#Day1 : Starting a new challenge.

picture-1
gambar diambil dari sini

Well, setelah posting tulisan curhat yang malah jatuhnya drama banget, hari ini saya akan menulis lagi hihi. Pagi ini saat bangun tidur saya langsung membaca bismillah dan senyum-senyum sendiri. Menurut yang saya baca, entah benar atau tidak tersenyum bisa membuat otak kita yakin kalau kita sedang bahagia. Jadi mungkin udah ada semacam program gitu ya diotak kita, yang kalau bibir kita tersenyum akan direspon oleh otak lalu diolah menjadi kebahagiaan. Ah embuh, ini analisa yang ngawur *maapkan saya bukan peneliti*. Mungkin ini juga alasannya, kenapa kalau pas nangis tapi tersenyum semacam ada kekuatan yang nambah gitu, atau sedikit berkurang sedihnya *Oh my, drama lagi*.

Mumpung masih suasana tahun baru, jadi dimanfaatkan betul untuk menuju perubahan. Padahal setiap tahun baru selalu bikin resolusi-resolusi tapi semuanya hanya berakhir dibuku catatan. Setelah saya analisis *tsah bahasanya masih ambu-ambu skripsi* , saya salah strategi. Saya itu kadang suka ngotot dan sok multitasking, padahal otaknya cuma sekelas intel atom. Udah jadi kebiasaan saya menuliskan target-target yang ingin dicapai dalam setiap tahunnya, selain itu juga nulis daftar-daftar impian baik yang ditempel didinding kamar atau ditulis dibuku. Kalau saya ngga salah hitung, seperti sudah ada 4 buku yang isinya “list mimpi dan target” tapi tidak banyak dari list itu yang dicoret.

“ focus will driving everything in your life, so keep on focus”

Gitu sih kalau kata mentor online saya, Brendon Burchard. Kebetulan nih saya dapat free buku motivasinya plus dapat free online training selama 12 minggu. Ehmm, ga free juga sih sebenarnya tapi bayar $7 , tapi sumpah worth banget kok. Lumayan  kan bisa sekalian belajar reading dan listening hahaha. Pantes , kalau semua target saya nggak ada yang tembus, lha wong saya nggak bisa fokus. Emang sih ya, gara-gara ngga bisa fokus banyak sekali tugas-tugas yang terbengkalai. Contoh yang masih anget banget ya skripsi, coba kalau dari dulu saya fokus pasti skripsinya ngga sampai “anniversary”. Lalu, kursus-kursus yang saya ikuti juga nggak menghasilkan apa-apa. Dalam 3 bulan ini saya, saya bisa ikut lebih dari 3 kursus yang jalan bersamaan. Duh, sumpah keteter banget. Dan mulai minggu ini saya “mengeliminasi” beberapa kursus yang saya ikuti. Saya memilih mundur dan memulai menetapkan fokus dan prioritas.

Pertama, saya mulai dari hal-hal yang kecil dan simpel. Karena saat ini saya sedang fokus meningkatkan kemampuan bahasa inggris saya, jadi mulai hari ini saya mulai belajar saya dengan belajar menghafal 5 vocab, menonton satu film pendek berbahasa inggris, membaca satu artikel bahasa inggris (saya baca thejakartapost) lalu menyalin artikel itu dibuku. Efektif kah? Dilihat saja nanti. Kalau kata Prof Renald Kasali, sih untuk menjadi sukses myelin kita juga harus digerakkan, supaya otot-otot dalam tubuh kita terbiasa dipakai bekerja.

Kedua, saya mulai membatasi penggunaan gadget. Saya mulai mengurangi kepo-kepo atau stalking baik instagram atau facebook. Saya juga telah meng-uninstal beberapa aplikasi socmed dihape. Saya tahu, nggak mungkin banget buat saya untuk meninggalkan gadget atau nggak online , harap maklum kerjaan saya disocmed semua. Saya mendapat uang dari sana hahaa. Tapi kalau terlalu over kan nggak baik juga, toh kerjanya juga nggak 24 jam cuma 4-5 jam aja sehari. Saya mulai mengganti bacaan , dari yang awalnya cuma baca timeline IG atau facebook saya ganti dengan baca buku (perlu banget dipaksa dan dibiasakan hihi).

“Mungkin ada yang bilang, ih kok baru mulai sih. Telat banget, teman-temanmu udah jauh didepan, kamunya baru mau mulai”.

Ya juga sih, usia udah berapa ini haha. Meskipun tidak bisa dibenarkan, tapi terlambat masih sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Nah, semoga langkah-langkah kecil ini bisa mengantarkan pada sesuatu yang besar didepan sana. Oiya, saya juga mengurangi “menggebu-gebu” diawal tapi “layu” ditengah-tengah. Jadi slow banget ini mah, kan katanya usaha ngga bakal mengkhianati. Jadi terus berusaha dan dalam berusaha itu butuh proses, karena ngga ada yang instan didunia ini. Mie instan aja masih butuh direbus kok, ya kan?

 

Iklan

Menjadi Sarjana.

P60822-125653
Me with my gengss 😛

Lima tahun lalu, setelah menjadi pengangguran selama satu tahun status saya resmi berganti menjadi mahasiswa. Sebuah status yang sangat prestisius, apalagi saya menjadi bagian dari salah satu universitas terbaik yang ada di Indonesia. Masih jelas sekali diingatan saya, siang jelang sore didepan rektorat saya resmi menjadi mahasiswa Universitas Brawijaya.

“Selamat datang di UB. Selamat karena telah menjadi bagian keluarga besar UB”

Itulah kata-kata yang diucapkan oleh teman saya yang sedari pagi membantu saya mengurus penundaan pembayaran. Speachless. Sumpah saya tidak bisa berkata apa-apa, mata saya sudah basah oleh air mata sedangkan teman saya hanya ketawa cekicikan sambil menepuk-nepuk bahu saya. Thank you so damn much buat Andik dan Anila :* .

Lima tahun. Ya, saya menjadi mahasiswa UB selama lima tahun. Waktu yang cukup lama untuk sekedar menambah gelar S.I.Kom  dibelakang nama saya. Padahal target saya dulu bisa lulus 3,5tahun, apalagi tidak pernah ada masalah dalam masa kuliah saya, hanya saja ketika masuk fase skripsi ceritanya jadi berbeda :D. Skripsi saya malah sampai ulang tahun lho, emejingg kan ya ? ceritanya puanjang, cinta fitri mah lewwaaaat. sudahlah, skripsi telah berlalu. Tapi kalau mau tahu gimana ceritanya skripsi saya sampai bisa ulang tahun dan merayakan anniversary nya baca post-post saya sebelumnya hihii.

Seminggu lalu, oleh dewan penguji saya dinyatakan lulus. Tapi kenapa pas dinyatakan lulus saya malah biasa-biasa saja? Rasanya lebih excited pas dikasih kado trus foto-foto haha. Saat ujian pun saya ngga merasa nerveous sama sekali, dan itu AJAIB. Menjadi sarjana. Mungkin itulah yang sejak satu tahun lalu ditunggu-tunggu oleh keluarga saya.  Ketika dinyatakan lulus, saat itulah doa-doa Mama telah dikabulkan oleh Allah. Saya yakin malam hari sebelum saya ujian Mama pasti bangun untuk sholat tahajud dan berdoa untuk kelancaran ujian saya, sama seperti yang dilakukan Mama ketika Mas akan ujian-ujian masuk AKPOL dulu.  Jadi bisa dikatakan kalau kelulusan saya ini bukan karena kepintaran saya , tapi saya lulus berkat doa orang tua :D.

P60822-124413
Terimakasih yang sudah ngasih hadiah. Padahal saya ngga ulang tahun 😀

And then what’s the next? Setelah menjadi sarjana mau apa?. Setiap ditanya mau ngapain setelah lulus saya selalu menjawab mau meneruskan studi saya kejenjang yang lebih tinggi yaitu S2. Saya ingin melanjutkan studi saya jauh ke negeri kincir angin, BELANDA. Untuk meraih mimpi saya itu, saya memutuskan untuk tidak melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan yang mengharuskan saya duduk berlama-lama dikantor dengan segunung pekerjaan. Saya tetap ingin punya banyak waktu untuk belajar. Dan tentu saja keputusan saya itu membuat vertigo Mama mau kambuh, disekolahkan setinggi ini eh giliran sudah lulus nggak mau kerja. Lha karepe jane piye? 😀

Saya adalah tipe orang yang punya kemauan kuat kalau sudah punya keinginan. Everything I do lah pokoknya. Menjadi mahasiswa ilmu komunikasi UB merupakan hasil “NGEYEL” saya selama satu tahun. Setelah lulus SMA saya memilih tidak kuliah dan pergi ke ibu kota untuk mencari kerja daripada harus kuliah untuk menjadi guru SD.

“Itu bukan aku bangeeet. Masak aku harus jadi guru SD. Mimpiku itu menjadi reporter berita ditelevisi atau menjadi wartawan di koran , bukan menjadi guru. Apalagi guru SD. Nggak. Aku nggak mau”

Dari hasil kerja itulah yang rencananya akan saya gunakan untuk membiayai kuliah saya. Kuliah jurusan ilmu komunikasi, dimanapun tempatnya tidak masalah asal tetap ilmu komunikasi. Tiba dijakarta, saya tidak hanya mencari kerja tapi juga mencari universitas yang ada jurusan ilmu komunikasinya  khusus untuk kelas karyawan. Tapi takdir berkata lain, dijakarta saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan apapun yang ada justru saya ditipu orang. Mungkin itu karma dari Tuhan karena tidak nurut pada orang tua, saat itu memang Mama seperti tidak ridho saya pergi kejakarta. Dengan deraian air mata dan dengan berat hati Mama mengantar saya sampai kestasiun. I was too young to know her feeling at that time. Tangisan mama tidak mempan dan tidak pula membuat saya mengurungkan niat. Yang ada saya justru bersumpah saya harus menjadi mahasiswa ilmu komunikasi dan menjadi jurnalis.

FYI, mungkin karena Mama tidak ridho selama dijakarta saya sering mendapatkan kesusahan. Enam bulan lebih dijakarta saya belum juga mendapatkan pekerjaan , padahal saat itu saya nggak pilih-pilih kerjaan. Jadi pembantu atau penjaga tokopun oke asalkan bisa mendapatkan uang untuk kuliah.  Kejadian dimasa lalu merupakan pelajaran yang sangat luar biasa untuk langkah saya selajutnya. Dalam setiap langkah saya, selalu ada Tuhan dan restu orang tua yang selalu saya ikutkan. Saya tidak ingin mengulang masa lalu , mendapatkan banyak kesulitan karena melangkah tanpa ridho orang tua. Saya juga tidak mau berandai-andai atau menyesali kejadian yang telah berlalu.

Rupanya menjadi sarjana itu bukanlah perkara yang mudah, apalagi sarjana yang belum bekerja. Meskipun saya tidak ingin melamar pekerjaan di perusahaan yang mengahrusnya saya duduk dikantor seharian penuh, tapi bukan berarti saya tidak ingin bekerja. Realistis saja , untuk mewujudkan mimpi S2 di Belanda butuh banyak modal haha. LUCKY ME! Karena sebelum lulus sudah ditawari untuk bekerja oleh teman saya. Saya diajak untuk merintis sebuah perusahaan, dengan gaji yang lumayan untuk ukuran fresh graduate seperti saya. Alhamdulillah, itu nikmat yang luar biasa sekali dan yang terpenting adalah ridho orang tua ada didalamnya : ).

Selamat datang dikehidupan yang sebenarnya , kehidupan nyata yang kadang pahitnya melebihi oseng-oseng pare :D. Apapun yang menjadi cita-cita kita, apapun pilihan kita selalu sertakan Allah dan ridho orang tua dalam setiap langkah kita supaya hidup kita berkah :). Dan yang tidak kalah penting adalah ilmu yang didapatkan selama kuliah (ingat lho ya , kuliahnya 5 tahun ) bisa menjadi ilmu yang bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain.

Kertas Mimpi

P60409-021308-001
penampakan 😀

Hallo selamat malam menjelang pagi. Iya, tulisan ini saya buat tepat pukul 00.05 dini hari. Tumben ya jam segini belum merem, dan mata masih seger nih belum ada tanda-tanda ngantuk. Tumben banget. Mungkin karena hati lagi “kemrungsung” jadi matapun enggak mau merem. saya lihat disekeliling saya, ada banyak tempelan kertas warna-warni. Ditembok kamar, dilemari, dimeja belajar. Kayak anak TK ya? Hehe. Tidak apa-apa, karena kertas-kertas itu adalah penjaga mimpiku. Kadang juga bisa jadi motivatorku.

Saya terbiasa nulis sejak kecil, termasuk menuliskan segala keinginan dalam secarik kertas. Senang rasanya ketika bangu tidur yang dilihat deretan-deretan tulisan mimpi. Senang rasanya ketika satu persatu kertas itu dilepas karena sudah berhasil dicapai. Senang rasanya ketika menuliskan kembali mimpi-mimpi baru dikertas lalu menempelkannya dimana saja, dilemari, didinding, dimeja belajar, bahkan disamping tempat tidur. Jadi tiap gerak kekanan-kekiri mata langsung tertuju pada tulisan-tulisan itu.

Kadang dalam menuliskan mimpi dikertas-kertas itu saya harus menggunakan istilah-istilah atau sandi supaya tidak ada orang yang tahu. Itu berlaku untuk “misi-misi” rahasia hehe. Tidak jarang saya ditertawakan oleh teman-teman saya yang kebetulan membacanya. Tidak hanya dirumah, tapi tembok kamar kost pun kadang juga tertempel tulisan disana-sini. It’s oke, I’m happy with that. Tapi menyedihkan, akhir-akhir ini kertas-kertas layaknya kertas kosong tanpa tulisan. Hanya tertempel begitu saja. Bahkan ketika kertas yang paling besar jatuh, penulisnya enggan menempelkannya lagi. Malah digulung dan dilempar diatas lemari. Padahal kertas besar warna itu , penuh dengan tulisan target-target yang akan dicapai, hingga “peta hidup” yang akan dijalani.

Ya, dalam satu-dua tahunan ini saya kehilangan “keliaran” saya dalam mengejar mimpi-mimpi saya. Dalam satu-dua tahunan ini, ketika saya ditanya apa mimpi? Saya akan jawab menikah. Kalau saya ditanya apa keinginanmu? Maka saya akan jawab ketemu jodoh. Kalau ditanya apa yang kamu lakukan untuk mimpi-mimpimu? Jawabannya tidak ada. Satu-dua tahunan ini, saya kehilangan banyak hal. Mulai dari kehilangan pacar, kehilangan semangat, sampai yang paling menyedihkan adalah kehilangan mimpi-mimpi saya.

Dulu ketika ditanya mau jadi apa nanti? Maka dengan mantap saya akan menjadi jurnalis seperti Najwa Shihab atau Meutia Hafid atau menjadi reporter acara jalan-jalan dan makan ditelevisi. Atau bisa juga jadi wartawan surat kabar yang bertugas meliput pertandingan sepak bola nasional hingga dunia. Kenapa? supaya bisa bertemu dan mewawancarai pemain sepak bola Indonesia, Bambang Pamungkas. Lalu, ketika ditanya mau kerja setelah lulus kuliah? Lagi-lagi dengan mantap dan lupa percaya diri saya jawab “ Saya akan melanjutkan sekolah saya diluar negeri. Saya jatuh cinta dengan Belanda”. Lalu, ketika ditanya mau kerja dimana? Saya akan langsung menjawab  “Saya mau kerjanya digedung yang tingi-tinggi”. Saya telah bersumpah untuk meninggalkan kota ini. Pergi jauh dan memulai hidup baru dilingkungan yang baru pula. Saya punya mimpi yang begitu besar.

Tapi waktu merubah segalanya, kejadian demi kejadian yang menimpa membuat mimpi-mimpi besar itu mengecil. Bahkan tenggelam dalam keraguan. Mimpi-mimpi besar itu berubah menjadi begitu sederhana. Menjadi reporter? Lupakan. Mimpi itu sudah dicoret dari daftar mimpi. Kalau jadi reporter nanti kasian anaknya siapa yang ngurusin. Kerja digedung-gedung yang tinggi? Nggak usah. Kerja dirumah aja udah cukup, kan bisa jualan online.   Melanjutkan sekolah keluar negeri? Dalam negeri juga bagus kok, Unair aja udah bagus. Dekat lagi dengan rumah.

Dalam satu-dua tahun ini saya jalani hari-hari dengan biasa saja. Tidak ada target, tidak ada lagi pemberontakan yang bikin orang nangis, tidak ada lagi ada mimpi besar. Semuanya dijalani apa adanya. Baguslah , sekarang Desi jadi anak yang manis. Yang kalau mau ngomong perlu dipikir dulu kalau perlu dibuatin naskah dulu biar engga salah ngomong, baguslah sekarang Desi sudah lebih peduli dengan omongan orang lain, dan kabar baik Desi sudah mau menerima nasehat. Bagus kan seperti itu? Hai, Desi si anak manis, selamat hidup berbahagia : ).

“Des, kamu kapan hijrah dari Kediri? Kamu kapan keluar dari Kediri? Kamu harus keluar dari Kediri, karena kamu kalau disini nggak akan jadi apa-apa. Kamu harus keluar mengejar mimpi-mimpimu”

Sore itu, saya rasanya seperti dibangunkan dari tidur panjang. Orang yang berkata itu masih cengengesan didepanku, tapi pikiranku sudah melayang jauh kemana-kemana. Teringat sumpahku untuk meninggalkan kota ini segera, bukan karena tidak menyayangi kota ini tapi karena impian besarku berada diluar kota ini bahkan diluar negeri ini. Dulu, dalam satu tahun entah berapa kali saya mengikuti seleksi untuk bisa ikut conference / summit baik itu nasional maupun internasional, dari yang berbayar puluhan juta hingga yang gratis. Meskipun tidak satupun bisa tembus, tapi tidak pernah ada rasa lelah.

Saya rela melakukan apa saja untuk mendapatkan mimpi-mimpi saya. Harus riwa-riwi kesana kemari, menghabiskan banyak tenaga untuk mengisi aplikasi pendaftaran conference/ summit, bahkan rela mengurung diri dikamar berhari-hari sebagai bentuk kemarahan pada Mama karena tidak mengizinkan saya ikut Workcamp di Pekalongan. Keluarga dan teman, mereka adalah orang-orang yang saya cintai. Bahkan mereka yang saya cintaipun tidak mampu menghentikan saya ketika saya sudah bertekad untuk mewujudkan mimpi saya, dan kadang saya sendiri tidak mampu menghentikan diri saya sendiri. Kalau sampai ada yang mencoba menghalangi mimpi-mimpi saya “WANI SATRU AE”.

Insiden workcamp di Pekalongan itu, membuat saya “nyatru” banyak orang. Mama, Papa, Ayah , Ibu, Mbak , Mas semuanya disatru. Karena mereka ini kompak melarang saya pergi ke pekalongan dengan alasan yang nggak bisa saya terima. Takut diculik lah, takut dieksploitasi lah, takut jadi korban traficking lah. Hello, saya cuma mau ke Pekalongan 3 hari. Karena kejadian itu saya bersumpah, untuk pergi yang lebih jauh dari Pekalongan. Dan saya berhasil mewujudkan sumpah itu dengan pergi ke Singapura-Malaysia seorang diri. Meskipun harus melihat Mbak menangis dan memohon-mohon supaya saya nggak pergi.

“Kamu minta opo to jane?. Tak belikan. Tapi ojo budal. Adikku tinggal kamu satu-satunya. Nanti kalau kamu ilang piye?”

Ah, itu dulu. Ketika saya menjalani semuanya dengan “semau gue”. Ketika memberontak adalah makanan sehari-hai, ketika impian-impian itu menjadi sumber kekuatan. Ketika itu namaku bukan Desi si anak manis, tapi Desi anak keras kepala. Malam ini, saya ingin merubah nama lagi. Kali ini namanya Desi Si Anak Manis tapi Enggak Keras Kepala 😀 Hhehe.

Malam menjelang pagi ini, sebelum saya tidur saya akan menempelkan mimpi-mimpi saya ditembok, dilemari, dimeja belajar, dan dimana saya. Saya akan menjaganya agar tetap hidup hingga saya dapat mencapainya. Saya akan jadikan mimpi itu menjadi lebih realistis dengan keadaan sekarang. Jangan ada lagi airmata dari orang lain demi mimpi-mimpi saya, cukuplah air mataku. Akhir kata, tulisan “kemrungsung” ini saya tutup dengan kata-kata dari Mas Vicky. Ah, siapa lagi Mas Vicky ini?. Saya juga tidak tahu, yang saya tahu saat ini saya sedang ‘mencuri’ ilmu darinya. Silahkan diterjemahkan sendiri kata-kata Mas Vicky yang dia ucapkan waktu ngisi seminar minggu lalu.

“Ada yang pernah lihat pocong? Takut enggak sama pocong?. Lha, kalau engga pernah melihat pocong kenapa harus takut? Apa benar pocong itu menakutkan? Kan belum pernah melihat, kenapa harus takut duluan?”.

Kediri, 9 April 2016

 

 

Ketika Mimpi Menemukan Jalannya

cats

Bismillahirahmannirahim. Sepertinya sebelum hutang menulis saya terbayar saya akan tetap galau dan nggak konsen buat ngerjain skripsi haha. Setelah lama tertunda akhirnya pagi ini saya putuskan untuk menulis. Ya..ya.ya saya memang suka sekali menulis, dan mungkin jadi lebay ya apa-apa ditulis. Hehe. Menulis adalah satu-satu cara untuk mengabadikan “untold story” dalam hidup saya. Berbicara tentang menulis, saya telah menulis sejak saya masih kecil. Ya, masa kanak-kanak nulisnya dibuku diary yang dikasih gembok haha. Dan ketika dewasa saya bercita-cita untuk menjadi seorang penulis -mohon doanya- . Saya masih ingat betul ketika, menulis dibuku diary itu sungguh tidak aman karena dibaca sama kakak saya hehe dan ketika mengenal internet saya mulai belajar membuat blog. Kenapa buat blog? Karena saat itu kakak saya masih sangat gaptek, jadi aman! 😀

Berawal hobi blog-walking jaman dulu, saya jadi tertarik untuk menjadi seorang blogger dan bisa menghasilkan uang hehe. Ah.. tapi itu Cuma mimpi. Kenyataannya blog yang saya buat sepi pengunjung. Sempat sedih dan mulai nyari-nyari cara gimana caranya biar bisa mneghasilkan uang dari hasil ngeblog. Satu, dua, tiga cara sudah dicoba tapi tetap saja begitu. Sampai pada tahun 2011 saya memutuskan untuk membuat blog baru dan menulis bukan lagi untuk mengejar uang tapi untuk menuliskan kejadian-kejadian dalam hidup saya. Kelak ketika mulut ini sudah tidak mampu bercerita, kisah hidup saya masih tetap abadi dalam tulisan. Intinya saya menulis sekarang supaya kelak anak cucu saya bisa membaca kisah hidup ibu dan neneknya. Ketika saya tidak lagi mampu untuk becerita, biarlah tulisan-tulisan ini yang bercerita pada mereka.

Lalu tentang mimpi. Saya adalah seorang pemimpi ulung yang punya banyak sekali impian besar dalam hidup ini. Perlahan tapi pasti satu-persatu impian itu mulai mendekat. Contoh kecil adalah dulu saya pengen banget punya motor honda beat. Impian dari jaman SMA , dan ternyata Allah pengen saya sabar dulu. Tau-tau dikasih aja gitu motornya disaat yang tepat dan dimoment yang memang saya sangat membutuhkan motor untuk pp kediri-malang. Terus, contoh lagi ketika saya pengen banget bisa bergabung di organisasi yang keren yang kece. Lalu Allah menjawabnya tahun 2013-2014 saya berada diantara pemuda-pemuda hebat nusantara young leaders. Lalu, di tahun 2015 ini banyak sekali keajaiban mimpi yang saya temui.

Pada akhir tahun 2014 saya pengen banget berhijrah dari jaman jahiliyah saya menuju jalan yang terang benderang hehe. Dan keinginan saya itu dijawab oleh Allah melalui #BeraniBerhijrah di awal tahun 2015 ini. Allah pertemukan saya dengan orang-orang yang hebat dan keren di #BeraniBerhijrah. Menurut saya apa yang saya alami sekarang ini, adalah suatu kejaiban. Sesuatu yang diluar dugaan, yang membuat saya terus melongo “lho kok iso?” . Saya semakin melongo lagi ketika ada ribuan orang yang setiap harinya membaca tulisan saya. “Subhanallah. Lho kok bisa ngono?” . Dulu jangankan ribuan orang yang membaca atau komen tulisan saya, ada satu orang yang khilaf nyasar di blog saya itu udah syukur. Sedangkan sekarang, ketika saya membuat tulisan (meskipun itu hanya tulisan simpel dan singkat) ada banyak orang yang meng-komen dan mengshare tulisan saya. Sungguh ini adalah semacam dreams come true banget.

Sampai sekarangpun saya belum bisa percaya pada hal yang saya alami sekarang. Ketika satu persatu impian saya telah menemukannya jalannya .Ketika doa-doa saya dijawab oleh Allah. Dan sekali lagi saya hanya bisa melongo seakan nggak percaya atas apa yang saya alami. Rasanya semuanya itu udah diatur dengan sangat rapi. Subhanallah wabihamdihi. Bahkan saya sempat dibuat galau berhari-hari karena terus memikirkan kok bisa gitu ya? Kok bisa ya semuanya menjadi nyata. Sampai akhirnya saya cerita ke Mbak Gigi, berharap beliau bisa bantu saya menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sukses membuat saya meninggalkan skripsi.

“Karena kamu nggak pernah tahu siapa aja yang udah nge-doa’in kamu. Kamu sampai bisa seperti saat ini. Percaya atau nggak percaya doa punya kekuatan yang luar biasa, dan doa itu yang menjaga kamu” – Mbak Gigi-  

                Jleeep. Saya langsung terdiam. Saya yang tadinya berwajah galau maksimal jadi cerah ceria mendengar ucapan mbak Gigi. “Kamu gak pernah tahu siapa saja yang udah berdoa buat kamu”. Kata-katanya nacep banget gitu. Oiya, saya lupa bahwa disekeliling saya masih banyak sekali orang-orang yang mencintai saya, orang-orang yang senantiasa menyebut nama saya dalam doanya. Doa orang tua, doa keluarga, doa teman-teman. Masyallah sungguh dahsyat kekuatan sebuah doa ini. Allah, permudahkan segala urusan orang-orang yang aku cintai. Alhamdulillah, sekarang saya sedang diberi amanah untuk menulis disebuah komunitas. Tulisan tersebut disebar melalui media online dan masyallah followernya mencapai puluhan ribu. Rasanya mau nangis. Sungguh berat amanah ini. Sedangkan saya masih gini-gini aja.

Suatu hari, saya coba untuk flashback kembali mengingat-ingat impian saya. Bukankah dulu saya ingin tulisan saya dibaca banyak orang? Bukankah dulu saya harus rela cari info sana-sani supaya blog saya banyak pengunjungnya dan tulisan saya dibaca banyak orang? Sekarang, ketika semuanya tidak perlu lagi saya cari, semuanya sudah siap apa yang harus saya lakukan? TETAP MENULIS! Iya saya akan tetap menulis sampai saya tidak mampu lagi menulis. Menulis apa? Menulis apa saja yang mampu saya tulis dan berharap tulisan saya dapat memberikan manfaat untuk orang lain. Mungkin ketika saya menulis blog seperti saat ini, tidak ada beban berat yang harus saya tanggung. Karena ini adalah blog pribadi saya, yang isinya “semau gue” dan saya tidak berharap apapun. Tujuan saya menulis adalah untuk mengabadikan kisah hidup saya, untuk nantinya saya wariskan pada anak cucu saya.

Sedangkan menulis dikomunitas, dan dibaca banyak orang rasanya itu AMAZING bin AJAIB sekali. Meskipun dibalik ke-amazing-annya ada amanah dan tanggung jawab yang luar biasa berat. Bukan main-main karena saya sebuah tulisan sekecil apapun akan mampu merubah orang. Entah itu merubah cara berpikirnya, merubah sikapnya, atau merubah hidupnya. Kelak saya akan dimintai pertanggung jawaban atas apa-apa yang saya tulis. Ya Allah berikanlah kekuatan pada hamba untuk tetap istiqomah dijalanMu. Akhir kata, karena saya mau kuliah , pagi ini saya panjatkan puji syukur pada Allah dan terimakasih doa-doa dari siapapun itu untuk saya. Doa yang baik tidak akan kembali kecuali kepada orang yang berdoa baik 😉 .

“Teruslah menulis meskipun tidak ada satu orangpun yang membaca”

“Teruslah mengejar mimpimu, jangan pernah mundur. Karena kamu tidak akan pernah tahu kapan Allah akan menjawab doa-doa dan menjadikan impianmu nyata”

“Bersiaplah, karena mimpimu akan segera menemukan jalannya”

“Let dream and fate takes us where we belong”

Persiapan Pernikahan Part II

Keisengan saya post buku yang saya baca, jadi rame hihii
Keisengan saya post buku yang saya baca, jadi rame hihii

“Aww.. Mbak Desi mau nikah, jangan lupa undangannya Mbak”

Saya hanya senyum-senyum aja baca chat dari seorang temen. Mungkin gara-gara tulisan saya sebelum ini tentang Persiapan Pernikahan Part I, dan beberapa status yang saya pasang disosial media saya teman-teman mengira saya akan menikah dalam waktu dekat ini. Ya, ya saya memang akan menikah tapi tidak sekarang (Tanggalnya masih rahasia dong 😛 ) , hanya saya saat ini sedang mempersiapkan segalanya.

Oke baiklah, bicara tentang menikah. Ehmm.. saya sendiri belum begitu mengerti tentang pernikahan. Saya hanya tahu kalau orang menikah itu berarti keduanya saling mencintai dan mereka akan hidup bahagia selama-lamanya (hanya ada di cinderella), kenyataannya tentu tidak seperti itu. Kenyataan yang saya lihat dan saya dengar dari beberapa orang yang sudah menikah, mereka bilang menikah itu ga segampang itu. Ada banyak ujian yang harus dihadapi, mulai masalah ekonomi hingga masalah sulitnya menyatukan dua kepala menjadi satu pemikiran.

Well, setidaknya sebelum menikah saya harus benar-benar mempersiapkan segalanya. Tidak hanya persiapan untuk pesta sehari semalam tapi untuk hidup selamanya, karena hidup hanya sekali dan menikahpun hanya sekali ,Amiin. Kemarin saya membaca buku judulnya “Sebelum aku menjadi Istrimu”. Buku itu sukses bikin saya nangis dipojokan. Salah satu babnya ada yang bahas tentang Bidadari Surga. Pokoknya bahasanya #Jleeep banget deh. Intinya , bila kita menyakiti hati suami kita bidadari surga tuh ga segan buat mendoakan jelek buat dan dia berusaha ngrebut suami kita. Tuh, kan sadis banget ga sih?

Tapi tenang, bidadari-bidadari surga itu masih bisa dikalahkan oleh kita-kita ini. Syaratnya cuma satu yaitu jadilah istri sholehah. Nah gimana jadi istri sholehah kalau masih begini-begini aja kerjaannya. Masih banyak baca status di sosial media daripada baca Quran, masih suka beli makan diluar daripada belajar masak sendiri dirumah. Gimana nanti kalau udah jadi istri? Bisa-bisa jadi dagelan didepan suami. Pengennya dapet suami baik nan sholeh, tapi sendirinya nggak mau memperbaiki diri. Elaaahhh ya mana bisa?

Saat ini saya sedang mempersiapkan diri untuk bersaing dengan para bidadari-bidadari itu. Doakan saya ya! Oke, kembali lagi pada persiapan menikah. Bisa dikatakan persiapan saya saat ini masih dibawah 10%. Waaaa.. masih jauh banget. Jadi kapan rencananya nikah? Jujur itu masih rahasia, tapi saya pasti akan menikah. Saat ini saya mempersiapkan diri saya sendiri dulu. Menjadi lebih baik, menjadi calon istri sholehah, dan Calon ibu Juara bagi anak-anak saya nanti.

“ entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi Ibu. Ibu-Ibu yang cerdas akan menghasilkan anak yang cerdas”

— Dian Sastro

Persiapan yang pertama adalah pendidikan. Ya seperti yang dikatakan artis favorit saya Dian Sastro. Seorang wanita harus berpendidikan tinggi , meskipun nantinya  hanya akan menjadi ibu rumah tangga. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan  saya disebuah Unversitas Negeri di Malang. Setidaknya dari kampus ini saya banyak belajar, dan kelak bisa saya ajarkan kepada anak saya. Dengan pendidikan seseorang akan kaya ilmu, tidak hanya sekedar ilmu dibidang akademik tapi juga ilmu non akademik.

Seorang Ibu, adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jadi kecerdasan seorang anak sangat ditentukan oleh kecerdasan ibu (setau saya sih gitu ya). Jadi untuk menjadi ibu yang cerdas, saya juga harus menjadi cerdas. Mungkin selama ini, saya masih males-malesan kuliahnya tapi setelah ada niatan menikah saya mulai rajin sekali (rajin ngerjain laporan dan yah sesekali baca buku 😛 ).

Oke baiklah, masih banyak yang harus persiapkan untuk menuju hari bahagia itu. Untuk sementara target terdekat adalah LULUS. Menjadi seorang Sarjana Ilmu Komunikasi, Ini juga merupakan bagian dari persiapan pernikahan lho hehe. Menikah kan ga hanya butuh cinta, tapi juga modal. Modal untuk sewa gedung, modal untuk catering, modal untuk hidup sehari-hari, dan tentunya modal saling percaya dan cinta sama pasangan heheuehue.

Jadi Ingat kata-kata seorang temen. “Kita tuh harus punya nilai lebih yang harus bisa dibanggakan. Calon mertua pasti seneng kalau punya mantu yang bisa dibanggakan” – Grace — . Bener juga sih, apalagi kalau punya mantu yang pinter ,cerdas, cantik dan sholehah. Hayoo, ibu mana yang ga ngizinin anaknya menikahi wanita yang pinter,cerdas, cantik dan sholehah? Pinter dan cerdas hanya bisa didapat dari pendidikan, sedangkan cantik bisa didapat dimana saja (kalau hanya cantik fisik) asal punya duit, dan yang terakhir sholehah. Ehmm untuk poin yang terakhir saya nggak tahu dapatnya darimana, karena saya sedang belajar untuk menemukan jalan untuk itu. Semoga ALLAH senantia menujukkan jalan lurusNYA J .

“Terus memperbaiki diri dan memantaskan diri untuk orang yang akan bersama kita hingga JannahNya. Insyallah”

Surabaya , I’m Soo In Love With You! :)

Surabaya! Ya, hampir dua bulan saya tinggal di Surabaya. Kota yang selama ini saya idam-idamkan. Sejak masih sekolah saya ingin sekali melanjutkan pendidikan saya di kota Pahlawan ini. Tapi, kenyataannya hingga sekarang mau lulus saya tidak pernah merasakan ‘nikmatnya’ kuliah di Surabaya. Sempat kabur ke Jakarta karena nggak mau kuliah jurusan pendidikan yang pasti nantinya akan jadi guru, harus adu argumen dulu sama keluarga karena saya tetap ingin keluar dari rumah. Harus membuat banyak orang mengelus dada, karena ulah saya yang sok pemberani. Bocah 18 tahun berani-beraninya menantang ibu Kota yang kejamnya lebih dari ibu tiri. Disaat teman-teman seusia saya sedang seneng-senengnya kuliah, saya malah senep karena ditolak kerja sana-sini. Oke , fix kalau teman saya kuliah jurusan favorit mereka di Universitas bergengsi, maka saya kuliah di Universitas Kehidupan jurusan sabar dan nerimo.
Setelah banyak hal yang dilalui, akhirnya saya sadar kalau saya harus kuliah. Sepertinya Allah belum mengizinkan saya untuk merasakan pahit kerasnya dunia kerja, sekian banyak lamaran saya ajukan dan hasilnya DITOLAK semua. Balik pulang ke Kediri dan mencoba mencari kerja disana, gengsi dong kalau Cuma nganggur. Kenyataannya sama saya juga DITOLAK! Memasuki tahu ajaran baru, sebuah tawaran kuliah datang. Syaratnya harus di Kediri dan jurusan Pendidikan supaya jadi Guru. Perlu waktu yang cukup lama untuk bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Menerima kenyataan dan termasuk harus terima kalau ada cibiran dari tetangga dan teman-teman. Tapi ALLAH maha adil, atas doa dan usaha saya (tentunya support dari orang terdekat) saya bisa masuk UNIVERSITAS BRAWIJAYA dan dijurusan Ilmu Komunikasi pula.
Dari sekian kejadian dalam hidup saya, saya menjadi tahu bahwa ALLAH itu sungguh maha adil. Tidak pernah dzalim pada hambaNya. Meskipun tidak kuliah di Surabaya, tapi setidaknya karena kuliah di UB lah saya akhirnya bisa merasakan hidup di Surabaya. Meskipun hanya 2 bulan tapi, sudah sangat cukup untuk menjawab impian-impian saya dulu. Tidak hanya satu impian tapi BANYAK. Selain bisa merasakan hidup di Surabaya, saya juga akhirnya menembus Jawa Pos Grup ( JTV) untuk magang saya. Dulu saya punya impian bekerja di TV, menjadi reporter diacara jalan-jalan atau kuliner. Dan akhirnya itu terwujud saat saya magang. Sungguh ini kejaiban dari ALLAH.
Dua minggu lagi magang saya selesai, itu artinya saya harus meninggalkan Surabaya. Sempat ingin memperpanjang masa magang supaya lebih lama di Surabaya. Tapi semakin lama, semakin ingin cepat meninggalkan Surabaya. Kenapa? Karena saya ingin segera ke Malang menyelesaikan laporan magang dan skripsi saya dan segera kembali ke Surabaya. Entahlah, meskipun di Surabaya tidak hanya bahagia dan tawa yang saya dapatkan tapi Surabaya begitu berarti bagi saya. Kota inilah yang memberikan saya banyak cerita meski singkat.

“ Kamu betah di Surabaya karena pacarmu ada disana”

Meskipun tidak salah kalau ada yang bilang seperti. Tapi itu bukan alasan utama saya, Mereka hanya tahu masa sekarang, mereka tidak mengenal saya saat dulu. Saat saya masih sangat getol untuk bisa kuliah di Surabaya. Saat akan magang di Surabaya, memang saya sangat bahagia. Saya membayangkan akan sangat menyenangkan, sering bertemu pacar, punya banyak teman, diantar jemput pacar, diajak kesana kemari. Tapi kenyataannya berberbeda. Meskipun sama-sama di Surabaya tapi kami jarang bertemu karena sama-sama sibuk. Okelah, tujuan utama saya ke Surabaya memang bukan untuk pacaran , tapi untuk magang.

Semangat menyelesaikan magang yang tinggal dua minggu! 😀

Di Surabaya banyak sekali yang saya dapatkan. Ilmu untuk bekal pendidikan saya, juga ilmu untuk menjadikan diri ini lebih baik. Di Surabaya, terutama ditempat saya magang Allah tunjukkan kepada saya berbagai macam orang dengan berbagai sifat dan karakter. Allah tunjukkan mana yang benar-benar baik , mana yang setengah baik, dan yang pura-pura baik. Allah tunjukkan pada saya bahwa DIA benar-benar dekat dengan kita. Tamparan bagi saya karena masih sering mengeluh dan merasa tidak adil. Apapun yang terjadi setelah saya meninggalkan Surabaya, maka itulah yang terbaik.

“LET DREAM AND FATE TAKES ME WHERE I BELONG”

Hello Magang, Hello Surabaya !

Hello..  waw rasanya sudah satu abad saya tidak menulis, rasanya rindu menulis *preet 😛 * . Banyak sekali kejadian maupun cerita yang terjadi dan semuanya saya tulis pasti nggak bakal kelar seharian :D. Oke baiklah saya akan mengawali cerita saya, cerita tentang mahasiswa yang sudah memasuki semester akhir. Iyess.. tentu saja saya senang sekaligus senep. Senang karena sudaj tidak ada kuliah lagi dan utamanya nggak bakal dikejar deadline tugas lagi *dasar mahasiswa 😛 *

Inilah saat-saat yang sudah saya tunggu kedatangannya. MAGANG! Yapp.. sudah seminggu ini saya magang. Banyak sekali cerita tentang magang yang terjadi selama satu minggu ini. Oke baiklah, saya akan cerita pengalaman magang saya di JTV Surabaya. Magang kali ini rasanya sungguh AJAIB. Mulai dari saya yang sebelumnya di PHP JTV, bingung nyari tempat magang lain, Dapat Janji manis KPID, DITOLAK JTV, hingga akhirnya dipanggil lagi sama JTV. Pokoknya jalan panjang untuk bisa mendapatkan tempat magang. Gak keitung lagi deh berapa banyak keringat yang keluar, tenaga yang dihabiskan, dana yang dikeluarkan, hingga beberapa kali nangis 😛 *dasar cengeng*.

2014-07-14 10.24.44

Dari kejadian mencari tempat magang ini, saya bisa jadi belajar banyak hal. Kadang sesuatu yang amat kita inginkan justru akan semakin sulit untuk kita dapatkan. Impian untuk bisa menembus Jawa Pos Grup dan magang di gedung Graha pena sudah ada dibenak saya sejak dulu, sejak saya aktif di komunitas muda Radar Kediri. Dan akhirnya mimpi itu bisa menjadi nyata dan tentunya dengan usaha dan doa maksimal yang saya kerahkan. Sempat sakit hati sama JTV dan memilih di KPID saja, tapi dosen saya memberikan arahan kepada saya dan akhirnya saya menerima tawaran JTV :P. Saya ingat betul saat itu Pak Anang bilang “ Kenapa? Kamu gengsi udah ditolak JTV dan sekarang dipanggil JTV lagi? Sudahlah gak usah gengsi kamu bakal dapat pengalaman kalau di JTV”

Finalllyy… taraaaaa tanggal 10 Juli kemarin saya mulai masuk magang. Berangkat dari kos jam sepuluh kurang, karna janji ma Mbak Amel jam 10. Sampai di JTV saya disuruh nunggu di lobby lantai dua. Lima menit, sepuluh menit hingga dua puluh menit tidak ada seorangpun yang datang menemui saya. Hanya kru JTV yang lalu lalang didepan saya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan orang yang tidak asing dan saya pernah bertemu beliau. Tapi siapa ya, namanya siapa? Saya lupa. Hehehe. Sampai ada orang yang memanggil nama beliau “Pak Gigik”. Wawww.. iya ini orang namanya pak Gigik, orang yang pernah saya temui dilobby bawah pas saya ke JTV bareng temen-temen.

Entah jodoh atau takdir, saya akhirnya diajak beliau untuk gabung karena beliau kekurangan kru. Saya diajak liputan blusukan pecinan di hari pertama magang saya :D. Sebelum liputan saya diajak beliau untuk menemui mbak Amel HRD untuk minta izin, dan akhirnya mbak Amel mengizinkan saya ikut pak Gigik dan malah “menyerahkan” saya supaya dibimbing Pak Gigik. OHH MYYYY!!! Serius? Ini orang yang jadi “rasan-rasan” saya dengan teman-teman setelah ketemu beliau di Lobby JTV lalu dan sekarang jadi pembimbing saya :D.

2014-07-17 15.29.40

Pertama kali liputan masih kaku, dan nggak tau harus ngapain. You Know, saya satu-satunya mahasiswa UB yang magang di JTV saat ini. What a day! Saya sendirian dan mau nggak mau harus bisa bertahan disini selama dua bulan kedepan. Setelah seminggu magang, saya baru bisa bekerja “profesional” sesuai tugas yang diberikan dan rasanya mulai menikmati tugas saya sebagai asisten produser di blusukan pecinan. Meskipun produser saya sedikit “cerewet”  tapi beliau sangat memperhatikan saya dan temen-temen magang yang lain. Cerewetnya beliau supaya saya dan temen-temen benar-benar bisa dan gak sia-sia magangnya. Dari beliau juga saya banyak belajar. Terimakasih Pak :).

Sungguh Allah itu maha adil ya 🙂 . Dulu saya pengen kerja di TV dibagian produksi acar jalan-jalan, dan sekarang mimpi itu menjadi nyata. Sekarang saya menjadi bagian kru (sementara) blusukan pecinan.  Saya liputan keliling Surabaya, mulai liputan kuliner hingga investigasi dan ternyata dari liputan-liputan itu saya tau kalo Surabaya nggak mentok di A.Yani :P.  Dulu saya bermimpi untuk bisa menembus Jawapos Grup, dan sekarang saya magang di JTV Surabaya yang masih satu grup sama Jawa Pos. Dulu saya bermimpi untuk bisa kuliah di Surabaya, meskipun kenyataannya saya kuliah di UB, tapi dengan magang ini setidaknya saya bisa merasakan hidup di Surabaya. Subhanallah, maha suci Allah yang telah mejadikan nyata setiap impian saya :).

“Maka nikmat Tuhan-MU yang mana , yang kau dustakan?”