Luka yang Mendewasakan.

Buku Berdamai dengan Patah Hati, 90% saya tulis berdasarkan kisah nyata. Kisah cinta saya sendiri. Saya mengalami sendiri jatuh bangunnya patah hati lalu berusaha bangkit untuk menata hidup kembali.

Benarlah kata pepatah : “Orang yang paling bisa menyakiti kita adalah orang yang paling kita cintai”.

Begitu juga yang saya alami. Mantan (yang ada dibuku Berdamai dengan Patah Hati), adalah orang yang sangat saya cintai kala itu. Dia adalah manifestasi doa-doa saya selama ini. Dia sosok yang selama ini ada dalam imajinasi saya. tapi apa yang terjadi pada akhirnya?. Dia meninggalkan saya dan menikah dengan wanita lain. Wanita yang saat kita bersama dulu, pernah menjadi “pemicu” pertengkaran kami.

Sakit? Tentu saja. Tidak terhitung berapa kali saya menangisinya. Dia janji setelah lulus S2 akan kembali, untuk itu aku terus menunggunya kembali. Dia memang kembali, tapi untuk memberi kabar bahwa dia telah bersama yang lainnya.

“Mbakk Desii , sebentar lagi dia akan menikah. Bagaimana mba, aku harus gimana? Aku gak sanggup mbak. Aku Sedih”.

Seorang teman online mengirim pesan , kebetulan saya pernah berjumpa dengannya di Surabaya. I was there. Saya sangat paham bagaimana rasanya ditinggal menikah oleh orang yangs sangat kita cintai. Jujur, kadang saya bingung harus memberikan saran apa untuk mereka yang curhat tentang sakit hatinya. Sebanyak apapun nasehat atau bahkan dalil sekalipun tidak akan berdampak apapun bagi orang yang patah hati.

Saat patah hati seseorang memang menginginkan untuk “ditemani”, dikasih nasehat atau yang lainnya. Padahal sebenarnya yang mereka butuhkan hanyalah DIAM. Saya sendiripun ketika sedang terluka, selalu ingin diperhatikan tapi ketika diperhatikan diberi nasehat kadang saya tidak menerimanya, bahkan pernah marah hahaha.

“Suatu hari kamu akan paham bahwa diam adalah adalah pilihan terbaik”

Nikmatilah rasa sakitmu. Merasakan sakit adalah tanda bahwa kamu masih manusia.

Lalu apa yang harus kita lakukan ketika patah hati?

Dulu, ketika ada sesuatu yang sangat menyakitkan terjadi saya memilih untuk pergi. Saya adalah tipe orang yang sebisa mungkin menghindari konflik, termasuk konflik dengan diri sendiri. Saya pasti langsung pergi ketempat-tempat yang saya sukai.

Apakah pergi bisa menyelesaikan masalah?

Memang hati menjadi sedikit tenang, tapi masalah tetap masalah. Bukankah ketika kaki kita terluka, terkena pisau misalnya kita ga boleh banyak gerak? Karena kalau banyak gerak, bisa jadi luka yang semula udah mau tertutup jadi terbuka lagi. Robek. Begitu juga dengan luka batin. Tidak ada cara lain kecuali diobati.

Dan percayalah waktu adalah obat terbaik. 

Things to do, saat kamu patah hati atau sedang mengalami kondisi yang “menakutkan” untuk hati dan jiwamu.

1.Menangislah

Kakimu masih menampak di lantai kan? Kamu manusia bukan dewa bukan pula malaikat. Menangislah. Tidak usah sok kuat, jangan melawan gravitasi. Kalau memang terasa begitu pedih menangislah. Sepuasmu, sebisamu, sampai kamu capek.

2. Me Time

Ada satu hari, saya membiarkan diri saya menangis, saya memberi kebebasan untuk diri saya. Mau nonton youtube atau mau makan sepuasnya monggo. Tidak berdosa.

3. Refleksi Diri

Salah satu berkah patah hati yang saya rasakan adalah hidup saya semakin dewasa. Kita seringkali tumbuh dewasa karena sayatan luka. Dan itu yang terjadi sama saya, saya tumbuh menjadi seperti sekarang karena banyaknya luka yang pernah saya rasakan. Luka yang dulu saya tangisi hampir setiap hari, sekarang menjadi sesuatu yang amat saya syukuri.

Turning poin dalam hidup saya seringkali diawali dengan patah hati.

Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja. Kamu bisa melewati semuanya dengan baik. Mungkin dalam prosesnya kamu menangis, kamu merasa sangat tidak berguna. Tidak apa-apa, luka itu akan mendewasakanmu.

Selamat pagi, hati yang sedang terluka. Semoga Allah merahmati setiap hati yang tulus mencintai namun dikecewakan :))

 

#SuperRandomPost : Curhat!

happy-child-girl-and-butterfly-wallpaper-768x480
gambar diambil dari sini ya (disini)

Sebelumnya saya kasih tau dulu ya, kalau tulisan ini adalah tulisan random yang mengandung sedikit curhat. Maafkan kalau ternyata tulisannya jadi sedikit menye-menye. Oke, baiklah berhubung ini tahun baru, mari kita flashback sedikit semoga yang kurang dan yang salah ditahun kemarin bisa diperbaiki tahun ini. Akhir tahun yang ditandai dengan datangnya bulan muharam, menjadi pertanda pula habisnya masa “mbecek” yang bertubi-tubi selama bulan dzulhijjah/ september kemarin. Undangan datang dari berbagai penjuru, mulai dari teman TK, teman SD, teman SMP, teman SMA hingga teman main.

Jujur, terselip rasa iri dalam hati melihat teman-teman sebaya telah menemukan pasangan hidupnya. Mereka kini telah memiliki dua sayap untuk terbang menuju surga-Nya. Sedangkan saya, masih saja sibuk dengan hal-hal yang jauh dari pelaminan. Sejak hubungan saya berakhir, hingga kini saya memang tak menjalin hubungan dengan siapapun lagi. Bukan. Bukannya saya belum move-on tapi saya telah berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak menyia-nyiakan hidup saya yang singkat ini untuk sebuah hubungan yang belum pasti akan berakhir dipelaminan.

“People change for two reason, either their minds have been opened or their heart have been broken” – Steven Aitchison

Benar kalau ada pepatah yang mengatakan demikian. I’ve learned a lot from my broken heart. Dua tahun lalu ketika saya diputuskan olehnya, dunia saya terasa begitu gelap. Dua setengah tahun bersamanya lalu berpisah tanpa alasan yang jelas, itu sakit pemirsa haha. Celakanya saya adalah tipe orang yang nggak gampang jatuh hati pada seseorang, tapi giliran udah jatuh maka saya akan menjatuhkannya sejatuh-jatuhnya. Jangan ditanya lagi deh ya, gimana kacaunya saya setelah ditinggalkannya. Tapi beruntung sekali hati dan badan saya ini buatannya Allah, coba kalau buatan Ch*na pasti sudah pretel dan jadi butiran debu haha.

Waktu itu saya terus menyalahkan diri saya sendiri kenapa sampai hubungannya saya berakhir gitu aja. Ada rasa nggak terima gitu, ditinggal gitu aja. Berbagai upaya saya lakukan untuk bisa kembali, tiap hari berdoa pada Tuhan. Bahkan saya bisa lupa berdoa untuk diri saya sendiri, tapi namanya tidak pernah absen dalam setiap doa saya pada Tuhan. Lalu satu tahun berikutnya Tuhan menjawab doa saya, dan mempertemukan saya kembali dengannya. Amazing, doa saya dikabulkan oleh Tuhan dan malam itu, di Surabaya menjadi akhir dari semuanya. Secara rasional emang ngga masuk akal, saya yang tiap hari berdoa untuknya, saya yang tiap hari meminta pada Tuhan untuk mengembalikan dia, tapi malam itu saya benar-benar malas melihat wajahnya. Tuhan membuka semuanya, dan berpisah dengannya adalah jalan terbaik dari Tuhan.

Waiiiittt, ini kenapa tulisannya curhatt habiisss. Ini kenapa jadi menye-menye bangettt haha. Yaudah , nggak apa-apa mungkin ini saatnya untuk mulai jujur pada diri sendiri, mulai mencintai diri sendiri, dan mari menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Patah hati telah membuat pikiran saya terbuka dengan hal-hal baru. Sudah satu tahun ini, masalah cinta-cintaan bukan menjadi prioritas saya. Tapi pernah sih dulu abis putus ngebeet banget pengen nikaah. Ya kali, nikah dijadiin pelarian dari patah hati dikira nikah itu gampang haha.

“ Sebelum ada dia , kamu bisa hidup bahagia kan? Seharusnya sekarang tanpa dia kamu juga bisa hidup bahagia” – Heni Ariasih –

Kata-kata yang diucapkan oleh teman saya itu membuat saya berpikir, iya yaa ngapain juga menghabiskan waktu dan tenaga untuknya, ngapain juga hidup dalam bayang-bayang masa lalu. I’ve changed. Sesuatu yang dulu saya tangisi kini menjadi sesuatu yang amat saya syukuri. Saya belajar bagaimana memaafkan orang lain, saya belajar banyak hal baru. Beruntung, dalam masa patah hati itu saya dipertemukan dengan banyak orang yang membuka perspektif baru, orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, iman yang berbeda, budaya yang berbeda, status ekonomi sosial yang berbeda. Dan semua itu menjadikan saya manusia yang “kaya”.

Baiklah , tulisan ini sudah begitu panjang dan full curhat haha. Tapi lega banget rasanya. Jujur baru kali ini saya berani nulis diblog dengan segamblang, sejelas, sefrontal ini tentang cerita patah hati yang menye-menye ini. You should appreciate it, butuh waktu dua tahun lho buat bisa nulis beginian hahaha.  Nah, tahun baru ini pas banget momennya, moment untuk suatu perubahan. Salah satu resolusi saya ditahun baru ini adalah menjadi manusia yang bahagia. Nah itu menjadi bahagia, penyakit-penyakit dalam jiwa raga ini harus dihilangkan. NOL. Saya ingin memulai semuanya dari NOL, saya ingin menata hidup saya yang berantakan ini hihi. Mengurangi pemakaian gadget, perbanyak baca buku, live in a real life . Anw, selamat tahun baru yaa, terimakasih telah membaca curhatan saya yang panjang dan menye-menye ini. Semoga kesuksesan yang berkah dan barokah menyertai kita tahun ini.

 

PS : Dear mantan, thank you for giving me a chance to find someone better than you 🙂

 

Hai, Pemilik Hati yang Patah!

hk 

Dalam kesendirian , kian lama kurasakan sebuah ungkapan lama. Betapa nilai seseorang sangat terasa justru ketika dia tiada. Dan ketiadaanmu memberikan petunjuk yang amat nyata. Betapa rapuh jiwaku dalam kesendirian, dan betapa utuh dalam kebersamaan denganmu. Hanya ada satu kata yang dapat mengungkapkannya, yaitu cinta. Kurasa telah tiba saatnya aku bercerita. Kenapa karena cinta itu aku semakin menjauh darimu. Maaf kalau semua tidak berjalan seperti yang kita mau. Kadang kita berharap Tuhan akan menunjuk jalan kita dan membuka sedikit tabir rahasiaNya.

 –Puisi Lama, Ungu Violet –

            Pernahkah kamu merasakan rasa yang begitu sesak , rasanya mau bernapas saja susah?.  Pernahkan kamu merasakan sesuatu yang kamu sendiri sulit mendefinisikan perasaan apa itu?.  Putus cinta apapun alasannya tidak akan pernah berakhir menyenangkan, sekalipun diakhiri dengan baik-baik. But, life must go on. Hidup akan terus berjalan dengan ataupun tanpa dirinya. Pertanyaan yang paling sering diajukan setelahnya, entah itu dari sahabat ataupun dari diri sendiri “KAPAN BISA MOVE ON?”  *maaf capslocknya rusak* .

Padahal, sebuah studi yang dilakukan oleh Capital One orang yang baru putus cinta setidaknya membutuhkan waktu satu bulan untuk setiap tahun yang dilewati bersama. Semakin lama bersama maka semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk move on. Waktu kerap kali disebut sebagai obat terbaik sakit hati. Jatuh cinta lalu putus adalah hal jamak terjadi dikalangan anak-anak muda. Jatuh cinta, berpacaran,  lalu putus cinta, bukankah itu sesuatu yang wajar sebagai anak muda?.

Hari-hari menyedihkan dalam hidup itu akan segera berlalu. Jalani dan nikmati detik demi detik dalam hidup dengan rasa syukur. Bersyukur karena Tuhan telah memberikan kesempatan untuk berbuat baik pada sesama. Mengejar cita-cita yang sempat sengaja dikubur, dan kembali menata life mapping yang sempat berubah karenanya. Pertemuan dengan orang-orang baru sedikit banyak akan merubah pola berpikir. Bahkan nilai-nilai kehidupan yang sebelumnya dianut juga mengalami perubahan. Cara berpikir dan cara pandang terhadap suatu masalah juga ikutan berubah. Adakah hubungannya patah hati dengan perubahan hidup?.

“Sebaik apapun perpisahan, sesungguhnya itu tetaplah menyedihkan”

Meskipun sama-sama telah sepakat untuk berpisah tapi tetap saja ada hati yang tersakiti. Apa maaf saja cukup? Tidak. Karena maaf tidak akan merubah apapun yang telah terjadi. Maaf hanya ungkapan rasa bersalah yang  datang dari diri sendiri. Meskipun maaf tidak mampu merubah apapun, tapi setidaknya dengan maaf hati akan terasa lebih lapang. Bila hati lapang maka untuk melanjutkan hidup paska patah hati akan terasa lebih mudah. Semuanya hanya soal waktu. Percayalah waktu akan membuat semuanya baik-baik saja. Jangan berlama-lama patah hati, iya kalau patah hati bisa menghasilkan karya seperti Adelle atau Taylor Swift mah gak apa-apa haha. Nah kalau patah hati cuma dapat galau aja , ya mending sana gantung diri dipohon toge 😀 .

Untukmu, yang sedang patah hati. Tersenyumlah , karena Tuhammu tidak akan membiarkanmu terus berada pada cinta yang salah – Desiani Yudha –