4 Pertanyaan Hidup yang Bikin Migren.

s

Beberapa hari ini saya sedang galau. Galau akan seperti apa dan bagaimana saya melanjutkan hidup saya. Apa yang akan saya tuju, bagaimana cara menujunya, dan segala pertanyaan “apa dan mengapa” yang lainnya yang pada akhirnya membuat saya migren karena overthinking.

Saya lalu kembali flashback, apa saja yang sudah saya lakukan hingga akhirnya saya ada pada titik ini. Titik dimana, saya merasa segalanya cukup. Saya telah mendapatkan apapun yang saya inginkan sejak dulu. Meski pada perjalanannya, harus ada pilihan yang harus dipilih.

“You can’t have your cake and eat it too..”

Hidup adalah pilihan, ketika saya memutuskan untuk “sudah jadi penulis saja”, then saya harus rela membuang mimpi saya untuk bekerja di “gedung-gedung tinggi”, atau menjadi seorang jurnalis. Kemudian, tentang mimpi S2 di Belanda, yang kemudian bisa digeser oleh keinginan untuk mondok di Tarim, Yaman.

Hidup kadang memang sebercanda ini :).

“Kadang kita bisa memilih, kadang kita sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memilih”

Manusia memang tidak pernah puas. Ketika mimpi menjadi penulis sudah tercapai, ketika saya sudah “memiliki” apapun yang saya inginkan, sampailah saya pada pertanyaan “LALU SETELAH INI MAU NGAPAIN, APAKAH HIDUP AKAN BERHENTI SAMPAI DISINI?” 

Dan sungguh pertanyaan ini mengganggu sekali sejak beberapa hari ini. Hingga pagi ini, saya belum menemukan jawabannya, malah yang ada saya teringat masa lalu :)). Bagaimanapun juga masa lalu bukanlah sesuatu yang harus dilupakan, dan saya sangat berterimakasih pada masa lalu, untuk semua pelajaran yang berharga.

Belum juga pertanyaan ini terjawab, sekarang “Hidup” memberikan saya pertanyaan yang lain :

  1. Apa tujuanmu dalam hidup ini?
  2. Apa yang penting dalam hidupmu, dan bagaimana ia merubahmu?
  3. Apa kamu sudah bermanfaat untuk orang lain?
  4. Dengan segala pencapaianmu, siapa yang paling berbahagia. Dirimu sendiri atau orang lain juga ikut bahagia?

Empat pertanyaan yang berhari-hari ini  terus berputar-putar di otak dan saya belum menemukan jawaban yang membuat saya berhenti bertanya pada diri sendiri.

Kalau kamu gimana, jika dihadapkan dengan empat pertanyaan ini?.

Btw, selamat hari senin ya. Khairunnas anfauhum linnas :)) .

Kertas Mimpi

P60409-021308-001
penampakan 😀

Hallo selamat malam menjelang pagi. Iya, tulisan ini saya buat tepat pukul 00.05 dini hari. Tumben ya jam segini belum merem, dan mata masih seger nih belum ada tanda-tanda ngantuk. Tumben banget. Mungkin karena hati lagi “kemrungsung” jadi matapun enggak mau merem. saya lihat disekeliling saya, ada banyak tempelan kertas warna-warni. Ditembok kamar, dilemari, dimeja belajar. Kayak anak TK ya? Hehe. Tidak apa-apa, karena kertas-kertas itu adalah penjaga mimpiku. Kadang juga bisa jadi motivatorku.

Saya terbiasa nulis sejak kecil, termasuk menuliskan segala keinginan dalam secarik kertas. Senang rasanya ketika bangu tidur yang dilihat deretan-deretan tulisan mimpi. Senang rasanya ketika satu persatu kertas itu dilepas karena sudah berhasil dicapai. Senang rasanya ketika menuliskan kembali mimpi-mimpi baru dikertas lalu menempelkannya dimana saja, dilemari, didinding, dimeja belajar, bahkan disamping tempat tidur. Jadi tiap gerak kekanan-kekiri mata langsung tertuju pada tulisan-tulisan itu.

Kadang dalam menuliskan mimpi dikertas-kertas itu saya harus menggunakan istilah-istilah atau sandi supaya tidak ada orang yang tahu. Itu berlaku untuk “misi-misi” rahasia hehe. Tidak jarang saya ditertawakan oleh teman-teman saya yang kebetulan membacanya. Tidak hanya dirumah, tapi tembok kamar kost pun kadang juga tertempel tulisan disana-sini. It’s oke, I’m happy with that. Tapi menyedihkan, akhir-akhir ini kertas-kertas layaknya kertas kosong tanpa tulisan. Hanya tertempel begitu saja. Bahkan ketika kertas yang paling besar jatuh, penulisnya enggan menempelkannya lagi. Malah digulung dan dilempar diatas lemari. Padahal kertas besar warna itu , penuh dengan tulisan target-target yang akan dicapai, hingga “peta hidup” yang akan dijalani.

Ya, dalam satu-dua tahunan ini saya kehilangan “keliaran” saya dalam mengejar mimpi-mimpi saya. Dalam satu-dua tahunan ini, ketika saya ditanya apa mimpi? Saya akan jawab menikah. Kalau saya ditanya apa keinginanmu? Maka saya akan jawab ketemu jodoh. Kalau ditanya apa yang kamu lakukan untuk mimpi-mimpimu? Jawabannya tidak ada. Satu-dua tahunan ini, saya kehilangan banyak hal. Mulai dari kehilangan pacar, kehilangan semangat, sampai yang paling menyedihkan adalah kehilangan mimpi-mimpi saya.

Dulu ketika ditanya mau jadi apa nanti? Maka dengan mantap saya akan menjadi jurnalis seperti Najwa Shihab atau Meutia Hafid atau menjadi reporter acara jalan-jalan dan makan ditelevisi. Atau bisa juga jadi wartawan surat kabar yang bertugas meliput pertandingan sepak bola nasional hingga dunia. Kenapa? supaya bisa bertemu dan mewawancarai pemain sepak bola Indonesia, Bambang Pamungkas. Lalu, ketika ditanya mau kerja setelah lulus kuliah? Lagi-lagi dengan mantap dan lupa percaya diri saya jawab “ Saya akan melanjutkan sekolah saya diluar negeri. Saya jatuh cinta dengan Belanda”. Lalu, ketika ditanya mau kerja dimana? Saya akan langsung menjawab  “Saya mau kerjanya digedung yang tingi-tinggi”. Saya telah bersumpah untuk meninggalkan kota ini. Pergi jauh dan memulai hidup baru dilingkungan yang baru pula. Saya punya mimpi yang begitu besar.

Tapi waktu merubah segalanya, kejadian demi kejadian yang menimpa membuat mimpi-mimpi besar itu mengecil. Bahkan tenggelam dalam keraguan. Mimpi-mimpi besar itu berubah menjadi begitu sederhana. Menjadi reporter? Lupakan. Mimpi itu sudah dicoret dari daftar mimpi. Kalau jadi reporter nanti kasian anaknya siapa yang ngurusin. Kerja digedung-gedung yang tinggi? Nggak usah. Kerja dirumah aja udah cukup, kan bisa jualan online.   Melanjutkan sekolah keluar negeri? Dalam negeri juga bagus kok, Unair aja udah bagus. Dekat lagi dengan rumah.

Dalam satu-dua tahun ini saya jalani hari-hari dengan biasa saja. Tidak ada target, tidak ada lagi pemberontakan yang bikin orang nangis, tidak ada lagi ada mimpi besar. Semuanya dijalani apa adanya. Baguslah , sekarang Desi jadi anak yang manis. Yang kalau mau ngomong perlu dipikir dulu kalau perlu dibuatin naskah dulu biar engga salah ngomong, baguslah sekarang Desi sudah lebih peduli dengan omongan orang lain, dan kabar baik Desi sudah mau menerima nasehat. Bagus kan seperti itu? Hai, Desi si anak manis, selamat hidup berbahagia : ).

“Des, kamu kapan hijrah dari Kediri? Kamu kapan keluar dari Kediri? Kamu harus keluar dari Kediri, karena kamu kalau disini nggak akan jadi apa-apa. Kamu harus keluar mengejar mimpi-mimpimu”

Sore itu, saya rasanya seperti dibangunkan dari tidur panjang. Orang yang berkata itu masih cengengesan didepanku, tapi pikiranku sudah melayang jauh kemana-kemana. Teringat sumpahku untuk meninggalkan kota ini segera, bukan karena tidak menyayangi kota ini tapi karena impian besarku berada diluar kota ini bahkan diluar negeri ini. Dulu, dalam satu tahun entah berapa kali saya mengikuti seleksi untuk bisa ikut conference / summit baik itu nasional maupun internasional, dari yang berbayar puluhan juta hingga yang gratis. Meskipun tidak satupun bisa tembus, tapi tidak pernah ada rasa lelah.

Saya rela melakukan apa saja untuk mendapatkan mimpi-mimpi saya. Harus riwa-riwi kesana kemari, menghabiskan banyak tenaga untuk mengisi aplikasi pendaftaran conference/ summit, bahkan rela mengurung diri dikamar berhari-hari sebagai bentuk kemarahan pada Mama karena tidak mengizinkan saya ikut Workcamp di Pekalongan. Keluarga dan teman, mereka adalah orang-orang yang saya cintai. Bahkan mereka yang saya cintaipun tidak mampu menghentikan saya ketika saya sudah bertekad untuk mewujudkan mimpi saya, dan kadang saya sendiri tidak mampu menghentikan diri saya sendiri. Kalau sampai ada yang mencoba menghalangi mimpi-mimpi saya “WANI SATRU AE”.

Insiden workcamp di Pekalongan itu, membuat saya “nyatru” banyak orang. Mama, Papa, Ayah , Ibu, Mbak , Mas semuanya disatru. Karena mereka ini kompak melarang saya pergi ke pekalongan dengan alasan yang nggak bisa saya terima. Takut diculik lah, takut dieksploitasi lah, takut jadi korban traficking lah. Hello, saya cuma mau ke Pekalongan 3 hari. Karena kejadian itu saya bersumpah, untuk pergi yang lebih jauh dari Pekalongan. Dan saya berhasil mewujudkan sumpah itu dengan pergi ke Singapura-Malaysia seorang diri. Meskipun harus melihat Mbak menangis dan memohon-mohon supaya saya nggak pergi.

“Kamu minta opo to jane?. Tak belikan. Tapi ojo budal. Adikku tinggal kamu satu-satunya. Nanti kalau kamu ilang piye?”

Ah, itu dulu. Ketika saya menjalani semuanya dengan “semau gue”. Ketika memberontak adalah makanan sehari-hai, ketika impian-impian itu menjadi sumber kekuatan. Ketika itu namaku bukan Desi si anak manis, tapi Desi anak keras kepala. Malam ini, saya ingin merubah nama lagi. Kali ini namanya Desi Si Anak Manis tapi Enggak Keras Kepala 😀 Hhehe.

Malam menjelang pagi ini, sebelum saya tidur saya akan menempelkan mimpi-mimpi saya ditembok, dilemari, dimeja belajar, dan dimana saya. Saya akan menjaganya agar tetap hidup hingga saya dapat mencapainya. Saya akan jadikan mimpi itu menjadi lebih realistis dengan keadaan sekarang. Jangan ada lagi airmata dari orang lain demi mimpi-mimpi saya, cukuplah air mataku. Akhir kata, tulisan “kemrungsung” ini saya tutup dengan kata-kata dari Mas Vicky. Ah, siapa lagi Mas Vicky ini?. Saya juga tidak tahu, yang saya tahu saat ini saya sedang ‘mencuri’ ilmu darinya. Silahkan diterjemahkan sendiri kata-kata Mas Vicky yang dia ucapkan waktu ngisi seminar minggu lalu.

“Ada yang pernah lihat pocong? Takut enggak sama pocong?. Lha, kalau engga pernah melihat pocong kenapa harus takut? Apa benar pocong itu menakutkan? Kan belum pernah melihat, kenapa harus takut duluan?”.

Kediri, 9 April 2016

 

 

Menyederhanakan Mimpi (1) ?

Kamu kapan keluar dari Kediri? Hijrahlah. Sayang kalau kamu Cuma di Kediri. Eman pintermu. Hijrah lah. Kamu gak akan jadi apa-apa kalau hanya disini. – Mas Dilla –

“Piye Des kapan apply beasiswa keluar?. Awakmu cocok urip nang luar. Kono nang Amerika. Dadio wartawan VOA” – Mas Very –

Dari sekian banyak tulisan saya yang ala kadarnya, bisa dikatakan ini adalah tulisan yang saya buat dengan sangat menggebu-gebu. Saya tahu, dengan menuliskan ini segera, itu akan menambah “nyawa” saya. Membuat saya kembali “hidup” setelah sekian lama “mati suri”. Hari ini saya ikut seminar (dan lagi-lagi jadi tim hore), tidak ikut bayar tiket tapi dapat fasilitas sekelas pembicara. Ya, iyalah kan saya ngekor pembicaranya :D. Di seminar itu saya kembali bertemu dengan orang-orang besar. Bukan badannya yang besar ya, tapi pemikiran mereka yang besar, mimpi mereka yang besar. Salah satu yang menjadi pembicara adalah Mas Dilla, yang hobi stalking IG Berani Berhijrah pasti sudah tau siapa dia.

12417791_10206255834779531_6747383770189768100_n

Baiklah saya tidak akan membahas tentang Mas Dilla, karena saya berencana membahas tentang dia ehmm mungkin dalam buku biografinya kelak. Kelak ketika dia benar-benar menjadi orang besar mungkin saya bisa jadi penulis buku biografinya :D. Kan dia sering bilang tuh , kalau dia Habibie yang tertunda haha. Oke, skip dulu Mas Dillanya. Jadi ceritanya, semingguan ini saya rasanya kayak “ditampar” bertubi-tubi. Baik oleh kata-kata isengnya Mas Dilla, Mas Very dan orang-orang yang saya temui semingguan ini.

Entah iseng atau entah itu beneran, yang jelas kata-kata Masdill dan Mas Very membuat saya sadar bahwa sudah saatnya saya melangkah. Melangkah jauh, jauh, jauh menggapai semua mimpi-mimpi besar saya. Bagaimana mungkin, mereka yang bisa dikatakan bukan siapa-siapa bisa percaya bahwa saya bisa meraih semua mimpi-mimpi saya? Sedangkan saya sendiri? Orang-orang terdekat saya? Justru menjadi orang yang paling tidak percaya akan impian-impian besar yang saya buat.

Ingatan saya kembali pada masa beberapa tahun yang lalu, entah berapa tahun tepatnya. Dulu ketika saya ditanya mau jadi apa, dengan sangat mantap dan percaya diri saya akan menjadi seorang reporter seperti Najwa Shihab atau Meutia Hafid. Atau reporter jalan-jalan seperti Riyani Djangkaru. Iya, dulu saya begitu antusias mengejar mimpi-mimpi saya. Bahkan bisa dikatakan sangat ambisius dan ngotot. POKOKNYA HARUS!.

Tapi satu tahun belakangan ini, semua mimpi-mimpi itu seolah tenggelam. Satu tahun ini saya seperti terombang-ambing dalam pikiran saya sendiri. Bahkan saya benar-benar mengubur semua mimpi-mimpi. Saya mau menikah saja. Tinggal dikota ini dan menjadi ibu rumah tangga saja. Ketika ditanya mau apa setelah kuliah, saya hanya diam. Iya ya, saya mau jadi apa setelah kuliah?. Saya seperti tidak punya tujuan, dan menjalani hari-hari dengan biasa aja. Tidak lagi ambisius, tidak lagi bermimpi besar, tidak lagi ngotot mau sekolah lagi setelah lulus, dan skripsi pun juga stuck disitu-situ aja. Sama sekali engga punya semangat ngapa-ngapain. Hidup rasanya hanya sekedar hidup numpang makan aja biar ga mati. Udah ah, nikah aja. Semuanya selesai.

Sampai pada tahun 2013, hidup saya benar-benar berubah. Kepergian Mas, membuat dunia saya terasa runtuh. Belum juga jenasahnya dikuburkan, setiap orang yang melayat dirumah berpesan pada saya “Jaga Mamamu ya, Karena sekarang yang dipunyai mama cuma kamu”. Karena rasa hutang budi inilah saya tidak lagi ambisius, saya tidak lagi ngotot kalau mau apa-apa, saya tidak lagi berkata “POKOKNYA HARUS”. Saya takut melangkah, rasanya belum apa-apa sudah banyak yang menjegal langkah saya untuk maju. Impian saya terkubur bersama jenasah Mas.

“Baiklah saya terima takdir Tuhan. Mungkin memang saya ditakdirkan untuk tetap hidup dikota ini”.

Karena rasa terbebani dengan balas budi inilah saya tidak melakukan apapun. Impian saya yang dulunya begitu besar, sumpah saya untuk meninggalkan kota ini , menguap begitu saja. Tidak ada lagi Desi yang ambisius, tidak ada Desi yang kalau mau apa-apa “POKOKNYA HARUS” meskipun harus berdarah-darah demi impiannya. Saya tidak punya semangat, tidak ada target, dan yah biasa-biasa aja. Juga tidak produktif. Saya takut melangkah.

“Ada yang takut sama pocong? Memangnya sudah pernah lihat pocong? Kenapa takut kalau belum pernah melihat?. Sama dengan kalau kita melangkah maju, memangnya sudah tahu akan gagal? Enggak kan. Salah satu penyakit kita tuh takut melangkah padahal kita belum mencobanya”

Kira-kira begitulah, yang disampaikan Mas Vicky tadi saat ngisi materi seminar tadi (narasinya ga sama persis ya :P). GOD SIGN. Setelah “ditampar” Masdilla dan Mas Very dengan kata-kata  ya mungkin hanya iseng itu , siang tadi saya kembali “ditampar” kali ini oleh Mas Vicky. Iya, memang selama beberapa tahun ini saya tidak melakukan apapun untuk impian saya. Saya tidak menyentuhnya sama sekali. Bahkan dari sekian banyak list mimpi hanya ada satu dua yang berhasil di checklist. Menyedihkan ya? .

Saya belum pernah ketemu pocong dan semoga enggak pernah, lalu kenapa saya harus begitu takut pada pocong? Benarkah kata orang kalau pocong itu menyeramkan, bagaimana kalau ternyata dia lucu kayak permen? Selama ini kita hanye berasumsi dari “katanya-katanya” saja, padahal sama-sama tidak pernah melihat pocong. Begitu juga dengan impian. Kita tidak akan pernah tahu, apakah ia akan tercapai atau tetap hanya menjadi impian. Sebelum kita berusaha mewujudkannya, mimpi hanya akan menjadi bunga tidur.

Dan kesalahan terbesar saya adalah saya menyerah sebelum berusaha untuk mewujudkannya. Saya berhenti melangkah, padahal perjalanan saya masih sangat jauh. Saya justru sibuk memikirkan kapan nikah, mau nikah sama siapa?. Konsep pikiran saya negatif , yang semuanya dikatakan sulit dan tidak bisa. Padahal sulit atau tidak bisa itu hanya akan bisa diketaui kalau kita sudah pernah mencobanya. Bukankah begitu?

Sore ini, sepulang dari seminar. Saya benar-benar merasa hidup kembali. Saya kembali mempunyai semangat untuk meraih mimpi-mimpi saya. saya merasa sangat tertantang dengan semua statement dari Masdill dkk. Mereka yang bukan siapa-siapa saja percaya bahwa saya bisa, lalu kenapa saya sendiri justru merasa kalau tidak bisa?

Mungkin impianku dulu terlalu rumit, menginginkan ini itu, terlalu ambisius dan keras kepala, karena itu begitu ada godaan sedikit rasanya berat banget dan udah menyerah sebelum berbuat sesuatu. Kini saatnya menyederhanakan mimpi lalu take action. Jangan lagi ada pikiran-pikiran negatif yang justr akan menghambat

Bismillah, Let dream and fate takes us where  we belong”

Pengalaman Gagal Seleksi : Sebuah Langkah Menjemput Impian!

CBtK4P7UEAE1HJ9

            Kemarin setelah membaca tulisan Kak Keumala tentang pengalamannya mengikuti seleksi program JENESYS saya jadi tertarik menulis serupa. Sama seperti Kak Keumala, saya juga pernah mengikuti seleksi JENESYS tahun 2013 yang lalu. Meskipun saya gagal tapi dalam hati senang karena sudah pernah mencobanya. JENESYS adalah satu diantara sekian banyak program serupa yang pernah saya ikuti. Saya baru sadar ternyata sudah banyak sekali gagal yang saya temui. Dari sekian banyak acara baik nasional maupun international yang pernah saya coba untuk ikuti belum satupun berhasil. Kalau tidak lolos ya cuma berhasil duduk dibangku cadangan hehe. Kalaupun lolos seleksi pasti ada saja yang menghalangi untuk berangkat.

Tahun ini saya gagal lagi untuk mengikuti acara konferensi pemuda –pemudi se-Indonesia padahal dalam hati sudah yakin sekali bisa lolos. Tahun sebelumnya saya berhasil masuk di waiting list , tapi tahun ini nama saya sama sekali tidak ada :D. Untuk satu acara  yang berskala nasional ini saja saya gagal hingga tiga kali. Apalagi yang tingkat internasional, saya saja sampai lupa pernah ikut program apa saja hehe. Program-program yang saya ikuti rata-rata adalah program yang memungkinkan untuk bepergian baik antar kota di Indonesia hingga diluar negeri. Iya, saya memang punya mimpi untuk bisa keliling dunia. Mimpi terbesar saya saat ini adalah saya bisa melajutkan pendidikan saya di Belanda.

Baiklah, saya akan cerita pengalaman saya mengikuti seleksi program-program pertukaran pelajar dan konferensi baik nasional maupun internasional. Saya lupa nama progam-program yang pernah saya ikuti karena sepertinya tidak hanya satu dua tiga saja program yang pernah saya coba. Diantara itu semua ada yang gagal hanya diseleksi berkas, ada yang lolos sampai tahap wawancara, ada yang diterima tapi keadaan tidak memungkinkan untuk berangkat. Salah satu program yang saya lolos sampai tahap wawancara adalah program pertukaran pelajar Indonesia- Thailand. Rasanya seneng banget campur deg-degan. Saya mendapatkan kesempatan wawancara dihari kedua, wawancara dilakukan via skype. Tidak seperti wawancara diprogram lain yang ikuti yang hanya memakai walaupun sama via skype tapi cuma suara. Jadi tidak begitu nerves jawabnya, masih bisa menyembunyikan ekspresi muka yang  bingung mau jawab apa.

Nah , untuk program ini si interviewer meminta saya untuk menyalakan video call. Begitu video call nyala muncul tuh wajah si interviewer , saya mendadak panas dingin dan narik napas dalam-dalam. Saya cuma bisa diam aja dan nunggu mau ditanyain apa orang ini, tapi dalam hati bilang buset ini orang ganteng amat yaak wajahnya kok serius banget nih orang . Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, mas-mas ganteng itu tadi mulai memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi dan full english. Dia bertanya mulai hal-hal yang umum tentang saya lalu berlanjut pada pertanyaan yang sesuai dengan essai yang ada diberkas saya. Ditangannya ada berkas saya dan itu dia gunakan untuk “negubek-ngubek” saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya sendiri bingung mau jawab gimana. Bukan karena saya tidak tahu apa yang ada diberkas itu, tapi rasanya lidah saya kaku pas mau ngomong.

BONDO NEKAT! Meskipun bahasa inggris saya acak-acakan sekali tapi saya berhasil menjawab semua pertanyaan mas-mas itu tadi. Saya sendiri tidak yakin dengan jawaban saya, yang penting jawab aja. Mas-masnya cuma ngangguk-ngangguk aja entah itu tanda beliau mengerti atau itu ekspresi beliau yang mulai lelah dengan jawaban saya yang mbulet. Akhirnya wawancara selesai, dan saya disuruh menunggu pengumuman lolos atau tidaknya. Hari pengumuman pun tiba, dan saya lihat tidak ada nama saya didaftar peserta yang lolos. Yasud, coba lagi coba lagi dan hingga sekarang saya masih mencoba-coba lagi :D. Saya mencoba untuk ikut program lain dan kali ini saya berhasil lolos. Dua konferensi di Philipina dan Malaysia, dan satu program student exchange di Korea Selatan. Tapi, program-program ini tidak gratis dan mengharuskan peserta membayar sendiri akomodasi mereka.

Memang-memang sekarang banyak sekali program pertukaran pelajar, konferensi, atau semacamnya dan peluang diterimapun banyak. Bahasa inggrispun tidak menjadi syarat utama, tapi syarat utamanya peserta yang lolos harus membayar sejumlah uang akomodasi selama acara berlangsung. Nah , bagi mahasiswa kere seperti saya uang selalu menjadi masalah utama. Untuk program yang di Malaysia dan Korea saya sempat mencari sponsorship tapi entah belum rejeki atau gimana tidak satupun sponsor yang saya dapatkan. Hingga terpaksa saya membuat surat pernyataan pengunduran diri dari acara tersebut. Sedih? Udah jangan tanya lagi sedih apa tidak. Sudah tentu sedih sekali, meskipun program berbayar dan peluang diterima banyak tapi tetap saja mendaftarnya saja butuh perjuangan. Perjuangan nulis essai yang full english itu saja sudah bikin saya migren, belum lagi kalau pihak penyelenggara minta essai plus video cv yang mengharuskan kita membuat video tentang diri kita semenarik mungkin dan lagi-lagi harus in english.

Dari kegagalan-kegagalan saya saya dapatkan saya belajar banyak hal. Setelah saya analisis (maklum anak skripsian jadi bawaannya pengen analisis data terus :D) kegagalan-kegagalan saya rupaya ada yang kurang dalam diri saya. Sepertinya Tuhan ingin mengajari saya untuk menjadi manusia yang sabar dan manusia yang terus ingin belajar. Saya jadi semangat belajar bahasa inggris lagi, supaya kalau nanti daftar lagi gak malu-maluin pas wawancara haha. Dan mungkin Tuhan belum memberikan saya kesempatan bahkan untuk level nasional saja karena Tuhan ingin saya segera menyelesaikan apa yang menjadi tugas saya disini. Keep khusnudzon pada Allah, karena saya yakin Allah telah menggenggam semua doa-doa saya lalu dilepaskan satu persatu pada saat yang tepat : ). Improve your self, jangan takut gagal , terus mencoba dan terus berpikiran postif , yakin bahwa suatu saat kesempatan itu akan datang. Akhir kata, Selamat pagi dan tetap semangat meraih mimpi ya 🙂