Jatuh Bangun Belajar Berjilbab

Hello..

Berhubung saya lagi lagi nggak ada kerjaan *lari dari tugas 😛 *, plus gak ada kuliah dan saat ini posisi saya sedang ada di toko (sepi pembeli) daripada mati gaya saya akhirnya nulis :D. Ehmm.. tapi mau nulis apa ya? Hehe. Berhubung sebentar lagi mau masuk bulan Ramadhan , saya pengen nulis tentang jilbab. Nah apa hubungannya jilbab sama puasa? Entahlah hehe…

Oke..saya akan cerita saja ya kalau begitu tentang pengalaman ‘jatuh bangun’ saya saat memutuskan memakai jilbab seterusnya saat pulang dari Singapura bulan Februari lalu. Dan semoga bisa memberikan manfaat bagi saya maupun yang baca tulisan ini. Bagi seorang yang alim dan sholehah tentu untuk memakai jilbab bukanlah hal sulit.  Bagi mereka yang sejak kecil “kenal”  agama maka akan sangat mudah bagi mereka untuk menjalakan perintah Allah.  Tapi bagi saya, memakai jilbab terus-menerus bukanlah hal mudah, jangankan jilbab syar’i lha wong pakai jilbab aja masih “buka tutup”. Alhamdulilah dari bulan februari kemarin saya kemana-kemana sudah belajar memakai jilbab, tidak hanya kuliah tapi dimanapun (kecuali dirumah). Cukup menantang juga ternyata :D.

“hello.. jilbab bukan patokan orang itu baik atau enggak”

“hello.. jangan sok alim deh. Sholat aja masih semrawut gitu”

Iya juga sih, saya memang baru belajar memakai jilbab tidak hanya sebagai penutup kepala tapi juga sebagai penutup hati.  Sebenarnya keinginan berjilbab sudah ada sejak saya masih SMA, tapi ternyata niat saya masih kalah sama kesukaan saya terhadap bando/bandana hihii. Saya hobi sekali mengoleksi bando (dulu banyak banget dengan berbagai macam model) , dan rasanya dandanan saya gak lengkap kalau belum ada bando dikepala saya hehe.

Orang hidup itu pasti ada saatnya diatas dan ada saatnya dibawah (sampek nyungsep :D) , Nah pas lulus SMA itulah titik balik hidup saya. Saat itulah pikiran saya sudah semakin dewasa , dan keadaan juga yang membuat saya sadar. Sadar kalau ternyata hidup itu nggak cuma makan, tidur, kentut dan main seenaknya. Disaat terpuruk itulah saya merasa bahwa ada suatu kekuatan besar yang menolong saya dan menguatkan saya. Hidup di lingkungan asing, jauh dari rumah, dan benar saja kalau ibu kota lebih jahat dari ibu tiri. That’s True!! Saya rasakan benar itu selama kurang lebih 7 bulan saya mencoba bertahan hidup di Ibu Kota.

Singkat cerita, sekitar empat tahun lalu (2010) saya mulai untuk pertama kalinya memakai jilbab saat keluar rumah dan itu tidak sedang ada acara pengajian lho ya. Itu murni saya pakai jilbab meskipun lagi nggak ada acara. Pertama pakai kesannya aneh, dan nggak nyaman. Ada perasaan malu juga. Dijakarta jugalah saya mulai belajar sholat full 5 waktu. Hehe biasanya masih bolong-bolong kadang sholat kadang enggak. Awal tahun 2011, saya memutuskan kembali ke Kediri, sudah cukup uji nyali nya, udah cukup melarikan dirinya, udah cukup puas jadi pengangguran, dan udah cukup “kuliah kehidupannya”. Tahun 2011 saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah walaupun hanya univ. Swasta di Kediri. Tapi sungguh ALLAH maha adil, saya bisa masuk universitas Negeri dijurusan yang saya impikan yaitu Ilmu Komunikasi UB.

Oke.. balik lagi ke jilbab. Awal-awal balik ke Kediri dan pakai jilbab rasanya aneh. Apalagi keluarga dan lingkungan nggak ngedukung. Saya ingat dulu, kalau mau pakai jilbab harus diam-diam. Saya selalu memasukkan jilbab instan didalam tas saya, dari rumah nggak pakai jilbab trus ntar pas dijalan (nyari jalan sepi) trus pakai jilbab. Bukan apa-apa sih, hanya saja saya malas untuk berdebat. Selain itu saya belum merasa pantas mengenakannya.

“Kamu cantik dengan rambut panjangmu yang lurus, trus pakai bando. Gaul gitu”

“Mau nglurusin rambut lagi ta? Ini tak kasih uang”

Hihii… lucu ya. Dulu tiap kali mau nglurusin rambut ke salon harus merengek-rengek dulu baru dikasih duit. Nahh.. pas memutuskan pakai jilbab , malah dikasih duit Cuma-Cuma buat nglurusin rambut. Ckkck.. rambutku lurus karena hasil rebonding, terihat cantik karena selalu memaki baju yang lagi happening, pokoknya keliatan cantik deh dimata manusia. Kelihatannya aja lho yaa, aslinya enggak sama sekali hehe. Pas masuk kuliah tahun 2011 saya mulai lebh sering pakai jilbab, ingat lho ya sering bukan seterusnya. “Buka-tutup” Jilbab gitu deh, kalau kuliah, kalau jalan bareng temen-temen pakai jilbab, tapi kalau dirumah , kalau pergi nggak sama temen-temen balik lagi deh ke jaman jahiliyah.

Nah.. baru tahun 2013 kemarin saya mulai belajar pakai jilbab full. Gak peduli lagi omongan orang, omongan saudara, dkk. Tahun itu juga saya kehilangan kakak saya, dan itu membuat saya sadar. Gimana ya kalau tiba-tiba maut datang kepada saya, tapi saya belum sempat berbuat baik, saya belum mematuhi perintah ALLAH. Ahhh tidaaakkk!!! Memakai jilbab juga bukan berarti merubah saya layaknya bidadari yang cantik. Banyak sekali kekurangan yang masih tercecer dimana-mana. Banyak sekali yang harus saya pelajari lagi. Sampai dengan saat ini saya masih bertahan dengan jilbab ala kadarnya saya, celana jins dan kaos.

Saya tidak ingin muluk-muluk atau sok alim, tapi jujur jilbab ala kadarnya saya ini membuat saya semakin mengenal agama saya. Malu kan ya, kalau udah berjilbab tapi nggak sholat hehe. Malu kan ya berjilbab tapi nggak tau ilmu agama sama sekali. Dalam hidup saya yang minim agama, minim nasehat juga minim pengetahuan saya mencoba utuk belajar sendiri. Belajar dari buku, dari internet, dari TV dan dari mana saja. Sungguh beruntung sekali mereka yang lahir di keluarga alim, taat dan utuh. Tapi bukan hidup namanya kalau nggak ada ujiannya.

“Belajar agama bagi mereka yang dekat dengan lingkungan agama sangat mudah, sangat mudah bagi mereka untuk menjalankan ajaran agama. Tapi bagi orang awam yang tidak tahu apa-apa maka belajar agama itu luar biasa” –Status teman di facebook-

Ehmm… apa benar begitu? Entahlah saya sendiri tidak paham. Satu hal yang pasti , dan saya yakini sampai saat ini bahwa hidup itu tidak hanya makan, tidur dan kentut. Hidup harus punya nilai-nilai yang membawa manfaat. Dengan mengenal lebih jauh agama dan Tuhan hidup ini nggak kering, hidup ini nggak hampa dan hati rasanya adem ayem hehe :D. Entah dari mana saya dapat pemikiran sok nggaya ini , yang pasti hidup saya lebih bermakna saat saya mendekat pada ALLAH.

Iseng-iseng saya pernah mencoba menguji kebenaran tentang apa yang ada di ajaran agama saya. TUHAN itu ada nggak sih, mana pengen lihat keajaibanNYA? Saat memutuskan untuk solo backpacking di Singapura dan Malaysia (oiya belum sempat ngelanjutin tulisan tentang backpacker, hehe nyusul ya! *ga penting banget sih 😀 ) beberapa waktu yang lalu, saya benar-benar  takjub sama kekuasaan ALLAH, pokoknya ALLAH IS THE BEST lah. Sungguh ALLAH itu maha dekat ternyata, sayangnya saya aja yang kadang malah menjauh dariNYA. Jauh banget ya nyari hidayahnya sampai ke Singapura? Hehe..

Pokoknya sekarang saya pengen belajar jadi manusia yang lebih baik. Lebih baik dari segala hal. Baik hubungan vertikal (dengan Tuhan) maupun horizontal (sesama makhluk Tuhan). Tulisan ini murni  untuk saya sendiri , sebagai pengingat saya. Tapi kalau ada yang baca trus memberi manfaat ya alhamdulilah. Oiya.. sapa tahu juga ada yang baca, trus bersedia jadi mentor , jadi guru buat saya supaya menjadi orang yang lebih baik lagi saya akan sangat senang hehe 😀 . Udah ah.. jadi berasa mamah dedeh yang lagi ngasih tausiyah, kalau ngomongin tentang ini. Biarlah saya belajar , belajar dan belajar untuk menjadi lebih baik. Sekarang saya memang masih pakai jilbab ala kadarnya , tapi siapa tahu tiba-tiba saya dapat hidayah dari ALLAH trus berpakaian syar’i kayak OKI SETIANA DEWI (artis favorit saya ini :D). Who knows … !!

“Jangan Tuduh Saya Telah Baik Karena Memakai Jilbab, Tapi Jangan Pula Anggap Saya Tidak Lebih Baik Karena Belum Berjilbab. Tapi Pandanglah Saya Sebagai Seorang Yang Sedang Belajar Dan Masih Perlu Bimbingan”

 -SEMOGA ISTIQOMAH- 

 

 

Cermin, Air mata dan Desi !

gambar diambil disini ya :)
gambar diambil disini ya 🙂

Hari ini saya kembali dibuat menangis oleh keadaan. Menangis? Ya saya sering sekali menangis untuk hal-hal yang membuat dada saya sesak. Saya cengeng? Terserah apa kata anda. Menangis , kadang bisa menjadi suatu kekuatan yang luar biasa bagi saya. Saya biasa ketika menangis menghadap cermin. Narsis? Aneh? Ya, memang sedikit aneh. Dengan bercermin disaat menangis, membuat saya tahu betapa jeleknya muka saya saat menangis sehingga dengan segera saya bisa berhenti menangis.

Saya amati diri saya sendiri saat menangis,melihat diri saya sendiri mengiba dan tidak berdaya. Melihat butiran bening air mata jatuh dari kedua mata saya. Disaat seperti itulah, muncul kekuatan dalam diri saya bahwa saya pasti bisa melewati semuanya. Disela-sela tangisan saya selalu saya sempatkan untuk tersenyum. Tersenyum, dan saya melihat wajah saya tidak sejelek saat menangis. Menangis lalu tersenyum. Sudah gilaaa? Mungkin orang yang melihat saya , akan menganggap saya gila.

Hari ini lebih tepatnya setengah hari ini, karena ini masih jam 12 siang saya sudah menangis dua kali. Benar-benar penat sekali rasanya, ingin rasanya berteriak dan pergi sejauh mungkin. Tapi apa dengan pergi masalah akan selesai? TIDAKK! Saya hanya akan menjadi PENCUNDANG kalau saya lari dari masalah. Rupanya ALLAH, masih sangat sayang sama saya sehingga saya diberi nikmat yang rasanya masih pahit, perlu saya beri sedikit keikhlasan dan kesabaran supaya nikmatnya berubah menjadi manis.

Saat seperti ini saya tersadar bahwa manusia itu tidak ada apa-apanya. Sekuat apapun berusaha tapi tetap ALLAH jua yang menentukan segalanya. Hari ini, entah keberapa kalinya saya dipermainkan oleh keadaan. Mungkin tempat itu tidak baik untukku sehingga ALLAH , tidak memberi jalan kepada saya untuk masuk disitu. Semua upaya sudah saya tempuh. Hahaha… kini saya tidak lagi menangisi semuanya, tapi saya justru tersenyum dan menertawakan diri saya sendiri.

“kamu iki kok cengeng to, saitik-saitik nangis. Sing rodok pinter saitik ngono lho”.

Begitu kata seseorang pada saya beberapa waktu yang lalu. Seseorang yang selalu menertawakan saya kalau saya menangis, seseorang yang paling benci melihat saya menangis. Saya memang cengeng dan suka menangis tapi saya tidak lemah dan tidak mudah menyerah. Justru sebaliknya ketika saya menangis disitulah bukti kekuatan saya. Menangis sambil bercermin wkwkwkw. Mungkin kalian semua perlu mencoba ketika menangis sambil bercermin entah saat sedih atau saat bahagia.

Bagi saya ketika dalam keadaan sedih dan sudah terasa sesak sekali, sudah pasti saya menangis. Begitu juga ketika saya dalam keadaan sangat bahagia sekalipun saya juga pasti menangis. Iki jane piye to? Entahlah , padahal usia saya sudah 22 tahun tapi kenapa masih nangisan, dan nangis sambil bercermin pula? Hihii. Percaya atau tidak cermin itu bisa ngomong lhoo, bisa jadi sahabat bagi saya.

Ketika saya sedang bersedih dan menangis didepan cermin, tidak perlu waktu yang lama bagi saya  untuk menangis. Segera saya usap air mata saya karena dibalik cermin itu ada suara yang selalu mengatakan “STOP, Hentikan tangisanmu! Kamu jelek kalau menagis! Kamu pasti bisa karena kamu adalah wanita yang kuat!  Jangan menyerah! Ayo bangkit!”. Entah dari mana datangnya kata-kata penyemangat itu, tapi itulah yang terjadi saat saya sedih sampai menangis. Sudah pasti saya segera bercermin agar saya segera bisa menghentikan tangisan saya.

Begitu juga ketika saya sedang dalam keadaan bahagia , entah kenapa saya juga gampang sekali menangis. Kembali saya ambil cermin , dan disitu saya melihat ada kebagiaan dimata saya sendri. Kembali sang cermin berbicara “Itulah nikmat dari ALLAH, Subhanallah, Percayalah ALLAH itu adil” dan berbagai kata-kata yang mengingatkan saya pada sang maha Kuasa. Sungguh ajaib sekali hidup ini. Saat menulis ini , saya sedang berada disebuh tempat yang tenang sambil mendengarkan sebuah lagu. Lagu soundtrack hidup saya, yaitu Skyscraper-nya Demi Lovato.

Haha… betapa bodohnya saya seharian ini jengkel dengan keadaan yang tidak berpihak kepada saya. Saya marah dengan keadaan yang seakan mempermainkan saya. Saya marah karena kebodohan saya sendiri. Kenapa harus marah dan merasa dipermainkan, bukankah semua itu sudah ada yang mengatur? Lalu kenapa saya harus marah ketika yang maha mengatur tidak berhendak? Ahhh bodohnya saya, terbawa hawa nafsu emosi. Astaghfirullah , ampuni hamba yang sombong Ya ALLAH.

Daaadaaa Cermin, daddda airmata. Saatnya untuk berjuang lagi dan saatnya untuk bangkit. Kalau kata Demi Lovato sih begini :

You can take everything I have You can break everything I am Like I’m made of glass ,Like I’m made of paper Go on and try to tear me down, I will be rising from the ground Like a skyscraper, like a Skyscraper –Demi Lovato-

Nah, kalau kata Genta dan kawan-kawannya di 5cm sih gini :

“Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu.Dan.. sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tanganyang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,leher yang akan lebih sering melihat keatas, lapisan tekad yang seribu lebih keras dari baja. dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa”

Seberat apapun masalah kita, percayalah bahwa akan selalu ada ALLAH yang meringankan beban kita :). Percayalah Desi, percayalah bahwa selalu akan pelangi saat hujan. Tapi kadang kamu gak bisa melihatnya , karena hujannya malam-malam. 😛 . Saatnya untuk meneruskan mimpi yang sempat tertunda 🙂 ! #ACTBIGGER !

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah berfirman : “Aku menurut dugaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. (Hadits ditakhrij oleh Turmidzi).

 

CERMIN, AIR MATA DAN DESI = TANGGUH ! hehehehehe

images
Semangat ^___^

Saya dan Baju Tiga Warna

Tulisan saya kali ini terinspirasi dari kejadian “Baju Warna-Warni” yang saya kenakan beberapa waktu yang lalu. FYI, saya berhasil menyita perhatian teman-teman dan mungkin semua orang melihat saya saat itu. Bagaimana tidak,? Saya mengenakan baju tiga warna sekaligus dan ketiga-tiganya sama sekali nggak nyambung warnanya. Rok panjang warna hijau dengan ada hiasan warna hitam sedikit, lalu kemeja biru (sedikit ungu muda), dan jilbab warna pink! See , bukankah itu fashion disasster!! (saya mengatakan dissaster karena saya dihujat teman-teman hehe :D)

Kejadian tragedi baju ini, terjadi karena saat itu saya kehabisan stok baju layak pakai karena pakaian saya banyak yang masih belum distrika * ketahuan malesnya 😛 * . Sebenarnya saya bukan tipe orang yang ribet untuk urusan pakaian, yang penting nyaman ya sudah saya kenakan dan waktu itu saya pede-pede saja memakai baju itu. Tapi, karena saya dihujat dan diketawain oleh teman saya (dia pemerhati fashion), akhirnya saya putuskan untuk menutup baju saya dengan jaket (dan ini katanya lebih mending daripada nggak pakai jaket :D, mungkin norak bagi yang ngliat). FYI, lagi saya pernah memakai rok hijau saya itu dengan saya padukan hem orange kotak-kotak dan jilbab warna coklat muda. Tapi saya pede-pede aja tuh (iya soalnya nggak ada yang menghujat :D).

Dari kejadian tersebut, saya jadi bisa mengambil pelajaran. Saya memamng selalu berusaha menemukan pelajaran sekecil apapun itu dalam setiap kejadian yang saya alami. Saya percaya sesuatu yang besar itu pasti dimulai dari yang kecil dulu. Dari kejadian “salah kostum, fashion dissaster” saya jadi tahu bahwa orang-orang disekeliling saya itu belum bisa menerima sesuatu yang baru. Sesuatu yang mereka anggap kurang pantas dan diluar kebiasaan. Bahasa simpelnya mereka belum bisa out of the box (walaupun saya sendiri belum bisa sepenuhnya keluar dari zona nyaman saya) tapi saya suka mencoba hal-hal baru.

Entah kenapa dan ini entah ada hubungannya atau tidak, baju warna-warni yang saya kenakan saat itu turut mempengaruhi mood saya. Walaupun saya dihujat tapi disatu sisi saya juga dipuji. Ada yang bilang bahwa saya kala itu terlihat fresh , seger dan bersemangat seperti baju saya yang warna-warni. Well, itulah orang dengan perspektif mereka masing-masing. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu bermasalah dengan gaya berpakaian saya, tapi karena opini mayoritas , opini saya jadi terbungkam dan akhirnya membuat saya menutup kesalahan berpakaian saya dengan jaket *cari aman* hehe.

Dari kejadian itu, saya jadi makin tertantang untuk mencoba hal-hal baru tidak hanya untuk urusan pakain tapi juga dengan hal lain. Kemarin, saya memakai baju yang sebelumnya saya enggan memakainya, karena warnanya tidak cocok dengan warna kulit saya. Saya memakai baju biru dongker dengan jilbab biru muda, JREEENGG banget bagi kulit saya yang gelap. Kali ini bukan hujatan frontal seperti sebelumnya, tapi hujatan halus yang saya terima. Seorang teman dengan sangat halus bercerita bahwa ia punya jilbab warna ini itu tapi nggak pernah dipakai karena takut ini itu yang intinya mungkin ingin bilang ke saya “Heii, jilbabmu ngjrengg dan gak pas sama mukamu” hehe tapi what the hell saya nggak peduli. Lalu saya bilang ke dia, “aku pengen mencoba hal baru, yang out of the box” hehehe.

Kejadian yang mungkin sangat sepele ini , membuat saya semakin tahu bahwa menjadi berbeda itu itu salah. Keluar dari sesuatu yang “biasanya” itu dianggap aneh. Sejak kecil lingkungan disekitar kita membiasakan kita untuk sama dan menolak perbedaan. Bayangkan saja, sejak TK saya diharuskan memakai baju seragam yang sama , makan makanan yang sama, bahkan hingga hal-hal yang kecilpun semuanya harus sama. Sangat kontras dengan semboyan bhineka tunggal ika , yang katanya walupun beda tapi tetap satu. Kenyataannya, kalau beda menyingkirlah! Ironis!

“Dapat saya simpulkan juga , bahwa menjadi keluar dari zona nyaman masih menjadi ketakutan tersendiri bagi saya dan orang-orang disekitar saya. Ketika saya sudah berani untuk mencoba hal baru dan berbeda dari yang “biasanya” maka saya dianggap aneh. Saya jadi semakin ingin pergi jauh dari tempat saya sekarang, pergi jauh ke tempat yang berbeda agar semakin memperluas perpektif saya terhadap sesuatu”.

Saya jadi ingat kata-kata dosen saya , beliau bilang:

pergilah keluar negeri , jangan hanya didalam ngeri supaya kalian bisa melihat dunia dengan perspektif yang berbeda. Dulu saat SMA kalian mungkin diajari bahwa orang Indonesia itu ramah-ramah tapi sebenarnya kalian itu dibohongi. Guru kalian yang bilang seperti pasti mereka belum pernah pegi keluar negeri. Di indonesia kalau kalian pakai baju merah lalu celana hijau jrengg kalian pasti dikata-katain oleh teman kalian, tapi ketika diluar negeri orang tidak berhak menilai penampilan kita, karena itu menjadi hak kita. Dan mereka pasti marah ketika kalian bilang “heii bajumu itu lho norak”. – Pak Bambang –

“kita tidak akan pernah tau kalau kita tidak pernah mencoba”

Dari kejadian “Baju Tiga Warna” saya semakin ingin menunjukkan bahwa beda itu unik dan tidak mainstream. Kita tidak harus selalu dijalur yang sama kan, asalkan tetap pada jalur yang benar!

someone

Seseorang yang tidak aku kenal telah memberiku inspirasi tentang hidup, harapan, cita-cita , impian dan kekuatan ‘percaya’. Bahawa hidup itu adalah sebuah pilihan. Dimana dalam hidup itu kita selalu dihadapkan dengan begitu banyak pilihan. Salah satu contohnya adalah tentang cinta dan cita. Kenapa aku membahas cinta dan cita? Karena saat ini aku masih sebagai Abg yang kadang masih ababil. Bukan kadang tapi memang iya :p .

Seseorang itu telah memilih jalannya. Dia memilih antara cinta dan cita. Bisa ditebak , dia pasti memilih cita nya daripada cintanya. Dia mengorbankan masa indahnya remaja bersama pacar, teman dan kadang waktu bersama keluarganya dia lewatkan begitu saja demi impiannya, yang katanya demi masa depannya.

Didalam hidupnya gak ada istilah pacaran, cinta, cewek atau apalah yang sejenis, meskipun tak jarang orangtuanya bilang gini. ‘mas, mbok ya ndang cari pacar. Kamu kan udah gede, apa gak pengen kayak anak muda lainnya?” tapi kata-kata orang tuanya hanya dijawab dengan senyuman olehnya. Dia lebih milih buku untuk dijadikan pacarnya, bercumbu dengan buku-buku ‘berat’ dan kalo aku yang baca buku itu besoknya aku mendem. Hehehe.

Orang itu, benar-benar special. Benar-benar menarik hati. Hari jadinya hampir barengan sama hari jadinya sahabatku ., itu artinya dia lebih muda 8bulan dari aku tapi cara pikirnya udah kayak 8tahun lebih tua dari aku. Umur emang gak bisa menjadi tolok ukur seseorang sudah disebut dewasa.

Dia paling sering nulis “kadang untuk mendapatkan sesuatu kita harus mengorbankan sesuatu yang lainnya.” Di akun sosialnya. Yah… aku memang belum pernah bertemu dengannya. Aku pun mengenalnya hanya melalui jejaring sosial, itupun karena tidak sengaja. Aku kira dia kakak kelasku dulu, karena namanya yang mirip. Ternyata Hanya nama depannya saja yang mirip, nama belakangnya berbeda, orangnya pun juga berbeda. Perawakannya tinggi (foto) , sedangkan kakak kelasku, yahh setinggi aku begini. Hehhee.

Aku iri sekali padanya, dia begitu kuat menjaga prinsip dan komitmennya untuk mengorbankan “cinta monyet“ nya. Dia tetap pada pendirian, bahwa hidup adalah pilihan. Semangat belajarnya luar biasa. Karena itu gak heran waktu SMA dulu dia pernah ke Amrik , semacam pertukaran pelajar gitu, dan SMA nya Cuma 2 tahun di sebuah sekolah islam terpadu , semacam boarding school gitu. Wowww… *gelenggeleng. Aku ingin sekali menjadi seperti dia, (bukan berarti aku plagiat, gak kreatif dan gak mau jadi diri sendiri ) aku hanya ingin meniru semangatnya, kegigihannya, dan perjuangannya. Semangatnya itu loh.. kok gak habis-habis. Sedangkan aku?? Apa ?? bisanya Cuma berhayal yang setinggi langit, tanpa mau memperbaiki diri.

Prinsip dan komitmen yang dulu (sebelum masuk kuliah ) aku bangun kini terombang ambing, hanya karena akhir-akhir ini aku di goda oleh pesonanya kaum adam, kaum yang sejenis dengannya. 😛 . aku mulai goyah dan berkeinginan untuk menjalin relationship dengan seseorang itu. Ahhhh….yang salah yang menggoda apa yang digoda ?? hahaha. Memang sih aku punya komitmen untuk gak pacaran kalo pacaran / fall in love saat menempuh kuliah ku. Tapi prinsip itu berlaku kalo falling in love dengan orang yang salah dan membawa dampak yang buruk buat ku . nah… masalahnya sekarang , aku gak tau aku harus bagaimana. Aku takut kalo aku gak bisa menahan serangan cinta yang datang tiba-tiba itu. Lalu aku kalah dan keluar sebagai pecundang. Bagaimana kalo jatuh cinta akan kembali menorehkan luka seperti dimasa lalu , seperti yang dulu ? bagaimana kalo ternyata aku gak kuat dan hancur semuanya ? impianku, cita-citaku, harapanku?? Terlalu mengerikan membayangkan semua itu hilang begituu saja tanpa ada perlawanan dariku. Terlalu mengerikan kalo semua itu hilang hanya karena sesuatu yang kusebut cinta. Dilematis memang. Tapi aku harus membuat prioritas , mana yang harus didahulukan dan mana yang harus ignored. Aku maunya dua-duanya jalan, kehidupan seperti remaja lainnya tanpa mengganggu cita-citaku. Mungkin orang lain bisa melakukannya, tapi bagiku itu sesuatu yang sangat sulit. Kalo lagi bertengkar, belajar jadi gak konsen. Kalo liat dia jalan sama temen cewenya aku “kebakaran “ dan ujung-ujungnya badmood dan gak mau belajar, trus marah-marah. Hah…..itulah jalan menuju kehancuran impian L. Karena emang aku gak bisa multitasking kayak smartphone , yang bisa jalanin 2 aplikasi sekaligus tanpa menutup aplikasi yang lainnya. Aku standartnya hape java , alias stupidphone yang hanya bisa jalanin satu aplikasi aja , kalo mau buka aplikasi lain harus nutup aplikasi yang lainnya. Mungkin aku harus banyak belajar lagi, bagaimana manajemen psychology yang baik dan benar. Kalo udah saatnya nanti dan aku udah bisa aku baru bisa ber-falling in love-ria. Hahaha.. semoga aku bisa banyak belajar dari orang itu. Belajar tentang banyak hal yang belum aku tahu. Semoga pendirianku sekuat pendirianmu, semangatku sebesar semangatmu, mentalku sekuat mentalmu, dan pintarku sepintar kamu

PS : dedicated to mahasiswa HI smt. 3 . Seseorang yang sekarang sedang berada di ibu kota. Semangat J ..semoga aku bisa menjadi sepertimu. Aku tidak akan menyerah karena memang aku tidak bisa menyerah meraih mimpiku.

Ddudulbee , 02102011