#Day2 : Satu Tahun Menjadi “Santri”.

photogrid_1462441839675
bersama ustadzah 🙂

Tidak terasa sudah tahun saya belajar di Ponpes Lirboyo. Hingga saat ini, rasanya masih belum percaya kalau saya bisa masuk lingkunga pondok pesantren. Satu tahun lalu, saya selalu dihantui oleh pertanyaan-pernyataan yang membuat saya takut setiap malam. Kalau ditanya Tuhan masa mudamu kamu gunakan untuk apa? Aku bisa jawab apa. Satu tahun lalu dengan bantuan seorang teman saya memperoleh info tentang ngaji dipesantren. Info yang cukup mengobati rasa “gak tenang” saya setiap malam.

Awal tahun 2015 yang lalu, karena kondisi “kejiwaan” saya yang goyah saya putuskan untuk lebih dekat dengan Tuhan. Karena itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan saya dari kegilaan haha. Saya mulai langkah saya dengan memfollow banyak akun dakwah di instragram, me-like fanpage islami (tapi sumpah ga follow jonru kok haha), ikut kajian-kajian yang akhirnya membuat saya menjadi ukhti-ukhti berjilbab lebar nan panjang. Tapi saya merasa tidak damai, justru muncul banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang malah membuat semakin bingung.

“ ngajine wes sampai mana, kitab e sudah sampai bab apa?”

Saya selalu ditanyai dengan pertanyaan yang sama ketika pulang kerumah mbah. Pertanyaan itu membuat saya semakin galau, karena selama mengikuti kajian-kajian itu ilmu yang saya dapatkan tidak utuh, dan bisa dikatakan saya nggak benar-benar ngaji (tulisan saya tentang itu bisa dilihat disini )  

Satu tahun lalu, dipagi hari itu saya beranikan diri saya untuk masuk pondok pesantren putri P3TQ Lirboyo seperti yang Anam sarankan. Baru sampai gerbang, langkah saya terhenti lalu saya putar balik motor saya. Tapi putar balik motor itu justru malah membuat saya masuk pondok :D. Ya iyalah, saya puternya dari gerbang selatan, sebelah selatannya masjid Al-Hasan lalu putar balik mau pulang di Wilis. Sampai didepan Indomaret bukannya belok kiri, masuk perumahan tapi malah belok kanan, gerbang depan Lirboyo :D. Yasudah, udah terlanjur masuk. Sampai dipondok, saya disambut oleh mbak-mbak santri (beliau adalah ustadzah Anis, yang sekarang sudah boyong L ). Dari hasil pertemuan itu , saya diijinkan untuk masuk kelas malam harinya. Semacam trial class gitulah.

2015-12-17 21.13.52
sumpah makan begini itu enak banget meskipun cuma pakai telor ceplok

Pertama ngaji, udah sok-sokan bawa Al-Quran. Giliran setoran ngaji, di tes sama ustadzah makrojnya hancur berantakan (terimakasih sekali pada ustadzah Nafisah yang begitu sabar ngajari manusia 24 tahun mengucapkan ش, ص, ض, ط, ظ  dan lainnya dengan baik dan benar). Ada banyak hal lucu yang terjadi pas awal-awal ngaji. Belajar makhroj itu ngga gampang ternyata, dan karena pengen banget bisa everything I do lah, bahkan sampai bawa kaca. What , kaca? Buat apa? jadi ya, saya bawa kaca kecil buat ngeliat mulut saya melafalkan huruf-huruf hijaiyah sesuai makhroj yang benar. Biar sesuai sama yang diajari ustadzahnya hahaha, tapi pas itu ketahuan sama Ustadzah Nafis dan beliau ketawa ngeliat tingkah polah saya hahhaaa.

photogrid_1462284205052
me with my gengsss haha

Satu tahun ngaji dipondok. Satu tahun menjadi santri, ya meskipun santrinya ga full. Genap satu tahun ini saya menyelesaikan ngaji tingkat jilid. Lama? Benar ini itungannya lama banget dari jilid satu-enam, karena kesalahan saya juga sih yang sering banget bolos sekolah. Sekolah sekaligus skripsi bukan hal mudah ternyata. Tapi tidak apa-apa setidaknya saya bisa melafalkan ش, ص, ض, ط, ظ  dengan benar hahaa.

Setelah skripsi selesai, semoga bisa rutin sekolahnya setidaknya untuk satu kedepan. Karena saya tidak tahu dimana takdir akan membawa saya setelah ini, tapi semoga masih dikasih kesempatan untuk belajar dipondok setidaknya satu tahun lagi :).

PS : Tulisan saya selengkapnya tentang pengalaman mondok saya di lirboyo bisa dilihat disini , disinidisinidisinidisini . Semoga bermanfaat yaa 🙂

#Day1 : Starting a new challenge.

picture-1
gambar diambil dari sini

Well, setelah posting tulisan curhat yang malah jatuhnya drama banget, hari ini saya akan menulis lagi hihi. Pagi ini saat bangun tidur saya langsung membaca bismillah dan senyum-senyum sendiri. Menurut yang saya baca, entah benar atau tidak tersenyum bisa membuat otak kita yakin kalau kita sedang bahagia. Jadi mungkin udah ada semacam program gitu ya diotak kita, yang kalau bibir kita tersenyum akan direspon oleh otak lalu diolah menjadi kebahagiaan. Ah embuh, ini analisa yang ngawur *maapkan saya bukan peneliti*. Mungkin ini juga alasannya, kenapa kalau pas nangis tapi tersenyum semacam ada kekuatan yang nambah gitu, atau sedikit berkurang sedihnya *Oh my, drama lagi*.

Mumpung masih suasana tahun baru, jadi dimanfaatkan betul untuk menuju perubahan. Padahal setiap tahun baru selalu bikin resolusi-resolusi tapi semuanya hanya berakhir dibuku catatan. Setelah saya analisis *tsah bahasanya masih ambu-ambu skripsi* , saya salah strategi. Saya itu kadang suka ngotot dan sok multitasking, padahal otaknya cuma sekelas intel atom. Udah jadi kebiasaan saya menuliskan target-target yang ingin dicapai dalam setiap tahunnya, selain itu juga nulis daftar-daftar impian baik yang ditempel didinding kamar atau ditulis dibuku. Kalau saya ngga salah hitung, seperti sudah ada 4 buku yang isinya “list mimpi dan target” tapi tidak banyak dari list itu yang dicoret.

“ focus will driving everything in your life, so keep on focus”

Gitu sih kalau kata mentor online saya, Brendon Burchard. Kebetulan nih saya dapat free buku motivasinya plus dapat free online training selama 12 minggu. Ehmm, ga free juga sih sebenarnya tapi bayar $7 , tapi sumpah worth banget kok. Lumayan  kan bisa sekalian belajar reading dan listening hahaha. Pantes , kalau semua target saya nggak ada yang tembus, lha wong saya nggak bisa fokus. Emang sih ya, gara-gara ngga bisa fokus banyak sekali tugas-tugas yang terbengkalai. Contoh yang masih anget banget ya skripsi, coba kalau dari dulu saya fokus pasti skripsinya ngga sampai “anniversary”. Lalu, kursus-kursus yang saya ikuti juga nggak menghasilkan apa-apa. Dalam 3 bulan ini saya, saya bisa ikut lebih dari 3 kursus yang jalan bersamaan. Duh, sumpah keteter banget. Dan mulai minggu ini saya “mengeliminasi” beberapa kursus yang saya ikuti. Saya memilih mundur dan memulai menetapkan fokus dan prioritas.

Pertama, saya mulai dari hal-hal yang kecil dan simpel. Karena saat ini saya sedang fokus meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya, jadi mulai hari ini saya mulai belajar saya dengan belajar menghafal 5 vocab, menonton satu film pendek berbahasa inggris, membaca satu artikel bahasa inggris (saya baca thejakartapost) lalu menyalin artikel itu dibuku. Efektif kah? Dilihat saja nanti. Kalau kata Prof Renald Kasali, sih untuk menjadi sukses myelin kita juga harus digerakkan, supaya otot-otot dalam tubuh kita terbiasa dipakai bekerja.

Kedua, saya mulai membatasi penggunaan gadget. Saya mulai mengurangi kepo-kepo atau stalking baik instagram atau facebook. Saya juga telah meng-uninstal beberapa aplikasi socmed dihape. Saya tahu, nggak mungkin banget buat saya untuk meninggalkan gadget atau nggak online , harap maklum kerjaan saya disocmed semua. Saya mendapat uang dari sana hahaa. Tapi kalau terlalu over kan nggak baik juga, toh kerjanya juga nggak 24 jam cuma 4-5 jam aja sehari. Saya mulai mengganti bacaan , dari yang awalnya cuma baca timeline IG atau facebook saya ganti dengan baca buku (perlu banget dipaksa dan dibiasakan hihi).

“Mungkin ada yang bilang, ih kok baru mulai sih. Telat banget, teman-temanmu udah jauh didepan, kamunya baru mau mulai”.

Ya juga sih, usia udah berapa ini haha. Meskipun tidak bisa dibenarkan, tapi terlambat masih sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Nah, semoga langkah-langkah kecil ini bisa mengantarkan pada sesuatu yang besar didepan sana. Oiya, saya juga mengurangi “menggebu-gebu” diawal tapi “layu” ditengah-tengah. Jadi slow banget ini mah, kan katanya usaha ngga bakal mengkhianati. Jadi terus berusaha dan dalam berusaha itu butuh proses, karena ngga ada yang instan didunia ini. Mie instan aja masih butuh direbus kok, ya kan?

 

Cerita dari Lirboyo #2

P60620-212507-001
setelah sowan ndalem , foto dulu dong sama ustadzah nya 😀

Tiga hari menjadi santri dadakan benar-benar saya nikmati. Saya banyak belajar tentang banyak hal. Biasanya setiap malam setelah taraweh, kami ngaji kitab Arbain annawiyah yang dibacakan oleh Pak Ustadz. Dan 16 ramadhan yang lalu, adalah hari terakhir kitab itu dibacakan dan dimaknai. Rasanya kurang dan pengen ngaji lebih banyak lagi. Tapi namanya juga pesantren kilat jadi terbatas waktu. Pondok masih saja ramai walaupun sudah menujukkan pukul 12 malam. Mbak-mbak pondok induk masih sibuk Ro’an setelah acara peringatan nuzunul Quran. Saya masih belum bisa percaya kalau malam itu saya berada ditengah-tengah mereka. Saya dan teman-teman bahkan nyaris tidak tidur karena malam itu mata kami masih bening-bening. Nggak ngantuk hehe.

Hari terakhir pesantren kilat ditutup dengan acara pentas seni yang dimainkan oleh adik-adik santri kecil. Saya baru tahu ternyata mbak-mbak santri yang 24 jam hidupnya hanya dipondok punya kreativitas yang tinggi. Saya? Kalah jauh lah. Mereka bisa mendesain baju layaknya desainer hanya dengan menggunakan bahan seadanya. Bahkan baju dari plastik pun jadi. Pesantren kilat yang dimulai dari tanggal 3 ramadhan berakhir sudah pada tanggal 17 ramadhan kemarin. Rasanya engga rela banget, dan masih pengen ngaji hehe. Pentas seni sekaligus acara penutupan berakhir sekitar jam setengah 12 malam. Bagi yang kecil-kecil langsung disuruh tidur (meskipun kenyataannya mereka juga nggak tidur dan malah rame), sedangkan yang mbak-mbak diajak sowan ke ndalem. Sowan ndalem lagi? Bahagianya aku.

P60622-222401
After show! Meskipun dipondok kreativitas nggak boleh mati dong ya 😀

Begitu keluar , saya kaget ternyata diluar sudah ada banyak mbak-mbak santri asli. Dan gerbang P3TQ yang biasanya tidak pernah terbuka lebar malam itu terbuka lebar. Ada apa ini? Bukankah keluar pondok itu nggak boleh, apalagi ini sudah malam?. Tapi ini mbak-mbaknya malah kayak nyantai gitu duduk didepan. Ini ada acara apa? Setelah saya tanyakan ke Ustadzah ternyata mbak-mbak santri ini juga mau sowan ndalem. Malam itu Bu Nyai mau tindak umroh. Jadi semua santri pengen hormat ke Bu Nyai. Semua santri keluar dari “sarangnya” malam itu. Saya yang Cuma santri kilat ini, sedikit canggung berada ditengah-tengah mbak-mbak santri asliiii ini hehe :D.

Kami berdiri berjejer didekat ndalem, menunggu Bu Nyai keluar. Diluar ndalem mobil yang akan mengantar Bu Nyai sudah siap dan tampak kesibukan didalam rumah. Terlihat ning Ima dan mbak-mbak santri ndalem yang turut sibuk riwa-riwi. Begitu Bu Nyai keluar kami dipersilahkan untuk maju dan duduk didekat Bu Nyai. Tentu saya sedikit rebutan, karena malam itu banyak santri yang juga ingin mendapatkan posisi duduk sedekat mungkin dengan Bu Nyai. Saya? Yang hanya santri kilatan ini, entah bagiamana cerita bisa mendapatkan tempat duduk yang dekat dengan Bu Nyai. Sepertinya saya punya ilmu slidat-slidut yang bisa menyelinap menembus kerumunan mbak-mbak santri. Atau mungkin ini adalah berkah manusia berbadan kecil jadi bisa mbrobos sana sini hehe :D.

Lagi-lagi ketika baru saja duduk badan saya gemetar. Kami semua duduk dengan tenang diteras ndalem. Tidak banyak suara dan kami hanya duduk menunduk mendengarkan Bu Nyai. Lagi-lagi mata saya basah dan dada saya sesak dengan rasa aneh yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

“Ya allah engkau lah yang menuntunku kesini. Sungguh ini luar biasa”.

Sepertinya malam itu tidak hanya saya yang menangis, karena saya lihat matanya mbak-mabak yang lain juga berlimang air mata yang coba mereka tahan. Karena sudah malam Bu Nyai menyuruh kami untuk kembali kepondok.

“Pun dalu. Mbak-mbak balik pondok mawon. Acara pondok kan katah, monggo balik pondok mawon. Tadarus nopo ngaji liyane. Sholat malam e pun lali”.

Rasanya saya nggak rela beranjak dari tempat duduk saya sebelum Bu Nyai masuk mobil dan berangkat ke Surabaya. Tapi bagaimana lagi, sudah dawuh e Bu Nyai ngoten. Jadi kami pelan-pelan mundur dan mau balik pondok. Tapi baru saja mau mundur, tiba-tiba ada mobil hitam datang dan disusul suara dari gus “Oh, lha niki sampun dugi”. Ternyata itu adalah orang yang sedari dulu ditunggu oleh rombongan Bu Nyai. Kami tidak jadi balik pondok dan Bu Nyai pun tersenyum. Bu Nyai lalu masuk mobil, dan semua santri kompak balik badan menghormati melihat ke arah mobil Bu Nyai.

Ketika kang santri mengumandangkan adzan, saya tidak mampu membendung air mata begitu juga mbak-mbak santri yang lain. Acara malam itu begitu khidmat dan ditutup oleh doa. Perlahan mobil Bu Nyai bergerak meninggalkan pondok, sedangkan kami masih tetap berdiri terpaku melihatnya. Masyaallah. Kami lalu kembali kepondok dengan sisa-sisa air mata yang ada dimata kami.

“ nyapo nangis?” tanya ustadzah.

“engga tau ust. Tiba-tiba nangis aja”

Ustadzah hanya tertawa melihat kami yang santri dadakan ini menangis.

“ baguslah. Kalian menangis tandanya kalian masih punya hati. Hati kalian masih hidup”.

Ah..tiga hari tidur dipondok ini benar-benar membuka mata dan hati saya. Ini sekaligus menjawab pertanyaan saya kenapa santri kalau bertemu Kyai nya selalu menunduk. Ini adalah bentuk takdzim nya satri pada Kyai nya. Atau mungkin mereka tidak sanggup menahan air mata ketika menatap wajah teduh Kyai. Ketika lewat depan pondok induk , saya sering tiba-tiba kaget karena dipinggir jalan banyak santri yang berdiri sambil menunduk. Ditangan mereka ada sajadah dan kitab. Ini santri pada ngapain sih?

Lirboyo POJOK
Jalan ini yang setiap hari saya lewati. Dijalan ini pula saya sering bertemu dengan Mbah Yai ataupun Gus dan Ning 🙂 

Ternyata tidak lama setelah itu ada seseorang yang lewat dengan dibonceng motor oleh kang santri. Orang itu tidak lain adalah Mbah Yai. Entah baru akan berangkat ngajar ngaji atau sepulang dari ngaji. Oh, jadi ini alasannya kenapa daritadi santri berdiri menunduk dan membuat saya yang lewat merasa awkward banget. Mau bagaimana lagi? Itu jalan umum. Anggap saja itu berkah bisa sering bertemu Mbah Kyai dijalan hehe. Berkah juga karena bisa sering bertemu ning dan gus dijalan. Lha mau gimana lagi rumahnya mepet pondok hehe.

Tapi agak miris juga sih, rumahnya deket sama pondok pesantren yang punya santri puluhan ribu tapi nggak pernah merasakan mondok. Semoga saja, suatu saat ada kesempatan untuk menjadi santri. Santri asli bukan santri dadakan atau santri kilatan hehe :D.

Ramadhan Kareem. Sampai jumpa di pesantren kilat tahun depan. Insyallah 🙂

Cerita dari Lirboyo #1

“Aku hanya bisa duduk tertunduk dilantai, seluruh badanku gemetar. Dan mataku basah oleh air mata. Aku bahkan tidak mampu berkata sepatah katapun, hanya lantunan sholawat dalam hati”

Rangkaian pesantren kilat yang diadakan oleh Pondok Pesantren Tahfidzil Quran Lirboyo, ditutup dengan acara “Mondok singkat” yaitu para peserta pesantren kilat diberi kesempatan untuk merasakan tidur dipondok. Tiga hari tidur dipondok? Tentu kesempatan ini tidak saya lewatkan begitu saja. Hari senin yang lalu, setelah shalat isya saya berangkat ke pondok seperti biasa. Meskipun sebenarnya pada hari itu saya capek luar biasa, karena saya baru pulang dari Malang. Perjalanan pulang pergi Kediri-Malang dalam sehari lumayan menguras tenaga apalagi sebelumnya saya memang sedang kurang istirahat. Begitu sampai pondok saya “disambut” oleh Ustadzah Deva, yang kebetulan sedang udzur dan tidak sholat.

“Udzur nopo suci?” tanya Ustadzah Deva.

“Suci Ust. Tapi niki nembe mantuk dadose mboten tumut taraweh”

“ Nggeh pun. Niki mangke bade ziarah ten makam sekalian sowan ndalem Bu Nyai” .

Ziarah? Sowan Ndalem? Mendadak capek saya hilang. Mendadak ngantuknya juga hilang. I’m really excited. Sumpah. Tiba-tiba aja ada rasa bahagia yang luar biasa. Setelah taraweh selesai , saya dan para “santri dadakan” berjalan menuju makam pendiri Lirboyo. Dari pondok P3TQ barat kami jalan menuju pondok induk. Meskipun jalan yang dilewati adalah jalan yang setiap hari saya lewati, tapi perjalanan malam itu benar-benar membuat jantung saya berdetak lebih kencang dari biasanya.

pesantrenstory-20160624-0001
Makam para Kyai Lirboyo. Gambar saking IG ning @shofiakafa yang direpost oleh @pesantrenku .

 

Dimana letak makamnya? Ini kan jalan menuju pondok induk, kalau jalan agak ke timur sedikit sudah sampai ditoko Mama. Lah dimana sih makamnya?. Ternyata oh ternyata makamnya berada didalam pondok induk. Masuk area pondok induk banyak kang-kang santri haha . Ya iyalah itu kan memang pondoknya kang-kang santri -__- . Begitu masuk hawa dingin langsung terasa, eh bukan dingin deng tapi lebih ke hawa sejuk. Kami lalu duduk sekitar 5-7 meter dari makam. Didalam makam saya lihat banyak kang-kang santri yang membaca Al-Quran, membaca kitab atau hanya yasin dan tahlil. Sama sekali jauh kata menakutkan. Maklum ya saya ini penakut jadi kalau dengar kata makam bawaannya udah takut aja. Takut ada setan takut ada apalah.

lir1
Masjid Lawang Songo ( pict dari detik.com )

Malam itu tidak banyak aktivitas, hanya ada beberapa santri dan rombongan kami saja. Tapi anehnya, begitu masuk dan melintasi masjid lawang songo rasanya kayak ramai. Seperti sedang ada banyak aktivitas mengaji disitu. Setelah rombongan kami dipastikan tenang dan semua kebagian duduk, Pak Ustadz mulai memimpin doa yasin dan tahlil. Beruntung saat itu saya mendapatkan tempat duduk didepan , didekat tirai. Jadi bisa melihat makam para mbah kyai lirboyo. Ketika bacaan al-fatihah dimulai, tiba-tiba dada ini terasa sesak.

Ya Allah. Saya hidup dikediri, dilirboyo ini sudah bertahun-tahun. Tapi tidak pernah ziarah makam ke Kyai Lirboyo, jangankan ziarah. Saya saja baru tahu kalau ternyata makamnya para kyai lirboyo ada didalam pondok induk yang setiap hari saya lewat didepannya. Rasanya malu sekali pada Mbah Kyai. Pak ustadz terus melantukan tahlil diiringi para “santri dadakan” , tapi saya hanya bisa tertunduk. Dimataku sudah menggenang air mata yang terus saya tahan agar tidak sampai keluar. Dadaku terasa sesak dengan rasa haru.

“Ya Allah. Malam ini engkau lah yang memperjalankan hamba-Mu ini kesini. Ridho’i lah dan tuntunlah hamba. Allahumma sholi ‘ala muhammad”.

Saya seperti mimpi, duduk didepan makam Mbah Kyai. Lagi-lagi saya hanya mampu tertunduk dilantai. Tidak terasa bacaan tahlil telah usai, dan kami harus segera kembali kepondok. Niat awalnya mau sekalian sowan ndalem yang ada dibarat yang letaknya disebelah pondok induk. Tapi malam itu ternyata Bu Nyai ada di ndalem barat, jadilah kami segera kembali ke pondok barat untuk sowan ke ndalem. Untuk pertama kalinya (pokoknya semua serba pertama kali hehe), saya bisa melihat wajah Bu Nyai secara dekat. Masyallah wajahnya begitu teduh.

Kami duduk dilantai menunggu giliran untuk sungkem dengan Bu Nyai. Baru saja duduk dan mendengar suara Bu Nyai lagi-lagi badan saya gemetar. Saya tanya pada diri saya sendiri, emang tadi belum makan ya?. Tapi seingat saya, buka puasa tadi saya makan sepiring nasi lauknya capjay dan sepotong ayam kecap. Masak baru sejam sudah lapar lagi? Ah tidak, saya yakin betul, kalau saya gemetar saya bukan gemetar karena lapar seperti biasanya. Tapi kenapa badan saya begitu gemetar, dan dada rasanya juga sesak?.

“Kabeh iki tak aku santriku. Mugi-mugi ……”

Begitu Bu Nyai matur begitu, pecah sudah air mata yang sejak dari makam tadi dibendung biar nggak keluar. Saya bahkan tak sanggup mendengar kata-kata Bu Nyai lagi, hanya suara “AAMIIN” dari teman-teman santri dadakan itu. Saya sibuk dengan diri saya sendiri, sibuk menenangkan diri sendiri. Lagi-lagi saya hanya bisa tertunduk dalam. Lalu tibalah saat sungkeman itu. Saya kembali gemetar, tapi kali ini saya tahu penyebabnya :D. Saya gemetar karena akan sungkem dengan Bu Nyai. Saya takut kalau nanti sungkemnya salah gimana. Kan malu hehe. Saya ingat waktu pertama kali datang ke pondok ini, pertama kali ngaji. Sama ustadzah Nafis ditegur karena salim aja nggak bisa :D. Salim itu mencium tangannya Ustadzah/ Guru , bukan menempelkan tangan ustdzah dikening atau dipipi kita haha. Kalau ingat itu rasanya pengen ketawa.

Tibalah giliran saya maju untuk sungkem. Dengan menundukkan kepala, nggak berani melihat wajah Bu Nyai. Lagian nggak sopan juga kan , kalau meloloti Bu Nyai meskipun wajahnya begitu teduh. Dilihat dari jauh saja sudah terasa ayem dihati. Saya cium tangan Bu Nyai dan berharap berkah darinya. Sungguh rasanya begitu sejuk, begitu adem berada dekat beliau. Semoga Bu Nyai tansah pinaringan sehat wal’afiyat. Aamiin.

Malam itu, adalah malam pertamaku tidur dipondok. Pondok pesantren yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah. Pondok pesantren yang setiap hari saya lewati, pondok pesantren yang memiliki puluhan ribu santri dari berbagai macam daerah. Sedangkan saya? Saya yang sudah hidup bertahun-tahun didekatnya, ternyata butuh waktu 24 tahun untuk bisa mengetuk pintunya.

Ramadhan kareem ..

Berkah ramadhan. Semoga Allah Ridho.

 

Ditulis sambil jagain toko yang letaknya hanya beberapa meter dari pondok induk, dan didepan ndalem ning Ida (Putri Mbah Kyai Anwar) :D.