Horor di Malaysia

Oke, saya lanjutkan cerita saya dipostingan sebelumnya (kurang dari 24 jam di Malaysia), saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman saya naik pesawat Air Asia. Pesawat dengan tagline Everyone Can Fly, ini bisa dibilang salah satu suporter impian saya. Kenapa? Karena dengan adanya promo-promo Air Asia ini saya bisa menginjakkan kaki saya untuk pertama kalinya di luar negeri. Sebagai seorang mahasiswa kere macam saya ini, pergi keluar negeri adalah sesuatu yang tidak mudah. Tapi karena adanya tiket-tiket murah dari Air Asia inilah salah satu mimpi saya bisa tercapai. Singkat cerita saya bisa ke Singapura dan Malaysia hanya dengan modal Rp. 384.000 saya sudah bisa mendapatkan tiket Air Asia pp dengan rute CGK-SIN, SUB-KUL PP (tiketnya pp sebenarnya tapi dipakai yang pulangnya aja).

Waktu berangkat dan untuk pertama kalinya naik pesawat seneng banget (harap maklum ndesoo saya nya :D). Dan kru nya Air Asia juga baik-baik banget. Semua aman nyaman terkendali sewaktu berangkat. Tapi pas pulangnya dari LCCT Malaysia, ada sedikit masalah. Seperti yang saya ceritakan dipostingan sebelumnya, acara transit di Malaysia ini memang penuh kejutan dan bikin deg-degan. Penerbangan saya seharusnya jam 21.30 dan dijadwalkan sampai di Surabaya jam 23.30 tapi saya udah ada di LCCT dari jam 7. Nah, saya di LCCT nunggu tuh kayak orang ilang setelah seharian nggak istirahat ditambah hectic karena kode booking saya ngga bisa kebaca mesin check in di konter Air Asia. Setelah minta bantuan sana sini akhirnya bisa dapat boarding pass. Perasaan saya udah mulai nggak enak, dan jengg jenggg ada pemberitahuan kalau pesawat delay dan baru akan terbang jam 23.30 waktu malaysia. Ohhh NOOO!

Sumpah pas denger pengumuman itu rasanya mau nangis. Perasaan takut mulai menyapa saya. Sedangkan saya sama sekali tidak bisa menghubungi siapapun, karena sejak hari pertama di Singapura hp saya mati total karena lupa ngga bawa cas hp. Sebelum berangkat pulang (di Bandara Changi) saya sudah memberi kabar jadwal lengkap saya kepada keluarga termasuk pada seseorang yang akan menjemput saya di Juanda malam itu melalui facebook yang saya buka di komputer yang ada di Changi. Rasanya mau nangis, tapi kalau nangis gak bakal nyelesain masalah. Lalu saya beranikan untuk ngobrol dengan siapapun yang ada didekat saya, mulai dari turis Vietnam, Bapak-Bapak yang berkerja di Malaysia hingga Mbak-Mbak TKW. Saya berharap bisa meminjam cas hp dari mereka, atau kalau boleh minjam hape buat hubungi orang rumah. Dan diantara mereka nggak ada yang bawa cas katanya -___- , ada yang bawa dan mau minjemi tapi cas nya nggak sama -____- .

Makin lama makin nyesek lihat orang-orang didekat saya bisa hubungi keluarga lewat hp mereka, mengabarkan kalau pesawatnya delay. Disamping tempat duduk saya, ada mbak-mbak yang ternyata satu pesawat sama saya, dan dia menawarkan bantuan. Dia menawarkan tempat menginap, kalau ternyata saya nggak ada yang jemput. Ahhh.. sedikit lega pikir saya, tapi mbak itu akhirnya bilang kalau dia nginep di kos sodaranya (laki-laki), whoaaaa tentu tawaran baik mbak ini saya tolak. Ehmm…saya tinggalkan mbak-mbak itu yang sibuk telpon sana-sini. Saya lalu mencari mbak-mbak lain (maksudnya apa cobakk -___-  hahaha) , dan taraaa alhamdulillah ada mbak-mbak yang mau minjemi cas hp. Masalah cas kelar, tapi muncul masalah baru. COLOKAN!! Whaaaaa…. colokan yang ada semuanya penuuhh. Setelah sabar nungguin, akhirnya bisa juga nyolokin hp. Alhamdulillah, setelah hp nyala dan nyambungi wifi, dan wooww banyak banget pesan yang masuk di whatsapp.

Karena nggak bisa sms, saya minta tolong teman saya yang punya whatsapp untuk nge-sms-in orang yang mau jemput saya di Bandara. Alhamdulillah , masalah sudah beres. Padahal pas itu lagi tegang, tapi masih sempat aja buka SIAM untuk cek nilai haha. Saya sih udah pasrah kalau nggak dijemput, saya masih bisa tidur di Bandara dan pulang kerumah pada pagi harinya , toh nyampek Surabaya juga udah sekitaran jam 3 pagi. Nunggu sebentar nggak apa-apa pikir saya. Jengg Jenggg.. saatnya naik pesawat. Sumpah , rasanya lega dan seneng banget karena akan sampai di tanah air tercinta. .

Tapi sesuatu yang tidak diduga terjadi didalam pesawat, dan itulah awal dari sesuatu yang saya sebut dengan “hidayah”…

(bersambung….)

Di Malaysia Kurang dari 24 Jam

100_5327
Malaysia dari atas (pesawat)

Hallo Hallo.. setelah sekian lama tertunda menulis kelanjutan cerita solo-backpacker saya di Singapura dan Malaysia bulan februari lalu hehe udah hampir satu tahun ya :D. Sebenarnya yang cerita Singapura hari kedua belum ditulis juga, hehe tapi loncat aja langsung cerita pas di Kuala Lumpur nya. Sekilas Singapura hari kedua hampir sama kayak yang hari pertama cuma pas malamnya nginep di Bandara Changi ngga di hostel lagi hihii :P. Pengalamannya hampir sama kayak backpacker-backpacker lainnya yang udah pernah tidur bandara Changi , aman nyaman dan tentram dan tentunya Gratis hihi :p.

Oke, lanjut aja cerita di Kuala Lumpur, Malaysia yang super singkat tapi cukup membuat jantung saya mau copot. Di Malaysia yang tidak lebih 24jam yang mampu memberikan hidayah dan banyak pelajarannya. Oiya, cerita saya di Malaysia ini nggak happy-happy kayak pas di Singapura. Emang ke Malaysia ini cuma transit aja (maklum nyari yang paling murah hiihi). Berangkat dari Singapura jam 10 pagi naik Tiger Air (waktu itu memutuskan naik pesawat aja ke Malaysia nya karena tiketnya lebih murah daripada naik bus atau kereta. Waktu itu tiket SG-KL cuma 162rb , sedangkan kalau naik bus atau kereta saya harus mengeluarkan uang sekitar 300-450rb untuk tiketnya aja).

100_5333
Suasana di LCCT pas antri cap imigrasi

Sampai di LCCT , jam 11an lalu antri imigrasi. Pertamakali di LCCT, busett ini bandara apa terminal? Panas dan rame bangett ngeet. Saya antri di Imigrasi nya aja sekitar setengah jam-an , padahal cuma stempel aja. Oiya dulu maskapai low cost itu turunnya di LCCT, kalo sekarang kan udah di bandar yang baru yang pastinya lebih bagus daripada LCCT.  Petugas imigrasinya juga nggak begitu ramah, masak iya saya diliatin dari ujung rambut sampe ujung kaki udah kayak gembel aja *nah kan emang ngegembel des 😛 *. Kelar urusan imigrasi , sesuai dengan buku panduan yang udah saya tulis sendiri dari rumah abis dari imigrasi langsung ke konter yang jual KLIA Ekspress buat beli tiket kereta ekspress ke KL Central (Sengaja nggak naik bis , karena buat ngejar waktu tiket KLIA Ekspress emang lebih mahal sih tapi lebih cepet daripada naik bis. Lupa berapa harganya tiket yang jelas masih terjangkau kok ngaa mahal-mahal banget).

salak tinggi
salak tinggi

Sebelum naik kereta harus naik bus dulu, ke Salak Tinggi. Nah, pas keluar bandara saya kaget karena kondisi disana udah mirip banget sama terminal Purabaya Surabaya. Begitu keluar , banyak banget orang yang nawarin bus ini itu, wes pokoknya mirip banget sama kalau kita di terminal Surabaya. Tiket KLIA Ekspress bisa kita gunakan untuk naik bus ke Salak Tinggi (bus ini memang khusus untuk penumpang KLIA Ekspress). Meskipun saya sudah menulis rute untuk ke KL Center tapi tetep aja bingung. Untung bus yang ke Salak Tinggi itu mudah dikenali dengan ciri khas bus nya yang berwarna ungu sama kayak kereta KLIA Ekspress. Perjalanan dari LCCT ke salak tinggi sekitar 20 menitan, setelah turun dari bus saya masuk stasiun kereta untuk menunggu KLIA Ekspress menuju ke KL Center. Sepanjang jalan hanya ada pemandangan kebun sawit dan cuacanya panas pake banget.

Sesampainya di KL Center hal pertama yang terjadi pada saya adalah BINGUNG. Sumpah bingung banget nggak tahu harus ngapain, sementara untuk sampai ke KLCC atau menara kembar itu saya harus naik kereta lagi. Tidak hanya satu dua kali saya tersesat dan akhirnya kembali ketempat semula saya datang meskipun sudah muter-muter. Seperti biasa kalau lagi bingung saya diam sejenak dan mengamati orang-orang disekitar saya. Gimana caranya beli tiket LRT? Itu hal pertama yang saya pikirkan. Hampir 10menitan saya hanya berdiri didepan mesin tiket tapi tiket belum bisa saya dapatkan. Tiketnya berupa koin gitu warnanya biru. Akhirnya setelah mengamati orang-orang yang berhasil dapatin itu koin, saya coba sekali lagi dan yeayy berhasil! Saya lupa butuh berapa menit untuk sampai ke KLCC dan gimana ceritanya saya bisa sampai dan berfoto di ‘Twin Tower’ Malaysia hahaha. Setelah puas foto-foto dan makan nasi lemak di Suria Mall saya memutuskan untuk balik ke LCCT.

Lebih baik nunggu di bandara deh daripada muter-muter nggak jelas dan di iseng-i orang dijalan. Sesuai jadwal yang saya buat saya kembali ke LCCT, oiya sama seperti di Singapura saya memang sengaja nggak beli oleh-oleh. Perjalanan saya kali ini memang murni untuk backpacker dan sebagai bukti kalau saya bisa. Hahaha sombongnya selangit :D. Saya benar-benar mengatur pengeluaran sehemat mungkin, karena saya tidak mau menggunakan uang yang dikasih orang tua ataupun dari keluarga yang lain. Sebisa mungkin saya hanya menggunakan uang yang sudah saya kumpulkan dari uang saku saya sendiri hahaha. Rasanya puas meskipun nyampek rumah ditanyain mana oleh-olehnya haha. Saya jawab aja , nih uangnya utuh saya bawa pulang lagi. Mama saya hanya terkekeh mendengar jawaban saya. Setelah sampai LCCT saya sholat dan istrahat sambil nunggu check in, nah nah pas mau check in ini lagi-lagi saya harus kebingungan karena kode booking tiket saya ngga bisa kebaca di mesin check in counter air asia. Dan taraaaaa drama dimulai dari sini..  (bersambung)….

Menginjakkan Kaki Pertama kali di Singapura Part II

Broadwalk :)
Broadwalk 🙂

Setelah puas bercapek-capek ria plus jalan-jalan tidak lupa jeprat-jepret akhirnya menjelang maghrib kami istirahat sebentar sembari sholat. Kami sholat didekat car park . Sehabis sholat kami , saat kami merapikan jilbab kami, saya tidak sengaja menemukan tiket Song Of The Sea. Tiket itu tergeletak begitu saja didekat kaca, dan setelah saya lihat tiket itu tidak hanya satu tapi dua, tiket pertunjukan untuk hari itu jam 7 malam (kalo gak salah, lupa soalnya). Passs… pas banget. Rejeki ini. Begitu teriak kami bersamaan. Kami ketawa-ketiwi sambil saling ngliat *kode jahat*. Kami bimbang, diambil nggak ya, dosa nggak ya kalau dipakai. Aduhh ini dinegeri orang, jangan ngambil yang bukan miliknya. Dan taraaaaaa…. akhirnya kami meninggalkan tiket dan cuuss balik ke hostel.

Di Palawan Beach :D
Di Palawan Beach 😀

Oiyaa.. kami juga sempat ke Palawan Beach, disana pantainya lumayan bagus. Sebenarnya pengen ke Siloso Beach, tapi apa daya kaki udah nggak sanggup jalan. Pas di palawan, saya sempat kaget karena melihat tulisan yang saya baca bikin mata belo. “BIKINI Cafe”, sesuai namanya pelayan di cafe itu pakai bikini cyyynn. Bagi saya ini pemandangan yang masih sangattt asing yang butuh waktu agak lama buat menerima apa yang saya lihat. Inilah tujuan travelling saya yang sebenarnya. Melihat apapun yang belum pernah saya lihat, dan menerima perbedaan budaya yang ada. Sungguh saya merasa sangat kecil dinunia ini, karena ternyata masih banyak yang belum saya ketahui.

Saya dan Emil balik ke Vivo City dengan menggunakan sky-train karena kaki udah nggak kuat buat jalan. Sky-train ini gratiss , nggak perlu bayar kayak waktu berangkat dari vivo city. Jadi kalau pengen hemat ke Sentosa lebih baik berangkatnya jalan kaki dan pulangnya naik skytrain. Nyampek vivo city langsung nyari stasiun MRT, dan kami menuju ke hostel. Emil mampir ke Hostel untuk ngambil tas nya, dan dia lanjut ke Changi karena dia tidur disana. Setelah istirahat sebentar, dan saya cek in hostel serta makan pop-mie, saya pergi ke Merlion park. Saya berpisah dengan emil di halte bus depan hostel saya, dia menuju changi dan saya menuju ke merlion dengan jalan kaki. Hehe..terimakasih karena sudah jadi teman jalan di Sentosa :).

Yes.. Akhirnya :D
Yes.. Akhirnya 😀

Saya berjalan kearah belakang hostel saya, terus jalan ngikuti jalan sampai akhirnya ngliat Singapore Flyer. Dari arahan mas-mas yang ketemu di hostel , masmas itu menyarankan saya segera ke Merlion park karena tiap malam jam 21.30 ada pertunjukkan laser show. Saya terus berjalan dan saking senengnya mau ngliat ikon singapura sampai rasa capek nggak terasa. Begitu melihat singapore flyer, esplande, marina bay sands, dari kejauhan. Lampu-lampu cantik mewarnai gedung-gedung yang berdiri megah. Saya terus berjalan dan akhirnya ketemu juga sama patung merlion. Karena saya sendirian maka saya hanya mengandalkan selfie-style untuk mengabadikan moment saya disingapura. Sumpah saat itu saya speachless, dan hanya berkata dalam hati “ Subhanallah, inilah impianku yang menjadi nyata. Memang benar pepatah yang mengatakan bahwa mata kita ada camera terbaik untuk memotret apapun yang kita lihat.

Saya begitu takjub dengan apa yang saya lihat. Laser show diantara gedung-gedung megah, cahaya bulan diantara Singapore Flyer dan Marina Bay, serta alunan musik dan air mancur menjadi paduan yang sangat pas. Sayang saat itu saya hanya bisa menikmatinya seorang ini, semoga bisa kembali melihat itu semua dengan orang-orang terkasih. Setelah puas menikmati suasana malam di merlion park , saya berniat pulang dengan naik bis. Jujur saa sangat buta tentang jalur bus dan akhirnya saya nyasar!!. Saya turun di Esplande. Seingat saya di seberang jalan tempat saya turun adalah gedung Esplande. Saya nggak tahu, dimana saya turun dan harus kemana kalau mau menuju hostel.

Saya terus berjalan, tapi saya tidak menemukan jalan menuju hostel. Saya nyasar -__-. Saya lupa atau tepatnya tidak tahu dimana saya saat itu, yang saya ingat adalah ada taman dan tugu semacam tugu buat mengenang pahlawan gitu. Ditaman itu gelap, dan agak sedikit horor kalau menurut saya. Rasa takut yang sangat tiba-tiba menghampiri saya, saya hanya bisa diam berdiri melihat sekeliling saya. Saya seorang diri, ditempat saya tidak saya kenal dan malam hari pula. Disitu pula saya melihat sepasang kekasih sedang bercumbu, saling peluk dan cium (adegan yang hanya pernah saya lihat didrama korea, saat itu saya lihat lansung didepan mata kepala saya sendiri. Ada perasaan nggak enak dan takut sekaligus malu melihat begituan hehe).

Sempat nyasar ditempat ini :(
Sempat nyasar ditempat ini 😦

Saya semakin gelisah, karena malam semakin larut. Kalau nggak salah sudah jam 11an malam. Meskipun ini singapura, negeri yang tidak tidur tapi tetap terasa aneh malam-malam masih diluar , seorang diri pula. Saya semakin takut, karena saat itu benar-benar nggak tahu saya berada dimana. Tidak ada sinyal wifi sehingga saya tidak bisa googling (kenapa saya sangat tergantug sama google ya? Hihii ).

 Oke,, saya harus bisa keluar dari sini. Desi kamu pasti bisa balik ke hostel. Percayalah ALLAH maha dekat. Teruslah berjalan semakin kamu nyasar itu semakin bagus.

Kira-kira yang saya ucapkan saat itu pada diri saya sendiri. Saya tidak mau terus berdiri disitu dengan ketakutan saya. Saya terus berjalan, menjauhi taman yang sepi dan  gelap itu. Saat itu saya hanya mengandalkan insting saya, sama seperti saat pertama mencari letak hostel pas baru nyampek singapura. Saya terus berjalan, hingga akhirnya saya melihat hotel Furletton. Saya girang bukan main, karena saya telah menemukan jalan kembali ke hostel. Setelah saya sampai di depan hotel Furletton saya , mencari jalan yang tadi saya lewati saat berangkat. Saya terus berjalan, dan taraaaaa akhirnya saya sampai didepan hostel saya.

Malam itu saya benar-benar dibuat takjub dengan apa yang saya lalui hari itu. Saya langsung menuju kamar saya, dilantai 4 dan membersihkan badan saya. Setelah bersih-bersih selesai, saya sholat jamak maghrib dan isya. Entah, kenapa diantara sholat saya , saya menangis. Tangisan syukur yang tiada tara. Kamar kapsul saya menjadi saksi , terwujudnya impian saya. Ada rasa tidak percaya dan bangga yang saya rasakan. Pagi hari saya masih di Indonesia , dirumah Ibu masih bisa berkumpul denga keluarga saya. Tapi malam itu saya seorang diri, dinegeri orang. Muncul bayangan mama papa, bayangan orang-orang terkasih dan impian-impian saya. Perjuangan saya  bagaimana agar bisa menginjakka kaki keluar Negeri.

Malam itu tiada kata yang dapat saya ucapkan selain memuji Allah yang maha segalanya. Inilah moment yang saya cari, melihat kuasa ALLAH melalui kejadian-kejadian ajaib yang saya alami. Sungguh ALLAH itu maha dekat, sungguh pertolonga ALLAH itu maha dekat. Pergi keluar negeri adalah impian saya, travelling dan melihat dunia luar memang saya impikan sejak dulu. Impian yang menjadi nyata. Sebelumnya, ada sedikit rasa takut saat pergi ke singapura seorang diri. Tapi , setelah saya pikir-pikir inilah kesempatan saya, kesempatan untuk lebih mengenal diri saya sendiri., kesempatan untuk lebih dekat dengan ALLAH. Dan benar, kejadian hari pertama di singapura benar-benar membuka mata hati saya, bahwa masih banyak yang belum saya ketahui. Saya sangat kecil di bumi ALLAH yang luas ini.

Semakin malam, badan saya semakin tidak bisa diajak kompromi. Dari jam 4 pagi belum istirahat. Rasanya badan seperti masih “ngleyang”. Efek terbang dipesawat, baru terasa, capeknya jalan kaki baru terasa dan tidur adalah pilihan tepat. Sambil msih terus terisak *lebay* saya tidur dan berharap semua rasa capek hilang biar besoknya msih bisa jalan-jalan. Hihii :p

Bersambung…..

Menginjakkan Kaki Pertamakali di Singapura Part I

Menginjakkan Kaki Di Bumi Singapura Part I

Selamat datang di Singapura :)
Selamat datang di Singapura 🙂

Tanpa terasa pesawat sudah mau landing di Bandara Changi Singapura, tulisan Changi Airport sudah terlihat dari pesawat, hihii senangnya! Menginjakkan kaki untuk pertama kali ditanah Singapura. Begitu masuk Bandara Changi saya bagaikan anak udik, ndeso! Kagum melihat Bandara yang super gede dan bagus itu. Sesuai dengan apa yang saya baca dan saya catet dibuku (serius ke singapura saya bawa catatan yang isinya petunjuk jalan dan inetary saya selama disana) dari terminal satu harus naik skytrain dulu ke terminal dua, dan disana baru beli tiket MRT. Saya membeli Singapore Tourisrm Pass atau STP untuk 2 hari seharga 16 SGD dan Deposit 10SGD jadi total 26SGD. Selanjutnya saya menuju Hostel yang sudah saya booking sebelumnya. Hostelnya didaerah Clarke Quay , lumayan  dari hasil tanya mbah google sih tempatnya lumayan strategis. Horeee !!.

Di dalam MRT :)
Di dalam MRT 🙂

Saya sempat salah MRT, seharusnya untuk menuju Clarke Quay harus naik MRT line Ungu yang menuju ke Marina Bay dari stasiun interchange di Dhoby Ghaut, ehh tapi malah naik yang arah sebaliknya yaitu punggol. Baru sadar pas udah ngrasa kok perjalannnya lama dan nggak berhenti di stasiun Clarke Quay , padahal menurut inetary saya harusnya hanya sekali berhenti sudah sampai, tapi ini kok sampai berkali-kali berhenti diStasiun MRT kok nggak ada pemberitahuan berhenti di Clarke Quay, setelah saya lihat papan pengumuman di MRT ,ternyata MRT yang saya tumpangi menuju Punggol. Padahal untuk menuju Clarke Quay saya harus naik MRT yang ke arah HarbourFront.Akhirnya saya turun di stasiun PatongPasir dan balik lagi naik MRT yang ke arah HarbourtFront.

Di Clarke Quay (depan MRT) :D
Di Clarke Quay (depan MRT) 😀

Akhirnya saya sampai juga di Stasiun MRT Clarke Quay, meskipun ada dibawah tanah tapi nggak kayak dibawah tanah. Tempatnya bersih dan terang, pokoknya bagus banget deh apalagi stasiun yang interchange macam Dhoby Gaut. Saya sempat bingung pas harus ganti line MRT di stasiun Interchange. Di stasiun MRT Clarke Quay saya terus ngikutin tulisan EXIT, pokonya dimana tanda EXIT saya terus jalan. Lalu sampailah saya “diatas” (stasiun MRT ada dibawah tanah) dan wussss panasnya jalanan Singapura begitu menyengat hari itu. Didekat stasiun MRT Clarke Quay seingat saya ada halte bus, pokoknya pas keluar dari stasiun yang saya liat pertama adalh bus. Hehehe. Saya lalu mengamati sekitar dan tersenyum sendiri. “Ohh ini to Singapura” kata saya dalam hati.

Setelah puas mengamati sekitar, tepatnya bingung harus jalan kemana kalau mau ke Hostel. Saya berjalan ke arah kanan dari Stasiun MRT. Saya turuti kata hati saya, dan terus membolak-balik kertas booking hostel, disitu  ada alamat hostelnya. Namanya juga pertamakali pergi ke negeri orang, meskipun alamatnya tertulis jelas tapi tetap aja nggak ngerti. Saya hanya terus berjalan sambil berdoa dalam hati supaya bisa menemukan hostel saya. Dan Voila, dari kejauahan saya lihat tulisan “South Bridge Rd” yess yesss dan saya bisa menemukan hostel saya. Karena waktu cek in jam 2 siang, dan saat saya sampai hostel masih jam 10 saya akhirnya istirahat sebentar dan online dengan wifi hostel untuk ngabari orang rumah.

Suasana di Hostel :)
Suasana di Hostel 🙂

Sesuai dengan inetary yang sudah saya buat jauh-jauh hari, hari pertama di Singapura saya akan mengunjungi Sentosa Island. Apalagi kalau bukan untuk berfoto didepan bola Universal Studio hihii ( dasar mahasiswa kere 😛 ). Sebelumnya saya sudah janjian dengan seorang teman yang saya kenal dari sebuah grup, tapi mungkin karena dianya nggak nemu sinyal wifi makanya nggak bisa dihubungi. Oke kalaupun harus sendiri menjelajah Sentosa itu tidak masalah. Allah memang selalu memahami hambanya, DIA kirimkan seorang teman jalan untuk saya melalui mbak Rina J. Kebetulan teman mbak Rina sedang ada di Singapura. Singkat Cerita akhirnya saya jalan bareng ke Sentosa Island bersama temannya mbak Rina yang bernama Emil, dan ternyata dia juga anak UB. Dunia emang selebar daun kelor -___-

Karena malas jalan ke stasiun MRT akhirnya saya memutuskan untuk naik bus dari halte depan Hostel sekalian ngliat jalanan Singapura hehe. Sampai di Vivo City saya langsung nyari foodcourt untuk beli makan. Maklum di Sentosa Island mahal jadilah membawa bekal adalah pilihan cerdas. Untuk mencari foodcourt ini butuh effort yang luar biasa, saya dan Emil harus naik turun eskalator , Kami berdua NYASAR. Maklum sebelumnya gak pernah masuk mall segede itu, mentok di Royal Plasa Surabaya -___-. Setelah bercapek-capek ria nyari Foodcourt akhirnya saya beli nasi dan ayam seharga 3SGD. Nasi dan ayam goreng tok seharga hampir 30rb .. astagaaaa !!!

Broadwalk ke Sentosa Island :)
Broadwalk ke Sentosa Island 🙂

Setelah muter-muternyari jalan keluar mall, akhirnya kami berdua ketemu juga sama “boardwalk” menuju Sentosa Island. Karena kami mahasiswa kere jadilah jalan kaki menjadi pilihan yang cerdas. Tapi tenang aja, meskipun jalan kaki tapi nggak bakal capek karena ada eskaltor datar yang siap mengantar kita ke Sentosa Island. Wihhhh …canggih *pasang muka ndeso*. Nyampek di Sentosa, bayar 1 SGD (pas didepan pintu masuk Sentosa), dan kami langsung cusss poto-poto ria. Spot poto utama adalah Universal Studio (lagi-lagi karena mahasiswa kere jadilah Cuma poto didepan bola dunianya Universal Studio). Awalnya saya berniat menonton Song Of The Sea tapi batal karena teman saya nggak mau karena nggak ada uang. Oke lah.. tidak apa-apa , lagian sayang juga 12SGD Cuma buat liat pertunjukan yang hanya beberapa menit *tetep perhitungan* :D.

Bersambung ……

Menuju Singapura, Yes!!

Perjalanan Menembus Batas, Called “Finding Desy” Singapura Part I

 

Sebelum Berangkat :)
Sebelum Berangkat 🙂

Pukul 04.00 saya sudah bersiap-siap menuju Bandara diantar kakak saya plus suaminya, ayah dan adik saya yang nomor dua. Rasa takut dan deg-degan mulai melanda saya saat perjalanan ke Bandara. Jarak rumah dan bandara yang hanya 19km terasa begitu lama, meskipun deg-degan tapi saya sudah tidak sabar untuk menginjakkan kaki saya di Singapura. Sampai di Bandara Soetta Cengkareng, saya bergegas menuju counter air asia diterminal 3. Ini pertama kalinya saya saya diterminal 3, dan ternyata terminal 3 lebih bagus dari terminal 1 dan 2. Hehehe. Perasaan saya mulai kacau, antara senang , takut, khawatir dan rasa penasaran. Yahh karena ini pertama kalinya saya naik pesawat. Saya ulangi ini pertama kalinya saya naik pesawat dan tujuannya adalah luar negeri, seorang diri pula. Seorang diri!

Ada rasa bangga tersendiri karena saya bisa membuktikan ucapan saya kepada orang-orang yang ngece saya sebelumnya. Sebelumnya saya selalu menjadi olok-olakan dikeluarga, meskipun hanya bercanda tapi nggak enak banget. Masalahnya Cuma satu, saya belum pernah naik pesawat dan parahnya hampir semua keluarga dekat saya pernah naik pesawat. “aku sekalinya naik pesawat langsung keluar negeri” begitu kata saya saat itu ,yang kemudian disambut tawa oleh keluarga saya. Ancene Ngece! -____- . Ucapanku dulu kini menjadi nyata, dan pasti ada ALLAH dibalik ini J.

Begitu masuk counter cek-in saya udah deg-degan banget. Untung ada Ayah yang menemani saya hingga ditangga pesawat. Ayah saya punya kartu pass bandara jadi bisa ikutan masuk, hihii tidak bisa dibayangin gimana kalau nggak ada Ayah pasti panik duluan. Hehe. Tepat pukul 5 , ada panggilan untuk masuk pesawat, jadilah saya semakin deg-degan dan parahnya raut wajah panik terbaca oleh Ayah saya. Saya berjalan menuju pesawat, Ayah bilang “ Sudah nggak perlu takut, ini akan jadi pengalaman yang paling manis dalam hidupmu”. Saya hanya tersenyum simpul. Saat sudah mendekati tangga pesawat dan saya harus segera naik, ayah saya memeluk dan mencium kepala saya. Dengan tersenyum beliau bilang “Hati-hati, dan jangan takut. Ini pengalaman buatmu”

Satu dua tangga pesawat saya lalui, ada perasaan bahagia bercampur haru yang saya rasakan. Sebentar lagi, ya sebentar lagi saya akan menginjakkan kaki disingapura. Sebuah impian yang akhirnya menjadi nyata. Ayah saya masih ditempat yang sama melihat saya masuk pesawat. “IF YOU CAN DREAM IT, YOU CAN ACHIEVE IT” ! MAHA SUCI ALLAH”. Saya ucapkan itu didalam hati saya saya masuk ke pesawat, dasar saya lebay mungkin ya, jadilah saya meneteskan air mata :D. Air mata bahagiaa J. Saya mendapatkan kursi nomor 17F , yess dekat jendela jadi bisa liat pemandangan diluar. Tibalah pesawat take-off dan ternyata naik pesawat nggak ngeri-ngeri amat dan lancar-lancar aja.

Diatas Awan :D
Diatas Awan 😀

Dari dalam pesawat pandangan saya tidak lepas dari pemandangan diluar. Mulut saya terus komat-kamit memuji asma Allah. Betapa tidak, apa yang saya lihat sungguh menakjubkan, saya bisa melihat indonesia dari atas, berada diantara gulungan awan. Yess.. saya diatas awan, awan bergulung-gulung seperti ombak dilautan. Persis seperti yang saya lihat difilm 5cm. Hehe. Senang sekali rasanya. Oiyaa..saat dipesawat sebelum masuk singapura pramugarinya membagikan kertas imigrasi yang harus diisi. Isinya ternyata nggak terlalu “njlimet”, dan masih bisa saya pahami isinya. Setelah selesai mengisi kertas imigrasi saya kembali melanjutkan untuk melihat ciptaan Allah yang sangat Indah. Sesuatu yang belum saya lihat sebelumnya, membuat saya tidak berhenti berdecak kagum.

Bersambung…

 

Nyaris Tidak Jadi ke Singapura

(Catatan Lanjutan Dari Cerita Panjang Menuju Singapura dan Kuala Lumpur. Perjalanan yang saya sebut “Finding Desi” )

Hari yang ditunggu sudah dekat. Setelah beberapa hari sebelumnya pikiran saya dikacaukan oleh erupsi kelud. Pikiran terus tertuju pada keluarga yang ada dirumah. Saya ingin pulang dan membatalkan perjalanan saya. Saya ingin pulang, tapi percuma bandara banyak yang ditutup dan harga tiket kereta meroket. Selain itu keluarga yang di Kediri juga memberi kabar kalau sudah tidak ada apa-apa. Rasanya aneh dan jahat banget, karena saya pergi ke Singapura ditengah bencana yang terjadi di Kota saya.

Saya terus memantau berita tentang Kelud dan juga Kediri baik melalui televisi maupun berita online. Kabar yang membuat saya kaget adalah penutupan sejumlah bandara karena erupsi Kelud. Sungguh dahsyat dampak meletusnya Kelud ini. Abu vulkaniknya menyebar kemana-mana dan Jogja dan sekitarnya terkena dampak yang cukup parah hingga menyebabkan Bandara ditutup hingga beberapa hari. Tidak hanya itu bandara dikota-kota lain pun juga ditutup misal malang, semarang, dan surabaya. Penutupan bandara ini menyebabkan banyak penerbangan yang dicancel.

Saya was-was apabila penerbangan saya ke Singapura juga dicancel. Sebelumnya teman (maya) saya yang akan berangkat ke Singapura melalui Jogjakarta batal karena flight nya dicancel. Dan kecemasan saya itu terjadi, pada tanggal 14 pagi setelah bangun tidur saya membuka portal berita online. Ada berita tentang air asia yang membatalkan dibeberapa rute penerbangannya, dan rute CGK-SIN termasuk didaftar itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa membaca berita itu, dan pikiran saya langsung menuju rumah. Pulang! Saya bergaya sok tenang padahal tangan tidak lepas dari handphone berusaha menelpon call center Air Asia namun tidak ada jawaban.

Hari berikutnya ketika saya mengecek facebook air asia, Air Asia merelease berita bahwa penerbangan sudah kembali normal dan tidak ada pembatalan. Girang bukan main saya, lalu saya pergi ke TangCity bersama kakak saya untuk menukarkan uang. Sebelumnya saya sudah 40SGD dari rumah. Kakak saya memberikan uang cash sebesar 1,5juta. Ini jumlah yang sangat banyak bagi saya, padahal saya seharusnya hanya menerima 900rb, itu jumlah jatah uang saku saya dari kakak saya selama 6bulan yang saya biarkan mengendap dikakak saya. Hehe. Saya menolak pemberian kakak saya itu, karena saya merasa sudah cukup. Tapi dia tetap ngeyel dan menukarkan uang 1,5juta itu ke dollar singapura. Hasilnya 150SGD dan masih kembalian beberpa puluh ribu rupiah. Dia lalu memberikan uangnya kepada saya. Jadi total saya membawa uang 190SGD dan 100RM, jumlah yang sangat besar diluar perkiraan saya.

“untuk apa uang sebanyak ini?”

“ yo ben awakmu gak kekurangan pas nang singapura. Ojo hemat-hemat. Nang kono awakmu ben iso tuku sembarang-barang”

Ya begitulah kakak saya, meskipun galak tapi hatinya begitu lembut dan sangat perhatian. Sungguh ini diluar ekspetasi saya. Ada perasaan nggak enak, saya ke singapura hanya untuk main-main tapi keluarga memberikan banyak dukungannya melalui uang yang diberikan kepada saya begitu banyak. Sebelumnya saya tidak pernah diberi uang, apalagi itu untuk sekedar dolan. Harus mengumpulkan uang sendiri kalau ingin apa-apa diluar kebutuhan kuliah. Allah maha baik, dan sekali lagi pertolongan ALLAH maha dekat.

Perjalanan Menembus Batas, Called “Finding Desy” Kediri-Jakarta

Perjalanan Menembus Batas, Called “Finding Desy”

Kediri-Jakarta

( Cerita mahasiswa Kere meraih mimpinya Part II )

perjalanan dimulai dari sini
perjalanan dimulai dari sini

Akhirnya hari yang ditunggu datang juga, setelah malamnya nggak bisa tidur. Ini akan menjadi pengalaman pertama bagi saya, perjalanan jauh seorang diri, tidak hanya ke Jakarta tapi keluar Negeri, (yah meskipun hanya SG dan KL). Kereta Brantas yang akan membawa saya ke Jakarta berangkat dari Kediri pukul 12.00, dengan diantar papa saya berangkat ke stasiun. Ada perasaan deg-degan karena ini pertama kalinya saya pergi jauh tanpa ditemani keluarga. Yess .. I can Do it! Saya lawan rasa takut saya , dan percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tepat pukul 12.00 kereta berangkat, saya mendapat tempat duduk yang depan dan sampingnya adalah laki-laki. Whaaatttttt…. A big disaster! Beruntung para bapak-bapak itu sebagian nggak duduk ditempatnya, tapi lebih milih duduk di dekat pintu dan sambungan kereta. Ditempat duduk sebelah ada satu keluarga yang ehmmm bisa dikatakan alim dan taat. Dasar saya orangnya kepo , daripada bengong saya amati mereka. Sang bapak sibuk menyiapkan ini itu agar anak istrinya nyaman, dan bahkan rela berdiri. Pokokonya tuh bapak rempong banget, ngalah-ngalahi istrinya. Saya sedikit terganggu sih awalnya, karena mereka berisik dan kakaean polah.

Semakin malam, udara malah semakin panas (padahal Kereta AC), saya lalu melepas jaket saya dan berniat tidur. Tapi sekilas saya lihat satu keluarga disebelah saya itu nggak tidur, tapi masih sibuk dengan kerempongannya. Sang istri rewel karena panas, dan terus ngipasi badannya. Sang suami pun terlihat panik melihat istrinya begitu. Dia lalu berusaha membuat istrinya tidak kepanasan dengan cara ganti ngipasi. Pokoknya tuh bapak-bapak rempong banget dahh. Lama-lama saya jadi simpatik, wahh ada ya suami yang kayak begini. Saat bangku yang agak belakang kosong, si bapak itu buru-buru menyuruh istrinya tidur dan dia menunggui istrinya tidur, dan anak-anak mereka dibiarkan tidur dibangku sebelah saya. Si bapak itu terus mengawasi anak istrinya. Ada perasaan hangat yang saya rasakan saat melihat keluarga tersebut, apalagi saat waktu maghrib tiba mereka bergantian sholat didalam kereta. Saya baru tahu kalau si Ibu tadi ternyata sedang mengandung (abis nggak keliatan karna bajunya longgar), pantesan suaminya rempong banget.

Pukul 01.24 tepat, sesuai jadwal kereta sampai di stasiun Pasar Senen. Wihh…masih malam banget. Gak mungkin dijemput jam segini. Akhirnya saya putuskan untuk menunggu dijemput didepan Sevel Senen. Ternyata banyak juga yang “ngemper” di Senen. Ternyata tidak se-menakutkan yang saya bayangkan sebelumnya. Oke.. saya tidur stasiun malam itu. Pengalaman pertama tidur di stasiun, seorang diri pula. Saya tidur sambil memeluk tas cangklong saya, dan bersandar dididing Sevel. Karena suasana yang rame dengan orang, saya tidak bisa tidur. Saya lalu mengamati sekitar (insting kepo saya keluar), ada beragam aktivitas disekitar saya. Mulai dari yang jualan kopi-popmie , tidur ngorok, anak-anak muda yang mainan gadget, hingga anak kecil yang masih belum tidur. Masyallah mereka masih mancari uang ditengah malam seperti itu, dengan mengemis tentunya. Padahal anak seusia mereka harusnya tidur nyenyak dirumah dan bangun dipagi hari untuk sekolah.

2014-02-13 05.01.50
wajah ngemper di Depan Sevel Stasiun Senen

Syukur alhamdulilah saya tidak pernah merasakan pahit kerasnya dunia luar ketika saya masih anak-anak. Masa kecil saya cukup bahagia dan hidup dengan sangat nyaman dihangatnya rumah, meskipun tidak ada ibuk bapak saya. Malam itu rasanya saya sangat bersyukur dengan hidup saya, dan rasanya menyesal telah banyak mengeluh. Dua orang anak kecil yang saya lihat tadi memberikan saya “tamparan” bahwa saya tidak boleh terus terlena dengan kenyamanan saya dirumah. Dirumah saya tidak pernah mendengar suara keras dari keluarga saya apalagi dipukul, kalaupun dimarahi hanya sekedar omelan panjang yang pasti akan masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Sedangkan didepan saya malam itu, saya melihat seorang kakak yang memarahi adiknya dan bahkan memukulnya saat adiknya berjalan agak lambat dibelakangnya. “ Goblok, totol loe ya, jalan aja lelet gimana mau dapat duit kalo elo kayak gini” Plakkkkkk tangan kakak itu mendarat di pipi sang adik, masih ditambah tangannya yang nyendul kepala si adik.

Penampilan kedua bocah itu sangat lusuh. Badannya kotor dan baju putih yang mereka gunakan tidak lagi putih warnanya. Rambutnya lusuh, dan kukunya kotor. Dimana ibu mereka? Dimana bapak mereka?. Diusia yang masih anak-anak mereka sudah harus berhadapan dengan dinginnya malam yang kejam. Melihat kejadian itu, niat saya untuk solo backpacker semakin menjadi, dan sudah tidak sabar untuk segera menginjakkan kaki disingapura. Saya niatkan pergi ke Singapura untuk mengetest diri saya sendiri. Seberapa berani saya seorang diri di negeri orang yang tentunya disana saya tidak mengenal siapapun? Apakah saya bisa bertahan? Meskipun hanya dua hari tapi saya yakin akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. SINGAPORE I’M COMMMINGGGG !!!!