“Rumah Burung Dara”

Mungkin untuk beberapa bulan kedepan kamar atas akan jadi tempat terbaik untuk “mengasingkan diri”. Untuk saat ini kamar atas ini adalahtempat yang paling kondusif untuk belajar. Jauh dari kulkas dan meja makan haha. Kamar yang ga pernah ditempati, dan sejak Mas tidak ada dipake buat menyimpan semua barang-barangnya. Ya bajunya, ya tempat tidurnya,ya lemarinya. Dulu saya sering tertidur dikamarnya, dan ketika bangun sudah pindah ke kamar saya sendiri. Kira-kira kalau sekarang saya tertidur disini pas bangun bisa langsung dikamar saya ga ya? :D.

Teras kamar atas ini dulunya jadi tempat favorit Mas buat merenung (katanya sih gitu), ditemani secangkir kopi dan rokok. Kadang saya juga nongkrong dan ngobrol bersamanya. Kalau bosen diteras kita pindah diatas genteng (ini serius!). Bahkan kami pernah nyalain kembang api diatas genteng. Rumah kami memang 2 lantai sejak dulu tapi dilantai 2 hanya ada satu kamar. Kalau saya bilang sih kamar atas ini mirip sama rumah burung dara. Cuma ada satu kamar gitu. Dan disebelahnya sudah genteng , jadi kalau mau naik genteng mudah , tinggal lompat aja.

IMG_20150430_171414
Itu tuh, kamar rumah burung dara. Nah disebelah kamar itu genteng yang biasa saya pakai selonjoran dulu :D. Tempat itu kini tidak ada lagi, karena sudah direnovasi. Sekarang kamar rumah burung dara itu punya tetangga kamar 😀

Diatas genteng rumah. Tempat yang sering dipakai Mas buat ngilangin suntuk (katanya sih gitu), itu kemudian juga menjadi tempat favorit saya kalau lagi suntuk. Jangan salahkan saya kalau kakean polah, karena itu ajarannya Mas saya hehehe. Ketika lagi suntuk banget, saya biasanya langsung naik keatas, lalu lompat ke genteng. Selonjoran gitu, sambil dengerin lagu dari hape nokia saya (yang jaman dulu  masih hitss banget). Kalau pas kebetulan langitnya cerah dan banyak bintang saya nggak cuma selonjoran tapi malah tidur terlentang ngadep kelangit. Sambil senyum-senyum karena berasa kayak difilm-film itu.

Apa engga dimarahin papa mama? Tenang. Mereka sudah kebal dengan kelakuan aneh anak-anaknya dan sudah bosen ngomelin kami. Trus nggak malu apa sama tetangga? Tenang. Diatas genteng itu cahayanya ga banyak, jadi gelap (tapi nggak gelap-gelap banget) jadi nggak keliatan dari bawah. Diteras kamar atas (baik teras belakang atau teras depan) , dan diatas genteng saya banyak menghabiskan waktu bersama Mas. Kami ngobrol tentang apapun mulai dari musik, agama, sekolah, yang pada akhirnya selalu berakhir dengan debat. Engga tau kenapa kalau ngomong saya dia itu bawaannya pengen ndebat aja, soalnya dia itu kalau ngeluarin opini selalu opini yang debat-able. Meskipun sering debat dan kadang bertengkar tapi kami saling sayang hihi.

Betewe, pas nulis ini windows media player yang ada dilaptop muter lagunya westlife yang season in the sun. Itu lagu kesukaan Mas, dan kami sering nyanyiin ini bareng. Ketika sudah kuliah pun hobi selonjoran diatas genteng masih sering saya lakukan. Sampai pada akhirnya malam yang memalukan itu datang. Pas lagi asyik-asyik tiduran diatas genteng, sambil ngeliat bintang-bintang malam dari bawah tetangga saya teriak. “Mbaaakkk iing, sampean nyapo nang kono?”. Sumpah sejak saat itu, saya nggak naik-naik genteng lagi. Eh, masih naik genteng deng, kalau mau jemur bantal atau boneka-boneka “warisan” dari Mbak. Seumur hidup saya meskipun saya anak perempuan saya hanya satu boneka!. Itupun hadiah dari Mbak Sepupu dan pacarnya pas ulang tahun saya pas saya masih SMP. Jadi kalau ada banyak boneka dikamar saya bahkan bonekanya sampe punya rumah, aseli itu bukan punya saya haha.

Siang ini, dikamar atas ini dan rintik hujan diluar saya benar-benar merindukan Mas. Merindukan masa kecil kami. Masa kecil yang saya lalui bersama Mbak dan Mas. Meskipun kami tidak lahir dari rahim ibu yang sama tapi ikatan diantara kami begitu kuat. Mbak dan Mas , dua kakak-beradik itu begitu menyayangi saya, begitu mencintai saya seperti adiknya sendiri. Mereka ikhlas membagi kasih sayang Ibu Bapaknya kepada saya. Mereka selalu menuntut hak yang sama, apapun yang diberikan oleh orang tuanya kepada mereka juga harus diberikan pada saya. Meskipun sehari-hari kami nyaris tidak ada kegaduhan yang tidak kami buat. Digelitikin sampe nangis, kejar-kejaran didalam rumah meskipun saat itu saya sudah SMA, rebutan makanan, rebutan remote TV, dan pas menjelang hari raya pasti banyak parcel yang datang kerumah. Kami selalu rebutan parcel, yang mana yang paling banyak isinya dan yang paling enak jajannya. Nah kalau ini, biasanya yang sering dapat Zonk itu Mas. Hahaha dia terlalu terburu-buru kalau milih.

Kenapa jadi MELLLOOOWWW? Ahhh… sudahlah hujan semakin deras. Dikamar atas ini , meskipun tak lagi sama seperti dulu. Sekarang kamar atas ini tak lagi seperti rumah dara, dan kamar atas kini punya tetangga kamar tapi kenangannya tidak akan pernah hilang. Meskipun saya tak lagi bisa “tinggal lompat” buat biasa keatas genteng , ya kali sekarang mau naik genteng yang mana? Rumahnya sudah berubah total dan gentengnya juga semakin tinggi. Untuk beberapa bulan kedepan saya akan banyak menghabiskan waktu saya disini, dikamar atas dengan segala perabotan milik Mas lengkap beserta kenangan bersamanya. Semoga dia ridho ya hihii, dan ngga ngusir-ngusir saya dari kamarnya , karena hobi saya nonton TV dikamarnya sampe ketiduran dikamarnya :D.

 

Meninggalkan dan Menemukan

image

Surabaya! Kenapa kota yang dipimpin oleh Bu Risma ini begitu menarik untuk selalu dikunjungi? Padahal boleh dibilang Surabaya “nyaris tidak ada tempat yang wisatanya” at least tempat wisata di Surabaya tidak sebanyak di Malang. Selain itu di Surabaya juga panas. So?. Tidak, saya tidak ingin berbicara atau bahkan membandingkan wisata Surabaya dan Malang atau kota lainnya. Tapi saya sangat salut dengan pemimpin Surabaya yang mampu membawa Surabaya menjadi lebih baik.

Ehm.. jadi sebenarnya arah tulisan ini kemana? Saya menulis ini didalam kereta menuju Surabaya. Hari ini untuk pertama kalinya saya akan menginjakkan kaki saya lagi dikota yang “selalu saya perjuangkan” beberapa tahun belakangan ini. Ada rasa gimana gitu (sulit dijelaskan) sebelum akhirnya saya memutuskan untuk berangkat dimenit-menit akhir. Semua barang saya sudah siap sejak pagi tadi, tapi hati belum sepenuhnya siap. Oalah , kamu galau to Des?. Ehmm.. entahlah apa namanya ini.  Lanjutkan membaca “Meninggalkan dan Menemukan”

Hallo, Selamat Pagi!

Hallo Selamat Pagi

Pagi ini saya awali dengan sangat semangat, entah kenapa semua pekerjaan rumah seperti menyapu, cuci piring dan cuci baju sudah selesai sejak pukul 6 pagi tadi, bahkan pagi ini saya juga pergi kepasar untuk belanja. RAJIN SEKALI! Entahlah kesambet apa saya pagi ini hingga begitu rajin, mulai dari bangun pagi lalu bersih-bersih sampai akhirnya sekarang udah nggak ada kerjaan. Sebenarnya saya terbiasa bangun  pagi dan bersih-bersih rumah sejak saya masih duduk di bangku SMP. Saya sudah diajari mandiri sejak kecil (meskipun masih setengah-setengah sih 😀 ), tapi semenjak masuk kuliah untuk urusan bangun pagi  jadi rada susah (ini sih namanya kemunduran ya hehe). Saya seringkali sholat subuh diakhir waktu, udah mepet-mepet jam 5 begitu. Apalagi pas ngekost waktu magang, bisa subuhan jam setengah 6 whoooaaaaa sungguh jelek dan rugi.

Hidup dikost semakin membuat saya males, dasarnya sudah males jadi makin males karena dikost itu ibarat hidup dialam bebas, nggak ada yang mau teriak-teriak kalau jam 5 belum bangun hihii. Selama hampir dua bulan, saya merasa hidup tapi berasa nggak hidup. Kadang kalau saya mengeluh ditempat magang karena tas saya berat, teman saya nyeletuk “Lo, sih kebanyakan dosa itu” begitu kata temen saya. Dia emang asli orang tangerang , ya masih deketlah sama Jakarta jadi kalau ngomong ceplas ceplos. Hmm.. saya baru nyadar sekarang bisa jadi yang dibilang teman saya benar. Kebanyakan dosa! Iya iya, banyak dosa banget dan ga beraturan hidup di kost. Tapi bukan berarti hidup dikost itu ngga baik, dimanapun tempatnya tergantung orangnya, kalau dasarnya males kayak saya , ya pasti makin menjadi malesnya kalau di kost.

Ibarat kuda yang dilepas dari kandang setelah bertahun-tahun dikurung dikandang maka begitu bebas akan lari sekencang-kencangnya. Begitupun saya, hidup serba enak dan semaunya sendiri, mau tiduran sembaranga ya gak masalah, mau nggak mandi seharian ya monggo, mau pergi dan pulang tengah malam pun oke. Untung saja saya masih punya perasaan, maka meskipun saya bermalas-malasan tapi untuk tujuan utama saya alhamdulilah tidak terbengkalai dan berjalanan sangat lancar. Seseorang pernah bilang kepada saya “Tujuanmu di Surabaya adalah untuk magang, untuk kepentingan pendidikanmu. Masalah hidup, masalah dolan itu mengkuti saja, yang penting tujuanmu tercapai dan tetap nomer satu”- Mas Nuri –

Nah sekarang setelah saya menyadari segala kesalahan saya, saya ingin berubah menjadi seseorang yang rajin hahaha. Tapi serius, sebentar lagi saya akan memasuki usia rawan dan galau tingkat kecamatan, galau kapan lulus sampai kapan nikah. Bicara tentang bangun pagi saya ingin kembali menghidupkan kebiasaan saya bangun pagi. Saya adalah orang yang sukanya kepo, nah tidak jarang dari ke-kepo-an saya ini saya mendapatkan suatu pelajaran. Hehe kepo nggak melulu harus mantan kan yang dikepoin atau kepo nggak penting. Nah , kebetulan saya tempatkan kepo ditempat yang baik dan benar wkwkwk.

Dari kepo-kepo facebook, twitter dan segala macamnya saya banyak belajar. Saya suka ngepoin orang-orang yang sukses, orang-orang yang mampu memberikan inspirasi bagi orang lain terutama saya :P. Nah baru-baru ini saya ngepoin twitter dr. Gamal, sebenarnya sudah lama sih , pas magang kemarin saya berencana mengangkat tentang Indonesia Medika dimana dr. Gamal sebagai CEO-nya untuk dimasukan diprogram J-News. Dari kepo itu saya dapatkan kultweet tentang #PEMUDASUBUH. Sumpah deh itu orang keren banget!! Dari itu saya merasa kalau hidup saya kok Cuma gitu-gitu aja ya. Hidup kok enak banget, padahal kalau mau banyak hal yang bisa saya kerjakan. Seperti hari, diawali hal kecil dengan bangun pagi dan saya merasa lebih bahagia hari ini hehehe. Masih jam segini , masih jam 9 dan ternyata saya bisa melakukan banyak hal.

Semoga nggak hanya hari ini saya kesambet rajin nya, semoga bisa setiap hari. Meskipun sebagai muslim saya diwajibkan sholat subuh, tapi kadang setelah subuh tidur lagi hihii. Saya ingin menjadi orang yang lebih baik lagi, baik pada Tuhannya, baik pada sesama dan baik kepada diri sendiri. Biarlah setiap lembar tulisan saya ini menjadi saksi perubahan saya, hijrah menjadi lebih baik. Kelak ketika saya memilik anak, anak saya bisa membaca tulisan ibunya, catatan hidup ibunya. Bagaimana jatuh bangun hidup ibunya hihii 🙂

Menembus Batas Ketakutan!

Hallo,

Duhh nggak tau kenapa tangan saya tiba-tiba gatal pengen segera menuliskan apa yang baru saja saya alami. Tulisan saya kali ini adalah cerita saya, yang baru saja saya alami dan semoga bisa jadi pelajaran bagi pembaca blog saya , tentunya juga untuk saya sendiri.

Jadi begini ceritanya, hari ini saya ke Malang untuk bimbingan magang. Saya sengaja naik motor, karena ingin lebih praktis. Saya berangkat dari Kediri bersama 4 orang kawan saya. Saya boncengan sama temen saya yang bernama Jeni. Saya bilang ke Jeni, kalau saat berangkat saya yang nyetir. Ini pertama kalinya saya nyetir motor jauh, saya bilang ke Jeni “Nek sampek tekan malang aku terus sing nyetir berarti aku hebat *sok hebat, sok kemaplok 😛 *Jeni hanya ketawa cekikikan mendengar perkataan saya. Ngrasa nggak mau kalah, akhirnya saya buktikan kalau saya bisa dan ternyata memang bisa dan lancar-lancar aja perjalanan Kediri-Malang.

Jam setengah 12 saya sudah selesai bimbingan magang, setelah makan dikantin saya dan teman-teman ke perpus untuk mencari referensi. Singkat cerita jam 3 sore apa yang kita cari udah berhasil kita dapatkan. Teman yang lain uda pada pulang duluan, sedangkan saya dan jeni masih dikampus karena ada janji dengan temannya Jeni. Namun sayang, karena tiba-tiba temennya Jeni ini mendadak nggak bisa dihubungi batal deh ketemuannya. Sempat nyasar di FK UB juga gara-gara nyari si temennya Jeni ini.

Oke, udah jam 3 lebih. Saya dan Jeni sempat kepikiran mau jalan ke Matos tapi akhirnya dibatalkan dan kami memutuskan langsung pulang supaya bisa mampir di Batu beli susu. Dari sini kejadian demi kejadian mulai terjadi sampai membuat saya tidak bisa tidur malam ini, bahkan rasanya mau merem masih takut. Saya dan Jeni sama-sama tidak tahu jalan pulang, kita hanya mengandalkan insting dan SOK TAHU! Ngikutin jalan aja, dan akhirnya sampailah kita di daerah UMM. Karena haus, kita akhirnya berhenti disebuah toko didaerah sebelum tlogo mas. Ditoko itu menjual bermacam-macam kebutuhan. Dasar alay memang, kita membeli kacamata buat gaya-gayaan. Ini semua karena pengaruh instagram! Catet ya gara-gara kepo di instagram jadilah saya dan Jeni kayak orang gila.

Berkali-kali kami berdua menanyakan pada diri kami sendiri, kadang saling bertanya apakah kami ini baik-baik saja? *Maybe We need a psychiatrist :D* Akhirnya demi membela diri kami sendiri, kami berniat memakai kacamata itu diperjalanan pulang. Saat di daerah Tlogo Mas, kami sempat bertemu dengan dosen kami, setelah menyapa dosen *meskipun hanya di klakson dan senyum aja, yang penting niatnya baik mau menyapa, dan mungkin agak nggak sopan kali yak ditengah jalan nyapa begitu hehe* . Do you know? Pas kami berhenti , dan mau makek tuh kacamata ternyata kacamata yang baru dibeli Jeni patah *masih bisa dibenerin sih*. Akhirnya kacamata sudah bisa dipakai lagi dan kita dijalan ber-haha-hihii ngetawain diri sendiri yang alay, ngapain beli kacamata. -___- . Kami masih terus ketawa-ketiwi bahkan saya sampai istighfar berkali-kali karena merasa udah kebanyakan ketawa hehe.

Nyampek Alun-Alun Batu kami berhenti, niatnya sih Cuma mau beli susu. Tapi ternyata alay kambuh dan kami memutuskan di alun-alun dulu sampai jam 5. Tapi, nggak taunya pas mau adzan maghrib baru nyadar dan baru berangkat pulang. Saya sih tenang, karena Jeni bilangnya udah biasa perjalanan Malang Kediri malam hari dan naik motor. Tapi, pas keluar alun-alun Jeni bilang “Mbak iki dalane ndi ya, aku nggak ngerti”. Jegeeerrrr!!! Saya Cuma melongo, karena saya sendiri juga nggak tahu jalan. Tapi bukan mahasiswa dong, kalau nggak bisa pulang kerumah. Hehe. Kami lalu mengikuti mobil berplat AG yang ada didepan kami. Jalan lurus, dan sampai keluar dari Batu lancar-lancar aja. Kita bahkan masih sempat guyonan di motor meskipun kami menginggil karena saking dinginnya.

Meskipun jalan berkelok dan haripun juga sudah mulai malam kami masih tetap tenang karena dibelakang dan depan kami banyak kendaraan yang lain. Selepas dari pasar Dewi Sri, mulai macet. Kami santai, karena kami pikir memang macet karena biasa ada buka tutup jalan yang diperbaiki. Tapi kok ini macetnya panjang ya, dan sama sekali nggak ada  kendaraan dari arah yang berlawanan lewat. Perasaan mulai nggak enak nih, dan hari makin gelap saja. Ternyata benar, macet bukan karena buka tutup jalan tapi karena ada kecelakaan. Tragis dan mungkin parah *karena takut saya tidak berani melihat, hanya saja dari apa yang saya dengar dan saya lihat ekspresi orang dipinggir jalan yang melihat kecelakaan itu tragis. Jalanan macet total, mobil dari dua arah sama sekali nggak bisa bergerak. Kami terus melewati kerumunan tanpa berani melihat apa yang terjadi.

Awalnya masih agak santai, meskipun sudah mulai takut. Kami jalan terus dengan sangat hati-hati karena jalananan gelap. Lama-lama jalanan makin sepi dan gelapnya ampunn dehh. Mungkin karena macet tadi jadi dibelakang kami nggak ada kendaraan yang lain. Hanya ada satu dua motor yang lewat dan itupun semua pada mendahului kami. Oke, semakin ngeri saja, sementara badan kami benar-benar menggigil karena dingin. Saya dan jeni yang tadinya ber-haha-hihi dijalan mendadak diam. Hening. Tidak ada satupun yang bicara diantara kami. Mulut yang tadinya ketawa-ketiwi sekarang berganti komat-kamit baca doa. Semoga kami selamat!. Jalanan berkelok, dingin dan gelap serta suara-suara burung dari pohon-pohon pinggir jalan menambah ngeri suasana.

Kami menghibur diri sendiri ditengah ketakutan. Sebentar-sebentar bilang kalau udah mau nyampek Kasembn. Padahal masih jauh banget, dan dibelakang kami sama sekali tidak ada kendaraan lain , hanya dari arah berlawanan sesekali ada kendaraan yang melintas. Kami senang saat berpapasan dengan kendaraan lain, meskipun kalau dai arah berlawanan membuat mata sakit karena silau lampu tapi setidaknya tidak sendirian melewati jalanan  tebing-tebing dan jurang begitu hehe. Saya akui, Jeni hebat! disituasi seperti itu dia masih bisa mengendalikan dirinya. Sementara saya sudah ketakutan dibelakang. Meskipun katanya Jeni, dia nggak bisa ngeliat jalan karena gelap dia tetap bisa nyetir dengan baik. Tidak bisa membayangkan kalau saya diposisi yang nyetir gimana jadinya. Sampai entah dari mana datangnya, ada mobil dibelakang kami, mobil itu terus berada di Belakang kami hingga habis jalanan berkeloknya.

Entah hanya perasaan saya saja, atau memang mobil itu sengaja tidak mendahului kami karena yang nyetir tahu kalau kami ketakutan hehe. Yang jelas, mobil itu terus berada dibelakang kami, tidak mendahului meskipun ada celah untuk mendahuli kami. Jeni ternyata juga merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. MOBIL ITU SENGAJA DIBELAKANG KITA. Thanks very much, siapapun yang ada dimobil itu semoga Allah membalas kebaikannya. Ketika sudah sampai Kasembon, kami sangat senang karena sudah melewati jalanan horor. Kami nggak percaya kalau kami bisa melewati jalanan yang horor tadi dengan lancar meskipun sangat ketakutan.

Jeni memberikan contoh tentang keberanian malam itu. Saya sempat hopeless dan ingin berhenti aja warung pinggir jalan, sambil nunggu pagi. Tapi itu justru akan sangat berbahaya bagi kami. Meskipun takut , kami lanjutkan dan saat itulah saya belajar tentang  ‘’limitless”. Banyak diantara kita yang bilang nggak bisa, tapi tidak mencoba kemampuannya lebih dulu. Seperti hari ini, saya dan Jeni punya keberanian yang lebih dari biasanya. Kami menembus batas ketidakbisaan kami, merubah yang tadinya kami bilang tidak bisa menjadi bisa. Menembus batas keberanian kami, biasanya kami hanya berani berjalan dijalan yang aman, tapi hari ini dijalan berliku, sepi dan gelap kalau salah ambil jalan sedikit aja habislah kami. Mungkin karena kepepet seseorang bisa menjadi lebih hebat dari biasanya. Who knows! Mungkin kejadian ini tadi juga merupakan teguran dari Allah supaya lain kali lebih berhati-hati saat dijalan dan tidak cengengesan dijalan. Bagi saya kejadian yang barusan ini, adalah pengalamanan yang tidak dapat terlupakan dan suatu peringatan dari Allah. Saking takutnya, sampai sekarang saya belum bisa tidur karena dan kebayang kejadian tadi. Ohhh ohhhh -___-

“Bahwa hidup dan mati itu jaraknya dekat sekali”

 

Saya akui keberanian Jeni hari ini. Bahkan diasaat ketakutan dia masih bisa menenangkan saya yang udah kejer karena takut hihii. Saya tidak bisa membayangkan kalau tadi Jeni salah ambil jalan sedikit saja mungkin saya tidak bisa menulis lagi.

Allahuakbar.. Allahuakbar!

Moral story dari kejadian hari ini :

  • Kalau dijalan jangan banyak
  • Jangan sok tau
  • Jangan suka mengulur-ulur waktu.
  • Jangan pernah bilang nggak bisa sebelum mencoba.

Jatuh Bangun Belajar Berjilbab

Hello..

Berhubung saya lagi lagi nggak ada kerjaan *lari dari tugas 😛 *, plus gak ada kuliah dan saat ini posisi saya sedang ada di toko (sepi pembeli) daripada mati gaya saya akhirnya nulis :D. Ehmm.. tapi mau nulis apa ya? Hehe. Berhubung sebentar lagi mau masuk bulan Ramadhan , saya pengen nulis tentang jilbab. Nah apa hubungannya jilbab sama puasa? Entahlah hehe…

Oke..saya akan cerita saja ya kalau begitu tentang pengalaman ‘jatuh bangun’ saya saat memutuskan memakai jilbab seterusnya saat pulang dari Singapura bulan Februari lalu. Dan semoga bisa memberikan manfaat bagi saya maupun yang baca tulisan ini. Bagi seorang yang alim dan sholehah tentu untuk memakai jilbab bukanlah hal sulit.  Bagi mereka yang sejak kecil “kenal”  agama maka akan sangat mudah bagi mereka untuk menjalakan perintah Allah.  Tapi bagi saya, memakai jilbab terus-menerus bukanlah hal mudah, jangankan jilbab syar’i lha wong pakai jilbab aja masih “buka tutup”. Alhamdulilah dari bulan februari kemarin saya kemana-kemana sudah belajar memakai jilbab, tidak hanya kuliah tapi dimanapun (kecuali dirumah). Cukup menantang juga ternyata :D.

“hello.. jilbab bukan patokan orang itu baik atau enggak”

“hello.. jangan sok alim deh. Sholat aja masih semrawut gitu”

Iya juga sih, saya memang baru belajar memakai jilbab tidak hanya sebagai penutup kepala tapi juga sebagai penutup hati.  Sebenarnya keinginan berjilbab sudah ada sejak saya masih SMA, tapi ternyata niat saya masih kalah sama kesukaan saya terhadap bando/bandana hihii. Saya hobi sekali mengoleksi bando (dulu banyak banget dengan berbagai macam model) , dan rasanya dandanan saya gak lengkap kalau belum ada bando dikepala saya hehe.

Orang hidup itu pasti ada saatnya diatas dan ada saatnya dibawah (sampek nyungsep :D) , Nah pas lulus SMA itulah titik balik hidup saya. Saat itulah pikiran saya sudah semakin dewasa , dan keadaan juga yang membuat saya sadar. Sadar kalau ternyata hidup itu nggak cuma makan, tidur, kentut dan main seenaknya. Disaat terpuruk itulah saya merasa bahwa ada suatu kekuatan besar yang menolong saya dan menguatkan saya. Hidup di lingkungan asing, jauh dari rumah, dan benar saja kalau ibu kota lebih jahat dari ibu tiri. That’s True!! Saya rasakan benar itu selama kurang lebih 7 bulan saya mencoba bertahan hidup di Ibu Kota.

Singkat cerita, sekitar empat tahun lalu (2010) saya mulai untuk pertama kalinya memakai jilbab saat keluar rumah dan itu tidak sedang ada acara pengajian lho ya. Itu murni saya pakai jilbab meskipun lagi nggak ada acara. Pertama pakai kesannya aneh, dan nggak nyaman. Ada perasaan malu juga. Dijakarta jugalah saya mulai belajar sholat full 5 waktu. Hehe biasanya masih bolong-bolong kadang sholat kadang enggak. Awal tahun 2011, saya memutuskan kembali ke Kediri, sudah cukup uji nyali nya, udah cukup melarikan dirinya, udah cukup puas jadi pengangguran, dan udah cukup “kuliah kehidupannya”. Tahun 2011 saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah walaupun hanya univ. Swasta di Kediri. Tapi sungguh ALLAH maha adil, saya bisa masuk universitas Negeri dijurusan yang saya impikan yaitu Ilmu Komunikasi UB.

Oke.. balik lagi ke jilbab. Awal-awal balik ke Kediri dan pakai jilbab rasanya aneh. Apalagi keluarga dan lingkungan nggak ngedukung. Saya ingat dulu, kalau mau pakai jilbab harus diam-diam. Saya selalu memasukkan jilbab instan didalam tas saya, dari rumah nggak pakai jilbab trus ntar pas dijalan (nyari jalan sepi) trus pakai jilbab. Bukan apa-apa sih, hanya saja saya malas untuk berdebat. Selain itu saya belum merasa pantas mengenakannya.

“Kamu cantik dengan rambut panjangmu yang lurus, trus pakai bando. Gaul gitu”

“Mau nglurusin rambut lagi ta? Ini tak kasih uang”

Hihii… lucu ya. Dulu tiap kali mau nglurusin rambut ke salon harus merengek-rengek dulu baru dikasih duit. Nahh.. pas memutuskan pakai jilbab , malah dikasih duit Cuma-Cuma buat nglurusin rambut. Ckkck.. rambutku lurus karena hasil rebonding, terihat cantik karena selalu memaki baju yang lagi happening, pokoknya keliatan cantik deh dimata manusia. Kelihatannya aja lho yaa, aslinya enggak sama sekali hehe. Pas masuk kuliah tahun 2011 saya mulai lebh sering pakai jilbab, ingat lho ya sering bukan seterusnya. “Buka-tutup” Jilbab gitu deh, kalau kuliah, kalau jalan bareng temen-temen pakai jilbab, tapi kalau dirumah , kalau pergi nggak sama temen-temen balik lagi deh ke jaman jahiliyah.

Nah.. baru tahun 2013 kemarin saya mulai belajar pakai jilbab full. Gak peduli lagi omongan orang, omongan saudara, dkk. Tahun itu juga saya kehilangan kakak saya, dan itu membuat saya sadar. Gimana ya kalau tiba-tiba maut datang kepada saya, tapi saya belum sempat berbuat baik, saya belum mematuhi perintah ALLAH. Ahhh tidaaakkk!!! Memakai jilbab juga bukan berarti merubah saya layaknya bidadari yang cantik. Banyak sekali kekurangan yang masih tercecer dimana-mana. Banyak sekali yang harus saya pelajari lagi. Sampai dengan saat ini saya masih bertahan dengan jilbab ala kadarnya saya, celana jins dan kaos.

Saya tidak ingin muluk-muluk atau sok alim, tapi jujur jilbab ala kadarnya saya ini membuat saya semakin mengenal agama saya. Malu kan ya, kalau udah berjilbab tapi nggak sholat hehe. Malu kan ya berjilbab tapi nggak tau ilmu agama sama sekali. Dalam hidup saya yang minim agama, minim nasehat juga minim pengetahuan saya mencoba utuk belajar sendiri. Belajar dari buku, dari internet, dari TV dan dari mana saja. Sungguh beruntung sekali mereka yang lahir di keluarga alim, taat dan utuh. Tapi bukan hidup namanya kalau nggak ada ujiannya.

“Belajar agama bagi mereka yang dekat dengan lingkungan agama sangat mudah, sangat mudah bagi mereka untuk menjalankan ajaran agama. Tapi bagi orang awam yang tidak tahu apa-apa maka belajar agama itu luar biasa” –Status teman di facebook-

Ehmm… apa benar begitu? Entahlah saya sendiri tidak paham. Satu hal yang pasti , dan saya yakini sampai saat ini bahwa hidup itu tidak hanya makan, tidur dan kentut. Hidup harus punya nilai-nilai yang membawa manfaat. Dengan mengenal lebih jauh agama dan Tuhan hidup ini nggak kering, hidup ini nggak hampa dan hati rasanya adem ayem hehe :D. Entah dari mana saya dapat pemikiran sok nggaya ini , yang pasti hidup saya lebih bermakna saat saya mendekat pada ALLAH.

Iseng-iseng saya pernah mencoba menguji kebenaran tentang apa yang ada di ajaran agama saya. TUHAN itu ada nggak sih, mana pengen lihat keajaibanNYA? Saat memutuskan untuk solo backpacking di Singapura dan Malaysia (oiya belum sempat ngelanjutin tulisan tentang backpacker, hehe nyusul ya! *ga penting banget sih 😀 ) beberapa waktu yang lalu, saya benar-benar  takjub sama kekuasaan ALLAH, pokoknya ALLAH IS THE BEST lah. Sungguh ALLAH itu maha dekat ternyata, sayangnya saya aja yang kadang malah menjauh dariNYA. Jauh banget ya nyari hidayahnya sampai ke Singapura? Hehe..

Pokoknya sekarang saya pengen belajar jadi manusia yang lebih baik. Lebih baik dari segala hal. Baik hubungan vertikal (dengan Tuhan) maupun horizontal (sesama makhluk Tuhan). Tulisan ini murni  untuk saya sendiri , sebagai pengingat saya. Tapi kalau ada yang baca trus memberi manfaat ya alhamdulilah. Oiya.. sapa tahu juga ada yang baca, trus bersedia jadi mentor , jadi guru buat saya supaya menjadi orang yang lebih baik lagi saya akan sangat senang hehe 😀 . Udah ah.. jadi berasa mamah dedeh yang lagi ngasih tausiyah, kalau ngomongin tentang ini. Biarlah saya belajar , belajar dan belajar untuk menjadi lebih baik. Sekarang saya memang masih pakai jilbab ala kadarnya , tapi siapa tahu tiba-tiba saya dapat hidayah dari ALLAH trus berpakaian syar’i kayak OKI SETIANA DEWI (artis favorit saya ini :D). Who knows … !!

“Jangan Tuduh Saya Telah Baik Karena Memakai Jilbab, Tapi Jangan Pula Anggap Saya Tidak Lebih Baik Karena Belum Berjilbab. Tapi Pandanglah Saya Sebagai Seorang Yang Sedang Belajar Dan Masih Perlu Bimbingan”

 -SEMOGA ISTIQOMAH- 

 

 

Saya Vs. ALLAH. Sudah Gila?

success-perception-vs-reality
Plan Vs. Reality

Beberapa waktu yang lalu saya  seperti orang linglung, pikiran jauh menerawang entah kemana. Hati rasanya kosong, dan hidup rasanya useless banget. Mungkin sedang jenuh,begitu pikir saya saat itu. Saya kemudian melakukan hal-hal yang saya senangi mulai dari ngemall gak aturan, belanja hal gak penting sampai nyanyi-nyanyi gak jelas. Ketidakjelasan itu berlangsuh cukup lama, hingga akhirnya saya jatuh sakit dan sampai harus ke dokter. Tugas kuliah, nyari tempat magang, hingga persoalan sabun muka turut menambah daftar penyebab saya stress.

Memasuki bulan mei saya semakin tidak tenang, karena satu hal yang belum juga jelas. Kurang dari dua bulan lagi, saya harus magang tapi hingga saat ini belum ada kejelasan mau magang dimana. Bukan karena saya malas mencari tempat magang , atau apa tapi karena memang belum ada satupun perusahaan yang memberi saya kejelasan. Ceritanya ini saya lagi di php sama salah satu stasiun tv di Surabaya. Lika-liku mencari tempat magang membuat saya sadar akan satu hal penting. Apa itu???

Seperti biasa saya selalu heboh dan sok tau, sok ngerti, sok paling pinter dan segala macam sok yang lainnya. Parah banget deh. Satu tahun sebelum magang, saya sudah survey ke beberapa tempat yang menjadi incaran saya. Dimana lagi kalau bukan di Graha Pena Surabaya. Sudah tentu magang di Graha Pena adalah impian saya, selain itu tempatnya juga dengan tempat pacar hehe. Dari bulan februari kemarin, saya sudah heboh mempersiapkan proposal magang dan segala macam perintilan-perintilannya. Saya dan geng Capcus (lupakan nama gengs saya yang sedikit alay 😛 ), berangkat ke Surabaya awal bulan februari untuk mengantar proposal kami, dan dikampus ternyata baru kami yang minta surat magang dari jurusan ilmu Komunikasi. Bisa dibilang kita mencuru start hehe :D, Tapi kami gak menyalahi aturan kok, ini semua murni inisiatif kami sendiri.

Saya naruh proposal di JTV dan tabloid nyata (sesuai dengan peminatan saya komunikasi massa), sedangkan marta di SBO TV dan Tabloid Nyata juga, Vita dan Jeni di Skawan dan Tim Work Indonesia. Vita dan Jeni tidak perlu menunggu lama , dan begitu mudahnya mereka mendapatkan tempat magang karena sekali datang dan satu kali follow up mereka langsung diterima. Begitu juga dengan Marta yang juga diterima di SBO TV , beberapa hari setelah Vita dan Jeni. Lalu Desi? Bagaimana dengan Desi? Hehe Desi Alhamdulillah masih #RAPOPO hehe. *senyum sedikit miris*

Sejak proposal saya masukan ke JTV (ini memang menjadi incaran saya ) bulan febrari lalu saya terus follow up untuk mendapatkan kepastian diterima atau tidaknya. Selama kurun waktu Februari- Mei ini hampir setiap minggu saya terus telepon pihak JTV dan dua kali datang langsung ke kantor JTV untuk menanyakan kepastian diterima atau tidaknya. Masa di-php-in sama JTV adalah masa yang sangat awkward banget, saya sampai gemassss sendiri sama jawaban dari pihak JTV, dan membuat saya sedikit terpancing emosi. Rasanya sakittt cyyiinnn!! Hehe. Apakah JTV yang salah? TIDAAAKKKK!!!

Di-PHP sama JTV ternyata membuat saya sadar bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan. Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana usaha saya supaya bisa magang di Graha Pena. Dulu dalam pikiran saya pokoknya harus di Graha Pena, buat apa magang di Surabaya tapi kalau gak bisa di Graha Pena khususnya JTV. Tapi semuanya balik lagi, bahwa manusia hanya bisa berencana sedangkan keputusan mutlak sepenuhnya ada ditangan Sang Pembuat Skenario Hidup. Ada saja yang menghalangi saya untuk bertemu dengan HRD JTV entah via telepon ataupun bertatap muka saat saya pergi kesana.

Sejenak ditengah rasa frustasi saya karena belum juga mendapatkan kepastian, sedangkan banyak teman saya yang lain sudah mendapatkan tempat magang saya berpikir apa yang salah? Ada apa dengan saya? Kenapa begitu sulit untuk menembus satu TV Lokal saja? Kenapa semua rencana saya tidak bejalan mulus, padahal rencana iu sudah sangat runtut dan saya susun sangat rapi?. Masyaallah, saya tidak bisa tidur nyenyak karena terus-terusan kepikiran masalah itu.

“Mbak Desi, kok mesti gitu. Padahal bareng-bareng lho ngumpulin proposalnya”

“Mbak Desi , mesti gitu bantuin temannya tapi dirinya sendiri belum beres urusannya”

Saya sedikit terpancing dengan kata-kata yang diucapkan teman saya itu. Kata-katanya membuat saya sadar bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri saya. Orang lain melihat saya dengan rasa iba, kok melas banget gitu kesannya. Bareng-bareng mulai dari bikin proposal hingga mengantarkan langsung ke perusahaan incaran masing-masing, tapi kenapa Cuma saya yang tertinggal? Sempat muncul rasa gimana gitu antara marah sedih bercampur gak terima dengan keadaan yang ada.

“kok bisa, padahal aku yang dulu ngajakin mereka duluan”

“kalo bukan aku yang ngajak mereka pasti, belum apa-apa”

“list tempat magang juga dari aku, dan bla blaaaa”

“nanti kos nya disini aja jangan disana, nanti kita barengan dan bla blaa”

Dengan segala ketinggian hati saya merancang sebuah kehidupan magang sesuai keinginan saya. Saya bahkan tidak sempat bertanya pada teman saya apakah dia suka atau tidak dengan segala skenario saya. Ada dua teman Capcuss yang belum dapat tempat magang, lalu dengan sigap saya mencari list perusahaan yang bisa terima anak magang sesuai peminatan mereka, tidak lupa saya mencarikan tempat yang dekat-dekat agar kami bisa tinggal di satu kos. Saya rekomendasikan bahkan saya catatkan nomor telepon serta alamatnya, berharap bisa bersama. Pokoknya saya sudah seperti pahlawan deh lagaknya. Jujur saya melakukan itu semua bukan untuk dipuji teman-teman saya, saya tidak mengingkan pujian. ASLIIIIII !! saya hanya ingin bersama-sama mereka saat magang. Saya hanya ingin berkumpul bersama dan berjuang bersama.

Tapi , eh tapi saya lupa akan sesuatu hal. Saya lupa bahwa teman-teman saya itu bukan robot yang bisa saya kendalikan. Saya lupa bahwa masih ada ALLAH yang maha menentukan segalanya. Semuanya berbalik, semua yang saya rencanakan berantakan. Semua teman saya di gengs capcuss yang saya anggap satu perjuangan sudah mendapat tempat magang, justru saya lah yang hingga saat ini belum pasti mau magang dimana. Saya lupa bahwa rencana manusia itu sangat kecil dibanding rencana ALLAH yang maha besar dan terbaik bagi setiap hambaNYA.

Bukan bermaksud iri, tapi setiap apapun yang saya inginkan harus penuh perjuangan besar dulu untuk mendapatkannya. Lika-liku mencari tempat magang adalah tamparan keras bagi saya karena melupakan ALLAH yang maha kuasa. Saya terlalu sombong dan percaya diri bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginan saya. Saya terlalu sombong karena menganggap diri saya lebih dari segalanya dibanding teman saya. Saya selalu tidak bisa kalau harus melihat teman saya kesulitan. Ada yang bilang aya bodoh karena tidak mendahulukan diri saya sendiri, tapi malah mengajak teman dan akhirnya saya sendiri tidak dapat apa-apa. Entahlah..

Semoga secepatnya saya diberi kemudahan oleh ALLAH Untuk mendapatkan tempat magang yang terbaik. Saya bersyukur karena dengan begini saya bisa belajar, belajar untuk tidak sombong sekecil apapun itu meskipun hanya dalam hati. Kesombongan saya justru menyengsarakan saya sendiri. Astaghfirullah..ampuni aku ya Robb. Niat diawal aja sudah salah, makanya ALLAH gak kasih jalan. Ehmm… ALLAH itu maha baik ya, saya diajari langsung tentang nilai-nilai dalam hidup. DIA ajarkan bahwa manusia itu kecil gak ada apa-apanya, dibandingkan dengan-NYA. Jadi jangan sombong.

Setelah ini saya akan merubah niat saya, bukan lagi karena ingin bersama-sama dengan teman saya, berkumpul disatu kos, atau hanya sekedar biar sering ketemu pacar. Tapi untuk belajar. Belajar tentang arti hidup, mandiri saat jauh dari keluarga, hingga belajar bagaimana supaya tidak sombong. Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Maafkan aku ya ALLAH :). ALLAH selalu menegur hambanya dengan cara terindahnya :).

 

Cermin, Air mata dan Desi !

gambar diambil disini ya :)
gambar diambil disini ya 🙂

Hari ini saya kembali dibuat menangis oleh keadaan. Menangis? Ya saya sering sekali menangis untuk hal-hal yang membuat dada saya sesak. Saya cengeng? Terserah apa kata anda. Menangis , kadang bisa menjadi suatu kekuatan yang luar biasa bagi saya. Saya biasa ketika menangis menghadap cermin. Narsis? Aneh? Ya, memang sedikit aneh. Dengan bercermin disaat menangis, membuat saya tahu betapa jeleknya muka saya saat menangis sehingga dengan segera saya bisa berhenti menangis.

Saya amati diri saya sendiri saat menangis,melihat diri saya sendiri mengiba dan tidak berdaya. Melihat butiran bening air mata jatuh dari kedua mata saya. Disaat seperti itulah, muncul kekuatan dalam diri saya bahwa saya pasti bisa melewati semuanya. Disela-sela tangisan saya selalu saya sempatkan untuk tersenyum. Tersenyum, dan saya melihat wajah saya tidak sejelek saat menangis. Menangis lalu tersenyum. Sudah gilaaa? Mungkin orang yang melihat saya , akan menganggap saya gila.

Hari ini lebih tepatnya setengah hari ini, karena ini masih jam 12 siang saya sudah menangis dua kali. Benar-benar penat sekali rasanya, ingin rasanya berteriak dan pergi sejauh mungkin. Tapi apa dengan pergi masalah akan selesai? TIDAKK! Saya hanya akan menjadi PENCUNDANG kalau saya lari dari masalah. Rupanya ALLAH, masih sangat sayang sama saya sehingga saya diberi nikmat yang rasanya masih pahit, perlu saya beri sedikit keikhlasan dan kesabaran supaya nikmatnya berubah menjadi manis.

Saat seperti ini saya tersadar bahwa manusia itu tidak ada apa-apanya. Sekuat apapun berusaha tapi tetap ALLAH jua yang menentukan segalanya. Hari ini, entah keberapa kalinya saya dipermainkan oleh keadaan. Mungkin tempat itu tidak baik untukku sehingga ALLAH , tidak memberi jalan kepada saya untuk masuk disitu. Semua upaya sudah saya tempuh. Hahaha… kini saya tidak lagi menangisi semuanya, tapi saya justru tersenyum dan menertawakan diri saya sendiri.

“kamu iki kok cengeng to, saitik-saitik nangis. Sing rodok pinter saitik ngono lho”.

Begitu kata seseorang pada saya beberapa waktu yang lalu. Seseorang yang selalu menertawakan saya kalau saya menangis, seseorang yang paling benci melihat saya menangis. Saya memang cengeng dan suka menangis tapi saya tidak lemah dan tidak mudah menyerah. Justru sebaliknya ketika saya menangis disitulah bukti kekuatan saya. Menangis sambil bercermin wkwkwkw. Mungkin kalian semua perlu mencoba ketika menangis sambil bercermin entah saat sedih atau saat bahagia.

Bagi saya ketika dalam keadaan sedih dan sudah terasa sesak sekali, sudah pasti saya menangis. Begitu juga ketika saya dalam keadaan sangat bahagia sekalipun saya juga pasti menangis. Iki jane piye to? Entahlah , padahal usia saya sudah 22 tahun tapi kenapa masih nangisan, dan nangis sambil bercermin pula? Hihii. Percaya atau tidak cermin itu bisa ngomong lhoo, bisa jadi sahabat bagi saya.

Ketika saya sedang bersedih dan menangis didepan cermin, tidak perlu waktu yang lama bagi saya  untuk menangis. Segera saya usap air mata saya karena dibalik cermin itu ada suara yang selalu mengatakan “STOP, Hentikan tangisanmu! Kamu jelek kalau menagis! Kamu pasti bisa karena kamu adalah wanita yang kuat!  Jangan menyerah! Ayo bangkit!”. Entah dari mana datangnya kata-kata penyemangat itu, tapi itulah yang terjadi saat saya sedih sampai menangis. Sudah pasti saya segera bercermin agar saya segera bisa menghentikan tangisan saya.

Begitu juga ketika saya sedang dalam keadaan bahagia , entah kenapa saya juga gampang sekali menangis. Kembali saya ambil cermin , dan disitu saya melihat ada kebagiaan dimata saya sendri. Kembali sang cermin berbicara “Itulah nikmat dari ALLAH, Subhanallah, Percayalah ALLAH itu adil” dan berbagai kata-kata yang mengingatkan saya pada sang maha Kuasa. Sungguh ajaib sekali hidup ini. Saat menulis ini , saya sedang berada disebuh tempat yang tenang sambil mendengarkan sebuah lagu. Lagu soundtrack hidup saya, yaitu Skyscraper-nya Demi Lovato.

Haha… betapa bodohnya saya seharian ini jengkel dengan keadaan yang tidak berpihak kepada saya. Saya marah dengan keadaan yang seakan mempermainkan saya. Saya marah karena kebodohan saya sendiri. Kenapa harus marah dan merasa dipermainkan, bukankah semua itu sudah ada yang mengatur? Lalu kenapa saya harus marah ketika yang maha mengatur tidak berhendak? Ahhh bodohnya saya, terbawa hawa nafsu emosi. Astaghfirullah , ampuni hamba yang sombong Ya ALLAH.

Daaadaaa Cermin, daddda airmata. Saatnya untuk berjuang lagi dan saatnya untuk bangkit. Kalau kata Demi Lovato sih begini :

You can take everything I have You can break everything I am Like I’m made of glass ,Like I’m made of paper Go on and try to tear me down, I will be rising from the ground Like a skyscraper, like a Skyscraper –Demi Lovato-

Nah, kalau kata Genta dan kawan-kawannya di 5cm sih gini :

“Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu.Dan.. sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tanganyang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,leher yang akan lebih sering melihat keatas, lapisan tekad yang seribu lebih keras dari baja. dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa”

Seberat apapun masalah kita, percayalah bahwa akan selalu ada ALLAH yang meringankan beban kita :). Percayalah Desi, percayalah bahwa selalu akan pelangi saat hujan. Tapi kadang kamu gak bisa melihatnya , karena hujannya malam-malam. 😛 . Saatnya untuk meneruskan mimpi yang sempat tertunda 🙂 ! #ACTBIGGER !

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman : “Aku menurut dugaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. (Hadits ditakhrij oleh Turmidzi).

 

CERMIN, AIR MATA DAN DESI = TANGGUH ! hehehehehe

images
Semangat ^___^