#Day2 : Satu Tahun Menjadi “Santri”.

photogrid_1462441839675
bersama ustadzah 🙂

Tidak terasa sudah tahun saya belajar di Ponpes Lirboyo. Hingga saat ini, rasanya masih belum percaya kalau saya bisa masuk lingkunga pondok pesantren. Satu tahun lalu, saya selalu dihantui oleh pertanyaan-pernyataan yang membuat saya takut setiap malam. Kalau ditanya Tuhan masa mudamu kamu gunakan untuk apa? Aku bisa jawab apa. Satu tahun lalu dengan bantuan seorang teman saya memperoleh info tentang ngaji dipesantren. Info yang cukup mengobati rasa “gak tenang” saya setiap malam.

Awal tahun 2015 yang lalu, karena kondisi “kejiwaan” saya yang goyah saya putuskan untuk lebih dekat dengan Tuhan. Karena itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan saya dari kegilaan haha. Saya mulai langkah saya dengan memfollow banyak akun dakwah di instragram, me-like fanpage islami (tapi sumpah ga follow jonru kok haha), ikut kajian-kajian yang akhirnya membuat saya menjadi ukhti-ukhti berjilbab lebar nan panjang. Tapi saya merasa tidak damai, justru muncul banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang malah membuat semakin bingung.

“ ngajine wes sampai mana, kitab e sudah sampai bab apa?”

Saya selalu ditanyai dengan pertanyaan yang sama ketika pulang kerumah mbah. Pertanyaan itu membuat saya semakin galau, karena selama mengikuti kajian-kajian itu ilmu yang saya dapatkan tidak utuh, dan bisa dikatakan saya nggak benar-benar ngaji (tulisan saya tentang itu bisa dilihat disini )  

Satu tahun lalu, dipagi hari itu saya beranikan diri saya untuk masuk pondok pesantren putri P3TQ Lirboyo seperti yang Anam sarankan. Baru sampai gerbang, langkah saya terhenti lalu saya putar balik motor saya. Tapi putar balik motor itu justru malah membuat saya masuk pondok :D. Ya iyalah, saya puternya dari gerbang selatan, sebelah selatannya masjid Al-Hasan lalu putar balik mau pulang di Wilis. Sampai didepan Indomaret bukannya belok kiri, masuk perumahan tapi malah belok kanan, gerbang depan Lirboyo :D. Yasudah, udah terlanjur masuk. Sampai dipondok, saya disambut oleh mbak-mbak santri (beliau adalah ustadzah Anis, yang sekarang sudah boyong L ). Dari hasil pertemuan itu , saya diijinkan untuk masuk kelas malam harinya. Semacam trial class gitulah.

2015-12-17 21.13.52
sumpah makan begini itu enak banget meskipun cuma pakai telor ceplok

Pertama ngaji, udah sok-sokan bawa Al-Quran. Giliran setoran ngaji, di tes sama ustadzah makrojnya hancur berantakan (terimakasih sekali pada ustadzah Nafisah yang begitu sabar ngajari manusia 24 tahun mengucapkan ش, ص, ض, ط, ظ  dan lainnya dengan baik dan benar). Ada banyak hal lucu yang terjadi pas awal-awal ngaji. Belajar makhroj itu ngga gampang ternyata, dan karena pengen banget bisa everything I do lah, bahkan sampai bawa kaca. What , kaca? Buat apa? jadi ya, saya bawa kaca kecil buat ngeliat mulut saya melafalkan huruf-huruf hijaiyah sesuai makhroj yang benar. Biar sesuai sama yang diajari ustadzahnya hahaha, tapi pas itu ketahuan sama Ustadzah Nafis dan beliau ketawa ngeliat tingkah polah saya hahhaaa.

photogrid_1462284205052
me with my gengsss haha

Satu tahun ngaji dipondok. Satu tahun menjadi santri, ya meskipun santrinya ga full. Genap satu tahun ini saya menyelesaikan ngaji tingkat jilid. Lama? Benar ini itungannya lama banget dari jilid satu-enam, karena kesalahan saya juga sih yang sering banget bolos sekolah. Sekolah sekaligus skripsi bukan hal mudah ternyata. Tapi tidak apa-apa setidaknya saya bisa melafalkan ش, ص, ض, ط, ظ  dengan benar hahaa.

Setelah skripsi selesai, semoga bisa rutin sekolahnya setidaknya untuk satu kedepan. Karena saya tidak tahu dimana takdir akan membawa saya setelah ini, tapi semoga masih dikasih kesempatan untuk belajar dipondok setidaknya satu tahun lagi :).

PS : Tulisan saya selengkapnya tentang pengalaman mondok saya di lirboyo bisa dilihat disini , disinidisinidisinidisini . Semoga bermanfaat yaa 🙂

Cerita dari Lirboyo #2

P60620-212507-001
setelah sowan ndalem , foto dulu dong sama ustadzah nya 😀

Tiga hari menjadi santri dadakan benar-benar saya nikmati. Saya banyak belajar tentang banyak hal. Biasanya setiap malam setelah taraweh, kami ngaji kitab Arbain annawiyah yang dibacakan oleh Pak Ustadz. Dan 16 ramadhan yang lalu, adalah hari terakhir kitab itu dibacakan dan dimaknai. Rasanya kurang dan pengen ngaji lebih banyak lagi. Tapi namanya juga pesantren kilat jadi terbatas waktu. Pondok masih saja ramai walaupun sudah menujukkan pukul 12 malam. Mbak-mbak pondok induk masih sibuk Ro’an setelah acara peringatan nuzunul Quran. Saya masih belum bisa percaya kalau malam itu saya berada ditengah-tengah mereka. Saya dan teman-teman bahkan nyaris tidak tidur karena malam itu mata kami masih bening-bening. Nggak ngantuk hehe.

Hari terakhir pesantren kilat ditutup dengan acara pentas seni yang dimainkan oleh adik-adik santri kecil. Saya baru tahu ternyata mbak-mbak santri yang 24 jam hidupnya hanya dipondok punya kreativitas yang tinggi. Saya? Kalah jauh lah. Mereka bisa mendesain baju layaknya desainer hanya dengan menggunakan bahan seadanya. Bahkan baju dari plastik pun jadi. Pesantren kilat yang dimulai dari tanggal 3 ramadhan berakhir sudah pada tanggal 17 ramadhan kemarin. Rasanya engga rela banget, dan masih pengen ngaji hehe. Pentas seni sekaligus acara penutupan berakhir sekitar jam setengah 12 malam. Bagi yang kecil-kecil langsung disuruh tidur (meskipun kenyataannya mereka juga nggak tidur dan malah rame), sedangkan yang mbak-mbak diajak sowan ke ndalem. Sowan ndalem lagi? Bahagianya aku.

P60622-222401
After show! Meskipun dipondok kreativitas nggak boleh mati dong ya 😀

Begitu keluar , saya kaget ternyata diluar sudah ada banyak mbak-mbak santri asli. Dan gerbang P3TQ yang biasanya tidak pernah terbuka lebar malam itu terbuka lebar. Ada apa ini? Bukankah keluar pondok itu nggak boleh, apalagi ini sudah malam?. Tapi ini mbak-mbaknya malah kayak nyantai gitu duduk didepan. Ini ada acara apa? Setelah saya tanyakan ke Ustadzah ternyata mbak-mbak santri ini juga mau sowan ndalem. Malam itu Bu Nyai mau tindak umroh. Jadi semua santri pengen hormat ke Bu Nyai. Semua santri keluar dari “sarangnya” malam itu. Saya yang Cuma santri kilat ini, sedikit canggung berada ditengah-tengah mbak-mbak santri asliiii ini hehe :D.

Kami berdiri berjejer didekat ndalem, menunggu Bu Nyai keluar. Diluar ndalem mobil yang akan mengantar Bu Nyai sudah siap dan tampak kesibukan didalam rumah. Terlihat ning Ima dan mbak-mbak santri ndalem yang turut sibuk riwa-riwi. Begitu Bu Nyai keluar kami dipersilahkan untuk maju dan duduk didekat Bu Nyai. Tentu saya sedikit rebutan, karena malam itu banyak santri yang juga ingin mendapatkan posisi duduk sedekat mungkin dengan Bu Nyai. Saya? Yang hanya santri kilatan ini, entah bagiamana cerita bisa mendapatkan tempat duduk yang dekat dengan Bu Nyai. Sepertinya saya punya ilmu slidat-slidut yang bisa menyelinap menembus kerumunan mbak-mbak santri. Atau mungkin ini adalah berkah manusia berbadan kecil jadi bisa mbrobos sana sini hehe :D.

Lagi-lagi ketika baru saja duduk badan saya gemetar. Kami semua duduk dengan tenang diteras ndalem. Tidak banyak suara dan kami hanya duduk menunduk mendengarkan Bu Nyai. Lagi-lagi mata saya basah dan dada saya sesak dengan rasa aneh yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

“Ya allah engkau lah yang menuntunku kesini. Sungguh ini luar biasa”.

Sepertinya malam itu tidak hanya saya yang menangis, karena saya lihat matanya mbak-mabak yang lain juga berlimang air mata yang coba mereka tahan. Karena sudah malam Bu Nyai menyuruh kami untuk kembali kepondok.

“Pun dalu. Mbak-mbak balik pondok mawon. Acara pondok kan katah, monggo balik pondok mawon. Tadarus nopo ngaji liyane. Sholat malam e pun lali”.

Rasanya saya nggak rela beranjak dari tempat duduk saya sebelum Bu Nyai masuk mobil dan berangkat ke Surabaya. Tapi bagaimana lagi, sudah dawuh e Bu Nyai ngoten. Jadi kami pelan-pelan mundur dan mau balik pondok. Tapi baru saja mau mundur, tiba-tiba ada mobil hitam datang dan disusul suara dari gus “Oh, lha niki sampun dugi”. Ternyata itu adalah orang yang sedari dulu ditunggu oleh rombongan Bu Nyai. Kami tidak jadi balik pondok dan Bu Nyai pun tersenyum. Bu Nyai lalu masuk mobil, dan semua santri kompak balik badan menghormati melihat ke arah mobil Bu Nyai.

Ketika kang santri mengumandangkan adzan, saya tidak mampu membendung air mata begitu juga mbak-mbak santri yang lain. Acara malam itu begitu khidmat dan ditutup oleh doa. Perlahan mobil Bu Nyai bergerak meninggalkan pondok, sedangkan kami masih tetap berdiri terpaku melihatnya. Masyaallah. Kami lalu kembali kepondok dengan sisa-sisa air mata yang ada dimata kami.

“ nyapo nangis?” tanya ustadzah.

“engga tau ust. Tiba-tiba nangis aja”

Ustadzah hanya tertawa melihat kami yang santri dadakan ini menangis.

“ baguslah. Kalian menangis tandanya kalian masih punya hati. Hati kalian masih hidup”.

Ah..tiga hari tidur dipondok ini benar-benar membuka mata dan hati saya. Ini sekaligus menjawab pertanyaan saya kenapa santri kalau bertemu Kyai nya selalu menunduk. Ini adalah bentuk takdzim nya satri pada Kyai nya. Atau mungkin mereka tidak sanggup menahan air mata ketika menatap wajah teduh Kyai. Ketika lewat depan pondok induk , saya sering tiba-tiba kaget karena dipinggir jalan banyak santri yang berdiri sambil menunduk. Ditangan mereka ada sajadah dan kitab. Ini santri pada ngapain sih?

Lirboyo POJOK
Jalan ini yang setiap hari saya lewati. Dijalan ini pula saya sering bertemu dengan Mbah Yai ataupun Gus dan Ning 🙂 

Ternyata tidak lama setelah itu ada seseorang yang lewat dengan dibonceng motor oleh kang santri. Orang itu tidak lain adalah Mbah Yai. Entah baru akan berangkat ngajar ngaji atau sepulang dari ngaji. Oh, jadi ini alasannya kenapa daritadi santri berdiri menunduk dan membuat saya yang lewat merasa awkward banget. Mau bagaimana lagi? Itu jalan umum. Anggap saja itu berkah bisa sering bertemu Mbah Kyai dijalan hehe. Berkah juga karena bisa sering bertemu ning dan gus dijalan. Lha mau gimana lagi rumahnya mepet pondok hehe.

Tapi agak miris juga sih, rumahnya deket sama pondok pesantren yang punya santri puluhan ribu tapi nggak pernah merasakan mondok. Semoga saja, suatu saat ada kesempatan untuk menjadi santri. Santri asli bukan santri dadakan atau santri kilatan hehe :D.

Ramadhan Kareem. Sampai jumpa di pesantren kilat tahun depan. Insyallah 🙂

Cerita dari Lirboyo #1

“Aku hanya bisa duduk tertunduk dilantai, seluruh badanku gemetar. Dan mataku basah oleh air mata. Aku bahkan tidak mampu berkata sepatah katapun, hanya lantunan sholawat dalam hati”

Rangkaian pesantren kilat yang diadakan oleh Pondok Pesantren Tahfidzil Quran Lirboyo, ditutup dengan acara “Mondok singkat” yaitu para peserta pesantren kilat diberi kesempatan untuk merasakan tidur dipondok. Tiga hari tidur dipondok? Tentu kesempatan ini tidak saya lewatkan begitu saja. Hari senin yang lalu, setelah shalat isya saya berangkat ke pondok seperti biasa. Meskipun sebenarnya pada hari itu saya capek luar biasa, karena saya baru pulang dari Malang. Perjalanan pulang pergi Kediri-Malang dalam sehari lumayan menguras tenaga apalagi sebelumnya saya memang sedang kurang istirahat. Begitu sampai pondok saya “disambut” oleh Ustadzah Deva, yang kebetulan sedang udzur dan tidak sholat.

“Udzur nopo suci?” tanya Ustadzah Deva.

“Suci Ust. Tapi niki nembe mantuk dadose mboten tumut taraweh”

“ Nggeh pun. Niki mangke bade ziarah ten makam sekalian sowan ndalem Bu Nyai” .

Ziarah? Sowan Ndalem? Mendadak capek saya hilang. Mendadak ngantuknya juga hilang. I’m really excited. Sumpah. Tiba-tiba aja ada rasa bahagia yang luar biasa. Setelah taraweh selesai , saya dan para “santri dadakan” berjalan menuju makam pendiri Lirboyo. Dari pondok P3TQ barat kami jalan menuju pondok induk. Meskipun jalan yang dilewati adalah jalan yang setiap hari saya lewati, tapi perjalanan malam itu benar-benar membuat jantung saya berdetak lebih kencang dari biasanya.

pesantrenstory-20160624-0001
Makam para Kyai Lirboyo. Gambar saking IG ning @shofiakafa yang direpost oleh @pesantrenku .

 

Dimana letak makamnya? Ini kan jalan menuju pondok induk, kalau jalan agak ke timur sedikit sudah sampai ditoko Mama. Lah dimana sih makamnya?. Ternyata oh ternyata makamnya berada didalam pondok induk. Masuk area pondok induk banyak kang-kang santri haha . Ya iyalah itu kan memang pondoknya kang-kang santri -__- . Begitu masuk hawa dingin langsung terasa, eh bukan dingin deng tapi lebih ke hawa sejuk. Kami lalu duduk sekitar 5-7 meter dari makam. Didalam makam saya lihat banyak kang-kang santri yang membaca Al-Quran, membaca kitab atau hanya yasin dan tahlil. Sama sekali jauh kata menakutkan. Maklum ya saya ini penakut jadi kalau dengar kata makam bawaannya udah takut aja. Takut ada setan takut ada apalah.

lir1
Masjid Lawang Songo ( pict dari detik.com )

Malam itu tidak banyak aktivitas, hanya ada beberapa santri dan rombongan kami saja. Tapi anehnya, begitu masuk dan melintasi masjid lawang songo rasanya kayak ramai. Seperti sedang ada banyak aktivitas mengaji disitu. Setelah rombongan kami dipastikan tenang dan semua kebagian duduk, Pak Ustadz mulai memimpin doa yasin dan tahlil. Beruntung saat itu saya mendapatkan tempat duduk didepan , didekat tirai. Jadi bisa melihat makam para mbah kyai lirboyo. Ketika bacaan al-fatihah dimulai, tiba-tiba dada ini terasa sesak.

Ya Allah. Saya hidup dikediri, dilirboyo ini sudah bertahun-tahun. Tapi tidak pernah ziarah makam ke Kyai Lirboyo, jangankan ziarah. Saya saja baru tahu kalau ternyata makamnya para kyai lirboyo ada didalam pondok induk yang setiap hari saya lewat didepannya. Rasanya malu sekali pada Mbah Kyai. Pak ustadz terus melantukan tahlil diiringi para “santri dadakan” , tapi saya hanya bisa tertunduk. Dimataku sudah menggenang air mata yang terus saya tahan agar tidak sampai keluar. Dadaku terasa sesak dengan rasa haru.

“Ya Allah. Malam ini engkau lah yang memperjalankan hamba-Mu ini kesini. Ridho’i lah dan tuntunlah hamba. Allahumma sholi ‘ala muhammad”.

Saya seperti mimpi, duduk didepan makam Mbah Kyai. Lagi-lagi saya hanya mampu tertunduk dilantai. Tidak terasa bacaan tahlil telah usai, dan kami harus segera kembali kepondok. Niat awalnya mau sekalian sowan ndalem yang ada dibarat yang letaknya disebelah pondok induk. Tapi malam itu ternyata Bu Nyai ada di ndalem barat, jadilah kami segera kembali ke pondok barat untuk sowan ke ndalem. Untuk pertama kalinya (pokoknya semua serba pertama kali hehe), saya bisa melihat wajah Bu Nyai secara dekat. Masyallah wajahnya begitu teduh.

Kami duduk dilantai menunggu giliran untuk sungkem dengan Bu Nyai. Baru saja duduk dan mendengar suara Bu Nyai lagi-lagi badan saya gemetar. Saya tanya pada diri saya sendiri, emang tadi belum makan ya?. Tapi seingat saya, buka puasa tadi saya makan sepiring nasi lauknya capjay dan sepotong ayam kecap. Masak baru sejam sudah lapar lagi? Ah tidak, saya yakin betul, kalau saya gemetar saya bukan gemetar karena lapar seperti biasanya. Tapi kenapa badan saya begitu gemetar, dan dada rasanya juga sesak?.

“Kabeh iki tak aku santriku. Mugi-mugi ……”

Begitu Bu Nyai matur begitu, pecah sudah air mata yang sejak dari makam tadi dibendung biar nggak keluar. Saya bahkan tak sanggup mendengar kata-kata Bu Nyai lagi, hanya suara “AAMIIN” dari teman-teman santri dadakan itu. Saya sibuk dengan diri saya sendiri, sibuk menenangkan diri sendiri. Lagi-lagi saya hanya bisa tertunduk dalam. Lalu tibalah saat sungkeman itu. Saya kembali gemetar, tapi kali ini saya tahu penyebabnya :D. Saya gemetar karena akan sungkem dengan Bu Nyai. Saya takut kalau nanti sungkemnya salah gimana. Kan malu hehe. Saya ingat waktu pertama kali datang ke pondok ini, pertama kali ngaji. Sama ustadzah Nafis ditegur karena salim aja nggak bisa :D. Salim itu mencium tangannya Ustadzah/ Guru , bukan menempelkan tangan ustdzah dikening atau dipipi kita haha. Kalau ingat itu rasanya pengen ketawa.

Tibalah giliran saya maju untuk sungkem. Dengan menundukkan kepala, nggak berani melihat wajah Bu Nyai. Lagian nggak sopan juga kan , kalau meloloti Bu Nyai meskipun wajahnya begitu teduh. Dilihat dari jauh saja sudah terasa ayem dihati. Saya cium tangan Bu Nyai dan berharap berkah darinya. Sungguh rasanya begitu sejuk, begitu adem berada dekat beliau. Semoga Bu Nyai tansah pinaringan sehat wal’afiyat. Aamiin.

Malam itu, adalah malam pertamaku tidur dipondok. Pondok pesantren yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah. Pondok pesantren yang setiap hari saya lewati, pondok pesantren yang memiliki puluhan ribu santri dari berbagai macam daerah. Sedangkan saya? Saya yang sudah hidup bertahun-tahun didekatnya, ternyata butuh waktu 24 tahun untuk bisa mengetuk pintunya.

Ramadhan kareem ..

Berkah ramadhan. Semoga Allah Ridho.

 

Ditulis sambil jagain toko yang letaknya hanya beberapa meter dari pondok induk, dan didepan ndalem ning Ida (Putri Mbah Kyai Anwar) :D.

#DecemberRandom (2) : Menjadi Santri.

 

 

2015-09-16 19.47.00
Hayo ini pelajaran apa? hehe 😀

Yapp, ini adalah tulisan kedua meramaikan #DecemberRandom, kali ini saya akan menulis tentang pengalaman saya selama menjadi santri dalam 3 bulanan ini. Menjadi santri? Yakin? Desi jadi santri?. Iya. Mata kalian tidak sedang sakit dan kalian juga tidak salah baca. Menjadi santri? Saya sendiri juga tidak kuasa untuk menyebut diri saya sendiri SANTRI. Rasanya kok gimana gitu ya, ya tapi itulah kenyataannya. Selama hampir 3 bulan ini status saya tidak hanya mahasiswa yang galau skripsi tapi juga sebagai santri :D.

“Hidup adalah pilihan, dan saya tidak pernah memilih untuk menjadi santri. Tapi hidup yang memilih saya untuk menjadi santri”.

Gimana rasanya selama jadi santri? EMEJING! Saya harus beradaptasi yang super duper dengan lingkungan pondok. Dan selama proses adaptasi ini banyak terjadi hal-hal lucu :D. Maklum lah ya sebelumnya saya ini adalah anak gaawwwwlll (ditulis gini biar makin meyakinkan hehe) yang hobilnya ngemall dan nongkrong dimana-mana yang penting haha-hihi bareng teman. Dipondok bahasa sehari-hari yang dipakai adalah bahasa jawa krama inggil. Dan sudah bisa ditebak. Saya enggak bisa berbicara jawa krama inggil. Meskipun saya lahir di Jawa, besar dan tumbuh di Jawa tapi saya enggak bisa berbicara bahasa jawa krama inggil. Terdengar aneh sekali ketika saya diajak berbicara dengan anak kecil atau teman sebaya dengan bahasa jawa krama inggil. Saya paham apa yang dikatakan, tapi untuk menjawab dengan bahasa krama inggil rasanya lidah ini gak bisa digerakin. Dan rasanya aneh ketika ditanya pakai bahasa jawa krama inggil tapi dijawabnya pakai bahasa indonesia (yasudah itu bisa dipelajari dan sekarang sudah mulai bisa dan gak canggung lagi :D).

“Sejak kecil Ibu membiasakan saya untuk lebih sering berbicara bahasa Indonesia. Katanya biar enggak kalah sama anak kota dan bisa bersaing dengan anak kota. Entahlah, Ibu saya memang unik. Udah gitu aja”   .

Sebagai perempuan yang hidup dijaman haha-hihi ini saya tidak pernah bisa lepas dari yang namanya bedak sama lipstick. Meskipun pada kenyataannya saya ini enggak suka dandan yang macem-macem dan alis saya juga enggak cetar badai membahana tapi sepertinya ketika dipondok saya kelewatan dandanannya. Suatu hari ketika mau berangkat ngaji saya dandan seperti biasanya pakai bedak dan lipgloss warna merah. Nggak pakai eyeliner sama pensil alis, dan lipstiknya juga ga gonjreng dan ini adalah dandanan sehari-hari pas jaga toko. Tapi ketika dipondok? Mmmmmm…..

            “ Kamu darimana? Abis kondangan opo abis dolan?. Kok cantik banget ” tanya Ustadzah Nafisah

            “Hmmm.. * saya bingung mau jawab apa*

            “ Ahh, mari dolan yo? Iki kan malam minggu. Emang nek dolan kudu macak? Kudu macak ayu?” ( abis pergi ya? Ini kan malam minggu. Emang kalau pergi harus dandan? Harus cantik ?).

            Astaghfirullah. *saya mah cuma bisa diem*

Semenjak malam itu saya tiap pergi ngaji saya dandan senatural mungkin (tetep ya :D). Masih tetap pakai bedak dan lipstick :D. Tapi bedaknya diganti bedak tabur, dan lipstick nya tetap masih sama cuma setelah dioles dibibir dihapus jadi cuma ninggalin lembab aja hahaha. Masalah bajupun juga begitu. Saya tidak punya banyak baju panjang nan longgar. Kalaupun punya gamis itu adalah gamis-gamis masa kini dengan berbagai macam warna yang dipadu cardigan. Pernah suatu hari, saya pakai longdress trus disaya dobeli cardigan (udah yang penting baju panjang dan longgar) dan ketauanlah sama Bilqis dkk kalau baju yang saya pakai lengan pendek dan cuma saya dobeli cardigan. Langsunglah dilaporin Ustadzah sama Bilqiss. Dan semenjak saat itu enggak pernah pakai baju lengan pendek lagi meskipun sudah didobeli cardigan panjang – ___- .

2015-11-15 19.56.20
ya beginilah suasana kelas  *potonya candid nyuri2 biar ga ketauan *

Disekolah Madin ini saya benar-benar belajar lagi mulai dari NOL. Belajar baca tulis arab dan pegon. Meskipun dulu sewaktu kecil pernah ngaji di madrasah juga tapi semua itu hilang karena sudah lama sekali tidak ngaji. Baru ngaji lagi sebelum masuk kuliah dan itupun cuma ngaji tadarus Al-Quran karena sama Mama dipanggilin Ustadazh kerumah. Setiap minggu malam adalah waktunya Tamrin (ulangan tiap minggu). Dan lagi-lagi bisa ditebak. Saya enggak bisa menjawab pertanyaan, jangankan menjawab bisa baca soalnya aja syukur alhamdulillah. Waku itu saya lagi nulis soal, dan disebelah saya ada Bilqiss (Bilqiss usianya baru 7 tahun, tapi dia sudah mondok di P3TQ untuk menghafal Al-Quran. Masyallah), dia tertawa melihat tulisan saya.

“Wahh, mbak tulisannya bagus sekali. Hihihi. Vallen, lihat tulisan mbak Desi. Tulisannya bagus ya. Buaaaaagussss banget seduniaaaaaa hihihi” – Bilqiss –

Fix. Saya ditertawakan oleh anak usia 7 tahun. Bilqiss lalu memberikan contoh nulis arab sambung yang benar. Berkali-kali dia membenarkan tulisan saya dan memberikan contoh. Dan ajaibnya setelah soal selesai saya tulis dia juga yang membantu saya menjawab pertanyaan. Oke, harus saya akui dia senior saya dikelas walaupun usianya dia masih lebih muda dibanding ponakan saya. Disaat saya baru setoran bacaan abata dia sudah setoran hafalan juz ‘amma. Gak papa sekarang masih kalah sama Bilqiss, nanti semoga anakku yang ngikutin jejaknya Bilqiss. Allahumma’aamiin.

Namanya juga sekolah ya, walaupun sekolahnya malam. Tapi sekolah ya tetap sekolah, ada aturan yang harus ditaati, ada kurikulum dan sesuai kurikulum bulan Desember ini waktunya ujian semester ganjil. Dan untuk bisa mengikuti ujian semester harus mendapatkan stempel koreksian kitab. Koreksian kitab? Serius. Saya enggak mudeng sama sekali. Dan ternyata koreksian kitab itu adalah koreksian tulisan selama satu semester. What? Baru juga tiga bulan ngaji sudah ada beginian. Ustadzah nya nggak mau tau, saya ini santri lama atau baru yang penting kalau mau ikut ujian harus lolos koreksian kitab. Oke, baiklah saya akhirnya nambal kekurangan catatan saya, baik selama saya belum masuk sampai pas saya bolos-bolos ngaji karena harus kemalang.

IMG_20151031_195755.jpg
waktu bebas pelajaran jadi boleh bawa hape dan poto-poto 😀

Ujian semester akhirnya tiba juga. Hari pertama adalah ujian lisan dengan materi baca Al-Quran yang tajwid beserta makhroj nya harus benar dan doa-doa. Ada kejadian lucu pas ujian lisan ini. Jadi saya disuruh baca doa-doa semacam doa keluar kamar mandi, doa masuk kamar mandi dan semacamnya lah (ini karena saya ada dikelas yang masih tingkatan awal). Nah pas itu sama Ustadzah Alfina saya disuruh baca doa keluar kamar mandi. Serius saya benar-benar lupa doa keluar kamar mandi ditambah saya grogi. Akhirnya sama Ustadzah nya ga jadi disuruh baca keluar kamar mandi dan diganti doa masuk kamar mandi. Ah, kecil ini mah. Tapi, dasar saya grogi dan dredeg banget saya ngeblank. Dan tau enggak doa apa yang saya baca?

“Bismikaallahumma ahya……

“Kamu mau tidur dikamar mandi? Tanya Ustdazah sambil tertawa kecil.

“Oh, iya maaf Ust. Allahumma..ba..

“Kamu mau makan dikamar mandi?” . Dan kali ini bukan hanya Ustadzah yang tertawa tapi saya juga ikutan tertawa.

 

Ya itulah sedikit cerita saya selama menjadi santri. Saya yakin kedepannya bakal ada banyak pengalaman lain yang enggak kalah menyenangkannya. Memang diusia saya yang sekarang ini rasanya sudah terlambat banget apalagi baru mulai belajar dari NOL lagi. Tapi tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Harus belajar bareng anak-anak kecil, harus rela jadi juniornya Bilqiss itu bukan masalah. Seperti suara-suara yang kerap mengganggu saya dimalam hari sebelum tidur . Dan entahlah apa namanya itu yang pasti ada kekuatan besar yang tidak saya ketahui yang mendorong saya untuk kembali belajar ngaji. Entahlah apa itu. Atau mungkin inikah yang dinamakan HIDAYAH? Wallahu’alam.

“ Kalau nanti mati trus ditanyain Malaikat. Masa muda kamu pakai untuk apa? Mau jawab apa? Masak mau jawab saya gunakan untuk thawaf dimall pak malaikat?”

Ditulis setelah pulang sekolah Madin : )

Kediri, December, 19, 2015

 

 

 

Dari Mall Menuju Pondok Pesantren #2

PP-Putri-Tahfizhil-Qur’an

“Kita tidak akan pernah tahu kapan hidayah Allah itu datang”

            Saya bersyukur pernah mengalami hal sulit dalam hidup karena darinya saya banyak belajar tentang kehidupan. Tahun 2010, menjadi awal perjalanan hijrah saya untuk mendekat kepada Tuhan. Awal 2011, saya kembali ke Kediri dengan membawa “oleh-oleh” jilbab. Iya, semenjak itu saya mulai tertarik belajar agama, dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Meskipun jilbab yang saya pakai masih buka tutup kayak portal perumahan, tapi karena jilbab inilah saya jadi termotivasi untuk tidak meninggalkan sholat. Dan memang benar, kadang manusia itu tidak tahu diri. Hanya ingat Tuhan kalau sedang susah, kalau dikasih kenikmatan sering lupa bersyukur begitu juga dengan saya.

Tahun 2013 saya kehilangan orang yang saya cintai, Kakak saya dipanggil kembali olehNya. Sejak sakit dirumah hingga koma di ICU saya berada didekatnya, bahkan detik-detik dia tidak ada saya berada disampingnya. Saya terus berada didekatnya, membisikkan Yasin dan Sholawat sewaktu dia koma. Waktu itu pas sore hari dia koma lagi, sekeluarga sudah panik apalagi Mama yang sudah tidak sadarkan diri waktu ada panggilan dari ICU bahwa Mas kritis. Saya beranikan diri masuk ruang ICU, sambil menangis saya bisikkan sholawat dan saya pegang tangannya. Tangannya bisa gerak-gerak dan dia meneteskan air mata meskipun dia tidak sadar. Malam harinya dia koma lagi, hingga sekitar jam 3 pagi tubuhnya sudah tidak bisa apa-apa lagi. Tangan dan kakinya sudah dingin. Pagi harinya dokter menyatakan dia telah tiada.

Dua minggu saya bersama Mas, merawat dia sejak masih sakit dirumah, dia mulai kehilangan keseimbangan dan kesadaran, koma di ICU hingga dia meninggal memberikan banyak sekali pelajaran bagi saya. Ternyata jarak hidup dan mati itu sungguh dekat.  Saya hanya meninggalkan dia sebentar karena ketiduran, tapi dia telah malah lebih dulu ninggalin saya.

Yang paling dekat adalah kematian. Yang paling jauh adalah masa lalu. Yang paling besar adalah hawa nafsu. Yang paling berat adalah memegang amanah. Yang paling ringan adalah meninggalkan sholat. Dan yang paling tajam adalah lisan manusia. -Imam Al Ghazali-”

Beberapa bulan setelah kepergian Mas, saya melakukan perjalanan solo ke Singapura-Malaysia. Diperjalanan pulang dari Kuala Lumpur ke Surabaya, saya nyaris menyusul Mas. Waktu itu cuaca sedang buruk, pesawat delay sedang saya seorang diri dinegeri orang. Belum lagi pas dipesawat cuaca buruk yang menyebabkan pesawat sedikit tergoncang. Kebetulan waktu itu saya duduknya didekat jendela, jadi bisa lihat keluar. Subhanallah, pas saya lihat keluar sedang hujan deras disertai petir. Duh kilatan petir itu begitu dekat, jarak saya dan langit terasa begitu dekat. Saya sempat berpikir kalau malam itu saya akan berjumpa dengan malaikat Izrail.

Kedua kejadian itu dan ditambah lagi saya harus kehilangan satu orang lagi yang saya cintai di tahun 2014 membawa saya untuk lebih serius belajar agama. Saya belajar untuk tidak buka tutup jilbab, dan belajar memakainya kemanapun saya pergi. Setelah proses yang lumayan panjang, awal 2015 saya memutuskan untuk benar-benar berhijrah. Untuk lebih serius belajar agama. Dimulai dari ikut komunitas ngaji, hingga Allah memberikan saya kesempatan untuk belajar di pesantren. Saya tidak tahu harus mulai berhijrah darimana. Bahkan dalam proses berhijrah saya sempat bimbang. . Belum lagi banyak sekali pertanyaan “Ngaji nya sudah sampai mana?” yang selalu membuat saya bingung menjawabnya.

Tiba-tiba muncul keinginan untuk belajar agama lebih dalam lagi. Kali ini tidak hanya wacana, tapi saya benar-benar ingin belajar agama terutama tentang Fiqih. Saya ingin belajar agama dipondok!. Keinginan belajar dipondok begitu kuat, sampai mengganggu tidur saya. Sempat galau karena saya masih harus menyelesaikan skripsi tapi juga pengen banget belajar agama. Setelah tanya sana-sini akhirnya saya beranikan diri untuk datang kepondok pesantren Lirboyo. Pondok yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah saya. Berdasarkan info yang saya dapatkan dari seorang teman saya akhirnya datang kepondok yang bisa “nduduk” ga harus nginep disana. Disana saya diterima oleh Ustadzah Anis dan Ustadzah Alfina. Sore harinya saya lansung masuk dan test kemampuan ngaji. Test ini gunanya untuk menempatkan saya dikelas yang sesuai dengan kemampuan saya.

“Orang berubah karena dua hal. Pertama karena mereka tersakiti dan yang kedua karena mereka banyak belajar dari pengalaman”.

Iya, perubahan dalam hidup yang saya alami disebabkan oleh “pelajaran” yang saya dapatkan begitu banyak. Hingga membawa saya pada satu titik yang mengharuskan saya untuk kembali pada Tuhan saya. Lalu, bagaimana kehidupan dipondok ? Tunggu cerita saya sebagai santriwati baru ya 😀

Dari Mall menuju Pondok Pesantren #1

Untuk sampai dipondok pesantren yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah membutuhkan waktu yang lama. Setidaknya perlu 5 tahun untuk bisa sampai ke pondok pesantren yang jaraknya kurang dari 500m dari rumah”

Hallo, selamat malam. Eh, iya ini malam minggu lho. Apa kabar para jomblo-jomblo didunia, masih sehat dan kuat kan? Hehe. Wah, judul tulisannya agak gimana gitu ya dari mall menuju pondok pesantren , maksudnya apa coba?. Baiklah, saya akan bercerita bagaimana perjuangan saya bisa sampai pondok pesantren yang letaknya tidak lebih 500m dari rumah saya :D. Sejak lulus SMP tepatnya tahun 2007 yang lalu, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah saya di Kediri. Selama di Kediri saya tinggal bersama Budhe Pakdhe yang biasa saya panggil Mama Papa. Ya, sejak tahun 2007 itu saya resmi menjadi “Cah Kediri”. Seneng banget dong ya, yang biasanya tinggal di pelosok desa sekarang jadi anak kota.

Ketika SMA saya bertemu dengan banyak teman baru, bisa menekuni hobi menulis saya dengan bergabung di Komunitas Muda Radar Kediri, pokoknya jadi anak hitsss dimasanya. Kalau ditanya hobinya apa saat itu? Maka saya jawab –NGEMALL- . Iya dong, ngemall biar hitsss, apalagi didukung dengan fasilitas yang memadai. Kemana-mana ga perlu repot karena ada motor yang bisa dipakai, kalau terpaksa gak ada motor ya masih ada temen-temen yang mau antar jemput. Oiya dulu saya punya temen yang walaupun masih SMA udah bawa mobil, jadilah makin seneng kalau diajakin jalan-jalan. Hampir setiap hari kerjaannya thawaf di mall. Jangan dipikir banyak duit, karena masih ABG labil yang penting bisa aktualisasi diri udah lebih cukup biarpun cuma beli teh poci asal belinya dimall. Ngapain aja dimall? Jalan-jalan , lihat-lihat, nongkrong, gosip , dan tidak lupa foto-foto. FIX ALAY sekali!. Lanjutkan membaca “Dari Mall menuju Pondok Pesantren #1”