#Day2 : Satu Tahun Menjadi “Santri”.

photogrid_1462441839675
bersama ustadzah 🙂

Tidak terasa sudah tahun saya belajar di Ponpes Lirboyo. Hingga saat ini, rasanya masih belum percaya kalau saya bisa masuk lingkunga pondok pesantren. Satu tahun lalu, saya selalu dihantui oleh pertanyaan-pernyataan yang membuat saya takut setiap malam. Kalau ditanya Tuhan masa mudamu kamu gunakan untuk apa? Aku bisa jawab apa. Satu tahun lalu dengan bantuan seorang teman saya memperoleh info tentang ngaji dipesantren. Info yang cukup mengobati rasa “gak tenang” saya setiap malam.

Awal tahun 2015 yang lalu, karena kondisi “kejiwaan” saya yang goyah saya putuskan untuk lebih dekat dengan Tuhan. Karena itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan saya dari kegilaan haha. Saya mulai langkah saya dengan memfollow banyak akun dakwah di instragram, me-like fanpage islami (tapi sumpah ga follow jonru kok haha), ikut kajian-kajian yang akhirnya membuat saya menjadi ukhti-ukhti berjilbab lebar nan panjang. Tapi saya merasa tidak damai, justru muncul banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang malah membuat semakin bingung.

“ ngajine wes sampai mana, kitab e sudah sampai bab apa?”

Saya selalu ditanyai dengan pertanyaan yang sama ketika pulang kerumah mbah. Pertanyaan itu membuat saya semakin galau, karena selama mengikuti kajian-kajian itu ilmu yang saya dapatkan tidak utuh, dan bisa dikatakan saya nggak benar-benar ngaji (tulisan saya tentang itu bisa dilihat disini )  

Satu tahun lalu, dipagi hari itu saya beranikan diri saya untuk masuk pondok pesantren putri P3TQ Lirboyo seperti yang Anam sarankan. Baru sampai gerbang, langkah saya terhenti lalu saya putar balik motor saya. Tapi putar balik motor itu justru malah membuat saya masuk pondok :D. Ya iyalah, saya puternya dari gerbang selatan, sebelah selatannya masjid Al-Hasan lalu putar balik mau pulang di Wilis. Sampai didepan Indomaret bukannya belok kiri, masuk perumahan tapi malah belok kanan, gerbang depan Lirboyo :D. Yasudah, udah terlanjur masuk. Sampai dipondok, saya disambut oleh mbak-mbak santri (beliau adalah ustadzah Anis, yang sekarang sudah boyong L ). Dari hasil pertemuan itu , saya diijinkan untuk masuk kelas malam harinya. Semacam trial class gitulah.

2015-12-17 21.13.52
sumpah makan begini itu enak banget meskipun cuma pakai telor ceplok

Pertama ngaji, udah sok-sokan bawa Al-Quran. Giliran setoran ngaji, di tes sama ustadzah makrojnya hancur berantakan (terimakasih sekali pada ustadzah Nafisah yang begitu sabar ngajari manusia 24 tahun mengucapkan ش, ص, ض, ط, ظ  dan lainnya dengan baik dan benar). Ada banyak hal lucu yang terjadi pas awal-awal ngaji. Belajar makhroj itu ngga gampang ternyata, dan karena pengen banget bisa everything I do lah, bahkan sampai bawa kaca. What , kaca? Buat apa? jadi ya, saya bawa kaca kecil buat ngeliat mulut saya melafalkan huruf-huruf hijaiyah sesuai makhroj yang benar. Biar sesuai sama yang diajari ustadzahnya hahaha, tapi pas itu ketahuan sama Ustadzah Nafis dan beliau ketawa ngeliat tingkah polah saya hahhaaa.

photogrid_1462284205052
me with my gengsss haha

Satu tahun ngaji dipondok. Satu tahun menjadi santri, ya meskipun santrinya ga full. Genap satu tahun ini saya menyelesaikan ngaji tingkat jilid. Lama? Benar ini itungannya lama banget dari jilid satu-enam, karena kesalahan saya juga sih yang sering banget bolos sekolah. Sekolah sekaligus skripsi bukan hal mudah ternyata. Tapi tidak apa-apa setidaknya saya bisa melafalkan ش, ص, ض, ط, ظ  dengan benar hahaa.

Setelah skripsi selesai, semoga bisa rutin sekolahnya setidaknya untuk satu kedepan. Karena saya tidak tahu dimana takdir akan membawa saya setelah ini, tapi semoga masih dikasih kesempatan untuk belajar dipondok setidaknya satu tahun lagi :).

PS : Tulisan saya selengkapnya tentang pengalaman mondok saya di lirboyo bisa dilihat disini , disinidisinidisinidisini . Semoga bermanfaat yaa 🙂

#Day1 : Starting a new challenge.

picture-1
gambar diambil dari sini

Well, setelah posting tulisan curhat yang malah jatuhnya drama banget, hari ini saya akan menulis lagi hihi. Pagi ini saat bangun tidur saya langsung membaca bismillah dan senyum-senyum sendiri. Menurut yang saya baca, entah benar atau tidak tersenyum bisa membuat otak kita yakin kalau kita sedang bahagia. Jadi mungkin udah ada semacam program gitu ya diotak kita, yang kalau bibir kita tersenyum akan direspon oleh otak lalu diolah menjadi kebahagiaan. Ah embuh, ini analisa yang ngawur *maapkan saya bukan peneliti*. Mungkin ini juga alasannya, kenapa kalau pas nangis tapi tersenyum semacam ada kekuatan yang nambah gitu, atau sedikit berkurang sedihnya *Oh my, drama lagi*.

Mumpung masih suasana tahun baru, jadi dimanfaatkan betul untuk menuju perubahan. Padahal setiap tahun baru selalu bikin resolusi-resolusi tapi semuanya hanya berakhir dibuku catatan. Setelah saya analisis *tsah bahasanya masih ambu-ambu skripsi* , saya salah strategi. Saya itu kadang suka ngotot dan sok multitasking, padahal otaknya cuma sekelas intel atom. Udah jadi kebiasaan saya menuliskan target-target yang ingin dicapai dalam setiap tahunnya, selain itu juga nulis daftar-daftar impian baik yang ditempel didinding kamar atau ditulis dibuku. Kalau saya ngga salah hitung, seperti sudah ada 4 buku yang isinya “list mimpi dan target” tapi tidak banyak dari list itu yang dicoret.

“ focus will driving everything in your life, so keep on focus”

Gitu sih kalau kata mentor online saya, Brendon Burchard. Kebetulan nih saya dapat free buku motivasinya plus dapat free online training selama 12 minggu. Ehmm, ga free juga sih sebenarnya tapi bayar $7 , tapi sumpah worth banget kok. Lumayan  kan bisa sekalian belajar reading dan listening hahaha. Pantes , kalau semua target saya nggak ada yang tembus, lha wong saya nggak bisa fokus. Emang sih ya, gara-gara ngga bisa fokus banyak sekali tugas-tugas yang terbengkalai. Contoh yang masih anget banget ya skripsi, coba kalau dari dulu saya fokus pasti skripsinya ngga sampai “anniversary”. Lalu, kursus-kursus yang saya ikuti juga nggak menghasilkan apa-apa. Dalam 3 bulan ini saya, saya bisa ikut lebih dari 3 kursus yang jalan bersamaan. Duh, sumpah keteter banget. Dan mulai minggu ini saya “mengeliminasi” beberapa kursus yang saya ikuti. Saya memilih mundur dan memulai menetapkan fokus dan prioritas.

Pertama, saya mulai dari hal-hal yang kecil dan simpel. Karena saat ini saya sedang fokus meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya, jadi mulai hari ini saya mulai belajar saya dengan belajar menghafal 5 vocab, menonton satu film pendek berbahasa inggris, membaca satu artikel bahasa inggris (saya baca thejakartapost) lalu menyalin artikel itu dibuku. Efektif kah? Dilihat saja nanti. Kalau kata Prof Renald Kasali, sih untuk menjadi sukses myelin kita juga harus digerakkan, supaya otot-otot dalam tubuh kita terbiasa dipakai bekerja.

Kedua, saya mulai membatasi penggunaan gadget. Saya mulai mengurangi kepo-kepo atau stalking baik instagram atau facebook. Saya juga telah meng-uninstal beberapa aplikasi socmed dihape. Saya tahu, nggak mungkin banget buat saya untuk meninggalkan gadget atau nggak online , harap maklum kerjaan saya disocmed semua. Saya mendapat uang dari sana hahaa. Tapi kalau terlalu over kan nggak baik juga, toh kerjanya juga nggak 24 jam cuma 4-5 jam aja sehari. Saya mulai mengganti bacaan , dari yang awalnya cuma baca timeline IG atau facebook saya ganti dengan baca buku (perlu banget dipaksa dan dibiasakan hihi).

“Mungkin ada yang bilang, ih kok baru mulai sih. Telat banget, teman-temanmu udah jauh didepan, kamunya baru mau mulai”.

Ya juga sih, usia udah berapa ini haha. Meskipun tidak bisa dibenarkan, tapi terlambat masih sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Nah, semoga langkah-langkah kecil ini bisa mengantarkan pada sesuatu yang besar didepan sana. Oiya, saya juga mengurangi “menggebu-gebu” diawal tapi “layu” ditengah-tengah. Jadi slow banget ini mah, kan katanya usaha ngga bakal mengkhianati. Jadi terus berusaha dan dalam berusaha itu butuh proses, karena ngga ada yang instan didunia ini. Mie instan aja masih butuh direbus kok, ya kan?

 

Cerita dari Lirboyo #2

P60620-212507-001
setelah sowan ndalem , foto dulu dong sama ustadzah nya 😀

Tiga hari menjadi santri dadakan benar-benar saya nikmati. Saya banyak belajar tentang banyak hal. Biasanya setiap malam setelah taraweh, kami ngaji kitab Arbain annawiyah yang dibacakan oleh Pak Ustadz. Dan 16 ramadhan yang lalu, adalah hari terakhir kitab itu dibacakan dan dimaknai. Rasanya kurang dan pengen ngaji lebih banyak lagi. Tapi namanya juga pesantren kilat jadi terbatas waktu. Pondok masih saja ramai walaupun sudah menujukkan pukul 12 malam. Mbak-mbak pondok induk masih sibuk Ro’an setelah acara peringatan nuzunul Quran. Saya masih belum bisa percaya kalau malam itu saya berada ditengah-tengah mereka. Saya dan teman-teman bahkan nyaris tidak tidur karena malam itu mata kami masih bening-bening. Nggak ngantuk hehe.

Hari terakhir pesantren kilat ditutup dengan acara pentas seni yang dimainkan oleh adik-adik santri kecil. Saya baru tahu ternyata mbak-mbak santri yang 24 jam hidupnya hanya dipondok punya kreativitas yang tinggi. Saya? Kalah jauh lah. Mereka bisa mendesain baju layaknya desainer hanya dengan menggunakan bahan seadanya. Bahkan baju dari plastik pun jadi. Pesantren kilat yang dimulai dari tanggal 3 ramadhan berakhir sudah pada tanggal 17 ramadhan kemarin. Rasanya engga rela banget, dan masih pengen ngaji hehe. Pentas seni sekaligus acara penutupan berakhir sekitar jam setengah 12 malam. Bagi yang kecil-kecil langsung disuruh tidur (meskipun kenyataannya mereka juga nggak tidur dan malah rame), sedangkan yang mbak-mbak diajak sowan ke ndalem. Sowan ndalem lagi? Bahagianya aku.

P60622-222401
After show! Meskipun dipondok kreativitas nggak boleh mati dong ya 😀

Begitu keluar , saya kaget ternyata diluar sudah ada banyak mbak-mbak santri asli. Dan gerbang P3TQ yang biasanya tidak pernah terbuka lebar malam itu terbuka lebar. Ada apa ini? Bukankah keluar pondok itu nggak boleh, apalagi ini sudah malam?. Tapi ini mbak-mbaknya malah kayak nyantai gitu duduk didepan. Ini ada acara apa? Setelah saya tanyakan ke Ustadzah ternyata mbak-mbak santri ini juga mau sowan ndalem. Malam itu Bu Nyai mau tindak umroh. Jadi semua santri pengen hormat ke Bu Nyai. Semua santri keluar dari “sarangnya” malam itu. Saya yang Cuma santri kilat ini, sedikit canggung berada ditengah-tengah mbak-mbak santri asliiii ini hehe :D.

Kami berdiri berjejer didekat ndalem, menunggu Bu Nyai keluar. Diluar ndalem mobil yang akan mengantar Bu Nyai sudah siap dan tampak kesibukan didalam rumah. Terlihat ning Ima dan mbak-mbak santri ndalem yang turut sibuk riwa-riwi. Begitu Bu Nyai keluar kami dipersilahkan untuk maju dan duduk didekat Bu Nyai. Tentu saya sedikit rebutan, karena malam itu banyak santri yang juga ingin mendapatkan posisi duduk sedekat mungkin dengan Bu Nyai. Saya? Yang hanya santri kilatan ini, entah bagiamana cerita bisa mendapatkan tempat duduk yang dekat dengan Bu Nyai. Sepertinya saya punya ilmu slidat-slidut yang bisa menyelinap menembus kerumunan mbak-mbak santri. Atau mungkin ini adalah berkah manusia berbadan kecil jadi bisa mbrobos sana sini hehe :D.

Lagi-lagi ketika baru saja duduk badan saya gemetar. Kami semua duduk dengan tenang diteras ndalem. Tidak banyak suara dan kami hanya duduk menunduk mendengarkan Bu Nyai. Lagi-lagi mata saya basah dan dada saya sesak dengan rasa aneh yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

“Ya allah engkau lah yang menuntunku kesini. Sungguh ini luar biasa”.

Sepertinya malam itu tidak hanya saya yang menangis, karena saya lihat matanya mbak-mabak yang lain juga berlimang air mata yang coba mereka tahan. Karena sudah malam Bu Nyai menyuruh kami untuk kembali kepondok.

“Pun dalu. Mbak-mbak balik pondok mawon. Acara pondok kan katah, monggo balik pondok mawon. Tadarus nopo ngaji liyane. Sholat malam e pun lali”.

Rasanya saya nggak rela beranjak dari tempat duduk saya sebelum Bu Nyai masuk mobil dan berangkat ke Surabaya. Tapi bagaimana lagi, sudah dawuh e Bu Nyai ngoten. Jadi kami pelan-pelan mundur dan mau balik pondok. Tapi baru saja mau mundur, tiba-tiba ada mobil hitam datang dan disusul suara dari gus “Oh, lha niki sampun dugi”. Ternyata itu adalah orang yang sedari dulu ditunggu oleh rombongan Bu Nyai. Kami tidak jadi balik pondok dan Bu Nyai pun tersenyum. Bu Nyai lalu masuk mobil, dan semua santri kompak balik badan menghormati melihat ke arah mobil Bu Nyai.

Ketika kang santri mengumandangkan adzan, saya tidak mampu membendung air mata begitu juga mbak-mbak santri yang lain. Acara malam itu begitu khidmat dan ditutup oleh doa. Perlahan mobil Bu Nyai bergerak meninggalkan pondok, sedangkan kami masih tetap berdiri terpaku melihatnya. Masyaallah. Kami lalu kembali kepondok dengan sisa-sisa air mata yang ada dimata kami.

“ nyapo nangis?” tanya ustadzah.

“engga tau ust. Tiba-tiba nangis aja”

Ustadzah hanya tertawa melihat kami yang santri dadakan ini menangis.

“ baguslah. Kalian menangis tandanya kalian masih punya hati. Hati kalian masih hidup”.

Ah..tiga hari tidur dipondok ini benar-benar membuka mata dan hati saya. Ini sekaligus menjawab pertanyaan saya kenapa santri kalau bertemu Kyai nya selalu menunduk. Ini adalah bentuk takdzim nya satri pada Kyai nya. Atau mungkin mereka tidak sanggup menahan air mata ketika menatap wajah teduh Kyai. Ketika lewat depan pondok induk , saya sering tiba-tiba kaget karena dipinggir jalan banyak santri yang berdiri sambil menunduk. Ditangan mereka ada sajadah dan kitab. Ini santri pada ngapain sih?

Lirboyo POJOK
Jalan ini yang setiap hari saya lewati. Dijalan ini pula saya sering bertemu dengan Mbah Yai ataupun Gus dan Ning 🙂 

Ternyata tidak lama setelah itu ada seseorang yang lewat dengan dibonceng motor oleh kang santri. Orang itu tidak lain adalah Mbah Yai. Entah baru akan berangkat ngajar ngaji atau sepulang dari ngaji. Oh, jadi ini alasannya kenapa daritadi santri berdiri menunduk dan membuat saya yang lewat merasa awkward banget. Mau bagaimana lagi? Itu jalan umum. Anggap saja itu berkah bisa sering bertemu Mbah Kyai dijalan hehe. Berkah juga karena bisa sering bertemu ning dan gus dijalan. Lha mau gimana lagi rumahnya mepet pondok hehe.

Tapi agak miris juga sih, rumahnya deket sama pondok pesantren yang punya santri puluhan ribu tapi nggak pernah merasakan mondok. Semoga saja, suatu saat ada kesempatan untuk menjadi santri. Santri asli bukan santri dadakan atau santri kilatan hehe :D.

Ramadhan Kareem. Sampai jumpa di pesantren kilat tahun depan. Insyallah 🙂

Cerita dari Lirboyo #1

“Aku hanya bisa duduk tertunduk dilantai, seluruh badanku gemetar. Dan mataku basah oleh air mata. Aku bahkan tidak mampu berkata sepatah katapun, hanya lantunan sholawat dalam hati”

Rangkaian pesantren kilat yang diadakan oleh Pondok Pesantren Tahfidzil Quran Lirboyo, ditutup dengan acara “Mondok singkat” yaitu para peserta pesantren kilat diberi kesempatan untuk merasakan tidur dipondok. Tiga hari tidur dipondok? Tentu kesempatan ini tidak saya lewatkan begitu saja. Hari senin yang lalu, setelah shalat isya saya berangkat ke pondok seperti biasa. Meskipun sebenarnya pada hari itu saya capek luar biasa, karena saya baru pulang dari Malang. Perjalanan pulang pergi Kediri-Malang dalam sehari lumayan menguras tenaga apalagi sebelumnya saya memang sedang kurang istirahat. Begitu sampai pondok saya “disambut” oleh Ustadzah Deva, yang kebetulan sedang udzur dan tidak sholat.

“Udzur nopo suci?” tanya Ustadzah Deva.

“Suci Ust. Tapi niki nembe mantuk dadose mboten tumut taraweh”

“ Nggeh pun. Niki mangke bade ziarah ten makam sekalian sowan ndalem Bu Nyai” .

Ziarah? Sowan Ndalem? Mendadak capek saya hilang. Mendadak ngantuknya juga hilang. I’m really excited. Sumpah. Tiba-tiba aja ada rasa bahagia yang luar biasa. Setelah taraweh selesai , saya dan para “santri dadakan” berjalan menuju makam pendiri Lirboyo. Dari pondok P3TQ barat kami jalan menuju pondok induk. Meskipun jalan yang dilewati adalah jalan yang setiap hari saya lewati, tapi perjalanan malam itu benar-benar membuat jantung saya berdetak lebih kencang dari biasanya.

pesantrenstory-20160624-0001
Makam para Kyai Lirboyo. Gambar saking IG ning @shofiakafa yang direpost oleh @pesantrenku .

 

Dimana letak makamnya? Ini kan jalan menuju pondok induk, kalau jalan agak ke timur sedikit sudah sampai ditoko Mama. Lah dimana sih makamnya?. Ternyata oh ternyata makamnya berada didalam pondok induk. Masuk area pondok induk banyak kang-kang santri haha . Ya iyalah itu kan memang pondoknya kang-kang santri -__- . Begitu masuk hawa dingin langsung terasa, eh bukan dingin deng tapi lebih ke hawa sejuk. Kami lalu duduk sekitar 5-7 meter dari makam. Didalam makam saya lihat banyak kang-kang santri yang membaca Al-Quran, membaca kitab atau hanya yasin dan tahlil. Sama sekali jauh kata menakutkan. Maklum ya saya ini penakut jadi kalau dengar kata makam bawaannya udah takut aja. Takut ada setan takut ada apalah.

lir1
Masjid Lawang Songo ( pict dari detik.com )

Malam itu tidak banyak aktivitas, hanya ada beberapa santri dan rombongan kami saja. Tapi anehnya, begitu masuk dan melintasi masjid lawang songo rasanya kayak ramai. Seperti sedang ada banyak aktivitas mengaji disitu. Setelah rombongan kami dipastikan tenang dan semua kebagian duduk, Pak Ustadz mulai memimpin doa yasin dan tahlil. Beruntung saat itu saya mendapatkan tempat duduk didepan , didekat tirai. Jadi bisa melihat makam para mbah kyai lirboyo. Ketika bacaan al-fatihah dimulai, tiba-tiba dada ini terasa sesak.

Ya Allah. Saya hidup dikediri, dilirboyo ini sudah bertahun-tahun. Tapi tidak pernah ziarah makam ke Kyai Lirboyo, jangankan ziarah. Saya saja baru tahu kalau ternyata makamnya para kyai lirboyo ada didalam pondok induk yang setiap hari saya lewat didepannya. Rasanya malu sekali pada Mbah Kyai. Pak ustadz terus melantukan tahlil diiringi para “santri dadakan” , tapi saya hanya bisa tertunduk. Dimataku sudah menggenang air mata yang terus saya tahan agar tidak sampai keluar. Dadaku terasa sesak dengan rasa haru.

“Ya Allah. Malam ini engkau lah yang memperjalankan hamba-Mu ini kesini. Ridho’i lah dan tuntunlah hamba. Allahumma sholi ‘ala muhammad”.

Saya seperti mimpi, duduk didepan makam Mbah Kyai. Lagi-lagi saya hanya mampu tertunduk dilantai. Tidak terasa bacaan tahlil telah usai, dan kami harus segera kembali kepondok. Niat awalnya mau sekalian sowan ndalem yang ada dibarat yang letaknya disebelah pondok induk. Tapi malam itu ternyata Bu Nyai ada di ndalem barat, jadilah kami segera kembali ke pondok barat untuk sowan ke ndalem. Untuk pertama kalinya (pokoknya semua serba pertama kali hehe), saya bisa melihat wajah Bu Nyai secara dekat. Masyallah wajahnya begitu teduh.

Kami duduk dilantai menunggu giliran untuk sungkem dengan Bu Nyai. Baru saja duduk dan mendengar suara Bu Nyai lagi-lagi badan saya gemetar. Saya tanya pada diri saya sendiri, emang tadi belum makan ya?. Tapi seingat saya, buka puasa tadi saya makan sepiring nasi lauknya capjay dan sepotong ayam kecap. Masak baru sejam sudah lapar lagi? Ah tidak, saya yakin betul, kalau saya gemetar saya bukan gemetar karena lapar seperti biasanya. Tapi kenapa badan saya begitu gemetar, dan dada rasanya juga sesak?.

“Kabeh iki tak aku santriku. Mugi-mugi ……”

Begitu Bu Nyai matur begitu, pecah sudah air mata yang sejak dari makam tadi dibendung biar nggak keluar. Saya bahkan tak sanggup mendengar kata-kata Bu Nyai lagi, hanya suara “AAMIIN” dari teman-teman santri dadakan itu. Saya sibuk dengan diri saya sendiri, sibuk menenangkan diri sendiri. Lagi-lagi saya hanya bisa tertunduk dalam. Lalu tibalah saat sungkeman itu. Saya kembali gemetar, tapi kali ini saya tahu penyebabnya :D. Saya gemetar karena akan sungkem dengan Bu Nyai. Saya takut kalau nanti sungkemnya salah gimana. Kan malu hehe. Saya ingat waktu pertama kali datang ke pondok ini, pertama kali ngaji. Sama ustadzah Nafis ditegur karena salim aja nggak bisa :D. Salim itu mencium tangannya Ustadzah/ Guru , bukan menempelkan tangan ustdzah dikening atau dipipi kita haha. Kalau ingat itu rasanya pengen ketawa.

Tibalah giliran saya maju untuk sungkem. Dengan menundukkan kepala, nggak berani melihat wajah Bu Nyai. Lagian nggak sopan juga kan , kalau meloloti Bu Nyai meskipun wajahnya begitu teduh. Dilihat dari jauh saja sudah terasa ayem dihati. Saya cium tangan Bu Nyai dan berharap berkah darinya. Sungguh rasanya begitu sejuk, begitu adem berada dekat beliau. Semoga Bu Nyai tansah pinaringan sehat wal’afiyat. Aamiin.

Malam itu, adalah malam pertamaku tidur dipondok. Pondok pesantren yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah. Pondok pesantren yang setiap hari saya lewati, pondok pesantren yang memiliki puluhan ribu santri dari berbagai macam daerah. Sedangkan saya? Saya yang sudah hidup bertahun-tahun didekatnya, ternyata butuh waktu 24 tahun untuk bisa mengetuk pintunya.

Ramadhan kareem ..

Berkah ramadhan. Semoga Allah Ridho.

 

Ditulis sambil jagain toko yang letaknya hanya beberapa meter dari pondok induk, dan didepan ndalem ning Ida (Putri Mbah Kyai Anwar) :D.

“Rumah Burung Dara”

Mungkin untuk beberapa bulan kedepan kamar atas akan jadi tempat terbaik untuk “mengasingkan diri”. Untuk saat ini kamar atas ini adalahtempat yang paling kondusif untuk belajar. Jauh dari kulkas dan meja makan haha. Kamar yang ga pernah ditempati, dan sejak Mas tidak ada dipake buat menyimpan semua barang-barangnya. Ya bajunya, ya tempat tidurnya,ya lemarinya. Dulu saya sering tertidur dikamarnya, dan ketika bangun sudah pindah ke kamar saya sendiri. Kira-kira kalau sekarang saya tertidur disini pas bangun bisa langsung dikamar saya ga ya? :D.

Teras kamar atas ini dulunya jadi tempat favorit Mas buat merenung (katanya sih gitu), ditemani secangkir kopi dan rokok. Kadang saya juga nongkrong dan ngobrol bersamanya. Kalau bosen diteras kita pindah diatas genteng (ini serius!). Bahkan kami pernah nyalain kembang api diatas genteng. Rumah kami memang 2 lantai sejak dulu tapi dilantai 2 hanya ada satu kamar. Kalau saya bilang sih kamar atas ini mirip sama rumah burung dara. Cuma ada satu kamar gitu. Dan disebelahnya sudah genteng , jadi kalau mau naik genteng mudah , tinggal lompat aja.

IMG_20150430_171414
Itu tuh, kamar rumah burung dara. Nah disebelah kamar itu genteng yang biasa saya pakai selonjoran dulu :D. Tempat itu kini tidak ada lagi, karena sudah direnovasi. Sekarang kamar rumah burung dara itu punya tetangga kamar 😀

Diatas genteng rumah. Tempat yang sering dipakai Mas buat ngilangin suntuk (katanya sih gitu), itu kemudian juga menjadi tempat favorit saya kalau lagi suntuk. Jangan salahkan saya kalau kakean polah, karena itu ajarannya Mas saya hehehe. Ketika lagi suntuk banget, saya biasanya langsung naik keatas, lalu lompat ke genteng. Selonjoran gitu, sambil dengerin lagu dari hape nokia saya (yang jaman dulu  masih hitss banget). Kalau pas kebetulan langitnya cerah dan banyak bintang saya nggak cuma selonjoran tapi malah tidur terlentang ngadep kelangit. Sambil senyum-senyum karena berasa kayak difilm-film itu.

Apa engga dimarahin papa mama? Tenang. Mereka sudah kebal dengan kelakuan aneh anak-anaknya dan sudah bosen ngomelin kami. Trus nggak malu apa sama tetangga? Tenang. Diatas genteng itu cahayanya ga banyak, jadi gelap (tapi nggak gelap-gelap banget) jadi nggak keliatan dari bawah. Diteras kamar atas (baik teras belakang atau teras depan) , dan diatas genteng saya banyak menghabiskan waktu bersama Mas. Kami ngobrol tentang apapun mulai dari musik, agama, sekolah, yang pada akhirnya selalu berakhir dengan debat. Engga tau kenapa kalau ngomong saya dia itu bawaannya pengen ndebat aja, soalnya dia itu kalau ngeluarin opini selalu opini yang debat-able. Meskipun sering debat dan kadang bertengkar tapi kami saling sayang hihi.

Betewe, pas nulis ini windows media player yang ada dilaptop muter lagunya westlife yang season in the sun. Itu lagu kesukaan Mas, dan kami sering nyanyiin ini bareng. Ketika sudah kuliah pun hobi selonjoran diatas genteng masih sering saya lakukan. Sampai pada akhirnya malam yang memalukan itu datang. Pas lagi asyik-asyik tiduran diatas genteng, sambil ngeliat bintang-bintang malam dari bawah tetangga saya teriak. “Mbaaakkk iing, sampean nyapo nang kono?”. Sumpah sejak saat itu, saya nggak naik-naik genteng lagi. Eh, masih naik genteng deng, kalau mau jemur bantal atau boneka-boneka “warisan” dari Mbak. Seumur hidup saya meskipun saya anak perempuan saya hanya satu boneka!. Itupun hadiah dari Mbak Sepupu dan pacarnya pas ulang tahun saya pas saya masih SMP. Jadi kalau ada banyak boneka dikamar saya bahkan bonekanya sampe punya rumah, aseli itu bukan punya saya haha.

Siang ini, dikamar atas ini dan rintik hujan diluar saya benar-benar merindukan Mas. Merindukan masa kecil kami. Masa kecil yang saya lalui bersama Mbak dan Mas. Meskipun kami tidak lahir dari rahim ibu yang sama tapi ikatan diantara kami begitu kuat. Mbak dan Mas , dua kakak-beradik itu begitu menyayangi saya, begitu mencintai saya seperti adiknya sendiri. Mereka ikhlas membagi kasih sayang Ibu Bapaknya kepada saya. Mereka selalu menuntut hak yang sama, apapun yang diberikan oleh orang tuanya kepada mereka juga harus diberikan pada saya. Meskipun sehari-hari kami nyaris tidak ada kegaduhan yang tidak kami buat. Digelitikin sampe nangis, kejar-kejaran didalam rumah meskipun saat itu saya sudah SMA, rebutan makanan, rebutan remote TV, dan pas menjelang hari raya pasti banyak parcel yang datang kerumah. Kami selalu rebutan parcel, yang mana yang paling banyak isinya dan yang paling enak jajannya. Nah kalau ini, biasanya yang sering dapat Zonk itu Mas. Hahaha dia terlalu terburu-buru kalau milih.

Kenapa jadi MELLLOOOWWW? Ahhh… sudahlah hujan semakin deras. Dikamar atas ini , meskipun tak lagi sama seperti dulu. Sekarang kamar atas ini tak lagi seperti rumah dara, dan kamar atas kini punya tetangga kamar tapi kenangannya tidak akan pernah hilang. Meskipun saya tak lagi bisa “tinggal lompat” buat biasa keatas genteng , ya kali sekarang mau naik genteng yang mana? Rumahnya sudah berubah total dan gentengnya juga semakin tinggi. Untuk beberapa bulan kedepan saya akan banyak menghabiskan waktu saya disini, dikamar atas dengan segala perabotan milik Mas lengkap beserta kenangan bersamanya. Semoga dia ridho ya hihii, dan ngga ngusir-ngusir saya dari kamarnya , karena hobi saya nonton TV dikamarnya sampe ketiduran dikamarnya :D.

 

A Woman Who Comes From A Broken Home Family

Fighting-Parents

“Tapi aku ragu. Dia anak broken home. Keluarganya Gak Jelas”.

Kalimat tersebut diucapkan oleh sahabat saya, beberapa tahun yang lalu. Saat kami masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Mendengar dia berkata seperti itu rasanya saya pengen banget mukul dia, getok kepalanya pakai sepatu. Bukan apa-apa sih, sebel banget gak sih. Udah dibantuin buat deket sama wanita yang dia sukai, giliran ceweknya udah mau dianya malah ragu garagara tahu sicewek dari keluarga broken. Ih, dia gak ingat apa mohon-mohon minta dicomblangi , begitu deket malah dianya mundur. Memang , kalau mau dilihat dari latar belakang keluarga sahabat saya itu bisa dibilang hidupnya sempurna. Dia anak tunggal, Ibunya seorang bidan dan ayahnya seorang dokter, dia biasa hidup berkecukupan, dan dia juga menjadi anak kebanggan yang digadang-gadang menjadi penerus ayahnya. Menjadi seorang dokter. Mungkin itu juga yang membuat dia memikirkan betul siapa yang pantas berada disampingnya, hingga status wanita pendampingnya begitu sangat penting baginya.

Memang ia tidak salah, ia hanya ingin mendapatkan pendamping yang terbaik. Begitu juga si wanita yang berasal dari keluarga broken home. Ia juga tidak bersalah, karena menjadi anak yang broken home tentu juga bukan keinginannya. Lalu siapa yang salah? Dosakah menjadi anak broken home? Hinakah seorang anak broken home? Tentu saja TIDAK!. Sudah menjadi hal yang biasa kalau anak-anak broken home mendapatkan stigma buruk dari masyarakat. Bahkan orang-orang cenderung lebih bisa menerima anak-anak broken home itu sebagai anak yang nakal, urakan , dan tidak tahu sopan santun. Dan selalu mempertanyakan “Kok bisa ya, kan kamu dari keluarga broken home” ketika anak broken home itu menjadi anak yang baik, manis, sholehah dan suka menabung :D. Mereka itu kalau ngomong engga dipikir dulu apa ya?

Bagi saya pribadi anak-anak broken home adalah anak-anak yang memiliki kekuatan diatas rata-rata. Ya kuat fisik, ya kuat hati, dan beruntungnya hati mereka itu buatannya Allah. Coba kalau buatan pabrik mungkin hati mereka sudah jadi butiran debu dijalanan :D. Gimana gak kuat coba, ketika orang tuanya berpisah mau tidak mau mereka harus menjadi mandiri. Menyiapkan segala keperluannya sendiri dan jika dia punya adik ia akan menjadi “Ibu atau Ayah Palsu” bagi adik-adiknya. Bisa bayangin anak usia belasan tahun, atau mungkin lebih kecil dari itu menjadi “Ibu atau ayah”?.

Keluarga yang tidak utuh kadang-kadang membuat anak broken home rapuh sesaat. Beruntunglah mereka yang mampu mengatasi kerapuhannya dengan cepat. Dan mereka yang gagal keluar dari kerapuhannya, lalu melampiaskan ke hal-hal yang negatif itu bukan salah mereka. Itu salahnya orang tua yang gagal memberikan perhatian pada anaknya, dan mereka egois , masing-masing ingin mengobati luka hati sendiri tapi lupa pada anaknya. Menjadi anak broken home memang menyakitkan. Mau ditutup-tutupin gimanapun luka itu pasti ada, mau “tidak apa-apa” pun kenyataannya “apa-apa”.

Bagi saya , anak broken home adalah manusia biasa dengan kekuatan menghadapi masalah diatas rata-rata. Ia tumbuh dalam perjuangan hidup yang tidak mudah. Selalu berusaha tersenyum dan tegar. Dia mungkin menangis , tangisan diam-diam ketika dunia terlelap berharap tak seorangpun melihat tangisannya. Tapi percayalah, meskipun ia menangis tapi ia tidak akan menangis untuk urusan remeh-temeh. Hal-hal sepele selalu bisa mereka atasi dengan cara mereka sendiri. Tangisannya begitu berharga, ia menangis untuk sebuah kehilangan.

Apa yang hilang darinya? Masa kecil bersama kedua orang tua. Cinta yang harusnya dia dapatkan dari kedua orang tuanya. Mereka bukan anak yatim piatu tapi terpaksa menjadi yatim palsu. Ayah Ibunya masih bisa mereka lihat, masih bisa mereka ajak bicara, tapi dari mereka dia justru menerima “kebencian”.

“Bapakmu laki-laki yang tidak bertanggung jawab”

“Seandainya Ibumu tidak memilih pergi. Mungkin kita masih bisa tinggal bersama”.

Dari mulut ibunya dia dengar kekecewaan pada Ayah yang dia cintai. Dari ayahnya ia mendengar kekecewaan pada Ibu yang sangat ia kasihi. Pada saat yang sama, ia juga harus mendengarkan omongan tetangga yang suka ghibah. Ya, anak broken home akan selalu menemukan kekuatan untuk menghadapi itu semua. Dia sudah terlatih menghadapi rasa-rasa sakit yang tiba-tiba bikin napas serasa berhenti. Oleh nasib ia dipaksa menjadi dewasa. Saya menyebutnya “Dewasa Karbitan”. Dewasa sebelum waktunya.

Anak-anak broken home selalu punya cara untuk bertahan dan bersikap biasa ditengah badai masalah yang buruk sekalipun. Mereka selalu punya cara untuk bersembunyi dari kesedihannya, mengganti tangis dengan senyum. Mereka selalu bisa melakukannya dengan sangat baik. Ketika kecil anak-anak broken home dicemooh karena mereka “tidak punya ayah / Ibu” karena orang tua berpisah. Saat dewasa anak-anak broken home akan kembali bertemu orang-orang yang menyebalkan. Orang-orang yang mendewakan nasab. Menempatkan  “berasal dari keluarga baik-baik” diurutan pertama syarat menjadi mantu. Pada posisi ini mungkin perempuan-perempuan broken home akan lebih mengalami kesulitan dan. Perempuan dinikahi berdasarkan 4 hal. Pertama dari kecantikannya, kekayaan, nasabnya. lalu agamanya. Dan sepertinya ini tidak berlaku bgai laki-laki. Seorang laki-laki broken home lebih acceptable ketimbang perempuan broken home untuk dijadikan mantu. Ya asal si laki-laki sudah mapan, kemungkinan dia ditolak menjadi mantu lebih sedikit.

Saya percaya, kelak ketika perempuan broken home menikah jodohnya itu adalah laki-laki yang kuat. Tidak hanya laki-laki itu tapi juga keluarga si laki-laki. Sebelum menikah mereka pasti kenyang dengan pertanyaan “Kenapa sama dia. Kan dia berasal dari keluarga broken?”. Dan mungkin pernyataan yang menyakitkan “Jangan nikah sama anak broken, nanti rumah tanggamu ikutan hancur”.  Padahal andai mereka tahu, seorang perempuan broken home ketika menjadi istri ia akan menjadi istri yang exellent. Dia akan menjadi istri yang menomorsatukan keluarga. Suami dan anak-anak menjadi prioritas utama bagi mereka. Karena mereka sadar, keluarga adalah yang paling utama. Dan sebagai mantu mereka akan menjadi mantu idaman ibu mertua. Dia akan menyayangi ibu mertua layaknya ibunya sendiri, menganggap Ayah mertua sebagai ayah sendiri. Menjadikan Mertua sebagai pelabuhan mimpi tentang cinta dan kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan dari kedua orang tuanya.

“Ketika kamu menikahi perempuan dari keluarga yang tidak sempurna, barangkali kamu telah menikahi perempuan terbaik didunia. Perempuan dengan segala ketidaksempurnaannya akan menyempurnakanm dan sekelilingmu. Ketika kamu melihat perempuan dari masa lalu yang tidak sempurna , kamu tengah melihat perempuan hebat dengan segala keajaiban yang ada dalam hidupnya” – FAHD PAHDEPIE-

Kertas Mimpi

P60409-021308-001
penampakan 😀

Hallo selamat malam menjelang pagi. Iya, tulisan ini saya buat tepat pukul 00.05 dini hari. Tumben ya jam segini belum merem, dan mata masih seger nih belum ada tanda-tanda ngantuk. Tumben banget. Mungkin karena hati lagi “kemrungsung” jadi matapun enggak mau merem. saya lihat disekeliling saya, ada banyak tempelan kertas warna-warni. Ditembok kamar, dilemari, dimeja belajar. Kayak anak TK ya? Hehe. Tidak apa-apa, karena kertas-kertas itu adalah penjaga mimpiku. Kadang juga bisa jadi motivatorku.

Saya terbiasa nulis sejak kecil, termasuk menuliskan segala keinginan dalam secarik kertas. Senang rasanya ketika bangu tidur yang dilihat deretan-deretan tulisan mimpi. Senang rasanya ketika satu persatu kertas itu dilepas karena sudah berhasil dicapai. Senang rasanya ketika menuliskan kembali mimpi-mimpi baru dikertas lalu menempelkannya dimana saja, dilemari, didinding, dimeja belajar, bahkan disamping tempat tidur. Jadi tiap gerak kekanan-kekiri mata langsung tertuju pada tulisan-tulisan itu.

Kadang dalam menuliskan mimpi dikertas-kertas itu saya harus menggunakan istilah-istilah atau sandi supaya tidak ada orang yang tahu. Itu berlaku untuk “misi-misi” rahasia hehe. Tidak jarang saya ditertawakan oleh teman-teman saya yang kebetulan membacanya. Tidak hanya dirumah, tapi tembok kamar kost pun kadang juga tertempel tulisan disana-sini. It’s oke, I’m happy with that. Tapi menyedihkan, akhir-akhir ini kertas-kertas layaknya kertas kosong tanpa tulisan. Hanya tertempel begitu saja. Bahkan ketika kertas yang paling besar jatuh, penulisnya enggan menempelkannya lagi. Malah digulung dan dilempar diatas lemari. Padahal kertas besar warna itu , penuh dengan tulisan target-target yang akan dicapai, hingga “peta hidup” yang akan dijalani.

Ya, dalam satu-dua tahunan ini saya kehilangan “keliaran” saya dalam mengejar mimpi-mimpi saya. Dalam satu-dua tahunan ini, ketika saya ditanya apa mimpi? Saya akan jawab menikah. Kalau saya ditanya apa keinginanmu? Maka saya akan jawab ketemu jodoh. Kalau ditanya apa yang kamu lakukan untuk mimpi-mimpimu? Jawabannya tidak ada. Satu-dua tahunan ini, saya kehilangan banyak hal. Mulai dari kehilangan pacar, kehilangan semangat, sampai yang paling menyedihkan adalah kehilangan mimpi-mimpi saya.

Dulu ketika ditanya mau jadi apa nanti? Maka dengan mantap saya akan menjadi jurnalis seperti Najwa Shihab atau Meutia Hafid atau menjadi reporter acara jalan-jalan dan makan ditelevisi. Atau bisa juga jadi wartawan surat kabar yang bertugas meliput pertandingan sepak bola nasional hingga dunia. Kenapa? supaya bisa bertemu dan mewawancarai pemain sepak bola Indonesia, Bambang Pamungkas. Lalu, ketika ditanya mau kerja setelah lulus kuliah? Lagi-lagi dengan mantap dan lupa percaya diri saya jawab “ Saya akan melanjutkan sekolah saya diluar negeri. Saya jatuh cinta dengan Belanda”. Lalu, ketika ditanya mau kerja dimana? Saya akan langsung menjawab  “Saya mau kerjanya digedung yang tingi-tinggi”. Saya telah bersumpah untuk meninggalkan kota ini. Pergi jauh dan memulai hidup baru dilingkungan yang baru pula. Saya punya mimpi yang begitu besar.

Tapi waktu merubah segalanya, kejadian demi kejadian yang menimpa membuat mimpi-mimpi besar itu mengecil. Bahkan tenggelam dalam keraguan. Mimpi-mimpi besar itu berubah menjadi begitu sederhana. Menjadi reporter? Lupakan. Mimpi itu sudah dicoret dari daftar mimpi. Kalau jadi reporter nanti kasian anaknya siapa yang ngurusin. Kerja digedung-gedung yang tinggi? Nggak usah. Kerja dirumah aja udah cukup, kan bisa jualan online.   Melanjutkan sekolah keluar negeri? Dalam negeri juga bagus kok, Unair aja udah bagus. Dekat lagi dengan rumah.

Dalam satu-dua tahun ini saya jalani hari-hari dengan biasa saja. Tidak ada target, tidak ada lagi pemberontakan yang bikin orang nangis, tidak ada lagi ada mimpi besar. Semuanya dijalani apa adanya. Baguslah , sekarang Desi jadi anak yang manis. Yang kalau mau ngomong perlu dipikir dulu kalau perlu dibuatin naskah dulu biar engga salah ngomong, baguslah sekarang Desi sudah lebih peduli dengan omongan orang lain, dan kabar baik Desi sudah mau menerima nasehat. Bagus kan seperti itu? Hai, Desi si anak manis, selamat hidup berbahagia : ).

“Des, kamu kapan hijrah dari Kediri? Kamu kapan keluar dari Kediri? Kamu harus keluar dari Kediri, karena kamu kalau disini nggak akan jadi apa-apa. Kamu harus keluar mengejar mimpi-mimpimu”

Sore itu, saya rasanya seperti dibangunkan dari tidur panjang. Orang yang berkata itu masih cengengesan didepanku, tapi pikiranku sudah melayang jauh kemana-kemana. Teringat sumpahku untuk meninggalkan kota ini segera, bukan karena tidak menyayangi kota ini tapi karena impian besarku berada diluar kota ini bahkan diluar negeri ini. Dulu, dalam satu tahun entah berapa kali saya mengikuti seleksi untuk bisa ikut conference / summit baik itu nasional maupun internasional, dari yang berbayar puluhan juta hingga yang gratis. Meskipun tidak satupun bisa tembus, tapi tidak pernah ada rasa lelah.

Saya rela melakukan apa saja untuk mendapatkan mimpi-mimpi saya. Harus riwa-riwi kesana kemari, menghabiskan banyak tenaga untuk mengisi aplikasi pendaftaran conference/ summit, bahkan rela mengurung diri dikamar berhari-hari sebagai bentuk kemarahan pada Mama karena tidak mengizinkan saya ikut Workcamp di Pekalongan. Keluarga dan teman, mereka adalah orang-orang yang saya cintai. Bahkan mereka yang saya cintaipun tidak mampu menghentikan saya ketika saya sudah bertekad untuk mewujudkan mimpi saya, dan kadang saya sendiri tidak mampu menghentikan diri saya sendiri. Kalau sampai ada yang mencoba menghalangi mimpi-mimpi saya “WANI SATRU AE”.

Insiden workcamp di Pekalongan itu, membuat saya “nyatru” banyak orang. Mama, Papa, Ayah , Ibu, Mbak , Mas semuanya disatru. Karena mereka ini kompak melarang saya pergi ke pekalongan dengan alasan yang nggak bisa saya terima. Takut diculik lah, takut dieksploitasi lah, takut jadi korban traficking lah. Hello, saya cuma mau ke Pekalongan 3 hari. Karena kejadian itu saya bersumpah, untuk pergi yang lebih jauh dari Pekalongan. Dan saya berhasil mewujudkan sumpah itu dengan pergi ke Singapura-Malaysia seorang diri. Meskipun harus melihat Mbak menangis dan memohon-mohon supaya saya nggak pergi.

“Kamu minta opo to jane?. Tak belikan. Tapi ojo budal. Adikku tinggal kamu satu-satunya. Nanti kalau kamu ilang piye?”

Ah, itu dulu. Ketika saya menjalani semuanya dengan “semau gue”. Ketika memberontak adalah makanan sehari-hai, ketika impian-impian itu menjadi sumber kekuatan. Ketika itu namaku bukan Desi si anak manis, tapi Desi anak keras kepala. Malam ini, saya ingin merubah nama lagi. Kali ini namanya Desi Si Anak Manis tapi Enggak Keras Kepala 😀 Hhehe.

Malam menjelang pagi ini, sebelum saya tidur saya akan menempelkan mimpi-mimpi saya ditembok, dilemari, dimeja belajar, dan dimana saya. Saya akan menjaganya agar tetap hidup hingga saya dapat mencapainya. Saya akan jadikan mimpi itu menjadi lebih realistis dengan keadaan sekarang. Jangan ada lagi airmata dari orang lain demi mimpi-mimpi saya, cukuplah air mataku. Akhir kata, tulisan “kemrungsung” ini saya tutup dengan kata-kata dari Mas Vicky. Ah, siapa lagi Mas Vicky ini?. Saya juga tidak tahu, yang saya tahu saat ini saya sedang ‘mencuri’ ilmu darinya. Silahkan diterjemahkan sendiri kata-kata Mas Vicky yang dia ucapkan waktu ngisi seminar minggu lalu.

“Ada yang pernah lihat pocong? Takut enggak sama pocong?. Lha, kalau engga pernah melihat pocong kenapa harus takut? Apa benar pocong itu menakutkan? Kan belum pernah melihat, kenapa harus takut duluan?”.

Kediri, 9 April 2016