Cerita dari Lirboyo #2

P60620-212507-001
setelah sowan ndalem , foto dulu dong sama ustadzah nya 😀

Tiga hari menjadi santri dadakan benar-benar saya nikmati. Saya banyak belajar tentang banyak hal. Biasanya setiap malam setelah taraweh, kami ngaji kitab Arbain annawiyah yang dibacakan oleh Pak Ustadz. Dan 16 ramadhan yang lalu, adalah hari terakhir kitab itu dibacakan dan dimaknai. Rasanya kurang dan pengen ngaji lebih banyak lagi. Tapi namanya juga pesantren kilat jadi terbatas waktu. Pondok masih saja ramai walaupun sudah menujukkan pukul 12 malam. Mbak-mbak pondok induk masih sibuk Ro’an setelah acara peringatan nuzunul Quran. Saya masih belum bisa percaya kalau malam itu saya berada ditengah-tengah mereka. Saya dan teman-teman bahkan nyaris tidak tidur karena malam itu mata kami masih bening-bening. Nggak ngantuk hehe.

Hari terakhir pesantren kilat ditutup dengan acara pentas seni yang dimainkan oleh adik-adik santri kecil. Saya baru tahu ternyata mbak-mbak santri yang 24 jam hidupnya hanya dipondok punya kreativitas yang tinggi. Saya? Kalah jauh lah. Mereka bisa mendesain baju layaknya desainer hanya dengan menggunakan bahan seadanya. Bahkan baju dari plastik pun jadi. Pesantren kilat yang dimulai dari tanggal 3 ramadhan berakhir sudah pada tanggal 17 ramadhan kemarin. Rasanya engga rela banget, dan masih pengen ngaji hehe. Pentas seni sekaligus acara penutupan berakhir sekitar jam setengah 12 malam. Bagi yang kecil-kecil langsung disuruh tidur (meskipun kenyataannya mereka juga nggak tidur dan malah rame), sedangkan yang mbak-mbak diajak sowan ke ndalem. Sowan ndalem lagi? Bahagianya aku.

P60622-222401
After show! Meskipun dipondok kreativitas nggak boleh mati dong ya 😀

Begitu keluar , saya kaget ternyata diluar sudah ada banyak mbak-mbak santri asli. Dan gerbang P3TQ yang biasanya tidak pernah terbuka lebar malam itu terbuka lebar. Ada apa ini? Bukankah keluar pondok itu nggak boleh, apalagi ini sudah malam?. Tapi ini mbak-mbaknya malah kayak nyantai gitu duduk didepan. Ini ada acara apa? Setelah saya tanyakan ke Ustadzah ternyata mbak-mbak santri ini juga mau sowan ndalem. Malam itu Bu Nyai mau tindak umroh. Jadi semua santri pengen hormat ke Bu Nyai. Semua santri keluar dari “sarangnya” malam itu. Saya yang Cuma santri kilat ini, sedikit canggung berada ditengah-tengah mbak-mbak santri asliiii ini hehe :D.

Kami berdiri berjejer didekat ndalem, menunggu Bu Nyai keluar. Diluar ndalem mobil yang akan mengantar Bu Nyai sudah siap dan tampak kesibukan didalam rumah. Terlihat ning Ima dan mbak-mbak santri ndalem yang turut sibuk riwa-riwi. Begitu Bu Nyai keluar kami dipersilahkan untuk maju dan duduk didekat Bu Nyai. Tentu saya sedikit rebutan, karena malam itu banyak santri yang juga ingin mendapatkan posisi duduk sedekat mungkin dengan Bu Nyai. Saya? Yang hanya santri kilatan ini, entah bagiamana cerita bisa mendapatkan tempat duduk yang dekat dengan Bu Nyai. Sepertinya saya punya ilmu slidat-slidut yang bisa menyelinap menembus kerumunan mbak-mbak santri. Atau mungkin ini adalah berkah manusia berbadan kecil jadi bisa mbrobos sana sini hehe :D.

Lagi-lagi ketika baru saja duduk badan saya gemetar. Kami semua duduk dengan tenang diteras ndalem. Tidak banyak suara dan kami hanya duduk menunduk mendengarkan Bu Nyai. Lagi-lagi mata saya basah dan dada saya sesak dengan rasa aneh yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

“Ya allah engkau lah yang menuntunku kesini. Sungguh ini luar biasa”.

Sepertinya malam itu tidak hanya saya yang menangis, karena saya lihat matanya mbak-mabak yang lain juga berlimang air mata yang coba mereka tahan. Karena sudah malam Bu Nyai menyuruh kami untuk kembali kepondok.

“Pun dalu. Mbak-mbak balik pondok mawon. Acara pondok kan katah, monggo balik pondok mawon. Tadarus nopo ngaji liyane. Sholat malam e pun lali”.

Rasanya saya nggak rela beranjak dari tempat duduk saya sebelum Bu Nyai masuk mobil dan berangkat ke Surabaya. Tapi bagaimana lagi, sudah dawuh e Bu Nyai ngoten. Jadi kami pelan-pelan mundur dan mau balik pondok. Tapi baru saja mau mundur, tiba-tiba ada mobil hitam datang dan disusul suara dari gus “Oh, lha niki sampun dugi”. Ternyata itu adalah orang yang sedari dulu ditunggu oleh rombongan Bu Nyai. Kami tidak jadi balik pondok dan Bu Nyai pun tersenyum. Bu Nyai lalu masuk mobil, dan semua santri kompak balik badan menghormati melihat ke arah mobil Bu Nyai.

Ketika kang santri mengumandangkan adzan, saya tidak mampu membendung air mata begitu juga mbak-mbak santri yang lain. Acara malam itu begitu khidmat dan ditutup oleh doa. Perlahan mobil Bu Nyai bergerak meninggalkan pondok, sedangkan kami masih tetap berdiri terpaku melihatnya. Masyaallah. Kami lalu kembali kepondok dengan sisa-sisa air mata yang ada dimata kami.

“ nyapo nangis?” tanya ustadzah.

“engga tau ust. Tiba-tiba nangis aja”

Ustadzah hanya tertawa melihat kami yang santri dadakan ini menangis.

“ baguslah. Kalian menangis tandanya kalian masih punya hati. Hati kalian masih hidup”.

Ah..tiga hari tidur dipondok ini benar-benar membuka mata dan hati saya. Ini sekaligus menjawab pertanyaan saya kenapa santri kalau bertemu Kyai nya selalu menunduk. Ini adalah bentuk takdzim nya satri pada Kyai nya. Atau mungkin mereka tidak sanggup menahan air mata ketika menatap wajah teduh Kyai. Ketika lewat depan pondok induk , saya sering tiba-tiba kaget karena dipinggir jalan banyak santri yang berdiri sambil menunduk. Ditangan mereka ada sajadah dan kitab. Ini santri pada ngapain sih?

Lirboyo POJOK
Jalan ini yang setiap hari saya lewati. Dijalan ini pula saya sering bertemu dengan Mbah Yai ataupun Gus dan Ning 🙂 

Ternyata tidak lama setelah itu ada seseorang yang lewat dengan dibonceng motor oleh kang santri. Orang itu tidak lain adalah Mbah Yai. Entah baru akan berangkat ngajar ngaji atau sepulang dari ngaji. Oh, jadi ini alasannya kenapa daritadi santri berdiri menunduk dan membuat saya yang lewat merasa awkward banget. Mau bagaimana lagi? Itu jalan umum. Anggap saja itu berkah bisa sering bertemu Mbah Kyai dijalan hehe. Berkah juga karena bisa sering bertemu ning dan gus dijalan. Lha mau gimana lagi rumahnya mepet pondok hehe.

Tapi agak miris juga sih, rumahnya deket sama pondok pesantren yang punya santri puluhan ribu tapi nggak pernah merasakan mondok. Semoga saja, suatu saat ada kesempatan untuk menjadi santri. Santri asli bukan santri dadakan atau santri kilatan hehe :D.

Ramadhan Kareem. Sampai jumpa di pesantren kilat tahun depan. Insyallah 🙂

Jatuh Bangun Belajar Berjilbab

Hello..

Berhubung saya lagi lagi nggak ada kerjaan *lari dari tugas 😛 *, plus gak ada kuliah dan saat ini posisi saya sedang ada di toko (sepi pembeli) daripada mati gaya saya akhirnya nulis :D. Ehmm.. tapi mau nulis apa ya? Hehe. Berhubung sebentar lagi mau masuk bulan Ramadhan , saya pengen nulis tentang jilbab. Nah apa hubungannya jilbab sama puasa? Entahlah hehe…

Oke..saya akan cerita saja ya kalau begitu tentang pengalaman ‘jatuh bangun’ saya saat memutuskan memakai jilbab seterusnya saat pulang dari Singapura bulan Februari lalu. Dan semoga bisa memberikan manfaat bagi saya maupun yang baca tulisan ini. Bagi seorang yang alim dan sholehah tentu untuk memakai jilbab bukanlah hal sulit.  Bagi mereka yang sejak kecil “kenal”  agama maka akan sangat mudah bagi mereka untuk menjalakan perintah Allah.  Tapi bagi saya, memakai jilbab terus-menerus bukanlah hal mudah, jangankan jilbab syar’i lha wong pakai jilbab aja masih “buka tutup”. Alhamdulilah dari bulan februari kemarin saya kemana-kemana sudah belajar memakai jilbab, tidak hanya kuliah tapi dimanapun (kecuali dirumah). Cukup menantang juga ternyata :D.

“hello.. jilbab bukan patokan orang itu baik atau enggak”

“hello.. jangan sok alim deh. Sholat aja masih semrawut gitu”

Iya juga sih, saya memang baru belajar memakai jilbab tidak hanya sebagai penutup kepala tapi juga sebagai penutup hati.  Sebenarnya keinginan berjilbab sudah ada sejak saya masih SMA, tapi ternyata niat saya masih kalah sama kesukaan saya terhadap bando/bandana hihii. Saya hobi sekali mengoleksi bando (dulu banyak banget dengan berbagai macam model) , dan rasanya dandanan saya gak lengkap kalau belum ada bando dikepala saya hehe.

Orang hidup itu pasti ada saatnya diatas dan ada saatnya dibawah (sampek nyungsep :D) , Nah pas lulus SMA itulah titik balik hidup saya. Saat itulah pikiran saya sudah semakin dewasa , dan keadaan juga yang membuat saya sadar. Sadar kalau ternyata hidup itu nggak cuma makan, tidur, kentut dan main seenaknya. Disaat terpuruk itulah saya merasa bahwa ada suatu kekuatan besar yang menolong saya dan menguatkan saya. Hidup di lingkungan asing, jauh dari rumah, dan benar saja kalau ibu kota lebih jahat dari ibu tiri. That’s True!! Saya rasakan benar itu selama kurang lebih 7 bulan saya mencoba bertahan hidup di Ibu Kota.

Singkat cerita, sekitar empat tahun lalu (2010) saya mulai untuk pertama kalinya memakai jilbab saat keluar rumah dan itu tidak sedang ada acara pengajian lho ya. Itu murni saya pakai jilbab meskipun lagi nggak ada acara. Pertama pakai kesannya aneh, dan nggak nyaman. Ada perasaan malu juga. Dijakarta jugalah saya mulai belajar sholat full 5 waktu. Hehe biasanya masih bolong-bolong kadang sholat kadang enggak. Awal tahun 2011, saya memutuskan kembali ke Kediri, sudah cukup uji nyali nya, udah cukup melarikan dirinya, udah cukup puas jadi pengangguran, dan udah cukup “kuliah kehidupannya”. Tahun 2011 saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah walaupun hanya univ. Swasta di Kediri. Tapi sungguh ALLAH maha adil, saya bisa masuk universitas Negeri dijurusan yang saya impikan yaitu Ilmu Komunikasi UB.

Oke.. balik lagi ke jilbab. Awal-awal balik ke Kediri dan pakai jilbab rasanya aneh. Apalagi keluarga dan lingkungan nggak ngedukung. Saya ingat dulu, kalau mau pakai jilbab harus diam-diam. Saya selalu memasukkan jilbab instan didalam tas saya, dari rumah nggak pakai jilbab trus ntar pas dijalan (nyari jalan sepi) trus pakai jilbab. Bukan apa-apa sih, hanya saja saya malas untuk berdebat. Selain itu saya belum merasa pantas mengenakannya.

“Kamu cantik dengan rambut panjangmu yang lurus, trus pakai bando. Gaul gitu”

“Mau nglurusin rambut lagi ta? Ini tak kasih uang”

Hihii… lucu ya. Dulu tiap kali mau nglurusin rambut ke salon harus merengek-rengek dulu baru dikasih duit. Nahh.. pas memutuskan pakai jilbab , malah dikasih duit Cuma-Cuma buat nglurusin rambut. Ckkck.. rambutku lurus karena hasil rebonding, terihat cantik karena selalu memaki baju yang lagi happening, pokoknya keliatan cantik deh dimata manusia. Kelihatannya aja lho yaa, aslinya enggak sama sekali hehe. Pas masuk kuliah tahun 2011 saya mulai lebh sering pakai jilbab, ingat lho ya sering bukan seterusnya. “Buka-tutup” Jilbab gitu deh, kalau kuliah, kalau jalan bareng temen-temen pakai jilbab, tapi kalau dirumah , kalau pergi nggak sama temen-temen balik lagi deh ke jaman jahiliyah.

Nah.. baru tahun 2013 kemarin saya mulai belajar pakai jilbab full. Gak peduli lagi omongan orang, omongan saudara, dkk. Tahun itu juga saya kehilangan kakak saya, dan itu membuat saya sadar. Gimana ya kalau tiba-tiba maut datang kepada saya, tapi saya belum sempat berbuat baik, saya belum mematuhi perintah ALLAH. Ahhh tidaaakkk!!! Memakai jilbab juga bukan berarti merubah saya layaknya bidadari yang cantik. Banyak sekali kekurangan yang masih tercecer dimana-mana. Banyak sekali yang harus saya pelajari lagi. Sampai dengan saat ini saya masih bertahan dengan jilbab ala kadarnya saya, celana jins dan kaos.

Saya tidak ingin muluk-muluk atau sok alim, tapi jujur jilbab ala kadarnya saya ini membuat saya semakin mengenal agama saya. Malu kan ya, kalau udah berjilbab tapi nggak sholat hehe. Malu kan ya berjilbab tapi nggak tau ilmu agama sama sekali. Dalam hidup saya yang minim agama, minim nasehat juga minim pengetahuan saya mencoba utuk belajar sendiri. Belajar dari buku, dari internet, dari TV dan dari mana saja. Sungguh beruntung sekali mereka yang lahir di keluarga alim, taat dan utuh. Tapi bukan hidup namanya kalau nggak ada ujiannya.

“Belajar agama bagi mereka yang dekat dengan lingkungan agama sangat mudah, sangat mudah bagi mereka untuk menjalankan ajaran agama. Tapi bagi orang awam yang tidak tahu apa-apa maka belajar agama itu luar biasa” –Status teman di facebook-

Ehmm… apa benar begitu? Entahlah saya sendiri tidak paham. Satu hal yang pasti , dan saya yakini sampai saat ini bahwa hidup itu tidak hanya makan, tidur dan kentut. Hidup harus punya nilai-nilai yang membawa manfaat. Dengan mengenal lebih jauh agama dan Tuhan hidup ini nggak kering, hidup ini nggak hampa dan hati rasanya adem ayem hehe :D. Entah dari mana saya dapat pemikiran sok nggaya ini , yang pasti hidup saya lebih bermakna saat saya mendekat pada ALLAH.

Iseng-iseng saya pernah mencoba menguji kebenaran tentang apa yang ada di ajaran agama saya. TUHAN itu ada nggak sih, mana pengen lihat keajaibanNYA? Saat memutuskan untuk solo backpacking di Singapura dan Malaysia (oiya belum sempat ngelanjutin tulisan tentang backpacker, hehe nyusul ya! *ga penting banget sih 😀 ) beberapa waktu yang lalu, saya benar-benar  takjub sama kekuasaan ALLAH, pokoknya ALLAH IS THE BEST lah. Sungguh ALLAH itu maha dekat ternyata, sayangnya saya aja yang kadang malah menjauh dariNYA. Jauh banget ya nyari hidayahnya sampai ke Singapura? Hehe..

Pokoknya sekarang saya pengen belajar jadi manusia yang lebih baik. Lebih baik dari segala hal. Baik hubungan vertikal (dengan Tuhan) maupun horizontal (sesama makhluk Tuhan). Tulisan ini murni  untuk saya sendiri , sebagai pengingat saya. Tapi kalau ada yang baca trus memberi manfaat ya alhamdulilah. Oiya.. sapa tahu juga ada yang baca, trus bersedia jadi mentor , jadi guru buat saya supaya menjadi orang yang lebih baik lagi saya akan sangat senang hehe 😀 . Udah ah.. jadi berasa mamah dedeh yang lagi ngasih tausiyah, kalau ngomongin tentang ini. Biarlah saya belajar , belajar dan belajar untuk menjadi lebih baik. Sekarang saya memang masih pakai jilbab ala kadarnya , tapi siapa tahu tiba-tiba saya dapat hidayah dari ALLAH trus berpakaian syar’i kayak OKI SETIANA DEWI (artis favorit saya ini :D). Who knows … !!

“Jangan Tuduh Saya Telah Baik Karena Memakai Jilbab, Tapi Jangan Pula Anggap Saya Tidak Lebih Baik Karena Belum Berjilbab. Tapi Pandanglah Saya Sebagai Seorang Yang Sedang Belajar Dan Masih Perlu Bimbingan”

 -SEMOGA ISTIQOMAH- 

 

 

Marhaban Ya Ramadhan

 

Tidak terasa beberapa hari lagi seluruh umat islam akan menjalankan ibadah puasa ramadhan. Semua orang bersuka cita menyambut bulan yang penuh berkah dan penuh ampunan ini.  Waktu berjalan dengan begitu cepat, rasanya baru kemarin saya menjalankan ibadah puasa dan merayakan hari raya idul fitri tapi sekarang sudah mau puasa lagi.  hayoo..yang punya hutang puasa sudah dibayar apa belum? Hehe.

Ramadhan adalah bulan yang selalu saya rindukan. Karena didalam setiap bulan ramadhan terdapat kenikmatan tersendiri saat menjalankan ibadah. Rasanya begitu menyenangkan dan membuat kangen. Moment sahur dan buka bersama keluarga menjadi hal yang selalu saya rindukan. If people asked me what was a greatfull moment? I’m gonna said Ramadhan is the greatest moment J

Ada satu kejadian yang membuat saya merasa malu sekali dalam hati. Ya ALLAH, terimasih atas “teguran indah-Mu” ini. Jadi ceritanya kemarin itu sabtu-minggu 6-7 juli saya berkesempatan camp english di kampung inggris pare tepatnya di DEC jalan flamboyan no. 9 tulungrejo pare. Saya dan salah satu teman sekelas saya dan 3 orang teman dari jurusan keperawatan tidur dalam atu kamar. Ini pengalaman pertama saya tidur beramai-ramai dalam satu kamar dan tidurnya harus dempet-dempetan. Pengalaman yang sangat seru dan saya rasanya ketagihan pengen nge-camp lagi 😀

Walaupun Cuma semalam tapi banyak pelajaran berharga yang tidak mungkin saya dapatkan disekolah ataupun kampus manapun. Sebuh pelajaran tentang kepatuhan kepada sang pencipta. Kebetulan ketiga teman saya itu anggota kerohanian islam kampus, sedangkan saya dan anik (temen sekelas) hanya seorang “berandalan” yang mencoba untuk tobat. Sebenarnya yang nge-camp bukan hanya kami berlima tapi ada dua cowok yang juga ikut kami. Setelah section pertama kami ngobrol-ngobrol dulu sama tentor sampai jam 11 malam.  Yeaay… saya bisa melek sampai jam segitu *prookprook. Dari obrolan itulah saya merasa “kecil” dan “hina” banget. Ternyata selama ini hidup saya masih datar-datar aja dan sama sekali belum memberi manfaat apapun untuk orang lain. dosa-dosa semakin tampak nyata didepan saya dan masyallah gara-gara obrolan itu sampai sekarang pikiran saya ga tenang karena ingat dosa-dosa dan kesalahan saya.

Karena sudah malam dan mungkin karena sudah capek tentor kami izin tidur dulu. Sebenarnya kami berencana untuk lanjut “cangkruk” sampai malam. Bahkan Alfun sudah menyiapkan camilan, tapi karena Esa udah 5 watt matanya jadilah kami berlima para “wonder women” ini pamit ke kamar untuk tidur.

Kami baru tidur hampir jam 1an. Walaupun berdesakan tapi lumayan seru. Hehe. Malem-malem gitu Esa dan Putri bangun, saya mengira itu udah subuh jadi saya cuek aja. Ternyata itu masih jam 3an hampir setengah 4an. Mereka berdua berisik nyalain air di kamar mandi , mumpung mereka udah bangun saya cepet-cepet ke kamar mandi buat pi**s. Setelah itu saya balik kekamar, dan langsung balik peluk bantal dan tidur dikasur yang empuk. Betapa kagetnya saya, ternyata Esa dan Putri sholat tahajut didekat kasur yang saya buat tidu. #makjleeeeppp malu banget rasanya, saya hanya diam melihat mereka sholat sambil terus pura-pura tidur.

Abis sholat mereka belajar tentang materi yang semalam disampaiin sama tentor. Saya dengar mereka berdiskusi lirih karena takut mengganggu kami yang masih tidur. Pas udah subuh mereka mengajak sholat berjamaah di masjid dekat camp. Ya udah saya Cuma ngikut. Setelah sholat selesai, dan berdoa sebentar saya berdiri dan hendak melepas mukena saya, tapi urung karena saya liat mereka bertiga berdiri dan mengambil AL-QURAN lalu kembali duduk dan membaca AL-QURAN dengan khusyuk.

Saya hanya diam, dan lagi-lagi merasa malu dan hina dina. Semoga ini teguran dari ALLAH agar saya selalu ingat untuk membaca AL-QURAN. Karena gak mau malu, dan Cuma bengong  saya pun akhirnya ikut membaca AL-QURAN. Surat yang dibaca pun asal, pokonya baca sampai selesai satu surat di jus 30. Mau baca surat al-mulk juga ga nemu-nemu (dasar oon aja ga bisa baca al-quran dengan baik dan benar). Sempat minder dan malu karena walupun bisa baca al-quran tapi bacaan saya tidak sebagus mereka.

Semoga, kejadian-kejadian singkat tapi bermakna yang saya alami selama dua hari camp di Pare bisa memberikan “warning” bagi saya dalam bertindak. Bahwa sholat saja tidak cukup, sholat yang bukan hanya gerakan badan tapi sholat dengan hati. Serta beberapa amalan yang baik untuk dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan. Ramadhan kali harus lebih baik dari ramadhan tahun lalu. Amalan ibadah pun juga harus lebih baik. MARHABAN YA RAMADHAN J semangat untuk terus menebar kebaikan.

 

Selamat Datang Ramadhan

Tak terasa sebentar lagi kita memasuki bulan suci ramadhan. Sudahkah kita menyiapkan datangnya bulan penuh berkah itu? Sebagai umat islam sudah selayaknya kita merasa bahagia dengan datangnya bulan yang penuh ampunan ini . hayoo…utang puasa tahun lalu sudah dibayar apa belum? Hohohoho. Alhamdulilah hutang saya sudah “lunas”  :p

Berbagai amalan sudah pasti disiapkan seluruh umat islam untuk mengisi bulan ramadhan. Mulai dari membaca al-quran, memperbanyak dzikir dan amalan-amalan yang lainnya. Bagi saya pribadi moment ramadhan bukan hanya sebagai suatu kewajiban, tapi juga satu jalan menuju kebaikan. Haa?? Mau baik kok nunggu puasa. Sebenarnya untuk menjadi baik gak harus nunggu ramadhan datang ko, tapi bisa kapan saja dan dimana saja. Lalu ?? bagi saya , ramadhan tahun ini merupakan ajang untuk “berubah” secara besar-besaran dan untuk tobat. Hehe.

Ramadhan tahun ini saya ingin menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnyabaik jasmani maupun rohani. Tapi lebih pada rohani yang saya tekankan. Begitu banyak dosa yang saya lakukan , sebagai manusia bisa saya tidak bisa lepas dari yang namanya dosa . untuk menjadi muslimah yang taat ternyata tidak gampang lho. Dikatakan taat bulan hanya menunaikan shalat lima waktu tapi banyak amalan yang lainnya.

Saya akui saya bukanlah seorang yang alim atau ahli ibadah, saya awam sekali tentang agama. Tapi saya hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik dimata Tuhan dan sesama. Ramadhan dua tahun lalu, 2010 tepatnya saya mendapat hidayah untuk mengenakan jilbab. Alhamdulilah saya berjilbab sekarang walaupn belum sempurna dan kadang masih tidak mengenakannya saat keluar rumah. Ramadhan tahun ini harus lebih baik dari tahun sebelumnya. HARUS …HARUS !!!!

Kalau tahun lalu shalatnya masih bolong-bolong dan ditunda, sekarang harus full dan segera shalat kalau mendengar adzan. Tarawih gak boleh males lagi dan menambah bacaan dzikir dan al-quran, syukur kalau khatam. J

Bismillah… awali ramadhan dengan kegembiraan dan penuh suka cita.

Raih kemenangan sejati 😀

 

(yedhesiany)