Self-talk : Reaksi atau Respon?

Ketika saya menulis ini, air mata saya baru saja kering. Sejak kemarin-kemarin hati ini terasa sesak, jenuh, pengap, mau ngapain aja nggak enak. Rasanya pengen marah, tapi nggak tau apa yang harus dimarahi, apa yang harus dikecewain? Nggak ada.

Baru saja saya mengahapus air mata yang menggenang sejak abis isya tadi, padahal tidak ada apa-apa yang terjadi. Tapi rasanya hati ini kayak sesak aja, rasanya jenuh wes pokoke nggak eunaaak. Sampe naudzubillah, sempat kepikiran “Allah kok gini banget ya..” , Ya Allah Ya Tuhanku, maafkan hambaMu yang amatiran ini.

“Janganlah kamu bersusah hati, sesungguhnya apa yang telah tertakdir pasti akan terjadi. Menetaplah pada pintu Allah, dan tinggalkan selain Allah (dari hatimu) ” – Diwan Imam Al- Hadad –

Sungguh , tidak ada yang bisa menolak kehendak Tuhan.

Anw, saya mau flashback. Dulu, ketika ada masalah seperti ini , saya pasti langsung nenteng tas backpack lalu pergi. Entah kemana, pokoknya pergi dari rumah aja. Saya harus mencari ketenangan, kesenangan, nggak peduli yang lainnya.

Apakah masalah selesai setelah saya pergi?

Tidak. Masalah tetap masalah. Hanya saja mungkin, saya “agak bisa tenang” dalam menghadapinya, tapi bukan berarti masalah selesai. Malah kadang-kadang justru muncul masalah baru.

“Masalah tetaplah masalah, sampai kapanpun juga akan tetap seperti itu. Respon kita yang akan menentukan akhir masalah itu”.

Teringat pidato CEO google, Sundar Pichai. Beliau menceritakan saat beliau ada di satu restoran, disana terjadi chaos karena ada kecoa yang terbang dan hinggap dibahu seorang wanita yang kebetulan sedang makan disana. Dia panik , menjerit-jerit karena kecoa itu hinggap di bahunya. Dengan panik dia akhirnya bisa mengusir kecoa itu, tapi sayangnya kecoa itu hinggap di bahu wanita lain yang kebetulan juga ada di restoran itu.

Restoran jadi chaos gara-gara kedua wanita itu bereaksi dengan sangat heboh. Namanya kecoa kan ya, jadinya dia suka terbang kesana kemari. Setelah hinggap di kedua wanita itu tadi, kecoa itu mendarat di baju seorang wanita yang kebetulan pelayan restoran itu. Tidak seperti kedua wanita tadi, wanita pekerja ini dengan tenang mengamati kecoa itu , lalu perlahan mengambil kecoa itu dari bajunya kemudian membuangnya keluar dari restoran.

Sundar Pichai yang menonton kejadian itu tadi, bertanya pada dirinya sendiri.

“Apakah kecoa itu tadi bertanggung jawab pada kejadian chaos direstoran itu tadi? Jika iya, kenapa wanita pelayan restoran itu tadi tidak bereaksi sama dengan kedua wanita sebelumnya?”

Bukan karena kecoanya, tapi karena respon yang diberikan itulah yang menentukan. Ketidakmampuan kedua wanita tadi dalam menghadapi kecoa itulah yang membuat suasana cafe jadi kacau.

So do I, dimasa lalu saya sama dengan kedua wanita itu tadi. Setiap ada masalah saya selalu bereaksi dan celakanya reaksi saya selalu “heboh” yang justru menciptakan chaos baru dalam hidup saya. Beberapa hari lalu, saya sudah berencana tenteng tas backpack lagi, saya mau pergi ke Surabaya atau ke Kudus sekalian. Pokoknya saya harus pergi. Eh, nggak ding, baru saja tadi habis isya saya udah kepikiran mau pergi ke Surabaya besok selasa.

Mau ngapain? Engga tau, yang penting pergi dulu. Sumpaah ya sumpeek banget.

Sambil menangis, saya lalu pergi ke kamar mandi. NANGISSS sebentar dikamar mandi dengan kran mengucur wkkww sinetronnn sekali hidup sayaah. Setelah itu, saya mengambil wudhu dan shalat dua rakaat. Saya menangis sejadi-jadinya, lalu istighfar sebanyak-banyaknya sampai hati saya tenang.

“Tidak ada yang salah. Tidak ada yang perlu ditangisi. Semua udah diatur sama Allah. Absyiruu.. Absyiruu.. Absyiruu. Berikan kabar gembira pada orang-orang yang menyerahkan dirinya pada Allah”.

Saya terluka, saya sakit, saya sedih. Tapi mau diapain lagi, selain yaudah dirasain. Di nikmati. Dan saya takjub sekali, karena hati saya bisa mendadak melunak, engga jadi mau pergi, hati yang tadinya sempit dan pengen muaaarah , menjadi begitu lapang, menjadi begitu bersyukur. Sampai akhirnya saya bisa menulis ini.

Tidak seperti dulu, malam ini saya TIDAK BEREAKSI dengan heboh terhadap apa yang sedang saya hadapi. Malam ini saya MERESPON masalah yang terjadi dengan sangat baik. Sebuah kemajuan untuk diri saya. Dan ini patut disyukuri.

Kecoa tetaplah kecoa dan menjijikkan. Mau diapain lagi? Selamanya dia akan tetap begini, karena nash nya dia ya begitu. Tidak akan menjadi lucu dan menggemaskan, yang bisa kita sayang-sayang seperti kucing atau yang lainnya. Begitu juga dengan masalah yang kita hadapi, ia akan tetap menjadi masalah tergantung bagaimana kita menghadapinya, dengan bereaksi heboh atau merespon dengan baik?

Mas Rio pernah bilang sebenarnya kalau kita mau “segera duduk sebagai hamba” / ridho atau pasrah sama ketentuan Allah , masalah akan cepat settle down. Tanpa dipikirkan sampai migren, ia akan cepat selesai. Allah , Tuhan yang maha pengasih maha penyayang yang akan menyelesaikannya.

Diwan Imam Al-Hadad menemani saya menulis malam ini. Syairnya begitu indah. Selamat malam. Semoga rahmat Allah selalu menyertaimu.

 

4 Pertanyaan Hidup yang Bikin Migren.

s

Beberapa hari ini saya sedang galau. Galau akan seperti apa dan bagaimana saya melanjutkan hidup saya. Apa yang akan saya tuju, bagaimana cara menujunya, dan segala pertanyaan “apa dan mengapa” yang lainnya yang pada akhirnya membuat saya migren karena overthinking.

Saya lalu kembali flashback, apa saja yang sudah saya lakukan hingga akhirnya saya ada pada titik ini. Titik dimana, saya merasa segalanya cukup. Saya telah mendapatkan apapun yang saya inginkan sejak dulu. Meski pada perjalanannya, harus ada pilihan yang harus dipilih.

“You can’t have your cake and eat it too..”

Hidup adalah pilihan, ketika saya memutuskan untuk “sudah jadi penulis saja”, then saya harus rela membuang mimpi saya untuk bekerja di “gedung-gedung tinggi”, atau menjadi seorang jurnalis. Kemudian, tentang mimpi S2 di Belanda, yang kemudian bisa digeser oleh keinginan untuk mondok di Tarim, Yaman.

Hidup kadang memang sebercanda ini :).

“Kadang kita bisa memilih, kadang kita sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memilih”

Manusia memang tidak pernah puas. Ketika mimpi menjadi penulis sudah tercapai, ketika saya sudah “memiliki” apapun yang saya inginkan, sampailah saya pada pertanyaan “LALU SETELAH INI MAU NGAPAIN, APAKAH HIDUP AKAN BERHENTI SAMPAI DISINI?” 

Dan sungguh pertanyaan ini mengganggu sekali sejak beberapa hari ini. Hingga pagi ini, saya belum menemukan jawabannya, malah yang ada saya teringat masa lalu :)). Bagaimanapun juga masa lalu bukanlah sesuatu yang harus dilupakan, dan saya sangat berterimakasih pada masa lalu, untuk semua pelajaran yang berharga.

Belum juga pertanyaan ini terjawab, sekarang “Hidup” memberikan saya pertanyaan yang lain :

  1. Apa tujuanmu dalam hidup ini?
  2. Apa yang penting dalam hidupmu, dan bagaimana ia merubahmu?
  3. Apa kamu sudah bermanfaat untuk orang lain?
  4. Dengan segala pencapaianmu, siapa yang paling berbahagia. Dirimu sendiri atau orang lain juga ikut bahagia?

Empat pertanyaan yang berhari-hari ini  terus berputar-putar di otak dan saya belum menemukan jawaban yang membuat saya berhenti bertanya pada diri sendiri.

Kalau kamu gimana, jika dihadapkan dengan empat pertanyaan ini?.

Btw, selamat hari senin ya. Khairunnas anfauhum linnas :)) .