Ternyata pacaran itu…

Beberapa hari ini saya sering marah-marah karena pacar sudah tidak seromantis dulu saat pertama pacaran. Ya..usia pacaran kami sudah memasuki tahun pertama. Maret tahun lalu saya merasakan betul saat-saat indah pacaran. Maklum baru pacaran, tapi semakin lama semakin rasanya biasa saja. Ada semacam jenuh yang saya rasakan dan ternyata juga dirasakan olehnya.

Hubungan kami semakin dekat dan tahu karakter masing-masing. Kalau lagi marah, manja, atau bahkan pas lagi gak mood buat sekedar sms atau telepon udah paham. Pernah juga saya merasakan rasa jengkel padanya. Hubungan kami dipisahkan oleh jarak, ya saya di Kediri dan dia di Surabaya. Biasanya saya hanya bertemu dia 2bulan sekali dan pernah hampir 3bulan.

Kalau sudah diserang yang namanya kangen bin rindu itu bawaannya marah melulu dan kadang over lebay yaitu menangis. Seperti ini ternyata rasanya pacaran, nahan kangen dan bahkan “berantem” sama pacar. Bagi saya ini pacaran kali kedua, dan baginya ini adalah pengalaman pertama pacaran dan mengenal seorang wanita. Hehe

Walaupun ini kali kedua saya pacaran, tapi dulu tidak seperti ini pacarannya. Dulu pacaran waktu kelas 2 SMA dan baru pacaran lagi pas kuliah semester 2. Waktu pacaran dulu perasaan ga ada marah-marahan atau masalah yang se-kompleks ini. Dulu pacaran iseng yang hanya terjadi di dunia maya walaupun penah bertemu beberapa kali dan hubungan kami hanya gitu-gitu aja. Pokonya khas ABG Labil bangetttt.

Sekarang ini pacaran yang “bener-bener pacaran”. Menyatukan 2 kepala,2 pikiran, 2pandangan dalam satu hubungan yang dinamakan pacaran yang dipisahkan oleh jarak. RUMIT  itulah pacaran. Hubungan komunikasi interpersonal yang terlalu banyak tuntutan yang harus dipenuhi. Bagaimana kita menjaga hubungan interpersonal kita pokonya rumit deh. Tidak seindah pacaran dalam bayangan saya sebelumnya. Pengalaman yang memberi saya banyak pelajaran dan tentunya aplikasi dari mata kuliah komunkasi interpersonal hehehe 😀

PACARAN itu bagi saya adalah miniatur kita dalam berumah tangga. Namun dalam pacaran hanya sebatas mengenal pribadi pacar kita bukan mengenal tubuh pacar kita. Pacaran itu  miniatur rumah tangga dalam hal yang masih sangat sederhana belum banyak masalah yang muncul karena hanya melibatkan kita dan pacar kita. Hanya 2 orang. Kalau pacaran saja rumit seperti ini bagaimana dengan menikah dan berumah tangga dengan pasangan kita? Tentunya tidak serumit pacaran. Lho kok bisa? Karena kita masing-masing berhak atas pasangan kita begitupun sebaliknya. Sedangkan kalau pacaran kita sebenarnya tidak punya hak apa-apa. Jadi tidak seharusnya kita menuntut terlalu banyak kepada pacar kita begitupun sebaliknya.

Semoga ini pacaran yang terakhir bagi saya dan bagi dia. Semoga hubungan ini bisa sampai pada hubungan yang legal baik secara agama maupun negara. Dan segala keruwetan dan ke-kangen-nan cepat hilang. Pacaran juga membawa dampak baik bagi kesehatan mental dan fisik 😀

Kuliah jadi makin rajin karena saya gak mau malu kalau dapat nilai jelek. Bakalan dikatain abis-abisan sama dia. Pokoknya kita rival abis kalau masalah kuliah walaupun kami kuliah dijurusan yang berbeda. Pernah , semester lalu saya mendapat nilai C+  disalah satu mata kuliah tersulit saat itu, karena dia selalu nge-cek nilai saya akhirnya di”semprot” abis-abisan karena Cuma dapat nilai C. Padahal dikelas juga Cuma 2 Orang yang dapat nilai B haha bener-bener jeblok mata kuliah itu. Dan karena gak mau malu akhirnya semester  ini tidak ada nilai C lagi. hehe.

Itu hanya beberapa hal positif selama pacaran. Negatifnya juga banyak. Salah satunya jadi sering ngambek dan manja. Yapps…itulah pengalaman saya selama satu tahun pacaran dengan orang yang terbaik bagi saya untuk SAAT INI.

Terimakasih Mas …

Dan semoga kita cepat bertemu 🙂