A Woman Who Comes From A Broken Home Family

Fighting-Parents

“Tapi aku ragu. Dia anak broken home. Keluarganya Gak Jelas”.

Kalimat tersebut diucapkan oleh sahabat saya, beberapa tahun yang lalu. Saat kami masih sama-sama duduk di bangku sekolah. Mendengar dia berkata seperti itu rasanya saya pengen banget mukul dia, getok kepalanya pakai sepatu. Bukan apa-apa sih, sebel banget gak sih. Udah dibantuin buat deket sama wanita yang dia sukai, giliran ceweknya udah mau dianya malah ragu garagara tahu sicewek dari keluarga broken. Ih, dia gak ingat apa mohon-mohon minta dicomblangi , begitu deket malah dianya mundur. Memang , kalau mau dilihat dari latar belakang keluarga sahabat saya itu bisa dibilang hidupnya sempurna. Dia anak tunggal, Ibunya seorang bidan dan ayahnya seorang dokter, dia biasa hidup berkecukupan, dan dia juga menjadi anak kebanggan yang digadang-gadang menjadi penerus ayahnya. Menjadi seorang dokter. Mungkin itu juga yang membuat dia memikirkan betul siapa yang pantas berada disampingnya, hingga status wanita pendampingnya begitu sangat penting baginya.

Memang ia tidak salah, ia hanya ingin mendapatkan pendamping yang terbaik. Begitu juga si wanita yang berasal dari keluarga broken home. Ia juga tidak bersalah, karena menjadi anak yang broken home tentu juga bukan keinginannya. Lalu siapa yang salah? Dosakah menjadi anak broken home? Hinakah seorang anak broken home? Tentu saja TIDAK!. Sudah menjadi hal yang biasa kalau anak-anak broken home mendapatkan stigma buruk dari masyarakat. Bahkan orang-orang cenderung lebih bisa menerima anak-anak broken home itu sebagai anak yang nakal, urakan , dan tidak tahu sopan santun. Dan selalu mempertanyakan “Kok bisa ya, kan kamu dari keluarga broken home” ketika anak broken home itu menjadi anak yang baik, manis, sholehah dan suka menabung :D. Mereka itu kalau ngomong engga dipikir dulu apa ya?

Bagi saya pribadi anak-anak broken home adalah anak-anak yang memiliki kekuatan diatas rata-rata. Ya kuat fisik, ya kuat hati, dan beruntungnya hati mereka itu buatannya Allah. Coba kalau buatan pabrik mungkin hati mereka sudah jadi butiran debu dijalanan :D. Gimana gak kuat coba, ketika orang tuanya berpisah mau tidak mau mereka harus menjadi mandiri. Menyiapkan segala keperluannya sendiri dan jika dia punya adik ia akan menjadi “Ibu atau Ayah Palsu” bagi adik-adiknya. Bisa bayangin anak usia belasan tahun, atau mungkin lebih kecil dari itu menjadi “Ibu atau ayah”?.

Keluarga yang tidak utuh kadang-kadang membuat anak broken home rapuh sesaat. Beruntunglah mereka yang mampu mengatasi kerapuhannya dengan cepat. Dan mereka yang gagal keluar dari kerapuhannya, lalu melampiaskan ke hal-hal yang negatif itu bukan salah mereka. Itu salahnya orang tua yang gagal memberikan perhatian pada anaknya, dan mereka egois , masing-masing ingin mengobati luka hati sendiri tapi lupa pada anaknya. Menjadi anak broken home memang menyakitkan. Mau ditutup-tutupin gimanapun luka itu pasti ada, mau “tidak apa-apa” pun kenyataannya “apa-apa”.

Bagi saya , anak broken home adalah manusia biasa dengan kekuatan menghadapi masalah diatas rata-rata. Ia tumbuh dalam perjuangan hidup yang tidak mudah. Selalu berusaha tersenyum dan tegar. Dia mungkin menangis , tangisan diam-diam ketika dunia terlelap berharap tak seorangpun melihat tangisannya. Tapi percayalah, meskipun ia menangis tapi ia tidak akan menangis untuk urusan remeh-temeh. Hal-hal sepele selalu bisa mereka atasi dengan cara mereka sendiri. Tangisannya begitu berharga, ia menangis untuk sebuah kehilangan.

Apa yang hilang darinya? Masa kecil bersama kedua orang tua. Cinta yang harusnya dia dapatkan dari kedua orang tuanya. Mereka bukan anak yatim piatu tapi terpaksa menjadi yatim palsu. Ayah Ibunya masih bisa mereka lihat, masih bisa mereka ajak bicara, tapi dari mereka dia justru menerima “kebencian”.

“Bapakmu laki-laki yang tidak bertanggung jawab”

“Seandainya Ibumu tidak memilih pergi. Mungkin kita masih bisa tinggal bersama”.

Dari mulut ibunya dia dengar kekecewaan pada Ayah yang dia cintai. Dari ayahnya ia mendengar kekecewaan pada Ibu yang sangat ia kasihi. Pada saat yang sama, ia juga harus mendengarkan omongan tetangga yang suka ghibah. Ya, anak broken home akan selalu menemukan kekuatan untuk menghadapi itu semua. Dia sudah terlatih menghadapi rasa-rasa sakit yang tiba-tiba bikin napas serasa berhenti. Oleh nasib ia dipaksa menjadi dewasa. Saya menyebutnya “Dewasa Karbitan”. Dewasa sebelum waktunya.

Anak-anak broken home selalu punya cara untuk bertahan dan bersikap biasa ditengah badai masalah yang buruk sekalipun. Mereka selalu punya cara untuk bersembunyi dari kesedihannya, mengganti tangis dengan senyum. Mereka selalu bisa melakukannya dengan sangat baik. Ketika kecil anak-anak broken home dicemooh karena mereka “tidak punya ayah / Ibu” karena orang tua berpisah. Saat dewasa anak-anak broken home akan kembali bertemu orang-orang yang menyebalkan. Orang-orang yang mendewakan nasab. Menempatkan  “berasal dari keluarga baik-baik” diurutan pertama syarat menjadi mantu. Pada posisi ini mungkin perempuan-perempuan broken home akan lebih mengalami kesulitan dan. Perempuan dinikahi berdasarkan 4 hal. Pertama dari kecantikannya, kekayaan, nasabnya. lalu agamanya. Dan sepertinya ini tidak berlaku bgai laki-laki. Seorang laki-laki broken home lebih acceptable ketimbang perempuan broken home untuk dijadikan mantu. Ya asal si laki-laki sudah mapan, kemungkinan dia ditolak menjadi mantu lebih sedikit.

Saya percaya, kelak ketika perempuan broken home menikah jodohnya itu adalah laki-laki yang kuat. Tidak hanya laki-laki itu tapi juga keluarga si laki-laki. Sebelum menikah mereka pasti kenyang dengan pertanyaan “Kenapa sama dia. Kan dia berasal dari keluarga broken?”. Dan mungkin pernyataan yang menyakitkan “Jangan nikah sama anak broken, nanti rumah tanggamu ikutan hancur”.  Padahal andai mereka tahu, seorang perempuan broken home ketika menjadi istri ia akan menjadi istri yang exellent. Dia akan menjadi istri yang menomorsatukan keluarga. Suami dan anak-anak menjadi prioritas utama bagi mereka. Karena mereka sadar, keluarga adalah yang paling utama. Dan sebagai mantu mereka akan menjadi mantu idaman ibu mertua. Dia akan menyayangi ibu mertua layaknya ibunya sendiri, menganggap Ayah mertua sebagai ayah sendiri. Menjadikan Mertua sebagai pelabuhan mimpi tentang cinta dan kasih sayang yang tidak pernah ia dapatkan dari kedua orang tuanya.

“Ketika kamu menikahi perempuan dari keluarga yang tidak sempurna, barangkali kamu telah menikahi perempuan terbaik didunia. Perempuan dengan segala ketidaksempurnaannya akan menyempurnakanm dan sekelilingmu. Ketika kamu melihat perempuan dari masa lalu yang tidak sempurna , kamu tengah melihat perempuan hebat dengan segala keajaiban yang ada dalam hidupnya” – FAHD PAHDEPIE-