#SuperRandomPost : Curhat!

happy-child-girl-and-butterfly-wallpaper-768x480
gambar diambil dari sini ya (disini)

Sebelumnya saya kasih tau dulu ya, kalau tulisan ini adalah tulisan random yang mengandung sedikit curhat. Maafkan kalau ternyata tulisannya jadi sedikit menye-menye. Oke, baiklah berhubung ini tahun baru, mari kita flashback sedikit semoga yang kurang dan yang salah ditahun kemarin bisa diperbaiki tahun ini. Akhir tahun yang ditandai dengan datangnya bulan muharam, menjadi pertanda pula habisnya masa “mbecek” yang bertubi-tubi selama bulan dzulhijjah/ september kemarin. Undangan datang dari berbagai penjuru, mulai dari teman TK, teman SD, teman SMP, teman SMA hingga teman main.

Jujur, terselip rasa iri dalam hati melihat teman-teman sebaya telah menemukan pasangan hidupnya. Mereka kini telah memiliki dua sayap untuk terbang menuju surga-Nya. Sedangkan saya, masih saja sibuk dengan hal-hal yang jauh dari pelaminan. Sejak hubungan saya berakhir, hingga kini saya memang tak menjalin hubungan dengan siapapun lagi. Bukan. Bukannya saya belum move-on tapi saya telah berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan hidup saya yang singkat ini untuk sebuah hubungan yang belum pasti akan berakhir dipelaminan.

“People change for two reason, either their minds have been opened or their heart have been broken” – Steven Aitchison

Benar kalau ada pepatah yang mengatakan demikian. I’ve learned a lot from my broken heart. Dua tahun lalu ketika saya diputuskan olehnya, dunia saya terasa begitu gelap. Dua setengah tahun bersamanya lalu berpisah tanpa alasan yang jelas, itu sakit pemirsa haha. Celakanya saya adalah tipe orang yang nggak gampang jatuh hati pada seseorang, tapi giliran udah jatuh maka saya akan menjatuhkannya sejatuh-jatuhnya. Jangan ditanya lagi deh ya, gimana kacaunya saya setelah ditinggalkannya. Tapi beruntung sekali hati dan badan saya ini buatannya Allah, coba kalau buatan Ch*na pasti sudah pretel dan jadi butiran debu haha.

Waktu itu saya terus menyalahkan diri saya sendiri kenapa sampai hubungannya saya berakhir gitu aja. Ada rasa nggak terima gitu, ditinggal gitu aja. Berbagai upaya saya lakukan untuk bisa kembali, tiap hari berdoa pada Tuhan. Bahkan saya bisa lupa berdoa untuk diri saya sendiri, tapi namanya tidak pernah absen dalam setiap doa saya pada Tuhan. Lalu satu tahun berikutnya Tuhan menjawab doa saya, dan mempertemukan saya kembali dengannya. Amazing, doa saya dikabulkan oleh Tuhan dan malam itu, di Surabaya menjadi akhir dari semuanya. Secara rasional emang ngga masuk akal, saya yang tiap hari berdoa untuknya, saya yang tiap hari meminta pada Tuhan untuk mengembalikan dia, tapi malam itu saya benar-benar malas melihat wajahnya. Tuhan membuka semuanya, dan berpisah dengannya adalah jalan terbaik dari Tuhan.

Waiiiittt, ini kenapa tulisannya curhatt habiisss. Ini kenapa jadi menye-menye bangettt haha. Yaudah , nggak apa-apa mungkin ini saatnya untuk mulai jujur pada diri sendiri, mulai mencintai diri sendiri, dan mari menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Patah hati telah membuat pikiran saya terbuka dengan hal-hal baru. Sudah satu tahun ini, masalah cinta-cintaan bukan menjadi prioritas saya. Tapi pernah sih dulu abis putus ngebeet banget pengen nikaah. Ya kali, nikah dijadiin pelarian dari patah hati dikira nikah itu gampang haha.

“ Sebelum ada dia , kamu bisa hidup bahagia kan? Seharusnya sekarang tanpa dia kamu juga bisa hidup bahagia” – Heni Ariasih –

Kata-kata yang diucapkan oleh teman saya itu membuat saya berpikir, iya yaa ngapain juga menghabiskan waktu dan tenaga untuknya, ngapain juga hidup dalam bayang-bayang masa lalu. I’ve changed. Sesuatu yang dulu saya tangisi kini menjadi sesuatu yang amat saya syukuri. Saya belajar bagaimana memaafkan orang lain, saya belajar banyak hal baru. Beruntung, dalam masa patah hati itu saya dipertemukan dengan banyak orang yang membuka perspektif baru, orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, iman yang berbeda, budaya yang berbeda, status ekonomi sosial yang berbeda. Dan semua itu menjadikan saya manusia yang “kaya”.

Baiklah , tulisan ini sudah begitu panjang dan full curhat haha. Tapi lega banget rasanya. Jujur baru kali ini saya berani nulis diblog dengan segamblang, sejelas, sefrontal ini tentang cerita patah hati yang menye-menye ini. You should appreciate it, butuh waktu dua tahun lho buat bisa nulis beginian hahaha.  Nah, tahun baru ini pas banget momennya, moment untuk suatu perubahan. Salah satu resolusi saya ditahun baru ini adalah menjadi manusia yang bahagia. Nah itu menjadi bahagia, penyakit-penyakit dalam jiwa raga ini harus dihilangkan. NOL. Saya ingin memulai semuanya dari NOL, saya ingin menata hidup saya yang berantakan ini hihi. Mengurangi pemakaian gadget, perbanyak baca buku, live in a real life . Anw, selamat tahun baru yaa, terimakasih telah membaca curhatan saya yang panjang dan menye-menye ini. Semoga kesuksesan yang berkah dan barokah menyertai kita tahun ini.

 

PS : Dear mantan, thank you for giving me a chance to find someone better than you 🙂

 

Ada Apa di 24?

single-mom-bahagia-580x400

Life begin at 24!

            Usia 24 tahun. Ya inilah usia yang oleh orang-orang disebut usia dewasa. Usia yang pas untuk memulai berkarir secara profesional atau membangun kehidupan rumah tangga. Tapi bagaimana bila diawal usia 24 yang ada justru kembali ke “masa kecil” ?. Inilah yang saat ini sedang saya alami. Beberapa hari yang lalu, usia saya genap 24 tahun. Tidak terasa bahwa saya sudah hidup didunia yang penuh haha-hihi ini selama hampir seperempat abad. Memasuki usia 24 bukannya merasa lebih dewasa tapi saya malah merasa semakin kecil. Merasa sangat bodoh, karena ternyata banyak sekali yang belum saya ketahui, banyak sekali yang belum saya pelajari.

Bila Usia 23 tahun lalu, saya merasa banyak sekali perubahan yang terjadi dalam diri saya. Akan ada apa di 24 ini?. Jangan tanya lagi “Kapan Lulus kuliah?”, atau “Kapan kamu nikah?” saya sudah sangat bosan dengan dua pertanyaan ini. Oke, baiklah. Lalu apa yang kamu inginkan diusia 24 tahun ini? BELAJAR!. Iya, saya ingin mengisi usia 24 tahun ini dengan belajar tentang banyak hal. Entah itu belajar memasak, belajar agama, atau bahkan melanjutkan jenjang pendidikan saya. Hello, lulus juga belum tapi sudah mikirin mau sekolah dimana lagi – ___- . MAUNYA APA SIH? *ga bisa biasa*

Entahlah. Saya sendiri juga semakin bingung dengan diri sendiri. Maunya apa sih? Padahal juga udah bikin life mapping yang tinggal ngejalani aja. Tapi entah kenapa otak ini tidak kuasa memberikan perintah pada tubuh untuk segera action. Otak ini penuh dengan pertanyaan-pertanyaan absurd yang entah harus nyari jawabannya dimana. Pikiran orang yang normal saat ini seharusnya saya segera menyelesaikan skripsi saya agar bisa segera sidang bulan depan. Lulus dan segera memulai berkarir atau menikah mengingat sekarang usia sudah 24 tahun. Tapi kenyataanya saya justru tidak menyentuh skripsi sama sekali hampir dua bulan ini. Tidak segera mencari data penelitian, atau sekedar baca buku untuk memperkuat data penelitian. Tapi apa yang justru saya kerjakan?

Pertama, sudah sebulanan ini saya asik dengan buku-buku yang sama sekali enggak ada hubungannya sama skripsi. Saya sedang asik dengan buku-buku pengembangan diri, seperti buku self driving –nya Rhenald Kasali dan semacamnya. Tidak hanya itu , selama sebulanan ini saya sibuk research kecil-kecilan dan mencari data untuk essay saya yang rencananya akan saya ikutkan dalam lomba essay nasional. Gila, tidak pandai mengatur waktu, tidak tahu prioritas dan bla bla. Harusnya waktu yang ada digunakan untuk menyelesaikan skripsi supaya segera menjadi sarjana. Entahlah. Nyatanya saya jauh lebih semangat untuk menyelesaikan essay saya ketimbang melanjutkan skripsi Bab 5. Life is a choice!

Kedua saat ini saya sedang sibuk dengan sekolah madrasah diniyah di pondok pesantren Lirboyo. Sekolah seperti ini harusnya sudah saya selesaikan 10 tahun yang lalu. Pelajaran di sekolah madrasah adalah pelajaran yang dulu pernah saya pelajari sewaktu kecil. Baca tulis huruf hijaiyah, baca tulis huruf pegon, mengulang ngaji dari abata, mengkaji kitab semacam Alala, hidayatus sibyan dll. Ini bukan waktunya mengulang gituan, terlalu jauh , terlalu lama dan kembali menjadi kecil diusia yang sudah dewasa. Kalau mau sekolah lagi seharusnya bukan sekolah yang seperti ini, harus sekelas dengan anak-anak umur 6-10 tahun?. Ini saatnya menata masa depan, bukan kembali mengulang masa lalu. Sekolah berarti juga harus taat peraturan. Menulis pelajaran, ikut tamrin setiap minggu, setoran ngaji, dan ikut ujian semester. Bukankah ini menyita banyak waktu?.

Saat tes masuk madrasah diniyah, Ustadzah nya menawari mau mulai darimana karena memang basic nya udah bisa ngaji cuma butuh benerin makhroj. Tapi saya justru dengan sangat percaya diri minta ditempatkan dikelas yang paling dasar, dan mulai ngaji dari jilid satu yang hanya abata. Ustadzahnya berkali-kali meyakinkan bahwa saya tidak harus mengulang dari awal, saya bisa masuk ditingkat yang setidaknya sudah ditengah-tengah. Tapi lagi-lagi saya dengan percaya diri minta mengulang dari awal. Keras kepala!. Dan belakangan baru saya ketahui bahwa untuk menyelesaikan sekolah Madrasah diniyah ini setidaknya butuh 6 tahun. AAAAK! Enam tahun lagi usia saya sudah 30 tahun! Once, life is a choice!.

“ Jadi mau sampai kapan kamu belajar? Mau sampai kapan calon jodohmu kamu suruh nunggu? Sekolah madin itu setidaknya butuh waktu 6 tahun”. – Nidhom –

Iya saya tahu. Saya juga sadar umur. Entah sudah berapa ratus kali pertanyaan “kapan lulus” dan “kapan nikah” ini mampir ditelinga saya. Awal usia 24 ini muncul banyak pertanyaan lain, hanya saja pertanyaan kali ini hanya mampu didengar oleh telinga saya sendiri.

“Kenapa saya dilahirkan didunia ini? ,  kenapa dalam keadaan seperti ini? , kenapa lahir dari keluarga ini? , kenapa saya bisa disini? , kemana takdir akan membawa saya?, mau jadi apa nanti? , dan segala macam pertanyaan lain yang semakin dicara jawabannya semakin enggak ngerti dan makin bingung”.

Apakah pikiran semacam ini juga dipikirkan oleh orang lain diluar sana yang seusia dengan saya?. Ah , saya rasa tidak. Setidaknya teman-teman disekitar saya tidak sepaham dan terus mempertanyakan mau saya ini apa?. Dan banyak diantara teman-teman saya yang berpikiran maju, misalnya mulai bekerja secara profesional, mengejar sidang bulan depan, melanjutkan S2, hingga mulai banyak yang menikah (fyi, satu bulan ini ada empat teman saya yang menikah pfffttt *dalam hati sih “aku kapan?” ). Tapi kenapa pikiran semacam itu justru tidak ada pada saya, apakah saya tidak normal atau tumbuh kembang saya yang terhambat? Entahlah.

Setiap malam sebelum tidur, saya selalu bertanya pada diri saya sendiri. Sebenarnya maunya apa sih, kenapa bisa begini begitu dan bla bla. Pertanyaan yang tidak saya temukan jawabannya hingga saya terbangun dipagi hari bahkan hingga akan tidur lagi malam harinya. Entahlah. Lagi lagi entahlah. Saya hanya tahu bahwa saya harus menyelamatkan diri saya sendiri dan saya hanya tahu satu jalan untuk bisa selamat yaitu dengan BELAJAR. Belajar apapun meskipun harus kembali mengulangi dari NOL , belajar hal baru dan menemukan hal baru. Mungkin pilihan saya ini sedikit aneh, terkesan ga dipikir dulu, keras kepala tapi  sampai dengan hari ini pun saya sendiri juga masih bertanya-tanya kenapa saya memilih kembali sekolah madrasah dipondok, meninggalkan skripsi, dan melakukan hal-hal yang bagi sebagian orang tidak penting atau tidak lagi pantas dilakukan oleh seorang manusia 24 tahun.

Saya sadar dan juga memikirkan masa depan saya. Saya juga ingin segera mewujudkan keinginan Mama yang ingin segera melihat saya duduk dipelaminan, atau keinginan Mbah yang segera ingin melihat saya wisuda. Tapi saya juga tidak kuasa menghentikan diri saya sendiri. Saya tidak tahu caranya untuk berhenti. Berhenti melakukan hal-hal yang “tidak wajar” dan cukup fokus saja sama skripsi. Biar. Biarlah. Apa yang saya jalani saat ini murni pilihan saya sendiri, atau saya dipilih Tuhan untuk menjalani ini semua?.  Entahlah. Biarkan waktu menjalankan tugasnya untuk menjawab semuanya .

“Let dream and fate takes me where I belong”

 

 

Hai, Pemilik Hati yang Patah!

hk 

Dalam kesendirian , kian lama kurasakan sebuah ungkapan lama. Betapa nilai seseorang sangat terasa justru ketika dia tiada. Dan ketiadaanmu memberikan petunjuk yang amat nyata. Betapa rapuh jiwaku dalam kesendirian, dan betapa utuh dalam kebersamaan denganmu. Hanya ada satu kata yang dapat mengungkapkannya, yaitu cinta. Kurasa telah tiba saatnya aku bercerita. Kenapa karena cinta itu aku semakin menjauh darimu. Maaf kalau semua tidak berjalan seperti yang kita mau. Kadang kita berharap Tuhan akan menunjuk jalan kita dan membuka sedikit tabir rahasiaNya.

 –Puisi Lama, Ungu Violet –

            Pernahkah kamu merasakan rasa yang begitu sesak , rasanya mau bernapas saja susah?.  Pernahkan kamu merasakan sesuatu yang kamu sendiri sulit mendefinisikan perasaan apa itu?.  Putus cinta apapun alasannya tidak akan pernah berakhir menyenangkan, sekalipun diakhiri dengan baik-baik. But, life must go on. Hidup akan terus berjalan dengan ataupun tanpa dirinya. Pertanyaan yang paling sering diajukan setelahnya, entah itu dari sahabat ataupun dari diri sendiri “KAPAN BISA MOVE ON?”  *maaf capslocknya rusak* .

Padahal, sebuah studi yang dilakukan oleh Capital One orang yang baru putus cinta setidaknya membutuhkan waktu satu bulan untuk setiap tahun yang dilewati bersama. Semakin lama bersama maka semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk move on. Waktu kerap kali disebut sebagai obat terbaik sakit hati. Jatuh cinta lalu putus adalah hal jamak terjadi dikalangan anak-anak muda. Jatuh cinta, berpacaran,  lalu putus cinta, bukankah itu sesuatu yang wajar sebagai anak muda?.

Hari-hari menyedihkan dalam hidup itu akan segera berlalu. Jalani dan nikmati detik demi detik dalam hidup dengan rasa syukur. Bersyukur karena Tuhan telah memberikan kesempatan untuk berbuat baik pada sesama. Mengejar cita-cita yang sempat sengaja dikubur, dan kembali menata life mapping yang sempat berubah karenanya. Pertemuan dengan orang-orang baru sedikit banyak akan merubah pola berpikir. Bahkan nilai-nilai kehidupan yang sebelumnya dianut juga mengalami perubahan. Cara berpikir dan cara pandang terhadap suatu masalah juga ikutan berubah. Adakah hubungannya patah hati dengan perubahan hidup?.

“Sebaik apapun perpisahan, sesungguhnya itu tetaplah menyedihkan”

Meskipun sama-sama telah sepakat untuk berpisah tapi tetap saja ada hati yang tersakiti. Apa maaf saja cukup? Tidak. Karena maaf tidak akan merubah apapun yang telah terjadi. Maaf hanya ungkapan rasa bersalah yang  datang dari diri sendiri. Meskipun maaf tidak mampu merubah apapun, tapi setidaknya dengan maaf hati akan terasa lebih lapang. Bila hati lapang maka untuk melanjutkan hidup paska patah hati akan terasa lebih mudah. Semuanya hanya soal waktu. Percayalah waktu akan membuat semuanya baik-baik saja. Jangan berlama-lama patah hati, iya kalau patah hati bisa menghasilkan karya seperti Adelle atau Taylor Swift mah gak apa-apa haha. Nah kalau patah hati cuma dapat galau aja , ya mending sana gantung diri dipohon toge 😀 .

Untukmu, yang sedang patah hati. Tersenyumlah , karena Tuhammu tidak akan membiarkanmu terus berada pada cinta yang salah – Desiani Yudha –

Untukmu yang Masih Belum Bisa Move On

a-new-hello

“If you brave enough to say goodbye, life will reward you with new hello” (Paulo Coelho)

            Well. Namanya juga hidup ya, jadi ada yang namanya seneng ada juga yang namanya sedih. Ada yang namanya pertemuan ada juga yang namanya perpisahan. Bertemu dengan orang kita cintai pasti seneng ya, tapi kalau berpisah dengan orang yang kita cintai? Suweedihh , hancur, patah hati atau malah pengen gantung diri dipohon toge?. Tidak!. Saya sama sekali tidak sedang patah hati. Ngga tau kenapa kok lagi pengen nulis yang gini-ginian :D. Mungkin karena kebanyakan dengerin Halaqah Cintanya Kang Abay, sama Mencintai Kehilangannya Ananditodwis. Racun banget dah lagunya. Mas Dilla yang bikin aku makin galau gara-gara share lagu ini digrup -__- , bodohnya lagi lagu ini malah jadi semacam lagu kebangsaan yang “aku banget”.

Mencintai Kehilangan. Ehm.. ini yang perlu digaris dibawahi. Tidak selamanya kehilangan itu harus dibenci, tapi kita juga harus belajar untuk mencintai kehilangan. Berapa banyak orang yang menangis bahkan sampai depresi hanya karna kehilangan sesuatu yang tidak dibawa mati. Itu semua disebabkan, karena kebanyakan dari kita hanya siap mencintai pertemuan saja, tapi lupa kalau setiap yang ada dibumi ini diciptakan berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada hitam ada putih, ada laki-laki ada perempuan, begitu juga dengan pertemuan. Ada pertemuan tentunya juga ada perpisahan. Lagu Mencintai Kehilangannya Ananditodwis ini bercerita tentang seorang perempuan dan laki-laki yang harus rela kehilangan cinta demi impian dan demi ridho Allah. Iya, ceritanya memang klasik banget, dan udah biasa banget dikehidupan sehari-hari. Lanjutkan membaca “Untukmu yang Masih Belum Bisa Move On”

Catatan Hati Seorang Mahasiswa Tingkat Akhir , Antara Malang-Kediri ada Cinta Luar Biasa!

Entah apa lagi yang mampu saya katakan kecuali TERIMAKASIH. Sungguh akhir-akhir ini saya lihat dengan mata kepala saya sendiri betapa ajaibnya sesuatu yang disebut CINTA itu. Cinta yang mampu merubah sakit jadi sehat, merubah tangis menjadi tawa, merubah benci menjadi cinta. Sepertinya saya sedang diajari untuk mengerti apa itu CINTA. Cinta yang sungguh sangat menyejukkan. Jika selama ini saya abaikan banyak cinta hanya untuk satu cinta, maka sekarang saya lepaskan satu cinta untuk banyak cinta.

Cerita dimulai saat saya bimbingan laporan magang, disitu saya dapati cinta dosen-dosen kepada kami mahasiswanya. Dibalik hectic-nya laporan magang , saya sadari bahwa sebenarnya para dosen saya itu sayang sekali pada kami mahasiswanya, hanya saja kami yang kurang tau diri. Saat laporan magang saya rasakan beratnya bolak-balik Kediri-Malang untuk bimbingan. Ketika sampai Malang saya rasakan betul cinta dosen-dosen yang pernah mengajar di Kediri begitu besar pada kami mahasiswa Kediri melalui perhatian-perhatian mereka. Beliau (para dosen-) selalu menyambut hangat kedatangan kami di Malang, beda sekali dengan kami yang kadang mengabaikan dosen saat dikelas (hehe maaf ya Pak, maaf ya Bu).

Namun itu semua tidak bisa digeneralisir sih, setidaknya itulah yang saya rasakan. Bahkan suatu waktu  saat saya bimbingan ke Malang , salah satu dosen ketika melihat saya dan teman-teman duduk glosoran didepan ruang dosen menyambut kami dengan senyumnya yang sungguh mampu menghilangkan capek saya. Ada lagi dosen yang sampai memeluk saya dan menyemangati saya (sungguh beliau layaknya ibu saya yang mampu menghapus ketakutan saya) –ketika menulis ini rasanya ingin sekali memeluk beliau dan berkata “Terimakasih Bu, karena selalu mampu membuat saya merasa aman, merasa tenang”. Mungkin karena dari kecil saya  jauh dari Ibu, jadi ketika diperlakukan seperti itu ada rasa yang sulit dijelaskan. Terharu. Bahagia. Terimakasih Bu :).

Semua dosen yang pernah mengajar di Kediri khususnya angkatan saya adalah orang-orang hebat. Mungkin dulu saya berpikiran bahwa dosen mengajar itu sudah menjadi kewajibannya, tapi setelah merasakan sendiri beratnya bolak-balik Kediri-Malang saya menjadi tahu kalau bukan hanya kewajiban saja tapi ada CINTA yang luar biasa untuk kami. Mereka datang ke Kediri karena mereka mencintai kami. Ingin yang terbaik untuk kami. Belum lagi dosen PA kami yang super sekali, kalau kata saya dan teman-teman sih beliau ini Cetar Badai kerennya. Masyallah , sungguh tidak ada kata lain kecuali TERIMAKASIH untuk para dosen saya.

Sebagai mahasiswa tentunya saya tidak lepas dari rasa sebal ketika mendapatkan nilai jelek haha. Namun rasa sebal itu berubah menjadi rasa menyesal ketika saya keluar ruang ujian dilantai 2 Gedung B, kamis kemarin. Menyesal kenapa saya baru menyadari bahwa ternyata dibalik nilai yang diberikan dosen kepada saya terselip pesan untuk saya. Apapun itu saya yakin bahwa setiap dosen ingin yang terbaik untuk mahasiswanya. Sungguh ujian magang  kemarin Kamis , membuat saya sadar bahwa ada banyak cinta untuk saya . Cinta yang dulu saya abaikan. Cintanya dosen, cintanya teman-teman saya. *rasanya pengen nangis*

Bismillah, setelah ini saya dan teman-teman akan menempuh skripsi. Tentunya akan lebih banyak berinteraksi dengan dosen khususnya dosen pembimbing. Inilah saatnya untuk menunjukkan CINTA yang sesungguhnya. Dengan cara apa? Saya rasa tidak ada yang lain kecuali menjadi mahasiswa yang baik sesuai kemampuan masing-masing. Layaknya orang tua yang berharap anaknya menjadi orang sukses, begitu juga dengan dosen yang juga menginginkan kesuksesan anak didiknya. Sungguh rasanya menyesal karena dulu pernah mengabaikan mereka.

Maafkanlah saya Bapak Ibu Dosen, maaf saya Bandel. Terimakasih karena CINTA yang luar biasa untuk kami, kami bisa menempuh bagian terakhir dari kuliah kami. Untuk semua capek ketika harus mengajar kami di Kediri. Untuk semua nasehat demi masa depan kami. Ujian yang sesungguhnya bukan saat kami kami didalam kampus, tapi ketika kami keluar dari kampus. Ada campur tanganmu dibalik kesuksesan kami kelak. Terimakasih, Terimakasih, Terimakasih Bapak Ibu Dosen.

Ditulis setelah subuh di Kediri untuk dosen tercinta 🙂

Yudha E. Desiani , 16 November 2014

Persiapan Pernikahan Part I

Bismillah
Bismillah

Suatu siang , disiang yang sangat panas kota Kediri. Tiba-tiba saya melontarkan kata-kata yang tidak saya sengaja dan membuat keadaan hening sejenak.

“Chan, Aku capek memperjuangkan hidupku. Aku pengen ada orang yang memperjuangkan hidupku. Rasanya aku pengen nikah aja deh biar ada yang memperjuangkan hidupku”

—HENING—

Keadaan langsung hening, dari yang tadinya saya dan teman saya ketawa-ketiwi abis keluar dari Bank untuk keperluan tugas, kami terdiam. Teman saya hanya diam mendengar kata-kata saya, lalu dia ketawa ngakak. “Kowe gak popo? Cah Gendeng! ”. Ya, wajar kalau saya dikatain gila karena nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ngomong begitu. Selama beberapa hari rasanya kata-kata saya itu jadi trending topic teman-teman dekat saya. Saya kebelet menikah, begitu kata mereka.

Entah kenapa saya bisa berkata seperti itu, kalau kata teman-teman saya mungkin saya rapuh hahaha. “Mungkin kamu rapuh” kata-kata itu sempat menjadi sangat populer nggak peduli apapun yang terjadi tapi kat-kata itu sering terdengar kapan aja dikelas, nggak peduli apapun yang terjadi. Lebay dan alay. Hehe :D. Saya akui memang saat itu saya sedang sangat jenuh. Jenuh dengan segala rutinitas saya, stress karena tugas dan segala macamnya. Saya merasa sangat bosan dan rasanya saat itu saya sedang berada dititik terendah.

Gimana bisa kepikiran nikah? Entahlah saya sendiri juga nggak tau. Mungkin benar kata teman saya saat itu saya sedang rapuh hehe :D. Saya kadang orangnya suka kepo, suka sok tau dan kadang suka seenaknya sendiri. Dari ke-kepo-an saya itu, saya melihat salah seorang teman yang sangat bahagia. Bahagia dengan hidupnya, dan kelihatannya hidupnya enak. Dia masih muda, sepantaran dengan saya. Dia menikah diusia muda, dan kelihatanya bahagia. Benarkah menikah itu Enak? Benarkah menikah itu membuat bahagia? Benarkah kalau sudah menikah ada yang memperjuangkan hidup kita?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab saat saya sudah benar-benar menikah nanti. Saat ini saya sedang dilanda galau persiapan pernikahan saya. Mulai dari bisa nggak ya jadi istri yang baik,  pakai adat apa nanti, pestanya seperti apa, mau menikah diKediri atau dirumah masa kecil saya, dimana saya akan tinggal nanti setelah menikah, sampai honeymoon dimana nanti :D. Banyak sekali yang harus saya persiapkan untuk pernikahan yang Insyallah hanya akan terjadi satu kali dalam hidup saya. Saya ingin semuanya berjalan lancar, barokah, serta bermanfaat bagi semuanya. Saya ingin ketika menikah, tidak hanya membuat saya semakin kuat menjalani hidup, tapi juga semakin bermanfaat untuk orang lain. Menjadi seorang wanita yang menggenapkan setengah agamanya sang lelaki pujaan, dan menjadi makmum yang selalu mengaminkan setiap doa sang imam.

Bersambung …….

Belajar dari pengalaman pilu seorang sahabat.

Kemarin sehabis UTS saya sempatkan untuk refreshing sejenak sebelum kembali kuliah hari ini. Saya hangout bersama teman saya. Rencananya sih bertiga bersama teman “geng” saya. Sekalian reuni kecil-kecilan karena kebetulan kami jarang ketemu karena kesibukan masing-masing. Kami bertiga punya waktu sekitar 1.5jam untu hangout bertiga. Karena jam 2.30 salah teman saya harus bekerja kami janjian jam 1 dirumah saya. Tapi sampai hampir jam stengah 2 teman saya tidak muncul, say telepon berkali-kali tidak diangkat , sms pun juga tidak ada balasan. Kemudian dengan reflek saya berkata pada teman saya yang satunya, yang saat itu sudah ada dirumah saya.

“iki paling dia sik telpon2an karo p**”. Saya menyebut nama pacarnya teman saya itu.

“lho, mereka wes putus” kata teman saya.

“Lho, tapi kemarin2 udah balikan gitu”

“tapi sekarang putus lagi dan tetap karena alasan yang sama dan bahkan lebih parah nduk sekarang” . teman saya berbicara dengan nada serius.

“hah..maksudnya lebih parah?”

teman saya itu kemudian bercerita tentang kondisi teman saya yang satunya. Setiap kali ia menjalin hubungan, setiap itu pula ia harus terluka. Lagi dan lagi. setahu saya bukan kali ini saja ia mengalami hal yang serupa. Tulisan saya ini bukan untuk menghakimi atau membuka aib orang lain termasuk aib teman saya sendiri. Tapi inilah realita kisah percintaan anak muda jaman sekarang dan saya banyak belajar dari pengalaman teman saya itu agar tidak ikut terjerumus pada kesalahan yang sama

Kini ketika semua yang ia punya sudah diambil oleh orang yang pernah bilang cinta padanya, ia hancur. Dia sudah kehilangan harta terbesarnya sebagai seorang perempuan. Dan itu “dicuri” oleh orang terdekatnya dahulu. Dan setelah itu dia ditinggal, dan mantan pacarnya itu menggandeng adik kelas. Hingga sekarang sebenarnya saya masih tidak percaya kalau teman saya itu kondisinya seperti itu. Tapi seberapun saya menolak mempercayai itu, si “pelaku” mengakuinya. Saya masih ingat betul kami bertiga menangis bersama ketika teman saya ditinggal “kabur” si  “pencuri”. Tidak hanya itu teman saya itu bahkan sampai masuk RS karena shock. Saya sendiri mungkin tidak akan kuat kalau berada diposisi dia kala itu. Lebih parah lagi kejadian memalukan itu oleh “bekas orang yang dicintai” diceritakan pada pacar barunya dan setelah itu berita menyebar. Saya saat itu sampai bingung menjawab ketika ditanya oleh teman yang lain. saya selalu menjawab tidak tahu, karena memang saya tidak tahu, kalaupun tahu saya tidak mungkin bercerita.

Waktu terus berlalu, saya ikut senang karena perlahan ia bisa bangkit dan menjadi lebih baik. Saya semakin senang karena belakangan ia mulai mau membuka hati lagi untuk laki-laki. Dan ia menjalin hubungan dengan orang itu. Bahkan saya dengar hubungannya sudah serius. Tapi, beberapa bulan lalu dia bercerita kalau dia diputus oleh pacarnya karena alasan yang tidak jelas. Kejadian itu berlangsung beberapa minggu setelah ia bercerita  mengenai keadaannya kepada pacarnya itu. Dan yang membuat teman saya samapi shock dan sampai masuk RS lagi adalah Mantan pacarnya yang semula mau menerima keadaannya tiba-tiba memutuskan dia dengan alasan ia tidak bisa menerima keadaan teman saya itu. Belakangan ia tahu kalau ada wanita lain dibalik kata putus itu.

Kemudian mereka balikan. Dan setelah itu saya tidak tahu kabar mereka karena kami sama-sama sibuk. Sampai kemarin teman saya yang satunya itu bercerita kalau mereka berdua sudah putus. Kali ini bukan karena wanita lain melainkan karena si laki-laki itu selalu mengungkit masa lalu teman saya. Saya kaget mendengarnya, karena yang saya tahu dulu si laki-laki itu mengejar teman saya abis-abisan. Bahkan ditolak pun tidak mempan, tapi akhirnya seperti who knows??

Sebenarnya masalah seperti ini banyak terjadi dikalangan remaja saat itu. Pergaulan sudah semakin bebas bahkan hingga berbuat yang tidak manusiawi. Dan cerita sepeti ini bukan pertama kalinya saya dengar. Dulu saat SMA saya juga pernah melihat teman satu sekolah saya bertengkar hingga ramai bahkan sampai tindak kekerasan. Sepasang mantan kekasih bertengkar hingga semua kata-ata kotor bahkan kekerasan fisik keluar karena si perempuan tidak terima aibnya dibuka dan disebarkan sama mantan pacarnya. Kejadian itu sangat membekas diingatan saya, sekaligus sebagai “tamparan hebat”buat saya. Sebagai wanita harga diri saya ikut terinjak-injak oleh laki-laki yang dulu bilangnya sayang dan cinta pada kita tapi ternyata malah menghancurkan.

Pertanyaan saya sekarang, apa semua laki-laki itu seperti itu? Apa semua laki-laki itu tidak bisa menjaga mulutnya dan bangga menceritakan dosanya sendiri pada orang lain? apa lelaki itu merasa ke-jantan-nya itu perlu diakui oleh semua teman-temannya? Dan apa lelaki itu merasa keren kalau bisa “begituan” sama setiap pacarnya, makanya diceritakan pada teman-temannya?

Tentu saja ini tidak bisa digeneralisasi pada semua laki-laki. Karena saya yakin masih ada laki-laki baik diluar sana yang bisa menjaga kehormatan dirinya dan juga orang yang ia cintai. Hanya saja kebetulan yang saya temui adalah laki-laki yang seperti itu. Menurut saya kendali ada ditangan keduanya. Tidak hanya di laki-laki maupun dipihak perempuan. Ingatlah, kalau pacaran itu tidak sama dengan menikah. Pacaran itu hanya sebatas mengenal pribadi satu sama lain bukan mengenal alat reproduksi satu sama lain.

Semoga kejadian diatas bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua. Terutama bagi kita yang perempuan supaya hati-hati agar tidak termakan rayuan laki-laki. Menjadi pembelajaran kalau kita para wanita berhak diperlakukan baik dan dihormati bukan hanya dijadikan alat pemuas nafsu laki-laki yang ngakunya cinta pada kita. Dan bagi laki-laki yang membaca tulisan ini agar lebih bisa menghargai pasangannya dan menyadari kalau wanita itu bukan boneka yang bisa dimainkan sesuka hati. Dan menceritakan perbuatan dosa pada orang lain bukan jantan namanya. Kejantanan seorang laki-laki bukan ditunjukkan berapa kali ia tidur dengan pacarnya. Ingat yaa hanya PACAR bukan ISTRI :D. Dan menyebar aib pacar itu sama juga menyebar aib diri sendiri.