Menciptakan Keberuntungan!

lucky

Setiap orang lahir dengan takdirnya masing-masing. Setiap orang yang lahir memiliki jalan ceritanya masing-masing. Dan tidak semua orang lahir dengan “BEJO” . Benarkah ada yang namanya keberuntungan dan bejo? Dan setiap orang berbeda untung dan bejo-nya? Baiklah ditulisan saya kali ini , saya akan mencoba membahas tentang ke-bejo-an dan keberuntungan yang katanya tidak setiap orang lahir dengan “keberuntungan” dan “bejo”nya dan mereka bernasib malang alias tidak mujur. Sebuah tulisan galau yang mungkin juga dialami orang lain dalam hidup mereka.

Saya pribadi kurang setuju dengan pernyataan seperti itu. Karena menurut saya setiap orang yang lahir didunia ini adalah suatu rahmat dari Sang Pemberi hidup. Setiap orang punya jalan ceritanya masing-masing sesuai dengan skenario dari sang Maha Sutradara. Tidak ada orang yang lahir dengan membawa nasib buruk, ataupun keberuntungan dan hoki. Semua itu sudah ada yang mengatur. Namun pada realitanya, kita semua dapat melihat orang-orang yang seakan-akan dinaungi awan keberuntungan. Dimana-dimana dia selalu “beruntung” dan kelihatannya hidupnya seneng-seneng aja dan untuk mendapatkan sesuatu yang diingini tidak perlu usaha ekstra. Sedangkan ada orang yang sudah berusaha mati-matian namun tetap juga gagal. Ada juga yang sudah berdoa siang malam namun Allah belum juga mengabulkan doa’nya.

BENARKAH ALLAH TIDAK ADIL?

Benarkah ALLAH mau mempermainkan hambaNya?

Kenapa ALLAH memberikan “keberuntungan” tidak kepada semua orang, karena masih banyak kita temui perbedaan?

                Saya banyak menemui orang-orang disekitar saya, dan bahkan diri saya sendiri masih mengeluh dan tidak bersyukur dengan nikmat yang diberikan ALLAH. Iri dengan keberuntungan orang lain dan mengutuk kesialan dan nasib malang yang menimpa diri kita. Bila ada anggapan orang “bejo” dan orang “puntung” maka saya termasuk orang yang lahir dengan tidak  bejo. Karena untuk mendapatkan sesuatu saya harus bekerja berkali lipat daripada dengan apa yang dikerjakan oleh teman saya. Contoh kecil saja, untuk mendapatkan sebuah handphone saya harus menabung uang saku saya hingga berbulan-bulan dan itupun hanya cukup untuk membeli hp low-end. Sedangkan ada teman saya hanya perlu omongan “aku mau itu” maka ia sudah bisa memiliki apa yang dia mau.

Contoh lain ketidak-bejo-an saya adalah saya tidak pernah memenangi undian walaupun saya punya segepok tiket undian. Sedangkan ada orang yang hanya punya satu tiket undian dan itupun hasil “nemu” dijalan bisa dapat undian mobil bahkan umroh. Saat sekolah di SMA , beasiswa yang seharusnya saya dapatkan ditarik kembali olah pihak sekolah karena katanya saya sudah kaya, “anake Pak Lurah mosok kok dapat beasiswa (anak Kepala Desa masak dapat beasiswa)?” begitu alasan pihak sekolah ketika saya konfirmasi. Padahal mereka tidak tahu, bahwa dirumah pak Lurah itu saya mengabdi, saya hanya numpang dirumahnya. Hanya karena kebaikan Pak Lurah dan keluarga maka status sosial saya bisa terangkat. Sedangkan ada teman saya, yang Bapaknya punya Dieler motor tapi bisa kuliah dengan uang bidik misi dari pemerintah.

Ketika teman-teman seangkatan saya rame-rame masuk kuliah saya harus menjadi pengangguran dan berjuang melawan kerasnya ibu kota hanya demi impian saya yang kesannya sok idealis. Saya harus kembali berjuang untuk menjadi mahasiswa bareng angkatan dibawah saya. Ketika yang lainnya mengeluh kenapa hanya Di Kediri kuliahnya, dan kenapa Komunikasi jurusannya? Saya justru harus jatuh bangun untuk bisa kuliah yang katanya hanya di Kediri dan Jurusannya hanya Komunikasi. Berapa kali saya harus bolak-balik mengurus surat-surat di kelurahan dan kecamatan sebagai syarat penundaan pembayaran uang kuliah pertama. Bagaimana saya harus melawan ketakutan saya pergi ke Malang seorang diri, menghadap PD II (yang waktu itu PD II FISIP UB adalah Bp. Mardiono) untuk menunda pembayaran uang kuliah. Berapa banyak air mata dan keringat yang harus saya keluarkan. Berapakali saya harus bersujud, dan memohon dalam kepasrahan. Bahkan kalaupun harus berdarah saya rela demi satu kursi dikelas impian. Setelah mendapatkan NIM pun , saya harus masih berjuang mempertahankan “kursi” saya  , karena banyak hal lain yang berusaha menggagalkan mimpi saya.

Dari pengalaman saya itu, maka bisa saya simpulkan bahwa orang-orang yang katanya lahir tidak bejo (seperti saya) , bisa menciptakan ke-bejo-annya sendiri. Kita bisa menciptakan keberuntungan kita sendiri denga usaha yang keras dan mulut yang tidak pernah berhenti memohon pada sang Maha Kaya. ALLAH TIDAK PERNAH DZALIM apalagi TIDAK ADIL pada hamba-NYA. Setiap apapun yang menimpa kita itu merupakan bentuk rasa cinta ALLAH, dan kasih sayang ALLAH pada kita. Setiap orang memiliki ceritanya sendiri dan diuji dengan cara yang berbeda pula. Ada yang diuji dengan kesenangan, kekayaan, pangkat, dan segala macam “keberuntungan” yang lainnya. Namun ada juga yang diuji dengan kesusahan, kemiskinan, sakit, dan “ketidak-bejo-an”.

Setiap kali gagal, setiap kali terjatuh maka segera bangkit dan bangun. Ketika yang lain berjalan maka berlarilah, ketika yang lain terlelap maka terjagalah dari tidurmu. Seorang guru pernah berkata pada saya.

“ Ketika berdoa, jangan pernah meminta untuk hidup enak. Tapi mintalah supaya kamu   dijadikan orang yang kuat dan tahan banting menghadapi segala macam cobaan”.

 Bila dirasa hidup kita tidak Bejo dan tidak beruntung. Mari kita ciptakan sendiri Bejo dan Untung itu. Mari kita menjemput kesuksesan kita dengan selalu berusaha dan berdoa karena sang Maha Sutradara tidak pernah menyianyiakan perbuatan baik hamba-NYA walaupun hanya sekecil biji sawi.

“maka nikmat Tuhan-mu yang mana yang kamu dustakan?”

“Let dream and fate takes us where we belong “

 

Kediri. 22 Oktober 2013

Sebuah catatan kecil dari refleksi diri

yang penuh ketidakpuasan dalam hidup.

I (still) have a Dream

images (4)

Bismillah, ini tulisan saya yang pertama pasca ditinggal oleh seseorang yang amat saya sayangi. Kepergian kakak tercinta meninggalkan duka yang amat dalam bagi keluarga terutama oleh mama. Hingga saat ini kami sekeluarga masih berusaha untuk move on dan segera bangkit menatap hari-hari kedepan yang masih banyak.
Bicara soal kematian, hal itu tidak akan pernah bisa kita tolak dan tangisan tidak akan pernah mengembalikan kakak saya. Lebih dari sebulan mama baru mau keluar keluar rumah, dan alhamdulilah sudah mau beraktivitas seperti biasanya walaupun tidak se-semangat biasanya. Begitu juga dengan saya, mulai kembali membangun mimpi-mimpi.

Setelah kematian Mas Kanang , hari-hari terasa berat dan lebih berat lagi karena dirumah setiap hari ada air mata yang menetes dari mata seorang ibu yang kehilangan anak laki-lakinya. Rasa sepi melanda, dan makin terasa suram karena tidak ada senyum yang tersungging dibibir kami. Saya sendiri jadi ikut0ikutan tidak bersemangat dan terus dihinggapi rasa sedih. Setiap hari apabila melihat papa mama hati ini rasanya teriris dan ingin menangis. Tapi dimana saya menyembunyikan air mata, dimana saya bersembuyi untuk diam-diam menangis?

Seseorang yang ada jauh disana, selalu mengingatkan saya agar tidak terus bersedih atas kematian Mas Kanang. Dia selalu mengingatkan saya untuk mendokan Mas Kanang setiap waktu, dan ia selalu mengingatkan bahwa hanya doa yang sekarang ini paling berarti untuk Mas Kanang. Tak lupa, ia pun terus mengingtkan saya bahwa saya masih punya mimpi-mimpi menunggu untuk diwujudkan.

MIMPI?

Masih bisakah saya bermimpi? Masih adakah harapan untuk impian-impian saya? Rasanya semua impian saya ikut terkubur bersama jasad Mas Kanang. Sudah lebih dari sebulan yang lalu saya merobek-robek kertas proposal yang berisa list target impian yang harus dicapai. Saya cabut semua tulisan enyemangat dan target didinding kamar saya. Karena ketika melihatnya saat bangun tidur rasanya seperti dicekik. Sakit. Nelangsa. Rasanya saya hanya ingin berdiam diri dirumah dan terus bersama mama. Niatan untuk keluar dari kuliah pun sempat terbesit dipikran saya, bahkan saya menunda-nunda bayar spp karena males untuk kuliah. Sempat hopeless dan putus asa. Rasanya tidak ada gunanya lagi saya kuliah karena saat kuliah keinginan untuk mewujudkan impian saya semakin besar.

“ Jangan berputus asa terhadap rahmat Allah”

Begitu kata ALLAH dalam kitabnya, yang saya tidak paham betul ada di surat apa dan ayat berapa. Kata-kata itu terus terngiang dikepala saya saat saya benar-benar merasa down pada suatu malam. Sambil menahan tangis (walaupun tetap bisa tertahan) dan menghapus air mata saya terus ucapkan kalimat itu dan sesekali istighfar menyebut nama ALLAH. Hingga saya tertidur.
Duhh, Gusti cobaan apalagi ini?
Kenapa cobaan ini terasa berat sekali.

“itu cobaan buatmu dan buat impian-impianmu. Setiap oramg pasti diuji tinggal kitanya kuat gak menjalani ujian itu”

Saya kembali teringat dengan kata-kata seseorang. Bermodal dukungan dan semangat dari seseorang saya akhirnya memulai kembali untuk bangkit dan sadar bahwa saya tidak seharusnya terpuruk dalam duka yang ALLAH pasti kan menggantinya dengan tawa. Saya mulai rangkai kembali impian-impian saya yang sempat saya hancurkan sendiri. Kembali saya tuliskan list panjang dan proposal impian kepada ALLAH.
Memupuk kembali semangat yang pernah mati. Menyiangi “gulma” putus asa di taman hati. Saat ini saya sudah semester lima, dan itu artinya semakin dekat dengan kelulusan. Saya masih punya mimpi dan saya punya HAK untuk melanjutkan hidup dan meraih semua impian-impian saya.

Pemikiran-pemikiran saya yang sempit sebelumnya saya buang jauh-jauh. Karena untuk melakukan sesuatu yang baik tidak harus mengorbankan sesuatu yang baik lainnya. Artinya semua itu biaa berjalan baik apabila semua ditepatkan sesuai porsi dan posisinya. Sayang saya telat menyadari itu, dan banyak menyia-nyiakan waktu hanya untuk bersedih dan menangisi sesuatu yang tidak pasti. Allah maha tahu yang terbaik, dan tidak perlu saya dekte agar semuanya berjalan sesuai keinginan saya. Karena sesungguhnya, kita tidak pernah tau apa yang inginkan tapi ALLAH tahu apa yang kita butuhkan.

“DARE TO DREAM BIG
AND LET DREAM AND FATE TAKES ME WHERE I BELONG”

DARE TO DREAM BIG

Semalam saya benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak. Begitu banyak pikiran yang ada diotak saya. Saya memejamkan mata lalu berkata “ I’ll go away from here, Far Far Far away” . Tiba-tiba pipi saya basah. Masyaallah, rasanya saya segera ingin pergi dan menjalani hidup saya sendiri tanpa merepotkan orang lain. Ketika saya mengutarakan itu pada pacar, dia malah bilang kalau hidup diluar jauh lebih susah dari apa yang kamu bayangkan.

Saya sadar betul untuk mewujudkan impian saya sangatlah tidak gampang. Mustahil saya bisa kalau dipikir secara logika. Tapi bagi saya tidak semua bisa dilogikan. Tapi saya masih punya niat dan keinginan yang sangat kuat untuk mewujudkan impian saya. Salah satu impia saya adalah bisa menginjakkan kaki keluar negeri. Melihat belahan dunia yang lain. KELUAR NEGERI?? Rasanya itu impian yang sangat mustahil buat saya.

Bagaimana bisa mahasiswa kere seperti saya ini bisa keluar negeri? Saya bukanlah mahasiswa jenius yang mengikuti kompetisi mahasiswa tingkat dunia. Bukan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok paduan suara kampus yang biasa keliling dunia bersama grup nya, juga bukan mahasiswa yang dikirim untuk mewakili kampus dalam ajang kompetisi Internasional. Tapi keinginan untuk bisa keluar negeri begitu besar.
Keinginan itu muncul setelah sejak bertemu dengan seseorang yang bernama Dita dan Ines beberapa tahun lalu. Saya bertemu dengan mereka di kantor Radar Kediri saat mereka baru kembali dari Amerika. Saya yang saat itu masih tergabung dalam komunitas muda radar kediri merasa senang bisa bertemu dengan mereka. Saya terinspirasi dengan mereka. “wong, iki kok pinter eram “ (orang ini kok pinter banget) batinku saat mereka menceritakan pengalaman mereka selama di Amerika.

Mustahil rasanya bagi saya untuk bisa seperti mereka. Akhirnya keinginan itu saya pendam. Saya tidak berani bermimpi terlalu tinggi kala itu. Dan ternyata pilihan saya saat itu adalah pilihan terbodoh saat itu. Memilih mengubur impian, hanya karena takut bermimpi terlalu tinggi membuat saya tidak berusaha apapun untuk mencari jalan agar impian saya bisa terwujud. Beberap tahun berlalu, hingga kini saya sudah duduk dibangku kuliah jauh didalam hati keinginan itu masih ada dan sekarang semakin dan semakin mendesak agar segera diwujudkan.
Keinginan itu kembali muncul saat saya membaca tulisan berjudul Paspor yang ditulis oleh guru besar UI Reinald Kasali. Tulisan itu membuat saya semakin ingin keluar negeri. Ternyata tidak harus menjadi kaya raya, menjadi mahasiswa jenius, ataupun menjadi anggota grup paduan suara kampus agar bisa keluar negeri. Kita semua bisa keluar negeri , salah satunya dengan menjadi backpacker. Itulah pilihan yang setidaknya mendekati realistis bagi mahasiswa kere dan tidak pintar ini untuk mewujudkan impian keluar negeri.

Dari mana uangnya? Ketika pertanyaan itu mampir diotak saya sendiri bingung untuk menjawabnya. Benar , bagi mahasiswa kere seperti saya uang lah yang menjadi masalah utama. Tapi sekali lagi tak ada yang tidak mungkin didunia ini. Setidaknya saya masih punya keinginan yang kuat dan saya masih bisa berusaha. Selagi itu masih ada dalam diri saya , saya yakin saya pasti bisa. Bismillah…sesungguhnya Allah itu maha kuasa.

Berusaha, Berusaha, Berusaha , Dan Berdoa, Berdoa, Berdoa, And Let’s Dream And Fate Takes Me Where I Belong.

DARE TO DREAM !!!!

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah ke luar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”

Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.

Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

*The Next Convergence*

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di Universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri.

Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka. Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia.

Dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Oleh Rhenald Kasali 

 [Jawapos, 8 Agustus 2011]

http://ditaliliansa.com/passport/

Maybe I’m Dreaming !!

Apa saya bermimpi?
Sepertinya kenyataan yang ku alami sekarang lebih indah dari mimpiku tadi malam. Sepertinya aku bermimpi tapi ini nyata. !
Sekali lagi Ini nyata. (sengaja diulang biar kesannya lebih dramatis :p).

2bulan lalu kita tidak saling mengenal, lalu sebulan yang lalu kita jadi dekat, dan sekarang kita membingkai indah kisah kita dalam suatu hubungan. Ahh..sepertinya ini terlalu cepat. Tapi, mau bagaimana lagi. Tujuan kita sama..dan bersama kita melangkah ke hubungan yang lebih dekat. Kalo jaman muda dulu hubungan ini disebut pacaran. Yaa…pacaran. ! Saya akhirnya punya pacar… Ahhaaaha #gluudaak.

Saya beruntung mendapatkan pacar seperti dia. Sebelumnya  Dia adalah pacar imajiner saya. Saya berharap punya pacar seperti dia, dan ternyata sekarang saya menjadi pacar nya.

Cerita kami berawal dari sebuah keisengan sms. Dia dapat nomer ku dari temanku yang juga teman dia. Dari awal dia sms aku ‘selamat pagi’ . Aku yakin kalo dia itu orang yang baik. Ini aneh tapi nyata. Hatiku rasanya sudah mengenal mr.X yang sms aku pagi-pagi sekitar dua bulan lalu. Aku memilih untuk menanggapi sms geje itu , padahal biasanya aku paling males sama yang begituan. Tapi entah kenapa kali ini rasanya beda. (baca ttg dia di postingan sebelum ini).

Minggu lalu aku ke surabaya , dan disana bertemu dengannya. Pertemuan yang singkat tapi berakhir dengan status baru yaitu berpacaran di esok harinya. Sebenarnya aku sudah merasa kalo dia ini berharap lebih padaku beberapa minggu sebelumnya. Kami sudah dekat tapi tak pernah ada kata2 yang terucap. Bisa dibilang HTS an. Sebenarnya dari kata2nya sudah jelas terlihat, tapi aku cuek dan memilih tidak menanggapinya. Tak pernah terlintas dipikiranku kalo aku  bakal jadi pacarnya dan dicintai olehnya. Kali ini bukan aku dulu yang mulai tapi dia. Hehe.

Dari awal kenal sepertinya dia sudah tau aku ini seperti apa. Aku berkali kali bilang kalau aku ini tidak pantas untukknya. Aku ini bukan perempuan yang baik. Aku tidak sepadan dengan dia, aku berbeda dengannya. Jalan kami sangat berbeda. Tapi semakin saya menghindari dan semakin kubuka kelemahanku, dia justru semakin yakin kepadaku. Nahhh…lhohh ini orang kok aneh.

Okee….intinya saya bahagia dan hingga sekarang tidak percaya sama kenyataan ini. Tapi ya inilah kenyataannya.
Semoga hubungan ini bertahan lama hingga menjadi suatu hubungan yang halal. Amiin