Berhijrah (1) : Kembalilah ke Masa Lalu

1

Hallo, Assalamualaikum. Selamat datang 2016, tidak telat kan mengucapkan selamatnya hihi. Jadi apa acara tahun barumu kemarin? Jalan-jalan liat kembang apai, bakar-bakar (jagung , ayam atau apalah) sambil kumpul dengan keluarga, atau i’tikaf dimasjid? Apapun yang kamu lakukan untuk menyambut tahun baru semoga itu menjadi titik awal suatu perubahan yang baik. Berbicara tentang tahun baru, tahun ini saya menyambutnya dengan sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Entah kenapa saya tidak memiliki hasrat untuk ikut larut dalam perayaan tahun baru. Malam tahun baru kemarin saya malah “mbabu” dirumah, ya nyuci piring lah, nyapu , beres-beres rumah mumpung penghuni rumah lainnya lagi pada keluar sibuk dengan acara masing-masing. Tidak. Ini sama sekali tidak menyedihkan, saya justru bahagia sekali melakukan itu semua :D.

Anyway, ini baru tanggal 3 Januari jadi gak telat-telat bangetlah buat nulis tentang tahun baru kan ya hihii. Sejak bulan Desember yang lalu saya udah mikirin banget tuh, ntar ngapain aja ditahun baru trus resolusi apa aja yang harus dibuat?. Sampai pada akhirnya 2 minggu sebelum tahun baru saya bikin project tulisan #DecemberRandom yang tadinya mau diupdate setiap hari dan goal nya pas tahun baru dilanjutkan dengan #Prayfordecember2016. Iseng aja sih bikin itu, niatnya tulisan-tulisan random yang semoga bisa ngasih manfaat buat yang kebetulan baca. Tapi yah tapi kenyataannya saya cuma bisa ngisi dua tulisan di #DecemberRandom karena pas itu lagi sibuk jadi “Mamah Muda” buat dua sepupu yang kecil-kecil.

Lanjutkan membaca “Berhijrah (1) : Kembalilah ke Masa Lalu”

Mantan Preman Sekolah yang Kini Menjadi Ustadz

Tulisan ini saya buat satu tahun lalu (tapi lupa diposting -__- ), setelah pertemuan saya dengan teman SMA yang dulu “berandalan” stapi sekarang jadi pengasuh pondok pesantren didesa Banyakan , Kediri .

=========================================================

“TIDAK PEDULI SEBURUK APAPUN MASA LALUMU,

MASA DEPANMU MASIH SUCI”

Pagi ini saya mendapatkan sebuah pelajaran bahwa dalam hidup orang itu berproses. Berproses menjadi baik dan semakin baik. Tidak munafik, bahwa saya sendiri masih sangat jauh untuk disebut baik. Masih jauh sekali dari kata baik. Bila ada yang kebetulan mengatakan saya baik, itu merupakan kebaikan dari ALLAH yang menutup aib saya. Pagi ini Allah mempertemukan saya dengan seorang teman yang darinya saya banyak belajar.

Diperjalanan menuju toko tadi pagi, ada yang manggil saya. Karena merasa ngga kenal jadi saya cuekin aja. Itu pasti anak pondok yang nyapa temannya, pikir saya sih gitu. Saya Cuma punya satu orang teman yang mondok di Lirboyo, dan itupun jarang banget ketemu. Nah, pas dijalan tuh orang kok ngikutin saya terus. Aduhh gimana dong, saya liat dari spion tuh orang ngikuti saya apalagi sambil senyum-senyum gitu. Saya semakin takut , aduh gimana dong kalo ada yang niat jahat *udah kepikiran jelek*

Orang tadi semakin dekat, dan tiba-tiba dia bilang “ Desi, SMA Lima?”  . Hah, orangnya tahu nama saya dan tahu saya dulu SMA 5. “Iya, siapa ya?” . “Eh, sek sek ya, nang kono ae” . Dia lalu ngegas motornya mendahului saya, pas di area pondok. Aduh siapa ya? Pas nyampek ditoko saya berhenti. Eh dianya ikut berhenti. Orang yang ngikutin saya dari tadi ternyata teman saya waktu SMA. Rupanya waktu telah merubah dirinya , menjadi seorang anak pondokan hihii. Tanpa bersalaman, dia lantas menanyakan kabar saya. Saya begitu kaget melihat dia sekarang, jauh berbeda dengan dia yang dulu.

Bukan bermaksud membuka aibnya, tapi sungguh teman saya ini dulunya berandalan nomer satu disekolah bersama geng-genges nya. Semasa SMA dia bersama teman-temannya sering bolos dikantin belakang kelas saya. Dari situ juga saya kenal dia dan teman-temannya. Tidak hanya kenal, tapi dia sering malak saya. Minta duit seribu dua ribu buat beli rokok.. Masalah pergaulan, sudah jangan ditanyakan lagi gimana. Tapi sekarang dia berubah, dan dia bilang dia senang bisa bertemu teman SMA nya. Sejak lulus sekolah dia masuk pondok, dan hilang contact dengan teman-temannya yang lainnya.

Saya yang masih kaget , nggak percaya banget dia bisa jadi begitu. Dasar saya iseng, saya guyoni dia “nggeh gus” Haha. Dia lalu bercerita tentang kehidupannya yang sekarang. You know gaess? Sekarang dia jadi pengasuh di pondok pesantren milik keluarganya. Sejak abahnya meninggal, dia yang menjadi “pewaris tunggal” yayasan milik keluarganya karena hanya dia satu-satunya anak laki-laki. Dia yang dulu suka jelalatan apalagi sama cewek, sekarang mendadak diam. Setiap kali saya guyoni dia hanya bilang “Aduhh ojo ngono to”, “astaghfirullah” , sangat jauh dengan dia yang dulu hehe.

Dia juga bercerita tentang anak didiknya, yang kalau dia bilang cerminan dirinya dulu. Kalau dulu dia nakal, sekarang dia harus mendidik anak-anak didik dipondoknya yang juga nakal-nakal seperti dia dulu. Dari cara berpikirnya, dari cara ngomongnya semuanya berubah. Menjadi agamis, menjadi religius. Dalam pikiran sekarang hanya ada santri-santrinya , mikirin gimana mendidik santri-santrinya. Dia juga sempat mengomentari saya , yang sekarang pakai jilbab. Selain itu dia juga “menceramahi” saya tentang hal-hal yang intinya supaya sesuai dengan aturan agama. Saya Cuma jawab nggeh gus, sambil cekikikan. Hahaha.

“Keajaiban itu bernama Hidayah”

Saya dan mungkin teman-teman yang lain (yang kenal dia dulu) nggak akan percaya kalau teman saya yang tadi bisa mejadi seorang pengasuh pondok pesantren. Bahkan tadi, pas salah seorang teman saya yang sejak SMA mondok di Lirboyo nggak sengaja lewat dan melihat kami dia langung puter balik haha. Mungkin dia ingin memastikan , yang sedang bersama saya itu benar teman satu kelasnya dulu atau bukan.  Mendadak saya canggung dan merasa aneh berada diantara dua lelaki pondokan ini *melipir-melipir* .

Setelah pertemuan saya dengan dua orang teman SMA tadi saya jadi merasa malu. Malu pada diri sendiri. Teman saya yang mantan berandalan sekarang jadi pengasuh pondok pesantren. Bukankah ini sesuatu yang luar biasa? Sungguh Allah itu maha baik ya , semoga saya bisa mengikuti jejak hijrah teman saya itu. Dan semoga dia bisa kuat memegang amanah menjadi pembina bagi anak-anak dipondok pesantren nya . PROUD OF YOU, Suzin : ).

Ps : waktu ngobrol sama saya dia lebih sering nunduk, dan dia juga enggak berani salaman sama saya. Dia juga berpesan pada saya untuk menjaga diri dan kehormatan saya sebagai perempuan. Kisah hidupnya dulu, kenakalannya dia adalah sesuatu yang amat dia sesali. Terimakasih , Allah telah engkau pertemukan aku dengannya : ) .

Dari Mall menuju Pondok Pesantren #1

Untuk sampai dipondok pesantren yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah membutuhkan waktu yang lama. Setidaknya perlu 5 tahun untuk bisa sampai ke pondok pesantren yang jaraknya kurang dari 500m dari rumah”

Hallo, selamat malam. Eh, iya ini malam minggu lho. Apa kabar para jomblo-jomblo didunia, masih sehat dan kuat kan? Hehe. Wah, judul tulisannya agak gimana gitu ya dari mall menuju pondok pesantren , maksudnya apa coba?. Baiklah, saya akan bercerita bagaimana perjuangan saya bisa sampai pondok pesantren yang letaknya tidak lebih 500m dari rumah saya :D. Sejak lulus SMP tepatnya tahun 2007 yang lalu, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah saya di Kediri. Selama di Kediri saya tinggal bersama Budhe Pakdhe yang biasa saya panggil Mama Papa. Ya, sejak tahun 2007 itu saya resmi menjadi “Cah Kediri”. Seneng banget dong ya, yang biasanya tinggal di pelosok desa sekarang jadi anak kota.

Ketika SMA saya bertemu dengan banyak teman baru, bisa menekuni hobi menulis saya dengan bergabung di Komunitas Muda Radar Kediri, pokoknya jadi anak hitsss dimasanya. Kalau ditanya hobinya apa saat itu? Maka saya jawab –NGEMALL- . Iya dong, ngemall biar hitsss, apalagi didukung dengan fasilitas yang memadai. Kemana-mana ga perlu repot karena ada motor yang bisa dipakai, kalau terpaksa gak ada motor ya masih ada temen-temen yang mau antar jemput. Oiya dulu saya punya temen yang walaupun masih SMA udah bawa mobil, jadilah makin seneng kalau diajakin jalan-jalan. Hampir setiap hari kerjaannya thawaf di mall. Jangan dipikir banyak duit, karena masih ABG labil yang penting bisa aktualisasi diri udah lebih cukup biarpun cuma beli teh poci asal belinya dimall. Ngapain aja dimall? Jalan-jalan , lihat-lihat, nongkrong, gosip , dan tidak lupa foto-foto. FIX ALAY sekali!. Lanjutkan membaca “Dari Mall menuju Pondok Pesantren #1”