Pengalaman Gagal Seleksi : Sebuah Langkah Menjemput Impian!

CBtK4P7UEAE1HJ9

            Kemarin setelah membaca tulisan Kak Keumala tentang pengalamannya mengikuti seleksi program JENESYS saya jadi tertarik menulis serupa. Sama seperti Kak Keumala, saya juga pernah mengikuti seleksi JENESYS tahun 2013 yang lalu. Meskipun saya gagal tapi dalam hati senang karena sudah pernah mencobanya. JENESYS adalah satu diantara sekian banyak program serupa yang pernah saya ikuti. Saya baru sadar ternyata sudah banyak sekali gagal yang saya temui. Dari sekian banyak acara baik nasional maupun international yang pernah saya coba untuk ikuti belum satupun berhasil. Kalau tidak lolos ya cuma berhasil duduk dibangku cadangan hehe. Kalaupun lolos seleksi pasti ada saja yang menghalangi untuk berangkat.

Tahun ini saya gagal lagi untuk mengikuti acara konferensi pemuda –pemudi se-Indonesia padahal dalam hati sudah yakin sekali bisa lolos. Tahun sebelumnya saya berhasil masuk di waiting list , tapi tahun ini nama saya sama sekali tidak ada :D. Untuk satu acara  yang berskala nasional ini saja saya gagal hingga tiga kali. Apalagi yang tingkat internasional, saya saja sampai lupa pernah ikut program apa saja hehe. Program-program yang saya ikuti rata-rata adalah program yang memungkinkan untuk bepergian baik antar kota di Indonesia hingga diluar negeri. Iya, saya memang punya mimpi untuk bisa keliling dunia. Mimpi terbesar saya saat ini adalah saya bisa melajutkan pendidikan saya di Belanda.

Baiklah, saya akan cerita pengalaman saya mengikuti seleksi program-program pertukaran pelajar dan konferensi baik nasional maupun internasional. Saya lupa nama progam-program yang pernah saya ikuti karena sepertinya tidak hanya satu dua tiga saja program yang pernah saya coba. Diantara itu semua ada yang gagal hanya diseleksi berkas, ada yang lolos sampai tahap wawancara, ada yang diterima tapi keadaan tidak memungkinkan untuk berangkat. Salah satu program yang saya lolos sampai tahap wawancara adalah program pertukaran pelajar Indonesia- Thailand. Rasanya seneng banget campur deg-degan. Saya mendapatkan kesempatan wawancara dihari kedua, wawancara dilakukan via skype. Tidak seperti wawancara diprogram lain yang ikuti yang hanya memakai walaupun sama via skype tapi cuma suara. Jadi tidak begitu nerves jawabnya, masih bisa menyembunyikan ekspresi muka yang  bingung mau jawab apa.

Nah , untuk program ini si interviewer meminta saya untuk menyalakan video call. Begitu video call nyala muncul tuh wajah si interviewer , saya mendadak panas dingin dan narik napas dalam-dalam. Saya cuma bisa diam aja dan nunggu mau ditanyain apa orang ini, tapi dalam hati bilang buset ini orang ganteng amat yaak wajahnya kok serius banget nih orang . Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, mas-mas ganteng itu tadi mulai memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi dan full english. Dia bertanya mulai hal-hal yang umum tentang saya lalu berlanjut pada pertanyaan yang sesuai dengan essai yang ada diberkas saya. Ditangannya ada berkas saya dan itu dia gunakan untuk “negubek-ngubek” saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya sendiri bingung mau jawab gimana. Bukan karena saya tidak tahu apa yang ada diberkas itu, tapi rasanya lidah saya kaku pas mau ngomong.

BONDO NEKAT! Meskipun bahasa inggris saya acak-acakan sekali tapi saya berhasil menjawab semua pertanyaan mas-mas itu tadi. Saya sendiri tidak yakin dengan jawaban saya, yang penting jawab aja. Mas-masnya cuma ngangguk-ngangguk aja entah itu tanda beliau mengerti atau itu ekspresi beliau yang mulai lelah dengan jawaban saya yang mbulet. Akhirnya wawancara selesai, dan saya disuruh menunggu pengumuman lolos atau tidaknya. Hari pengumuman pun tiba, dan saya lihat tidak ada nama saya didaftar peserta yang lolos. Yasud, coba lagi coba lagi dan hingga sekarang saya masih mencoba-coba lagi :D. Saya mencoba untuk ikut program lain dan kali ini saya berhasil lolos. Dua konferensi di Philipina dan Malaysia, dan satu program student exchange di Korea Selatan. Tapi, program-program ini tidak gratis dan mengharuskan peserta membayar sendiri akomodasi mereka.

Memang-memang sekarang banyak sekali program pertukaran pelajar, konferensi, atau semacamnya dan peluang diterimapun banyak. Bahasa inggrispun tidak menjadi syarat utama, tapi syarat utamanya peserta yang lolos harus membayar sejumlah uang akomodasi selama acara berlangsung. Nah , bagi mahasiswa kere seperti saya uang selalu menjadi masalah utama. Untuk program yang di Malaysia dan Korea saya sempat mencari sponsorship tapi entah belum rejeki atau gimana tidak satupun sponsor yang saya dapatkan. Hingga terpaksa saya membuat surat pernyataan pengunduran diri dari acara tersebut. Sedih? Udah jangan tanya lagi sedih apa tidak. Sudah tentu sedih sekali, meskipun program berbayar dan peluang diterima banyak tapi tetap saja mendaftarnya saja butuh perjuangan. Perjuangan nulis essai yang full english itu saja sudah bikin saya migren, belum lagi kalau pihak penyelenggara minta essai plus video cv yang mengharuskan kita membuat video tentang diri kita semenarik mungkin dan lagi-lagi harus in english.

Dari kegagalan-kegagalan saya saya dapatkan saya belajar banyak hal. Setelah saya analisis (maklum anak skripsian jadi bawaannya pengen analisis data terus :D) kegagalan-kegagalan saya rupaya ada yang kurang dalam diri saya. Sepertinya Tuhan ingin mengajari saya untuk menjadi manusia yang sabar dan manusia yang terus ingin belajar. Saya jadi semangat belajar bahasa inggris lagi, supaya kalau nanti daftar lagi gak malu-maluin pas wawancara haha. Dan mungkin Tuhan belum memberikan saya kesempatan bahkan untuk level nasional saja karena Tuhan ingin saya segera menyelesaikan apa yang menjadi tugas saya disini. Keep khusnudzon pada Allah, karena saya yakin Allah telah menggenggam semua doa-doa saya lalu dilepaskan satu persatu pada saat yang tepat : ). Improve your self, jangan takut gagal , terus mencoba dan terus berpikiran postif , yakin bahwa suatu saat kesempatan itu akan datang. Akhir kata, Selamat pagi dan tetap semangat meraih mimpi ya 🙂

Saya Vs. ALLAH. Sudah Gila?

success-perception-vs-reality
Plan Vs. Reality

Beberapa waktu yang lalu saya  seperti orang linglung, pikiran jauh menerawang entah kemana. Hati rasanya kosong, dan hidup rasanya useless banget. Mungkin sedang jenuh,begitu pikir saya saat itu. Saya kemudian melakukan hal-hal yang saya senangi mulai dari ngemall gak aturan, belanja hal gak penting sampai nyanyi-nyanyi gak jelas. Ketidakjelasan itu berlangsuh cukup lama, hingga akhirnya saya jatuh sakit dan sampai harus ke dokter. Tugas kuliah, nyari tempat magang, hingga persoalan sabun muka turut menambah daftar penyebab saya stress.

Memasuki bulan mei saya semakin tidak tenang, karena satu hal yang belum juga jelas. Kurang dari dua bulan lagi, saya harus magang tapi hingga saat ini belum ada kejelasan mau magang dimana. Bukan karena saya malas mencari tempat magang , atau apa tapi karena memang belum ada satupun perusahaan yang memberi saya kejelasan. Ceritanya ini saya lagi di php sama salah satu stasiun tv di Surabaya. Lika-liku mencari tempat magang membuat saya sadar akan satu hal penting. Apa itu???

Seperti biasa saya selalu heboh dan sok tau, sok ngerti, sok paling pinter dan segala macam sok yang lainnya. Parah banget deh. Satu tahun sebelum magang, saya sudah survey ke beberapa tempat yang menjadi incaran saya. Dimana lagi kalau bukan di Graha Pena Surabaya. Sudah tentu magang di Graha Pena adalah impian saya, selain itu tempatnya juga dengan tempat pacar hehe. Dari bulan februari kemarin, saya sudah heboh mempersiapkan proposal magang dan segala macam perintilan-perintilannya. Saya dan geng Capcus (lupakan nama gengs saya yang sedikit alay 😛 ), berangkat ke Surabaya awal bulan februari untuk mengantar proposal kami, dan dikampus ternyata baru kami yang minta surat magang dari jurusan ilmu Komunikasi. Bisa dibilang kita mencuru start hehe :D, Tapi kami gak menyalahi aturan kok, ini semua murni inisiatif kami sendiri.

Saya naruh proposal di JTV dan tabloid nyata (sesuai dengan peminatan saya komunikasi massa), sedangkan marta di SBO TV dan Tabloid Nyata juga, Vita dan Jeni di Skawan dan Tim Work Indonesia. Vita dan Jeni tidak perlu menunggu lama , dan begitu mudahnya mereka mendapatkan tempat magang karena sekali datang dan satu kali follow up mereka langsung diterima. Begitu juga dengan Marta yang juga diterima di SBO TV , beberapa hari setelah Vita dan Jeni. Lalu Desi? Bagaimana dengan Desi? Hehe Desi Alhamdulillah masih #RAPOPO hehe. *senyum sedikit miris*

Sejak proposal saya masukan ke JTV (ini memang menjadi incaran saya ) bulan febrari lalu saya terus follow up untuk mendapatkan kepastian diterima atau tidaknya. Selama kurun waktu Februari- Mei ini hampir setiap minggu saya terus telepon pihak JTV dan dua kali datang langsung ke kantor JTV untuk menanyakan kepastian diterima atau tidaknya. Masa di-php-in sama JTV adalah masa yang sangat awkward banget, saya sampai gemassss sendiri sama jawaban dari pihak JTV, dan membuat saya sedikit terpancing emosi. Rasanya sakittt cyyiinnn!! Hehe. Apakah JTV yang salah? TIDAAAKKKK!!!

Di-PHP sama JTV ternyata membuat saya sadar bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan. Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana usaha saya supaya bisa magang di Graha Pena. Dulu dalam pikiran saya pokoknya harus di Graha Pena, buat apa magang di Surabaya tapi kalau gak bisa di Graha Pena khususnya JTV. Tapi semuanya balik lagi, bahwa manusia hanya bisa berencana sedangkan keputusan mutlak sepenuhnya ada ditangan Sang Pembuat Skenario Hidup. Ada saja yang menghalangi saya untuk bertemu dengan HRD JTV entah via telepon ataupun bertatap muka saat saya pergi kesana.

Sejenak ditengah rasa frustasi saya karena belum juga mendapatkan kepastian, sedangkan banyak teman saya yang lain sudah mendapatkan tempat magang saya berpikir apa yang salah? Ada apa dengan saya? Kenapa begitu sulit untuk menembus satu TV Lokal saja? Kenapa semua rencana saya tidak bejalan mulus, padahal rencana iu sudah sangat runtut dan saya susun sangat rapi?. Masyaallah, saya tidak bisa tidur nyenyak karena terus-terusan kepikiran masalah itu.

“Mbak Desi, kok mesti gitu. Padahal bareng-bareng lho ngumpulin proposalnya”

“Mbak Desi , mesti gitu bantuin temannya tapi dirinya sendiri belum beres urusannya”

Saya sedikit terpancing dengan kata-kata yang diucapkan teman saya itu. Kata-katanya membuat saya sadar bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri saya. Orang lain melihat saya dengan rasa iba, kok melas banget gitu kesannya. Bareng-bareng mulai dari bikin proposal hingga mengantarkan langsung ke perusahaan incaran masing-masing, tapi kenapa Cuma saya yang tertinggal? Sempat muncul rasa gimana gitu antara marah sedih bercampur gak terima dengan keadaan yang ada.

“kok bisa, padahal aku yang dulu ngajakin mereka duluan”

“kalo bukan aku yang ngajak mereka pasti, belum apa-apa”

“list tempat magang juga dari aku, dan bla blaaaa”

“nanti kos nya disini aja jangan disana, nanti kita barengan dan bla blaa”

Dengan segala ketinggian hati saya merancang sebuah kehidupan magang sesuai keinginan saya. Saya bahkan tidak sempat bertanya pada teman saya apakah dia suka atau tidak dengan segala skenario saya. Ada dua teman Capcuss yang belum dapat tempat magang, lalu dengan sigap saya mencari list perusahaan yang bisa terima anak magang sesuai peminatan mereka, tidak lupa saya mencarikan tempat yang dekat-dekat agar kami bisa tinggal di satu kos. Saya rekomendasikan bahkan saya catatkan nomor telepon serta alamatnya, berharap bisa bersama. Pokoknya saya sudah seperti pahlawan deh lagaknya. Jujur saya melakukan itu semua bukan untuk dipuji teman-teman saya, saya tidak mengingkan pujian. ASLIIIIII !! saya hanya ingin bersama-sama mereka saat magang. Saya hanya ingin berkumpul bersama dan berjuang bersama.

Tapi , eh tapi saya lupa akan sesuatu hal. Saya lupa bahwa teman-teman saya itu bukan robot yang bisa saya kendalikan. Saya lupa bahwa masih ada ALLAH yang maha menentukan segalanya. Semuanya berbalik, semua yang saya rencanakan berantakan. Semua teman saya di gengs capcuss yang saya anggap satu perjuangan sudah mendapat tempat magang, justru saya lah yang hingga saat ini belum pasti mau magang dimana. Saya lupa bahwa rencana manusia itu sangat kecil dibanding rencana ALLAH yang maha besar dan terbaik bagi setiap hambaNYA.

Bukan bermaksud iri, tapi setiap apapun yang saya inginkan harus penuh perjuangan besar dulu untuk mendapatkannya. Lika-liku mencari tempat magang adalah tamparan keras bagi saya karena melupakan ALLAH yang maha kuasa. Saya terlalu sombong dan percaya diri bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginan saya. Saya terlalu sombong karena menganggap diri saya lebih dari segalanya dibanding teman saya. Saya selalu tidak bisa kalau harus melihat teman saya kesulitan. Ada yang bilang aya bodoh karena tidak mendahulukan diri saya sendiri, tapi malah mengajak teman dan akhirnya saya sendiri tidak dapat apa-apa. Entahlah..

Semoga secepatnya saya diberi kemudahan oleh ALLAH Untuk mendapatkan tempat magang yang terbaik. Saya bersyukur karena dengan begini saya bisa belajar, belajar untuk tidak sombong sekecil apapun itu meskipun hanya dalam hati. Kesombongan saya justru menyengsarakan saya sendiri. Astaghfirullah..ampuni aku ya Robb. Niat diawal aja sudah salah, makanya ALLAH gak kasih jalan. Ehmm… ALLAH itu maha baik ya, saya diajari langsung tentang nilai-nilai dalam hidup. DIA ajarkan bahwa manusia itu kecil gak ada apa-apanya, dibandingkan dengan-NYA. Jadi jangan sombong.

Setelah ini saya akan merubah niat saya, bukan lagi karena ingin bersama-sama dengan teman saya, berkumpul disatu kos, atau hanya sekedar biar sering ketemu pacar. Tapi untuk belajar. Belajar tentang arti hidup, mandiri saat jauh dari keluarga, hingga belajar bagaimana supaya tidak sombong. Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Maafkan aku ya ALLAH :). ALLAH selalu menegur hambanya dengan cara terindahnya :).

 

Tak Perlu Bekerja Untuk Menjadi Kaya

Kamu apa yang kamu upayakan.

Kata-kata diatas sering sekali kita
dengar bukan? ‘kamu apa yang kamu upayakan’ . hmm…sepertinya kata-
kata ini menarik untuk dijadikan bahan menulis malam ini. Malam yang sunyi, meskipun ini malam minggu tapi bagi saya ini adalah sabtu malam. *ngenes

Menurut saya kata-kata diatas
mengandung makna supaya kita terus berusaha dalam meraih apa yang kita impikan. Walaupun dalam meraih impian kita menemui kerikil-kerikil yang memperlambat perjalanan kita menuju impian. Tak jarang kitapun gagal dan harus kembali ke NOL. Tidak apa-apa itu normal. Tapi bisakah kita meraih impian kita sedangkan kita hanya berdiam diri dan menunggu orang lain bekerja untuk kita?? TIDAK !! sampai kapanpun kita tak akan pernah bisa sukses sebelum kita mau mengupayakan sendiri apa yang kita impikan. Sebut saja DD , dia seorang pemuda yang tampan dan badannya tinggi tegap. Secara fisik dia memenuhi syarat untuk menjadi seorang perwira sesuai dengan impiannya sejak kecil.

Dia adalah anak manja yang semua
kebutuhannya disediakan oleh orang tuanya, terutama sang ayah yang amat mencintainya. Suatu hari ia ,mendaftar menjadi calon perwira polisi dan setelah melalui berbagai macam seleksi ia dinyatakan gagal. Tidak sekali dua kali ia mencoba namun tetap gagal. Entah apa yang membuat ia gagal hingga 10 kali. 10 KALI?? Bukankah bukan main ia
mencoba untuk meraih impiannya??
Wowww…saya sendiri belum tentu
kuat mental menghadapi kegagalan
demi kegagalan hingga 10 kali seperti yang ia alami. Ada saja halangan yang membuat dia harus kembali merasakan pil pahit.
Kalau dipikir-pikir kurang apa dia?? Entahlah. Setiap kegagalan yang ia alami , ia selalu menyalahkan orang lain dan
lingkungannya. Saya sendiri merasa heran, apa yang kurang dari dia. Tapi itulah takdir, oleh Tuhan ia tidak diizinkan menjadi seorang perwira. ‘belum jodoh, belum rejeki, dan coba lagi. Itulah kata yang sering saya ucapkan untuk menyemangatinya. Tapi belakangan saya tahu , kalau
setiap kegagalan yang menimpanya ia selalu menyalahkan orang lain dan
lingkungan terutama orang tuanya
yang dianggap kurang bisa
mencarikan “jalan” untuknya.
Bantuan dan upaya orang lain lah
yang dia anggap jalan untuk menuju kesuksesannya. Setiap kali gagal ia selalu menuduh orang lain kurang bisa mengupayakan keberhasilannya. Sedangkan ia tidak mau disalahkan, dan mengangaap sudah berjuang
keras saat seleksi. Ia menganggap
kalau dirinyalah satu-satunya orang
yang paling malang didunia ini karena kegagalannya.
Hahahaha…..bagaimana bisa ia
berpikiran kalau orang lain yang
menjadi penentu kesuksesannya??
*ngawur.

Itu contoh yang nyata , yang saya
temui disekitar saya. Dari contoh itu saja kita bisa mengerti dan belajar kalau kesuksesan kita, yang
menentukan adalah kita sendiri. Mau jadi seperti apa kita, juga kita sendiri yang menentukan. Kitalah yang punya kendali penuh atas diri kita. Kitalah yang menentukan masa depan kita sendiri, bukan orang tua juga bukan orang lain. Sekuat dan sekeras apapun orang tua mengupayakan untuk anaknya agar menjadi orang sukses tidak akan pernah bisa kalau anaknya hanya diam saja dan tidak mau berusaha dan masih terus menyalahkan orang lain atas
kegagalannya. Rejeki , maut , dan jodoh sudah diatur oleh Tuhan.

Benar , rejeki, maut dan jodoh sudah diatur oleh Tuhan. Tapi apa mungkin itu semua jatuh dari atas tanpa kita berusaha terlebih dahulu. Bisakah kita menjadi kaya sementara kita tidak bekerja?? Rejeki kan udah diatur Tuhan, begitulah pembelaan yang sering kita lontarkan. Bersembunyi dibalik nama Tuhan , untuk menyembunyikan kelemahan kita.
Berusaha, berusaha dan terus
berusaha maka Tuhan tak akan
menyianyiakan usaha yang sudah kita lakukan. Begitulah pemahaman saya tentang kata Rejeki sudah diatur oleh Tuhan.

Kita sendirilah yang harus
mengupayakan keberhasilan kita
bukan orang lain. Dalam kesuksesan kita , orang lain dan lingkungan sifatnya hanya pendukung. Mau menjadi apa kita, semuanya terserah pada kita sendiri. Tidak ada orang sukses dan hidup enak tanpa mengalami yang namanya susah sebelumnya. Jalan menuju kesuksesan dan menemukan diri kita yang sesungguhnya selalu berliku dan kadang kita harus memilih jalan mana yang ingin dilalui. Jalur pintas tapi berbahaya, atau biar lambat asal selamat?? Jalan menuju kesuksesan kadang juga membingungkan dan menuntut kita untuk membuat keputusan yang tepat agar tidak tersesat.

Belajar dari pengalaman orang-orang yang telah sukses dan menjadi orang ‘besar” mungkin bisa membantu kita untuk lebih giat dalam meraih impian kita. Dan jangan lupa berdoa, karena kita akan menemukan keajaiban dalam setiap doa yang kita panjatkan. Karena kita masih muda, kesempatan meraih impian jangan dilewatkan.Terus belajar, intropeksi dan tetap
semangat 😀

Salam

Yedhesiany.

Gagal ?? Coba Lagi..!!!

Kegagalan bukanlah akhir dari dunia. That’s just beginning. !!!

Gagal bukan berarti kita tidak bisa. Gagal juga bukan berarti kita bodoh.
Gagal bukan berarti semua usaha kita sia-sia.
Gagal juga bukan berarti kita tidak berusaha semaksimal mungkin untuk meraih impian kita itu.

Ada banyak faktor yang menyebakan kita belum berhasil mencapainya. Mungkin juga usaha kit belum maksimal, mungkin kita masih meremehkan dan menganggap kita pasti bisa (baca:sombong), mungkin terlalu banyak dosa dalam diri kita yang kita sendiri kadang tidak menyadarinya, sehingga doa kita belum dijawab oleh Allah.

Gagal bukan akhir dari segalanya kok. Dari kegagalan-kegagalan yang kita alami pasti ada sesuatu dibalik itu semua . Ada rahasia Allah yang lebih indah dari apa yang kita rencanakan. Ada suatu hikmah yang kita petik, bahwa kita harus lebih bersabar dan berbaik sangka pada Allah.

Jadi jangan ngerasa dunia ini mendadak gelap kala kita mengalami kegagalan. Ngomong sih gampang , prakteknya yang susah. Eiiitsss…tunggu dulu, !! Semuanya itu memang butuh proses , awalnya memang berat nerima kenyataan kalau gagal. Tapi hidup kan harus tetap berjalan. Move on dongg..!! :p

Jadikan kegagalan kita itu menjadi semangat untuk menjadi lebih baik. Semangat untuk meraih apa yang kita impikan. Biasanya setelah gagal , kita akan lebih semangat mengejar apa yang sebelumnya gagal didapat.

Sudah usaha maksimal tapi tetap gagal. Maaf anda kurang beruntung, silahkan coba lagi. Lalu kita mencoba lagi dan gagal lagi?? Coba lagi, coba lagi, coba lagi sampai sang impian bosan kita kejar dan akhirnya menyerah dihadapan kita. Nahhh…kita tinggal tangkep tuh impian.

Intinya kita jangan langsung frustasi bin depresi kalau kita sedang gagal. Yakinlah Allah itu tak pernah dzolim pada hamba-Nya. Allah selalu tahu yang terbaik untuk kita. Apa yang menurut kita baik , belum tentu baik juga menurut Allah. Karena Allah itu tahu yang terbaik untuk kita.

Dan bila kita sudah mencoba dan terus mencoba dengan usaha yang maksimal tapi belum juga berhasil, percayalah ada sesuatu yang lebih baik yang telah disiapkan oleh Allah.

Keep spirit and smile 🙂 :-). 

God Always Listening Always Understanding.!!!!!