Saya Vs. ALLAH. Sudah Gila?

success-perception-vs-reality
Plan Vs. Reality

Beberapa waktu yang lalu saya  seperti orang linglung, pikiran jauh menerawang entah kemana. Hati rasanya kosong, dan hidup rasanya useless banget. Mungkin sedang jenuh,begitu pikir saya saat itu. Saya kemudian melakukan hal-hal yang saya senangi mulai dari ngemall gak aturan, belanja hal gak penting sampai nyanyi-nyanyi gak jelas. Ketidakjelasan itu berlangsuh cukup lama, hingga akhirnya saya jatuh sakit dan sampai harus ke dokter. Tugas kuliah, nyari tempat magang, hingga persoalan sabun muka turut menambah daftar penyebab saya stress.

Memasuki bulan mei saya semakin tidak tenang, karena satu hal yang belum juga jelas. Kurang dari dua bulan lagi, saya harus magang tapi hingga saat ini belum ada kejelasan mau magang dimana. Bukan karena saya malas mencari tempat magang , atau apa tapi karena memang belum ada satupun perusahaan yang memberi saya kejelasan. Ceritanya ini saya lagi di php sama salah satu stasiun tv di Surabaya. Lika-liku mencari tempat magang membuat saya sadar akan satu hal penting. Apa itu???

Seperti biasa saya selalu heboh dan sok tau, sok ngerti, sok paling pinter dan segala macam sok yang lainnya. Parah banget deh. Satu tahun sebelum magang, saya sudah survey ke beberapa tempat yang menjadi incaran saya. Dimana lagi kalau bukan di Graha Pena Surabaya. Sudah tentu magang di Graha Pena adalah impian saya, selain itu tempatnya juga dengan tempat pacar hehe. Dari bulan februari kemarin, saya sudah heboh mempersiapkan proposal magang dan segala macam perintilan-perintilannya. Saya dan geng Capcus (lupakan nama gengs saya yang sedikit alay 😛 ), berangkat ke Surabaya awal bulan februari untuk mengantar proposal kami, dan dikampus ternyata baru kami yang minta surat magang dari jurusan ilmu Komunikasi. Bisa dibilang kita mencuru start hehe :D, Tapi kami gak menyalahi aturan kok, ini semua murni inisiatif kami sendiri.

Saya naruh proposal di JTV dan tabloid nyata (sesuai dengan peminatan saya komunikasi massa), sedangkan marta di SBO TV dan Tabloid Nyata juga, Vita dan Jeni di Skawan dan Tim Work Indonesia. Vita dan Jeni tidak perlu menunggu lama , dan begitu mudahnya mereka mendapatkan tempat magang karena sekali datang dan satu kali follow up mereka langsung diterima. Begitu juga dengan Marta yang juga diterima di SBO TV , beberapa hari setelah Vita dan Jeni. Lalu Desi? Bagaimana dengan Desi? Hehe Desi Alhamdulillah masih #RAPOPO hehe. *senyum sedikit miris*

Sejak proposal saya masukan ke JTV (ini memang menjadi incaran saya ) bulan febrari lalu saya terus follow up untuk mendapatkan kepastian diterima atau tidaknya. Selama kurun waktu Februari- Mei ini hampir setiap minggu saya terus telepon pihak JTV dan dua kali datang langsung ke kantor JTV untuk menanyakan kepastian diterima atau tidaknya. Masa di-php-in sama JTV adalah masa yang sangat awkward banget, saya sampai gemassss sendiri sama jawaban dari pihak JTV, dan membuat saya sedikit terpancing emosi. Rasanya sakittt cyyiinnn!! Hehe. Apakah JTV yang salah? TIDAAAKKKK!!!

Di-PHP sama JTV ternyata membuat saya sadar bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan. Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana usaha saya supaya bisa magang di Graha Pena. Dulu dalam pikiran saya pokoknya harus di Graha Pena, buat apa magang di Surabaya tapi kalau gak bisa di Graha Pena khususnya JTV. Tapi semuanya balik lagi, bahwa manusia hanya bisa berencana sedangkan keputusan mutlak sepenuhnya ada ditangan Sang Pembuat Skenario Hidup. Ada saja yang menghalangi saya untuk bertemu dengan HRD JTV entah via telepon ataupun bertatap muka saat saya pergi kesana.

Sejenak ditengah rasa frustasi saya karena belum juga mendapatkan kepastian, sedangkan banyak teman saya yang lain sudah mendapatkan tempat magang saya berpikir apa yang salah? Ada apa dengan saya? Kenapa begitu sulit untuk menembus satu TV Lokal saja? Kenapa semua rencana saya tidak bejalan mulus, padahal rencana iu sudah sangat runtut dan saya susun sangat rapi?. Masyaallah, saya tidak bisa tidur nyenyak karena terus-terusan kepikiran masalah itu.

“Mbak Desi, kok mesti gitu. Padahal bareng-bareng lho ngumpulin proposalnya”

“Mbak Desi , mesti gitu bantuin temannya tapi dirinya sendiri belum beres urusannya”

Saya sedikit terpancing dengan kata-kata yang diucapkan teman saya itu. Kata-katanya membuat saya sadar bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri saya. Orang lain melihat saya dengan rasa iba, kok melas banget gitu kesannya. Bareng-bareng mulai dari bikin proposal hingga mengantarkan langsung ke perusahaan incaran masing-masing, tapi kenapa Cuma saya yang tertinggal? Sempat muncul rasa gimana gitu antara marah sedih bercampur gak terima dengan keadaan yang ada.

“kok bisa, padahal aku yang dulu ngajakin mereka duluan”

“kalo bukan aku yang ngajak mereka pasti, belum apa-apa”

“list tempat magang juga dari aku, dan bla blaaaa”

“nanti kos nya disini aja jangan disana, nanti kita barengan dan bla blaa”

Dengan segala ketinggian hati saya merancang sebuah kehidupan magang sesuai keinginan saya. Saya bahkan tidak sempat bertanya pada teman saya apakah dia suka atau tidak dengan segala skenario saya. Ada dua teman Capcuss yang belum dapat tempat magang, lalu dengan sigap saya mencari list perusahaan yang bisa terima anak magang sesuai peminatan mereka, tidak lupa saya mencarikan tempat yang dekat-dekat agar kami bisa tinggal di satu kos. Saya rekomendasikan bahkan saya catatkan nomor telepon serta alamatnya, berharap bisa bersama. Pokoknya saya sudah seperti pahlawan deh lagaknya. Jujur saya melakukan itu semua bukan untuk dipuji teman-teman saya, saya tidak mengingkan pujian. ASLIIIIII !! saya hanya ingin bersama-sama mereka saat magang. Saya hanya ingin berkumpul bersama dan berjuang bersama.

Tapi , eh tapi saya lupa akan sesuatu hal. Saya lupa bahwa teman-teman saya itu bukan robot yang bisa saya kendalikan. Saya lupa bahwa masih ada ALLAH yang maha menentukan segalanya. Semuanya berbalik, semua yang saya rencanakan berantakan. Semua teman saya di gengs capcuss yang saya anggap satu perjuangan sudah mendapat tempat magang, justru saya lah yang hingga saat ini belum pasti mau magang dimana. Saya lupa bahwa rencana manusia itu sangat kecil dibanding rencana ALLAH yang maha besar dan terbaik bagi setiap hambaNYA.

Bukan bermaksud iri, tapi setiap apapun yang saya inginkan harus penuh perjuangan besar dulu untuk mendapatkannya. Lika-liku mencari tempat magang adalah tamparan keras bagi saya karena melupakan ALLAH yang maha kuasa. Saya terlalu sombong dan percaya diri bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginan saya. Saya terlalu sombong karena menganggap diri saya lebih dari segalanya dibanding teman saya. Saya selalu tidak bisa kalau harus melihat teman saya kesulitan. Ada yang bilang aya bodoh karena tidak mendahulukan diri saya sendiri, tapi malah mengajak teman dan akhirnya saya sendiri tidak dapat apa-apa. Entahlah..

Semoga secepatnya saya diberi kemudahan oleh ALLAH Untuk mendapatkan tempat magang yang terbaik. Saya bersyukur karena dengan begini saya bisa belajar, belajar untuk tidak sombong sekecil apapun itu meskipun hanya dalam hati. Kesombongan saya justru menyengsarakan saya sendiri. Astaghfirullah..ampuni aku ya Robb. Niat diawal aja sudah salah, makanya ALLAH gak kasih jalan. Ehmm… ALLAH itu maha baik ya, saya diajari langsung tentang nilai-nilai dalam hidup. DIA ajarkan bahwa manusia itu kecil gak ada apa-apanya, dibandingkan dengan-NYA. Jadi jangan sombong.

Setelah ini saya akan merubah niat saya, bukan lagi karena ingin bersama-sama dengan teman saya, berkumpul disatu kos, atau hanya sekedar biar sering ketemu pacar. Tapi untuk belajar. Belajar tentang arti hidup, mandiri saat jauh dari keluarga, hingga belajar bagaimana supaya tidak sombong. Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Maafkan aku ya ALLAH :). ALLAH selalu menegur hambanya dengan cara terindahnya :).

 

Cermin, Air mata dan Desi !

gambar diambil disini ya :)
gambar diambil disini ya 🙂

Hari ini saya kembali dibuat menangis oleh keadaan. Menangis? Ya saya sering sekali menangis untuk hal-hal yang membuat dada saya sesak. Saya cengeng? Terserah apa kata anda. Menangis , kadang bisa menjadi suatu kekuatan yang luar biasa bagi saya. Saya biasa ketika menangis menghadap cermin. Narsis? Aneh? Ya, memang sedikit aneh. Dengan bercermin disaat menangis, membuat saya tahu betapa jeleknya muka saya saat menangis sehingga dengan segera saya bisa berhenti menangis.

Saya amati diri saya sendiri saat menangis,melihat diri saya sendiri mengiba dan tidak berdaya. Melihat butiran bening air mata jatuh dari kedua mata saya. Disaat seperti itulah, muncul kekuatan dalam diri saya bahwa saya pasti bisa melewati semuanya. Disela-sela tangisan saya selalu saya sempatkan untuk tersenyum. Tersenyum, dan saya melihat wajah saya tidak sejelek saat menangis. Menangis lalu tersenyum. Sudah gilaaa? Mungkin orang yang melihat saya , akan menganggap saya gila.

Hari ini lebih tepatnya setengah hari ini, karena ini masih jam 12 siang saya sudah menangis dua kali. Benar-benar penat sekali rasanya, ingin rasanya berteriak dan pergi sejauh mungkin. Tapi apa dengan pergi masalah akan selesai? TIDAKK! Saya hanya akan menjadi PENCUNDANG kalau saya lari dari masalah. Rupanya ALLAH, masih sangat sayang sama saya sehingga saya diberi nikmat yang rasanya masih pahit, perlu saya beri sedikit keikhlasan dan kesabaran supaya nikmatnya berubah menjadi manis.

Saat seperti ini saya tersadar bahwa manusia itu tidak ada apa-apanya. Sekuat apapun berusaha tapi tetap ALLAH jua yang menentukan segalanya. Hari ini, entah keberapa kalinya saya dipermainkan oleh keadaan. Mungkin tempat itu tidak baik untukku sehingga ALLAH , tidak memberi jalan kepada saya untuk masuk disitu. Semua upaya sudah saya tempuh. Hahaha… kini saya tidak lagi menangisi semuanya, tapi saya justru tersenyum dan menertawakan diri saya sendiri.

“kamu iki kok cengeng to, saitik-saitik nangis. Sing rodok pinter saitik ngono lho”.

Begitu kata seseorang pada saya beberapa waktu yang lalu. Seseorang yang selalu menertawakan saya kalau saya menangis, seseorang yang paling benci melihat saya menangis. Saya memang cengeng dan suka menangis tapi saya tidak lemah dan tidak mudah menyerah. Justru sebaliknya ketika saya menangis disitulah bukti kekuatan saya. Menangis sambil bercermin wkwkwkw. Mungkin kalian semua perlu mencoba ketika menangis sambil bercermin entah saat sedih atau saat bahagia.

Bagi saya ketika dalam keadaan sedih dan sudah terasa sesak sekali, sudah pasti saya menangis. Begitu juga ketika saya dalam keadaan sangat bahagia sekalipun saya juga pasti menangis. Iki jane piye to? Entahlah , padahal usia saya sudah 22 tahun tapi kenapa masih nangisan, dan nangis sambil bercermin pula? Hihii. Percaya atau tidak cermin itu bisa ngomong lhoo, bisa jadi sahabat bagi saya.

Ketika saya sedang bersedih dan menangis didepan cermin, tidak perlu waktu yang lama bagi saya  untuk menangis. Segera saya usap air mata saya karena dibalik cermin itu ada suara yang selalu mengatakan “STOP, Hentikan tangisanmu! Kamu jelek kalau menagis! Kamu pasti bisa karena kamu adalah wanita yang kuat!  Jangan menyerah! Ayo bangkit!”. Entah dari mana datangnya kata-kata penyemangat itu, tapi itulah yang terjadi saat saya sedih sampai menangis. Sudah pasti saya segera bercermin agar saya segera bisa menghentikan tangisan saya.

Begitu juga ketika saya sedang dalam keadaan bahagia , entah kenapa saya juga gampang sekali menangis. Kembali saya ambil cermin , dan disitu saya melihat ada kebagiaan dimata saya sendri. Kembali sang cermin berbicara “Itulah nikmat dari ALLAH, Subhanallah, Percayalah ALLAH itu adil” dan berbagai kata-kata yang mengingatkan saya pada sang maha Kuasa. Sungguh ajaib sekali hidup ini. Saat menulis ini , saya sedang berada disebuh tempat yang tenang sambil mendengarkan sebuah lagu. Lagu soundtrack hidup saya, yaitu Skyscraper-nya Demi Lovato.

Haha… betapa bodohnya saya seharian ini jengkel dengan keadaan yang tidak berpihak kepada saya. Saya marah dengan keadaan yang seakan mempermainkan saya. Saya marah karena kebodohan saya sendiri. Kenapa harus marah dan merasa dipermainkan, bukankah semua itu sudah ada yang mengatur? Lalu kenapa saya harus marah ketika yang maha mengatur tidak berhendak? Ahhh bodohnya saya, terbawa hawa nafsu emosi. Astaghfirullah , ampuni hamba yang sombong Ya ALLAH.

Daaadaaa Cermin, daddda airmata. Saatnya untuk berjuang lagi dan saatnya untuk bangkit. Kalau kata Demi Lovato sih begini :

You can take everything I have You can break everything I am Like I’m made of glass ,Like I’m made of paper Go on and try to tear me down, I will be rising from the ground Like a skyscraper, like a Skyscraper –Demi Lovato-

Nah, kalau kata Genta dan kawan-kawannya di 5cm sih gini :

“Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu.Dan.. sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tanganyang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,leher yang akan lebih sering melihat keatas, lapisan tekad yang seribu lebih keras dari baja. dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa”

Seberat apapun masalah kita, percayalah bahwa akan selalu ada ALLAH yang meringankan beban kita :). Percayalah Desi, percayalah bahwa selalu akan pelangi saat hujan. Tapi kadang kamu gak bisa melihatnya , karena hujannya malam-malam. 😛 . Saatnya untuk meneruskan mimpi yang sempat tertunda 🙂 ! #ACTBIGGER !

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman : “Aku menurut dugaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. (Hadits ditakhrij oleh Turmidzi).

 

CERMIN, AIR MATA DAN DESI = TANGGUH ! hehehehehe

images
Semangat ^___^

Saya dan “Malaikat”

Sebenarnya apa sih yang kita cari dalam hidup yang singkat ini? Bukankah setiap dari kita yang hidup akan merasakan mati? Bukankah mati itu mutlak? BENAR! MATI adalah MUTLAK bagi setiap makhluk yang hidup. Saya percaya, bahwa kematian sangat dekat dengan dengan saya. Dimanapun dan kapanpun kematian bisa dengan sangat tiba-tiba datang menyapa kita, hingga untuk sekedar pamitan saja tidak bisa. Hingga saat ini saya masih tidak percaya kalau seseorang yang selalu menjadi kebanggaan dikeluarga besar saya telah pergi meninggalkan saya dan keluarga dengan sangat cepat. Tulisan ini adalah tulisan saya tentang kakak sepupu saya yang amat saya sayangi.

Kakak Sepupu saya sebelumnya tidak punya riwayat penyakit yang parah, bahkan sebelum meninggal ia hanya mengeluh sakit pusing saja. Allah maha baik, dengan hanya memberinya sakit selama satu minggu lalu Allah memanggilnya supaya tidak merasakan sakit lagi. Kepergiannya sungguh membuat seluruh keluarga terpukul. Dia yang begitu dibanggakan, justru pergi terlebih dulu tanpa sempat berpamitan. Tidak terkecuali saya, sehari sebelum meninggal dia masih sempat menggenggam tangan saya dan meneteskan airmata sewaktu saya membisikkan shalawat dan istighfar ditelinganya. Walaupun dalam keadaan koma , dia masih mampu mendengarkan suara saya buktinya dia merespon saya dengan menggenggam tangan saya.

Meskipun hanya seorang kakak sepupu tapi dia lebih dari itu. Saya sudah seperti adik kandungnya, bahkan kedua orang tuanya juga tidak membedakan saya dengan dia dan kakaknya. Kami bertiga dibesarkan bersama dan diasuh oleh orang yang sama, sehingga nyaris tidak ada yang tahu bahwa saya adalah “orang lain” dalam keluarganya. Tetangga, teman-teman saya, teman-teman pakde saya semuanya taunya saya ini adalah anak mereka. Memang aneh struktur keluarga saya, sangat kacau. Dan saya sendiri kadang bingung dengan identitas saya sendiri, apalagi kalau sudah berurusan dengan pencatatan sipil. Kedua orang saya masih lengkap tapi sudah bahagia dengan hidupnya masing-masing.

Kalau sudah berbicara keluarga, saya pasti teringat kakak sepupu saya. Dia selalu bilang bahwa status saya adalah sama dengan dia dan kakaknya dikeluarga itu. Dia juga yang selalu menguatkan saya disaat saya merasa down, dan merasa tidak adil dalam hidup. Dia selalu berkata kalau dia akan melindungi saya, akan selalu menjaga saya, menyekolahkan saya hingga pendidikan tertinggi, hidup saya menjadi tanggung jawabnya. Saya masih ingat betul, saat saya hendak pergi ke Jakarta merantau. Mencoba nasib saya di Jakarta. Dia dan keluarganya tidak merelakan saya pergi. Tapi saya merasa, tidak enak terus merepotkan keluarganya. Saya sudah sangat senang karena disekolahkan oleh orang tuanya bahkan dengan fasilitas yang  tidak berbeda dengannya hingga lulus SMA.

“Kamu apa bisa bertahan disana? Kamu kan gak pernah hidup susah. Sudahlah kamu disini aja tunggu sampe aku dapat kerja. Hidupmu jadi tanggung jawabku, kamu mau apa aku turuti. Kamu mau kuliah? Mau motor baru? Tunggu , aku akan belikan kalau aku uah ketrima kerja”

Begitu yang selalu ia katakan. Tidak hanya dia yang meminta saya untuk tidak pergi, ibu dan kakaknya bahkan sampai menangis meminta saya supaya tidak pergi ke Jakarta. Tekad saya sudah bulat untuk menyusul ibu saya dan mengadu nasib di Jakarta. Keluarga ini memang sangat luar biasa baiknya kepada saya. Meskipun satatus saya hanya keponakan bagi mereka, dan sepupu bagi anak-anaknya tapi perlakuannya melebihi kedua orang tua saya. Entahlah.. mungkin ini takdir dari Allah untuk saya, kedua orang tua saya berpisah namun Allah ganti dengan keluarga yang lengkap untuk saya.

Bagaimana saya bisa membayar semua ini? Hutang budi yang tiada akan pernah habis saya bayar lunas. Sedari kecil mereka rawat saya, sebagaimana mereka anak mereka. Mereka berikan juga kepada saya apa yang mereka berikan untuk anak-anak mereka. Banyak yang bilang bahwa saya beruntung karena punya pakde-budhe yang seperti mereka. Ya.. saya memang sangat beruntung. Allah memang maha adil, saya percaya itu. Setelah kepergian kakak sepupu saya, hanya tinggal saya dan kedua orang tuanya yang tinggal dirumah. Dirumah yang seharusnya menjadi istana bagi kakak saya.

Saat masih dirumah sakit, ketika dokter menyampaikan berita duka itu kakaknya meminta saya untuk menjaga ibunya. Menjaga kedua orang tuanya. Saya tidak mampu berkata apa-apa, saya hanya terdiam dan menangis. Saya tidak percaya saya kehilangan orang  yang saya sayang. Saya dan kakaknya hanya bisa terduduk lemas didepan pintu ICU, lalu dengan tegar bapaknya memeluk saya dan kakaknya. “ayolah nduk, kalian harus kuat. Jangan menangis semua sudah takdir  Yang Kuasa. Lihatlah papa, apa kalian tidak kasihan pada papa”  begitulah kata papanya. Kami langsung mengusap air mata dan dengan berat hati kami berdua bangkit dari duduk kami dan bergegas mengemasi barang-barang untuk dibawa pulang. Kakak membantu mengurus jenasah, sedangkan saya dan suami kakak beres-beres barang dan segera menyusul ambulans pulang kerumah.

Saya benar-benar tidak percaya, kalau dia akan pergi secepat itu. Ibunya tak sadarkan diri, begitu juga dengan nenek saya yang juga ikut tidak sadarkan diri karena ditinggal cucu kesayangannya. Suasana begitu menyedihkan, saya sibuk dengan urusan pemakaman dia. Karena tuan rumahnya tidak bisa apa-apa karena masih belum sadarkan diri. Kakak dan suaminya sibuk menenangkan ibunya dan nenek saya. Sementara saya mondar-mandiru mengurusi permintaan ibu-ibu untuk persiapan pemakaman sekaligus menjadi wakil keluarga untuk menemui para pelayat kalangan ibu-ibu. Ditengah ramainya pelayat, saya mendengar ada yang sedang membicarakan saya. Siapa saya, kenapa bisa ada disini, dan banyak seliweran tentang saya. Saya hanya diam dan tidak peduli.

Saya menyaksikan seluruh rangkaian acara pemakaman kakak sepupu saya yang amat saya cintai. Bahkan saya masih sempat mencium jenasahnya. Dia masih tetap sama, tetap ganteng. Bahkan ketika penutup jenasahnya dibuka, tetangga dekat yang melihat terutama ibu-ibu histeris karena tidak percaya kakak saya sudah tidak ada. Disaat itulah , untuk pertama kali selama hidup bersama dikeluarga ini, saya melihat papa menangis tersedu-sedu meskipun hanya sebentar. Pasti begitu sakit dan sedih melihat anak kesayangannya sudah terbujur kaku dihadapannya. Saya dekati beliau, dan saya bilang “sudah jangan bersedih pa, bukankah tadi papa bilang kalau kita semua harus kuat. Ini takdir Allah”.

Sementara itu mama terus tidak sadarkan diri, sebentar-sebentar pingsan. Lihatlah, betapa posisi saya sangat dianggap dalam keluarga ini. Ditengah “ketidaksadarannya” ibunya memanggil-manggil saya untuk mendekat dengannya. Saya dan kakak lalu memeluk ibunya, saya peluk sambil menenangkannya. Dari mulut ibunya terucap nama saya, disebutlah saya sebagai anaknya. Saya dan kakak adalah anak-anaknya yang tersisa. Dan beliau tidak ingin kehilangan anaknya lagi. Betapa terharu sekali saya, saya yang bukan siapa-siapa punya arti bagi mereka.

Ketika selesai acara pemakaman dan dirumah mulai sepi pelayat, hanya tinggal saudara-saudara saja saya seperti mengalami dejavu. Dirumah terpasang tenda dan ramai saudara-saudara, sama seperti dua tahun sebelumnya diacara pesta pernikahan kakak. Saya dan almarhum kakak ikutan sibuk mempersiapkan acara manten. Tapi kali ini, tidak ada suka cita, tidak ada tawa canda yang ada hanya tangisan , karena kami semua sedang berduka. Hampir setiap orang yang saya temui, orang yang mengenal saya selalu bilang “jaga mamamu ya, jaga mamamu ya!”

“Ibumu memang ibu yang hebat Mas! Keluargamu memang keluarga yang hebat”

Mas apakah disana kamu bahagia? Aku yakin kamu bahagia. Semoga allah mengampuni segala kesalahan-kesalahanmu, dan semoga Allah menempatkanmu ditempat yang paling Indah disana. Terimakasih telah menjagaku selama hidupmu. Terimakasih telah menjadi kakak yang terbaik sepanjang masa. Kakak yang rela capek hanya demi antar jemput “adiknya” dimanapun dan kapanpun, saya butuh diantar jemput. Kakak yang selalu nyebelin sekaligus ngangenin. Saat kecil bahkan sampai aku dewasa kamu selalu menghapus air mataku dan menganntinya dengan senyum. Percayalah , aku disini selalu merindukanmu. Begitu juga dengan kedua orang tuamu yang masih sering menangis bila ingat kamu.  Tenanglah disana..

Apakah disana tidak ada Skype? Aku kangen , videochat sebentar seperti biasa kalau lagi berjauhan tapi kangen apa nggak bisa? Aku amat merindukanmu, bahkan bersama ibumu tadi kami berdua menangisimu karena merindukanmu. T___T . Kamu dan keluargamu seperti “malaikat” yang dikirimkan Allah untuk melindungiku disegala macam keadaan. Terimakasih telah memberikan “hidup” di hidupku yang seperti ini. Orangtua dan kakakmu adalah orang yang paling berarti dalam hidupku. Aaahhhhhhh…….Sumpaahhhhh aku kangeen kamu!!!

Yang selalu merindukanmu

22 Maret 2014 23.40 WIB

 

 

Saya dan Baju Tiga Warna

Tulisan saya kali ini terinspirasi dari kejadian “Baju Warna-Warni” yang saya kenakan beberapa waktu yang lalu. FYI, saya berhasil menyita perhatian teman-teman dan mungkin semua orang melihat saya saat itu. Bagaimana tidak,? Saya mengenakan baju tiga warna sekaligus dan ketiga-tiganya sama sekali nggak nyambung warnanya. Rok panjang warna hijau dengan ada hiasan warna hitam sedikit, lalu kemeja biru (sedikit ungu muda), dan jilbab warna pink! See , bukankah itu fashion disasster!! (saya mengatakan dissaster karena saya dihujat teman-teman hehe :D)

Kejadian tragedi baju ini, terjadi karena saat itu saya kehabisan stok baju layak pakai karena pakaian saya banyak yang masih belum distrika * ketahuan malesnya 😛 * . Sebenarnya saya bukan tipe orang yang ribet untuk urusan pakaian, yang penting nyaman ya sudah saya kenakan dan waktu itu saya pede-pede saja memakai baju itu. Tapi, karena saya dihujat dan diketawain oleh teman saya (dia pemerhati fashion), akhirnya saya putuskan untuk menutup baju saya dengan jaket (dan ini katanya lebih mending daripada nggak pakai jaket :D, mungkin norak bagi yang ngliat). FYI, lagi saya pernah memakai rok hijau saya itu dengan saya padukan hem orange kotak-kotak dan jilbab warna coklat muda. Tapi saya pede-pede aja tuh (iya soalnya nggak ada yang menghujat :D).

Dari kejadian tersebut, saya jadi bisa mengambil pelajaran. Saya memamng selalu berusaha menemukan pelajaran sekecil apapun itu dalam setiap kejadian yang saya alami. Saya percaya sesuatu yang besar itu pasti dimulai dari yang kecil dulu. Dari kejadian “salah kostum, fashion dissaster” saya jadi tahu bahwa orang-orang disekeliling saya itu belum bisa menerima sesuatu yang baru. Sesuatu yang mereka anggap kurang pantas dan diluar kebiasaan. Bahasa simpelnya mereka belum bisa out of the box (walaupun saya sendiri belum bisa sepenuhnya keluar dari zona nyaman saya) tapi saya suka mencoba hal-hal baru.

Entah kenapa dan ini entah ada hubungannya atau tidak, baju warna-warni yang saya kenakan saat itu turut mempengaruhi mood saya. Walaupun saya dihujat tapi disatu sisi saya juga dipuji. Ada yang bilang bahwa saya kala itu terlihat fresh , seger dan bersemangat seperti baju saya yang warna-warni. Well, itulah orang dengan perspektif mereka masing-masing. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu bermasalah dengan gaya berpakaian saya, tapi karena opini mayoritas , opini saya jadi terbungkam dan akhirnya membuat saya menutup kesalahan berpakaian saya dengan jaket *cari aman* hehe.

Dari kejadian itu, saya jadi makin tertantang untuk mencoba hal-hal baru tidak hanya untuk urusan pakain tapi juga dengan hal lain. Kemarin, saya memakai baju yang sebelumnya saya enggan memakainya, karena warnanya tidak cocok dengan warna kulit saya. Saya memakai baju biru dongker dengan jilbab biru muda, JREEENGG banget bagi kulit saya yang gelap. Kali ini bukan hujatan frontal seperti sebelumnya, tapi hujatan halus yang saya terima. Seorang teman dengan sangat halus bercerita bahwa ia punya jilbab warna ini itu tapi nggak pernah dipakai karena takut ini itu yang intinya mungkin ingin bilang ke saya “Heii, jilbabmu ngjrengg dan gak pas sama mukamu” hehe tapi what the hell saya nggak peduli. Lalu saya bilang ke dia, “aku pengen mencoba hal baru, yang out of the box” hehehe.

Kejadian yang mungkin sangat sepele ini , membuat saya semakin tahu bahwa menjadi berbeda itu itu salah. Keluar dari sesuatu yang “biasanya” itu dianggap aneh. Sejak kecil lingkungan disekitar kita membiasakan kita untuk sama dan menolak perbedaan. Bayangkan saja, sejak TK saya diharuskan memakai baju seragam yang sama , makan makanan yang sama, bahkan hingga hal-hal yang kecilpun semuanya harus sama. Sangat kontras dengan semboyan bhineka tunggal ika , yang katanya walupun beda tapi tetap satu. Kenyataannya, kalau beda menyingkirlah! Ironis!

“Dapat saya simpulkan juga , bahwa menjadi keluar dari zona nyaman masih menjadi ketakutan tersendiri bagi saya dan orang-orang disekitar saya. Ketika saya sudah berani untuk mencoba hal baru dan berbeda dari yang “biasanya” maka saya dianggap aneh. Saya jadi semakin ingin pergi jauh dari tempat saya sekarang, pergi jauh ke tempat yang berbeda agar semakin memperluas perpektif saya terhadap sesuatu”.

Saya jadi ingat kata-kata dosen saya , beliau bilang:

pergilah keluar negeri , jangan hanya didalam ngeri supaya kalian bisa melihat dunia dengan perspektif yang berbeda. Dulu saat SMA kalian mungkin diajari bahwa orang Indonesia itu ramah-ramah tapi sebenarnya kalian itu dibohongi. Guru kalian yang bilang seperti pasti mereka belum pernah pegi keluar negeri. Di indonesia kalau kalian pakai baju merah lalu celana hijau jrengg kalian pasti dikata-katain oleh teman kalian, tapi ketika diluar negeri orang tidak berhak menilai penampilan kita, karena itu menjadi hak kita. Dan mereka pasti marah ketika kalian bilang “heii bajumu itu lho norak”. – Pak Bambang –

“kita tidak akan pernah tau kalau kita tidak pernah mencoba”

Dari kejadian “Baju Tiga Warna” saya semakin ingin menunjukkan bahwa beda itu unik dan tidak mainstream. Kita tidak harus selalu dijalur yang sama kan, asalkan tetap pada jalur yang benar!

Happy 1st Anniversary <3

image

Selamat ulang tahun yang pertama untuk kita 🙂
Semoga cinta kita dapat terus bersatu 🙂

Tidak terasa ya ternyata jalinan cinta saya dengan mas nuri sudah berajalan satu tahun.
Walaupun LDR tapi justru disitu letak istimewanya. Gak gampang lho LDR itu ternyata. Banyak banget cobaannya.

Saya jadi tau kalau ternyata setial hubungan itu selalu ada yang namanya cobaan. Gak segampang dan semulus perkiraan. Kadang ada hal-hal yang memicu konflik yang gak terduga.

LDR doessnt matter , and miles can’t make us appart.

Semoga impian dan harapan kita dapat tercapai amiin 🙂
Happy 1st anniversary. March,11

Ramadhan dan Ayat-Ayat Cinta

Saya dan Ayat-Ayat Cinta

SABAR DAN IKHLAS ITULAH ISLAM . begitulah kira-kira pesan yang disampaikan dalam film fenomenal ini. Film yang merajai seluruh bioskop di indonesia beberapa tahun yang lalu. Malam ini saya kembali menyaksikan film ini. Disepinya malam ini, saya gak sengaja buka file film ayat-ayat cinta yang tersimpan di laptop. Menonton film ini kembali membawa memory saya beberapa tahun lalu, saya nonton film ini dibioskop bersama teman-teman saya dan harus rela antri tiket yang antriannya panjang.

Beberapa kali menyaksikan film ini tetap saja membuat saya terharu, kagum dan menangis. Saya mengagumi ketiga tokoh dalam film ini. Maria, Fahri, dan Aisyah, mereka adalah tokoh yang patut dicontoh walaupun dijaman sekarang sangat langka orang-orang yang seperti mereka. Saya tidak seikhlas Aisya dan tidak secerdas maria. Tapi mereka patut dicontoh.

Wanita mana yang rela membagi cintanya dengan wanita lain? , wanita mana yang rela suaminya menikahi wanita lain?? Saya rasa tak ada satupun wanita yang mau dimadu. Tapi aisyah beda , dia bahkan menyuruh suaminya untuk menikahi wanita lain demi menyelamatkan suaminya dari penjara dan tentu saja menyelamatkan Maria dari depresi karena ditinggal Fahri. Sebagai seorang wanita, saya belum tentu bisa melakukan seperti apa yang telah dilakukan Aisyah. Satu pelajaran yang dapat kita ambil dari sikap Aisyah, yaitu ikhlas, Ikhlas , ikhlas, dan ikhlas satu kata yang gampang dicupakan tapi sangat sulit untuk dijalani. Pilihan yang sangat berat antara kebebasan suami dan kerelaan untuk membagi cinta dengan wanita lain.

Sedangkan Maria , seorang penganut kristen koptik yang taat. Perilakunya bahkan lebih baik dari seseorang yang mengaku muslimah. Saya sendiri kagum dengan maria, cerdas, cantik dan hafal beberapa surat didalam Al-Quran. Walaupun ia seorang krostin koptik yang taat, tapi ia mengagumi Al-Quran. Sedangkan saya?? Saya yang islam  saja tidak begitu lancar bacaan Al-Quran. Satu lagi pelajaran yang dapat saya ambil dari film ini dari tokoh Maria. Kita harus menjadi orang taat pada kepercayaan yang kita anut. Walapun pada akhirnya diakhir cerita tokoh Maria meninggalkan kepercayaannya yang sebelumnya dan masuk islam. Menurut saya, perilaku Maria sudah islam hanya saja dia belum diberi hidayah oleh ALLAH untuk memeluk agama islam. Bahkan kalau dibuat komparasi saya yang sudah islam sejak lahir perilaku saya tidak sebaik Maria.

Menjadi muslim/muslimah yang taat ternyata tidak gampang. Banyak sekali hal yang belum saya tau tentang agama saya sendiri. Menjadi seorang muslimah yang baik ternyata tidak hanya shalat lima waktu dan puasa dibulan ramadhan, lebih dari itu ada hal yang ternyata harus dilakukan sebagai seorang muslimah yang baik. Katanya kalau minum/makan gak boleh berdiri, nah saya ! makan aja kadang sambil mondar-mandir .

Menonton film ayat-ayat cinta kembali seakan menjadi pengingat saya agar menjadi lebih baik. Lebih baik dari saya yang sebelumnya. Mempersiapkan diri untuk menjadi lebih baik , apalagi sebentar lagi ramadhan. Moment yang pas sekali untuk memperbaiki diri dan meningktkan kualitas beribadah. Sebenarnya tidak harus nunggu ramadhan sih kalau mau berubah menjadi lebih baik. Menjadi lebih baik bisa kapan saja dan dimana saja.

Mari menjadi lebih baik dari segi keimanan kita .

Selamat memasuki bulan yang penuh berkah dan ampunan .

Maybe I’m Dreaming !!

Apa saya bermimpi?
Sepertinya kenyataan yang ku alami sekarang lebih indah dari mimpiku tadi malam. Sepertinya aku bermimpi tapi ini nyata. !
Sekali lagi Ini nyata. (sengaja diulang biar kesannya lebih dramatis :p).

2bulan lalu kita tidak saling mengenal, lalu sebulan yang lalu kita jadi dekat, dan sekarang kita membingkai indah kisah kita dalam suatu hubungan. Ahh..sepertinya ini terlalu cepat. Tapi, mau bagaimana lagi. Tujuan kita sama..dan bersama kita melangkah ke hubungan yang lebih dekat. Kalo jaman muda dulu hubungan ini disebut pacaran. Yaa…pacaran. ! Saya akhirnya punya pacar… Ahhaaaha #gluudaak.

Saya beruntung mendapatkan pacar seperti dia. Sebelumnya  Dia adalah pacar imajiner saya. Saya berharap punya pacar seperti dia, dan ternyata sekarang saya menjadi pacar nya.

Cerita kami berawal dari sebuah keisengan sms. Dia dapat nomer ku dari temanku yang juga teman dia. Dari awal dia sms aku ‘selamat pagi’ . Aku yakin kalo dia itu orang yang baik. Ini aneh tapi nyata. Hatiku rasanya sudah mengenal mr.X yang sms aku pagi-pagi sekitar dua bulan lalu. Aku memilih untuk menanggapi sms geje itu , padahal biasanya aku paling males sama yang begituan. Tapi entah kenapa kali ini rasanya beda. (baca ttg dia di postingan sebelum ini).

Minggu lalu aku ke surabaya , dan disana bertemu dengannya. Pertemuan yang singkat tapi berakhir dengan status baru yaitu berpacaran di esok harinya. Sebenarnya aku sudah merasa kalo dia ini berharap lebih padaku beberapa minggu sebelumnya. Kami sudah dekat tapi tak pernah ada kata2 yang terucap. Bisa dibilang HTS an. Sebenarnya dari kata2nya sudah jelas terlihat, tapi aku cuek dan memilih tidak menanggapinya. Tak pernah terlintas dipikiranku kalo aku  bakal jadi pacarnya dan dicintai olehnya. Kali ini bukan aku dulu yang mulai tapi dia. Hehe.

Dari awal kenal sepertinya dia sudah tau aku ini seperti apa. Aku berkali kali bilang kalau aku ini tidak pantas untukknya. Aku ini bukan perempuan yang baik. Aku tidak sepadan dengan dia, aku berbeda dengannya. Jalan kami sangat berbeda. Tapi semakin saya menghindari dan semakin kubuka kelemahanku, dia justru semakin yakin kepadaku. Nahhh…lhohh ini orang kok aneh.

Okee….intinya saya bahagia dan hingga sekarang tidak percaya sama kenyataan ini. Tapi ya inilah kenyataannya.
Semoga hubungan ini bertahan lama hingga menjadi suatu hubungan yang halal. Amiin