berkali-kali pun saya jabanin. Rajin bolak-balik ruang dosen , adu argumen dengan dosen pembimbing hingga akhirnya saya tidak kuat *lambaikan tangan ke kamera* diruang dosen saya menangis gemess *Apasih bahasanya*. Dalam hati saya berdoa “Ya, Allah tunjukkan kesalahan saya ya ALLAH,dan kalau saya benar juga Tunjukkanlah. Saya capek ya ALLAH, kok yang direvisi itu-itu aja *doanya mahasiswa hopeless*.

Pada akhirnya , laporan saya di acc oleh dosen setelah sebelumnya harus drama dulu. Taraaaaa…..hari yang ditunggu akhirnya datang juga. UJIANNN!!. Hanya 8 orang saja yang bisa maju ujian duluan. Yeayyy… saya salah satunya. Senengnya mau ujian cuma bertahan sebentar saja, karena rasa senangnya berganti mules begitu tau dosen pengujinya. Dosen penguji saya adalah salah satu dosen cetar badaii yang ada di Ilmu Komunikasi UB. Banyak yang bilang “sabar ya mbak”, “kamu bisa kok mbak”, dan blaaa blaaa segala macam kata-kata dari teman-teman yang menguatkan saya. Gak perlu diragukan lagi kredibilitas dosen penguji saya. Saya Cuma isa berdoa semoga saya tidak “dibantai” diruang ujian. Heheuuu. Ternyataaa ohhh ternyataaa dosen penguji saya buaiiikkk banget pemirsaah. Dan sepertinya doa saya saat diruang dosen dulu dikabulkan oleh ALLAH.

Allah benar-benar menunjukkan kesalahan-kesalahan saya dan sedikit sekali yang benar. Meskipun nilai yang saya dapat hanya sampai pada angka B+ tapi saya bersyukur sekali. Bersyukur karena saya diberi kesempatan untuk membuat laporan magang lagi heheuhe :P. Tidak apa-apa lah ya, sekali-kali :D. Laporan magang saya buat ulang dari bab 1-5 😛 dalam waktu satu minggu aja. Sebenarnya saya diberi waktu 1bulan untuk revisi tapi hanya saya gunakan satu minggu saja untuk revisi. Sisanya? Minggu pertama paska ujian digunakan untuk ber-galau ria dulu , merenung kenapa bisa sampai seperti ini, ngaca sebanyak-banyaknya dan mulai merangkai semangat. Minggu kedua full saya gunakan untuk menyelesaikan bab 1-5. Tidak terlalu sulit bagi saya untuk menyelesaikannya , karena laporan yang saya buat sesuai dengan yang dikatakan oleh dosen penguji. Minggu ketiga dan keempat full saya gunakan untuk mengejar dosen hehe. You Know lah dosennya super sibuk sekali jadi buat bisa ketemu dosen itu susahnya minta ampun.

IMG_20141218_090457
Taraaa, Inilah laporan yang saya buat dengan susah payah. Alhamdulillah selesai 🙂

Alhamdulillah setelah diberi banyak pencerahan oleh dosen penguji pas menyerahkan revisian, sekarang jadi mengerti menulis yang baik dan benar, tentunya bukan nulis buat diposting diblog hehe. Bersyukur banget karena laporan saya di uji oleh Pak Anang, D.COMM. karena secara tidak sadar saya bukannya diuji tapi malah dibimbing heheu. ILMU..ILMU..ILMU kapan lagi dapat ilmu langsung dari seorang doktor komunikasi dari Australia, selain dikelas pas beliau ngajar. Saya tidak peduli pendapat orang tentang kejadian yang menimpa saya saat saya harus menulis ulang laporan magang *aduh apaan sih 😀 * Tapi, yang jelas saya banyaaakkk sekali pelajaran tidak hanya bagaimana menulis yang baik benar , tapi lebih dari itu.

Terimakasih yang tak terhingga untuk dosen pembimbingku tercinta yang supeeer baik Bu Weda 🙂 , dan dosen penguji ku yang cetar badaii Pak Anang 🙂 .

Perempuan dalam Semiotika (Julia Kristeva)

Julia Kristeva

Perempuan dalam Semiotika

                Saat belajar tentang semiotika pasti tidak akan bisa dipisahkan dengan tokoh-tokoh yang telah mempopulerkan semiotika. Tokoh-tokoh semiotika yang sering disebut dalam buku semiotika yang saya baca, antara lain Rolland Bartes, Charles Sanders Pierce, Umberto Eco dan masih banyak lagi. Ketiga tokoh tersebut bisa dibilang tokoh sentral dalam kajian semiotika, karena mereka telah banyak memberikan ide dan pemikirannya untuk semiotika.

Namun selain ketiga tokoh diatas ada beberapa ilmuan yang turut memberikan sumbangan pemikiran untuk kajian semiotika. Meskipun tidak spesifik menyebut semiotika namun kajian-kajian layak untuk dijadikan rujukan tentang semiotika. Sebut saja Michael Foucalt, Jaques Derida , dan filsuf cantik Julia Kristeva, ketiga tidak seperti Bartes dkk yang menyebut teorinya sebagai semiotika.

Saya tertarik untuk mengenal sosok Julia Kristeva melalui karya-karyanya. Tidak banyak ilmuan perempuan yang diakui eksistensinya. Namun, Julia Kristeva mampu menunjukkan bahwa seorang perempuan memiliki kemampuan ilmu yang sama dengan ilmuan laki-laki kebanyakan. Dalam paper ini, saya akan membahas tentang sosok Julia Kristeva dan teori-teori ‘cerdas’ nya terutama dalam bidang kajian semiotika.

Sosok Julia Kristeva

            Julia Kristeva adalah lahir di Bulgaria pada tanggal 24 Juni 1941, kemudian saat berusia 23 tahun Krosteva pindah dan tinggal menetap di Paris hingga sekarang (Handayani, 2010, hal. 3). Kristeva adalah seorang filsuf, feminist, sosiologis, kritikus sastra, dan novelis. Ia berkarir sebagai peneliti dan akademisi , bersama Lacan dan Barthes dan Goldman ia menjadi salah satu tokoh strukturais disaat strukturalisme punya perananan penting dalam ilmu pengetahuan (Handayani, 2010, hal. 4).

Pemikiran-pemikiran Kristeva banyak dipengaruhi oleh Lucian Goldmann dan Rolland Barthes. Tidak hanya Kristeva juga mendalami psikoanalisis Freud dan Jaques Lacan. Karya pertamanya yang diterbitkan pada tahun 1969 berjudul Séméiotiké: Recherches pour une sémanalyse (1969) yang diterbitkan oleh portal jurnal ternama Tel Quel. Jurnal Tel Quel memuat karya-karya ilmuan terkemuka di Perancis misalnya Barthes, Goldman, dan Gerard Genette (Lestari, 2006, hal. 104). Kristeva menghasilkan karya yang banyak dan memainkan peran penting dalam pemikiran pos-strukturalisme. Melalui karya-karyanya ia kemudian diterima sebagau anggota kehormatan linguistik di Universitas Paris dan sebagai tamu kehormatan di Colombia University New York.

Karya-karya dan Pemikiran Penting Kristeva

            Sebagai seorang ilmuan Kristeva memiliki banyak karya yang hingga karyanya dicatat sebagai bagian penting dari ilmu pengetahuan. Berikut ini saya akan memberikan contoh-contoh karya Kristeva, yang saya dapatkan dari berbagai referensi e-book dan Jurnal. Kristeva sangat tertarik dalam hal bahasa dan linguistik , makan tidak heran apabila banyak kritik bahasa dan sastra yang ia buat.

Language, Semiotic and Symbolic

            Dalam terbitan pertama bukunya Kristeva banyak membahas tentang Bahasa , semiotika dan simbolik. Buku yang berjudul Semiotiké: Recherches pour une sémanalyse terbit tahun 1969 dalam bahasa Perancis. Dalam buku tersebut hanya dua bab yang diterjemahkan dalam bahasa inggris (McAfee, 2004, hal. 13).

Dalam tulisannya sebagaimana ia kutip dari Olivers bahwa teori tentang bahasa adalah teori tentang subjek itu sendiri, subjektivitas dan bahasa adalah suatu kesatuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa Kristeva merupakan ilmuan dari masa strukturalis sehingga karya-karya banyak yang mengedepankan subjek.  Sebagaimana kita ketahui bahwa Kristeva merupakan ilmuan dari masa strukturalis sehingga karya-karya banyak yang mengedepankan subjek.

Jika dalam semiotik yang dibaa Lacanian-Freudian yang membentuk peran subjek dalam bahasa adalah ada tidaknya alat kelamin (Mr. P) dalam diri seseorang. Pendapat tersebut kemudian dibantah oleh Kristeva , ia menyatakan bahwa subjek dalam bahasa dibentuk sebelum “fase kastrasi” yaitu fase dimana seorang anak masih sangat tergantung dengan tubuh ibunya. Semiotika yang menurut Kristeva berbeda dengan semiotika Saussure , semiotika Kristeva lebih banyak mengacu pada dan berkaitan dengan pemikiran Freud, Lacanian (pre-mirror stage), dan psikoanalisis British Object Relation (Handayani, 2010, hal. 5).

Semiotika Kristeva mencakup bahasa rangsangan, impuls ritme tubuh, dan gerakan-gerakan yang amsih tersimpan dimasa anak-anak. Elemen semiotika adalah tindakan badaniah yang diwujudkan dalam proses signifikasi.  Semiotika adalah pra-simbolik dari kehidupan lisan yang muncul pada saat masih dalam masa anak-anak dan mempunyai hubungan dengan ibunya. Hubungan ini dicapai melalui proses gerakan tangan, pendengaran, dan vocal serta pengulangannya.

Fase Chora

            Istilah Chora  diambil Kristeva dari istilah yang dikemukakan Plato dalam karyanya Timaeus, menurut Plato Chora adalah proses bagaimana alam semesta diciptakan. Istilah Chora bagi plato adalah suatu wadah yang menampung alam semesta (McAfee, 2004, hal. 18). Sedangkan Chora menurut Kristeva adalah bagaimana lingkungan psikis bayi berorientasi kepada tubuh ibunya. Chora menunjuk pada ketika seorang bayi belum mengetahui jelas batas-batas jelas tentang idenitas pibadi , antara inside dan outside.

Dalam kondisi bayi sedang ada pada fase chora maka bayi sedang dalam proses menerima rangsangan yang banyak (perasaan, naluri, vocal, gerakan dll) dari tubuh ibunya. Tubuh ibu kemudian memediasi hukum simbolik yang mengorganisir relasi sosial dan menjadi prinsip ordering dari the semiotik chora.

 

Psikoanalisis dan Bahasa

Konsep penanda dan petanda daam bahasa dapat kita temukan dalam eori yang dikemukakan oleh Jaques Lacan yang menghubungkan teori Freud dengan bahasa. Konsep freud tentang ketidaksadaran manusia menentukan kegiatannya. Psikologi manusia terdiri dari id, ego dan superego sepenuhnya ada dalam ketidaksadaran.

Kalimat Jaques Lacan yang terkenal adalah “the unconscious is structure like a language” struktur bahasa adalah struktur ketidaksadaran. Teoi Lacan ini diterima Kristeva sebagai tatanan simbolik. Kemudian dalam disertasi yang berjudul La Revolution Du Langage Poetique Kristeva mengiah psikoanalisis Lacan tentang tatanan imajiner menjadi semiotika dan simbolik. Semiotik yang dikontraskan dengan simbolik mencakup bahasa rangsangan, gerakan yang masih tersimpan saat anak-anak.

Perjuangan Feminisme

            Menurut Kristeva setidaknya ada tiga tahapan feminisme. Tahap feminisme adalah mennuntut kesetaraan didalam segala hal antara laki-laki dan perempuan. Tahap ini menuntut adanya persamaan hak, upah dan mengabaikan perbedaan jenis kelamain.

Tahap kedua gerakan feminisme muncul karena mengingnkan bahasa yang khas perempuan. Bahasa untuk pengalaman intrasubjekif yang dibungkam budaya masa lalu. Kristeva menolak mendefinisikan “perempuan” apabila hanya diposisikan sebagai lawan laki-laki secara biologis.

Tahap ketiga feminisme mulai mempertimbangkan kembali identitas dan perbedaan serta hubungan antara keduanya. Hal ini merupakan pengaruh dari dekontruksi Deridda yang mengatakan bahwa bahasa tergantung pada differance. Istilah diffrance menerangkan bahwa makna adalah hasil perbedaan (difference) antara penanda sekaligus penundaan (defferal).

Maka dengan ini penanda menjadi fleksible dan beragam, sebuah makna tidak pernah bisa dipatok sebab proses pemaknaan adalah proses yang tidak ernah berhenti. Pada tahap ini feminisme sadar akan keberagaman latar budaya dan ras sehingga ia menolak mengutamakan idetitas diatas perbedaan atau sebaliknya.

Daftar Pustaka

Handayani, C. S. (2010). Julia Kristeva Tentang Seksualitas : Kemabalinya Eksistensi Perempuan Sebagai Subjek. 3.

Lestari, I. (2006). Katakan dan Lawan : Bahasa dan Perjuangan Feminisme dalam Teori Julia Kristeva. Jurnal Perempuan : Untuk Pencerahan dan Kesetaraan , 104.

McAfee, N. (2004). Routledge Critical Thinkers : Julia Kristeva. London, UK: British Library Cataloguing in Publication Data.

 

 

Komodifikasi Agama dalam Media

KOMODIFIKASI AGAMA DALAM MEDIA

            Hingga saat ini televisi merupakan sarana hiburan yang belum tergantikan di masyarakat. Televisi menjadi suatu kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan hiburan di masyarakat kita. Nyaris setiap rumah memiliki televisi , bahkan lebih dari satu. Meskipun sekarang adalah era new-media, namun kenyataannya televisi masih menjadi sumber hiburan, sumber informasi bagi sebagian orang.

Televisi dengan kekuatan yang dimilikinya mampu memberikan dampak yang luar biasa kepada penontonnya. Apa yang ditampilkan di TV itulah yang menjadi panutan masyarakat. Namun, celakanya di TV kita saat ini sedang banyak tontonan yang kurang mendidik bahkan terang-terangan membodohi masyarakat. Diantara sekian macam jenis tontonan yang ada di TV, sinetron masih menjadi primadona.

Sinetron dianggap menjadi gambaran kehidupan kita sehari-hari. Representasi dari masyarakat kita. Sinetron menampilkan berbagai macam karakter dan tokoh sebagai pemanis cerita. Diantara sinetron yang ada, sinetron religi yang paling banyak peminatnya. Sinetron religi dianggap tidak hanya memberikan hiburan namun juga panutan bagi penontonnya. Namun sayang, harapan itu jauh sekali dari kenyataan. Sinetron kita banyak yang tidak masuk akal dan membodohi masyarakat, namun celakanya masyarakat tidak sadar sadar kalau sedang dibodohi.

Sinetron religi yang ada di TV kita selalu identik dengan satu agama tertentu, padahal menurut saya kata relig tidak hanya milik satu agama tertentu. Kata religi merujuk pada kata religion yang berarti kepercayaan. Di Indonesia tidak hanya ada satu kepercayaan namun ada lima kepercayaan. Tetapi kenapa kata religi hanya merujuk pada satu agam saj, yaitu islam?. Sinetron Pesantren Rock N Roll , Islam KTP, anak-anak manusia, Tukang Bubur Naik Haji, dan masih banyak lagi adalah gambaran sinetron religi yang ada di TV kita.

Sinetron-sinetron tersebut membawa identitas agama sebagai barang yang mereka perdagangkan. Sinetron-sinetron tersebut mereduksi nilai-nilai sakral dalam agam menjadi suatu hiburan yang hanya menuntut kesenangan dan hiburan semata. Meskipun judulnya sinetron religi dan diharapkan mampu memberi “pencerahan” kepada penontonnya , namun pada kenyataannya justru menjatuhkan citra agama itu sndiri.

Artis-artis wanita yang tadinya bedandan seksi disulap layaknya muslimah sejati. Pakaian tertutup dan memakai jilbab. Sedangkan yang laki-laki memakai  sarung dan peci sebagaimana dandanan para santri. Tidak jarang mereka memperagakan ritual-ritual keagamaan dalam islam misalnya sholat dan mengaji. Tidak jarang mereka mengutip ayat-ayat suci dalam kitab suci umat islam. Hal ini tentu tidak akan menjadi masalah apabila yang disampaikan itu benar dan bisa menjadi panutan bagi pemirsanya.

Bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang hanya mengandalkan tv sebagai satu-satunya hiburan mereka maka apa yang ditampilkan di TV mereka anggap suatu kebenaran dan patut mereka tiru. Fenomena yang banyak terjadi sekarang adalah artis-artis yang biasanya dandan seronok dan punya citra buruk tiba-tiba menjadi “malaikat dan bidadari” dalam sinetron. Tidak masalah apabila artis yang mendadak alim tersebut penganut agama islam, karena siapa tau dengan main sinetron hidayah bisa datang dan mereka menjadi seperti yang mereka perankan. Namun yang terjadi sekarang, yang menjadi tokoh utama dalam sinetron religi Indonesia adalah mereka yang bukan beragama islam.

Mereka (artis non-islam) memerankan tokoh islam dan melakukan ritual keagamaan seperti sholat dan mengaji. Agama menjadi hilang kesakralannya, karena terkesan dijadikan mainan. Masyarakat dibuat bingung dengan tayangan yang ada dimedia. Sebagai contoh dalam sinetron religi masyarakat melihat artis Shandy Aulia , Samuel Zylqwin , Jonas Rivanno adalah seorang muslim yang taat dan alim. Pada kenyataannnya mereka adalah penganut nasrani, dan dilain kesempatan diluar sinetron media (TV) menampilkan mereka dengan identitas asli mereka, baju seksi dan juga perayaan ritual keagamaan mereka seperti natal. Tentunya ini menjadi bahaya bagi aqidah seorang muslim yang melihat sinetron tersebut dan ngefans dengan artis tersebut.

Saya sendiri tidak bisa sepenuhnya menyalahkan artis-artis tersebut karena mereka hanya memainkan apa yang diperintahkan oleh sutradara dan produser yang memilih mereka. Agama menjadi komoditas dan media hanya mengingankan profit, seperti yang kita tahu ketiga artis diatas merupakan artis yang banyak digemari saat ini karena ketampanannya dan juga kecantikan mereka, didukung dengan peran protagonis mereka dalam sinetron mereka. Hal ini dimanfaatkan betul oleh media (dalam hal ini PH), demi menarik minat penonton untuk meraup keuntungan yang besar dengan menjadikan mereka tokoh utama.

Tidak hanya sinetron, tapi belakangan muncul dakwahtaiment yang menghadirkan para ustadz karbitan. Seseorang yang hanya mengutip satu dua ayat al-quran tapi sudah disebut dan menyebut dirinya sebagai ustadz. Segala aktivitas mereka jauh dari nilai-nilai agama yang selama ini menjadi kepercayaan umat muslim. Bahkan sekarang banyak beredar kabar negatif tentang para ustadz-selebs tersebut. Hampir setiap hari mereka muncul di infotaiment dengan memperlihatkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting misalnya menunjukkan rumah baru , mobi baru, hingga koleksi jilbab istri mereka.

Identitas ustadz yang mereka tampilkan di tv telah  merekontruksi citra ustadz itu sendiri. Dahulu seorang ustadz adalah tokoh yang sangat di”agungkan” karena dakwahnya yang sarat makna dan pembelajaran. Segala apa yang Ustadz ucapkan, bisa menjadi panutan dan selalu diamini oleh masyarakat. Namun dengan munculnya ustadz seleb ini, dakwah tidak lebih dari sekedar hiburan semata yang mengundang gelak tawa. Jangan tanyakan lagi wibawa-wibawa seorang ustadz pada utadz-selebs tesebut, karena orientasi mereka pada hiburan dan profit maka apa yang disenangi oleh penonton maka itulah yang mereka bawakan.

Kesimpulan

Ketika media hanya berorientasi pada keutungan dan kuantitas maka akan sangat berbahaya. Masyarakat tidak akan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari media, padahal salah satu fungsi media dalah mencerdaskan masyarakat. Media di Indonesia sekarang ini telah kehilangan fungsinya dan tidak lagi memperhatikan penontonnya. Mereka dengan semena-mena membawa identitas suatu kelompok tertentu untuk mereka respresentasikan dalam sinetron atau acara mereka untuk menarik minat penonton.

Secara tidak sadar tayangan-tayanga yang ada dimedia terutama sinetron religi telah merekontruksi dan mereduksi nilai-nilai keagamaan , sehingga agama yang harusnya sakral berubha menjadi hiburan semata. Kalau media terus seperti ini artinya media telah melakukan pembodohan massal yang sangat mengerikan. Dampaknya tidak hanya selesai bersamaan sinetron yang mereka buat, tapi lebih kepada perilaku penontonnya. Masyarakat teombang-ambing dan aqidah mereka terancam. Agama menjadi komoditas yang menjajikan bagi industi media, sehingga media memanfaatkan agam untuk kepentign ekomoni. Harusnya ada regulasi khusus yang mengaur larangan pembawaan identitas tertentu dalam ranah publik. Agama masih menjadi hal yang sangat sensitif bagi masyarakat kita, maka perlu kehati-hatian dalam merepresentasikan agama tertentu dalam media.

Daftar Pustaka

Hermawan, A. (2009). Spiritualisme Televisi, antara Aqidah dan Komodifikasi. JURNAL DAKWAH, Vol. X No. 1, Januari-Juni 2009 .

Saefulloh, A. (2009). DAKWAHTAINMENT: KOMODIFIKASI INDUSTRI MEDIA DI BALIK AYAT TUHAN. Komunika : Vol.3 No.2 Juli-Desember 2009 , 255-269.

Catatan Hati Seorang Mahasiswa Tingkat Akhir , Antara Malang-Kediri ada Cinta Luar Biasa!

Entah apa lagi yang mampu saya katakan kecuali TERIMAKASIH. Sungguh akhir-akhir ini saya lihat dengan mata kepala saya sendiri betapa ajaibnya sesuatu yang disebut CINTA itu. Cinta yang mampu merubah sakit jadi sehat, merubah tangis menjadi tawa, merubah benci menjadi cinta. Sepertinya saya sedang diajari untuk mengerti apa itu CINTA. Cinta yang sungguh sangat menyejukkan. Jika selama ini saya abaikan banyak cinta hanya untuk satu cinta, maka sekarang saya lepaskan satu cinta untuk banyak cinta.

Cerita dimulai saat saya bimbingan laporan magang, disitu saya dapati cinta dosen-dosen kepada kami mahasiswanya. Dibalik hectic-nya laporan magang , saya sadari bahwa sebenarnya para dosen saya itu sayang sekali pada kami mahasiswanya, hanya saja kami yang kurang tau diri. Saat laporan magang saya rasakan beratnya bolak-balik Kediri-Malang untuk bimbingan. Ketika sampai Malang saya rasakan betul cinta dosen-dosen yang pernah mengajar di Kediri begitu besar pada kami mahasiswa Kediri melalui perhatian-perhatian mereka. Beliau (para dosen-) selalu menyambut hangat kedatangan kami di Malang, beda sekali dengan kami yang kadang mengabaikan dosen saat dikelas (hehe maaf ya Pak, maaf ya Bu).

Namun itu semua tidak bisa digeneralisir sih, setidaknya itulah yang saya rasakan. Bahkan suatu waktu  saat saya bimbingan ke Malang , salah satu dosen ketika melihat saya dan teman-teman duduk glosoran didepan ruang dosen menyambut kami dengan senyumnya yang sungguh mampu menghilangkan capek saya. Ada lagi dosen yang sampai memeluk saya dan menyemangati saya (sungguh beliau layaknya ibu saya yang mampu menghapus ketakutan saya) –ketika menulis ini rasanya ingin sekali memeluk beliau dan berkata “Terimakasih Bu, karena selalu mampu membuat saya merasa aman, merasa tenang”. Mungkin karena dari kecil saya  jauh dari Ibu, jadi ketika diperlakukan seperti itu ada rasa yang sulit dijelaskan. Terharu. Bahagia. Terimakasih Bu :).

Semua dosen yang pernah mengajar di Kediri khususnya angkatan saya adalah orang-orang hebat. Mungkin dulu saya berpikiran bahwa dosen mengajar itu sudah menjadi kewajibannya, tapi setelah merasakan sendiri beratnya bolak-balik Kediri-Malang saya menjadi tahu kalau bukan hanya kewajiban saja tapi ada CINTA yang luar biasa untuk kami. Mereka datang ke Kediri karena mereka mencintai kami. Ingin yang terbaik untuk kami. Belum lagi dosen PA kami yang super sekali, kalau kata saya dan teman-teman sih beliau ini Cetar Badai kerennya. Masyallah , sungguh tidak ada kata lain kecuali TERIMAKASIH untuk para dosen saya.

Sebagai mahasiswa tentunya saya tidak lepas dari rasa sebal ketika mendapatkan nilai jelek haha. Namun rasa sebal itu berubah menjadi rasa menyesal ketika saya keluar ruang ujian dilantai 2 Gedung B, kamis kemarin. Menyesal kenapa saya baru menyadari bahwa ternyata dibalik nilai yang diberikan dosen kepada saya terselip pesan untuk saya. Apapun itu saya yakin bahwa setiap dosen ingin yang terbaik untuk mahasiswanya. Sungguh ujian magang  kemarin Kamis , membuat saya sadar bahwa ada banyak cinta untuk saya . Cinta yang dulu saya abaikan. Cintanya dosen, cintanya teman-teman saya. *rasanya pengen nangis*

Bismillah, setelah ini saya dan teman-teman akan menempuh skripsi. Tentunya akan lebih banyak berinteraksi dengan dosen khususnya dosen pembimbing. Inilah saatnya untuk menunjukkan CINTA yang sesungguhnya. Dengan cara apa? Saya rasa tidak ada yang lain kecuali menjadi mahasiswa yang baik sesuai kemampuan masing-masing. Layaknya orang tua yang berharap anaknya menjadi orang sukses, begitu juga dengan dosen yang juga menginginkan kesuksesan anak didiknya. Sungguh rasanya menyesal karena dulu pernah mengabaikan mereka.

Maafkanlah saya Bapak Ibu Dosen, maaf saya Bandel. Terimakasih karena CINTA yang luar biasa untuk kami, kami bisa menempuh bagian terakhir dari kuliah kami. Untuk semua capek ketika harus mengajar kami di Kediri. Untuk semua nasehat demi masa depan kami. Ujian yang sesungguhnya bukan saat kami kami didalam kampus, tapi ketika kami keluar dari kampus. Ada campur tanganmu dibalik kesuksesan kami kelak. Terimakasih, Terimakasih, Terimakasih Bapak Ibu Dosen.

Ditulis setelah subuh di Kediri untuk dosen tercinta 🙂

Yudha E. Desiani , 16 November 2014

Kritik Vs Pujian ?

Hallo apa kabar? Sore-sore gini emang paling enak buat nge-galau ya apalagi lagi gerimis begini. Dengerin lagu galau, sambil tiduran kayaknya emang kombinasi yang pas. Tapi seribu tapi sayangnya saya malah sama sekali nggak bisa tidur padahal badan rasanya remuk karena kurang istirahat beberapa hari ini. Oke daripada nggak ada kerjaan lebih baik nulis aja, nulis yang nggak penting juga boleh. Anyway, apa yang ada dipikiran kalian tentang KRITIK dan PUJIAN? Pilih mana dikritik atau dipuji? Baiklah, kalian tidak perlu menjawab karena ini sebenarnya pertanyaan buat saya sendiri.

Jujur saya jarang sekali menerima kritik dari orang lain. Bukan karena saya ini baik atau hebat tapi mungkin orang malas buat mengkritik saya, atau kebanyakan dari mereka sungkan untuk mengkritik saya. Sedangkan saya, pandai sekali mengkritik orang. Saya bahkan sering ngomong ceplas-ceplos tanpa berpikir dulu dan tentu itu mungkin akan menyakiti hati orang lain. Saya selalu mengatakan apa yang ingin saya katakan tanpa basa-basi. Dalam satu waktu bersamaan saya bisa mengkritik orang sekaligus memuji orang yang sama. ANEH! Tapi itulah saya, dan tentu itu sesuatu hal tidak patut untuk dipertahankan.

Kadang ke-ngotot-an saya membuat orang lain terluka tanpa saya sadari. Dalam satu waktu saya pernah bertanya kepada orang-orang disekitar saya tentang keburukan saya. Tapi kenyataannya tidak satupun dari mereka yang mengatakan keburukan saya. Kebanyakan mereka hanya menjawab tentang kebaikan saya padahal yang saya tanyakan adalah keburukan saya. Ketika saya minta dikritik justru yang terjadi adalah pujian. Saya yakin mereka tidak sepenuhnya berkata jujur, ada banyak sekali yang mereka sembunyikan dan mungkin mereka sungkan untuk mengatakannya kepada saya.

Dalam satu waktu saya dapati orang-orang yang benar-benar objektif menilai saya. Awalnya sakit awalnya pahit saat mendapati orang lain berkata buruk tentang saya. Merasa marah dan merasa dipermalukan. Kritik itu layaknya obat yang walaupun pahit tapi menyembuhkan. Saya ingin orang lain memberikan kritik yang membangun untuk saya. bukan hanya pujian yang semakin menenggelamkan saya dalam kesombongan. Intropeksi memang bisa jadi salah satu kritik untuk diri sendiri, tapi itu tidak cukup. Intropeksi hanya akan mampu menemukan kesalahan yang disadari , tapi akan meniadakan kesalahan yang tidak disadari. Sedangkan kritik akan banyak ditemukan kesalahan-kesalahan yang tidak disadari diri sendiri.

Tidak jarang saya melihat diri sendiri lebih baik dari orang lain, padahal kenyataannya banyak yang jauh lebih baik dari saya. Hanya saja saya tidak menyadari itu, karena tidak ada yang menegur saya ketika saya salah. Dan ketika tidak ada kritik , tapi hanya pujian yang saya dapatkan sebenarnya ini adalah kehancuran buat saya sendiri. Saya tenggelam dalam pujian yang entah itu jujur atau bohong , dan pada akhirnya membuat saya selalu merasa benar. Hancur hancur hancur , dan saya tinggal menunggu diri saya sendiri musnah kalau terus begini. Saya bukan orang baik. SAYA BUKAN ORANG BAIK! Mungkin hanya terlihat baik karena ALLAH sedang menutup rapat aib saya.

BISMILLAH, dalam rangka ingin hijrah untuk menjadi lebih baik saya siap menerima kritik-kritik yang membangun untuk perbaikan diri saya. Jangan hanya memuji saya tapi kritik saya juga dong :D. Bila ingin memuji saya cukup dalam hati saja, karena dengan begitu saya tidak menjadi sombong sekaligus belajar untuk IKHLAS. Tidak ada kata terlambat untuk belajar menjadi baik, dan semuanya butuh proses. Jadi, tegur saya bila saya salah, nasehati saya agar saya tidak tersesat, dan ajari saya agar saya mengerti 🙂

Kediri, 14 November 2014

Desi yang sedang galau 😦

Goodbye Surabaya!

gedung graha pena
gedung graha pena

Kurang lebih selama dua bulan tinggal di Surabaya, rasanya sangat singkat. Waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin pergi ke Surabaya nyari tempat magang, nah sekarang magangnya malah udah selesai. Ada perasaan lega sih, karena salah satu syarat kelulusan udah terselesaikan, tapi juga sedih karena harus meninggalkan Surabaya. Teringat paniknya pas masih di PHP sama JTV,  Senengnya pas diterima magang di JTV. Semangat nyari kost-an dua hari menjelang puasa, waktu itu untung ada Mas pacar yang rela capek-capek nemenin nyari kost padahal tau sendiri kan kalau Surabaya itu panasnya pake bingit :D.

Tanggal 6 Juli saya berangkat ke Surabaya dianter keluarga (udah kayak naik haji aja), tinggal sendirian di kost-an. Di kost nggak betah karena pemilik kost nya agak bawel, dan kalau jam 9 malam pintu udah dikunci. Saya sering ngeluh ini itu, dan lagi-lagi untung ada “tukang ojek kesayangan” yang siap mengantar saya kemanapun termasuk pas malam-malam saya suruh nganter ke kost-annya vita (numpang tidur) :D. Karena gak betah saya akhirnya pindah ke kost-an vita awal bulan agustus. Di kost-an baru betah banget karena ada temennya dan juga disana bebas mau ngapain aja. Saya bisa bebas masak, bebas mau mandi, bebas mau nyuci karena nggak ada ibu kost hehe :P.

Selama di Surabaya yang singkat itu, saya mendapatkan banyak pelajaran. Banyak yang sebelumnya saya nggak tau menjadi tahu. Mengenal banyak orang dengan berbagai latar belakang sampai ngrasain enaknya punya pacar yang dekat (bisa minta antar jemput dan mau ketemu kapan aja bisa 😛 *ini Cuma bonus sih*). Ditempat saya magang, saya belajar sabar dan sadar kalau nggak semua yang kita inginkan bisa tercapai. Belajar melihat segala sesuatu tidak hanya dari satu sudut pandang tapi harus diberbagai sisi.

Seperti yang saya alami sendiri, dibohongi orang yang sangat saya percaya. Orang yang dulu sangat saya hormati, orang yang saya anggap bak “dewa” tapi justru membuat saya merasa sangat kecewa. Biar bagaiamanapun seseorang itu pernah menolong saya, dan hingga saat ini saya masih menaruh hormat kepadanya. Tinggal dikota orang juga menyadarkan saya akan pentingnya menjaga diri dan sopan santun. Karena dengan begitu diri kita bisa dihargai, dan orang yang tadinya sembarangan menjadi sedikit sungkan pada kita. Dan yang paling penting adalah kita bisa menempatkan diri kita sesuai dengan kapasitas kita. Saya menjadi tahu bahwa bekerja di industri media seperti itu, banyak plus minusnya. Ehh tapi, ga cuma di media aja sih, dimanapun itu selalu ada plus minusnya. Setidaknya dengan magang ini, saya jadi tahu kalau bekerja di media, bekerja menjadi reporter tidaklah mudah.

Masih ingin jadi reporter? Masih ingin bekerja di media? Entahlah! Tapi saya rasa kalau saya bekerja di media kelak ketika saya telah berkeluarga akan sangat merepotkan. Banyak waktu yang akan saya habiskan diluar dan waktu untuk mengurus keluarga akan sangat berkurang. Oke, mungkin impian jadi reporter saya skip aja. Sepertinya saya lebih tertarik menjadi seorang konsultan atau penulis buku saja hehe. Let dream and fate takes me where I belong J. Pembimbing magang saya mengajarkan pada saya untuk selalu displin dan jujur dalam segala hal. Seolah tidak hanya teori tapi beliau praktekkan langsung hehe. Kalau ada istilah mulutmu harimau-mu itu tepat banget. Seseorang bisa menjadi sangat jatuh reputasinya dan ia tidak lagi dihormati karena perkataannya.

Setidaknya itu yang saya tahu. Sebagai pengalaman saja, saya pernah sangat percaya dan menghormati seseorang. Setiap kata-katanya saya percaya, pikir saya wah keren nih orang. Saya banyak belajar darinya, tapi lama-lama saya merasa ada yang aneh. Mata saya mungkin bisa dibohongi, tapi hati akan selalu merasakan sesuatu yang yang tidak beres. Oke, pelajaran kali adalah “Orang yang kelihatannya baik belum tentu baik, kita tidak pernah tahu dalemnya hati orang” begitu sih kalau temen saya Meydi.

Berkali-kali ketemu banyak orang, dan berkali-kali juga ketipu hehe. Dikira baik eh ternyata begitu, yang tadinya dikira jahat ehh nggak taunya baiknya pake banget. Kita saya seringkali melihat seseorang dari luarnya saja dan sekilas saja tanpa mau melihat secara keseluruhan. Itu sih pelajaran yang saya dapatkan, dan ini sama sekali tidak diajarkan dikelas juga tidak berhubungan denga teori apapun hehe. Diluar itu, banyak sekali pelajaran dan ilmu yang saya dapatkan , tentunya untuk akademik saya. Apa yang saya pelajari dikelas dapat saya terapkan di tempat magang, meskipun kadang teori sama prakteknya beda. Hehe maklumlah tiap media punya agenda settingnya sendiri. Sekarang saatnya fokus pada laporan magang dan lanjut outline skripsi hehe :D.  Kalau kata mas e sih “pikiren laporan karo skripsimu ojo soyang sayang ae” hehe.

GOODBYE LOVELY SURABAYA, SEE YOU SOON J

Terimakasih pengalaman dan pelajaran berharganya!