Mantan Preman Sekolah yang Kini Menjadi Ustadz

Tulisan ini saya buat satu tahun lalu (tapi lupa diposting -__- ), setelah pertemuan saya dengan teman SMA yang dulu “berandalan” stapi sekarang jadi pengasuh pondok pesantren didesa Banyakan , Kediri .

=========================================================

“TIDAK PEDULI SEBURUK APAPUN MASA LALUMU,

MASA DEPANMU MASIH SUCI”

Pagi ini saya mendapatkan sebuah pelajaran bahwa dalam hidup orang itu berproses. Berproses menjadi baik dan semakin baik. Tidak munafik, bahwa saya sendiri masih sangat jauh untuk disebut baik. Masih jauh sekali dari kata baik. Bila ada yang kebetulan mengatakan saya baik, itu merupakan kebaikan dari ALLAH yang menutup aib saya. Pagi ini Allah mempertemukan saya dengan seorang teman yang darinya saya banyak belajar.

Diperjalanan menuju toko tadi pagi, ada yang manggil saya. Karena merasa ngga kenal jadi saya cuekin aja. Itu pasti anak pondok yang nyapa temannya, pikir saya sih gitu. Saya Cuma punya satu orang teman yang mondok di Lirboyo, dan itupun jarang banget ketemu. Nah, pas dijalan tuh orang kok ngikutin saya terus. Aduhh gimana dong, saya liat dari spion tuh orang ngikuti saya apalagi sambil senyum-senyum gitu. Saya semakin takut , aduh gimana dong kalo ada yang niat jahat *udah kepikiran jelek*

Orang tadi semakin dekat, dan tiba-tiba dia bilang “ Desi, SMA Lima?”  . Hah, orangnya tahu nama saya dan tahu saya dulu SMA 5. “Iya, siapa ya?” . “Eh, sek sek ya, nang kono ae” . Dia lalu ngegas motornya mendahului saya, pas di area pondok. Aduh siapa ya? Pas nyampek ditoko saya berhenti. Eh dianya ikut berhenti. Orang yang ngikutin saya dari tadi ternyata teman saya waktu SMA. Rupanya waktu telah merubah dirinya , menjadi seorang anak pondokan hihii. Tanpa bersalaman, dia lantas menanyakan kabar saya. Saya begitu kaget melihat dia sekarang, jauh berbeda dengan dia yang dulu.

Bukan bermaksud membuka aibnya, tapi sungguh teman saya ini dulunya berandalan nomer satu disekolah bersama geng-genges nya. Semasa SMA dia bersama teman-temannya sering bolos dikantin belakang kelas saya. Dari situ juga saya kenal dia dan teman-temannya. Tidak hanya kenal, tapi dia sering malak saya. Minta duit seribu dua ribu buat beli rokok.. Masalah pergaulan, sudah jangan ditanyakan lagi gimana. Tapi sekarang dia berubah, dan dia bilang dia senang bisa bertemu teman SMA nya. Sejak lulus sekolah dia masuk pondok, dan hilang contact dengan teman-temannya yang lainnya.

Saya yang masih kaget , nggak percaya banget dia bisa jadi begitu. Dasar saya iseng, saya guyoni dia “nggeh gus” Haha. Dia lalu bercerita tentang kehidupannya yang sekarang. You know gaess? Sekarang dia jadi pengasuh di pondok pesantren milik keluarganya. Sejak abahnya meninggal, dia yang menjadi “pewaris tunggal” yayasan milik keluarganya karena hanya dia satu-satunya anak laki-laki. Dia yang dulu suka jelalatan apalagi sama cewek, sekarang mendadak diam. Setiap kali saya guyoni dia hanya bilang “Aduhh ojo ngono to”, “astaghfirullah” , sangat jauh dengan dia yang dulu hehe.

Dia juga bercerita tentang anak didiknya, yang kalau dia bilang cerminan dirinya dulu. Kalau dulu dia nakal, sekarang dia harus mendidik anak-anak didik dipondoknya yang juga nakal-nakal seperti dia dulu. Dari cara berpikirnya, dari cara ngomongnya semuanya berubah. Menjadi agamis, menjadi religius. Dalam pikiran sekarang hanya ada santri-santrinya , mikirin gimana mendidik santri-santrinya. Dia juga sempat mengomentari saya , yang sekarang pakai jilbab. Selain itu dia juga “menceramahi” saya tentang hal-hal yang intinya supaya sesuai dengan aturan agama. Saya Cuma jawab nggeh gus, sambil cekikikan. Hahaha.

“Keajaiban itu bernama Hidayah”

Saya dan mungkin teman-teman yang lain (yang kenal dia dulu) nggak akan percaya kalau teman saya yang tadi bisa mejadi seorang pengasuh pondok pesantren. Bahkan tadi, pas salah seorang teman saya yang sejak SMA mondok di Lirboyo nggak sengaja lewat dan melihat kami dia langung puter balik haha. Mungkin dia ingin memastikan , yang sedang bersama saya itu benar teman satu kelasnya dulu atau bukan.  Mendadak saya canggung dan merasa aneh berada diantara dua lelaki pondokan ini *melipir-melipir* .

Setelah pertemuan saya dengan dua orang teman SMA tadi saya jadi merasa malu. Malu pada diri sendiri. Teman saya yang mantan berandalan sekarang jadi pengasuh pondok pesantren. Bukankah ini sesuatu yang luar biasa? Sungguh Allah itu maha baik ya , semoga saya bisa mengikuti jejak hijrah teman saya itu. Dan semoga dia bisa kuat memegang amanah menjadi pembina bagi anak-anak dipondok pesantren nya . PROUD OF YOU, Suzin : ).

Ps : waktu ngobrol sama saya dia lebih sering nunduk, dan dia juga enggak berani salaman sama saya. Dia juga berpesan pada saya untuk menjaga diri dan kehormatan saya sebagai perempuan. Kisah hidupnya dulu, kenakalannya dia adalah sesuatu yang amat dia sesali. Terimakasih , Allah telah engkau pertemukan aku dengannya : ) .

Dari Mall Menuju Pondok Pesantren #2

PP-Putri-Tahfizhil-Qur’an

“Kita tidak akan pernah tahu kapan hidayah Allah itu datang”

            Saya bersyukur pernah mengalami hal sulit dalam hidup karena darinya saya banyak belajar tentang kehidupan. Tahun 2010, menjadi awal perjalanan hijrah saya untuk mendekat kepada Tuhan. Awal 2011, saya kembali ke Kediri dengan membawa “oleh-oleh” jilbab. Iya, semenjak itu saya mulai tertarik belajar agama, dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Meskipun jilbab yang saya pakai masih buka tutup kayak portal perumahan, tapi karena jilbab inilah saya jadi termotivasi untuk tidak meninggalkan sholat. Dan memang benar, kadang manusia itu tidak tahu diri. Hanya ingat Tuhan kalau sedang susah, kalau dikasih kenikmatan sering lupa bersyukur begitu juga dengan saya.

Tahun 2013 saya kehilangan orang yang saya cintai, Kakak saya dipanggil kembali olehNya. Sejak sakit dirumah hingga koma di ICU saya berada didekatnya, bahkan detik-detik dia tidak ada saya berada disampingnya. Saya terus berada didekatnya, membisikkan Yasin dan Sholawat sewaktu dia koma. Waktu itu pas sore hari dia koma lagi, sekeluarga sudah panik apalagi Mama yang sudah tidak sadarkan diri waktu ada panggilan dari ICU bahwa Mas kritis. Saya beranikan diri masuk ruang ICU, sambil menangis saya bisikkan sholawat dan saya pegang tangannya. Tangannya bisa gerak-gerak dan dia meneteskan air mata meskipun dia tidak sadar. Malam harinya dia koma lagi, hingga sekitar jam 3 pagi tubuhnya sudah tidak bisa apa-apa lagi. Tangan dan kakinya sudah dingin. Pagi harinya dokter menyatakan dia telah tiada.

Dua minggu saya bersama Mas, merawat dia sejak masih sakit dirumah, dia mulai kehilangan keseimbangan dan kesadaran, koma di ICU hingga dia meninggal memberikan banyak sekali pelajaran bagi saya. Ternyata jarak hidup dan mati itu sungguh dekat.  Saya hanya meninggalkan dia sebentar karena ketiduran, tapi dia telah malah lebih dulu ninggalin saya.

Yang paling dekat adalah kematian. Yang paling jauh adalah masa lalu. Yang paling besar adalah hawa nafsu. Yang paling berat adalah memegang amanah. Yang paling ringan adalah meninggalkan sholat. Dan yang paling tajam adalah lisan manusia. -Imam Al Ghazali-”

Beberapa bulan setelah kepergian Mas, saya melakukan perjalanan solo ke Singapura-Malaysia. Diperjalanan pulang dari Kuala Lumpur ke Surabaya, saya nyaris menyusul Mas. Waktu itu cuaca sedang buruk, pesawat delay sedang saya seorang diri dinegeri orang. Belum lagi pas dipesawat cuaca buruk yang menyebabkan pesawat sedikit tergoncang. Kebetulan waktu itu saya duduknya didekat jendela, jadi bisa lihat keluar. Subhanallah, pas saya lihat keluar sedang hujan deras disertai petir. Duh kilatan petir itu begitu dekat, jarak saya dan langit terasa begitu dekat. Saya sempat berpikir kalau malam itu saya akan berjumpa dengan malaikat Izrail.

Kedua kejadian itu dan ditambah lagi saya harus kehilangan satu orang lagi yang saya cintai di tahun 2014 membawa saya untuk lebih serius belajar agama. Saya belajar untuk tidak buka tutup jilbab, dan belajar memakainya kemanapun saya pergi. Setelah proses yang lumayan panjang, awal 2015 saya memutuskan untuk benar-benar berhijrah. Untuk lebih serius belajar agama. Dimulai dari ikut komunitas ngaji, hingga Allah memberikan saya kesempatan untuk belajar di pesantren. Saya tidak tahu harus mulai berhijrah darimana. Bahkan dalam proses berhijrah saya sempat bimbang. . Belum lagi banyak sekali pertanyaan “Ngaji nya sudah sampai mana?” yang selalu membuat saya bingung menjawabnya.

Tiba-tiba muncul keinginan untuk belajar agama lebih dalam lagi. Kali ini tidak hanya wacana, tapi saya benar-benar ingin belajar agama terutama tentang Fiqih. Saya ingin belajar agama dipondok!. Keinginan belajar dipondok begitu kuat, sampai mengganggu tidur saya. Sempat galau karena saya masih harus menyelesaikan skripsi tapi juga pengen banget belajar agama. Setelah tanya sana-sini akhirnya saya beranikan diri untuk datang kepondok pesantren Lirboyo. Pondok yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah saya. Berdasarkan info yang saya dapatkan dari seorang teman saya akhirnya datang kepondok yang bisa “nduduk” ga harus nginep disana. Disana saya diterima oleh Ustadzah Anis dan Ustadzah Alfina. Sore harinya saya lansung masuk dan test kemampuan ngaji. Test ini gunanya untuk menempatkan saya dikelas yang sesuai dengan kemampuan saya.

“Orang berubah karena dua hal. Pertama karena mereka tersakiti dan yang kedua karena mereka banyak belajar dari pengalaman”.

Iya, perubahan dalam hidup yang saya alami disebabkan oleh “pelajaran” yang saya dapatkan begitu banyak. Hingga membawa saya pada satu titik yang mengharuskan saya untuk kembali pada Tuhan saya. Lalu, bagaimana kehidupan dipondok ? Tunggu cerita saya sebagai santriwati baru ya 😀

Dari Mall menuju Pondok Pesantren #1

Untuk sampai dipondok pesantren yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah membutuhkan waktu yang lama. Setidaknya perlu 5 tahun untuk bisa sampai ke pondok pesantren yang jaraknya kurang dari 500m dari rumah”

Hallo, selamat malam. Eh, iya ini malam minggu lho. Apa kabar para jomblo-jomblo didunia, masih sehat dan kuat kan? Hehe. Wah, judul tulisannya agak gimana gitu ya dari mall menuju pondok pesantren , maksudnya apa coba?. Baiklah, saya akan bercerita bagaimana perjuangan saya bisa sampai pondok pesantren yang letaknya tidak lebih 500m dari rumah saya :D. Sejak lulus SMP tepatnya tahun 2007 yang lalu, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah saya di Kediri. Selama di Kediri saya tinggal bersama Budhe Pakdhe yang biasa saya panggil Mama Papa. Ya, sejak tahun 2007 itu saya resmi menjadi “Cah Kediri”. Seneng banget dong ya, yang biasanya tinggal di pelosok desa sekarang jadi anak kota.

Ketika SMA saya bertemu dengan banyak teman baru, bisa menekuni hobi menulis saya dengan bergabung di Komunitas Muda Radar Kediri, pokoknya jadi anak hitsss dimasanya. Kalau ditanya hobinya apa saat itu? Maka saya jawab –NGEMALL- . Iya dong, ngemall biar hitsss, apalagi didukung dengan fasilitas yang memadai. Kemana-mana ga perlu repot karena ada motor yang bisa dipakai, kalau terpaksa gak ada motor ya masih ada temen-temen yang mau antar jemput. Oiya dulu saya punya temen yang walaupun masih SMA udah bawa mobil, jadilah makin seneng kalau diajakin jalan-jalan. Hampir setiap hari kerjaannya thawaf di mall. Jangan dipikir banyak duit, karena masih ABG labil yang penting bisa aktualisasi diri udah lebih cukup biarpun cuma beli teh poci asal belinya dimall. Ngapain aja dimall? Jalan-jalan , lihat-lihat, nongkrong, gosip , dan tidak lupa foto-foto. FIX ALAY sekali!. Lanjutkan membaca “Dari Mall menuju Pondok Pesantren #1”

Saya Tidak Mau Menjadi ‘Sholehah’!

Hello. It’s been a while since I write in this blog. But to be honest I never stop writing inside my head. Ideas, concept, thought or whatever you call it (ah sudah ah sok keminggrisnya :D). Mungkin sudah saatnya untuk kembali kedunia saya , kembali menjadi diri saya sendiri dan kembali pada peta konsep hidup yang saya buat sendiri.  Semua dimulai dari awal tahun ini, saat saya memutuskan untuk “BERHIJRAH”. Tunggu, awalnya saya tidak berniat untuk sekedar mengikuti trend. Sepertinya saat ini sedang booming Berhijrah.

Dalam perjalanan hijrah saya bertemu dengan banyak orang. Bertemu dengan banyak orang yang isi kepalanya berbeda-beda. Jangan tanya lagi pernah ada konflik apa tidak , banyak sekali. Saya tidak mengira bahwa saya bisa menjadi seseorang yang seperti ini. Saya berubah dari orang yang tadinya tidak peduli akan penampilan menjadi manusia yang ingin selalu tampil cantik. Tidak hanya ingin terlihat cantik, tapi juga ingin terlihat “Sholehah”. Rasanya ada suatu kebanggan dihati ketika orang melihat sesuatu yang “beda” dari saya. Itu sebabnya saya getol hijrah , tapi sayangnya hanya diluarnya.

Jangan tanya lagi sekarang gamis saya ada berapa, jilbab syari saya sudah ada berapa biji. Satu dua hari saya merasa senang ketika memakainya, apalagi kini tengah ramai fashion yang dibelakangnya ada embel-embel syari. Semua terasa menyenangkan, ketika saya tampilkan potret diri di media sosial lengkap dengan atribut ke-syari-an saya.  Jangan tanya lagi berapa komentar dan pujian “Sholehah” yang saya dapatkan. Iya, semoga komentar dan pujian mereka merupakan doa bagi saya. Tapi, dalam hati saya berontak. Ada rasa bersalah , ada rasa malu, ketika manusia melihat diri saya baik tapi kenyataannya masih doyan maksiat pada Tuhan. Buat apa itu semua? Buat apa menjadi sholehah hanya dimata manusia. Saya belum siap untuk itu semua. Butuh proses panjang untuk menjadi sholehah yang sesungguhnya.

“ Menutup aurat dengan sempurna itu wajib karena itu perintah Allah”

“ Ah, sepertinya kamu iri karena kamu belum mampu berhijab syari”

 Ah, iya saya lupa bahwa setiap perubahan itu pasti ada sisi negatifnya. Saya tidak mengira bahwa saya bisa berubah menjadi sepeduli ini dengan omongan orang. Saya tidak mengira bahwa bisa setakut ini ketika saya berbeda dengan kebanyakan mereka.  Saya begitu mendengarkan omongan orang, dan mengabaikan jeritan didalam hati. Saya begitu sangat panik ketika ada orang yang nyinyir soal penampilan. Dihujat ketika tidak memakai kaos kaki, dinyinyiri ketika jilbabnya tidak sepanjang yang mereka pakai. Saya kehilangan diri saya sendiri, saya kehilangan identitas saya hanya untuk terlihat bahwa saya sudah berhijrah.

Padahal dulu, saya tidak peduli itu semua. Saya bisa memakai apapun yang saya suka meskipun itu bikin yang ngeliat sakit mata. Saya bebas menulis apapun tanpa peduli komentar orang. Saya yang selalu berusaha berkata jujur meskipun kadang kejujuran saya tidak semua orang bisa langsung menerimanya. Tidak, bukan perubahan seperti ini yang saya inginkan. Saya tidak ingin kehilangan diri saya sendiri, dan hidup atas dasar pendapat orang lain. Saya tidak bisa seperti ini. Berkumpul dengan banyak orang, membuat saya bias. Saya mempertanyakan sebenarnya apa yang saya cari disini, apa yang saya inginkan?

Ah, kenapa dunia sosial ini begitu jahat? Disaat pergaulan saya semakin luas, disaat kemampuan bersosial saya semakin luas saya lupa banyak masalah yang juga dihadapi. Memang memiliki jaringan sosial yang luas akan memudahkan kita untuk bertahan ditengah arus sosial yang semakin menggila saat ini. Tapi kembali lagi pada tujuan awal, untuk apa menjadi baik dimata orang lain tapi kehilangan jati diri?. Saya sangat bersyukur ditengah-tengah lingkungan sosial saya yang semakin luas, saya masih bisa bersosialisasi dengan mereka yang tetap bertahan bersama saya. Menerima saya apa adanya, tertawa ketika saya bercanda tapi gak lucu, menerima saya yang kata mereka cerewetnya juara, menerima saya yang kalau mau tidur harus nyapu dulu, menerima saya yang katanya lebay sedunia. Ya, Allah saya sangat menyayangi mereka : ).

Tetapi kembali lagi, kalau harus berubah tapi berhenti menjadi diri sendiri karena dunia sosial yang amat jahat, is it really worth it? Sebaiknya, tanya dulu pada hati apa tujuanmu baru berhijrahlah dengan sungguh-sungguh 🙂 .

note : sebuah renungan untuk diri yang mulai terbelokkan niatnya 😦 .

Hijab Syar’i? Ini Pengalaman Pertama Saya Memakai Hijab Syar’i :)

Tik tok tik tok.. rasanya hari ini lamaaaaa dan membosankan sekali. Iya dihari minggu ini saya hanya dikost-an aja nggak ngapa-ngapain. Nah, ini tadi niatnya mau ngerjain Bab 3, eh nggak taunya hujan deres banget. Eh, emang ada pengaruhnya hujan sama ngerjain bab 3? Jelas dong ada, hujan gini enaknya buat nulis, bergalau ria, atau tidur nyenyak. Nah, saya milih buat nulis aja. Lho bisa nulis blog tapi kenapa ngga bisa nulis bab 3? Hahaha..bukan ngga bisa, tapi ini lagi pengen nulis bangeet mumpung pas hujan juga :D. Duduk dipojokan dekat jendela, lihat air hujan dan dengerin suara hujan. Perfect!

Oiyaaa.. kali ini ditulisan saya yang “ala-ala” ini saya ingin bercerita sedikit tentang hijab syar’i. Iya, hijab syar’i yang panjang lebar itu lho. Hijab panjang lebar? So what?. Lanjutkan membaca “Hijab Syar’i? Ini Pengalaman Pertama Saya Memakai Hijab Syar’i :)”

Berani Berhijrah? Berani Menjadi Lebih Baik!

8QHC6VQM

“Bila dengan jalan dakwah engkau masih begitu rapuh, bagiamana bila engkau seorang diri?”

Bismillahirahmannirahim. Seseorang pastilah punya masa lalu dan saya yakin seseorang punya kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik dimasa depan. Hari ini atau tepatnya belakangan ini di otak saya penuh sekali pertanyaan-pertanyaan yang entah kemana saya harus mencari jawabannya. Hanya waktu yang mampu menjawab semua pertanyaan saya. Dimulai dari pertanyaan simple, ngapain aja seharian ini? Sudah kholas berapa juz? sampai pada pertanyaan yang agak sensitif kapan lulus? Dan kapan nikah? Hahaha. Sudahlah , biarkan semuanya berjalan secara alami, berjalan sesuai alur yang telah ditentukan. Oiya, akhir-akhir saya gapang banget merindukan teman-teman saya. Sedikit aneh memang, karena yang saya rindukan bukanlah teman-teman yang sudah lama tidak bertemu, tapi justru teman-teman yang baru saya kenal. WHY?

Alhamdulillah, pada awal bulan januari kemarin saya dipertemukan dengan teman-teman baru oleh Allah. Tidak hanya teman-teman baru, tapi juga guru baru yang memberikan banyak ilmu kepada saya, terutama ilmu agama. Ya, saat ini saya sedang tergabung dalam #BeraniBerhijrah. Sebuah komunitas anak muda yang sedang belajar berhijrah untuk menjadi lebih baik. Di #BeraniBerhijrah saya bertemu dengan orang-orang yang benar-benar tidak saya kenal sebelumnya. Dengan semangat berhijrah, saya datang setiap pertemuan yang diadakan #BeraniBerhijrah. Pertama kali datang rasanya awkward banget. Ya iyalah, saya sendirian. Tidak ada yang dikenal. Kok berani? Entahlah, saya selalu punya keberanian kalau sudah punya keinginan. Saat itu keinginan saya cuma satu yaitu BERHIJRAH. Semoga niat itu selalu lurus, niat untuk terus memperbaiki diri.

Hampir dua bulan bergabung di #BeraniBerhijrah banyak sekali yang saya dapatkan. Mulai dari belajar ngaji quran melalui metode UMMI, belajar fiqih hingga belajar untuk tetap bertahan dilingkungan yang asing. Sempat mau keluar dan gak ikutan #BeraniBerhijrah lagi . Kenapa? Ehm.. sampai dengan saat ini saya belum menemukan kenyamanan dengan orang-orang yang ada di #BeraniBerhijrah. Ya iyalah, wajar sih. Saya adalah anggota baru, dan pas ikutan #BeraniBerhijrah saya hanya seorang diri. Tiap kali pertemuan #BeraniBerhijrah baik itu waktu ngaji UMMI atau yang lainnya saya hanya elok-elok bawang. Rata-rata mereka yang di #BeraniBerhijrah sudah saling mengenal satu sama lain, dan bahkan temenan sebelum ada #BeraniBerhijrah, jadi wajar dong kalau akrab. Sedangkan saya? saya hanya penguhuni baru, tapi walaupun begitu kenapa saya selalu merindukan mereka bila lama tak bertemu?. Aneh sungguh aneh. Ketika bertemu saya hanya sekedar basa basi say hello, dan selebihnya saya hanya fokus pada menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari ustadz.

Uhmm,, sepertinya saya perlu meluruskan niat saya kembali. Tidak hanya mencari ilmu tapi juga mencari teman. Teman yang Insyaallah akan bersama dalam proses menjadi lebih baik. Syukur Alhamdulillah, meskipun masih sedikit awkward tapi lama-lama mulai kenal dengan orang banyak. Salah satu faktor di #BeraniBerhijrah yang bikin saya ngrasa belum nyaman adalah disana kebanyakan laki-laki dan perempuannya hanya segilintir hehe.  Eitsss.. ini bukan modus kok. Mentang-mentang jomblo 😀 sstttsssss. Saya sendiri tidak menyangka kok, kalau yang di #BeraniBerhijrah adalah orang-orang hebat. Saya hanya melongo aja, waktu tau satu persatu siapa-siapa yang ada di #BeraniBerhijrah. Mulai dari teman saya yang ternyata mengenal ketua #BeraniBerhijrah, hingga dari ibu-ibu jamaah di masjid yang bercerita tentang salah satu anggota #BeraniBerhijrah. Melongo , melongo dan hanya melongo seakan tidak percaya dengan apa yang saya dengar.

Masyallah.. sungguh beruntung saya bisa sampai bergabung dengan #BeraniBerhijrah. Dan sekarang yang menjadi pertanyaan saya adalah, kenapa saya bisa sampai di #BeraniBerhijrah? Kenapa saya harus bertemu dengan orang-orang di #BeraniBerhijrah yang membayangkannya saja tidak pernah. Saya yakin, Allah pasti punya rencana yang begitu indah dengan mempertemukan saya dengan #BeraniBerhijrah. Meskipun belum sepenuhnya merasa nyaman, tapi saya sungguh bahagia bisa berada di #BeraniBerhijrah. #BeraniBerhijrah adalah satu-satu tempat setelah rumah yang tidak ‘men-ciye-ciye-kan’ saya ketika saya memakai rok atau gamis, satu-satunya tempat yang tidak mengatakan saya ‘sok alim, anggota KKI’ atau apalah. Intinya #BeraniBerhijrah adalah tempat yang paling pas buat saya untuk belajar agama dan belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Kalau gak ketemu rasanya kangen temen-temen di #BeraniBerhijrah padahal deket enggak, akrab juga enggak. Tapi, sungguh rasanya bahagia kalau sedang bersama mereka, rasanya surga begitu dekat.

Semoga Allah senantiasa menjaga kami yang ada di #BeraniBerhijrah, menumbuhkan cinta dan sayang diantara kami, dan menguatkan kami untuk terus memperbaiki diri, meningatkan kami apabila niat mulai berbelok dan terus berjuang untuk mengembalikan Islam sebagai way of life terutama di lingkup anak muda Kediri. Amiin aamiin ya robbal’alamin 🙂 .