Akhir Cerita Magang di JTV Surabaya

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah 🙂

IMG-20141113-WA0011
Pas Ujian 😀 . *sensasinya hot banget* 😀 Bawaannya muless melulu 😛

Aawwwwwww…. rasanya senang sekali akhirnya satu tugas berat di semester 7 sudah selesai. MAGANG!!! LAPORAN MAGANG!!!.  Bagi saya mata kuliah Praktek Kerja Nyata (PKN) ini sangat berkesan sekali. Bahkan kalau menurut saya PKN ini mampu memberikan banyak sekali pelajaran yang tidak akan pernah saya dapatkan di kelas manapun!. *lebay*. Saya banyak belajar tidak hanya berkaitan dengan penulisan laporan yang baik dan benar, tapi juga belajar bagaimana hidup yang baik dan benar *dalemmm* . Seringnya mengeluh daripada bersyukur, seringnya menangis daripada tersenyum  hehehu.

Cerita per-magang-an saya begitu panjang dan melelahkan. Dimulai dari mencari tempat magang yang supeeeerrrrrrrr sekali, rasanya tidak terhitung saya berusaha, kemudian mengeluh, menangis, dan akhirnya saya hanya bisa berdoa pada ALLAH. Habis magang terbitlah laporan magang. Dibanding teman-teman saya yang lain, sayalah yang lebih dulu mulai masuk magang, konsultasi ke dosen pembimbing tapi ehh tapi ternyata selesai belakangan. Heheuu. Memang saya akui, ada banyaaakkk sekaliii kesombongan yang saya lakukan. Misalnya aja nih, saya lebih suka mendengarkan pendapat saya sendiri daripada pendapat dosen pembimbing, saya sudah merasa percaya diri mengerjakan laporan magang sendiri berdasarkan contoh laporan magang yang ada. Hehheu..

Saya sangat terobsesi selesai dengan cepat, apapun saya lakukan supaya saya bisa cepat selesai dan diacc oleh dosen untuk ujian. Tapi kenyataan selalu berbeda dengan rencana. Rencananya sih lancar-lancar aja, tapi prosesnya bikin nangissss cyyiin :P. Entah salah saya apa, entah kurangnya apa, kenapa untuk bisa acc saja susahnya minta ampun. Apa yang dibilang dosen pembimbing sudah saya ikuti, disuruh revisi berkali-kali pun saya jabanin. Rajin bolak-balik ruang dosen , adu argumen dengan dosen pembimbing hingga akhirnya saya tidak kuat *lambaikan tangan ke kamera* diruang dosen saya menangis gemess *Apasih bahasanya*. Dalam hati saya berdoa “Ya, Allah tunjukkan kesalahan saya ya ALLAH,dan kalau saya benar juga Tunjukkanlah. Saya capek ya ALLAH, kok yang direvisi itu-itu aja *doanya mahasiswa hopeless*.

Pada akhirnya , laporan saya di acc oleh dosen setelah sebelumnya harus drama dulu. Taraaaaa…..hari yang ditunggu akhirnya datang juga. UJIANNN!!. Hanya 8 orang saja yang bisa maju ujian duluan. Yeayyy… saya salah satunya. Senengnya mau ujian cuma bertahan sebentar saja, karena rasa senangnya berganti mules begitu tau dosen pengujinya. Dosen penguji saya adalah salah satu dosen cetar badaii yang ada di Ilmu Komunikasi UB. Banyak yang bilang “sabar ya mbak”, “kamu bisa kok mbak”, dan blaaa blaaa segala macam kata-kata dari teman-teman yang menguatkan saya. Gak perlu diragukan lagi kredibilitas dosen penguji saya. Saya Cuma isa berdoa semoga saya tidak “dibantai” diruang ujian. Heheuuu. Ternyataaa ohhh ternyataaa dosen penguji saya buaiiikkk banget pemirsaah. Dan sepertinya doa saya saat diruang dosen dulu dikabulkan oleh ALLAH.

Allah benar-benar menunjukkan kesalahan-kesalahan saya dan sedikit sekali yang benar. Meskipun nilai yang saya dapat hanya sampai pada angka B+ tapi saya bersyukur sekali. Bersyukur karena saya diberi kesempatan untuk membuat laporan magang lagi heheuhe :P. Tidak apa-apa lah ya, sekali-kali :D. Laporan magang saya buat ulang dari bab 1-5 😛 dalam waktu satu minggu aja. Sebenarnya saya diberi waktu 1bulan untuk revisi tapi hanya saya gunakan satu minggu saja untuk revisi. Sisanya? Minggu pertama paska ujian digunakan untuk ber-galau ria dulu , merenung kenapa bisa sampai seperti ini, ngaca sebanyak-banyaknya dan mulai merangkai semangat. Minggu kedua full saya gunakan untuk menyelesaikan bab 1-5. Tidak terlalu sulit bagi saya untuk menyelesaikannya , karena laporan yang saya buat sesuai dengan yang dikatakan oleh dosen penguji. Minggu ketiga dan keempat full saya gunakan untuk mengejar dosen hehe. You Know lah dosennya super sibuk sekali jadi buat bisa ketemu dosen itu susahnya minta ampun.

IMG_20141218_090457
Taraaa, Inilah laporan yang saya buat dengan susah payah. Alhamdulillah selesai 🙂

Alhamdulillah setelah diberi banyak pencerahan oleh dosen penguji pas menyerahkan revisian, sekarang jadi mengerti menulis yang baik dan benar, tentunya bukan nulis buat diposting diblog hehe. Bersyukur banget karena laporan saya di uji oleh Pak Anang, D.COMM. karena secara tidak sadar saya bukannya diuji tapi malah dibimbing heheu. ILMU..ILMU..ILMU kapan lagi dapat ilmu langsung dari seorang doktor komunikasi dari Australia, selain dikelas pas beliau ngajar. Saya tidak peduli pendapat orang tentang kejadian yang menimpa saya saat saya harus menulis ulang laporan magang *aduh apaan sih 😀 * Tapi, yang jelas saya banyaaakkk sekali pelajaran tidak hanya bagaimana menulis yang baik benar , tapi lebih dari itu.

Terimakasih yang tak terhingga untuk dosen pembimbingku tercinta yang supeeer baik Bu Weda 🙂 , dan dosen penguji ku yang cetar badaii Pak Anang 🙂 .

Goodbye Surabaya!

gedung graha pena
gedung graha pena

Kurang lebih selama dua bulan tinggal di Surabaya, rasanya sangat singkat. Waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin pergi ke Surabaya nyari tempat magang, nah sekarang magangnya malah udah selesai. Ada perasaan lega sih, karena salah satu syarat kelulusan udah terselesaikan, tapi juga sedih karena harus meninggalkan Surabaya. Teringat paniknya pas masih di PHP sama JTV,  Senengnya pas diterima magang di JTV. Semangat nyari kost-an dua hari menjelang puasa, waktu itu untung ada Mas pacar yang rela capek-capek nemenin nyari kost padahal tau sendiri kan kalau Surabaya itu panasnya pake bingit :D.

Tanggal 6 Juli saya berangkat ke Surabaya dianter keluarga (udah kayak naik haji aja), tinggal sendirian di kost-an. Di kost nggak betah karena pemilik kost nya agak bawel, dan kalau jam 9 malam pintu udah dikunci. Saya sering ngeluh ini itu, dan lagi-lagi untung ada “tukang ojek kesayangan” yang siap mengantar saya kemanapun termasuk pas malam-malam saya suruh nganter ke kost-annya vita (numpang tidur) :D. Karena gak betah saya akhirnya pindah ke kost-an vita awal bulan agustus. Di kost-an baru betah banget karena ada temennya dan juga disana bebas mau ngapain aja. Saya bisa bebas masak, bebas mau mandi, bebas mau nyuci karena nggak ada ibu kost hehe :P.

Selama di Surabaya yang singkat itu, saya mendapatkan banyak pelajaran. Banyak yang sebelumnya saya nggak tau menjadi tahu. Mengenal banyak orang dengan berbagai latar belakang sampai ngrasain enaknya punya pacar yang dekat (bisa minta antar jemput dan mau ketemu kapan aja bisa 😛 *ini Cuma bonus sih*). Ditempat saya magang, saya belajar sabar dan sadar kalau nggak semua yang kita inginkan bisa tercapai. Belajar melihat segala sesuatu tidak hanya dari satu sudut pandang tapi harus diberbagai sisi.

Seperti yang saya alami sendiri, dibohongi orang yang sangat saya percaya. Orang yang dulu sangat saya hormati, orang yang saya anggap bak “dewa” tapi justru membuat saya merasa sangat kecewa. Biar bagaiamanapun seseorang itu pernah menolong saya, dan hingga saat ini saya masih menaruh hormat kepadanya. Tinggal dikota orang juga menyadarkan saya akan pentingnya menjaga diri dan sopan santun. Karena dengan begitu diri kita bisa dihargai, dan orang yang tadinya sembarangan menjadi sedikit sungkan pada kita. Dan yang paling penting adalah kita bisa menempatkan diri kita sesuai dengan kapasitas kita. Saya menjadi tahu bahwa bekerja di industri media seperti itu, banyak plus minusnya. Ehh tapi, ga cuma di media aja sih, dimanapun itu selalu ada plus minusnya. Setidaknya dengan magang ini, saya jadi tahu kalau bekerja di media, bekerja menjadi reporter tidaklah mudah.

Masih ingin jadi reporter? Masih ingin bekerja di media? Entahlah! Tapi saya rasa kalau saya bekerja di media kelak ketika saya telah berkeluarga akan sangat merepotkan. Banyak waktu yang akan saya habiskan diluar dan waktu untuk mengurus keluarga akan sangat berkurang. Oke, mungkin impian jadi reporter saya skip aja. Sepertinya saya lebih tertarik menjadi seorang konsultan atau penulis buku saja hehe. Let dream and fate takes me where I belong J. Pembimbing magang saya mengajarkan pada saya untuk selalu displin dan jujur dalam segala hal. Seolah tidak hanya teori tapi beliau praktekkan langsung hehe. Kalau ada istilah mulutmu harimau-mu itu tepat banget. Seseorang bisa menjadi sangat jatuh reputasinya dan ia tidak lagi dihormati karena perkataannya.

Setidaknya itu yang saya tahu. Sebagai pengalaman saja, saya pernah sangat percaya dan menghormati seseorang. Setiap kata-katanya saya percaya, pikir saya wah keren nih orang. Saya banyak belajar darinya, tapi lama-lama saya merasa ada yang aneh. Mata saya mungkin bisa dibohongi, tapi hati akan selalu merasakan sesuatu yang yang tidak beres. Oke, pelajaran kali adalah “Orang yang kelihatannya baik belum tentu baik, kita tidak pernah tahu dalemnya hati orang” begitu sih kalau temen saya Meydi.

Berkali-kali ketemu banyak orang, dan berkali-kali juga ketipu hehe. Dikira baik eh ternyata begitu, yang tadinya dikira jahat ehh nggak taunya baiknya pake banget. Kita saya seringkali melihat seseorang dari luarnya saja dan sekilas saja tanpa mau melihat secara keseluruhan. Itu sih pelajaran yang saya dapatkan, dan ini sama sekali tidak diajarkan dikelas juga tidak berhubungan denga teori apapun hehe. Diluar itu, banyak sekali pelajaran dan ilmu yang saya dapatkan , tentunya untuk akademik saya. Apa yang saya pelajari dikelas dapat saya terapkan di tempat magang, meskipun kadang teori sama prakteknya beda. Hehe maklumlah tiap media punya agenda settingnya sendiri. Sekarang saatnya fokus pada laporan magang dan lanjut outline skripsi hehe :D.  Kalau kata mas e sih “pikiren laporan karo skripsimu ojo soyang sayang ae” hehe.

GOODBYE LOVELY SURABAYA, SEE YOU SOON J

Terimakasih pengalaman dan pelajaran berharganya!

 

Surabaya , I’m Soo In Love With You! :)

Surabaya! Ya, hampir dua bulan saya tinggal di Surabaya. Kota yang selama ini saya idam-idamkan. Sejak masih sekolah saya ingin sekali melanjutkan pendidikan saya di kota Pahlawan ini. Tapi, kenyataannya hingga sekarang mau lulus saya tidak pernah merasakan ‘nikmatnya’ kuliah di Surabaya. Sempat kabur ke Jakarta karena nggak mau kuliah jurusan pendidikan yang pasti nantinya akan jadi guru, harus adu argumen dulu sama keluarga karena saya tetap ingin keluar dari rumah. Harus membuat banyak orang mengelus dada, karena ulah saya yang sok pemberani. Bocah 18 tahun berani-beraninya menantang ibu Kota yang kejamnya lebih dari ibu tiri. Disaat teman-teman seusia saya sedang seneng-senengnya kuliah, saya malah senep karena ditolak kerja sana-sini. Oke , fix kalau teman saya kuliah jurusan favorit mereka di Universitas bergengsi, maka saya kuliah di Universitas Kehidupan jurusan sabar dan nerimo.
Setelah banyak hal yang dilalui, akhirnya saya sadar kalau saya harus kuliah. Sepertinya Allah belum mengizinkan saya untuk merasakan pahit kerasnya dunia kerja, sekian banyak lamaran saya ajukan dan hasilnya DITOLAK semua. Balik pulang ke Kediri dan mencoba mencari kerja disana, gengsi dong kalau Cuma nganggur. Kenyataannya sama saya juga DITOLAK! Memasuki tahu ajaran baru, sebuah tawaran kuliah datang. Syaratnya harus di Kediri dan jurusan Pendidikan supaya jadi Guru. Perlu waktu yang cukup lama untuk bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Menerima kenyataan dan termasuk harus terima kalau ada cibiran dari tetangga dan teman-teman. Tapi ALLAH maha adil, atas doa dan usaha saya (tentunya support dari orang terdekat) saya bisa masuk UNIVERSITAS BRAWIJAYA dan dijurusan Ilmu Komunikasi pula.
Dari sekian kejadian dalam hidup saya, saya menjadi tahu bahwa ALLAH itu sungguh maha adil. Tidak pernah dzalim pada hambaNya. Meskipun tidak kuliah di Surabaya, tapi setidaknya karena kuliah di UB lah saya akhirnya bisa merasakan hidup di Surabaya. Meskipun hanya 2 bulan tapi, sudah sangat cukup untuk menjawab impian-impian saya dulu. Tidak hanya satu impian tapi BANYAK. Selain bisa merasakan hidup di Surabaya, saya juga akhirnya menembus Jawa Pos Grup ( JTV) untuk magang saya. Dulu saya punya impian bekerja di TV, menjadi reporter diacara jalan-jalan atau kuliner. Dan akhirnya itu terwujud saat saya magang. Sungguh ini kejaiban dari ALLAH.
Dua minggu lagi magang saya selesai, itu artinya saya harus meninggalkan Surabaya. Sempat ingin memperpanjang masa magang supaya lebih lama di Surabaya. Tapi semakin lama, semakin ingin cepat meninggalkan Surabaya. Kenapa? Karena saya ingin segera ke Malang menyelesaikan laporan magang dan skripsi saya dan segera kembali ke Surabaya. Entahlah, meskipun di Surabaya tidak hanya bahagia dan tawa yang saya dapatkan tapi Surabaya begitu berarti bagi saya. Kota inilah yang memberikan saya banyak cerita meski singkat.

“ Kamu betah di Surabaya karena pacarmu ada disana”

Meskipun tidak salah kalau ada yang bilang seperti. Tapi itu bukan alasan utama saya, Mereka hanya tahu masa sekarang, mereka tidak mengenal saya saat dulu. Saat saya masih sangat getol untuk bisa kuliah di Surabaya. Saat akan magang di Surabaya, memang saya sangat bahagia. Saya membayangkan akan sangat menyenangkan, sering bertemu pacar, punya banyak teman, diantar jemput pacar, diajak kesana kemari. Tapi kenyataannya berberbeda. Meskipun sama-sama di Surabaya tapi kami jarang bertemu karena sama-sama sibuk. Okelah, tujuan utama saya ke Surabaya memang bukan untuk pacaran , tapi untuk magang.

Semangat menyelesaikan magang yang tinggal dua minggu! 😀

Di Surabaya banyak sekali yang saya dapatkan. Ilmu untuk bekal pendidikan saya, juga ilmu untuk menjadikan diri ini lebih baik. Di Surabaya, terutama ditempat saya magang Allah tunjukkan kepada saya berbagai macam orang dengan berbagai sifat dan karakter. Allah tunjukkan mana yang benar-benar baik , mana yang setengah baik, dan yang pura-pura baik. Allah tunjukkan pada saya bahwa DIA benar-benar dekat dengan kita. Tamparan bagi saya karena masih sering mengeluh dan merasa tidak adil. Apapun yang terjadi setelah saya meninggalkan Surabaya, maka itulah yang terbaik.

“LET DREAM AND FATE TAKES ME WHERE I BELONG”

Hello Magang, Hello Surabaya !

Hello..  waw rasanya sudah satu abad saya tidak menulis, rasanya rindu menulis *preet 😛 * . Banyak sekali kejadian maupun cerita yang terjadi dan semuanya saya tulis pasti nggak bakal kelar seharian :D. Oke baiklah saya akan mengawali cerita saya, cerita tentang mahasiswa yang sudah memasuki semester akhir. Iyess.. tentu saja saya senang sekaligus senep. Senang karena sudaj tidak ada kuliah lagi dan utamanya nggak bakal dikejar deadline tugas lagi *dasar mahasiswa 😛 *

Inilah saat-saat yang sudah saya tunggu kedatangannya. MAGANG! Yapp.. sudah seminggu ini saya magang. Banyak sekali cerita tentang magang yang terjadi selama satu minggu ini. Oke baiklah, saya akan cerita pengalaman magang saya di JTV Surabaya. Magang kali ini rasanya sungguh AJAIB. Mulai dari saya yang sebelumnya di PHP JTV, bingung nyari tempat magang lain, Dapat Janji manis KPID, DITOLAK JTV, hingga akhirnya dipanggil lagi sama JTV. Pokoknya jalan panjang untuk bisa mendapatkan tempat magang. Gak keitung lagi deh berapa banyak keringat yang keluar, tenaga yang dihabiskan, dana yang dikeluarkan, hingga beberapa kali nangis 😛 *dasar cengeng*.

2014-07-14 10.24.44

Dari kejadian mencari tempat magang ini, saya bisa jadi belajar banyak hal. Kadang sesuatu yang amat kita inginkan justru akan semakin sulit untuk kita dapatkan. Impian untuk bisa menembus Jawa Pos Grup dan magang di gedung Graha pena sudah ada dibenak saya sejak dulu, sejak saya aktif di komunitas muda Radar Kediri. Dan akhirnya mimpi itu bisa menjadi nyata dan tentunya dengan usaha dan doa maksimal yang saya kerahkan. Sempat sakit hati sama JTV dan memilih di KPID saja, tapi dosen saya memberikan arahan kepada saya dan akhirnya saya menerima tawaran JTV :P. Saya ingat betul saat itu Pak Anang bilang “ Kenapa? Kamu gengsi udah ditolak JTV dan sekarang dipanggil JTV lagi? Sudahlah gak usah gengsi kamu bakal dapat pengalaman kalau di JTV”

Finalllyy… taraaaaa tanggal 10 Juli kemarin saya mulai masuk magang. Berangkat dari kos jam sepuluh kurang, karna janji ma Mbak Amel jam 10. Sampai di JTV saya disuruh nunggu di lobby lantai dua. Lima menit, sepuluh menit hingga dua puluh menit tidak ada seorangpun yang datang menemui saya. Hanya kru JTV yang lalu lalang didepan saya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan orang yang tidak asing dan saya pernah bertemu beliau. Tapi siapa ya, namanya siapa? Saya lupa. Hehehe. Sampai ada orang yang memanggil nama beliau “Pak Gigik”. Wawww.. iya ini orang namanya pak Gigik, orang yang pernah saya temui dilobby bawah pas saya ke JTV bareng temen-temen.

Entah jodoh atau takdir, saya akhirnya diajak beliau untuk gabung karena beliau kekurangan kru. Saya diajak liputan blusukan pecinan di hari pertama magang saya :D. Sebelum liputan saya diajak beliau untuk menemui mbak Amel HRD untuk minta izin, dan akhirnya mbak Amel mengizinkan saya ikut pak Gigik dan malah “menyerahkan” saya supaya dibimbing Pak Gigik. OHH MYYYY!!! Serius? Ini orang yang jadi “rasan-rasan” saya dengan teman-teman setelah ketemu beliau di Lobby JTV lalu dan sekarang jadi pembimbing saya :D.

2014-07-17 15.29.40

Pertama kali liputan masih kaku, dan nggak tau harus ngapain. You Know, saya satu-satunya mahasiswa UB yang magang di JTV saat ini. What a day! Saya sendirian dan mau nggak mau harus bisa bertahan disini selama dua bulan kedepan. Setelah seminggu magang, saya baru bisa bekerja “profesional” sesuai tugas yang diberikan dan rasanya mulai menikmati tugas saya sebagai asisten produser di blusukan pecinan. Meskipun produser saya sedikit “cerewet”  tapi beliau sangat memperhatikan saya dan temen-temen magang yang lain. Cerewetnya beliau supaya saya dan temen-temen benar-benar bisa dan gak sia-sia magangnya. Dari beliau juga saya banyak belajar. Terimakasih Pak :).

Sungguh Allah itu maha adil ya 🙂 . Dulu saya pengen kerja di TV dibagian produksi acar jalan-jalan, dan sekarang mimpi itu menjadi nyata. Sekarang saya menjadi bagian kru (sementara) blusukan pecinan.  Saya liputan keliling Surabaya, mulai liputan kuliner hingga investigasi dan ternyata dari liputan-liputan itu saya tau kalo Surabaya nggak mentok di A.Yani :P.  Dulu saya bermimpi untuk bisa menembus Jawapos Grup, dan sekarang saya magang di JTV Surabaya yang masih satu grup sama Jawa Pos. Dulu saya bermimpi untuk bisa kuliah di Surabaya, meskipun kenyataannya saya kuliah di UB, tapi dengan magang ini setidaknya saya bisa merasakan hidup di Surabaya. Subhanallah, maha suci Allah yang telah mejadikan nyata setiap impian saya :).

“Maka nikmat Tuhan-MU yang mana , yang kau dustakan?”