Menikah : Terbebas dari Masalah?

Keisengan saya post buku yang saya baca, jadi rame hihii
Keisengan saya post buku yang saya baca, jadi rame hihii

Karena ini barusan hujan, dan sepertinya enak nih buat nulis tentang cinta-cintaan dan jodoh haha 😀 Jangan ada yang baper ya!. Jadi sudah ada berapa yang galau karena ingin segera menikah? Apalagi kalau nerima undangan pernikahan dari teman-temannya? Belum lagi kalau lihat postingan-postingan teman-teman bersama kekasih mereka? Kalau kalian mendadak ada yang terasa sesak didada, berarti kalian baper :D. Dan ini entah tulisan saya yang keberapa yang membahas tentang pernikahan.

Saya adalah perempuan 23 tahun yang sebentar lagi akan 24 tahun. Belum bekerja dan masih terjebak sama skripsi. Usia 23-24 adalah usia dimana masa galau itu mulai menghantui setiap malam. Bagi perempuan usia 23-24 dan belum menikah pasti galau akan jodohnya, apalagi saya yang belum juga lulus meski sudah hampir 24 tahun. BOHONG, kalau dalam hati tidak iri melihat undangan-undangan pernikahan yang mulai disebar oleh teman-teman seangkatan. Tidak hanya undangan pernikahan, tapi juga undangan aqiqah anaknya. Buset dah.

Keinginan untuk segera menikah pernah memenuhi hati dan pikiran saya. Sampai-sampai melakukan hal-hal menggelikan demi mendekatkan saya dengan jodoh. Keinginan segera menikah memuncak setelah ikut kajian-kajian dan mendengarkan ceramah motivator-motivator nikah muda itu. Saya begitu polos dan berpikiran bahwa kalau saya menikah maka semua masalah akan teratasi. Saking pengennya buat nikah cepet, saya sampai sudah memikirkan konsep pernikahan dan mahar apa yang akan saya minta dari calon suami saya nanti. Menikah.. menikah dan menikah itu saja yang dibicarakan dan itu membuat teman-teman saya bosan mendengarkan cerita “pernikahan” saya.

Saya kehilangan rasionalitas saya, dan yang ada dalam pikiran saya menikah itu dipenuhi hal-hal yang indah-indah saja, yang romantis-romantis saja. Tidak hanya kehilangan rasionalitas tapi sepertinya saya juga mulai kehilangan diri saya sendri. Seiring bertambahnya waktu, bertambahnya pengetahuan, bertambahnya mimpi-mimpi , saya berpikir ulang tentang sebuah pernikahan. Sebagai perempuan dengan cita-cita dan mimpi yang besar , ditambah lagi sifat keras kepala yang saya miliki rasanya tidak mudah untuk menemukan pasangan yang klop dan sejalan dengan visi-misi saya dengan waktu yang singkat. Jangankan untuk memilih suami, memilih pacarpun dulu saya menetapkan standar tersendiri :D. Standar itulah yang akhirnya menjebak saya sendiri, terjebak dalam kejombloan yang lama haha.

Sebagai perempuan normal dan apalagi hidup didunia yang ber-haha-hihi ini saya pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Laki-laki yang memenuhi standar saya tentunya. Kok sombong banget saya saya, menye-menye banget. Cantik juga enggak, pinter juga cuma setengah-setengah, kaya apalagi, pokoknya gadis biassaaa tapi gayanya luar biasa belagu – __- . Bersamanya saya begitu yakin, karena hampir 85% standar yang saya tetapkan ada padanya. Bagi saya laki-laki yang pintar dan cerdas mampu selalu menarik dan terlihat ganteng :P. Saya terjebak dengan standar-standar yang saya buat sendiri, hingga saya abaikan jeritan yang ada dihati. Asal apa yang diotak ini terpenuhi , I’ll be OK. Saat perpisahan itu tak bisa lagi dihindari, dan saya sudah berusaha mati-matian untuk mempertahankannya , saya menjadi orang yang paling terlukai.

PhotoGrid_1433843839181

Perpisahan itu membuat saya hilang kendali atas diri saya sendiri. Perlahan saya mulai bangkit dan melepaskan semuanya. Perpisahan yang mengubah hidup saya, dan kini saya sangat bersyukur dengan perpisahan itu. Saya tidak pernah menyesal mengenalnya, dan pernah menempatkan dia dihati saya yang dalam. Saya hanya menyesal karena pernah memutar life mapping yang saya buat sendiri, membongkarnya menjadi lebih sederhana, sengaja mengubur mimpi besar dan tenggelam bersama rasa ingin terus bersamanya. Dan yang lebih parahnya lagi, saya tidak segera memperbaiki kesalahan itu tapi justru berpikiran untuk segera menikah.

“Kalau saya menikah maka saya akan terbebas dari semua rasa ini. I’ll be free!”

I knew it, very stupid right?. Diotak saya isinya cuma segera menikah, menikah dan menikah. Ya, percayalah rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau. Begitu juga dengan saya yang melihat teman-teman jauh lebih bahagia dibanding saya karena mereka telah memiliki suami atau minimal telah memiliki pacar. Tapi disatu sisi saya bersyukur dengan kesendirian saya ini, karena saya bisa lebih mengenali diri saya sendiri lebih dalam. Saya menjadi tahu kalau ternyata saya ini keras kepala, kalau sudah punya kemauan engga bisa dihalang-halangi bahkan oleh diri saya sendiri. Saya sendiri juga heran.

“Kamu tuh keras banget orangnya. Bahkan orang yang sayangi dan cintaipun engga bisa menghentikan kamu kalau kamu udah punya kemauan” – Teman saya bilang gitu –

Kemarin saking pengen banget nyelesain skripsi saya forsir badan dan otak saya, bahkan hari ini pun saya tidak pulang demi nylesain BAB IV skripsi saya. Disela-sela ngerjain itu , saya menjadi sadar “Oh, ternyata aku tuh kayak gini ya. Pantes banyak yang bilang aku ini keras kepala” . Dan kata-kata itu spontan gitu terucap dalam. Semenjak itu, tepatnya kemarin siang jadi jadi ingin lebih mengenal diri saya sendiri. Mengenal lebih dalam lagi siapa saya sebenarnya sebelum lebih jauh mengenali orang lain. Saya kembali semangat untuk menata ulang life mapping saya yang sempat dengan sengaja saya putar balik dan  saya kembali bermimpi besar. Saya tidak akan lagi “memaksa” untuk segera menikah cepat, tidak juga berusaha untuk memperbaiki keadaan yang sudah terjadi, saya hanya ingin memperbaiki diri saya. Fokus pada perbaikan diri , dan saya yakin jodoh tidak akan pernah tertukar, tidak akan pernah datang terlambat atau terlalu cepat. Biarlah jodoh itu tetap menjadi rahasia Allah, tugas kita hanya perlu memperbaiki diri : ).

“ Banyak perempuan yang mendadak menjadi tolol hanya karena terlalu cinta pada pasangannya. Rasanya tidak ada perempuan yang pintar ketika mereka dihadapkan pada CINTA. Jadilah perempuan-perempuan cerdas agar mampu mencetak anak-anak yang jenius kelak ketika telah menjadi Ibu. Nikmati dulu masa mudamu sekarang, jangan terjebak pada pemikiran bahwa MENIKAH menyelesaikan masalah : ) ” – Desiani Yudha-

Selamat bermalam minggu para jomblo-jomblo tangguh. Percayalah dunia akan tetap berputar meskipun kamu tidak memiliki pasangan saat ini 🙂  — tapi kasiyan banget ya – 😛

Jangan Tanya Kapan Lulus!

PhotoGrid_1445508513687

            Kapan! Adalah  sebuah  pertanyaan  yang  akhir-akhir ini sering sekali saya dapatkan baik dari keluarga, teman bahkan tukang yang  renovasi  rumahpun  ikutan  ngasih pertanyaan  “KAPAN”?. Pertanyaan “Kapan” ini semakin hari saya rasakan semakin mengganggu sekali. Kata KAPAN selalu saja diikuti dengan kalimat yang membuat saya terdiam sejenak sebelum memutuskan menjawabnya atau tidak.

“KAPAN LULUS?”

“KAPAN WISUDA?”

“KAPAN MENIKAH?”

            Ketiga pertanyaan inilah yang akhir-akhir ini sering sekali dialamatkan kepada saya. Awal-awal sih biasa aja tapi lama-lama bosen juga ditanyain begituan. Ketiga pertanyaan ini tidak bisa saya jawab dengan pasti karena saya sendiri juga sedang mempertanyakan “KAPAN” ?. Oke, baiklah karena sudah bosen dengan pertanyaan ini, saya sering kali tidak menjawab ketika ada yang bertanya demikian. Apalagi mereka yang bertanya lantas membandingkan saya dengan orang lain.

“Kapan mbak Iing lulus, Kapan wisuda? Si itu sudah lulus lho.”

“Sekolah terus , kapan nikahnya?”

            Baiklah , saya akan menjawabnya. Masalah kapan lulus dan kapan wisuda. Saya dan teman-teman satu kelas saya saat ini sedang berjuang untuk segera lulus. Perjuangan kami tidak main-main karena mulai dari awal tahun 2015 kami mulai menyusun Skripsi. Sampai dengan saat ini baru ada dua teman saya yang sudah lulus. Ya, kami-kami yang belum lulus ini bukan berarti malas karena ternyata skripsi ini sangat dipengaruhi oleh faktor lucky. Setiap mahasiswa memiliki ceritanya masing-masing. Ada yang dapat dosen pembimbing fast respon jadi proses bimbingannya cepet, ada yang dosennya terlalu sibuk sehingga susah ditemui, ada yang mahasiswanya sibuk sampai dosennya yang harus nyariin mahasiswa, ada yang penelitiannya ditolak-tolak terus. Yah, macem-macemlah. Dan setiap mahasiswa tidak sama. Saya sendiri beruntung karena dapat mengerjakan skripsi yang luar biasa panjangnya dan mbulet :D.

“Jangan hanya mengukur kesuksesan orang hanya berdasarkan angka. Berdasarkan waktu cepat atau lamanya proses skripsi. Karena setiap orang membawa luckiness yang berbeda-beda”.

Lalu, pertanyaan selajutnya “Kapan Nikah?”. Kalau ada orang yang bertanya begitu sama saja dengan bertanya “Kapan Mati?”. Kapan mati adalah pertanyaan yang tidak mungkin bisa saya jawab karena kematian saya adalah rahasia yang saya pun juga tidak tahu. Begitu juga dengan menikah. Menikah bukanlah perkara yang gampang dan saya sendiri tidak tahu kapan jodoh saya datang. Bahkan siapa jodoh saya, saya sendiri juga tidak tahu. Jodoh dan maut adalah dua rahasia Tuhan yang datangnya tiba-tiba. Siapa tahu abis nulis ini saya ditakdirkan untuk berjumpa dengan malaikat Izrail. Begitu juga dengan jodoh, siapa tahu setelah menulis ini lalu saya posting diblog saya , kemudian dibaca oleh pembaca laki-laki. Si pembaca laki-laki terkesan dengan tulisan saya, lalu berniat mencari saya untuk dijadikan istri. Who knows?. Ya meskipun prosentase untuk menjadi nyata hanya 0.00… sekian persen, tapi kita sebagai manusia bisa apa kalau Tuhan sudah berkehendak :D.

SUDAH!. STOP! Biarkanlah kami berjuang untuk lulus dan berjuang untuk segera menikah dengan cara kami masing-masing. Izinkan kami  menyelesaikan skripsi kami dengan tanpa tekanan pertanyaan KAPAN LULUS dan KAPAN WISUDA. Lalu jangan ditambahi lagi dengan pertanyaan KAPAN MENIKAH karena kami sudah cukup tertekan denga pertanyaan KAPAN LULUS!. Kami , para mahasiswa tingkat akhir apalagi sudah sepuluh bulan mengerjakan skripsi tapi gak lulus-lulus hanya butuh doa dari kalian-kalian. Doakan kami agar kuat menghadapi lelahnya skripsi 🙂 . Dan doakan pula semoga ilmu yang kami dapatkan bisa bermanfaat dan berkah . Aamiin. Akhir kata, selamat berjuang sahabat-sahabatku yang sama-sama sedang mengerjakan skripsi. Skripsi hanya butuh ketelatenan, ketelitian dan kerajian. SEMANGAT!

 

           

Persiapan Pernikahan Part II

Keisengan saya post buku yang saya baca, jadi rame hihii
Keisengan saya post buku yang saya baca, jadi rame hihii

“Aww.. Mbak Desi mau nikah, jangan lupa undangannya Mbak”

Saya hanya senyum-senyum aja baca chat dari seorang temen. Mungkin gara-gara tulisan saya sebelum ini tentang Persiapan Pernikahan Part I, dan beberapa status yang saya pasang disosial media saya teman-teman mengira saya akan menikah dalam waktu dekat ini. Ya, ya saya memang akan menikah tapi tidak sekarang (Tanggalnya masih rahasia dong 😛 ) , hanya saya saat ini sedang mempersiapkan segalanya.

Oke baiklah, bicara tentang menikah. Ehmm.. saya sendiri belum begitu mengerti tentang pernikahan. Saya hanya tahu kalau orang menikah itu berarti keduanya saling mencintai dan mereka akan hidup bahagia selama-lamanya (hanya ada di cinderella), kenyataannya tentu tidak seperti itu. Kenyataan yang saya lihat dan saya dengar dari beberapa orang yang sudah menikah, mereka bilang menikah itu ga segampang itu. Ada banyak ujian yang harus dihadapi, mulai masalah ekonomi hingga masalah sulitnya menyatukan dua kepala menjadi satu pemikiran.

Well, setidaknya sebelum menikah saya harus benar-benar mempersiapkan segalanya. Tidak hanya persiapan untuk pesta sehari semalam tapi untuk hidup selamanya, karena hidup hanya sekali dan menikahpun hanya sekali ,Amiin. Kemarin saya membaca buku judulnya “Sebelum aku menjadi Istrimu”. Buku itu sukses bikin saya nangis dipojokan. Salah satu babnya ada yang bahas tentang Bidadari Surga. Pokoknya bahasanya #Jleeep banget deh. Intinya , bila kita menyakiti hati suami kita bidadari surga tuh ga segan buat mendoakan jelek buat dan dia berusaha ngrebut suami kita. Tuh, kan sadis banget ga sih?

Tapi tenang, bidadari-bidadari surga itu masih bisa dikalahkan oleh kita-kita ini. Syaratnya cuma satu yaitu jadilah istri sholehah. Nah gimana jadi istri sholehah kalau masih begini-begini aja kerjaannya. Masih banyak baca status di sosial media daripada baca Quran, masih suka beli makan diluar daripada belajar masak sendiri dirumah. Gimana nanti kalau udah jadi istri? Bisa-bisa jadi dagelan didepan suami. Pengennya dapet suami baik nan sholeh, tapi sendirinya nggak mau memperbaiki diri. Elaaahhh ya mana bisa?

Saat ini saya sedang mempersiapkan diri untuk bersaing dengan para bidadari-bidadari itu. Doakan saya ya! Oke, kembali lagi pada persiapan menikah. Bisa dikatakan persiapan saya saat ini masih dibawah 10%. Waaaa.. masih jauh banget. Jadi kapan rencananya nikah? Jujur itu masih rahasia, tapi saya pasti akan menikah. Saat ini saya mempersiapkan diri saya sendiri dulu. Menjadi lebih baik, menjadi calon istri sholehah, dan Calon ibu Juara bagi anak-anak saya nanti.

“ entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi Ibu. Ibu-Ibu yang cerdas akan menghasilkan anak yang cerdas”

— Dian Sastro

Persiapan yang pertama adalah pendidikan. Ya seperti yang dikatakan artis favorit saya Dian Sastro. Seorang wanita harus berpendidikan tinggi , meskipun nantinya  hanya akan menjadi ibu rumah tangga. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan  saya disebuah Unversitas Negeri di Malang. Setidaknya dari kampus ini saya banyak belajar, dan kelak bisa saya ajarkan kepada anak saya. Dengan pendidikan seseorang akan kaya ilmu, tidak hanya sekedar ilmu dibidang akademik tapi juga ilmu non akademik.

Seorang Ibu, adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Jadi kecerdasan seorang anak sangat ditentukan oleh kecerdasan ibu (setau saya sih gitu ya). Jadi untuk menjadi ibu yang cerdas, saya juga harus menjadi cerdas. Mungkin selama ini, saya masih males-malesan kuliahnya tapi setelah ada niatan menikah saya mulai rajin sekali (rajin ngerjain laporan dan yah sesekali baca buku 😛 ).

Oke baiklah, masih banyak yang harus persiapkan untuk menuju hari bahagia itu. Untuk sementara target terdekat adalah LULUS. Menjadi seorang Sarjana Ilmu Komunikasi, Ini juga merupakan bagian dari persiapan pernikahan lho hehe. Menikah kan ga hanya butuh cinta, tapi juga modal. Modal untuk sewa gedung, modal untuk catering, modal untuk hidup sehari-hari, dan tentunya modal saling percaya dan cinta sama pasangan heheuehue.

Jadi Ingat kata-kata seorang temen. “Kita tuh harus punya nilai lebih yang harus bisa dibanggakan. Calon mertua pasti seneng kalau punya mantu yang bisa dibanggakan” – Grace — . Bener juga sih, apalagi kalau punya mantu yang pinter ,cerdas, cantik dan sholehah. Hayoo, ibu mana yang ga ngizinin anaknya menikahi wanita yang pinter,cerdas, cantik dan sholehah? Pinter dan cerdas hanya bisa didapat dari pendidikan, sedangkan cantik bisa didapat dimana saja (kalau hanya cantik fisik) asal punya duit, dan yang terakhir sholehah. Ehmm untuk poin yang terakhir saya nggak tahu dapatnya darimana, karena saya sedang belajar untuk menemukan jalan untuk itu. Semoga ALLAH senantia menujukkan jalan lurusNYA J .

“Terus memperbaiki diri dan memantaskan diri untuk orang yang akan bersama kita hingga JannahNya. Insyallah”

Persiapan Pernikahan Part I

Bismillah
Bismillah

Suatu siang , disiang yang sangat panas kota Kediri. Tiba-tiba saya melontarkan kata-kata yang tidak saya sengaja dan membuat keadaan hening sejenak.

“Chan, Aku capek memperjuangkan hidupku. Aku pengen ada orang yang memperjuangkan hidupku. Rasanya aku pengen nikah aja deh biar ada yang memperjuangkan hidupku”

—HENING—

Keadaan langsung hening, dari yang tadinya saya dan teman saya ketawa-ketiwi abis keluar dari Bank untuk keperluan tugas, kami terdiam. Teman saya hanya diam mendengar kata-kata saya, lalu dia ketawa ngakak. “Kowe gak popo? Cah Gendeng! ”. Ya, wajar kalau saya dikatain gila karena nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ngomong begitu. Selama beberapa hari rasanya kata-kata saya itu jadi trending topic teman-teman dekat saya. Saya kebelet menikah, begitu kata mereka.

Entah kenapa saya bisa berkata seperti itu, kalau kata teman-teman saya mungkin saya rapuh hahaha. “Mungkin kamu rapuh” kata-kata itu sempat menjadi sangat populer nggak peduli apapun yang terjadi tapi kat-kata itu sering terdengar kapan aja dikelas, nggak peduli apapun yang terjadi. Lebay dan alay. Hehe :D. Saya akui memang saat itu saya sedang sangat jenuh. Jenuh dengan segala rutinitas saya, stress karena tugas dan segala macamnya. Saya merasa sangat bosan dan rasanya saat itu saya sedang berada dititik terendah.

Gimana bisa kepikiran nikah? Entahlah saya sendiri juga nggak tau. Mungkin benar kata teman saya saat itu saya sedang rapuh hehe :D. Saya kadang orangnya suka kepo, suka sok tau dan kadang suka seenaknya sendiri. Dari ke-kepo-an saya itu, saya melihat salah seorang teman yang sangat bahagia. Bahagia dengan hidupnya, dan kelihatannya hidupnya enak. Dia masih muda, sepantaran dengan saya. Dia menikah diusia muda, dan kelihatanya bahagia. Benarkah menikah itu Enak? Benarkah menikah itu membuat bahagia? Benarkah kalau sudah menikah ada yang memperjuangkan hidup kita?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab saat saya sudah benar-benar menikah nanti. Saat ini saya sedang dilanda galau persiapan pernikahan saya. Mulai dari bisa nggak ya jadi istri yang baik,  pakai adat apa nanti, pestanya seperti apa, mau menikah diKediri atau dirumah masa kecil saya, dimana saya akan tinggal nanti setelah menikah, sampai honeymoon dimana nanti :D. Banyak sekali yang harus saya persiapkan untuk pernikahan yang Insyallah hanya akan terjadi satu kali dalam hidup saya. Saya ingin semuanya berjalan lancar, barokah, serta bermanfaat bagi semuanya. Saya ingin ketika menikah, tidak hanya membuat saya semakin kuat menjalani hidup, tapi juga semakin bermanfaat untuk orang lain. Menjadi seorang wanita yang menggenapkan setengah agamanya sang lelaki pujaan, dan menjadi makmum yang selalu mengaminkan setiap doa sang imam.

Bersambung …….